Selasa, Oktober 23, 2018

Seven Main Causes Why Our Business is at (Extreme) Risk

“ The biggest risk is not taking any risk.  In a world that changing really quickly, the only strategy that is guaranteed to fail is not taking risks.” – Mark Zuckerberg  
Boleh dong saya mengutip kalimat bijak banget-nya Founder Facebook yang bisa disebut sebagai pebisnis paripurna.  Untuk kali ini, bahasan yang ingin saya tulis agak serius. Ngomongin risiko, seperti yang disebut Mark Zuckerberg pada kutipan di atas.

Meski belum pernah terjun ke bisnis sebagai wirausahawan dan seumur-umur digaji sama perusahaan, saya beranikan tulis ini. Ini adalah bahasan tentang risiko bisnis yang sangat mungkin dialami oleh baik para wirausahawan level kecil dan menengah maupun sekelas perusahaan dunia. Risiko itu tidak pandang bulu, lho. Makanya kita perlu budaya sadar risiko di semua level.  

Kesempatan mengikuti Sertifikasi Qualified Risk Management Officer (QRMO) beberapa bulan lalu membuat saya tersentil untuk menulis artikel ini. Ingin sekali menuliskan tentang risiko dan usaha dalam sebuah tulisan yang ringan dan bermanfaat buat kebanyakan orang.  Makanya, dicoba deh.  Oh ya, dalam versi yang agak serius, artikel ini juga dimuat di Majalah Internal di BUMN tempat saya bekerja.  

Saya ingin mengajak pembaca pertama-tama untuk mengamati kedua gambar berikut ini: YUK

Analogi Singa Jantan dan Antelop 

Gambar 1.  Singa Jantan 
Gambar 2.  Antelop
Yuk kita perhatikan kedua gambar di atas.  Gambar pertama adalah gambar singa jantan sang raja hutan.  Ia buas, fisiknya besar, karnivora, predator, dan ditakuti seisi hutan.  Sementara gambar yang bawah, adalah seekor antelop, hewan mirip kijang yang bukan kijang. Fisiknya relatif jauh lebih kecil dibandingkan singa jantan.  Antelop adalah herbivora dan hidup di habitat yang sama dengan singa jantan.  

Sekarang, saya ingin  bertanya.  Siapakah di antara kedua hewan tersebut yang lebih besar risiko dalam hidupnya? Sepintas, kita akan menyangka bahwa antelop terpapar risiko lebih besar daripada singa. Karena, antelop bisa setiap saat dimangsa oleh singa.  

Namun, coba kita simak lebih dalam.  Seandainya antelop setiap hari rajin berlatih agar bisa lari kencang menghindar dari terkaman singa, dan selalu mengamati di mana singa bersemayam sehingga bisa menghindar dan mencari jalur lain untuk dilewati, gimana?.... Ini membuat antelop bisa lolos dari singa.  Kemungkinan untuk survive lebih tinggi.  Sebab, antelop melakukan upaya keras untuk mengeliminir resiko tertangkap singa. 


Lanjut kita simak lagi.  Seandainya singa jantan itu malas.  Setiap hari kerjanya gelesoran saja menunggu ada antelop lengah yang lewat, untuk diterkam.  Dia hanya duduk menunggu di tempat persemayamannya.  Padahal, antelop sudah paham letak tempat itu, dan menghindari melewati jalur itu.  Sampai lemes kelaparan juga ngga bakal dapat mangsa tuh. Iya kan?... 

Karena tidak melakukan upaya untuk survive, justru singa yang terancam risiko mati kelaparan nih.  
Kisah di atas hanya analogi untuk kehidupan nyata yang kita temui.  Singa jantan yang besar menggambarkan organisasi bisnis yang besar seperti perusahaan kelas dunia, sementara antelop merepresentasikan unit bisnis yang kecil seperti UKM atau wira usaha mandiri. 

Dari analogi singan jantan dan antelop, dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu bidang bisnis pun yang luput dari risiko. Semua memiliki risikonya masing-masing. Selalu ada unsur ketidakpastian yang dapat menghambat pencapaian sasaran bisnis, dan inilah yang dinamakan risiko negatif dalam bisnis. Namun, perlu diingat juga selalu ada unsur ketidakpastian yang dapat menjadi peluang untuk mencapai bahkan melampaui sasaran.  Inilah yang disebut sebagai peluang bisnis (atau risiko positif). 

Mampu atau tidak mengelola risiko negatif dan memanfaatkan risiko positif (peluang) adalah faktor penentu utama pencapaian sasaran.  Termasuk, keputusan risiko mana yang akan diambil, dibagi, atau ditolak.  Juga, peluang mana yang akan dimanfaatkan.  Tentunya tidak semua peluang akan dimanfaatkan.  Hanya peluang yang akan berkontribusi besar terhadap pelampauan sasaranlah yang selayaknya diambil. 

Kesuksesan dalam bisnis, lazimnya diukur dengan pencapaian sasaran.  Pencapaian sasaran selalu dipengaruhi oleh faktor yang menghambat dan yang mendukung, baik faktor eksternal maupun internal. Termasuk, seberapa baik pengelolaan ketidakpastian (risiko) agar risiko yang negatif dapat dieleiminir, dan risiko yang positif dapat dieksploitasi sebaik-baiknya.  

Risiko yang mungkin kita hadapi sangat beragam, mulai dari risiko yang rendah (low risk) hingga yang ekstrim (extreme risk).  Menurut Anityasari & Wessiani (2011), pengelompokan risiko berdasarkan aksi pengendaliannya adalah sebagai berikut : 

Berdasarkan tabel tersebut, risiko ekstrim memerlukan tindakan yang sifatnya segera.  Bukan hanya perhatian dan tanggung jawab dari Manajemen, namun harus ada aksi nyata segera. Risiko ekstrim merupakan level tertinggi dari nilai risiko sehingga apabila risiko jenis ini terjadi, bisa dipastikan bisnis sedang berada di ancaman tidak tercapainya sasaran.


  
Apa yang menyebabkan risiko ekstrim terjadi? Mengapa bisnis dapat terpapar risiko ekstrim?  Berdasarkan penelusuran penulis, ada 7 sebab utama mengapa bisnis terpapar risiko ekstrim.  Ini dia ketujuh sebab utama tersebut: 

Pertama : Dominasi faktor eksternal dalam menentukan kebijakan dan sasaran organisasi 
Kedua : Tidak memiliki sasaran yang SMARTER 
Ketiga : Gagal membedakan masalah dengan risiko 
Keempat : Proses bisnis tidak terstruktur dengan baik 
Kelima : Budaya organisasi yang reaktif 
Keenam : Lebarnya Gap Sadar Risiko (Risk Awareness)
Ketujuh : Kegagalan memahami arsitektur Manajemen Risiko 


Yuk, mari kita bahasa satu-persatu: 



Pertama: 
Dominasi faktor eksternal dalam menentukan kebijakan dan sasaran organisasi. 
Kata kunci: faktor eksternal tidak dapat dikendalikan oleh sumber daya internal.

Risiko bisnis dapat diidentifikasi terjadi karena faktor eksternal maupun internal.  Faktor eksternal adalah situasi politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi, lingkungan, dan hukum. Termasuk ke dalam faktor eksternal juga adalah kebijakan di luar organisasi yang mempengaruhi internal organisasi. Sedangkan faktor internal biasanya mencakup 5 M yaitu Man (Sumber Daya Manusia), Machine (Sarana/Prasarana), Methods (Proses Kerja), Money (Modal Kerja), dan Material (Data/Informasi).

Faktor internal dapat dikelola untuk meminimalkan penyebab risiko.  Misalnya agar risiko kecelakaan kerja menurun, maka faktor internal seperti manusia, sarana dan proses kerjanya harus diperbaiki.  Namun, faktor eksternal tidak dapat dikendalikan oleh sumber daya internal.  

