Kamis, Mei 17, 2018

3 Sebab Utama Perempuan Dukung #RokokHarusMahal





Seusai mendengarkan siaran program radio Ruang Publik KBR yang saya ketahui dari website www.kbr.id  bertajuk #rokok harus mahal #rokok50ribu, seketika saya teringat almarhum Bapak. Perih menyeruak. 



Setiap ke rumah Ibu, ada rasa ngilu mengiris hati ketika menilik kamar mendiang Bapak. Di kamar itu, masih tersimpan barang-barang Bapak meski beliau telah wafat dua tahun yang lalu. Nebulizer, kursi roda, tabung oksigen dan alat bantu nafasnya. Almarhum Bapak berpulang untuk selamanya pada usia 72 tahun, setelah menderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). 

Sepanjang hidupnya, Bapak akrab dengan kepulan asap rokok.  Beliau perokok aktif sejak usia sekolah menengah. Dalam sehari, Bapak bisa menghabiskan setidaknya satu bungkus rokok atau sekitar 12 batang.  Ketika memasuki usia pensiun, Bapak sempat berhenti merokok karena kesehatannya yang mulai menurun. Tetapi, itu tak berlangsung lama.  Nikotin yang sudah mencandu memanggil beliau kembali aktif merokok hingga Dokter menegakkan diagnosis PPOK.  

Beberapa bulan sebelum Bapak wafat, kami anak-anak Bapak sudah diberitahu Dokter yang merawatnya bahwa paru-paru Bapak sudah rusak parah, tak dapat diperbaiki lagi, sebagaimana pada umumnya penderita PPOK.  Hanya seperlima bagian dari paru-parunya yang dapat berfungsi normal.  Selebihnya, rusak. 

Filli-filli atau bulu halus penyaring benda asing pada bronkhiolus (bagian paru-paru) Bapak sebagian besar sudah rusak karena terpapar asap rokok selama puluhan tahun. Sudah gundul. Akibatnya, sedikit saja benda asing masuk akan langsung mempengaruhi respon paru-paru menghasilkan lendir terus menerus.  


Makam almarhum Bapak yang selalu menyisakan perih setiap mengenangnya

Akibatnya, Bapak akan terus batuk dan berdahak. Di samping itu, beliau pun sulit bernafas dan selalu tersengal-sengal.  Karena, hanya seperlima saja kapasitas paru-paru maksimalnya untuk memompa oksigen ke seluruh tubuh.  Itu tidak cukup. Tubuh Bapak mengurus dan terbaring lemah tak berdaya di ranjang putih. Oksigen, yang menjadi kebutuhan utama tubuh untuk hidup, sulit didapat Bapak karena kerusakan permanen paru-parunya.  

Itulah kenyataan yang dialami Bapak saya, perokok aktif yang menderita PPOK di usia senja. Karena sifatnya sudah kronis, PPOK tidak bisa disembuhkan. Dalam dunia kedokteran, PPOK adalah istilah yang digunakan untuk sejumlah penyakit yang menyerang paru-paru untuk jangka panjang.  Penyakit ini menghalangi aliran udara dari dalam paru-paru sehingga penderita akan mengalami kesulitan dalam bernafas. 

Dari penjelasan Dokter, saya memahami bahwa para perokok aktif maupun pasif yang berumur panjang memang beresiko tinggi menderita PPOK di hari tua.  Dokter memperkirakan satu dari empat perokok aktif adalah pengidap PPOK.  

Sering kita mendengar para perokok berdalih bahwa mereka sehat-sehat saja dan bisa berumur panjang. Sementara non perokok juga ada yang mati muda. Iya, mati itu soal takdir.  Tetapi, sudah bisa dipastikan bahwa para perokok yang berkesempatan berumur panjang, akan mengalami kerusakan permanen pada paru-parunya di usia tua sehingga menderita PPOK seperti Bapak saya. 


Racun yang menjadi candu bagi Bapak 

Pada saat kami sekeluarga menyadari penyakit kronis yang diderita Bapak, semuanya sudah terlambat.  Tidak ada lagi yang bisa diperbaiki atau disembuhkan.  Dokter menasihati kami anak-anaknya untuk merawat Bapak penuh sabar.  


Bergantian kami merawat Bapak di rumah sakit. Di dalam benak kami, anak-anaknya, ada satu penyesalan tentang Bapak : kenapa Bapak mencandu rokok. Seandainya rokok tidak menjadi karibnya, mungkin paru-parunya tidak harus rusak demikian. Masa tuanya pun harusnya bisa lebih dinikmati. 

Peristiwa yang dialami Bapak meninggalkan satu bekas yang tidak bisa hilang dalam sisa hidup saya. Bekas perih menyaksikan penderitaan pengidap PPOK hingga akhir hidupnya. Kami sekeluarga tidak pernah digubris Bapak jika mengingatkan tentang bahaya rokok.  Candu nikotin dan power Bapak sebagai kepala keluarga lebih dominan.  

Sebagai perempuan yang juga istri dan ibu dari dua orang anak, saya termasuk yang mudah teriris perasaannya jika melihat dan mendengar tentang pro kontra permasalahan rokok-kesehatan-dan kesejahteraan. Lagi-lagi, peristiwa yang dialami Bapak membuat saya trauma dan anti rokok. Dari keempat anak Bapak, tak satupun yang perokok.  Dan kami pun menikah dengan non perokok. Ada satu kesamaan sikap yang kami rasakan tanpa dikomando siapapun.  Kami mencamkan jahatnya rokok bagi kesehatan.

Saya Dukung #RokokHarusMahal
Sebagai perempuan, dilatarbelakangi dengan pengalaman Bapak perokok aktif yang meninggal karena PPOK, saya mengambil sikap untuk mendukung bahwa rokok harus dijual dengan harga mahal. Harga rokok harus lebih mahal dari harga barang-barang pokok kebutuhan rumah tangga. Supaya, para perokok terutama kepala keluarga akan berpikir sekian kali untuk memilih beli rokok. 

