Selasa, Agustus 29, 2017

8 Kegiatan untuk Batasi Anak dari Gadget



Dua tahun belakangan kami mencoba berbagai kegiatan untuk mengalihkan anak-anak dari gadget.

Rabu, Agustus 16, 2017

Perempuan Merdeka, Perempuan Pembelajar


“Perempuan yang berhenti belajar akan terus terjajah oleh kesombongannya sendiri. Merasa terbaik dan berdiri di posisi terhormat atau teratas, lalu berhenti untuk belajar. Tanpa disadari, perempuan yang berhenti belajar telah membuang sendiri kesempatannya untuk merdeka secara hakiki”

Selasa, Agustus 08, 2017

3 Sebab Ibu Perlu Berkomunitas


Menceburkan diri dalam komunitas itu penting bagi para ibu. Baik ibu yang dominan berkiprah di ranah domestik (ibu rumah tangga), maupun ibu yang dominan bergelut di ranah publik (bekerja di luar rumah dengan beragam profesi). Keduanya butuh eksistensi dalam komunitas. Kenapa bukan hanya ibu rumah tangga yang butuh komunitas di luar tugas kesehariannya untuk mengaktualisasikan diri?  Sebab,  tidak selamanya ibu yang dominan di ranah publik itu bekerja pada wilayah passionnya. Sehingga, ia tetap membutuhkan komunitas lain di luar bidang kerja yang mampu mewadahi luapan dirinya.

Ibu -baik yang dominan bekerja di ranah domestik maupun di ranah publik-  adalah makhluk sosial.  Keduanya butuh komunitas di luar tugas kesehariannya untuk menjaga keseimbangan dan harmoni diri. Keseimbangan pemenuhan kebutuhan sebagai makhluk sosial akan membuat ibu tetap “waras” dalam menjalani kesehariannya.  Berimbang di ranah “domestik-publik-wilayah passion” membuatnya merasa dihargai sebagai manusia seutuhnya.

Komunitas yang dimaksud di sini adalah kumpulan personil yang memiliki kesamaan minat terhadap sesuatu.  Ada komunitas yang murni non profit, tetapi ada pula yang sifatnya secara tidak langsung juga memberikan profit baik materi maupun non materi kepada anggotanya.

Saya mengamati setidaknya ada tiga sebab perlunya ibu berkomunitas, yang saya sebut sebagai 3R. Recycle Bin, Recharger, dan Refill the Moment. Yuk kita tilik satu persatu.

Recycle Bin
Ini hasil pengamatan saya terhadap beberapa komunitas ibu yang ada.  Para ibu butuh keranjang sampah untuk membuang emosi negatif yang muncul dari kelelahan mengurus rumah tangga atau bekerja di kantor.  Saya tidak hendak mengatakan bahwa kelelahan pekerjaan ranah domestik itu lebih berat dari pekerjaan ranah publik, atau sebaliknya.  Keduanya sangat bergantung ada supporting system rumah tangga yang terbentuk. Jumlah anggota keluarga, jumlah anak dan kegiatannya, ada asisten rumah tangga atau tidak, fasilitas mobilitas, jenis pekerjaan ibu, jarak sekolah anak-anak, jarak tempat kerja, dan kepadatan aktivitas turut mempengaruhi kadar lelah ibu. 

Komunitas Ibu Profesional Depok
wadah bagi ibu untuk saling belajar
dan berbagi menjadi lebih baik 

Singkat cerita, ibu butuh recycle bin.  Bukan semata-mata keranjang sampah, tetapi suatu wadah yang menjadi wahana untuk mentransformasi emosi negatif yang muncul menjadi sebuah energi baru yang lebih bermanfaat. Emosi negatif ibu direcycle di dalam komunitas.  How?... Dengan bergabung bersama ibu-ibu lain yang memiliki minat yang sama dalam komunitas, mereka saling menuangkan perasaan-bicara-dan merasa senasib.


Berkumpul dengan peer yang senasib, lalu saling bertukar bercerita seringkali menjadi resep yang ampuh untuk mengolah emosi negatif. Dengan sendirinya kesadaran bahwa ada sekian banyak ibu yang mengalami kelelahan yang mirip, lalu berbagi tips menghadapi berbagai persoalan yang mirip, akan mengubah emosi negatif menjadi penerimaan yang luas.