Risiko yang disebabkan oleh faktor eksternal hanya dapat dikelola dengan cara pendekatan dari internal ke eksternal untuk perubahan kebijakannya.  Apabila faktor eksternal itu terlalu dominan, sehingga sumber daya internal tidak berdaya untuk melakukan pendekatan perubahannya, maka kemungkinan besar organisasi akan terpapar risiko ekstrim. 

Contohnya, ketika ada perubahan kebijakan pemerintah yang menjadi dasar bagi pelaksanaan salah satu rantai supply chain dari sebuah organisasi bisnis.  



Kedua:
Tidak memiliki sasaran yang SMARTER.
Kata kunci :  mengelola risiko memerlukan kejelasan dari sasaran.  

Agar risiko dapat diidentifikasi dan dikelola dengan baik, maka sasaran kerja harus jelas dan memenuhi unsur SMARTER, atau minimal SMART.  

SMARTER yaitu: 
S untuk Specific (khusus), sasaran dinyatakan dengan jelas (apa yang akan dicapai, siapa yang terlibat dalam mencapainya, di mana pencapaian mengambil tempat, dan kapan sasaran ditargetkan akan dicapai ) 
M untuk Measurable (dapat diukur), pencapaian sasaran dapat diukur melalui ukuran tertentu
A untuk Attainable/ Achievable (dapat dicapai), sasaran yang ada bersifat menantang, namun tetap dapat dicapai organisasi 
R untuk Relevant (sesuai), sasaran yang ada harus sesuai dengan strategi perusahaan
T untuk Time-Bound (berbatas waktu), menyatakan dengan jelas kapan sasaran ingin dicapai 
E untuk Evaluated (dapat dievaluasi), sasaran yang ada dapat dievaluasi seiring berjalannya waktu demi menjamin tercapainya sasaran tersebut
R untuk Recognized yaitu memungkinkan dilakukan evaluasi pada saat tenggat waktu pencapaian sasaran tiba. 

Apabila kita tidak mampu mendefinisikan sasaran secara jelas, maka kemungkinan besar proses untuk mencapainya juga menjadi tidak jelas.  Akibatnya, kita pun kesulitan untuk mampu mengidentifikasi risiko yang akan menghambat sasaran. Apabila risiko tidak teridentifikasi, maka bisa jadi ketika di tengah jalan organisasi terpapar pada risiko yang ekstrim. 



Ketiga:
Gagal membedakan masalah dengan risiko.
Kata kunci: masalah adalah risiko yang sudah terjadi. 

Masalah dan risiko adalah dua hal yang berbeda. Setiap ketidakpastian yang akan mempengaruhi pencapaian sasaran adalah risiko.  Sedangkan masalah adalah risiko yang sudah terjadi.  Seringkali kita mendapati masalah sudah terjadi, baru berpikir untuk bertindak mengatasinya.  Seharusnya, jauh sebelum masalah itu terjadi, potensi risiko dan faktor penyebabnya sudah diidentifikasi untuk menentukan langkah antisipasi.  Tak heran apabila risiko ekstrim terjadi dan berwujud menjadi masalah di hadapan mata kita, apabila gagal mengidentifikasi risiko sejak awal. 
   

Keempat: 
Proses bisnis tidak terstruktur dengan baik.
Kata kunci:  mengelola risiko memerlukan kejelasan sasaran dan proses dalam mencapai sasaran.

Risiko pada dasarnya teridentifikasi dari negasi output setiap proses kerja dalam pencapaian sasaran. Karena itu proses kerja harus terdefinisi dengan jelas dalam proses bisnis organisasi.  Apabila proses bisnis suatu organisasi belum terstruktur dengan baik, maka akan terbuka celah rantai pasok yang tidak pas.  Akan muncul masalah ketidakjelasan atau tumpang tindih siapa bertanggung jawab terhadap apa.  Dampaknya, risiko tidak teridentifikasi dan terkelola dengan semestinya.  Celah terpapar pada risiko ekstrim akan sangat besar. 



Kelima: 
Budaya organisasi yang reaktif 
Kata kunci:  mengelola risiko memerlukan budaya organisasi yang antisipatif 

Budaya organisasi yang reaktif menyebabkan suatu aksi atau tindakan baru dilakukan ketika masalah sudah terjadi. Dalam bisnis, budaya seperti ini tidak layak dipertahankan.  Bisnis masa depan membutuhkan budaya organisasi yang antisipatif dan proaktif.  Artinya, sejak awal sudah dilakukan pemetaan dan identifikasi risiko sehingga sudah dituliskan daftar tindakan antisipasi yang dapat dilakukan sebelum masalah itu terjadi. Jika tidak, kemungkinan besar organisasi akan terpapar risiko ekstrim. 



Keenam: 
Lebarnya Gap Sadar Risiko (Risk Awareness).
Kata kunci:  mengelola risiko memerlukan budaya sadar risiko di setiap lini organisasi.

Risk Awareness dibutuhkan di setiap lini organisasi dalam bisnis, mulai dari pucuk kepemimpinan tertinggi hingga staf di lapangan. Apabila di tiap lini tidak terdapat level kesadaran dengan frekuensi yang sama, maka akan muncul gap.  Gap sadar risiko yang terlalu lebar menyebabkan sebagian besar risiko tidak teridentifikasi dengan baik.  Kemungkinan organisasi terpapar risiko ekstrim akan sangat besar jika ini dibiarkan.     



Ketujuh: 
Kegagalan memahami arsitektur Manajemen Risiko 
Kata kunci: mengelola risiko memerlukan pemahaman konprehensif arsitektur Manajemen Risiko berdasarkan SNI ISO 31000 

Bisnis saat ini membutuhkan pemahaman yang baik tentang arsitektur Manajemen Risiko berdasarkan SNI ISO 31000.  Arsitektur tersebut meliputi prinsip, kerangka, dan proses Manajemen Risiko.  Apabila ketiganya tidak dipahami dengan baik dan tidak diimplementasikan dalam proses bisnis, kemungkinan besar risiko-risiko tidak dapat teridentifikasai dengan baik.  Organisasi kemungkinan besar akan terpapar risiko esktrim.
   
Prinsip Manajeman Risiko berdasarkan ISO 31000/ 2018 ada sembilan yaitu (1)Menciptakan dan melindungi nilai; (2)Terintegrasi; (3)Terstruktur dan Menyeluruh (4)Disesuaikan dengan Kebutuhan (5)Inklusif (6)Dinamis (7)Berdasarkan informasi terbaik yang ada  (8)Mempertimbangkan faktor manusia dan budaya; (9)Pengembangan berkelanjutan.  

Kerangka kerja Manajemen Risiko merupakan seperangkat komponen yang menyediakan landasan dan pengaturan organisasi untuk perancangan, pelaksanaan, pemantauan, peninjauan dan peningkatan manajemen risiko secara berkala di seluruh organisasi.  Komponen kerangka kerja manajemen risiko merupakan suatu alur PDCA (Plan, Do, Check, Action).  Alur tersebut terdiri dari enam langkah yaitu: (1)Kepemimpinan dan Komitmen; (2)Integrasi; (3)Desain; (4)Implementasi; (5)Evaluasi; dan (6)Pengembangan. 

Proses Manajeman Risiko sendiri merupakan penerapan sistematis dari kebijakan manajemen, prosedur, dan pelaksanaan untuk enam kegiatan yang saling berhubungan satu sama lain.  Keenam kegiatan itu adalah (1)Komunikasi dan konsultasi; (2)Penetapan Skup, Konteks, dan Kriteria; (3)Assessmen Risiko yang mencakup identifikasi, analisis, dan evaluasi risiko; (4)Perlakuan teradap hasil penilaian risiko; (5)Monitoring dan Review; (6)Recording dan Reporting.