Ada tiga sebab utama mengapa perempuan seperti saya memutuskan mendukung #rokokharusmahal.  Ketiga sebab itu adalah:


1. Perempuan sebagai Manager Keuangan Keluarga bertanggung jawab terhadap pengeluaran rumah tangga yang bijaksana 


2. Perempuan sebagai Ibu mencita-citakan generasi yang sehat dan berkualitas 


3. Perempuan sebagai istri yang membantu pendapatan keluarga memiliki peluang luas untuk menambah income keluarga selain dengan berjualan rokok



Yuk bahas satu persatu:


1. Perempuan sebagai Manager Keuangan Keluarga bertanggung jawab terhadap pengeluaran rumah tangga yang bijaksana 



Mayoritas perempuan yang sudah menikah akan serta merta bertanggung jawab terhadap manajemen keuangan rumah tangga. Walau, masih ada beberapa yang keuangan rumah tangga sepenuhnya dipegang suami.  Istri tahu beres saja.  Jika suami sebagai kepala keluarga bekerja, penghasilannya akan diberikan sebagian besar kepada istri untuk dikelola.  Sebagain kecil mungkin dipegangnya sendiri untuk kebutuhan pribadi.  

Begitupun yang dilakukan Bapak dulu. Ibu saya harus pasrah saja diberi berapapun uang dari penghasilan Bapak, untuk dikelola memenuhi kebutuhan keluarga.  Jumlahnya sudah lebih dulu dipotong Bapak untuk membeli kebutuhannya termasuk rokok. Itupun kemudian masih minta lagi ke Ibu untuk beli rokok lagi. 

Saya tidak pernah tahu berapa banyak uang belanja Ibu dipotong Bapak untuk beli rokok.  Yang jelas, seharga sebungkus rokok setiap hari. Sepanjang hidup.  Saya bahkan sering disuruh beli rokok oleh Bapak, dan uangnya minta sama Ibu. Memang sepertinya sedikit, karena harga sebungkus rokok memang murah sejak dulu. Tetapi sering.   Jika ada pilihan untuk beli kebutuhan sekolah anak-anak dan beli rokok, maka uang untuk kebutuhan sekolah juga jadi berkurang. Misalnya tadinya mau beli dua pensil, jadi satu pensil saja.  Penghapusnya satu buah dipotong untuk berdua. 

Secara tidak langsung sudah terjadi pemaksaan pembelian rokok pada anggaran belanja rumah tangga selama bertahun-tahun. Itulah sebabnya kenapa kemudian saya mencari calon suami yang tidak merokok. Saya tidak mau ada anggaran beli rokok di pengeluaran rumah tangga.  
  
Karena Bapak bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, masih ada jaminan pendapatan tetap setiap bulan, walau jumlahnya pas-pasan untuk menghidupi seorang istri dan empat orang anak. Saya mendapati kejadian yang lebih mengerikan di lingkungan sekitar.  Ada tetangga yang tidak punya pekerjaan tetap, tetapi rajin merokok.  Sementara istrinya yang banting tulang bekerja sebagai kuli cuci pakaian, sembari mengasuh dua anak.  Jangankan memikirkan sekolah anak, untuk makan pun kembang kempis.  Tapi kepala keluarganya bisa merokok dengan penuh kenikmatan. 

Jika harga rokok mahal, para istri yang memiliki kendali terhadap keuangan rumah tangga akan mengatakan tidak untuk membeli rokok bagi suaminya.  Dan suaminya kemungkinan juga akan berpikir ulang.  Selama ini, harga rokok sangat murah, sehingga menjadi godaan kuat untuk membelinya walau tak punya banyak uang.  



Saya pernah membaca di media online tentang hasil survei Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia.  Pada Desember 2015-Januari 2016 mereka melakukan survei terhadap 1000 orang tentang harga rokok.  Hasilnya, 46% perokok mengaku akan berhenti merokok jika harga rokok di atas Rp. 50.000,- per bungkus. Jadi usulan #rokok50ribu itu sungguh berdasar, bukan asal-asalan. 

Pemerintah bisa mengkaji, berapa kenaikan cukai rokok yang harus diberlakukan agar harganya di atas Rp 50.000,- / bungkus.  Kenaikan tarif cukai rokok ini akan menambah penerimaan negara.  Penerimaan ini mungkin bisa dianggarkan untuk meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat atas penyakit yang disebabkan oleh kecanduan rokok. 


2. Perempuan sebagai Ibu mencita-citakan generasi yang sehat dan berkualitas



Semua perempuan yang bergelar ibu pasti menginginkan kehidupan anak-anaknya kelak lebih berkualitas dibandingkan dirinya.  Segala cara akan diperjuangkan untuk mencapainya.  Namun, perjuangan para perempuan untuk mewujudkan hal ini nampaknya dihadang oleh banyak tempaan.  Termasuk, kondisi akses mudah dan harga murah pada rokok.  

Rokok yang dijual di Indonesia bahkan ada yang harganya Rp 500,-/ hingga Rp 1.000,- /batang, dijual “ketengan”.  Racun itu dijual sangat murah, menyebar di pergaulan anak sekolah. Anak-anak yang menjadi harapan kita di masa depan.  Sejak kecil paru-parunya sudah dijejali asap rokok. Bagaimana kualitas hidupnya kelak jika terus berlanjut demikian?

Harga rokok menurut saya harus dipatok jauh di atas rata-rata uang jajan siswa Sekolah Dasar dan Menengah.  Supaya, mereka tidak dengan mudah bisa membeli rokok. Selain harganya harus mahal, Pemerintah juga harus lebih ketat dalam pengawasan peredaran rokok.  #Rokok50ribu sangat masuk akal untuk dipertimbangkan.

