Kamis, Desember 27, 2018

“BUSINESS MODEL GENERATION” : Membangun Model Bisnis Masa Depan



Benda usang tak selalu harus dibuang.  Daur ulang mungkin solusinya.  Namun, model bisnis yang usang, layakkah dipertahankan?  Inovasi adalah jawabannya.  470 praktisi dari 45 negara menyusun sebuah panduan praktis penuh inspirasi tentang pembaharuan model bisnis berupa  buku ““Business Model Generation”.  Buku best seller yang telah 11 kali dicetak ulang sejak 2012 ini patut dijadikan referensi bagi siapapun yang sedang berjuang untuk mendesain perusahaan masa depan yang visioner, dengan model bisnis yang pas. 

Saat ini relatif banyak bermunculan model bisnis yang inovatif.  Seluruh industri baru terbentuk ketika yang lama tumbang.  Para pemula menantang pendahulu, yang beberapa di antaranya berusaha keras menemukan kembali dirinya.  Bagaimanakah bayangan Anda tentang model bisnis pada dua, lima, atau sepuluh tahun mendatang?  Akankah Anda menjadi salah satu pemain yang dominan?  Akankah Anda menghadapi pesaing-pesaing yang mengajukan model bisnis baru yang hebat? 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sejatinya bermunculan ketika lingkungan bisnis makin kompetitif dan menggila. Untuk menjawabnya, perlu lebih dari sekedar teori dan konsep. Butuh sebuah panduan praktis inspiratif yang menyajikan langkah-langkah dobrakan untuk mendesain model bisnis setelah era kini.  Untuk itulah buku “Business Model Generation” hadir.  





Inovasi yang Dikemas Secara Praktikal

Buku ini menggambarkan tentang model konvensional dan model baru serta dinamika dan teknik-teknik inovasinya.  Termasuk, panduan untuk memosisikan model bisnis yang kita miliki dalam lingkungan yang sangat kompetitif. Juga, panduan bagaimana cara memimpin desain ulang bagi model bisnis organisasi. Penyampaian konsep dan cara-cara praktis dalam buku ini sangat berbeda dengan buku strategi ataupun manajemen.  Jauh lebih sederhana dalam format visual yang gamblang. 

Para penulis buku ini menganut paham bahwa inovasi model bisnis adalah tentang penciptaan nilai bagi perusahaan, pelanggan, dan masyarakat.  Inovasi model bisnis juga adalah tentang mengganti model yang telah usang.  Contohnya, melalui iTunes.com dan iPod, Apple menciptakan model bisnis inovatif yang menjadikan perusahaannya mempunyai kekuatan dominan dalam musik online. 

Proposisi nilai Apple adalah memudahkan pelanggan dalam mencari, membeli, dan menikmati musik digital.  Melalui model bisnisnya, Apple menegosiasikan kesepakatan dengan semua perusahaan rekaman besar untuk menciptakan perpustakaan musik online terbesar di dunia. 



Di sisi lain, Skype memberi kita panggilan global dengan harga sangat murah dan tarif gratis untuk pembicaraan antar-Skype melalui model bisnis inovatif yang disebut teknologi peer-to-peer. Ini juga sebuah kisah sukses dari pembaruan model bisnis lebih remaja.  

Contoh lainnya yang dibahas dalam buku ini adalah model bisnis inovatif seperti yang dilakukan oleh Zipcar.  Zipcar membebaskan penduduk kota dari keharusan memiliki mobil dengan menawarkan penyewaan mobil berdasarkan permintaan per jam atau harian dengan sistem keanggotaan gratis.  Inilah bentuk respons model bisnis atas munculnya kebutuhan pengguna dan tekanan masalah lingkungan.  Di belahan lain, Grameen Bank membantu meringankan kemiskinan melalui model bisnis inovatif yang memopulerkan pinjaman mikro untuk masyarakat miskin.  