Arsitektur Manajemen Risiko merupakan modal dasar bagi implementasi seluruh hal terkait Manajemen Risiko dalam bisnis. Dan lebih lanjut, penerapan Governance Risk Complience (GRC) atau perpaduan sempurna antara tata kelola, risiko, dan kepatuhan jadi pelengkap untuk memperbesar peluang organisasi lebih rapi. Otomatis, lebih terdeteksi sejak awal setiap risiko ekstrim sebelum terjadi. Kegagalan memahami semua ini akan membuat risiko tidak terkelola dengan semestinya. 

Ketika organisasi terpapar risiko ekstrim dan tidak segera mengambil tindakan yang tepat, bukan tidak mungkin organisasi akan collaps.  Runtuh. Tidak satupun organisasi yang ingin seperti ini, bukan?

Hal buruk yang lebih berbahaya adalah ketika sebuah organisasi yang terpapar risiko ekstrim justru tidak menyadari bahwa dirinya tengah terpapar risiko ekstrim. Ibarat tubuh yang sakit, tetapi tidak menyadari bahwa tubuhnya sakit. Karena itu, semua kembali kepada awareness.  Penting sekali kepedulian seberapa jauh kita dalam sebuah organisasi sadar akan budaya risiko, peduli pada risiko, dan melakukan proses bisnis berbasis risiko. Tidak terkecuali untuk bisnis yang kita bangun, kecil atau besar. (Opi) 




**Artikel dibuat dari hasil interpretasi penulis dari Pelatihan Pelaksana Manajemen Risiko Berkualifikasi (Qualified Risk Management Officer / QRMO),  Focus Group Discussion (FGD) Our Business is at (Extreme) Risk, dan beberapa bahan bacaan yaitu sebagaimana ditulis di bawah ini.

Bahan Bacaan

Anityasari, M & Wessiani, N.A. 2011. Analisis Kelayakan Usaha, Surabaya, Guna Widya.

Bahan Pelatihan Persiapan Ujian Sertifikasi Profesi Qualified Risk Management Officer (QRMO), 2018, Bandung, Lembaga Sertifikasi Profesi Mitra Kalyana Sejahtera.

Alijoyo, A. 2018. Perum BULOG Discussion on Risk Management: Focus Group Discussion (FGD) Our Business is at (Extreme) Risk. Jakarta. Center for Risk Management Studies. 

Sugianto, 2018 .  Tata Kelola, Risiko, dan Kepatuhan: Pengawalan Aksi Korporasi.  Jakarta.  Inspektorat Kementerian BUMN.  

Fakhruddin, H. 2018. Integrated Governance Risk Compliance (GRC): A Pathway to Principled Performance.  Jakarta. 

Selasa, September 25, 2018

Penting, Ibu Pembelajar Bangkit Cegah Stunting!

“Ibu tidak mau anak-anak Ibu jadi kerdil, baik kerdil tubuhnya maupun kerdil pikirannya.  Anak-anak Ibu harus tinggi.  Tubuhnya, pikirannya, budinya, dan cita citanya,” begitu kata Ibu.


Ibu memang hanya lulus dari Sekolah Dasar di pelosok Kutoarjo, Kabupaten Purworedjo Jawa Tengah. Nasib tidak berpihak pada perempuan sahaja itu untuk dapat mengenyam pendidikan lebih tinggi. Namun, Ibu bermental pembelajar, haus akan pengetahuan dan wawasan untuk meningkatkan taraf hidup anak-anaknya. 

Tekadnya, anak-anak harus cukup gizi dan tumbuh sehat-cerdas-kuat.  Sehingga, bisa mengenyam pendidikan jauh lebih tinggi darinya. Ibu menggunakan nalarnya dan membalut ikhtiarnya dengan doa sepanjang nafas hidup, sehingga anak-anaknya jangan sampai berkekurangan gizi walau tak berkelebihan harta.

Perempuan sahaja itu adalah Ibu yang telah melahirkan saya dan kakak-adik. Ia salah satu dari sekian banyak ibu di Indonesia yang sejatinya adalah pahlawan untuk Indonesia Sehat. Dengan segala keterbatasan pendidikan dan ekonomi, Ibu selalu bangkit untuk berjuang mencukupi gizi anak-anaknya.  Dalam benak Ibu saya, anak-anaknya harus tumbuh semakin tinggi.  Tinggi fisiknya.  Tinggi budinya.  Tinggi pikirannya.  Tinggi cita-citanya. 


Bisa dibilang, Ibu melakoni kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala.  Demi apa?  Demi bayi-bayi yang lahir dari rahimnya 4 kali berurutan selama 4 tahun, bisa tumbuh sehat, dan tidak kerdil!  Terutama saat hamil dan dua tahun awal setelah bayi lahir.  Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan yang menentukan ini, sungguh beruntung saya, kakak, dan adik dirawat Ibu dan Bapak penuh kesadaran.  Kelelahan dalam menjaga sanitasi dan memberikan ASI tidak pernah membuat Ibu surut selangkahpun. Doa yang selalu membersamai diyakini Ibu menjadi pelengkap semua ikhtiarnya.

Saat anak-anak usia balita, Ibu tak habis akal meski sering tak mampu beli daging atau ikan.  Tempe, tahu, dan telur diberdayakan.  Sayur mayur dan buah-buahan lokal tidak pernah dilewatkan. Walau ekonomi pas-pasan, tetapi Ibu belajar dan berusaha memanfaatkan gaji Bapak sebisa-bisanya untuk pemenuhan gizi keempat anak dan menjaga sanitasi yang layak. 

Ibu saya kini boleh tersenyum bangga, karena apa yang beliau perjuangkan di masa lalu bersama Bapak adalah sesuatu yang memang layak diperjuangkan.  Meski latar belakang pendidikan kurang dan ekonomi pun pas-pasan, tetapi tekad untuk peningkatan kualitas hidup generasi penerus keluarga membuatnya selalu bangkit.   

Ibu diapit saya dan kakak adik.   Beliaulah pahlawan bagi kami hingga tumbuh sehat  seperti ini. 
Ibu saya tidak pernah mengenal istilah stunting, yang justru menjadi momok bagi saya setelah menjadi seorang ibu.  Padahal, yang telah dilakukannya adalah bangkit mencegah agar tidak terjadi stunting pada anak-anaknya!  Pencegahan Stunting justru sudah dilakukan Ibu saya sejak dulu dengan semangat pembelajarnya.  

Stunting atau kerdil atau pendek, merupakan gangguan pertumbuhan linier pada balita yang disebabkan adanya kekurangan nutrisi kronis dan atau penyakit infeksi kronis maupun berulang, yang terjadi sejak dari masa kehamilan hingga berusia dua tahun (Aridiyah dkk, 2015).

Pendek atau kerdil pada anak dapat diidentifikasi dengan membandingkan tinggi seorang anak dengan standar baku WHO-MGRS (World Health Organization- Multicentre Growth Reference Study) tahun 2005, yaitu membandingkan nilai z score -nya. 

Sederhananya, saat anak-anak dengan usia dan jenis kelamin yang sama berkumpul di suatu arena, tinggi badannya akan kelihatan sangat beragam. Ada yang kelihatan sangat tinggi, ada pula yang kelihatan sangat pendek. Bisa jadi di antara mereka ada yang tergolong balita pendek (stunted) apabila tinggi badan menurut umur dan jenis kelaminnya di bawah -2SD dari nilai standar baku. 