Ibarat sampah, emosi negatif itu lalu didaur ulang di dalam komunitas sebagai recycle binnya. Jika komunitas itu komunitas crafting, para ibu akan mengolah emosi negatifnya sambil melakukan kegiatan crafting yang disukai seluruh anggota komunitas, dan berjejaring.  Jika komunitas itu komunitas menulis, para ibu akan mengolah emosi negatifnya sambil melakukan pernak pernik writing activities bersama.  Melihat dan mengamati sudut pandang yang berbeda dari tiap anggota komunitas, menyelami berbagai peristiwa yang dialami anggota komunitas, dan menyikapi perbedaan-perbedaan dalam persamaan, akan menjadi pernik yang berharga bagi para ibu dalam mengelola perasaannya.

Recharger
Ibu yang lelah, bisa jadi sudah kehabian energi untuk melakukan aktivitas. Energi habis kadang bukan karena terlalu banyak hal yang harus dikerjakan, tetapi terlalu banyak perasaan yang bermain di setiap aktivitas. Bagaikan baterai yang sudah melemah, ibu butuh recharge untuk mengembalikan vitalitasnya. Butuh pengembalian energi dalam makna sesunguhnya, sekaligus butuh semangat baru.
Recharger yang jitu adalah komunitas yang pas dengan passion ibu.  Passion adalah sesuatu yang diminati ibu, yang membuatnya berbinar binar ketika menggelutinya, dan rela bahkan bila tak dibayar untuk melakukannya. Tulisan saya tentang passion bisa dibaca di sini.  

Beberapa ibu mungkin beruntung ketika ia bekerja di ranah publik pada bidang yang memang merupakan passion dalam hidupnya.  Misalnya pencinta kuliner yang bekerja sebagai chef. Atau penggemar seni disain yang berprofesi sebagai desainer grafis.

Namun, tidak semua orang bisa begitu.  Ada beberapa guru SD yang kebetulan memiliki passion di dunia tulis menulis tetapi belum tereksplorasi postensinya karena kurang berkumpul dengan sesama yang minat menulis.  Ada pula beberapa ibu rumah tangga yang memiliki passion di dunia financial planning dan digital marketing tetapi belum terakomodir karena minim jejaring dengan orang yang satu minat.  

Mendengarkan sharing sesama ibu
di Komunitas Ibu Profesional Depok 
Di lain sisi, tidak tertutup kemungkinan para ibu yang telah bekerja di ranah publik pada wilayah passionnya ternyata tidak seluruhnya dapat menuangkan semua buncah rasa di sana. Ada bagian-bagian yang tak terungkapkan karena batasan batasan sebuah organisasi.  Mereka pun akhirnya butuh komunitas. Apalagi para ibu rumah tangga yang sehari-hari pun kadang tidak menemui kesempatan untuk menggeluti minat dan berkumpul dengan sesama yang seminat.

Hal serupa dihadapi para ibu bekerja di ranah publik yang bukan wilayah passionnya, yang aktivitasnya sehari-hari menggerus keinginan untuk berekspresi.  Berkumpul dengan sesama dalam komunitas mampu merecharge kembali semangat dan energi ibu. Bahkan kadang merasa jadi lebih punya energi untuk menuangkan ide-ide baru setelah berkumpul dengan sesama seminat.  Jadi lebih bersemangat untuk menjalani hari-hari. Jadi lebih merasa berwarna dan bercahaya. Jadi lebih hidup.
Recharge tidak hanya berpengaruh pada energi, tetapi juga pada rasa dan warna hidup ibu.