Rokok seharusnya tidak boleh diakses dan dibeli dengan mudah di toko oleh anak-anak di bawah umur. Lebih bagus lagi jika rokok tidak bisa dibeli “ketengan” per batang. Global Health Tobacco Survey pada tahun 2014 sebagaimana dimuat di www.fctcuntukindonesia.org menyebutkan bahwa tiga dari lima anak sekolah membeli rokok di warung/toko tanpa ditolak karena usia mereka.  Ini menunjukkan betapa longgarnya peredaran rokok bagi anak-anak di Indonesia. 



Selama ini akses rokok terlalu mudah dari segi harga dan keterjangkauan. Dalam sudut pandang marketing memang ini sengaja dilakukan oleh industri rokok.  Sasaran utama industri rokok adalah anak-anak, remaja, dan usia produktif.  Melalui komunikasi pemasaran, industri rokok mampu membuat rokok jadi kebutuhan bagi golongan muda. Kebutuhan eksistensi.  Seolah jika tidak merokok, keberadaannya tidak diakui oleh lingkungan, tidak keren, dan tidak modern.  Sifat rokok yang mencandu akan membuat orang-orang ini terus mengkonsumsi rokok sepanjang hidupnya dan menghidupi industri rokok.

Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI tahun 2010 seperti dilansir www.fctcuntukindonesia.org menyebutkan bahwa lebih dari 30% anak di Indonesia merokok sebelum usia 10 tahun.  Sementara itu, perokok usia 15-19 tahun meningkat tiga kali lipat dalam kurun waktu 5 tahun.  Ini menyedihkan. 

Karena kita para perempuan bertanggung jawab terhadap kualitas hidup anak-anak kita kelak, makanya sikap mendukung rokok harus mahal itu menurut saya tepat.  Memang akan selalu ada pro kontra. Kalau harga rokok mahal dan rokok tidak laku, bagaimana nasib industri rokok dan tembakau? Sementara ada banyak kehidupan pula bergantung di sana.  Baiklah, jika memang industri rokok harus hidup, apakah harus merajalela? 

Menurut saya harus ada pembatasan yang mempertimbangkan kemaslahatan umat manusia, bukan segolongan tertentu.  Bukankah kita semua hidup berdampingan? Bukankah ada banyak lahan industri lainnya untuk peningkatan kualitas hidup yang bisa dikembangkan di era milenial ini?  

Bukannya tidak boleh ada industri rokok, itu juga tidak mungkin.  Tapi, harus dibatasi. Jika industri rokok maju tetapi negara terbebani oleh biaya jaminan kesehatan yang membludak akibat penderita penyakit akibat rokok, kan tidak elok juga. 

Ngeri, kalau harus membayangkan anak-anak kita yang harusnya tumbuh cerdas dan sehat, sudah diracuni rokok sejak kecil.  Saat dewasa mereka telah mencandu. Mungkin juga akan meningkat jumlah penderita kanker paru di usia produktif.

 Kalaupun sampai di usia tua, mereka harus menderita seperti Bapak saya, menderita PPOK.  Ngeri.  Saya tidak mau membayangkan seperti itu. Karena itu, perempuan yang peduli pada kualitas generasi ke depan akan mangambil sikap dukung #rokokharusmahal.    

Saat ini Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi/aksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).  FCTC adalah perjanjian internasional tentang kesehatan yang disepakati negara di dunia anggota WHO.  

Perjanjian ini bertujuan melindungi generasi masa kini dan masa mendatang dari dampak konsumsi rokok serta paparan asap rokok.  Sebagaimana dilansir www.fctcuntukindonesia.org , saat ini sebanyak 187 negara di dunia telah menandatangani FCTC.  Saya kurang memahami apakah alasan dan pertimbangan Pemerintah Indonesia sehingga belum meratifikasi perjanjian ini.  

FCTC ini terdiri dari 11 bab dan 38 pasal yang mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.  Di dalam perjanjian ini juga diatur tentang paparan asap rokok orang lain, iklan promosi dan sponsor rokok, harga dan cukai rokok, kemasan dan pelabelan, kandungan produk tembakau, edukasi dan kesadaran publik, berhenti merokok, perdagangan ilegal rokok hingga penjualan rokok pada anak di bawah umur.  




 3. Perempuan sebagai istri yang membantu pendapatan keluarga memiliki peluang luas untuk menambah income keluarga selain dengan berjualan rokok



Saya sering melihat perempuan berjualan rokok di warung atau asongan. Mereka melakukannya untuk menambah penghasilan keluarga.  Dengan edukasi yang ramah, mereka seharusnya bisa diajak untuk lebih peduli pada kesehatan dengan tidak menjual rokok.  Mereka bisa memilih untuk menjual yang lain, bukan rokok. 

Sudah cukup banyak kisah yang kita dengar di radio, tentang kisah sukses para perempuan yang mampu menyelamatkan keluarga dari keterpurukan biaya hidup dengan berjualan.  Iya, berjualan asongan dan warung. Asongan dan warung tanpa menjual rokok bukan berarti sepi pembeli.  Sudah banyak contoh kisah warung dan asongan yang tetap mendatangkan rizki walau tidak menjual rokok. 

Sebagai perempuan, sebagai ibu dan istri kita punya peran membantu perekonomian keluarga saat dibutuhkan, dengan cara berjualan. Di situ kita punya kesempatan untuk TIDAK menjual rokok.  Dan sebaliknya, lebih baik  menjual barang kebutuhan lainnya yang lebih bermanfaat. 

