Kamis, Februari 22, 2018

Kenali Mitos dan Fakta Untuk Kesehatan Anak



Mitos tentang penyakit pada anak yang dipercaya orang tua secara turun temurun, tanpa disadari bisa menjadi penghalang bagi kesembuhan anak dan tumbuh kembangnya. Naif sekali apabila ini terjadi akibat orang tua enggan belajar untuk membedakan antara mitos dan fakta. 

Kepedulian orang tua untuk terus menggali informasi tentang mitos dan fakta terkini seputar penyakit anak dari sumber yang terpercaya, wajib ditingkatkan. Kenapa? Supaya kita sebagai orang tua bisa memberikan perlakuan pertama yang tepat ketika menemukan gejala sakit pada anak.  

Tidak perlu khawatir,  di era teknologi maju seperti sekarang ini, banyak kemudahan didapat untuk membantu orang tua belajar tepat pada ahlinya. Bahkan, sumber terpercaya sekaligus ahlinya dalam memelihara kesehatan kini mudah diakses di www.halodoc.com dan aplikasi Halodoc.

Suasana talkshow yang interaktif 
Itulah benang merah utama yang dapat saya tarik dari Talkshow Kesehatan bertajuk “Mitos dan Fakta Penyakit pada Anak” yang digelar pada Minggu, 11 Februari 2018 lalu.  Bertempat di Paradigma Cafe Cikini Jakarta, saya berkesempatan mengikuti Halodoc Bloggers Gathering with The Urban Mama tersebut atas undangan dari The Urban Mama. 

Talkshow #katadokterHalodoc ini sekaligus sebagai meet up kami para mama yang tergabung dalam The Urban Mama Bloggers. Saya sangat bersuka cita dapat turut serta pada kegiatan ini karena selain bisa bertemu santai dengan para mama blogger, juga menambah wawasan yang dibutuhkan untuk memantau tumbuh kembang anak. 

Serunya, penyelenggara acara juga memperkenankan mama blogger hadir membawa pasangan dan anak.  Selama mama ikut acara bincang-bincang, anak-anak bisa bermain bersama ayahnya di halaman cafe yang luas dan ditumbuhi rumput hijau. Mama bisa belajar, anak dan ayah pun ikut senang.  

Halaman rumput yang luas di depan Paradigma Cafe, sejuk hijau sepanjang mata memandangnya
Pada acara bincang-bincang yang santai namun padat materi ini, kami para mama blogger beruntung dapat menyimak pemaparan dari Dr. Herlina Sp.A tentang mitos dan fakta seputar penyakit anak yang sering dihadapi. Cha Cha Taib yang dikenal sebagai penulis dan social media influencer juga turut menyampaikan sharing kepada mama blogger tentang bagaimana beliau bertindak ketika anak sakit.

Tidak kalah penting, kehadiran Ms. Felicia Kawilarang selaku VP Marketing Communication Halodoc membuka mata mama blogger tentang aplikasi Halodoc sebagai platform baru yang memudahkan kita dalam memelihara kesehatan.  

Mitos yang Mengubur Fakta

Apa sajakah mitos yang sering kita jadikan pegangan seputar penyakit atau gangguan kesehatan pada anak? Banyak juga ternyata.  Yang paling sering ditemukan adalah ketika anak terlambat jalan, demam, terserang cacar air, tumbuh gigi, gondongan, amandel, mimisan, dan kejang.

Felicia Kawilarang (tengah berbaju merah) berbagi wawasan tentang aplikasi Halodoc kepada para urban mama
Mitos di seputar gangguan kesehatan anak itu membuat para mama mempercayai informasi yang ternyata faktanya adalah sebaliknya. Mitos itu secara turun temurun masih terus dipercaya. Bahkan dijadikan pegangan. Bisa jadi karena kita merasa harus terus mempercayainya seperti orang tua kita sebelumnya juga telah mempercayai selama bertahun-tahun.  Bisa juga karena walaupun mitos itu meragukan, kita tidak bersegera mencari tahu faktanya kepada ahli medis/ dokter. Hanya galau berkepanjangan. 

Oleh sebab itu, jadilah mitos itu tetap dipercaya dan mengubur fakta yang sesungguhnya.   Seringkali mama urban masa kini terserang tsunami informasi, karena keaktifan di media sosial dan komunikasi pergaulan era digital.  Informasi datang dari mana-mana namun sebatas di permukaan saja. Dangkal, kemudian berlalu. Padahal, sebenarnya kita membutuhkan informasi yang lengkap terpercaya dari sumber yang kompeten.  