Refill the Moments
Dalam kondisi lelah, moment untuk diri sendiri kadang lenyap, kalaupun ada hampa tak terisi.  Moment itu antara lain mendapatkan apresiasi dari diri sendiri atau rekan seminat atas prestasi, mendapat kepercayaan memimpin atau menjadi koordinator, dan meraih kesempatan untuk melakukan hal-hal lama dengan cara berbeda.  Kenapa?... Karena lelah itu membuat ibu cenderung lebih sensitif.  Akhirnya kebutuhan untuk memanjakan diri sendiri dan mengisi kebutuhan pada saat itu menjadi terlupakan.  Sebab, ibu terfokus untuk mengejar tugas-tugas yang belum terselesaikan.  Padahal, mengisi moment bagi diri sendiri itu penting. Bergabung dalam komunitas seminat untuk refill the moments bagi diri sendiri membuat ibu lebih harmoni, lebih seimbang.

Tidak sedikit ibu yang merasa jenuh dan tersiksa karena kehilangan kesempatan untuk refill the moments. Ibu jadi cepat marah, dan celakanya para pasangan dan anak-anak menjadi tempat pelampiasan.  Sebelum berkelanjutan dan berdampak negatif, sebaiknya memang ibu punya wadah sehat untuk refill the moments.  Berkomunitas dengan rekan seminat adalah salah satu caranya.  

Belajar menjadi Ibu Produktif
di Komunitas Ibu Profesional Depok 
Walaupun kelihatannya komunitas telah menjadi kebutuhan bagi ibu, saya tidak merekomendasikan ibu untuk terlalu banyak mencemplungkan diri di banyak komunitas dalam satu waktu. Cukup satu atau dua komunitas yang betul-betul mewadahi dan yakin memberikan dampak positif bagi diri, keluarga, dan masyarakat saja sepatutnya yang ditekuni.  Alih-alih mau berkeseimbangan, terlalu banyak berkomunitas akan membuat ibu jadi tidak fokus. Bisa jadi ada yang akan terbengkalai. Mungkin anak-anak, pasangan, atau pekerjaan.

Menurut saya, semua yang dijalani ibu sebaiknya dipertanyakan, apa manfaatnya bagi diri sendiri-keluarga-dan masyarakat?... Jika komunitas itu sendiri banyak merebut waktu bersama pasangan dan anak-anak, nampaknya harus dipikir ulang.  Ibu yang bijak paham benar, ke arah mana harmoni harus dilengkungkan, agar indahnya menyerupai lengkung pelangi.  Berwarna warni namun proporsional. Selamat berkomunitas ibu. (Opi)

Juga ditampilkan di www.kompasiana.com/novi.ardiani


Kamis, Agustus 03, 2017

Berbagi Terang di Kemiskinan Cahaya


Kemiskinan cahaya dirasakan setiap usai matahari terbenam oleh saudara kita di pelosok desa Nusantara. Anak-anak usia sekolah terhalang untuk lebih banyak membaca di malam hari. Berbagai kegiatan harus terhenti selepas Maghrib karena keterbatasan penerangan.  Sementara Saya yang hidup di kota besar sepanjang umur, dekat dengan poros pemerintahan,  hampir tak pernah merasakannya.  Sejak lahir Saya terbiasa berada di zona yang bukan hanya terang, melainkan serba gemerlap.

Selasa, Agustus 01, 2017

Belajar Menjadi Diri Sendiri itu Penting dan Harus!


Perempuan-perempuan yang terjebak untuk menjadi "super" karena kemampuan multitaskingnya, bisa jadi lupa, bahwa pada dasarnya mereka tetap harus berusaha menjadi diri sendiri dengan segala keterbatasannya. Bagi Saya, perempuan sejati adalah mereka yang berani menjadi dirinya sendiri.

Kita -perempuan- pada satu bagian sering terjebak untuk menjadi “super” dengan sedikit atau banyak pemaksaan diri. Di sisi lain, perempuan juga sering terjebak untuk menjadi pasrah, tanpa dorongan untuk ekspektasi yang lebih tinggi.  Paradoks ini terjadi. Ironi level tinggi.

Saya, sebagai ibu dua anak yang sehari-hari bekerja di kantor, juga mengalami hal tersebut. Di satu sisi, ada keinginan untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi orang banyak dan meyakini bahwa kita memiliki kemampuan dasar untuk itu, sekaligus tanpa mengabaikan tugas utama sebagai ibu yang ternyata sudah cukup menyita energi dan waktu.  Di sisi lain, pada saat kelelahan, Saya cenderung melepas semua keinginan dan menyerah untuk hanya melakukan satu tugas yang paling utama saja. Apakah Anda juga merasa demikian?.....