Sumber gambar:  Trihono dkk, Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya (2015) 


Menurut Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak yang dituangkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010, jika ukuran tinggi badan anak menurut umur (z score) kurang dari -2SD (Standar Deviasi) maka disebut balita pendek (stunted).  Apabila kurang dari -3SD maka disebut balita sangat pendek (severely stunted). 


Gambaran Balita Normal (kiri) dan Balita Pendek/ Stunted (kanan)
Sumber Gambar:  Bank Dunia, 2017 
Kementerian Kesehatan melalui berbagai publikasinya melansir bahwa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yaitu 270 hari masa kehamilan dan 730 hari pertama setelah bayi lahir merupakan masa yang paling krusial diperhatikan untuk mencegah terjadinya stunting.  Gizi yang cukup, imunisasi, dan sanitasi yang baik pada periode kritis ini, mampu mencegah infeksi berulang yang menjadi penyebab terganggunya pertumbuhan. 

Seandainya saat mengandung anak-anaknya dulu Ibu saya mengabaikan kebutuhan nutrisi kehamilan, lalai memberikan ASI pada bayi dan imuniasi, serta tidak menjaga kebersihan dengan baik, kemungkinan besar saya sudah terkena stunting. Tubuh saya mungkin tak setinggi rata-rata anak normal. Di masa balita mungkin saya sakit-sakitan karena kekurangan gizi dan infeksi akibat rendahnya sanitasi lingkungan. Prestasi saya mungkin tak secemerlang yang pernah dialami.

Ibu dan Saya.  Terima Kasih Ibu, Pahlawanku.
Saya ingin selalu mewarisi semangat ibu pembelajar darinya yang selalu dapat bangkit untuk mencegah stunting
Bersyukurlah, itu tak pernah terjadi.  Lalu ketika saya tumbuh dewasa, menikah dan melahirkan anak-anak, saya mewarisi apa yang diajarkan ibu. Dalam benak saya, dengan kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi berkat jasa ibu, harusnya saya mampu melakukan lebih banyak hal untuk membantu upaya pencegahan stunting. Harusnya.  Menuliskannya di blog ini adalah cara yang saya pilih, agar semangat para ibu untuk menjadi pembelajar dan bangkit mencegah stunting bisa dibaca banyak orang. Meluas dan menginspirasi. Semoga.

Stunting di Indonesia, Mengapa Meresahkan?


Stunting meresahkan, karena dampaknya yang multidimensi!

Kejadian stunting di Indonesia memang cukup meresahkan. Dari tahun ke tahun terus terjadi peningkatan angka prevalensinya.  Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 tercatat prevalensi stunting nasional telah mencapai 37,2%.  Artinya, pertumbuhan tidak maksimal ini telah diderita oleh sekitar 8,9 juta anak Indonesia. Ini  juga bermakna bahwa 1 dari 3 anak di Indonesia menderita stunting (Buku Saku Desa Dalam Penanganan Stunting, 2017).

Angka 37,2% ini dapat dikatakan relatif tinggi.  Sebab, WHO melansir bahwa stunting menjadi masalah kesehatan suatu negara apabila prevalensinya mencapai angka 20% atau lebih. Itulah sebabnya, stunting di Indonesia menjadi masalah yang cukup meresahkan dan perlu mendapat perhatian berbagai pihak.  Bukan cuma Pemerintah, tetapi juga seluruh pihak yang terlibat.  



Dari Pantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada tahun 2016, sebagaimana dilansir oleh Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, angka prevalensi stunting di Indonesia masih berada di atas 20%, yaitu 27,5%.  Sedangkan pada tahun 2017, angkanya meningkat menjadi 29,6%.   Artinya, stunting masih menjadi masalah yang serius untuk tetap ditingkatkan dan dipantau upaya penanganannya.  Di tahun 2019 Pemerintah menargetkan angka prevalensi stunting turun menjadi 28%.  

Menkes RI Nila Farid Moeloek saat menyampaikan materi "Mewujudkan Indonesia Sehat Melalui Percepatan Penurunan Stunting" dalam Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi tahun 2018 di Jakarta, Selasa 3 Juli 2018.
Sumber Gambar:  http://sehatnegeriku.kemkes.go.id
Menurut data United Nation Statistics Division (UNSD) tahun 2014, dibandingkan negara-negara tetangga, angka prevalensi stunting di Indonesia menduduki tempat tertinggi setelah Myanmar (35%), Vietnam (23%), Malaysia (17%), Thailand (16%), dan Singapura (4%). Penyebaran balita pendek dan sangat pendek di Indonesia pun sangat lebar disparitasnya.  Berdasarkan  Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, penyebaran tertinggi ada di Nusa Tenggara Timur (51,7%) dan terendah di Kepulauan Riau (26,3%).   

Indonesia juga tercatat dalam Global Nutrition Report tahun 2014 sebagai salah satu dari 17 negara (dari 117 negara di dunia) yang memiliki tiga masalah gizi yaitu stunting, wasting, dan overweight pada balita. Ini cukup menggambarkan bahwa negara kita menghadapi masalah yang kompleks dalam hal gizi balita.  



Multidampak yang signifikan diyakini bakal terjadi terhadap masa depan suatu bangsa, apabila tingginya angka prevalensi stunting tidak ditangani dengan tepat dan segera. Perkembangan fisik dan mental anak otomatis sangat terganggu akibat stunting. Tingkat kecerdasan juga menjadi sangat tidak maksimal.  Saat dewasa, anak-anak stunting kemungkinan besar tumbuh menjadi orang dewasa yang sangat rentan terserang penyakit. Baik itu obesitas maupun penyakit terkait pola makan dan  degeneratif lainnya.  

Fungsi tubuh dan kemampuan kognitif mereka juga tidak optimal.  Kesemuanya beresiko menurunkan level produktivitas. Pada akhirnya secara luas stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan, dan memperlebar ketimpangan. Bagaimana nasib bangsa kita kelak dua puluh tahun mendatang jika stunting tidak ditangani dengan serius?

Menteri Kesehatan RI Nila Farid Moeloek dalam Kampanye Nasional Pencegahan Stunting di Monumen Nasional Minggu pagi 16 September 2018.
Sumber gambar: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id
Jelas, stunting telah menjadi masalah nasional.  Hasil riset Bank Dunia menggambarkan kerugian akibat stunting mencapai 3-11% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).  Buku Saku Desa Dalam Penanganan Stunting (2017), menyebutkan bahwa dengan nilai PDB Indonesia pada tahun 2015 senilai Rp 11.000 Triliun, maka kerugian ekonomi akibat stunting di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 300 Triliun hingga Rp 1.200 Triliun per tahun.  Miris sekali bukan?  Bayangkan jika uang sebanyak itu digunakan untuk pendidikan dan kesehatan, pastinya bisa menjangkau banyak sasaran, bukan?  


Dengan demikian, stunting pada balita perlu menjadi perhatian khusus.  Jangan biarkan stunting menjadi tragedi yang tersembunyi.  Kerusakan fungsi otak yang terjadi dari gangguan perkembangan akibat stunting bersifat irreversible (tidak dapat diubah).  Anak yang terkena stunting tidak akan pernah bisa mempelajari atau mendapatkan sebanyak yang semestinya dia bisa. Stunting bukanlah perkara yang sepele karena dapat menghambat perkembangan fisik maupun mental anak.  Pada ujungnya ini akan membuat potret buram masa depan bangsa. 

Upaya Pemerintah dan Pihak Pendukung untuk Mencegah Stunting, Sudah Cukup?


Setelah menyadari dampaknya yang luar biasa, upaya penanganan yang paling krusial adalah pencegahan stunting agar tidak terjadi di generasi selanjutnya. Untuk melakukan ini kita harus bangkit, tidak bisa tidak.  Bangkit dan mungkin jatuh, lalu bangkit lagi. Terus seperti itu.   Sebagai bangsa kita selayaknya menyadari bahwa ini bukan hal yang sederhana.  Butuh nyali besar untuk terus bangkit! Tetap bangkit dan tidak terpuruk. 