Buku ini memandu pembaca untuk menemukan, merancang, dan menerapkan model bisnis yang kuat secara sistematis.  Model bisnis yang telah tua dan usang memang seharusnya dipertanyakan lalu ditantang dan diubah menjadi bentuk baru yang lebih remaja. Nah, bagaimana gagasan visioner dapat diubah menjadi model bisnis yang menantang kemapanan, disajikan langkah-langkahnya dalam buku ini. Langkahnya dikemas secara sederhana dan praktikal. 



5 Bagian Penting : Kanvas, Pola, Desain, Strategi, Proses 

Buku ini terdiri dari lima bagian yang masing-masing dibahas praktiknya.  Bagian pertama membahas Kanvas Model Bisnis, yaitu sebuah alat bantu untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan merancang model bisnis.  Bagian kedua membahas tentang Pola Model Bisnis berdasarkan konsep-konsep para pemikir bisnis terkemuka.  Di bagian ketiga, dibahas tentang Desain, yaitu teknik-teknik yang dapat dipilih atau dipadupadankan untuk merancang sebuah model bisnis yang baru. 

Bagian keempat buku ini kemudian membahas tentang Strategi, yang menerjemahkan kembali hasil desain melalui lensa model bisnis. Di bagian kelima, dibahas tentang Proses generik untuk membantu kita dalam merancang model bisnis inovatif, menyatukan semua konsep, teknik-teknik, dan alat bantu dalam Business Model Generation.   Di bagian akhir buku ini, ada sebuah ulasan yang memberikan pandangan atas kelima bagian tersebut untuk eksplorasi masa depan dan titik puncak proses penyusunan Busines Model Generation.  

Hal mendasar yang ditekankan dalam buku ini adalah bahwa sebuah model bisnis menggambarkan dasar pemikiran tentang bagaimana organisasi dapat menciptakan, memberikan, dan menangkap nilai.  Ini diwujudkan melalui sembilan blok bangunan dalam sebuah kanvas model bisnis.  Kesembilan blok bangunan itu adalah Segmen Pelanggan, Proposisi Nilai, Saluran Bisnis, Hubungan dengan Pelanggan, Arus Pendapatan, Sumber Daya Utama, Aktivitas Kunci, Kemitraan Utama, dan Strukitur Biaya.  

Kesembilan blok itulah yang kemudian diorganisasikan melalui pola dan desain serta strategi untuk membentuk sebuah model bisnis yang dibutuhkan.  Pola-pola yang diuraikan dalam buku ini membantu kita dalam memahami dinamika model bisnis dan menjadi sumber inspirasi segar.  Buku ini mendefinisikan dan menggambarkan pola model bisnis dengan tujuan menuang kembali konsep bisnis yang sudah dikenal baik dalam sebuah format standar, yaitu Kanvas Model Bisnis, sehingga bermanfaat dalam pekerjaan seputar perancangan atau penemuan model bisnis.  



Pola-pola yang muncul dan dibahas di buku ini adalah Unbundling, Long Tail, Multi-Sided Platform, Gratis sebagai Model Bisnis, dan Model Bisnis Terbuka.  Pola-pola baru berdasarkan konsep bisnis lain tentunya dapat muncul setiap saat. Pola yang muncul sesungguhnya bukan sama sekali baru.  Keunikannya ada pada kemampuan pebisnis menangkap nilai yang belum tersalurkan kepada pelanggan.  Kemudian, menuangkannya dalam sembilan blok untuk memunculkan pola adaptasi. Inilah cikal bakal pola yang baru. 

Pada bagian Desain, buku ini menekankan pentingnya pemahaman desain bagi pebisnis.  Pebisnis tidak hanya perlu memahami desainer dengan lebih baik, mereka juga perlu menjadi desainer.  Begitu kata Roger Martin, Dekan pada Rotman School of Management sebagaimana dilansir dalam buku ini.  