Apabila membutuhkan informasi seputar penyakit dan kesehatan, sudah seharusnya kita langsung menghubungi ahli kesehatan seperti dokter dan paramedis. Dengan demikian, kita memperoleh informasi relevan yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Penanganan pertama pun jadi tepat.  Penangananan yang keliru sangat besar dampaknya dan malah bisa berbahaya bagi tumbuh kembang anak-anak kita.

Misalnya apabila anak menderita tonsilitis/radang amandel dan harus diangkat amandelnya.  Sebagian dari kita masih percaya mitos bahwa operasi pengangkatan amandel akan mengganggu daya tahan tubuh anak.  Padahal, faktanya apabila pengangkatan itu memang harus dilakukan lalu tidak dilakukan karena percaya mitos, dampaknya akan meningkatkan risiko munculnya kelainan atau penyakit yang lebih berat.

Pernak pernik Halodoc 
Tidak ada salahnya sih berkonsultasi di komunitas atau group yang dibentuk atas kesamaan latar belakang dan kebutuhan.  Namun, sumber terpercaya tetap harus dijadikan referensi utama.
      
Contoh lainnya saat anak terlambat berjalan, para orang tua kita percaya itu disebabkan karena anak-anak mungkin akan terlebih dulu bisa berbicara kemudian barulah mulai bisa berjalan. Inilah mitos.  Faktanya menurut Dr. Herlina Sp.A, apabila sudah sampai masanya anak seharusnya bisa berjalan tetapi anak tersebut belum bisa berjalan, hal itu menandakan ada masalah pada motorik dan keseimbangannya.

Kecenderungan kita untuk percaya pada mitos akan membuat kita tidak mengambil tindakan apa-apa.  Hanya menunggu sampai anak bisa menunjukkan kemampuan berjalan.  

Seharusnya, apabila kita menyadari fakta bahwa ada yang kurang pada motorik dan keseimbangan anak, kita sebagai orang tua harus segera berkonsultasi ke dokter anak.  Anak dapat diperiksa lebih lanjut.  Mungkin, anak memerlukan terapi di klinik tumbuh kembang agar kemampuan motoriknya dapat dipacu lebih lanjut.

Pernak pernik Halodoc
Sangat disayangkan apabila gara-gara mitos, anak jadi terlambat terdeteksi untuk dioptimalkan tumbuh kembangnya. Di sinilah diperlukan kepekaan orang tua untuk mampu membedakan mana yang mitos dan mana fakta sebenarnya.  

Dalam kesempatan talkshow ini, Dr. Herlina Sp.A secara gamblang memaparkan sejumlah mitos dan fakta seputar penyakit anak yang sering membuat gamang para orang tua terutama ibu.  Mama blogger yang hadir dengan serius mendengarkan pemaparan beliau.  Mitos dan fakta tersebut saya rangkum dalam tabel  berikut ini, untuk memudahkan mempelajarinya.  



Tabel Mitos versus Fakta Penyakit pada Anak yang saya rangkum dari pemaparan Dr. Herlina Sp.A 
Saya sendiri yang pernah kuliah di Jurusan Biologi masih sering bingung dengan mitos dan fakta seputar penyakit anak.  Padahal latar belakang ilmu Biologi memberikan dasar ilmu kesehatan dan kedokteran yang relatif cukup memadai.

Masalahnya, saya belum benar-benar peduli dengan mitos dan fakta itu sampai kejadiannya benar-benar menimpa anak-anak saya sendiri.  Nah.  Ini memberikan pelajaran bahwa sebagai calon ibu ataupun ibu kita semestinya sudah bersiap dan membekali diri secara sungguh sungguh dari sumber yang relevan dan kompeten.  Dan tentunya, tidak berhenti belajar sesudahnya.

Saya mulai mempelajari mitos dan fakta mengenai demam setelah anak saya terserang demam.  Sebelumnya, ya belum benar-benar peduli. Hanya membaca informasi lalu lewat begitu saja. Bahkan, saya sempat misuh-misuh karena bingung pada suhu berapa sih sebenarnya anak disebut demam sehingga boleh diberikan obat penurun panas.

Dr. Herlina Sp.A menyampaikan kesimpulan pemaparannya
Ada yang bilang suhu 38 derajat Celcius, ada yang bilang 38,5 derajat Celcius.  Setelah mengkonfirmasi ke Dr. Herlina Sp.A, barulah saya meyakini bahwa memang dalam ilmu kedokteran yang disebut demam adalah suhu 37,5 derajat Celcius atau di atasnya.

“Pada suhu 37,5 derajat Celcius anak sudah merasa tidak nyaman sehingga bisa diberikan obat demam,” ujar Dr Herlina Sp.A.

