Selasa, Mei 07, 2019

5 Tips Agar Keuangan Tak Babak Belur di Bulan Ramadan


Babak belur, macam habis berkelahi saja. Olala.  Berkelahi dengan nafsu belanja? He he he.  

Kondisi babak belur nyaris dialami para ibu sebagai Manager Keuangan Keluarga setiap Ramadan-Syawal menjelang hingga berakhir! Hayooo, bener ngga?.... Yang babak belur bukan badannya, tapi kondisi keuangan keluarga. Saking banyaknya pengeluaran yang tidak sebanding dengan pemasukan yang ada.  Walhasil, boncos deh mak! Babak belur dan tiba-tiba saldo minimal. Waduh!  

Fenomena ini menjadi topik hangat yang dibahas dalam Talk Show  “Anti Boncos di Bulan Ramadan” pada Kamis, 2 Mei 2019 lalu di Co Hive Plaza Kuningan Jakarta.  Saya berkesempatan menghadirinya atas undangan dari Komunitas Blogger “The Urban Mama Bloggers”.  



Dikemas apik, sebagai ibu jadi tergugah nih untuk lebih terencana dan disiplin mengelola keuangan keluarga di season khusus Ramadan-Syawal.  Soalnya, banyak tantangannya. Termasuk di tengah badai promo toko toko ya mak….

Narasumber talkshow berfaedah ini adalah Ligwina Hananto (Financial Trainer & CEO PT. Quantum Magna Financial, Adinda Proehoeman (Perwakilan Marketing Giant dan Hero), Andin Citra (Marketing & Media Specialist IKEA), dan  Erin Arifin  (Head of Marketing Guardian).  

Ciamik banget kan Mba Ligwina hadir memberikan sharing perencanaan keuangan di tengah promo belanja retail dari Hero, Giant, Ikea, dan Guardian.  



Direktur PT Hero Supermarket Tbk., Hadrianus Wahyu Trikusumo juga hadir menyapa para The Urban Mama Bloggers yang antusias mengikuti talkshow.  Antusias karena mau tahu promo juga lho!  Tetep yah!

Kenapa sih musti babak belur setiap bulan puasa?  Mustinya kan kita bahagia ya bisa menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dan bersuka ria di Idul Fitri bersama keluarga tercinta. Yang merantau bisa pulang kampung, mudik cuy! Yang terpencar bisa berkumpul.  Senang banget kan….. 



Namun, kebahagiaan itu ternodai akibat kita kurang peduli mengantisipasi dan jujur pada diri sendiri tentang kemampuan keuangan keluarga. Babak belur lah jadinya. Ini nih faktor yang sering menjadi penyebab utama pengeluaran di bulan Ramadan bikin babak belur alias boncos, menurut Ligwina Haryanto: 

1. Hasrat memberikan yang terbaik untuk keluarga, tak seiring dengan kontrol diri.


Sebagai ibu yang sangat mencintai keluarga, selalu ingin memberikan yang terbaik bagi keluarganya.  Apalagi di bulan Ramadan. Ibu mana sih yang tidak semangat menyediakan hidangan berbuka terbaik bagi keluarganya?... Iya sih.  

Saya aja nih, yang ngga pinter-pinter amat masak, tetiba jadi beda di bulan puasa.  Setiap hari pasti tanya ke anak, “Mas, Ade, nanti mau menu buka puasa apa nih?”  Padahal anak-anaknya cuek aja sambil jawab, “Kurma aja cukup Bu,” jawab si Sulung yang emang karakternya sahaja banget.  Adiknya paling jawab, “Apa aja deh yang enak, Bu,”  seolah percaya seribu persen ibunya bakal menyediakan makanan terenak sedunia. 

Hasrat untuk menyediakan makanan terbaik bagi keluarga ini nih, yang jadi cikal bakal pemborosan jika tak terkontrol dengan baik. Biaya rutin untuk belanja dapur yang biasanya mengcover tiga kali makan dalam sehari, justru melonjak ketika bulan Ramadan padahal cuma makan dua kali sehari. Kok bisa?  

Ya karena segala rupa mau dibeli. Rasanya semua makanan harus ada di atas meja saat berbuka puasa. Nah, gimana ngga babak belur nih? Kontrol dirinya ngga berfungsi, mak!



Bagi para Ibu pekerja, mustinya bisa lebih mengurangi pengeluaran makan siang di kantor karena ngga perlu ada acara makan siang selama Ramadan.  Mustinya sih,  biaya rutin bisa turun selama Ramadan.  Tapi sebaliknya biaya untuk belanja di rumah justru berlipat ganda dan tidak sebanding dengan penurunan itu.  Tetep ya mak, boncos. 

2. Badai Bukber 


Di bulan Ramadan, ngga bisa dipungkiri lagi yang namanya tradisi Buka Puasa Bersama alias Bukber jadi marak.  Mulai Bukber teman SD, SMP, SMA, kuliah, temen kantor, klien, komunitas, dan lain lain.  Seabrek deh pokoknya.  Yang namanya Bukber gini ngga mungkin di tempat yang biasa-biasa aja.  Minimal di restoran atau food court mall.  

Jadilah setiap Bukber harus alokasikan dana lebih untuk makan mahal. Lebih sering bukber, lebih besar lagi alokasi dana pengeluaran.  Walhasil, boncos deh.  

3. Semangat berbagi terlewat batas, lupa kontrol deh.


Tak disangkal lagi semangat berbagi untuk bersedekah dan berinfaq di bulan Ramadan itu sungguh mulia.  Berbagi apapun, mulai dari makanan sampai uang.  Bukan muslim saja bahkan yang non muslim juga ikut partisipasi menolong sesama.  

Memang ada petuah dalam ajaran Islam bahwa berbagi harta tidak akan membuat kita menjadi miskin, malah akan melipatgandakan rezeki.  Iya betul, karena yang dimaksud rezeki bukan uang belaka.  Rezeki bisa berupa silaturaim yang terjalin erat, kawan yang perhatian, keluarga yang sehat dan rukun, serta kemudahan dan kelapangan dalam aktivitas hidup.  



Berbagi harta benda banyak-banyak dengan tujuan amal Ramadan tanpa mengontrol berapa pemasukan dan berapa kebutuhan hidup yang lainnya, membuat keuangan jadi babak belur.  Boleh-boleh saja berbagi, tetapi tetap realistis dengan kebutuhan pengeluaran yang tidak mungkin meminta bantuan orang lain begitu saja bukan?  Akan kedengaran aneh jika menyumbang dhuafa sekian banyak, tetapi uang bayaran sekolah anak-anak nunggak 3 bulan. Nah… gimana tuh 

Ketiga sebab utama itu, sebetulnya bisa diwaspadai.  Toh Ramadan-Syawal datang setiap tahun.  Masa sih mau kalah set terus dan babak belur setiap tahun?. 

Bagaimana caranya supaya keuangan tak babak belur di bulan Ramadan?  Ini lima tips yang ampuh buat para ibu agar anti boncos di bulan Ramadan, hasil resume saya setelah menghadiri talkshownya.  Tipsnya adalah : 

1. Perencanaan Keuangan Anti Baper 
2. Tertib Keuangan Bulanan dan Tahunan
3. Manfaatkan Promo Toko Berbasis Kebutuhan 
4. Subsidi Silang Pos-Pos Pengeluaran 
5. Cerdas dengan Magical Shopping Account

Yuk kita bahas astu persatu ya:

1. Perencanaan Keuangan Anti Baper 


Perencanaan yang baik itu dasar yang vital lho.  Apapun kalau ngga ada perencanaannya, pasti ngga fokus dan byaaaaar. Tanpa arah. Begitu pula jelang Ramadan, minimal sebagai Ibu kita sudah merencanakan poin-poin utama pengeluaran serta sumber pemasukannya.  

Perencanaan yang bagus itu yang berbasis kebutuhan, bukan keinginan.  Cek ulang kebutuhan di bulan Ramadan nanti apa saja, kebutuhan mana saja yang harus dipenuhi lebih dulu,  mana yang bisa dieliminasi.  Mana yang budgetnya bakal up, mana yang perlu disunat. 



Anti baper itu wajib lho mak dalam menyusun perencanaan.  Kalau memang ngga perlu bukber sampai 5 kali, ya terus kenapa?  Jujur aja.  Kalau memang perlu beli baju koko putih untuk anak-anak sebagai dress code sekolah saat Ramadan, sementara baju putih mereka sudah kekecilan, ya sok atuh dibeli bajunya.  Itu kan kebutuhan. 