Pada akhirnya, Saya lalu menjadi kehilangan arah. Tidak konsisten. Kadang terlalu berenergi sehingga haus untuk melakukan segala macam hal, kadang lalu kelelahan dan enggan terlibat.  Saya membutuhkan waktu yang panjang untuk belajar memahami diri sendiri, mencari alur dan mulai belajar menjadi diri sendiri.   

A Long Road to be MySelf
Panjang jalannya.  Belajar untuk memahami diri sendiri itu jelas tidak mudah.  Butuh kejujuran untuk menerima keadaan riil.  Mulai dari bentuk fisik, eksistensi, dan identifikasi mimpi-mimpi di dalam diri. Suatu waktu saya terkagum-kagum kepada seorang rekan yang sangat prudent dalam bekerja, tekun, nyaris tidak pernah melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, nampak sangat sempurna di mata Saya.  Lalu Saya membandingkannya dengan Saya yang banyak bicara, banyak berkata-kata, hampir tidak pernah bisa tenang kecuali kurang dari setengah jam alias cepat bosan. Jelas saya tersesat dalam komparasi.  Membandingkan hal-hal yang tidak apple to apple.

Komparasi memang perlu.  Tetapi membanding-bandingkan antara pribadi itu menurut Saya cenderung tidak adil. Saya sampai pada pemahaman bahwa tiap pribadi itu unik dan memiliki nafasnya masing-masing.  Nafas untuk liar atau jinak, misterius atau mengumbar, jenaka atau serius. Setiap keunikan itu memberi warna dalam hidup.  Akan membosankan jika semua orang tekun dan penurut.  Akan menyeramkan pula jika semua orang liar dan berontak.

Oleh karena itu, Saya pikir, biarlah kita menghela pada nafas kita masing-masing. Saya bisa menerima pada saat saya tidak bisa selantang orang lain ketika bicara.  Atau tidak bisa selembut puteri keraton saat membujuk.  Memang Saya bukan mereka, dan mereka bukan Saya.  Terima dirimu apa adanya.

Make Your Own Standing Position
Setelah melalui jalan panjang untuk masuk ke dalam diri sendiri, menerima keadaan riil, Saya harus berketetapan untuk menentukan di mana posisi saya berdiri.  Karena menerima keadaan riil saja buat Saya tidak cukup.  Saya berpikir, dengan keadaan riil ini pasti ada potensi yang dapat dikembangkan untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain. Apa itu?.... Pencarian ini berlangsung waktu demi waktu. 

Apakah Anda pernah merenung dan bertanya pada diri sendiri, apakah yang sudah saya sumbangkan untuk membuat dunia tersenyum sumringah? ... Sederhanyanya, apakah yang sudah dilakukan untuk keluarga sebagai ibu dan istri..... Sudahkah optimal?.... Apakah yang sudah dilakukan dalam pekerjaan dan sudahkah optimal?...  Membuat dunia tersenyum sekaligus diri sendiri sumringah itu suatu iring-iringan yang mungkin tidak selalu beriring. 

Inilah yang Saya maksudkan bahwa kita harus menemukan posisi di mana kita seharusnya berdiri.  Sudah optimalkah?... Sudah tergalikah semua potensi untuk menjadi bermanfaat bagi sesama, bagi orang-orang yang kita cintai.....Make Your Own Standing Position.

Be Different, Tapi Bukan Asal Beda
Posisi kita nanti mungkin akan berbeda-beda, Ya. Posisi kita nanti mungkin akan sama, bisa juga Ya.  Tetapi, dalam persamaan dan perbedaan ini itu masing-masing diri wajib untuk menjadi berbeda. Be Different, Be You.  Saya merasakan bahwa tiap jiwa punya caranya masing-masing untuk menjadi berbeda sebagai individu yang unik. Dan menjadi berbeda itu adalah suatu keharusan supaya kita bisa teguh dalam eksistensi diri sendiri. 