Saya baru mulai mencari tahu tentang mitos versus fakta mimisan ketika anak sulung terserang mimisan.  Kemudian, baru mulai mencari-cari tahu tentang mitos versus fakta alergi ketika anak bungsu saya terdeteksi mengidap bermacam-macam alergi. Sebelumnya, ya sama sekali tidak membekali diri dengan baik.  Sehingga, awalnya selalu panik.  

Ternyata hal semacam ini bukan saya saja yang mengalami.  Cha Cha Taib pun menceritakan pengalamannya kepada mama blogger saat panik menangani anak yang sakit.  Tidak tahu harus berbuat apa, sehingga kadang justru melakukan tindakan keliru.  Atau, hanya percaya pada mitos saja.  

Rumput hijau dan saya di pekarangan Paradigma Cafe
“Pesan saya, gunakan feeling kita sebagai ibu ketika anak sakit.  Banyak membaca dan menambah wawasan serta peduli pada kondisi unik masing-masing anak. Kita juga harus care dengan obat-obatan dan tata cara penggunaannya,” ujar Cha Cha.  

Khusus untuk masalah alergi, saya mendapatkan masukan yang sangat bermanfaat dari Dr. Herlina Sp.A dan Mba Felicia Kawilarang. Dr. Herlina Sp.A menyampaikan bahwa faktanya alergi sangat spesifik penyebabnya.  Alergi tertentu ada yang umumnya menetap hingga dewasa, namun ada pula yang seiring bertambahnya usia akan berkurang atau hilang dengan sendirinya.  

Felicia menceritakan bahwa dirinya alergi debu sejak kecil, namun semakin dewasa walaupun alerginya menetap tetapi ia dapat survive.  Caranyadengan menjaga kebersihan dan menghindari pencetus alergi sebisa mungkin. “Bersih-bersih rumah lebih sering agar terhindar dari debu dan selalu pakai masker apabila terpapar di udara yang mungkin mengandung banyak pencetus alergi,” ujarnya.  

Disarankan, para penderita alergi menjalani tes alergi untuk mengetahui secara pasti pencetus alerginya. Atau, para orang tua bisa menggunakan metode trial untuk mengetahui anak-anaknya tidak tahan terhadap allergen apa saja.

Pemaparan Dr. Herlina Sp.A tentang mitos pada penyakit cacar air
Dimulai dari makanan, minuman, dan kondisi lingkungan sekitar.  Memang kedengarannya sederhana, tetapi tanpa pengetahuan yang cukup kita bisa jadi akan panik ketika menghadapinya. Apalagi kalau kumat alerginya sampai sesak napas seperti anak bungsu saya.  Kalau sudah panik, tindakan jadi gegabah dan memperparah penyakit. Bukannya sembuh, malah bisa jadi semakin parah. 

Manfaatkan Teknologi bersama Halodoc

Selain bertanya langsung kepada dokter anak tentang fakta-fakta seputar penyakit anak, sekarang ini para orang tua juga bisa memanfaatkan situs dan aplikasi terpercaya sebagai sumber kompeten.  Sejak dua tahun terakhir ini situs www.halodoc.com menyediakan berbagai informasi seputar kesehatan yang dapat dijadikan referensi terpercaya bagi para orang tua.  

Fitur pada situs ini sangat bersahabat untuk diakses.  Informasi yang berisi penjelasan tentang nama penyakit, gejala, penyebab, dan penanganannya disajikan secara sederhana sehingga mudah dipahami khalayak.

Tampilan situs www.halodoc.com yang user friendly
Informasi kesehatan yang akurat, relevan, dan terpercaya juga disajikan Halodoc melalui akun media sosial Instagram (IG) @halodoc, Twitter @HalodocID, dan akun Facebook Halodoc ( @HalodocID ).

Telah diketahui bahwa jumlah dokter per kapita di Indonesia termasuk terendah di dunia.  Inilah alasannya sektor kesehatan di Indonesia perlu tumbuh empat kali lebih besar untuk mencapai level OECD (The Organisation for Economic Cooperation and Development).

Rekomendasi dokter spesialis anak di situs www.halodoc.com
Untuk menghadapi tantangan ini, Halodoc berusaha hadir menawarkan solusi dengan memanfaatkan teknologi.   Halodoc tercipta sebagai platform untuk pasien, dokter, asuransi, apoteker, dan juga diagnosis dalam satu aplikasi mobile.  

Aplikasi Halodoc yang dapat diunduh pada Smartphone Android menyediakan layanan yang pas sekali bagi para orang tua, seolah segala kebutuhan kesehatan ada dalam genggaman.  Sebagai start-up Indonesia, aplikasi kesehatan Halodoc berfungsi layaknya kotak P3K berjalan.  