Kalau memang ngga perlu mudik tiap tahun karena ongkosnya bisa 3 kali lipat gaji bulanan sementara THR hanya satu bulan gaji, trus mau maksain diri?...  Mudiknya bisa diatur di luar Ramadan-Idul Fitri supaya biayanya masih terjangkau dan ngga perlu hutang sana sini.  Jujur saja dan ngga perlu baper dengan orang lain yang bisa mudik tiap tahun pas jelang Idul Fitri.  

2. Tertib Keuangan Bulanan dan Tahunan


Penting banget untuk membedakan pengeluaran bulanan dan tahunan, karena sumber pemasukannya beda.  Pengeluaran selama Ramadan harusnya diambil dari pemasukan bulanan (gaji/pendapatan yang diterima di bulan tersebut).  Sementara untuk keperluan Idul Fitri, diambil dari Tunjangan Hari Raya (THR) sebagai pemasukan tahunan.  

Sayangnya, kita sering ngga tertib. THR yang diterima di pertengahan Ramadan justru digunakan untuk kebutuhan rutin di sisa hari bulan Ramadan juga. Ini karena pengeluaran terlalu boros sehingga menggunakan sumber pemasukan lain.  Walhasil, THR yang harusnya bisa disisihkan 20% untuk ditabung/investasi/berqurban di Idul Adha, sudah keburu habis tak bersisa. 

Terus, bagaimana bagi yang tidak punya THR? Ya ini, PR bagi diri sendiri untuk menyiapkan THR bagi diri sendiri. 

Jadi, harus berani tertib menggunakan sumber pemasukan bulanan dan tahunan. Jika pemasukan bulanan tidak bertambah, jangan menambah pengeluaran baru di bulan yang sama.  Intinya, jangan menambah pengeluaran Ramadan dengan beli-beli barang yang sebetulnya belum dibutuhkan.  Mentang-mentang banyak promo, dibeli semua.  Wah ini.  

Gimana caranya supaya tertib? Sekali lagi balik ke tips pertama: perencanaan.  Buat perencanaan dan patuhi.  Ini caranya latihan tertib. Landasan untuk tertib adalah menjalankan perencanaan yang dibuat sendiri. Apa gunanya buat perencanaan kalau tidak dijalankan?


3. Manfaatkan Promo Toko Berbasis Kebutuhan 


Bulan Ramadan sudah pasti akan banyak promo toko bertebaran di online maupun offline.  Sebetulnya ini bisa jadi  anugerah sekaligus musibah.  Anugerah apabila kita gunakan kesempatan ini untuk memenuhi kebutuhan. Musibah kalau kita ngga punya kontrol diri yang cukup sehingga semua barang promo dibeli, ngga peduli butuh atau cuma ingin.  

Daaaan…. Ternyata menjelang serta selama Ramadan promo toko itu badai banget mak.  Ini dia diantaranya:

PROMO Hero Supermarket  (spesialis kualitas)
Mengusung program Pasar Ramadan 30 days of discovery, yaitu program promosi dengan minimum pembelanjaan Rp 300.000 berhak untuk melakukan pembelian produk yang sudah ditentukan dengan harga spesial. Selain itu terdapat program promosi Tematik 30 Days of Discovery selama periode Ramadan yaitu dari tanggal 29 April – 6 Juni 2019 dengan menghadirkan ribuan produk berkualitas dengan merek terbaik. Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap silahkan kunjungi website www.herosupermarket.id 


PROMO Giant (spesialis murah)
Menawarkan ribuan produk dengan harga terjangkau melalui program Belanja Murah Bulan Berkah, serta Pasar Ramadan Berlimpah Berkah dan Santap Segera Saat Berbuka.   Giant menghadirkan menu-menu baru dari kategori makanan siap saji dengan sajian yang menggugah selera dan harga yang murah. Untuk informasi lebih lengkap silahkan kunjungi website www.giant.co.id

PROMO Guardian 
Guardian menghadirkan berbagai inspirasi menarik melalui program Fit & Cantik untuk menjaga tubuh tetap sehat dan merawat kecantikan selama Ramadan.  Ratusan produk ditawarkan dengan diskon spesial sampai 30%.  Juga ada berbagai tips untuk menjaga tubuh tetap fit & cantik selama bulan puasa. Promo akan berlangsung pada periode 25 April – 22 Mei 2019. Selain itu ada juga promo +1000, yaitu pelanggan cukup menambahkan Rp 1000 dan mendapatkan produk kedua secara gratis.  Ini berlaku untuk ratusan produk favorit. Info dan penawaran lengkapnya, ikuti Instagram: @guardian_id. 



PROMO IKEA 
Untuk menyempurnakan perabot rumah tangga di bulan Ramadan, IKEA memberikan penawaran terbatas untuk pembelian wajan IDENTISK dari harga Rp 499.000 turun harga menjadi Rp 399.200.  Promo ini berlangsung dari tanggal 26 April-5 Mei 2019. Tidak hanya itu saja, ada Gift voucher IKEA senilai Rp 1.500.000 untuk setiap pembelian METOD Kitchen dengan minimum pembelian Rp 15 juta dan kelipatan Rp 5 juta selama periode 25 April – 26 Mei 2019.  Penawaran menarik lainnya selama bulan Ramadan selalu di update melalui website www.IKEA.co.id



Waduh, badai banget kan ya promo-promonya.  Nah, ibu bijak langsung cek perencanaan kebutuhan yang sudah dibuat dan langsung cek ke sekian banyak promo tersebut , mana yang dapat dimanfaatkan.  Itu baru namanya cerdas dan bijak. 

4. Subsidi Silang Pos-Pos Pengeluaran 


Tips cerdas lainnya adalah melakukan subsidi silang antar pos pengeluaran di bulan Ramadan.  Di bulan Ramadan, ada pos pengeluaran yang jumlahnya menurun ada pula yang naik. Pos yang jumlahnya naik kita biayai dari selisih dari pengeluaran pada pos yang jumlahnya turun.  

Misalnya saja, pengeluaran untuk makan siang selama Ramadan dialihkan untuk beramal/berinfaq/bersedekah. Sedangkan pengeluaran untuk konsumsi/makan tidak perlu ditambah.  Kalaupun ditambah, mungkin sepersekian saja, sisanya untuk bersedekah.  

5. Cerdas dengan Magical Shopping Account


Tips dari Ligwina Hananto yang satu ini perlu sekali dipraktekkan.  Bagi perempuan yang hobi banget belanja dan menyadari hobinya ini tidak bisa dieliminasi, perlu menerapkan Magical Shopping Account.  

Jadi, buat account khusus untuk belanja, yang pemasukannya berasal dari auto debit rutin tiap bulan dari penghasilan bulanan.  Jumlah yang disetor tiap bulan ke rekening belanja ini misalnya lima raus ribu per bulan, atau sepersekian dari gaji, atau jumlah lainnya disesuaikan dengan kemampuan.  

“Shopping itu kalau dilarang pasti akan dilanggar, bagi yang hobinya memang shopping ya,” kata Ligwina.  Jadi, daripada dilanggar sekaligus saja dibuatkan accountnya.  Account ini bisa digunakan untuk kebutuhan belanja saat ada pengeluaran yang lebih di bulan Ramadan.  Jadi ngga bakal boncos lagi. 
Nah, kelima tips ini bisa langsung dipraktekkan lho. Mumpung baru awal Ramadan. 
Apalagi saya nih yang sudah terima surat dari sekolah anak-anak bahwa uang SPP Mei dan Juni wajib dibayarkan pada awal Mei karena libur akhir tahun pelajaran bersamaan dengan libur Idul Fitri.  Nah, musti pinter atur keuangan kan karena di awal Ramadan tiba-tiba pengeluaran jadi dobel.   (Loh kok curhat :))
Jangan sampai boncos ya mak….. Met puasa semuanya dan tetap semangat yaaaa…. (Opi) 


#RamadanAntiBoncos #herosupermarket #alwaysfresh #keGuardianyuk #Guardianangels #giantindonesia #gianthargamurahsetiaphari #ayokeIKEa  #TUMBloggersMeetUp 

** foto foto adalah koleksi The Urban Mama Bloggers dan koleksi pribadi.  

Tambahan info bernuansa iklan hehehe: 


Buat saya yang kudet, baru paham kalau IKEA satu group dengan Hero, Giant dan Guardian.  Nah siapa tahu ada yang belum ngeh juga dengan retail-retail ini, yuk deh.  Pantengin juga promo-promonya selama Ramadan yah… biar ngga boncos, pilih yang cermat ya mak!!