Lalu bagaimana mencegah agar stunting tidak terjadi lagi? Pencegahan yang paling tepat adalah dengan terlebih dulu mengidentifikasi penyebabnya.  Penyebab-penyebab inilah yang akan dicegah agar tidak terjadi atau diturunkan risikonya. Menurut hasil penelusuran saya di berbagai literatur, penyebab stunting bukan melulu masalah gizi.  Penyebabnya multidimensional dan yang utama adalah keempat hal yang saling berhubungan ini:  

1. Praktek pengasuhan yang tidak memenuhi kebutuhan bayi/batita secara terintegrasi
2. Keterbatasan layanan kesehatan, termasuk pelayanan kesehatan ibu selama kehamilan dan terbatasnya pembelajaran dini yang berkualitas bagi calon ibu
3. Akses keluarga ke makanan bergizi masih kurang
4. Akses keluarga ke sanitasi dan air bersih masih kurang 


Presiden RI Joko Widodo dan Menkes RI Nila Farid Moeloek pada kunjungan kerja "Pencegahan Stunting" di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat,
Minggu 8 April 2018.
Sumber Gambar:  http://sehatnegeriku.kemkes.go.id
Praktek pengasuhan yang tidak memenuhi kebutuhan bayi/batita secara terintegrasi misalnya ibu tidak memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dan dilanjutkan hingga 2 tahun, memberikan makanan pendamping ASI terlalu cepat atau terlalu lambat, kualitas gizi MPASI yang kurang, dan stimulasi yang tidak tepat pada bayi untuk mendukung perkembangan kecerdasannya.  Ini bukan hanya terjadi di keluarga miskin atau di pedesaan.  

Di perkotaan dan kalangan terpelajar, ada kecenderungan ibu juga terkendala memberikan ASI. Bahkan, kurang paham nutrisi MPASI yang tepat untuk bayi.  Ini juga saya alami.  Walaupun, akhirnya dengan segenap perjuangan tetap dapat menyusui bayi hingga selesai.  Ibu saya yang menyarankan untuk rajin memantau perkembangan ilmu kesehatan.  Tujuannya agar mendapat inspirasi bahan-bahan lokal murah meriah apa saja yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Yang penting, ibu mau belajar dan mencari dukungan.  



Betapa bawelnya ibu saya dulu, agar saya memperhatikan kebersihan dalam perawatan bayi. Setiap bayi terkena diare, saya pasti dicereweti ibu agar lebih memperhatikan kebersihan dan asupan gizi setelahnya.  “Anak yang habis sakit harus lebih dipompa asupan gizinya supaya terbayar kekurangan pada waktu sakit kemarin,” begitu kata Ibu. Logis.

Sederhananya, pada waktu sakit para batita tidak nafsu makan, asupan gizipun berkurang. Gizi cukup akan membuat anak mendapatkan asupan yang cukup pula untuk imunitas tubuhnya. Imunitas yang baik akan membuatnya tak mudah sakit.  Sakit infeksi berulang-ulang serta gizi yang minim berpotensi membuat batita terganggu perkembangannya dan beresiko stunting.   

Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya stunting pada anak balita yang berada di pedesaan maupun perkotaan adalah pendidikan ibu, pendapatan keluarga, pengetahuan ibu mengenai gizi, pemberian ASI eksklusif, umur pemberian MP-ASI, tingkat kecukupan Zinc dan Zat Besi, riwayat penyakit infeksi serta faktor genetik (Aridiyah dkk, 2015).



Meskipun pendidikan ibu juga berpengaruh, tidak selamanya ibu yang berpendidikan rendah akan menghasilkan anak-anak yang kerdil.  Sebab, sebagaimana saya ungkapkan di atas, keempat sebab itu tidak berdiri sendiri.  Para ibu yang berpendidikan rendah, tetapi memiliki semangat pembelajar yang tinggi, akan mampu bangkit dan mencari dukungan untuk tegar.  Contohnya ibu saya sendiri, seperti yang saya ceritakan di awal.  

Karena itu, semangat pembelajar para ibu semestinya disambut oleh Pemerintah dan pihak pendukung.  Berkolaborasi bersama untuk memperbaiki layanan dan akses gizi serta sanitasi yang dihadapi para keluarga, adalah sangat mendesak. Ibu butuh itu.  


Long March bersama Menkes RI dalam rangka Kampanye Pencegahan Stunting Itu Penting di Bunderan HI menuju Monumen Nasional
pada Minggu Pagi 16 September 2018.
Sumber Gambar:  http://sehatnegeriku.kemkes.go.id

Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif 


Selama ini, Pemerintah dan pihak pendukung menerapkan metode Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif untuk pencegahan stunting. Intervensi gizi spesifik ditujukan khusus terhadap ibu hamil dan bayi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).  Ini diharapkan dapat berkontribusi pada 30% penurunan stunting.  Para ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu dengan anak batita sampai usia 2 tahun, merupakan sasaran utama dilakukannya intervensi.

Intervensi Gizi Spesifik dilakukan dengan memberikan makanan tambahan pada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan energi dan protein.  Selain itu, tambahan suplemen Zat Besi, Asam Folat dan Iodium bagi ibu hamil juga penting. Tidak boleh lupa pencegahan cacingan dan malaria pada ibu hamil.  Juga, dengan menggiatkan program Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan program ASI eksklusif bagi ibu menyusui.  Untuk para batita, diupayakan program tepat MPASI, suplemen obat cacing, Zinc, fortifikasi Zat Besi ke dalam makanan, imunisasi lengkap, Program Ayo ke Posyandu, dan Program Pencegahan Diare.  

Stunting sudah dapat terdeteksi ketika anak berusia 2 tahun
Sumber Gambar: www.mca-indonesia.go.id (Stunting dan Masa Depan Indonesia) 
Intervensi Gizi Sensitif lebih ditekankan pada pembangunan di luar sektor kesehatan, yang dipercaya akan berkontribusi pada 70% intervensi stunting.  Mulai dari mempermudah akses terhadap air bersih, memastikan akses sanitasi yang layak, fortifikasi bahan pangan, layanan KB dan kesehatan yang pantas.  Lebih dari itu, perlu sekali Jaminan Kesehatan Nasional serta Jaminan Persalinan Universal, apalagi jaminan sosial bagi keluarga miskin! Tak kalah pentingnya adalah pendidikan pengasuhan pada orang tua dan pendidikan gizi pada masyarakat.  Edukasi gizi, kesehatan seksual dan reproduksi terhadap remaja para calon ibu juga penting.  

Apabila intervensi gizi sensitif dilakukan berbarengan dengan intervensi gizi spesifik secara konsisten, hasilnya akan terasa.  Sebab, dukungan inilah yang sangat dibutuhkan oleh para ibu dan rumah tangga. Namun, itu saja tidak cukup.  Sadarkah kita bahwa semua upaya itu akan sia-sia jika tidak ada semangat pembelajar dan kebangkitan para ibu?....

Penting, Peran Kebangkitan Ibu Pembelajar 


Pemerintah dan Masyarakat yang saling mendukung, adalah modal kuat untuk bangkit dan maju!

Kita perlu gerakan masif pembelajaran perempuan.  Perempuan harus diberi akses yang cukup untuk pembelajaran.  Perempuan harus dibangkitkan motivasinya untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas hidup. 