Jumlah perempuan di Indonesia dengan usia sangat produktif (15-49 tahun) menurut proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) adalah 69,4 juta jiwa.  Besar artinya jika para perempuan mengambil sikap dukung #rokokharusmahal.  Suara perempuan adalah suara untuk generasi masa depan yang lebih berkualitas.  Dengarkanlah.... (Opi). 

**Tulisan ini adalah murni sikap, pendapat dan pemikiran penulis setelah membaca tentang pro kontra harga rokok di berbagai sumber berita online, serta mendengarkan Siaran Live Green Radio Pekanbaru pada 89,2 Power FM hari Jumat tanggal 11 Mei 2018 Pukul 09-10 WIB bertajuk “Perempuan Dukung Rokok Harus Mahal” 

Sabtu, Mei 05, 2018

Ulasan Produk Azalea Hijab Shampoo & Hair-Hijab Mist : Selamat Tinggal Rambut Apek ...!!


Rambut yang seharian tertutup hijab membutuhkan perawatan yang tepat. Meski terlindung dari sinar matahari, jika tidak cermat bisa terjebak lembap sehingga lepek dan bau apek.  Itu saya alami. 

Memilih produk perawatan yang tepat dibarengi cara merawat yang cermat memberikan hasil yang optimal sesuai harapan.  Rambut jadi sehat, lembut, anti lepek, dan tidak berbau apek. Saya percaya itu. Kalau salah pilih produk dan tidak tepat cara merawatnya, bisa-bisa rambut malah jadi rusak.  

Nah, memilih produk perawatan rambut berhijab yang pas, itu memang susah-susah gampang. Sepekan terakhir ini, saya mencoba Azalea Inspired by Natur untuk perawatan rambut. Rangkaian perawatan dari Azalea terdiri dari shampo dan hair mist. Uniknya, hair mist Azalea bisa digunakan untuk tubuh juga. 
  
Sehari-hari, saya mengenakan hijab dan terbiasa keramas setiap mandi sepulang kerja. Rasanya tidak betah kalau tidak keramas. Gerah dan lepek.  Setiap hari, saya  berangkat dan pulang kerja naik Kereta Rel Listrik (KRL) Commuterline dan ojek daring. Berdesakan di kereta dan terkena polusi saat naik ojek, membuat saya tidak betah menunda keramas. 



Problem utama saya adalah rambut jadi bau apek. Juga gatal di kulit kepala.  Bayangkan saja, satu hari minimal saya naik ojek 4 kali. Dari rumah ke stasiun, lalu naik kereta sampai stasiun tujuan, lanjut ojek lagi dari stasiun ke kantor.  Pulangnya begitu pula. Jadi sehari saya ganti helm empat kali, dengan bau helm yang rupa-rupa. Jadilah kadang percaya diri saya menurun kuatir hijab dan rambut bau apek. 

Produk Shampo dan hair mist Azalea saya coba setelah menghadiri Soft Launching Mom Blogger Community (MBC), Minggu 29 April 2018 lalu.  Bertempat di Ground Up Delicatessen, sebuah cafe di wilayah Tebet Jakarta Selatan, saya bersama para momblogger berkesempatan mendengar sharing Mba Sarah dari Azalea seputar perawatan rambut bagi perempuan berhijab.

Sarah dan Dewi Febrianti sharing tentang perawatan rambut berhijab
Inti dari sharing Azalea adalah rambut sehat akan tetap sehat jika dirawat secara tepat dengan shampo berbahan alami. Sebab, bahan kimia buatan yang berlebihan justru akan merusak rambut ketika dipakai setiap hari.  Shampo yang alami memang tidak memberikan hasil yang instan tetapi membutuhkan waktu berproses. Percayalah, proses tak akan mengkhianati hasil.  Kondisi rambut pun jadi lebih aman karena tidak terekspos oleh residu bahan kimia sintetis.

Pulang dari kegiatan tersebut, satu paket produk Azalea saya bawa pulang sebagai oleh-oleh. Langsung coba keramas menggunakan shamponya di sore hari, lalu coba juga hair mist-nya. Pertama kali coba, saya perhatikan shampo Azalea tidak berbau harum seperti shampo kebanyakan. Ada sih bau harumnya tetapi samar-samar seperti bau campuran tumbuh-tumbuhan. Sekilas, ada aroma buahnya juga. Wanginya alami dan menyenangkan untuk dihirup. Tidak menusuk di hidung. 

Warna cairan shampoo Azalea kecoklatan alami seperti madu,
karena tidak diberi pewarna buatan
Warnanya juga coklat alami.  Ketika digunakan untuk keramas, tidak mengeluarkan banyak busa. Ciri-ciri shampo yang natural ya seperti itu. Karena dibuat dari ekstrak tumbuh-tumbuhan tanpa tambahan pengharum dan pewarna serta busa sabun yang berlebihan, maka jadilah seperti itu. Pengharum dan pewarna sintetis serta busa sabun yang terlalu banyak dalam shampo bisa membuat rambut jadi kering dan rusak.  

Produk perawatan rambut berhijab Azalea Inspired by Natur
Karena dibuat dari bahan alami, setelah dibuka dan digunakan kemasan shampo Azalea harus ditutup rapat.  Jangan sampai kemasukan air karena bisa mengurangi khasiat shampo.  Air yang masuk ke dalam botol shampo bisa bereaksi dengan ekstrak tumbuhan yang merupakan bahan dasar shampo.  Hasil reaksi dengan air inilah yang bisa mengubah komposisi senyawa sehingga menurunkan efektifitas shampo.  

Sensasi utama yang saya rasakan setelah keramas dengan Azalea adalah sejuk dan segar.  Ini efek dari kandungan mentholnya. Setelah sepekan menggunakan shampo Azalea, terasa rambut jadi lebih lembut. Padahal saya tidak pakai conditioner.  Rupanya yang melembutkan rambut ini adalah kandungan olive oil.  Jadi, olive oil bisa menggantikan fungsi conditioner atau pelembut rambut. Praktis deh jadinya, tidak perlu beli pelembut rambut. 