Hero Supermarket menawarkan pengalaman berbelanja yang berkualitas, menghadirkan pilihan produk yang beragam, keunggulan harga dan layanan pelanggan. Produk yang premium, produk lokal yang segar serta produk eksklusif dengan merek internasional menjadi keunggulan utama Hero Supermarket. 

Giant menawarkan berbagai macam produk dengan harga terjangkau. Giant memiliki tiga format yaitu Giant Ekstra, Giant Ekspres yang mengutamakan efisiensi serta kenyamanan berbelanja di berbagai lokasi strategis. 

Guardian menawarkan berbagai macam produk perawatan kesehatan, dan kecantikan serta produk personal care dengan tenaga spesialis yang akan membantu pelanggan dalam memberikan saran yang tepat dan pelayanan yang terbaik. 

IKEA menyediakan rangkaian lengkap produk perlengkapan rumah tangga yang terjangkau dan unik. Selain itu, IKEA berupaya untuk memperbaiki kehidupan sehari-hari konsumen dengan menggabungkan fungsi, kualitas, desain dan harga, didukung oleh komitmen yang kuat untuk keberlanjutan. IKEA mencanangkan misinya “untuk menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang”.



Senin, April 29, 2019

Perempuan Pekerja, Berproses dalam Produktivitas



“Bagiku, berproses itu seperti tahapan berjalan mendekat ke garis keseimbangan, agar tercipta harmoni yang utuh.  Aku perempuan pekerja, dan masih terus berproses dalam Trilogi: Belajar-Bekerja-Berkarya sepanjang nafas terhembuskan”

Mataku sudah berkunang-kunang sejak sepasang kaki ini melangkah masuk ke dalam gerbong khusus perempuan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuterline jurusan Jakarta Kota- Bogor yang penuh sesak. Rasanya kok seperti ada bintang-bintang yang berputar-putar di atas kepala, macam adegan di film kartun saja.  Lalu agak gelap sesaat, tiba-tiba kembali terang. Pandanganku mulai tidak fokus.  Tubuhku meliuk searah desakan kanan-kiri-depan-belakang dari penumpang kereta. Berhimpitan seperti ikan sarden dijejal dalam satu kaleng. Bernafas pun jadi sulit. Jam pulang kerja, memang selalu seperti ini kondisinya. Sudah biasa. 

Suasana pulang kerja dalam Commuterline yang mengantarku pulang kerja dari Stasiun Cawang ke Depok 

Sejak naik di Stasiun Cawang tadi, tubuhku sudah terasa tak karuan. Tiga hari terakhir ini, terpaksa baru bisa meninggalkan kantor selepas Isya.  Ada request pekerjaan yang harus selesai.  Paginya harus sudah tiba lagi di kantor sebelum pukul delapan. Terlambat satu detik saja, tunjangan operasionalku dipotong sesuai aturan.  Berdiri berdesakan di kereta saat jam berangkat-pulang kerja sudah jadi menu wajibku Senin sampai Jumat. 

Kehujanan tiga hari berturut-turut saat pulang kemalaman pun ternyata menyumbang penat yang dalam.  Tubuh serasa remuk redam.  Naluri seorang ibu agar segera tiba di rumah memeluk anak-anak adalah alasan terkuat untuk secepatnya meluncur pulang sore ini.  Mata yang berkunang-kunang dan tubuh meriang menemaniku di sepanjang perjalanan pulang. 

Gerbong Perempuan Commuterline 

Di tengah gerbong yang penuh sesak, kucoba berdiri tegak.  Bertahan.  Tidak ada harapan untuk diberi tempat duduk.  Biarlah, batinku.  Tiga puluh menit berdiri, dan aku akan sampai di Stasiun Depok, hiburku dalam hati sambil menahan sakit kepala.  

Beberapa detik sebelum kereta berhenti di stasiun tujuan, tubuhku melunglai. Belum sempat meraih pegangan, tubuh lemahku terlanjur merangsek di gerbong padat yang menyisakan teriakan kaget para penumpang. Sekilas aku masih sempat mendengar pekik nyaring seorang perempuan,” Tolong mba, kasih tempat duduk, ini ada yang mau pingsan!”  Kemudian gelap.  Aku tak ingat apa-apa lagi.



******


Setiap kali mengingat kejadian pingsan di kereta dalam perjalanan pulang kerja, aku nyengir kuda. Sampai segitunya kubela-belain kerja kantoran ya. He He he. Menempuh perjalanan Depok-Jakarta pp sejauh 23 km dengan moda transportasi kereta api nyambung ojek daring setiap hari.  Naik mobil? Olala…Bisa tua di jalan!

Perjuangan setiap hari dengan ratusan pekerja perempuan untuk transportasi pulang pergi bekerja
Aku pun siap bermantel kala musim hujan tiba, tapi tetap saja diserang masuk angin.  Siap pula gerah-garahan berdesakan di gerbong bagai ikan dipepes, setiap pagi dan petang. Pulang lebih malam jika ada pekerjaan yang tidak dapat ditunda, itu sudah biasa. Kedengarannya ya semua biasa.  Tapi menjalaninya selama 14 tahun lebih, bekerja di kantor yang sama tanpa kenaikan jabatan yang berarti, sejak masih lajang hingga beranak pinak, kadang membuat orang geleng kepala.  Kok aku bisa bertahan ya? Nyengir kuda lagi deh. Bisa dong!

Stasiun Depok 
Kuingat lagi peristiwa pingsan di kereta. Agak memalukan, iya sih.  Mengira diri masih kuat bertahan sampai Stasiun Depok, eeee tahunya malah pingsan tepat ketika kereta berhenti di stasiun tujuan. Waktu sadarkan diri, aku sudah dalam keadaan terbaring di ranjang darurat ruang kesehatan Stasiun Depok. Rupanya, saat pingsan tadi petugas KRL sigap menggotongku keluar dari kereta lalu membaringkanku di peron. Beberapa petugas lain datang membawa tandu. Serta merta aku ditandu ke ruang kesehatan.  

Seorang perempuan berpakaian putih menyapa ketika melihatku siuman.  Aku diberinya air hangat, lalu ditanya apa yang dirasa sakit.  “Tidak ada mba.  Cuma pusing sedikit,” jawabku.  Ia memeriksa tekanan darah dan memberiku biskuit.  Setelahnya aku dimintai informasi nama dan kejadian, serta kartu identitas diri.  

Stasiun Depok 

“Apakah ada keluarga Ibu yang dapat dihubungi untuk menjemput ke sini? Suami barangkali?” tanya mba petugas perawat. 

“Hmm, tidak ada mba.  Suami sedang dinas. Kayaknya, kuat kok pulang sendiri,” ujarku.  

Percaya atau tidak, aku berhasil selamat sampai di rumah naik ojek daring tanpa dijemput keluarga.  Plus, baru berkabar pada suami yang masih bertugas di luar negeri pada malam hari sebelum tidur.  Setelahnya, berbaringlah aku beristirahat ditemani baluran minyak kutus kutus dan empat helai koyok edisi “HOT” (bukan lagi yang cuma varian “HANGAT”) tersebar di kening, tengkuk, punggung, dan perut! Tentunya setelah beres menemani anak-anak menyiapkan pelajaran untuk esok hari, mengantar mereka ke alam mimpi, plus menenggak jamu tolak angin.  Sempurna. 

Berpacu dengan waktu 
Esoknya, dengan tubuh yang masih ditebari tempelan koyok, aku berangkat kerja. He he he.  Seringnya sih dengan bumbu drama pagi. Mulai dari si bungsu yang baru mau bangun pagi setelah dikuyel-kuyel manja oleh ibunya, si sulung yang tiba-tiba tertidur lagi setelah shalat Subuh, sampai tabung gas yang tiba-tiba terdeteksi habis tepat di saat mba asisten sedang mendadar telur untuk sarapan para bocah.  Hiyaaaaaaaa….!!!.  Ngeri-ngeri sedap, aku menikmatinya.  Mengatur mood agar tetap bagus di pagi hari adalah tugas perdana, demi kelancaran aktivitas sepanjang hari. 

Suasana dalam gerbong perempuan commuter line yang kunaiki setiap hari 
Kok bisa aku menjalaninya selama belasan tahun? Tahun 2019 ini masuk tahun ke 15, dan aku akan berulang tahun ke 42. Kalau ditanya, jabatanku apa di kantor?  Biarlah kujawab dengan senyum saja.  Aku lebih suka dikenal sebagai Ibu Opi, Ibunya Dio (10 tahun) dan Ningrum (7 tahun). Yang jelas, teman-teman seangkatanku rata-rata sudah menjadi kepala cabang di kantor wilayah, atau jika kembali ke kantor pusat mereka telah menduduki jabatan Manajemen Kunci. Bahkan, angkatan di bawahku sudah menjadi atasanku.  