Apabila tidak memungkinkan sekolah formal hingga jenjang yang lebih tinggi, maka penyuluhan dan pencerahan hingga ke pelosok desa harus dioptimalkan oleh beragam pihak. Pintu belajar informal harus dibuka selebar mungkin bagi perempuan. Bisa oleh Komunitas Perempuan, Relawan, organisasi nirlaba, sayap-sayap pendidikan organisasi privat maupun swasta, CSR, ataupun Lembaga Pengabdian Masyarakat pada Universitas.  Semuanya bisa mengambil peran dalam gerakan masif pembelajaran perempuan di seluruh pelosok Indonesia. 

Bersamaan dengan itu, para ibu sudah waktunya bangkit sebagai ibu pembelajar yang tangguh untuk berperan mencegah stunting.  Jangan jadikan diri ibu  - perempuan Indonesia - sebagai korban, tapi bangkitlah untuk berperan sebagai subjek pembangunan.  Anak-anak yang lahir dari rahim ibu adalah amanah dan pemilik hari depan.  Mencegah stunting adalah bagian amal baik orang tua sekaligus hak anak untuk tumbuh normal. 




Yakinlah, dengan kebangkitan para ibu pembelajar, dan komitmen pemerintah yang terus dijaga serta dukungan semua pihak, stunting bisa dicegah lebih masif!  Ibu yang selalu haus belajar lalu difasilitasi dan didukung dengan tepat akan menjadi aset negara yang tidak terkira.  Semoga, para ibu di Indonesia tersentuh hatinya untuk mau membangkitkan semangat belajar dan mewariskannya kepada anak-anak sebagai warisan terindah. 

Saya percaya, kebangkitan Ibu Pembelajar akan membuat potret masa depan bangsa menjadi lebih cerah dan indah. Indonesia Sehat bukan utopia. Yuk Ibu, kita pun dapat berperan untuk kemajuan bangsa dengan pencegahan stunting apabila kita mampu selalu bangkit dan belajar serta mencari dukungan dalam setiap proses pembelajaran.  Ibu pembelajar bangkit dan berperan cegah stunting untuk Indonesia Sehat, pasti bisa! (Opi) 


Ibu dan Saya.  Terima Kasih Ibu, Inspirator dan Pejuang bagi Kesehatan Keluarga. 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog/Kompetisi Media Sosial bertema Indonesia Sehat Melalui Pencegahan Stunting dan Imunisasi yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018.

Referensi dan Bacaan Lebih Lanjut: 

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/topik/rilis-media/

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. 2018. Buku Saku Pemantauan Status Gizi Tahun 2017. 

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. 2017.  100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). Cetakan pertama Jakarta: 38 hlm.

Kementerian Desa. Pembangunan, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. 2017.  Buku Saku Desa dalam Penanganan Stunting. Jakarta: v+35 hlm 

Infodatin. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republi Indonesia. Situasi Balita Pendek.  2016. Jakarta: 10 hlm. 

Hastuti,W., Par’i, H.M, Utami,S. Intervensi Gizi Spesifik dan Pendampingan Gizi terhadap Status Gizi Balita di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat.  Jurnal Riset Kesehatan Vol 9 Nomor 1 tahun 2017 hlm 32-44.

Bunga Ch. Rosa, Kencana Sari, Indri Yunita SP., Nurilah Amaliah, NH Utami. Peran Interensi Gizi Spesifik dan Sensiitiof dalamm Perbaikan Masalah Gizi Balita di Kota Bogor.  Buletin Penelitian Kesehatan Vol 44 Nomor 2 Juni 2016 hlm 127-138. 

Trihono, Atmarita, Dwi Hapsari Tjandrarini, Anies Irawati, Nur Handayani Utami, Teti Tejayanti, & Iin Nurlinawati. 2015. Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya. Lembaga Penerbit Balitbangkes Kemenetrian Kesehatan RI, Jakarta (xxxiii + 182 hlm)

Farah Okky Faradiyah, Ninna Rahmawati, Mury Ririanty.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Anak Balita di Wilayah Pedesaan dan Perkotaan .  e-journal Pusataka Kesehatan Vol 3 (No. 1) Januari 2015 hlm 163-170.

Khoirun Ni’mah, Siti Rahayu Nadhirah.  Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita.  Media Gizi Indonesia Vol 0 No. 1 Januari – Juni 2015 hlm 13-19.

Kukuh Eka Kusuma, Nuryanto. Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Usia 2-3 tahun ( Studi Di Kecamatan Semarang Timur).  Journal of Nutrition College, Vol 2 Nomor 4 tahun 2013 hlm 523-530. Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jnc





Senin, Agustus 13, 2018

Cara Bijak Kelola Keuangan bagi “Mompreneur Wanna Be”



Mompreneur Wanna Be. Do you one of ?

Kalau iya, harus bangeeeet membekali diri dengan literasi finansial yang cukup. Dan yang lebih penting lagi, harus sudah mantap dalam pengelolaan keuangan keluarga. Supaya, keuangan usaha dan keluarga tidak tercampur baur. Nah, sudah belum?....  

Ngga usah panik kalau belum.  Tidak pernah ada kata terlambat kok untuk memulai sesuatu yang baik.  Better later than never. 

Di sini saya akan berbagi langkah-langkah apa saja yang wajib diterapkan para ibu dalam pengelolaan keuangan rumah tangga dan ketika akan melangkah di dunia wirausaha. Langkah-langkah tersebut dipaparkan Finansial Educator terkemuka Prita Hapsari Gozie dalam Workshop #IbuBerbagiBijak pada Rabu, 8 Agustus lalu di Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta.  “Bijak Kelola Keuangan, Kunci Keluarga dan Masa Depan Sejahtera”, begitu tajuk yang diusung dalam workshop ini.


Prita Gozie dikenal sebagai Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia yang juga pendiri dan Direktur perusahaan konsultan perencanaan keuangan ZAP Finance.  Prita juga aktif menulis buku dan menjadi narasumber untuk perencanaan keuangan.  

Workshop #IbuBerbagiBijak ini merupakan yang kedua kalinya dilaksanakan atas kerjasama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan PT Visa Worldwide Indonesia. Di tahun 2017, workshop serupa telah dilaksanakan dan berfokus pada manjemen keuangan keluarga.  Di tahun kedua ini, lebih difokuskan sebagai bekal literasi keuangan bagi para mompreneur maupun calon mompreneur. 



Selain mendengarkan pemaparan Prita Gozie, dalam workshop #IbuBerbagiBijak saya juga berkesempatan mendengarkan sharing dari mompreneur Jenahara Nasution, seorang designer yang berfokus pada usaha moslem fashion.  Suasana di aula lantai 2 Gedung Nyi Ageng Serang jadi terasa hangat dan seru, karena audiens yang hadir full!  Para ibu Pengurus Dharma Wanita Pemprov DKI Jakarta dan mombloggers dari berbagai Komunitas Blogger hadir dengan antusiasme tinggi untuk mengikuti workshop yang ditunggu-tunggu ini.  

Saya yang termasuk sangat newbie dalam belajar literasi keuangan, merasa sangat bersyukur ikut diundang oleh The Urban Mama Bloggers dalam kegiatan ini.  Sudah lama sekali ingin langsung belajar dari Mrs. Prita Gozie, dan kesampaian juga. Alhamdulillah...


Perempuan Perlu Belajar Pengelolaan Keuangan?


Perlu bangeeet. 

Sebabnya?  Perempuan sebagai Ibu adalah manajer keuangan keluarga yang harus dapat diandalkan.  Jadi, sangat penting bagi tiap ibu untuk membekali diri dengan pengetahuan yang memadai tentang pengelolaan keuangan keluarga. Literasi keuangan perempuan harus cukup. 