Botol kemasan Shampo Azalea kemasan 180 ml , dimensi 5,5 x 3 x 15,5 cm

Shampo Azalea mengandung ekstrak ginseng dan beragam ekstrak tumbuhan serta buah.  Nama-nama bahannya tercantum lengkap di kemasan.  Ginseng dikenal baik sekali untuk menguatkan akar rambut. 

Setelah keramas, seperti saran Mba Sarah, saya semprotkan hair mist Azalea.  Cara menyemprotkannya diberi jarak 10-15 cm dari rambut. Secukupnya saja. Rambut pun jadi harum. Keharumannya segar, tidak menusuk hidung. Hair mist ini bisa juga disemprotkan langsung ke hijab, setelah melepas helm. Segar seketika, bau apek pun lenyap.  Dan, tidak meninggalkan noda di hijab.  Bisa juga disemprotkan ke tubuh lho.  Double function deh. Saya sih langsung suka dan cocok. Jadilah selalu saya bawa di tas, supaya bisa digunakan kapan saja dibutuhkan.  

Hair-Hijab Mist Azalea praktis dibawa dan digunakan kapan saja
saat dibutuhkan
Azalea untuk rambut berhijab ini diproduksi oleh PT Gondowangi Tradisional Kosmetika.  Tentu pernah kenal dengan Shampo Natur kan?  Azalea dibuat oleh produsen yang sama, dan memang sudah terkenal konsisten membuat produk perawatan rambut yang alami. Produk Azalea sudah berlabel Halal dari Majelis Ulama Indonesia sehingga Insha Allah baik digunakan.  Info lebih lanjut tentang produk ini bisa dilihat di akun media sosial Azalea yaitu FB Azalea Beauty Hijab, Twitter @AzaleaHijab_ID, dan Instagram @azaleabeautyhijab.

Azalea dan Natur : satu produsen 
Shampo Azalea tersedia dalam kemasan 180 ml yang harganya berkisar Rp 18.000,- hingga Rp 24.000,-.  Cukup bersaing dengan harga produk lainnya.  Sedangkan hair mist tersedia dalam kemasan 80 ml, ukuran yang pas untuk dibawa-bawa. Harganya berkisar Rp 17.000,- sampai Rp 23.000,- .  Botolnya tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil juga. Pas. Keduanya bisa dibeli di supermarket Giant, toko kosmetik, atau toko online. 

Jika diamati, sekilas kemasan shampo Azalea tidak terlalu berbeda dengan produk lainnya di pasaran.  Saya bahkan baru menyadari sudah pernah melihat produk ini di supermarket Giant ketika sedang belanja, tetapi tidak terlalu menarik perhatian. Warna kemasan hijau dan desain botol berdimensi 5,5 x 3 x 15,5 cm ini memang tidak terlihat menonjol.  Tetapi setelah merasakan manfaatnya, desain dan warna kemasan jadi tidak terlalu penting buat saya sih.  

Sarah, perwakilan Azalea

Terima kasih Mom Blogger Community (MBC) yang sudah memperkenalkan produk perawatan rambut berhijab Azalea. Saya semakin yakin keramas setiap hari tanpa kuatir rambut jadi rusak oleh residu bahan kimia shampo.  Sebab, Azalea sangat lembut dan natural sehingga aman digunakan setiap hari.  Hasilnya mulai terasa setelah tujuh kali keramas kok.  Jadi percaya diri juga karena keharuman hair mist Azalea segar dan alami. 

Nah, mulai sekarang saya ucapkan selamat tinggal rambut apek! Selamat datang rambut segar dan harum alami. Terima Kasih Azalea. (Opi)

**foto-foto adalah koleksi pribadi penulis

Selasa, Mei 01, 2018

Fitrah sebagai Basis Pendidikan yang Hakiki


Basis pendidikan menjadi hal krusial bagi pencapaian tujuan mulia menciptakan generasi penerus yang mumpuni. Basis yang keliru akan berdampak generasi rapuh yang gagal didik. Kembali ke tujuan penciptaan manusia, fitrah selayaknya mengemuka sebagai basis pendidikan yang hakiki. 

Itu hasil merenung saya tadi malam. Sampai tidak bisa tidur walaupun jarum jam sudah menunjukkan lewat Pukul 00.00.  Biasanya saya sudah terlelap, karena harus bangun Pukul 4.00 untuk siap-siap berangkat ke kantor.  Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran, mata ini memang tidak bisa lekas terpejam. Otak berputar memikirkan satu hal. Pendidikan anak-anak.  

Sebagai ibu dua orang anak, saya menyandang gelar pendidik.  Tugas utama saya bersama suami mendidik anak-anak agar menjadi pribadi soleh yang bermanfaat. Selama ini, tugas mendidik tidak dilakoni sendiri.  Ada peran sekolah, keluarga, dan lingkungan yang juga turut serta sebagai fungsi pendamping.  

Satu hal yang mengganggu pikiran saya adalah, ketika menyadari bahwa anak-anak seharusnya dididik sesuai dengan fitrahnya, banyak hal yang terjadi menyimpang dari prinsip itu.  Fitrah sebagai basis pendidikan kadang belum bisa saya terapkan dengan baik karena keterbatasan diri ini untuk lebih banyak belajar. Mudah-mudahan perlahan-lahan saya bisa terus mendalaminya seiring dengan perjalanan mengasuh anak-anak. Learning by doing. 

Pendidikan Berbasis Fitrah  

Fitrah berasal dari bahasa Arab yang berarti membuka atau menguak.  Makna fitrah diterjemahkan sebagai asal kejadian, keadaan yang suci, dan kembali ke asal.  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia fitrah artinya sifat asal, kesucian, bakat, atau pembawaan.