Kondisi ini sudah kubayangkan akan kuhadapi sebagai konsekuensi pilihan. Aku bahkan sudah merancang cara untuk menghadapinya. Caraku adalah dengan menghidupkan Trilogi Belajar-Bekerja-Berkarya. Ini hasil perenunganku yang dalam dan berdialog dengan diriku sendiri.

Trilogi “Belajar-Bekerja-Berkarya” 


Jabatan dalam karier di kantor, penting ya?... Bagi sebagian besar perempuan pekerja, barangkali ya.  Tetapi buat aku, yang sudah meluruskan niat sejak awal untuk apa aku bekerja di kantor yang sekarang, rasanya memang bukan yang terpenting. Sebagai penganut setia kelompok perempuan mandiri ekonomi, kupilih tetap bekerja setelah menikah.  Pasanganku sepakat, dengan syarat memprioritaskan keluarga di atas segalanya. Prioritas inilah yang sering membuatku melewatkan berbagai kesempatan promosi ke luar daerah.  Aku secara sadar dan konsekuen memilihnya.  

Suamiku sering ditugaskan untuk jangka waktu tertentu di negara-negara wilayah Asia.  Aku istrinya memegang komitmen tetap bersama anak-anak dan bekerja di Jakarta selama beliau bertugas ke manapun.  Home base kami di Depok.  Konsekuensinya, selama 14 tahun lebih masa kerjaku di perusahaan ini, selalu kulewatkan kesempatan promosi ke kantor cabang. Sementara untuk promosi di kantor pusat Jakarta nyaris mustahil bagi yang tidak pernah menduduki jabatan di kantor cabang. Termasuk aku.

Aku dan rekan kerja di kantor 


Promosi ke kantor cabang artinya harus meninggalkan anak-anak untuk jangka waktu yang aku sendiri tak pernah tahu berapa lama. Sementara pasanganku bertugas di lain negara. Kupilih untuk tetap menjaga komitmen dengan pasangan. Pilihan yang kusadari akan berujung pada “karier jalan di tempat”.  Tapi, pilihan sepaket dengan konsekuensinya itu kuambil secara sadar, kujalani setegar lagunya Rossa.  Aku paham tak kan sanggup membayar hutang pengasuhan yang terlalu banyak pada anak-anakku, seandainya kutinggalkan mereka di usia balita hingga Sekolah Dasar untuk meraih jabatan yang semakin tinggi.  Hati kecilku bilang tidak.  

Satu alasan mengapa aku masih bertahan dalam kondisi “bekerja nyaris tanpa karier”, karena awalnya aku butuh kerja.  Suamiku mengalami pemutusan hubungan kerja ketika anak pertama kami berusia 2 tahun.  Selama enam bulan, beliau mengurus anak di rumah, sembari berusaha mencari pekerjaan baru yang sesuai.  Aku tetap berangkat ke kantor.  Selama enam bulan itu aku paham rasanya menjadi perempuan tulang punggung keluarga, yang semakin menguatkan empatiku kepada sesama perempuan pekerja di luar sana. Bersyukur, suamiku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik setelahnya. Allah Maha Baik.

Aku dan anggota Tim Komersial di kantor tempatku bekerja 
Setelah itu aku dapat mengukur, pendapatanku sejujurnya tidak bisa dibilang kecil amat, walau juga tidak dapat dikatakan melimpah.  Tetapi ini adalah suatu hal yang wajib disyukuri. Karenanya aku bertahan.  Omong kosong jika perempuan tak butuh uang. Perempuan juga butuh materi yang didapat dari jerih payah bekerja, bukan semata pemberian suami, tapi sekaligus selalu tertantang untuk membuktikan bahwa bekerja tidak membuat abai pada fitrah sebagai ibu dan istri, pendidik utama anak-anak.  Semua itu proses yang kujalani. 

Dari Founder Institut Ibu Profesional Septi Peni Wulandani, aku belajar bahwa sejatinya belajar, mendidik anak, dan bekerja bagi seorang perempuan adalah hal yang berjalan beriringan. Ada masa-masanya lebih fokus membersamai anak hingga baligh, ada masanya lebih mengaktualisasikan diri di ranah publik. Perempuan berkualitas hanya fokus pada hal-hal penting dalam hidup.  Mereka mengatur waktu dan memanfaatkan teknologi, bukan dibunuh waktu dan diperbudak teknologi. 

Aku dan anggota Tim Komersial di kantor tempatku bekerja 
Sambil ngantor, aku punya cara agar tetap waras walau tanpa kenaikan jenjang karier di kantor. Aku menyebutnya Trilogi Belajar-Bekerja-Berkarya, yang dilakukan secara paralel.  Ini upayaku supaya otak tetap waras, jiwa tetap bersyukur, rekening pun terisi. Bahagia.  Kalau ibu bahagia, anak-anak kena imbasnya. Itu peganganku, dan kupraktekkan.  

Hobi menulis kuasah baik-baik setelah menyadari passionku. Menulis pun bisa jadi bisnis.  Kurintis dengan mulai belajar ngeblog, bergabung dengan komunitas blogger, terima job nulis, ikut lomba blog, hingga ikut proyek menulis buku.  Dengan manajemen waktu dan dukungan keluarga, semua ternyata dapat kulakukan sambil tetap bekerja di kantor. Nyaris tanpa dampak negatif.  Allah Maha Baik.  Kini, mimpiku untuk bisa menjadi penulis buku sendiri sedang kurajut.  Trilogi Belajar-Bekerja-Berkarya membuatku terus bermimpi, bersyukur, dan bercita-cita pulang ke akhirat dalam husnul khotimah, meninggalkan jejak dan karya. 

Bekerja di manapun bagiku tidak boleh menjadi penghalang untuk terus menghidupkan passion 
Anak-anak pun terimbas positif dari kegiatanku. Tak perlu lagi menyuruh mereka untuk rajin baca buku. Serta merta mereka ikut nimbrung ketika ibunya sedang asyik baca buku!  Anak sulungku yang berusia 10 tahun mulai paham makna “jerih payah” setelah melihat ibunya berulang kali menang lomba menulis dan mendapat hadiah.  Ia menjadi saksi bagaimana aku susah payah belajar memotret untuk mendapatkan gambar yang pas mendukung hasil tulisan.  Juga melihat ibunya bangun malam atau begadang menyelesaikan tulisan lomba.  Lalu bersorak senang ketika ibunya ditaqdirkan menang lomba blog atau lomba nulis!!

Air mataku sempat menetes haru ketika anak sulungku ini berhasil menjual kartu-kartu mainan kepada teman-temannya.  Sejumlah uang hasil jualan dikumpulkannya.  Dia berkata,” Aku belum bisa menang lomba nulis dan dapat hadiah seperti Ibu.  Sementara baru bisa jual ini untuk dapat uang yang halal,” katanya.  Ibu luluh.  Sejujurnya, syukurku membuncah. 

Bersama si Sulung yang mulai meniru banyak hal dari apa yang kulakukan 

Berproses dalam Produktivitas Menuju Harmoni Utuh


Aku semakin yakin bahwa mendekat ke garis keseimbangan dengan cara yang kupilih sudah tepat.  Hanya, perlu penajaman Trilogi Belajar-Bekerja-Berkarya dalam proses untuk terus produktif.  Produktif artinya menghasilkan hal-hal bermanfaat dan bernilai untuk orang-orang yang dicintai, juga masyarakat. Tantangannya, ini mesti dilanjut terus selama nafas berhembus, di manapun aku bekerja, di manapun aku berkarya. Aku berani ambil tantangan itu, dan semakin yakin bahwa karier di kantor bukanlah hal terpenting.  Menghidupkan Trilogi Belajar-Bekerja-Berkarya itulah yang lebih penting, dengan atau tanpa jabatan.

Aku dan sahabat terbaik 
Aku perempuan pekerja, yang sedang berproses dalam produktivitas.  Tidak mudah bagiku untuk menyesuaikan diri dalam dinamika kerja, sambil tetap berpegang teguh bahwa prioritas utama adalah keluarga.  Di kantor, aku pernah punya atasan yang berusia lebih muda dariku.  Ada masanya aku harus menekan ego, belajar untuk tahu menempatkan diri, sambil terus upgrade kemampuan dan wawasan. Bagai pisau, aku tidak mau jadi tumpul!   