Tanpa disadari, seorang pebisnis mempraktikkan desain setiap hari.  Pebisnis berpraktik mendesain organisasi, strategi, model bisnis, proses, dan proyek.  Untuk dapat melakukan semua itu, pebisnis harus mempertimbangkan serangkaian faktor yang kompleks seperti pesaing, teknologi, lingkungan legal, dan lainnya.  Juga, melakukannya di wilayah yang tidak biasa bahkan belum terpetakan.  Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan desain.  Satu hal yang belum dimiliki pebisnis adalah alat bantu desain yang melengkapi keterampilan bisnisnya.  Alat bantu yang dimaksud dijabarkan dalam buku ini.  

Di bagian Strategi, buku ini menjabarkan empat strategi yang dapat dilakukan.  Mulai dari strategi pada lingkungan model bisnis, evaluasi model bisnis, perspektif model bisnis dengan strategi Blue Ocean, hingga mengelola beberapa model bisnis dalam satu perusahaan. Mengembangkan pemahaman yang baik tentang limngkungan model bisnis organisasi membantu mendapatkan model bisnis yang lebih kuat dan kompetitif.  Dan ibarat mengunjungi dokter untuk pemeriksaan rutin tahunan, evaluasi model bisnis secara reguler merupakan aktivitas penting dalam manajemen.  Ini memungkinkan organisasi untuk mengevaluasi keadaan posisi pasarnya dan kemudian menyesuaikannya.  




Elaborasi Lebih Lanjut 

Di bagian akhir buku ini, disampaikan usulan lima topik yang selayaknya ditulis dalam buku berikutnya. Topik pertama yang diusulkan yaitu mempelajari model bisnis lebih dari sekedar keuntungan, bagaimana Kanvas Model Bisnis dapat memacu inovasi model bisnis di sektor publik dan nirlaba.  

Topik kedua, membahas bagaimana desain model bisnis berbasis komputer dapat mengungkit pendekatan berbasis kertas dan memungkinkan manipulasi yang kompleks dari semua elemen model bisnis.  Topik ketiga yaitu membahas tentang hubungan antara model bisnis dan rencana bisnis. Topik keempat yaitu mengatasi isu-isu yang muncul ketika menerapkan model bisnis baik pada organisasi baru maupun yang sedang berjalan. 

Topik terakhir adalah mempelajari bagaimana mencapai model bisnis dan menyelaraskan Teknologi Informasi dengan lebih baik.  Kelima topik tersebut muncul dari elaborasi para praktisi penyusun buku ini ketika memunculkan Kanvas, Pola, Desain, Strategi, Proses dari Model Bisnis.  

Membaca dan menelusuri panduan sistematis dalam buku ini akan membuat pembaca menjadi paham bagaimana secara riil membumikan visi.  Secara menyeluruh, buku ini memberikan pembaca alat bantu yang efektif, sederhana, dan teruji untuk memahami, merancang, memperbaiki, dan menerapkan model-model bisnis.  Jadi, sudah waktunya tinggalkan cara berpikir lama dan lanjutkan dengan merenovasi model bisnis yang ada. Bukan tidak mungkin, Anda mampu membuat model bisnis baru dengan panduan buku ini. Coba yuk.... (Opi) 


INFORMASI BUKU 

Judul                : Business Model Generation 
Penulis            : Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur 
Produksi          : Patrick van der Pijl
Desain : Alan Smith, The Movement 
Penerbit          : PT Elex Media Komputindo , cetakan ke 11 November 2017 
Jumlah halaman : 276 halaman
Dimensi                :  24 x 19 x 1,5 cm 
Harga                   : Rp 274.300,- (edisi terjemahan Bahasa Indonesia)
Dibuat secara kokreasi oleh 470 praktisi dari 45 negara
Editor dan Penulis Pendamping yang berkontribusi      :Tim Clark 



Behind The Scene: 