Aplikasi ini memberikan kemudahan dalam menjaga dan memeriksa kesehatan seluruh anggota keluarga. Halodoc berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan akan layanan kesehatan yang lebih efektif  melalui fitur-fiturnya. Ada tiga fitur utama Halodoc sebagaimana dapat dilihat di infografis berikut ini.

3 Fitur Utama Aplikasi Halodoc
Melalui aplikasi Halodoc ini, kita para pengguna dapat mengkomunikasikan berbagai permasalahan kesehatan pada ribuan dokter ahli dengan berbagai bidang spesialisasi di seluruh Indonesia melalui chat dan video call.  Aplikasi Halodoc menyediakan jasa tim medis mulai dari dokter umum, spesialis anak, internis, spesialis mata dan lainnya secara online 24 jam. 

Layanan Pharmacy Delivery, merupakan fitur layanan apotik antar 24 jam pada aplikasi Halodoc yang bebas biaya pengantaran.  Para ibu dapat memesan obat langsung melalui fitur ini. Solusi layanan praktis untuk pembelian kebutuhan kesehatan juga dapat dilakukan ke 1000 apotek dengan cepat, aman, dan nyaman.  

Lab Home Service pada aplikasi Halodoc merupakan layanan pengecekan kesehatan Halodoc yang bekerjasama dengan Prodia.  Untuk memudahkan masyarakat akan akses laboratorium, fitur ini memungkinkan layanan yang bisa dipanggil ke rumah/kantor.  

Phlebotomist (petugas lab) akan datang ke rumah atau kantor, dan melakukan pengecekan kesehatan seperti cek darah ataupun urine.  Saat ini Lab Home Service dapat dimanfaatkan oleh pengguna di sekitar Jakarta Pusat dan Selatan.


Tampilan situs www.halodoc.com yang menyajikan informasi lengkap tentang penyakit, gejala, penyebab dan penanganannya secara sederhana 
Dengan segala kemudahan yang ditawarkan, aplikasi ini akan sangat membantu para mama urban untuk meraih solusi kesehatan dalam satu genggaman. 

Pada akhirnya, sebagai orang tua kita harus selalu siap untuk menyaring informasi yang relevan.  Jika anak sakit, lebih baik konsultasikan langsung dengan dokter anak untuk mendapatkan penanganan yang tepat daripada bingung dengan mitos-mitos yang ada.

 We are The Urban Mama Blogger
Sumber foto: The Urban Mama
Selebihnya, manfaatkan teknologi yang ada untuk membekali diri dengan wawasan kesehatan dari sumber yang kompeten.  Selamat berjibaku mama-mama urban, tetap semangat selalu memantau perkembangan kesehatan keluarga terutama sang buah hati. (Opi #katadokterHalodoc)





Senin, Februari 19, 2018

Tiga Sentuhan Kecil yang Melambungkan Produktivitas



Warna, nada, dan benda mungil yang fungsional adalah tiga sentuhan kecil yang sudah terbukti mampu membantu melambungkan produktivitas versi saya. Betul? Iya. Walaupun untuk tetap produktif saya harus berpegang teguh pada prioritas tugas dan disiplin waktu, tapi tetap butuh sentuhan kecil yang membantu melejitkannya. 

Warna warni, bunyi nada, dan benda mungil yang fungsional baik secara terpisah maupun bersamaan punya pengaruh yang kuat untuk saya sepanjang waktu bekerja! Warna warni membuat saya bersemangat, sementara irama nada dari alunan musik bisa membangkitkan suasana hati lebih bersahabat. 

Benda mungil fungsional khususnya note mini dan kalkulator “CASIO My Style” tidak boleh ketinggalan di setiap waktu kerja. Yang ini harus, karena pekerjaan saya sehari-hari di kantor kait berkait dengan urusan angka dan nominal uang. Begitu pula di rumah, saya butuh kalkulator untuk mengkalkulasi  keuangan rumah tangga. 

Penampakan meja kerja saya 

Untuk urusan hitung menghitung cepat dengan kalkulator, saya percayakan Casio sejak masih duduk di Sekolah Menengah.  Kenapa? Karena sudah sangat terpercaya, dibuat oleh perusahaan Jepang yang telah berdiri sejak tahun 1946 dan merupakan perusahaan pertama yang merilis kalkulator di dunia.  Jadi, saya yakin bahwa pengembangan teknologi kalkulator memang milik Casio.

Selain itu, belakangan ini saya kepincut dengan seri keluaran baru “Colorful Calculator” dari Casio yang diberi tajuk CASIO My Style, karena so colorfull!! Warna warninya semarak sekali. Saya langsung membeli yang warna ungu, sesuai dengan warna style saya dong. Kalkulator mini warna ungu ini sukses membangun mood saya selama berjibaku dengan pekerjaan. Imut dan segar. 