Pendidikan mengandung makna proses, cara, dan perbuatan mendidik.  Detilnya adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.  Ketika mendidik anak, kita mengajarkan konsep atau tata nilai. Lalu,  melatihnya untuk mengimplementasikan dalam kehidupan nyata.

Bagaimana proses kita menyampaikan konsep, nilai, pelajaran maupun bekal kepada anak-anak kita ?  Bagaimana proses kita mendidik anak sejak mereka lahir dari rahim kita?  Apa landasannya?  Fitrah. Ya, selayaknya didasarkan atas fitrah mereka. Begitupun ketika kita mendidik diri sendiri.   

Berdasarkan pengetahuan yang saya serap dari bahan bacaan dan seminar-seminar pendidikan berbasis fitrah, masing-masing diri anak kita dikaruniai tujuh fitrah personal (potensi).  Ketujuh fitrah personal itu adalah :

1. Fitrah Keimanan, bahwasanya beriman dan mengenal Sang Pencipta adalah sebuah kebutuhan

2. Fitrah Belajar, bahwasanya manusia memiliki insting mempelajari berbagai hal untuk bertahan hidup

3. Fitrah Gender/ Seksualitas, bahwasanya tiap orang membutuhkan determinasi terhadap eksistensinya sebagai laki-laki atau perempuan.  Secara genetis, laki-laki dan perempuan ditakdirkan berbeda secara fisik maupun mentalnya.

4. Fitrah Bakat, bahwasanya ada sifat-sifat tertentu yang diwariskan yang membuat sesorang cenderung memiliki kelebihan di bidang yang tertentu juga.

5. Fitrah Sosial, bahwasanya setiap orang adalah makhluk sosial, yang butuh diapresiasi, butuh eksistensi diri di lingkungan dan tidak dapat hidup sendiri

6. Fitrah Perkembangan, bahwa setiap anak akan mengalami perkembangan yang spesifik di tiap tahapannya.

7. Fitrah Estetika, bahwa setiap anak menyukai keindahan yang kadarnya akan berbeda antara satu dengan yang lain.  

Sudah seharusnya ketika kita mendidik anak, ketujuh fitrah itu dijadikan basis landasan. Selama ini, tanpa disadari saya hanya cenderung mengacu ke fitrah bakat saja.  Padahal itu hanya salah satu dari seluruh kelengkapan fitrah dalam diri anak.  

Sebuah pemahaman tentang fitrah anak yang saya dapat
dari kuliah Matrikulasi Institut Ibu Profesional, 2018 
Saya menyadari bahwa anak usia 0 hingga 7 tahun fitrahnya adalah bermain.  Ya, bermain.  Belahan otaknya belum memisah sempurna (fitrah perkembangan) sehingga tidak bisa dipaksakan untuk menerima pengajaran dengan cara pendidikan dan pelatihan akademik. Segala hal yang akan diajarkan pada anak-anak usia 0-7 tahun hanya akan mengena bila disajikan dalam format bermain. 

Mengenal Tuhan, dikenalkan dengan cara bermain.  Mengenal diri dan tubuh (laki-laki atau perempuan) disajikan dengan permainan.  Begitu pula pelajaran nilai-nilai hidup dan keberadaan di lingkungan sosial serta penanaman karakter dimasukkan dengan cara bermain yang menyenangkan.  

Beri Anak Stimulus sesuai Fitrahnya

Anak-anak akan siap untuk memasuki pengajaran dengan metode pendidikan dan pelatihan akademik di sekolah setelah memasuki usia 7 tahun.  Dalam ilmu perkembangan, seperti saya serap dari penjelasan seorang Psikolog di Sekolah Islam Berbasis Fitrah Ibu Yelia beberapa waktu lalu, dikenal piramida pembelajaran sebagaimana disajikan pada gambar berikut: 


Jika kita berbicara tentang belajar secara akademik, maka letaknya ada di piramid paling atas ( academic learning).  Belajar di sekolah, membaca dan menulis, mendengarkan guru mengajar, ada di level tersebut.  Namun, apakah yang mendasarinya?  Dasar sesungguhnya adalah yang di paling bawah piramida yaitu Central Nervous System/Sistem Syaraf Pusat.  Jadi apabila anak-anak kita ada masalah di sekolah terkait pembelajaran, sebagai orang tua kita wajib melihat ke titik asalnya yaitu perkembangan sistem syaraf pusat. Sudahkan syaraf pusat terstimulus sesuai fitrah perkembangannya? 

Apakah Sistem Syarat Pusat?  Sistem inilah yang bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran anak-anak kita sejak terbentuk di dalam kandungan.  Hal yang paling mendasar dari semua awal pembelajaran manusia adalah sistem inderanya.  Ada tujuh indra yang berada di bawah Sistem Syaraf Pusat, yang perlu diberi rangsangan (stimulus) untuk berkembang dengan baik.  Ketujuh indra itu adalah :

1. Olfactory (Penciuman)
2. Visual (Penglihatan)  
3. Auditory (Pendengaran) 
4. Gustatory (Pengecapan)
5. Tactile (Perabaan)
6. Vestibular (Keseimbangan)
7. Proprioception (Kerja Otot) 

Pertanyaannya adalah, apakah kita para orang tua sudah memberikan stimulus yang cukup dan tepat untuk perkembangan indera anak kita sebelum usia 7 tahun? Nah... saya sampai terkesiap ketika melakukan introspeksi ini.  Ibaratnya tanaman, akan tumbuh subur jika diberi makanan berupa pupuk, nutrisi, cahaya, dan air yang cukup. Sistem syaraf pusat juga demikian.  Apakah makanannya agar bisa berkembang baik?  Makanan bagi sistem syaraf pusat untuk bisa berkembang dengan baik adalah gerak dan stimulus yang cukup dan tepat. 