Sayangnya, ternyata masih ditemui adanya kesenjangan kemampuan literasi keuangan pada perempuan dan laki-laki.  Meskipun di tiap kelompok baik laki-laki maupun perempuan terjadi peningkatan literasi keuangan dari tahun ke tahun, namun survei yang dilaksanakan OJK (2018) mendapati kemampuan literasi perempuan (25,5%) masih lebih rendah daripada laki-laki (33,2%).   Untuk mengatasi kesenjangan ini, workshop #IbuBerbagiBijak hadir.



Direktur PT Visa Worldwide Indonesia Riko Abdurrahman yang membuka Workshop #IbuBerbagiBijak menyambut baik antusiasme para ibu untuk meningkatkan literasi keuangan.  “Selain membekali perempuan dengan literasi keuangan, kami juga ingin menginspirasi perempuan untuk menjadi wirausahawati yang mampu mengelola keuangan usaha dan keluarga dengan baik,” ujarnya. 


Dasar-Dasar Pengelolaan Keuangan Keluarga


Sebelum sampai ke pengelolaan keuangan bisnis, setiap ibu harus mantap dulu nih dengan pengelolaan keuangan keluarga. Ada 3 hal paling mendasar dalam pengelolaan keuangan keluarga yang harus diperhatikan untuk mencapai keuangan ideal.  Tiga hal tersebut adalah:

1. Financial Check Up
2. Mengelola Arus Kas
3. Merencanakaan Keuangan 

Mari kita tilik satu persatu. 


1. Financial Check Up

Sebelum mengelola keuangan rumah tangga, perlu diketahui dulu kondisi awal keuangan keluarga saat ini.  Sehat kah?  Kondisi keuangan keluarga yang sehat dapat diindikasikan dengan empat indikator ini nih :



a. Apakah ada utang/pinjaman ?  

Jika ada utang, coba dicek apakah utang tersebut utang produktif atau konsumtif? Utang produktif misalnya cicilan rumah, cicilan emas, atau cicilan properti. Utang produktif disarankan besarnya di bawah 30% penghasilan.  Semakin besar utang baik produktif maupun konsumtif, maka makin tidak sehat kondisi keuangan keluarga. 
Notes penting dari Prita Gozie: “ Jika Anda akan membeli sesuatu dengan cara berhutang/cicilan, pastikan bahwa produk yang dibeli memang layak dibeli dengan cara cicilan (bukan produk konsumtif). Jika terpaksa mencicil barang konsumtif, pastikan Anda tidak mengambil cicilan baru sebelum cicilan yang lama lunas.” 



b. Apakah biaya hidup lebih besar dari pemasukan?

Pedoman “Jangan lebih besar pasak daripada tiang” wajib dipegang teguh.  Idealnya biaya hidup adalah maksimal 50% dari jumlah pemasukan.  Apabila selama ini biaya hidup lebih dari itu, atau bahkan selalu kurang, maka perlu dicek kembali. Apakah biaya yang dikeluarkan betul-betul perlu?  
Untuk mengecek ulang, beri tanda pada pengeluaran mana yang prioritas, mana yang wajib, mana yang butuh, dan mana yang hanya sekedar ingin?..... 
Note penting dari Prita Gozie: “ Jika setiap bulan Anda selalu ada pinjaman untuk keperluan biaya hidup, artinya keuangan Anda tidak sehat”. 



c. Apakah punya dana darurat?

Idealnya, dana darurat tersedia dalam bentuk kas sejumlah tiga kali pengeluaran rutin. Maksudnya, apabila hal buruk terjadi misalnya kehilangan pekerjaan atau kepala keluarga wafat, maka masih tersedia dana untuk melanjutkan hidup selama tiga bulan sambil mencari pekerjaan atau sumber penghasilan baru.  
Bahkan untuk keluarga yang punya anak usia sekolah, idealnya punya dana darurat sebesar 12 kali pengeluaran rutin.  Sehingga ketika hal buruk terjadi, anak-anak tidak harus putus sekolah.  
Note penting dari Prita Gozie: “ Dana darurat harus dalam bentuk kas/ tunai.  Boleh dipadu dengan emas, tetapi dalam bentuk kas harus tetap ada.  Itulah gunanya kita memiliki tabungan.” 



d. Apakah punya tabungan?  

Tabungan bukan hanya untuk dana darurat, melainkan juga untuk mewujudkan rencana-rencana pengeluaran di hari esok seperti liburan.  Tabungan juga bisa sebagai modal investasi untuk masa depan. 
Note penting dari Prita Gozie: ”Dompet Digital tidak dapat dikategorikan sebagai tabungan. Bahkan, cenderung membuat diri menjadi konsumtif apabila tidak melakukan batasan pengeluaran dengan bijak.” 



Setelah tahapan financial chek up ini dilakukan, langsung ketahuan kan kondisi real keuangan keluarga saat ini?.. Cukup sehat?  Atau sakit parah?  Yuk dibenahi .... Setelah berbenah, baru masuk ke tahap kedua ini. 


2. Mengelola Arus Kas

Bagaimana cara yang bijak dalam mengelola arus kas? Intinya harus ada kesadaran bahwa pemasukan adalah given, sementara pengeluaran butuh dikendalikan oleh diri masing-masing.  
Sebagai pedoman, harus ada keseimbangan antara uang yang masuk dengan uang yang keluar.  Pemasukan keluarga dapat diperoleh dari gaji, keuntungan usaha, ataupun bonus.  Sementara pengeluaran keluarga, lazimnya dibedakan menjadi:

a. Zakat/Sedekah , idealnya 5% dari pemasukan
b. Assurance /Jaminan, idealnya meliputi dana darurat berupa kas dan asuransi, totalnya  = 10% dari pemasukan 
c. Present Consumption, yaitu pengeluaran masa kini termasuk biaya hidup = 30% dari pemasukan. Perlu diingat bahwa sangat pantang berhutang untuk pemgeluaran rutin. 
d. Future Spending, yaitu pengeluaran masa depan misalnya untuk liburan, khitanan, pernikahan, sekolah, mudik dll = 10% dari pemasukan.
e. Investasi = 15 % dari pemasukan.
f. Cicilan/Pinjaman, idealnya jangan lebih dari 30% pemasukan keluarga. 



3. Merencanakaan Keuangan 

Merencanakan keuangan sederhanaya adalah mengetahui dengan pasti apa kebutuhan dan mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan keluarga, serta cara mencapainya. Rencana- rencana yang ingin dilakukan mungkin membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  Agar biaya tersebut tidak lebih besar dari pemasukan maka ada alternatif pilihan untuk menambah income keluarga dengan menjalankan usaha.  

Menjadi mompreneur saat ini adalah pilihan ibu bijak untuk membantu menopang hidup keluarga saat ini dan di masa depan. Sebab pilihan hanya dua, menambah income atau mengurangi pengeluaran.  

Note penting dari Prita Gozie:” Kita semua punya mimpi-mimpi untuk diwujudkan.  Tetapi menabung saja tidak cukup, karena ada inflasi yang selalu menggerus nilai mata uang.”

5 Langkah Pengelolaan Keuangan Usaha


Apabila dasar pengelolaan keuangan keluarga sebagaimana tahapan di atas sudah dimantapkan, maka ibu akan melangkah ke tahap berikutnya yaitu mengelola keuangan usaha. 
Mengapa berusaha?