Anda juga bisa membeli #CasioMyStyle melalui link ini  https://www.mataharimall.com/p-9604/colorful-casio-calculator . Bisa dipilih sesuai dengan warna style anda masing-masing kok.  Sebelumnya, bisa dicek dulu apa sih warna style anda di www.knowyourcolor.id.  Oya,  ada diskon khusus dengan menggunakan kode promo ini : CASIOBLOGAG59. Kode promonya bisa langsung dimasukkan ke kolom yang diminta dan otomatis akan muncul potongan harga saat pembayaran.  Dicoba ya.

Bisa tes warna diri kita di situs ini dengan menjawab pertanyaannya

Style saya sendiri rada unik, kalau bisa dibilang begitu. Ketika mencoba mencari tahu style saya melalui situs www.knowyourcolor.id dengan menjawab kuisioner yang ada di dalamnya, ternyata hasilnya menunjukkan bahwa saya manusia ungu. Hehehe.  Ungu tuh agak unik karena para pribadi dengan warna ungu ternyata bersifat misterius, kadang sangat tertutup dan bisa jadi sangat moody tergantung lingkungan di sekitarnya. 

Saya tergolong makhluk dengan warna ungu
Nah, ketiga setuhan kecil yaitu warna-nada-benda mungil fungsional ternyata sangat membantu  membuat mood saya jadi bagus sepanjang dibutuhkan, he he he.  Bagi saya, antara mood dan produktif itu dua hal yang bertaut dan saling mempengaruhi. Mood yang bagus akan memompa diri untuk produktif.  Walaupun bukan orang yang sangat moody (tergantung hawa sekitar juga), tapi saya merasa cukup penting untuk menjaga mood tetap bagus dan up

Setiap orang punya style atau gaya sendiri yang unik.  Walaupun mungkin kita punya konsensus yang sama tentang makna sebuah produktivitas, tetapi tiap orang akan punya sudut pandang yang berbeda menurut versinya. Sehingga, cara masing-masing untuk meningkatkan level produktivitasnya juga akan beraneka. Saya punya definisi produktivitas khusus versi diri sendiri, dan punya cara sendiri juga untuk melambungkannya. Saya percaya orang lain juga begitu. 

Benda kecil fungsional yang penting bagi saya

Produktivitas Versi Saya

Produktif bukan semata mampu menghasilkan sesuatu lho. Produktivitas versi saya lengkapnya bisa dibaca di sini (Enam Tips Asyik Jadi Produktif Versi Kamu).  Bagi saya, menjadi produktif itu bukan hanya diukur dari hasil dan manfaat kerja/karya bagi khalayak. Produktif yang sejati lebih menekankan pada kebermanfaatan yang dihasilkan melalui proses pembelajaran.  Proses pembelajaran ini khas untuk tiap individu di setiap proses kerjanya. 

Saya termasuk orang yang percaya bahwa kinerja seseorang bukan semata dinilai dari hasil, namun juga proses. Sejatinya, proses tidak akan pernah mengkhianati hasil, percaya deh. Kalau kita menikmati proses, tahap demi tahap, hasilnya akan terasa lebih bermakna. Sebab, dari awal kita sudah menetapkan tujuan yang jelas tentang hasil apa yang ingin diraih, akan dicapai dengan cara apa, dan dalam waktu berapa lama.  

Nah, ketika kita bisa fokus tahap demi tahap, mengatur prioritas, tidak terdistraksi, menikmati rehat dan mampu mengemas hasilnya dengan unik, naaah…. dijamin akan terasa maknyus deh di akhir. 

Sumber Gambar: Casio Calculator Indonesia 

Produktif yang begini yang saya sebut sebagai produktif versi diri sendiri. Versi anda.  Versi saya.  Uniknya, ada di proses pembelajaran saat proses kerja tiap individu.  Nah, ini pasti beda-beda deh. Sesuai dengan keunikan cara kerja masing-masing.  Sama sekali tidak bisa disamakan antar individu.  Jadi, tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain.  Bandingkan saja pencapaian diri sendiri saat ini dengan pencapaian diri di waktu sebelumnya. Jadi, kita bisa objektif mengukur produktivitas diri sendiri. 

Menikmati proses pembelajaran dalam bekerja dan berkarya akan membuat kita mampu memetik hikmah penting di tiap proses sehingga bisa lebih waspada di periode berikutnya.  Bukan tidak mungkin, akan membuat kita bisa jadi lebih produktif dan bahagia karena setiap proses dapat kita nikmati dengan berdaya. 