Aku perempuan biasa.  Bisa minder terhadap rekan seangkatan yang sudah menduduki jabatan penting di kantor.  Kadang baper, cuma gara-gara mereka sekarang makin susah diajak ngumpul sekedar makan siang bersama, tidak seperti dulu ketika masih sama-sama staf.  Pernah juga ada rasa tersingkir, ketika kegiatan kantor sering berbasis jabatan. Rasanya seperti dipisahkan dari teman-teman sendiri. Itulah dinamika nyata bagian dari konsekuensi pilihan.  Aku paham untuk bersikap dewasa, menerimanya sebagai bagian dari perjalananku berproses dalam produktivitas.

Aku bersama rekan kerja 
Dalam berproses, kadang langkahku tegap, sesekali melunglai, dan tak jarang hampir berbelok ke arah yang tak tentu. Ada galau, ada pula euforia. Seiring dengan itu, aku percaya proses yang kujalani adalah bagian dari skenario Allah Maha Baik.  Iman kepada Rabb semesta alam membuatku selalu ingat petuah: jika lelah menepilah beristirahat, bukan mundur menyerah.    Setiap langkah harus berarti dan menghasilkan sesuatu yang bernilai sekaligus bermanfaat bagi orang-orang yang dicintai, juga semesta alam. Produktif? Ya, harus.  



Aku perempuan pekerja, dan akan terus berproses.  Sejatinya proses tak akan mengkhianati hasil.  Semoga aku termasuk golongan perempuan bahagia yang berani memilih. Bukan pasrah karena tak punya pilihan. Sekali memilih, selamanya konsisten untuk konsekuen.  Perempuan pekerja, apapun bidang pekerjaannya, berhak untuk bahagia dan menikmati setiap proses mendekat ke garis keseimbangan agar tercipta harmoni yang utuh dalam produktivitas. Dengan penuh syukur.  (Opi).

Senin, Maret 18, 2019

Manajemen Risiko Mampu Menciptakan Nilai?


"Mengawinkan Manajemen Risiko dengan proses bisnis di Indonesia kini masih merupakan tantangan tersendiri. Para pakar dan praktisi kerap merasakan posisi manajemen risiko bagaikan “makhluk asing” yang terpisah dari proses organisasional lainnya. Nampaknya, selama proses integrasi manajemen risiko ke dalam rangkaian proses bisnis masih tersendat, selama itu pula tujuan manajemen risiko untuk menciptakan dan melindungi nilai semakin sulit dicapai."

Oleh karena itu, para leader dan praktisi  seharusnya memiliki kemampuan yang cukup dalam mengelola risiko. Memahami pedoman pengelolaan risiko, yang saat ini berbasis pada ISO 31000:2018 berikut updatenya, merupakan bagian penting.  Sama pentingnya dengan kepedulian dan kesadaran terhadap pengelolaan risiko. Untuk itulah buku Manajemen Risiko Berbasis ISO 31000:2018- Panduan untuk Risk Leaders dan Risk Practitioners hadir.  


Saya merasa perlu untuk mengulasnya dalam artikel #ulasanbuku  karena telah merasakan manfaat nyata dari buku ini.  Sebagai Risk Compliance Officer di Kantor Pusat sebuah BUMN, pekerjaan saya antara lain melakukan Risk Assessment sangat terbantu dengan panduan buku ini.   Ditulis oleh para begawan yang telah malang melintang di bidang Tata Kelola Perusahaan dan Manajemen Risiko berikut sertifikasinya, kualitas buku kuning ini tidak perlu diragukan lagi. 

Patut salut terhadap upaya para penulis buku yaitu Bapak Leo J Susilo dan Victor Riwu Kaho dalam menyajikan tutorial lengkap untuk para leaders dan praktisi di bidang Manajemen Risiko. Selain memberikan panduan, para penulis buku ini juga membuka cakrawala pembaca tentang realitas penerapan Manajemen Risiko di bisnis internasional, terutama perihal integrasi Manajemen Risiko ke dalam proses bisnis. 

Buku ini menggarisbawahi perihal manajemen risiko bertujuan untuk menciptakan dan melindungi nilai, membantu mencapai bahkan melampaui sasaran, dan meningkatkan kinerja organisasi.  Bila hal ini tidak terjadi pada organiasi yang telah menerapkan manajemen risiko, artinya ada yang salah dengan penerapan tersebut. 



Seperti kebanyakan yang terjadi, kemungkinan besar penyebabnya adalah belum terintegrasinya manajemen risiko ke dalam seluruh proses bisnis organisasi. Silo-silo atau kotak-kotak yang terpisah dalam bekerja membuat manajemen risiko hanya sekedar catatan tentang sederet daftar risiko yang belum tentu ditangani dengan benar. 

Dibagi menjadi 6 Bab, buku ini didahului oleh Prolog dan diakhiri oleh Epilog.  Prolog buku mengambil tajuk “Bila Manajemen Berisiko”.   Manajemen yang berisiko terjadi apabila jajaran manajemen tidak memahami apa yang dapat menyebabkan kegagalan dalam pencapaian sasaran organisasi, dan peluang apa yang dapat mempercepat melampaui sasaran. Kalau sudah begini, bagaimana manajemen dapat mengelola risiko dengan tepat? Ini sungguh menjadi “Manajemen Berisiko”.  

Prolog buku ini juga memaparkan peristiwa-peristiwa berisiko tinggi  yang pernah terjadi di dunia, serta mengambil pelajaran darinya.  Persiapan, perencanaan, dan pengelolaan yang baik adalah kunci. Jangan pernah menabung faktor risiko hingga mewujud jadi bencana. Apalagi merendahkan agenda politik sebagai penyebab risiko. Arogansi individu dan organisasi seringkali menjadi penyebab risiko yang lebih besar daripada yang pernah diduga.  


Isi utama buku ini adalah panduan melakukan manajemen risiko dalam organisasi berbasis ISO 31000. Bagi organisasi yang pernah menerapkan manajemen risiko dengan standar lain dan ingin beralih ke ISO 31000, disarankan untuk melakukan adaptasi dan penyesuaian seperlunya sehingga penerapan manajemen risiko dapat berlangsung dengan efisien, efektif, dan konsisten.  

Bab 1 hingga 6  membahas pemahaman risiko berikut ruang lingkupnya hingga prinsip-kerangka kerja-proses manajemen risiko berbasis ISO 31000:2018. Termasuk juga penjelasan atas perubahan-perubahan yang ada dibandingkan dengan ISO31000 versi tahun sebelumnya (2013).  



Pada bab-bab tersebut, disajikan apa saja lingkup penerapan Manajemen Risiko dan bagaimana cara memahami risiko.  Prinsip-Kerangka Kerja-Proses Manajemen Risiko diurai secara detil pada bab 4 sampai dengan 6.  

Khusus di bagian Epilog, sebuah bahasan tentang “Menciptakan Nilai” serta uraian Studi Kasus di POLARIS dan LEGO Group disajikan. Ini memberikan paparan bagaimana praktek manajemen risiko perusahaan kelas dunia mampu menciptakan dan melindungi nilai. Keduanya menjadi contoh nyata dalam integrasi manajemen risiko ke dalam proses bisnis sehingga mampu mencapai sasaran perusahaan. 

Menciptakan dan Melindungi Nilai 


Studi Kasus POLARIS 


Studi pada kasus ini menunjukkan bagaimana manajemen risiko diintegrasikan pada manajemen proyek.  Proyek Polaris adalah proyek kapal selam yang mampu melontarkan peluru kendali tanpa harus muncul ke permukaan laut.  Proyek ini muncul sebagai upaya Amerika Serikat (AS) untuk menyiapkan serangan balasan kepada Uni Sofyet (US) pasca peluncuran satelit Sputnik I dan II di tahun 1957.  

Mengapa AS berusaha melakukan serangan balasan dengan cara membuat kapal selam ini?  Selain karena merasa terhina, Pemerintah AS juga khawatir apabila US sudah mampu menempatkan satelit di angkasa, maka mereka dengan mudah mampu memantau tanpa hambatan seluruh lokasi strategis persenjataan AS. Ini sangat berbahaya bagi AS.  



AS memperkirakan bahwa dari aspek teknologi, US memerlukan waktu sekitar 5 tahun untuk menempatkan rudal nuklir di angkasa.  Jadi, AS memilki tenggat waktu relatif sempit untuk mengembangkan teknologi dari nol hingga Polaris berhasil dibuat.  

AS menerapkan Manajemen Risiko dalam seluruh tahapan mulai dari awal hingga akhir pelaksanaan Proyek Polaris ini.  Seluruhnya berbasis risiko.  Perencanaan disusun mulai dari metodologi, budget, schedule, hingga peta risikonya.  Identifikasi risiko dilakukan dengan review semua dokumen terkait proyek.  Analisi risiko dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif.  