Terbayang kan betapa aktifnya anak-anak bergerak dan membuat rumah berantakan ketika masih kanak-kanak?  Sempat kesal dan marah karena rumah tidak bisa rapi?  Tunggu dulu.  Itulah fitrah perkembangan anak-anak 0 sampai dengan 7 tahun.  Patut diketahui orang tua, bahwa ketika anak aktif bergerak, sinapsis pada sel-sel otak akan aktif mengirimkan stimulus (rangsangan) ke otak.  Sehingga, otak akan berkembang dengan seksama! Itulah perkembangan kecerdasannya.

Sebaliknya, apabila anak-anak hanya diam saja, kurang gerak, sukanya nonton televisi atau main game, maka otaknya tidak berkembang dengan baik. Ketika anak nonton televisi dan main game, yang terstimulus dengan baik hanya indera penglihatan (visual)nya saja.  Semantara ada 6 indera lainnya yang harusnya terstimulus dengan baik agar sistem syaraf berkembang sempurna. 

Apa jadinya jika sistem syaraf tidak mendapatkan rangsangan yang cukup dan tepat?  Fatal.  Proses pembelajaran anak akan terhambat di level berikutnya seiring dengan tahapan level pada gambar piramida pembelajaran di atas.  Sayangnya, kadang kita sebagai orang tua mungkin tidak peka.  Masalah baru akan kita sadari setelah anak masuk sekolah dan tidak menunjukkan perkembangan akademik yang wajar untuk seusianya.  

Lalu, kita orang tua sibuk memberi anak les ini itu untuk mensupportnya.  Padahal solusinya bukan itu. Solusinya bukan di akademik, tetapi lebih mendasar di stimulus sistem syaraf pusatnya. 

Sempat saya bercucuran air mata waktu menyadari, aaaah sudah sekian tahun saya jadi ibu, semua berjalan mengalir begitu saja. Tetapi modal saya untuk mendidik anak sesuai dengan fitrahnya belum betul-betul senantiasa ditambah. 

Di hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2018 ini, saya jadikan moment untuk membenahi diri sebagai pendidik utama buah hati. Sejatinya untuk mampu mendidik anak-anak dengan pendidikan berbasis fitrah, saya harus lebih dulu mampu mendidik diri sendiri dan memahami fitrah diri.  

Penting rasanya belajar dari Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ketika usianya genap 40 tahun, beliau mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara serta menanggalkan semua gelar kebangsawanannya.  Tujuannya, beliau ingin lebih dekat dengan rakyat baik secara fisik dan jiwa.  Saat ini, di usia saya yang juga 40 tahun, saya berniat menanggalkan seluruh ego saya sebagai ibu, agar bisa lebih dekat secara fisik dan jiwa dengan anak-anak, serta memahami fitrahnya.



Ing Ngarso Sung Tulodo (Di Depan Memberi Contoh)
Ing Madyo Mangun Karso (Di Tengah Memberi Semangat)
Tut Wuri Handayani (Di Belakang Memberikan Daya Kekuatan)

Itulah yang diajarkan Ki Hajar Dewantara dalam mendidik.  Saya mau meniru semua itu dengan meletakkan fitrah sebagai basisnya. Dan saya, sang pendidik, wajib mendidik diri sendiri untuk menjadi seperti itu.  Ayo Bu, jangan berhenti belajar!! Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2018. (Opi) 

 ** Diilhami dari materi perkuliahan Matrikulasi Institut Ibu Profesional, bahan bacaan tentang pendidikan berbasis fitrah dari WA group ibu-ibu kompleks perumahan tempat saya tinggal, simpul-simpul buncah rasa dari seminar dan workshop tentang pembelajaran serta hubungannya dengan fitrah yang sempat saya ikuti sepanjang setahun terakhir.  

Belajar, Berbagi, dan Berkarya Bersama Mom Blogger Community


Kolaborasi serasi jelas terjalin di acara Soft Launching Mom Blogger Community (MBC), Minggu 29 April 2018 lalu.  Bertempat di Ground Up Delicatessen, sebuah kafe di wilayah Tebet Jakarta Selatan, komunitas blogger yang terdiri dari sebagian besar ibu-ibu ini menggandeng banyak pihak untuk mendukung peluncurannya. Otomatis seru!  Founder dan peserta yang antusias, sponsor yang keren, dan tempat yang asyik, membuat acara ini jadi berkesan buat saya!

Keseruan dimulai sejak sepasang kaki ini meletakkan jejak di tempat acara.  Disambut senyum dan sapa ramah oleh para founder, membuat mood langsung terbentuk. Yang membuat takjub, acara peluncuran ini juga kebanjiran pendukung alias sponsor. Wow! Ini sebuah bukti adanya kolaborasi yang mantap dari founder komunitas dengan beragam pihak.  Simbiosis mutualisma sedang digarap di sini. 

Sponsor utama acara ini adalah produk perawatan rambut untuk perempuan berhijab Azalea. Nuansa hijau tosca yang mewarnai seluruh acara juga mengambil nada dari Azalea. Sebuah nilai plus bagi para mom blogger yang hadir karena mendapat wawasan seru tentang perawatan rambut berhijab serta serba serbinya. 

Keseruan mom blogger saat mengambil gambar terbaik untuk
konten kreatif blog-nya
Selain Azalea, ada produk susu Hometown juga peralatan gambar dan tulis Faber-Castell turut menceriakan. Saya sendiri baru pertama kali mencicipi produk dairy fresh milk Hometown ini. Rasanya gurih dan sedap, seperti susu segar yang baru diperah dari sapi lalu direbus dengan api kecil sampai hangat. 