Lebih produktif menurut versi saya bukan sekedar bertambahnya kuantitas hasil kerja dan imbalan materi.  Tetapi lebih dari itu, lebih produktif bermakna lebih jauh apakah saya bisa memberikan manfaat lebih, nilai tambah kepada khalayak, dan kepuasan di atas rata-rata dari hasil kerja atau karya.

Tiga Lahan Produktif : Kantor, Rumah, Dunia Maya (Blog) 

Pakem utama untuk produktif buat saya ada dua hal, yaitu prioritas tugas dan disiplin waktu.  Sebagai seorang ibu dua orang anak yang bekerja di kantor delapan jam kerja setiap hari (kadang lebih), saya punya tiga lahan produktivitas nih.  Di kantor, di rumah, dan di dunia maya (blog). 

Di kantor, sudah pasti harus bisa produktif dalam bekerja.  Ukurannya sudah jelas, semua hal yang menjadi tugas saya harus bisa diselesaikan tepat waktu. Seakurat mungkin. Seakuntabel mungkin. Produktivitas di ranah kerja ini sangat dipengaruhi oleh sistem dan koordinasi antar dan inter personal.  Sedapat mungkin, saya berusaha untuk mengasah keterampilan komunikasi antar dan inter personal supaya produktivitas saya terjaga.  Kalau masalah sistem, itu sudah given ya, di luar kontrol saya.

Sumber gambar:  Casio Calculator Indonesia
Di rumah, saya punya prioritas untuk menghasilkan “sesuatu” yang bisa mendukung anggota keluarga (terutama anak-anak) lebih bersemangat dan tumbuh dengan bahagia dari waktu ke waktu.  Ukuran produktif di rumah adalah bisa mendorong anggota keluarga terutama anak-anak mempelajari hal-hal menyenangkan yang bermanfaat setiap hari. Agak absurd ya. Saya termasuk ibu yang suka mendorong anak-anak untuk menikmati setiap proses sebagai proses belajar.  

Sedapat mungkin saya tekankan kepada anak-anak bahwa sepanjang hidup kita belajar di Universitas Kehidupan.  Jangan takut membuat kesalahan, asalkan dari kesalahan itu kita bisa belajar untuk memperbaiki di tahap berikutnya.  Sehingga, kita akan menjadi pribadi yang lebih baik hari demi hari. 

Di dunia maya, saya punya tanggung jawab untuk produktif menulis di blog. Nah ini nih yang paling sulit.  Sejauh ini, saya sering meleset untuk bisa produktif menulis.  Selain karena memang masih terpikir bahwa menulis adalah hobi, maka saya belum bisa profesional dan benar-benar serius berkarya. Biasanya, saya baru terpacu menulis ketika menghadapi kejenuhan di ranah pekerjaan kantor atau di rumah.  Saya masih perlu mental yang lebih terasah nih untuk bisa produktif menulis secara profesional. 

Ketiga lahan produktivitas itu memang tidak bisa mulus sempurna dijalani.  Hampir tidak mungkin bagi saya untuk produktif di ketiganya dalam waktu bersamaan! Iya lah, saya kan bukan Wonder Woman.  Saya menetapkan skala prioritas untuk produktif. Pekerjaan kantor dan urusan anak-anak masih saya letakkan di prioritas utama yang saling mengkompensasi.  Sementara urusan blogging/ dunia maya dan produktivitas menulis masih berada di prioritas berikutnya.  

Bunga ungu itu harus ada di meja kerja saya 

Jadi, apabila ada tawaran pekerjaan menulis yang sekiranya akan berbenturan dengan pekerjaan kantor atau kepentingan domestik, saya tidak menerimanya. Namun, seringkali saya juga menyesal sih, setelah menolaknya.  Karena setelah dipikir-pikir sebetulnya bisa saja kalau mau lebih “kenceng lari”. Nah, kembali lagi produktif ini ke soal prioritas.  

Kadang, saya kurang yakin apakah saya bisa lari lebih kencang. Sesekali saya ambil tes percobaan.  Uji coba lari lebih kencang ceritanya.  Saya terima job menulis bersamaan dengan pekerjaan kantor sedang padat.  Walhasil saya kelelahan dan butuh sepanjang akhir pekan beristirahat mengembalikan energi tubuh. 

Produktif menurut saya kadang kala harus dibedakan antara produktif bekerja dan produktif berkarya.   Meskipun prosesnya tidak bisa kita pisahkan antara bekerja dan berkarya.  Prosesnya sejalan, tapi hasilnya beda jika dilihat dari imbal balik materi yang didapat. Dalam bekerja, produktif akan berdampak pasti pada hasil materi.  Sementara, dalam berkarya tidak selamanya demikian.  