Usaha (menjadi mompreneur) merupakan salah satu cara bagi ibu untuk menambah penghasilan keluarga.  Cara lain yang dapat ditempuh adalah bekerja secara aktif atau menjadi investor. Biasanya, sebelum nyemplung ke duania usaha, ibu akan menghadapi tantangan baru berupa: 

a. Mau usaha apa? Biasanya ibu bingung, mau usaha apa ya yang bisa menambah income keluarga?  Saran dari Prita Gozie, sebaiknya usaha yang dijalani bermula dari kesukaan atau hobi ibu yang sudah menemukan pasar yang tepat. Sesuai dengan passion lah. Jika belum, ibu tampaknya harus menggali lagi.  Jangan sampai usaha yang dilakukan cuma jadi jam sibuk yang tidak menghasilkan.  Bedakan antara mengelola bisnis dengan mengisi waktu luang ya ibu. 



b. Tidak tahu untung rugi.  Ini jadi tantangan besar karena ibu yang baru memualai usaha biasanya masih mencampur aduk biaya keluarga dengan biaya usaha.  Untuk itu, sejak awal harus sudah dipisahkan antara keuangan keluarga dan usaha.  Alangkah baiknya, ibu memiliki catatan arus kas tersendiri.  Bahkan sangat penting untuk mencatat modal investasi dan biaya yang dikeluarkan secara detil. 

c. Pertimbangan modal dan mitra.  Ini juga terkadang jadi dilema.  Tapi jangan lama-lama ya ibu dilemanya.  Akan bermitra atau jalan sendiri, maupun bermodal besar atau kecil, harus dipetakan dengan jelas baik buruknya. Jika baru mulai dan sangat newbie, ada baiknya jalan sendiri.  Tetapi jika peluang pasar nampak sangat baik, dan untuk hal-hal tertentu bukan merupakan keahlian ibu, tidak ada salahnya bermitra. 



Apabila ketiga hal dasar tersebut sudah KLIK dan PAS untuk ibu, maka ibu dapat memulai usaha dan menjalankan kelima langkah /tips dari Prita Gozie ini:  

1. Punya Rencana Pengeluaran 
2. Berpantang Utang Konsumtif
3. Sisihkan untuk Tabungan dan Investasi
4. Sediakan Dana Darurat
5. Jangan Abaikan Asuransi Kesehatan dan Jiwa 

Yuk kita bahas satu persatu: 

1. Punya Rencana Pengeluaran 
Rencana pengeluaran sebaiknya dirinci dan dipisahkan dari keuangan rumah tangga.  Pengeluaran seperti gaji bagi diri sendiri, ongkos angkut, alat-alat produksi, atau tempat usaha yang kebetulan menggunakan aset rumah tangga juga harus dihitung. Supaya, bisa ditentukan berapa omzet usaha dan biayanya.  Omzet usaha dikurangi biaya adalah keuntungan usaha.  Keuntungan usaha ini nantinya menjadi pemasukan (dana kas masuk) bagi keuangan rumah tangga. 
Note penting dari Prita Gozie: “ Setiap keuntungan sebaiknya dalam bentuk kas, baru dimasukkan ke dalam pendapatan keluarga.” 

2. Berpantang Utang Konsumtif
Dalam menjalankan usaha, boleh saja berhutang untuk menambah modal usaha.  Ini yang disebut utang produktif.  Tetapi, jangan sekai-kali berutang konsumtif saat menjalankan usaha, apalagi belum menghasilkan keuntungan. Utang konsumtif misalnya berutang untuk pembelian yang tidak memberikan benefit pada keberlanjutan usaha. Selain mengganggu dana kas, juga akan menggerus laba jika ada.  
Note penting dari Prita Gozie:”Setelah memulai usaha jangan sampai punya utang konsumtif, itu pertanda usaha tidak sehat.”



3. Sisihkan untuk Tabungan dan Investasi
Dari setiap keuntungan usaha, sisihkan untuk tabungan dan investasi yang bertujuan keberlanjutan dan pengembangan usaha.  Sisihkan walau keuntungan belum banyak.  
Note penting dari Prita Gozie:” Menyisihkan sebagian keuntungan usaha untuk tabungan dan investasi usaha itu harus, supaya ketika usaha makin berkembang, ibu punya bayangan bagaimana melanjutkan usaha.”

4. Sediakan Dana Darurat
Dana darurat usaha ini terpisah dengan dana darurat pada keuangan keluarga. Jumlahnya dapat disesuaikan lebih dulu dengan perkembangan usaha. 
Note penting dari Prita Gozie:” Dengan adanya dana darurat berupa kas dapat menjaga keberlanjutan usaha ketika terjadi dinamika usaha dan krisis.” 

5. Jangan Abaikan Asuransi Kesehatan dan Jiwa
Ketika usaha makin berkembang, ibu akan menyadari bahwa asuransi kesehatan dan jiwa sangat penting.  Saat usaha makin maju, ada kemantapan hati ibu untuk resign dari pekerjaan sebagai pegawai kantoran dan fokus menjalankan usaha.  Nah, jika sebelumnya asuransi kesehatan ditanggung oleh kantor maka setelah menjadi wirausaha harus menanggung sendiri biaya tersebut. 



Note penting dari Prita Gozie:”Usaha yang dijalankan ibu tidak selamanya mendatangkan keuntungan yang besar.  Ada masa pasang dan masa surut.  Memiliki asuransi kesehatan dan jiwa akan mebantu ibu untuk mengalokasikan biaya berobat dengan bijak.  Sehingga, tidak perlu pusing memikirkan dana tunai untuk berobat ketika membutuhkan sementara usaha sedang surut.“

Dalam berbisnis, ada kalanya ibu mungkin harus write off terhadap piutang dari klien yang tidak terbayar hingga bertahun-tahun. “Ya sudah direlakan saja untuk yang demikian.  Tidak perlu lagi dicatat terus karena kenyataannya tidak bisa tertagih dan tidak jadi kas,” ujar Prita. 

Nampaknya ribet ya, belum mulai usaha tapi sudah harus memikirkan tentang pengelolaan keuangannya. Ribet di awal lebih baik ibu, dibandingkan setelah menjalankan usaha ibu lalu bingung. Perencanaan yang matang memang mutlak dibutuhkan.  Itu baru namanya Ibu Bijak.  

Tips Mompreneur dari Jenahara Nasution


Jika Prita Gozie banyak membahas langkah dan tips pengelolaan keuangan yang ideal, Jenahara sebagai designer yang sudah 7 tahun ini terjun di dunia usaha moslem fashion memberikan beberapa tips praktis. 



Ini dia tips dari Jenahara:

a. Tentukan tujuan utama dan motivasi yang kuat, yang mampu membuat kita bangkit ketika jatuh dan tetap berjalan ketika hasil seolah tidak kunjung nampak.  
b. Dari tujuan utama, tetapkan target dan pecah target itu menjadi target-target kecil yang harus dicapai dalam waktu tertentu.  Berusahalah konsisten mencapai target itu dengan melihat lagi tujuan utama. 
c. Konsisten untuk memisahkan secara detil keuangan rumah tangga dengan keuangan bisnis
d. Pilih mitra atau partner bisnis yang dapat dipercaya dan membuat kita terus termotivasi untuk maju

Putri pasangan Ida Royani dan Keenan Nasution ini memang sudah bercita-cita menjadi designer sejak kecil.  Namun baru mulai berbisnis ketika telah berumah tangga dan hamil anak kedua. 



Selain mendengarkan pemaparan Prita Gozie dan Jenahara Nasution, para undangan juga menerima buku saku Ibu Bijak yang berisikan pengetahuan dan wawasan literasi keuangan bagi perempuan.  Isinya sangat bermanfaat buat para ibu, termasuk saya. Terima kasih dan apresiasi untuk The Urban Mama yang telah mengikutsertakan saya dalam Workshop #IbuBerbagiBijak yang sangat bermanfaat ini. 

Saya berharap , sharing tentang #IbuBerbagiBijak bisa menambah kesadaran dan motivasi kita sebagai ibu untuk meningkatkan literasi keuangan dan terus belajar. Supaya makin keren dalam mengelola keuangan keluarga, berani jadi mompreneur, dan makin mantap mengelola keuangan bisnisnya. Semoga ya.....  (Opi)  

Back to Top