Kenapa saya baca buku ini? Baiklah, ini ceritanya agak sedikit memalukan. Tapi cukup memberi pelajaran buat saya, bahwa hemat cenderung pelit kadang ada gunanya.  Awalnya seperti biasa, cuma sedang memuaskan rasa ingin tahu.  Ceritanya sedang kepikiran bagaimana founder Gojek dan Grab bisa menemukan model bisnis yang beda tapi mampu menjawab kebutuhan banyak orang.  Memang model bisnis itu ada apa saja sih, dan bagaimana model bisnis itu berkembang?  Sempat terpikir juga, kalau saya mau bisnis kira-kira model bisnisnya yang seperti apa ya. Mampirlah pulang kerja ke toko buku, lihat-lihat buku di bagian bisnis. 

Mata saya langsung tertuju ke buku Business Model Generation ini.  Selain karena desain bukunya bersih dan ukurannya yang agak beda dengan kebanyakan buku, saya kepincut sama tebal kertasnya. Perasaan saya mengatakan buku ini pasti istimewa dan mahal.  Benar.  Begitu buka-buka daftar isinya yang simpel dan langsung sasaran, lalu lihat harganya, niat mau beli langsung surut. Ha Ha Ha.  Dengan uang nyaris 280 ribu rupiah saya langsung bisa menghitung bisa buat beli beberapa buku untuk sekeluarga.  Masa cuma dapat satu buku ini ? Gak jadi beli ah.  Pelit atau hemat sih saya ketika itu?  **Jreng jreeeeng…….

Benar lho, saya ngga jadi beli.  Tapi saya jongkok lama juga di counter buku itu untuk mencuri tahu isinya.  Skimming level dewa. Hihihi. Gak mau rugi banget ya.  Perlu banget mau baca, tapi gak mau beli. Akhirnya saking lamanya dan ngga enak hati sama penjaga toko, pulanglah saya dan malah beli beberapa buku buat anak-anak saya. 

Beberapa pekan kemudian, salah satu rekan kerja di Corporate University menghubungi saya.  Beliau minta tolong saya untuk jadi narasumber di Bedah Literatur Bisnis.  Dan buku yang akan dibedah adalah Business Model Generation, jreng jreng jreng ….. Buku yang udah memincut hati saya duluan.  Rekan saya mengirimi buku tersebut untuk saya baca dan dipresentasikan dalam Bedah Literatur Bisnis.  Langsung saja saya MAU!  Dasar yaaaaa memang rejeki…. Kesampaian lah baca buku yang diidamkan dan juga kesempatan sharing sama rekan-rekan kerja juga.  Selesai kegiatan, saya berniat mengembalikan buku tersebut kepada rekan kerja saya.  Lagi-lagi keberuntungan sedang berpihak pada saya, ternyata buku tersebut tidak perlu dikembalikan dan diberikan kepada saya, gratis!  Olala…. Seneng dong! Alhamdulillah …. 

------------------------------****----------------------------




Blogging: Self Healing Pembuka Pintu Pembelajaran


“Blogging itu bukan hanya menulis. Kemampuan konseptual, berpikir sistematis, komunikasi, kreativitas, networking dan kolaborasi adalah paduan di dalamnya. Itu sebabnya blogging bisa dipilih sebagai jalan untuk melejitkan potensi diri yang berujung pada produktivitas dan kemaslahatan.  **Opi – 2018 in the middle of continuing learning.

Hobi menulis menuntun saya terjun ke dunia blogging. Aktivitas blogging dimulai tahun 2003, ketika masih berprofesi sebagai jurnalis cetak. Blog gratisan dengan platform blogspot saya fungsikan sebagai wahana menulis ide pemikiran dan opini yang sifatnya lebih personal di luar pekerjaan jurnalistik. Murni untuk menyalurkan hobi menulis. 