Ada kalanya ketika kita berkarya (menghasilkan karya yang betul-betul sesuai dengan idealisme kita), kita justru mengeluarkan modal termasuk materi yang tidak terhitung.  Semua terbayarkan puasnya ketika karya itu hadir dan kemudian bermanfaat bagi banyak orang, sekalipun tidak berbalik dalam bentuk materi untuk diri kita sebagai pencipta karya. 

 Casio My Style warna ungu kesayangan saya
Contohnya seorang penulis.  Ketika ia bekerja menulis sesuai dengan tugas yang diberikan kepadanya, dia mendapat imbalan jasa.  Produktivitasnya dari bekerja ini akan berbuah materi. Hasil kerjanya juga berupa karya. Berupa tulisan.  Dia bekerja sekaligus berkarya. 

Tetapi pada saat sang penulis menerbitkan sendiri buku yang merupakan buah pikirannya dan buku itu tidak banyak dibeli orang, dia mungkin tidak mendapatkan imbalan materi dari hasil karyanya itu.  Imbalannya mungkin dalam bentuk yang lain seperti kepuasan batin dan kebermanfaatan hasil karyanya untuk publik.  

Contoh lainnya, misalnya fotografer.  Fotografer bekerja memotret objek dan dibayar dari hasil kerjanya.  Namun ketika sang fotografer menghasilkan karya yang tidak bersifat komersial, bahkan mengeluarkan banyak biaya untuk menghasilkan karya itu, dia tidak mendapat imbalan materi yang memadai dari hasil karyanya.  

Tidak selamanya bekerja itu sama dengan berkarya, dan tidak selamanya karya masterpiece itu dihargai dengan materi.  Namun, saya menilai keduanya baik bekerja dan berkarya tidak bisa dipisahkan. Satu hal lagi, karena dalam prosesnya ada pembelajaran, maka menurut pandangan saya baik belajar, bekerja, dan berkarya itu tidak bisa dipisahkan atau berjalan sendiri.  Ketiganya sejatinya berjalan beriringan, layaknya three in one.  Ketiganya adalah sebab hadirnya sebuah produktivitas.  Setuju ngga?...

Sentuhan Bermakna untuk Produktivitas: Warna-Nada-Benda Mungil Fungsional

Nah, secara teknis ketika bekerja ataupun berkarya, saya banyak berada di belakang meja. Terutama untuk finishing pekerjaan dan karya.  Baik itu untuk pekerjaan kantor, berkreasi untuk urusan domestik, maupun berkarya di blog.  Oh ya, terkadang saya juga membuat puisi lho. 

Duduk membaca, menghitung, dan menulis memang adalah rentetan kegiatan yang selalu harus saya jalani.  Walaupun, terkadang saya juga memotret dan mengunjungi tempat-tempat di luar maupun dalam kota ketika bertugas. Ke lapangan bagi saya adalah mengumpulkan bahan.  Lalu semua akan diramu di belakang meja.

Karena itu, meja kerja adalah tempat yang intim bagi saya.  Hari-hari saya banyak dihabiskan di meja kerja, terutama meja kerja di kantor.  Saya suka meja yang rapi.  Oya, merupakan kebiasaan saya untuk merapikan meja sebelum dan sesudah kerja. Di rumah, saya tidak punya meja kerja sendiri, hanya menumpang di meja kerja suami.  

Sumber Gambar: Casio Calculator Indonesia

Saya termasuk orang yang bisa bekerja di mana saja.  Bahkan untuk menulis, saya bisa melakukannya sambil menunggui anak-anak les Bahasa Inggris, atau ketika sengaja cari tempat dengan Wifi gratis di mana saja.  Di rumah, saya bekerja di meja yang berpindah-pindah. Kadang di meja kerja suami, kadang di atas tempat tidur, kadang di lantai sambil menemani anak-anak belajar, membaca, atau bermain.  Saya tipe yang sangat fleksibel untuk urusan ini. 

Untuk bisa punya mood bagus dan bekerja produktif, saya butuh tiga sentuhan kecil. Warna, nada, dan benda mungil fungsional.  Meja kerja saya di kantor selalu diwarnai oleh bunga-bunga.  Walaupun cuma bunga plastik, tapi harus ada! Begitupun ketika bekerja di rumah, saya dekatkan bunga-bunga berwarna supaya ada spektrum warna di sekeliling saya.  