Iyalah, karena susu Hometown ini adalah susu segar hasil perah dari sapi-sapi yang diternak sendiri oleh produsennya yaitu PT Great Giant Livestock.  Hasil perahan susunya lalu dipasteurisasi tanpa ditambahkan bahan lainnya.  Proses Pasteurisasi berguna untuk untuk mematikan bakteri patogen (bakteri jahat penyebab penyakit).  Sedangkan bakteri baik yang berguna untuk pencernaan kita, akan tetap hidup di dalam susu yang sudah dipasteurisasi. Pada saat susu itu kita minum, bakteri baik akan ikut masuk ke dalam pencernaan kita. 

Wajah ceria mom blogger di Soft Launching MBC
Susu Pasteurisasi harus disimpan di suhu dingin (sekitar 4 derajat Celcius) dan dikonsumsi kurang dari lima hari setelah segel dibuka.  Jika tidak, susu akan rusak dan menjadi asam. 

Kehadiran susu Hometown ini membuat seru acara karena ketika baru datang, mom blogger yang hadir langsung disuguhi susu dingin. Wow, mantap! Welcome drink-nya sehat dan segar! Sluuurrrrppp.....

Produk berkualitas yang mendukung acara peluncuran MBC
Keseruan berikutnya dihadirkan oleh Faber-Castell.  Di tengah acara berlangsung, sepaket peralatan tulis dan gambar dibagikan kepada seluruh mom blogger yang hadir.  Senyum sumringah langsung menghiasi wajah semua. Terbayanglah raut muka anak-anak di rumah yang akan menyambut ibu pulang dengan sukacita berikut seperangkat peralatan tulis dan gambar untuk mereka! Senangnya....

Keseruan juga akan diarasakan anak-anak setelah ibu pulang dari acara,
karena seperangkat alat gambar dan tulis ini dibawa pulang sebagai oleh-oleh 
Pastilah anak-anak akan gembira, mendapat oleh-oleh peralatan tulis dan gambar bermutu.  Faber-Castell sudah tidak diragukan lagi keberadaannya sebagai produsen alat tulis dan gambar yang mumpuni.  Sebagai salah satu produsen alat tulis kantor (ATK) tertua dan terbesar di dunia, Faber-Castell telah mengoperasikan 14 pabrik dan 20 unit penjualan. Waaah... Tidak tanggung-tanggung, jumlah stafnya mencapai 7000 orang, yang menjalankan bisnis ini di lebih 100 negara.  Berkantor pusat di Stein Jerman,  Faber-Castell  layak jadi acuan mutu untuk hal yang berhubungan dengan menulis dan menggambar. 

Minuman dan cemilan sehat Reztuary turut mendukung peluncuran MBC
Ikut menyemarakkan acara peluncuran MBC sehingga tambah seru adalah produk smoothie dan puding dari Reztuary serta Cilok Bu Citreuk. Smoothie-nya dikemas dalam botol menghadirkan  aneka campuran buah yang menyehatkan.  Sementara pudingnya, dikemas lucu di wadah yang kreatif.  Lalu ciloknya yang endess banget, langsung ludes dilahap sambil mengikuti serunya games interaktif.

Tebaaaak, moms ini lagi pada ngapain?....
Yak, sedang memotong sayuran dalam khayalan satu hati. 
Games yang sukses membuat suasana menjadi semakin seru!
Ternyata cilok Bu Citreuk hanya dibuat berdasarkan pesanan lho. Makanya selalu fresh.  Walaupun makanan tradisional, tapi sudah bisa dipesan secara moderen yaitu via online. Nah, setuju kan kalau saya katakan bahwa kolaborasi di acara ini mantap pisan?  Berbagai produk berkualitas turut hadir dan membuka mata para mom blogger atas berwarnanya dunia.  

Wajah sumringah di tengan keseruan yang berlangsung
Jadi, di acara ini bukan cuma seru-seruan tanpa manfaat lho. Para mom blogger yang hadir juga diajak untuk uji kekompakan dalam games. Selain itu, founder MBC Amallia Sarah - Icha Faizah- dan Dewi Febrianti mengajak mom blogger untuk senantiasa belajar-berbagi dan berkarya dengan semangat.  

Founder MBC Amallia Sarah dan Icha Faizah
mengajak mom blogger untuk
belajar-berbagi-berkarya dengan semangat
"Kehadiran MBC bukan bermaksud untuk menyaingi komunitas mom blogger lainnya yang sudah ada.  Tetapi justru ingin ikut mewarnai dan memberikan manfaat dengan cara belajar-berbagi dan berkarya," kata Amallia Sarah saat memberikan sambutan di peluncuran MBC ini. Nah ini dia ajakan seru yang harus disambut tangan terbuka oleh para mom blogger.  Trilogi Belajar-Berbagi-Berkarya.  Dengan trilogi ini, semoga dunia blogging menjadi semakin seru dan berwarna. 

Sambal Roa ikut meramaikan acara
Soft Launching MBC juga didukung oleh perlengkapan bayi KimandKin dan Sambel Roa buatan Tina Kitchen. Ssssst, Sambel Roa-nya langsung disantap lahap Pak Suami ketika tiba di rumah! Bahkan dimakan dengan kerupuk sebagai camilan sambil bercengkerama dengan anak-anak. Tidak terlalu pedas, sehingga pas di lidah. 

Tetap semangat dan seru walau sambil menggendong si kecil 
Sampai tulisan ini selesai di buat, kesan mendalam masih saya rasakan dari acara peluncuran MBC. Semangat kolaborasi, asa untuk belajar-berbagi-dan berkarya, serta niat untuk jadi lebih bermanfaat, semoga bisa selalu kita wujudkan. Maju terus Mom Blogger Community!!! (Opi) 

Sampai jumpa lagi mom!!

**foto-foto adalah koleksi pribadi penulis dan Mom Blogger Community






Back to Top