Kala itu, saya tidak peduli apakah tulisan di blog dibaca orang atau tidak, bermanfaat bagi orang lain atau tidak. Karena, fungsi blog saat itu hanya menggantikan buku diary yang digunakan sebelum maraknya internet.  Intinya, memang bukan untuk konsumsi publik. Tulisan yang dibaca orang cukuplah tulisan saya yang muncul di koran setiap hari.  Yang di blog?  Tidak pernah berharap dibaca orang!  

14 tahun sudah saya meninggalkan pekerjaan jurnalistik, namun disadari bahwa menulis adalah panggilan jiwa bagi diri. Melalui aktivitas blogging, ini tersalurkan. Sejatinya ada tiga hal positif yang saya rasakan dari ngeblog sehingga ingin tetap melakukannya entah sampai kapan. Lebih dari sekedar menyalurkan hobi menulis. Apa saja itu? Ini dia: 

1. Self Healing 



Ngeblog merupakan self healing yang jitu buat mantan jurnalis seperti saya. Penghiburan yang positif. Ngeblog mengobati kerinduan akan masa dimana tulisan saya dibaca orang setiap koran terbit pagi hari! Saya jadi terpacu untuk kreatif menghasilkan tulisan yang layak dibaca orang di blog. 

Kalau dulu saya harus membuat tulisan yang sejalan dengan pakem media tempat bekerja, sekarang saya bebas menulis di blog sesuai minat.  Apapun.  Kalau sedang senang mengamati perkembangan anak, ya menulislah tentang itu.  Kalau  sedang belajar ilmu baru, ditulis-lah tentang implementasinya.  

Itu yang menyadarkan saya bahwa ngeblog akan menuntun pada satu jalur menulis yang positif.  Saya pelan-pelan belajar di mana bidang keahlian yang akan menjadi nafas dari sebagian besar tulisan yang dipublikasi. Seorang dokter bisa saja menulis blog kesehatan yang sangat kredible karena bidang kelimuan itu dikuasainya dengan baik. Seorang ibu rumah tangga bisa menulis hal-hal bermanfaat tentang parenting versi dirinya.  Semua bisa, asalkan mau.  Saya memilih untuk menjadikan nafas pembelajaran perempuan dalam setiap tulisan di blog.  Konsepnya, catatan pembelajar untuk melejitkan potensi diri melalui proses pembelajaran sepanjang hayat.  

Buat saya, ngeblog jadi obat penyembuh ketika hati sedang keruh karena rumitnya masalah kantor.  Kalau sudah begitu, saya akan menarik nafas panjang dan duduk di depan laptop untuk menulis.  Menggali ide untuk tulisan blog.  Berusaha mengubah energi negatif dari semua permasalahan yang dialami untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. 

Seringnya, ini jadi obat yang manjur.  Walau tidak semua tulisan akan diposting di blog, beberapa kadang tersimpan untuk sekian waktu karena mengandung muatan emosi cukup parah.  Beberapa waktu kemudian, dengan sentuhan editing, bisa jadi tulisan yang layak dipublikasi.  

Misalnya saja ketika saya merasa jenuh di kantor dengan pekerjaan yang monoton, justru menjadi momen untuk menggali passion dan potensi diri. Ujungnya, bisa jadi satu tulisan yang bermanfaat sebagai panduan menemukan passion, bisa dibaca di sini: 4 Kunci Temukan Passion Dalam Hidupmu


2. Menjalani Ranah Produktif dengan Bahagia 



Ngeblog membuat saya yakin untuk menjalani ranah produktif versi sendiri dengan bahagia paripurna.  Iya.  Produktif versi saya adalah menghasilkan sesuatu secara sinambung dan membawa manfaat bagi utamanya keluarga lebih dulu lalu masyarakat. Melalui tes sidik jari di STIFIN Institut saya terdentifikasi sebagai seorang “Intuting Introvert”.  