Entah kenapa, tanpa disadari nuansa warna yang muncul di area meja kerja saya itu adalah warna ungu.  Salah seorang atasan saya sempat bergurau, “Wah Novi ini harusnya dipindah ke Tanah Grogot, Kalimantan Timur.  Di sana kotanya serba ungu. Cocok kamu di sana.” Tanpa disengaja beliau sering mendapati saya menggunakan aksesori nuansa ungu, pakaian olahraga warna ungu, tas nuansa ungu dan pernak pernik lainnya serba ungu. 

Stylish Calculator warna ungu ini selalu menemani saya belajar, bekerja, dan berkarya

Saya dan rekan kerja lalu tertawa. Rupanya, di Provinsi Kalimantan Timur ada sebuah kabupaten bernama Kabupaten Passer yang ibukotanya adalah Tanah Grogot.  Di Tanah Grogot, nuansa ungu sangat kental.  Semua bangunan, menara, jembatan, hingga trotoar semuanya dicat ungu.  

Selain warna, saya butuh nada saat bekerja dan berkarya.  Musik itu harus.  Alunan musik membuat saya jadi lebih konsentrasi dan bersemangat.  Terlebih lagi jika saya sedang menyusun kerangka atau konsep, banyak berpikir, nah itu saya butuh musik banget.  Di tengah kerja, saya pun suka bersenandung mengikuti irama.  

Yang tidak kalah penting untuk teman produktif adalah benda kecil yang fungsional di meja kerja.  Nah ini harus ada!  Dia adalah kalkulator, note mini, dan pernak pernik yang membantu memudahkan pekerjaan. Kalkulator itu harus banget! Pekerjaan saya sehari-hari di penjualan komoditi dan laporan sudah pasti butuh hitung hitungan. 

Dulu-dulu sih kalkulator saya warna abu abu hitam seperti pada umumnya kalkulator.  Tetapi, sejak munculnya “Colorful Calculator”  dari Casio yang semarak warna itu, saya jadi tergoda untuk memiliki kalkulator ungu yang cantik.  "CASIO My Style"  ungu ini saya bawa-bawa juga di dalam tas.  Soalnya mungil dan ringan. 

Pilihan warna yang bisa dipilih dari serial Colorful Calculator Casio My Style
Sumber Gambar: Casio Calculator Indonesia

Memang "CASIO My Style" ini dirancang khusus dengan warna yang menarik dan bentuk yang nyaman di tangan penggunanya.  Kalau diperhatikan, tulisan pada keyboardnya berbeda dengan kalkulator pada umumnya yang biasanya sangat formal.  "CASIO My Style" lebih terkesan informal. Ceria, segar, dan stylish lah gitu.  “Colorful Calculator”  ini mudah dibawa dan cocok digunakan kapan saja di mana saja kita bekerja. Bikin suasana hati segar dan semangat.

Menurut saya, produk “Colorful Calculator” ini sangat mencerminkan kredo perusahaan Casio yaitu kreativitas dan kontribusi.  Komitmen perusahaan ini untuk berkontribusi pada masyarakat dengan menawarkan produk asli dan bermanfaat yang khas Casio bisa kita rasakan di kehadiran "CASIO My Style".  

Colorful Calculator ini secara inovatif membantu pengguna dalam kehidupan sehari-hari untuk terus maju.  Selain itu keberadaannya membawa suka cita bagi kita untuk menciptakan budaya baru yang lebih semangat dan berkualitas, walau hanya dalam proses kerja. Itu sih yang saya rasakan.

Ketiga sentuhan kecil itu (warna, nada, benda kecil fungsional) tidak boleh ada yang kurang salah satu setiap saat saya bekerja.  Luput salah satu, pasti akan terasa ada yang hilang dan membuat kerja kurang semangat deh.  Harus ada warna, nada, dan benda kecil fungsional di meja kerja saya setiap dibutuhkan. Mereka bertiga ini membuat saya lebih terkondisi secara perasaan dan mental untuk menyelesaikan semua pekerjaan saya sesuai waktunya. Terkondisi untuk lebih produktif.

Malah, kalau sedang memikirkan konsep tulisan di blog sambil duduk di depan laptop, saya sering memandangi bunga-bunga warna warni atau gambar-gambar dari Pexel yang beraneka rupa warna untuk menemukan ide.  Tentunya sambil mendengarkan alunan musik, atau lagu kesayangan. 

Ya memang, sudah selayaknya kita juga tidak melewatkan hal-hal kecil yang ternyata berdampak besar pada proses kerja kita. Ya kan?... Sentuhan kecil yang dapat membangkitkaan mood serta gairah kerja sehingga melambungkan produktivitas, menurut saya harus tetap dijaga.  Setuju?  ….. Saya yakin Anda juga punya sentuhan tersendiri. Nah selamat melambungkan produktivitas ya rekans, sukses selalu ya…..(Opi)  

Back to Top