Perlakukan risiko dalam proyek Polaris dibagi dua, yaitu perlakuan terhadap risiko positif dan perlakuan terhadap risiko negatif seuai dengan nilai EMV (Expected Monetary Value) yang diperoleh.  


Untuk risiko positif, perlakuan terhadap risiko kemungkinannya adalah : eksploitasi, ditingkatkan, berbagi, atau diterima.  Sedangkan untuk risiko negatif maka kemungkinan terhadap perlakuannya adalah hindari, mitigasi, transfer, atau diterima.  

Bagaimana hasil yang dicapai proyek Polaris dengan integrasi manajemen risiko ke dalam manajemen proyek?  Ternyata, waktu penyelesaian proyek tiga tahun lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan.  Selain itu juga ditemukan teknik dan metode baru sebagai solusi dari berbagai macam risiko yang teridentifikasi.  Misalnya, ditemukan teknik baru pengelolaan manajemen proyek, hulu ledak yang kompak dan dapat diintegrasikan ke sistem rudal  yang ada, serta pelindung panas untuk hulu ledak nuklir.  Kesemuanya ini menunjukkan penciptaan nilai yang baru.  


Pelajaran yang dapat ditarik dari Proyek Polaris adalah, dengan menerapkan manajemen risiko yang diintegrasikan ke dalam proses pelaksanaan proyek maka kesamaan bahasa dan pehamanan terhadap sasaran proyek dapat diperoleh.  Sehingga, apabila diperlukan perubahan atau pemutakhiran, dapat lebih mudah dilakukan .  Risiko-risiko pun dapat diidentifikasi dengan cepat, sehingga risiko negatif dapat ditangani lebih dini.  Sementara, risiko positif dapat dimanfaatkan segera untuk melampai sasaran.  Semua risiko mampu diukur dan dicarikan solusi yang paling tepat.  

Studi Kasus LEGO 


Contoh kasus bahwa manajemen risiko yang diintegrasikan pada proses bisnis akan mampu menciptakan nilai, ditunjukkan pada LEGO Group.  LEGO Group adalah perusahaan mainan balok susun yang didirikan tahun 1932 di Denmark oleh Ole Kirk Kristiansen. Perusahaan mainan ini terus berkembang dan makin cemerlamng saat ini.

Dalam studi kasus ini, manajemen risiko diintegrasikan pada manajemen strategis sehingga membuat LEGO mampu tumbuh jauh di atas pertumbuhan pasar.  Walaupun ini bukan semata-mata karena kontribusi manajemen risiko semata, namun para CEO LEGO meyakini manajemen risiko berkontribusi dalam penciptaan nilai.  



Kisah serunya, silakan langsung dibaca ya di buku kuning setebal 360 halaman ini.  Dijamin akan memperluas wawasan dan memberikan impak yang positif.  Yuk…cuuuzzzz belajar Manajemen Risiko. (Opi) 

Informasi Buku 
Judul buku :  Manajemen Risiko Berbasis ISO 31000: 2018, Panduan untuk Risk Leader dan Risk Practitioners 
Penulis :  Leo J Susilo dan Victor Riwu Kaho 
ISBN: 978-602-05-1234-1
Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) Jakarta 2018
Tebal buku : xxiv +360 hlm. 
Dimensi 15 x 2,3  x 23 cm 
Harga Rp 95.000,-


Minggu, Maret 17, 2019

Manajemen Risiko Perpajakan Perusahaan: Insight Sederhana yang Menancap!


“Denda pajak yang menggunung di sebuah perusahaan potensial menggerus laba yang semestinya diperoleh. Padahal, laba bersih perusahaan adalah cermin kinerja yang selanjutnya sangat mempengaruhi jumlah insentif yang akan diterima oleh karyawan. Lalu, Manajemen bisa apa?”

Miris sekali jika ilustrasi tersebut terjadi di perusahaan tempat kita bekerja.  Pasti tidak mau kan? Capek-capek bekerja, kok labanya ludes gara-gara denda pajak! Ngga dapat bonus dong! Kok bisa?
Iya, ternyata bisa kejadian seperti itu lho! Getir tapi nyata. 

Denda Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari proses penjualan dan pembelian yang dilakukan oleh perusahaan sangat potensial mengurangi total keuntungan. Sebabnya, bisa karena faktur pajak masukan cacat-tidak dapat dikreditkan, faktur pajak keluaran tidak tepat waktu, atau kurang bayar .  Semua itu kena denda! Bisa terbayang kan jika transaksi jual beli barang kena pajak yang terjadi jumlahnya milyaran ataupun triliunan, kemungkinan akumulasi dendanya juga bisa mencapai 10 digit! 


Sssst, saya pun baru belakangan ini agak peduli dengan yang namanya masalah perpajakan perusahaan.  Sebagai karyawati BUMN yang tidak memiliki latar belakang pendidikan perpajakan, saya awalnya sangat buta soal pajak badan.  Namun, sejak bertugas sebagai Risk Compliance Officer di Divisi Penjualan Distributor dua tahun terakhir ini, saya mulai terdorong untuk belajar memahami risiko-risiko apa saja yang strategis dan mayor di perusahaan. 

Mata dan pikiran saya mulai terbuka, ketika menghadapi kenyataan bahwa risiko perpajakan itu cukup mengerikan jika tidak dikelola dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab semua pihak.  Betapa banyak hal yang perlu dipelajari dan dipahami  untuk andil dalam kesadaran dan tanggung jawab ini.  


Hunting buku dan membaca adalah cara saya yang paling sederhana untuk belajar hal-hal yang menjadi kebutuhan di tempat kerja. Buku-buku Manajemen Risiko di Bidang Perpajakan tidak banyak beredar di pasaran.  Buku genre ini termasuk jenis buku yang langka.  Tidak seperti buku-buku Manajemen Pemasaran yang banyak ragammya, tersebar di pasar maya dan nyata.  

Di suatu malam gerimis sepulang kantor, langkah kaki menggiring saya ke obral buku cuci gudang di Toko Gramedia Depok. Lautan buku yang membuat para kutu buku ngences terbentang di hadapan.  Buku-buku berkualitas diobral mulai dari harga Rp 10.000,- hingga Rp 30.000,-.  Di sinilah saya menemukan buku tipis dan ringkas yang membahas Manajemen Risiko Perpajakan Perusahaan. Inilah buku Corporate Tax Risk Management


Tipis dan Ringkas ?


Iya, buku Corporate Tax Risk Management yang ditulis Dr. Nur Hidayat, SE,ME, Ak,CA, BKP ini relatif tipis (166 halaman).  Hanya seukuran buku tulis yang bisa digunakan anak Sekolah Dasar. Isinya terbagi dalam 5 Bab yang sistematis, yaitu :

Bab 1 Dasar-Dasar Manajemen Risiko 
Bab 2 Kewajiban Perpajakan dan Sanksi 
Bab 3 Mengidentifikasi Risiko Perpajakan Perusahaan 
Bab 4 Mengukur Risiko Perpajakan Perusahaan 
Bab 5 Mengelola Risiko Perpajakan Perusahaan 

Masing-masing bab menjelaskan secara ringkas tentang pokok bahasan bab.  Ringkas banget malah.  Dari masing-masing poin ringkas, nampaknya pembaca perlu tambahan bacaan lebih lengkap yang bisa ditelusur di Daftar Pusataka di bagian belakang buku ini.  


Buku ini pas sekali untuk para praktisi perpajakan sebagai modal bacaan dalam mempersiapkan diri memenuhi kewajiban pajak agar terhindar dari risiko pajak yang memberatkan. Selain itu, ulasan gamblang dalam buku ini juga bermanfaat bagi pembaca yang ingin mendalami perpajakan dalam perspektif yang berbeda.  

Secara umum, buku ini memiliki nilai advokasi yang komprehensif bagi pembaca yang ingin mengetahui dan mendalami manajemen risiko perpajakan, baik saat mempersiapkan transaksi dan saat menyiapkan laporan-laporan pajak yang menjadi rutinitas di setiap perusahaan.  

Bagi saya yang sudah lebih dulu belajar Manajemen Risiko sebelum membaca buku ini, uraian di buku ini terasa lebih praktis. Lebih ke arah implementasi atau praktek di perusahaan.  Contoh-contohnya juga tidak njlimet.  Sederhana, singkat, dan terstruktur. Makanya, buku ini memang cocok sekali bagi praktisi.  Walaupun, buku ini juga ditujukan bagi para mahasiswa Program Sarjana dan Pascasarjana yang mengambil mata kuliah Manajemen Perpajakan.  