“Intuiting Introvert” adalah sang penggemar ilmu.  Maka jalan sukses mulianya kalau berbagai ajang ilmu digelutinya. Pencapaiannya melalui menulis buku, atau karya lain yang menuangkan ide. Chemisty atau keinginan terbesarnya adalah kata. Inginnya dihargai ide-idenya sehingga bisa diikuti oleh banyak orang.

Bergerak dari hasil tes psikologi tersebut, saya jadi yakin bahwa kemampuan verbal adalah potensi terbaik. Tertuanglah dengan ngeblog.  Menulis di blog menjadi jalan yang tepat untuk menjadi produktif dengan bahagia karena sesuai dengan potensi dan passion saya.  Kesukaan belajar lalu berbagi, jadi modal untuk nulis.  Kegemaran mengamati dan menuangkannya dalam bentuk versi sendiri, juga jadi bahan tulisan.  Selama ini suami dan keluarga sudah menilai produktivitas saya dari pekerjaan kantor.  Saya bekerja dan menerima gaji. Tetapi sebagai manusia yang bisa dilanda jenuh, ngeblog bisa menyeimbangkan produktivitas di ranah domestik dan publik sambil terus bermimpi serta mewujudkannya pelan-pelan. 

Menulis buku merupakan salah satu mimpi pencapaian yang ingin saya raih. Menerbitkan buku solo yang bermanfaat untuk orang banyak masih jadi mimpi.  Tapi, saya berusaha mewujudkan mimpi itu pelan-pelan.  Caranya, dengan menulis di blog. Saya percaya tahapan ini harus dijalani dengan mantap sehingga bisa menulis buku solo!



3. Membuka Beragam Pintu Peluang Pembelajaran 



Ngeblog ternyata membuka peluang akan hal tak terduga dan tak terpikirkan sebelumnya. Penghasilan tambahan, bertemu dan terimbas dengan orang-orang inspiratif penuh semangat hidup, hanyalah beberapa diantaranya. Itu belum termasuk kesempatan luas untuk belajar lebih banyak hal menakjubkan langsung dari ahlinya! Bagi “Intuiting Introvert” seperti saya, semuanya bagai menemukan harta karun!

Blogging itu bukan melulu soal menulis. Kemampuan konseptual, berpikir sistematis, komunikasi, kreativitas, networking dan kolaborasi adalah paduan di dalamnya. Itu sebabnya blogging bisa dipilih sebagai jalan untuk melejitkan potensi diri yang berujung pada produktivitas dan kemaslahatan.  Nyatanya, ngeblog menuntun saya membuka pintu-pintu peluang baru, termasuk pembelajaran.



Ngeblog membuka jalan saya untuk belajar beragam hal baru.  Mulai dari teknis blog, teknik menulis, fotografi, hingga berjejaring dalam komunitas.  Berkomunitas bukan semata untuk job atau uang saja, tapi lebih ke networking.  Kalau sekedar dapat uang dari job, sifatnya hanya transaksional. Bagi saya, relasional jangka panjang lebih penting.  Membangun jaringan dan menjaga kredibilitas diri sebagai penulis blog, adalah modal untuk survive dalam banyak peluang di era mendatang yang kita tidak tahu akan seperti apa!

Setidaknya tiga sebab itulah yang membuat saya menjalani aktivitas menulis blog dengan bahagia. Walaupun, dari segi pencapaian  DA/PA dan PV masih apalah apalah. Belum ada apa-apanya! Sungguh deh!

Yang jelas, sebagai blogger saya berprinsip untuk menulis hal-hal yang dikuasai dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Itu sebabnya, perlu seleksi ketat apakah event blogger yang diikuti betul-betul sesuai dengan niche blog.  Pandai-pandai belajar membedakan mana yang cuma keinginan penulis dan mana yang kebutuhan pembaca.  

Semua ini Insha Allah dapat saya kembangkan sebagai modal untuk menjadi penulis buku yang berkualitas. Iya dong! Salam semangat!! (Opi) 

Back to Top