Konkritnya, seorang ibu yang berkepribadian teguh tidak perlu ikut-ikutan dengan gaya mengasuh anak yang populer sekalipun, jika tidak meyakini gaya pengasuhan itu cocok atau tidak.  Sebagai ibu, kita punya otoritas penuh terhadap anak-anak kita sendiri.  Kita yang paham betul bagaimana anak-anak itu tumbuh dan berkembang.  Kita pula yang berkewajiban memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita. 

Perempuan yang belajar menjadi diri sendiri, akan paham di mana letak “perbedaaan” yang menjadi ciri khasnya dan mengembangkannya sebagai kekuatan untuk berdiri di posisi yang ia pilih.  Perempuan-perempuan sejatinya berbeda satu sama lain.  Tapi, perlu diingat, jangan asal beda. Kecenderungan untuk menjadi berbeda kadang disalahartikan dengan mengambil posisi berlawanan saja.  Saya pikir, tidak begitu juga caranya. 

Kuncinya adalah sadari kondisi riil, tetapkan posisi, dan gali keunikan di mana kita akan menjadi berbeda dengan orang lain secara natural.  Bukan asal beda.

Aku Bukan Ancaman Bagimu, Aku Bermanfaat Bagimu
Apabila “keunikan” diri itu sudah dipegang, menjadi berbeda walau seaneh apapun akan menjadi kunci bagi diri untuk mengembangkan potensi.  Buktkan bahwa dalam posisi berdiri ini kita akan menjadi sumber manfaat bagi orang lain.  Keunikan yang menjadi ciri khas kita secara alamiah mungkin akan membuat orang lain iri, seolah olah kita akan menjadi sumber ancaman bagi keberhasilan orang lain.  Seolah-olah kita adalah pesaing. 

Namun saya melihanya dalam konsep yang lebih menyeluruh. Apabila setiap perempuan memfokuskan diri pada potensinya yang paling berbeda dengan kebanyakan orang, maka masing-masing akan menjadi sumber manfaat bagi sesama.  Bukan menjadi sumber ancaman. Hanya orang-orang yang picik dan malas menggali potensi keunikannya yang kemudian berpikir bahwa seseorang bisa menjadi sumber ancaman bagi orang lain. 

Jebakan Multitasking
Tak lepas dari semua perjalanan perempuan untuk menjadi dirinya sendiri, satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah jebakan multitasking. Inilah yang sering mengarahkan kita para perempuan untuk merasa super dan mampu melakukan segalanya dengan hebat.  Tapi, jika tidak hati-hati akan membuat kita terjebak dan tidak mengenali diri sendiri. 

Perempuan mungkin ditaqdirkan sebagai multitasker yang mumpuni.  Ia bisa memasak sambil menggendong anak dan menelepon serta mengawasi anak-anak bermain. Atau mengetik beberapa tugas dalam satu waktu sambil merencanakan kegiatan keluarga.  Akuilah bahwa para perempuan kadang merasa bangga dengan predikat ini, yang mana laki-laki sering tak mampu melakukannya. 

Namun, multitasking cenderung membuat kita tidak mampu mendalami satu keahlian dengan lebih dalam.  Semua dapat dikerjakan dalam satu waktu, namun sekedar selesai.  Kita kadang menjadi tak mampu menemukan sebetulnya di mana kekhususan yang membuat kita berbeda, yang menjadi penanda keunikan kita. Kita terjebak multitasking.

Perempuan yang sadar untuk menjadi dirinya sendiri, yang lebih berbobot untuk mengirimkan sinyal baik ke seluruh penjuru, akan berhenti di kebanggaan melakukan multitasking.  Bukan di situ letak hebatnya.  Bukan ketika perempuan mampu melakukan semuanya dalam satu waktu, setelah itu duduk lelah tak berdaya.  Jangan terjebak, temukanlah potensi terkuatmu yang menjadikanmu berbeda dengan yang lain.

Sampai paragraf terakhir ini Saya sudahi, Saya tetap berkeyakinan bahwa perempuan sejati adalah mereka yang berani menjadi dirinya sendiri.  Anda berani?... (Opi)

**juga ditayangkan di http://www.kompasiana.com/novi.ardiani
Back to Top