Buku ini memang bukan murni gagasan penulis, melainkan banyak terinspirasi dari beberapa karya yang telah lebih dulu terbit di seputar Manajemen Risiko dan Manajemen Perpajakan.  

Mengelola Risiko Perpajakan Perusahaan ala Buku Ini 


Risiko bukanlah sesuatu yang bisa dikelola sekali dalam setiap kuartal, bulan, atau minggu.  Risiko timbul dan harus dikelola sepanjang waktu. Begitu pula dengan risiko perpajakan pada suatu perusahaan. Pengelolaan risiko seharusnya terintegrasi dengan setiap proses pengambilan keputusan, penentuan dan implementasi strategi, serta pengelolaan kinerja setiap elemen perusahaan.  

Pengelolaan risiko perpajakan perusahaan erat kaitannya dengan mengelola risiko pajak yang diperkirakan, yaitu risiko yang diterima kehadirannya oleh perusahaan.  Menurut buku ini, tiga hal utama dalam menyikapi risiko pajak yang diperkirakan adalah : 

1. Perusahaan menjadikan risiko sebagai bagian dalam proses penyusunan strategi 
2. Perusahaan mengalokasikan sejumlah dana cadangan (cushion) terhadap risiko 
3. Perusahaan menerapkan manajemen risiko dengan pilihan penghindaran risiko, pengurangan risiko, pemindahan risiko, atau penangana risiko.  


Pilihan untuk penghindaran, pengurangan, pemindahan atau penanganan risiko dipilih berdasarkan analisis pada peta risiko yang telah dibuat sebelumnya.  Peta risiko dibuat berdasarkan identifikasi dan pengukuran/penilaian risiko di tiap poin perpajakan.  

Sebagai contoh, di poin PPN (Pajak Pertambahan Nilai), ada empat risiko yang mungkin terjadi yaitu; 

1. Faktur pajak cacat sehingga tidak dapat dikreditkan
2. Faktur pajak keluaran tidak tepat waktu akan berdampak sanksi denda 
3. Kurang bayar , maka akan berdampak pada cash flow 
4. Lebih bayar, maka akan berdampak pada pemeriksaan 

Misalnya suatu perusahaan melakukan penjualan Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP).  Faktur pajak PPN pada umumnya dibuat pada saat penyerahan atau penerimaan.  Apabila Pengusaha Kena Pajak (PKP) menerbitkan faktur tidak tepat waktu, maka akan dikenakan sanksi denda. 



Ada BKP berupa komoditi pertanian (contohnya jagung untuk pakan ternak) yang nilai PPN nya nol rupiah.  Namun, pada saat penjualannya tetap harus dibuat faktur pajak dengan nilai nol tersebut.  Apabila faktur pajak tidak dibuat atau terlambat dibuat, akan terkena sanksi denda yang jumlahnya merupakan prosentasi dari nilai penjualannya.  Denda ini ternyata jumlahnya berpotensi semakin menumpuk dan bisa jadi melebihi biaya-biaya penjualan lainnya.  Menggerus laba?  Bisa jadi! 

Sebagai dasar pemahaman, buku ini sangat baik.  Namun, untuk implementasi di perusahaan, buku ini tidak dapat berdiri sendiri.  Kita membutuhkan buku-buku tambahan untuk mengelaborasi poin-poin yang disampaikan.  

Di tengah minimnya literatur dan buku-buku yang membahas tentang topik manajemen risiko perpajakan perusahaan, buku ini diharapkan akan memacu diskurus (pertukaran ide dan gagasan secara verbal) di bidang manajemen risiko perpajakan perusahaan lebih lanjut. Sangat disarankan untuk membaca buku ini didampingi dengan buku manajemen risiko yang semakin berkembang teori dan prakteknya.  Bagi saya, buku ini memberikan insight sederhana yang menancap.  (Opi) 




Informasi Buku
Judul buku :  Corporate Tax Risk Management / Manajemen Risiko Perpajakan Perusahaan 
Penulis :  DR. Nur Hidayat, SE,ME,Ak,CA,BKP
ISBN 978 602 02 5991 8 
Penerbit : PT Elex Media Komputindo 
Cetakan pertama , Februari 2015
Dimensi 14 x 1,1 x 21 cm 
Tebal buku : viii + 166 hlm.
Harga Rp 37.000,-

Selasa, Februari 26, 2019

Ulasan Buku : Didiklah Anak Sesuai Zamannya




Ketakutan berlebihan para orang tua akan pengaruh negatif gawai terhadap anak-anak adalah bukti ketidakmampuan mereka dalam beradaptasi dengan perkembangan zaman.  Ketakutan yang ironi. Orang tua sendiri tak bisa lepas dari gawai, lalu sang anak diminta untuk tidak menyentuh gawai? Orang tua tak hadir saat anak ingin melakukan aktivitas fisik bersama, tapi anak dimarahi ketika beralih ke gawai? Ironi ini perlu disadari orang tua agar bertindak solutif.  Tamparan bagi para orang tua, ya memang, tapi demikianlah adanya yang terjadi.  


 Anak-anak yang terlahir di masa kini adalah milik zamannya sendiri.  Tidak dapat ditentang atau dilawan.  Kita para orang tua tidak bisa lagi memaksakan nostalgia akan masa kecil yang bebas di sawah dan kebun bersemak belukar ketika semuanya telah berubah jadi bangun ruang berlayar digital.  Lalu bagaimana? 

“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu.” – Ali Bin Abi Thalib  

Mendidik anak sesuai dengan zamannya adalah kunci.  Orang tua pun diminta untuk beradaptasi dengan era baru.  Mengoptimalkan potensi anak di era digital ada caranya.  Kunci jawaban dan cara inilah yang dibahas dalam format tanya jawab di buku “ Didiklah Anak Sesuai Zamannya” yang ditulis oleh Nyi Mas Diane Wulansari. Syaratnya, orang tua harus mau berubah dan memahami kebutuhan anak secara bertanggung jawab.  Sebab, bagaimanapun jadinya anak adalah karena hasil tindakan orang tuanya.  

Buku ini tidak hanya enak dibaca, tetapi juga penting untuk dimiliki orang tua sebagai referensi.  Isi buku ini menjawab segala tantangan era digital apa adanya.  Tidak hanya memberikan saran bagi para orang tua dalam bertindak, tetapi juga memberikan solusi bagaimana agar anak-anak mempergunakan gawai dengan semestinya.  Tanpa menghakimi, buku ini menyajikan rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan seputar penggunaan gawai bagi anak.


Mengendalikan Teknologi 


Buku ini diawali dengan ajakan yang mendasar dalam menyelami era digital, yaitu mari kita kendalikan teknologi agar teknologi tidak mengendalikan kita. Manusia menciptakan teknologi untuk mempermudah dan meningkatkan kualitas kehidupan. Karena itu, sepantasnya manusia memegang kendali terhadap teknologi yang diciptakannya.  Bukan malah dikendalikan oleh teknologi sehingga terenggut kebebasannya. 

Bagaimana cara orang tua mengendalikan teknologi?  Tidak lain dengan penuh kesadaran menyediakan waktu yang cukup untuk memperhatikan, mendampingi, dan mengawal anak-anak dalam menggunakan teknologi baru yang muncul.  Selain itu, cara yang penting dilakukan adalah meningkatkan daya literasi teknologi orang tua agar memiliki kemampuan menyaring informasi.



Minimnya literasi digital yang berpadu dengan kesibukan orang tua sehingga enggan mendampingi anak, akan menciptakan kondisi asosial antara orang tua dan anak. Masing-masing berjalan sendiri dan semakin asing dari hari ke hari. Ditambah dengan sikap orang tua yang selalu ingin agar anak-anak menuruti kemauan mereka, jadilah semakin jauh dan dalam jurang komunikasi akan terentang. 

Era Digital, Generasi Digital, dan Optimalisasi Potensinya


Tanya jawab dalam buku ini disajikan agar orang tua mampu melindungi anak-anak dari ancaman era digital, tetapi tidak menghalangi potensi manfaat yang ditawarkannya. Menurut buku ini, mendidik anak di era digital merupakan suatu proses pendampingan dan dialog dalam membangun ikatan emosional (bonding) dengan memberi latihan lengkap.  Latihan itu mencakup ajaran, tuntunan, dan pengetahuan mengenai akhlak dan moral anak didik, dengan menggunakan sistem digital untuk kehidupan sehari-hari dan dilakukan sejak usia dini.   

Era digital adalah suatu masa ketika sebagian besar atau seluruh masyarakatnya menggunakan sistem digital, teknologi komputer, dan internet dalam kehidupan sehari-hari.  Sistem digital ini telah terbukti mutakhir dari sistem yang telah dikembangkan sebelumnya, yaitu sistem analog.  



Di era digital terdapat dua generasi berbeda yaitu Generasi Digital Native dan Immigrant Digital.  Anak-anak era kini sebagai Generasi Digital Native adalah mereka yang lahir di masa perkembangan teknologi digital tengah berlangsung.  Generasi ini sudah mengenal internet sebelum mulai belajar menulis.  Sementara kebanyakan orang tua adalah Generasi Immigrant Digital, yaitu mereka yang lahir saat teknologi digital belum berkembang pesat.  Generasi ini telah berusia dewasa ketika internet mulai berkembang pesat.  

Gap ini pada kenyataannya membentuk cara pandang yang berbeda antar generasi. Orang tua sebagai generasi yang mengenyam masa di mana teknologi belum berkembang versus masa kini di saat terknologi begitu pesat, dihantui oleh ketakutan akan intrusi kebebasan yang kebablasan pada anak-anak  mereka.  Sementara, mereka sendiri asyik menikmati teknologi baru itu.  



Orang tua diharapkan mampu melindungi anak-anak dari ancaman era digital, tetapi tidak menghalangi potensi manfaat yang ditawarkannya.  Hal yang menjadi PR besar bagi orang tua adalah mempersiapkan anak-anak dalam menghadapi zamannya, yang bukan zaman orang tua. Visi besarnya tentu agar anak-anak menjadi pribadi yang bermanfaat dan berdaya guna, serta menjadi amal kebaikan kelak di akhirat.  Dari sinilah pentingnya para orang tua berkembang, sehingga perlu menyesuaikan dengan pendidikan anak-anak kita.  

Di dalam buku ini, dikemukakan secara sederhana dalam bentuk tanya jawab hal-hal mendasar yang berkaitan dengan optimalisasi potensi anak di era digital.  Mulai dari rekomendasi batasan-batasan  konsumsi gawai pada anak, kebiasaan-kebiasaan buruk orang tua memegang gawai di depan anak, media sosial dan proteksinya bagi anak dan remaja, hingga perihal kecanduan gawai dan pornografi. 

 
Kapan Anak Boleh Punya Gawai? 


Sebelum membaca buku ini, saya kesulitan menjawab pertanyaan anak sulung, ”Kenapa aku ngga boleh punya ponsel sekarang?” Ketika itu anak sulung saya duduk di kelas 3SD, dan saya tidak memenuhi permintaannya untuk memiliki ponsel seperti teman-temannya yang lain. Setelah membaca buku ini, saya bisa mengajaknya duduk santai dan membaca bersama.  


Di halaman 25, buku ini menjelaskan tentang penelitian American Academy of Pediatrics (AAP) yang merekomendasikan gawai hanya untuk anak usia di atas 13 tahun.  Begitupun para tokoh dunia seperti Bill Gates, Steve Jobs, dan Hawlett Packard tidak memberikan gawai pada anak mereka sebelum usia 14 tahun.  Maka saya pun membuka jalur cakrawala kepada si Sulung, bahwa para tokoh pencipta teknologi gawai itu sendiri tidak mengizinkan anak mereka untuk punya gawai sebelum usianya 14 tahun.  Mereka pencipta teknologi paham betul dampak negatifnya, dan tidak rela anak kesayangan mereka dikendalikan teknologi.



Anak sulung saya ternyata  dapat menerima penjelasan ini. Dapat diterima oleh logika berpikirnya. Ia pun lalu mulai tertarik membaca sejarah para tokoh dunia yang membawanya pada cakrawala baru yang lebih luas.  Ia tidak keberatan ketika saya memperkenalkan metode yang digunakan keluarga Bill Gates terhadap ketiga anak mereka yaitu: 

1. Melarang anak memiliki ponsel sebelum usia 14 tahun
2. Membatasi screen time, sehingga anak memiliki lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama keluarga
3. Tidak mengizinkan anggota keluarga membawa ponsel saat makan bersama
4. Menentukan jam berlaku untuk menatap layar digital setiap hari, sehingga bisa pergi tidur tepat waktu.  Diusahakan satu jam sebelum tidur tidak lagi bermain gawai. 

Mengganti Gawai dengan Buku Bacaan?


Buku ini mengajarkan bahwa memupuk gairah membaca sejak dini, jauh lebih dini dari memperkenalkan gawai pada anak, adalah sangat baik.  Kemampuan literasi yang terbentuk sejak dini akan membiasakan anak untuk lebih senang membaca dan menelusur informasi secara tersistem.  
Lebih dulu menumbuhkan kecintaan membaca buku akan mempermudah orang tua untuk mengajarkan anak-anak mengendalikan teknologi perlahan-lahan. Tapi jika orang tua sudah lebih awal memperkenalkan gawai dan layar digital sejak anak belum terbiasa untuk membaca, kreativitas anak akan jadi rendah.  Kemungkinan besar anak akan jadi malas membaca dan kurang mencintai ilmu pengetahuan. 



Membaca itu pada awalnya bukan diajarkan, tetapi ditularkan. Anak-anak akan mencintai buku bacaan dan terbiasa membaca apabila melihat orang tuanya sebagai role model.  Jangan pernah bermimpi anak-anak gemar membaca jika orang tua tidak pernah membacakan buku untuk anaknya, mengajak ke perpustakaan dan ke toko buku, atau menghadiahkan buku-buku pada anak-anak sejak dini.  

Mempertahankan Kebersamaan di Era Digital 


Bagian akhir buku ini memuat langkah-langkah bijak dan cerdas mendidik anak di era digital bagi para orang tua, sehingga potensi anak melesat dan kebersamaan keluarga tetap terjaga.  Kuncinya orang tua harus menyediakan waktu untuk belajar menjadi role model dan mendampingi putra putrinya.  

11 langkah yang disarankan buku ini adalah: 

1. Tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bertekad untuk mengontrol diri 
2. Membuatkan jadwal atau buku harian media, misalnya waktu yang dapat digunakan untuk menonton televisi, berselancar di internet, atau bermain game
3. Orang tua berperan serta bersama-sama lembaga pendidikan yang terkait dengan anak
4. Memupuk kecintaan kepada pengetahuan 
5. Menghadirkan sarana berkualitas di rumah
6. Membaca buku bersama anak dan menumbuhkan kecintaan buku pada anak.  Jadikan kegiatan membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dan bermakna bagi anak.  Pupuklah gairah anak untuk membaca sejak dini karena membaca merupakan kunci pembuka jendela dunia.  Saat kunci tersebut ditemukan, mereka akan siap menghias dunia dengan penuh warna.   
7. Membatasi penggunaan media digital dengan membuatkan jadwal atau buku harian media dan pendampingan 
8. Mengaktifkan parental control atau media pengendali di bawah pengawasan dan bimbingan orang tua 
9. Membuat kesepakatan terkait acara TV yang boleh ditonton dan pastikan acara tersebut memang untuk anak-anak
10. Mendorong anak untuk melakukan aktivitas, terutama di luar ruangan, dengan teman sebaya dan bersama orang tua seperti bercocok tanam, bersepeda, bermain layang-layang, bermain bola, bermain permainan tradisional seperti gangsing, petak umpet, dan berolahraga serta main catur
11. Jadilah role model bagi anak 



Orang tua patut sepenuhnya sadar, bahwa ketika zaman berubah maka tantangannya pun berubah.  Anak-anak akan hidup dalam kedewasaan di zaman kelak di mana orang tua sudah jadi abu. Tidak ada yang paling bijak kecuali membukakan pintu bagi mereka menyongsong zamannya dengan daya survival maksimal.  Dan itu tak akan tercapai dengan cara melarang anak main gawai saja. Gawai hanyalah alat.  Lebih dalam di balik itu, orang tualah yang bertugas menjalin hubungan hangat dengan anak dan mendampingi mereka menggali potensi diri dengan penggunaan gawai yang semestinya.   

Buku ini sesuai untuk cermin para orang tua, apakah kita sudah menjadi role model yang pantas bagi anak-anak kita?  (Opi)




INFORMASI BUKU 

Judul :  Didiklah Anak Sesuai Zamannya : Mengoptimalkan Potensi Anak di Era Digital
Penulis :  Nyi Mas Diane Wulansari (Dee Motivational) 
Penerbit PT Visimedia Pustaka,  Jakarta 
Tebal buku : x+190 hlm, 215 x 200 mm 
ISBN (13) 978-979-065-290-3
Cetakan pertama, 2017 
Harga Rp. 95.000,-
Juga tersedia dalam versi e-book di Google Play 
Back to Top