Rabu, September 18, 2019

Parenting Jarak Jauh

Direntang jarak, parenting jarak jauh membutuhkan mindset, komitmen, dukungan teknologi, dan konsistensi dengan kadar EKSTRA. 
Jangan coba-coba bila tak siap !

Jika dihadapkan pada pilihan, orang tua pasti lebih memilih untuk dapat selalu mendampingi buah hatinya di setiap tahap perkembangan.  Betul begitu Ayah dan Bunda?....  Ya, siapa sih yang sengaja mau terpisah dari keluarga terutama buah hatinya dalam jangka waktu yang tidak tentu?  

Pasti inginnya selalu bisa memeluk anak-anak setiap hari.  Bahkan ingin mendampinginya dalam berbagai kegiatan yang memang membutuhkan pendampingan orang tua.  Itu sudah naluriahnya para orang tua.  

Namun, pilihan itu tidak selamanya bisa diambil.  Sesuatu hal yang dipandang lebih prioritas untuk masa depan akhirnya dapat saja membuat kita memilih terpisah sementara waktu dengan keluarga dan anak-anak. 

Ada kepala keluarga yang bertugas di luar kota, sementara anak-anak dan istrinya tinggal di kota yang lain. Ada pula anak-anak yang untuk sementara waktu harus mandiri tanpa ayah ibunya karena keduanya dinas di kota yang berbeda, bahkan mungkin di negara yang berbeda.  Saya mengalaminya.  

Tulisan ini saya buat untuk berbagi dengan para orang tua yang terkondisi untuk menerapkan parenting jarak jauh.  Semoga dapat memberikan inspirasi agar tetap semangat menjalani parenting jarak jauh dalam ikhtiar segera dapat berkumpul kembali bersama keluarga. 

Ibu Lebih Sensitif?


Pada saat berjauhan dengan anak-anak, bisa diduga seorang ibu umumnya akan merasa lebih merana dibanding ayah. Sebabnya jelas, anak-anak adalah mereka yang dulu berada di rahim ibu selama sembilan bulan sepuluh hari. Ini pun saya alami. 

Hari-hari awal mulai bertugas di kantor cabang kabupaten, saya merasakan betapa merananya hidup tanpa celoteh anak-anak di malam hari sepulang bekerja.  Tidak ada teriakan ,”Ibuuuu pulaaaaaaaaang,” seperti yang selalu saya dengar setiap sore sepulang bekerja di masa lalu saat masih bertugas di kantor pusat. 

Sebab, sejak bertugas di kabupaten saya nyaris tak bisa pulang karena harus stand by di wilayah tugas, sekalipun di hari libur atau akhir pekan.  Jadilah anak-anak yang datang menghampiri saya ke rumah dinas bersama ayahnya, nyempil di sela-sela tugas ibunya.

Lebih dari itu, sholat dan doa jadi selalu dibarengi derai air mata rindu, dan bias-bias perasaan bersalah tidak dapat mendampingi anak-anak. Namun, dengan sekuat tenaga saya dan suami membangun ketegaran bersama.  Berusaha meyakini bahwa pilihan ini telah diambil, dan menjadi tanggung jawab kami bersama untuk menjaga keutuhan semuanya hingga saatnya berkumpul kembali. 

Kami pun berupaya melakukan parenting jarak jauh dengan segenap daya yang dimiliki. 
Modal utama kami ada empat yaitu mindset, komitmen, konsistensi, dan dukungan teknologi.  Semuanya dalam kadar lebih, plus, ekstra.  Serta terus kami evaluasi sikap dari waktu ke waktu.  


Berawal dari Mindset 



Untuk kuat menjalani parenting jarak jauh, kita sebaiknya mulai dari mindset yang kompak antara ayah dan ibu.  Sebagai ibu, pada awalnya saya berada dalam alam pemikiran seperti ini:  bahwa anak-anak adalah sepenuhnya tanggung jawab orang tua.  Ketika anak-anak berperilaku tidak sesuai harapan, atau tidak mencapai sesuatu yang diharapkan orang tua, sepenuhnya itu kesalahan orang tua. 

Mindset tersebut awalnya tertanam sangat kuat dalam diri saya.  Saya lupa bahwa ada kekuatan lain yang jauh lebih besar yaitu kuasa Tuhan.  

Jadi, sebelumnya saya selalu merasa bersalah ketika saya sedang tidak bersama anak-anak, lalu mereka terluka atau mengalami hal-hal buruk yang tak diharapkan. Seolah-olah semua hal buruk tak kan terjadi apabila orang tua ada di dekat anak.  Namun benarkah demikian?..

Belakangan saya menyadari, mindset seperti itu harus saya ubah.  Memang, sebagai orang tua kita bertanggung jawab penuh terhadap anak, namun bukan berarti apabila anak-anak mengalami hal-hal buruk itu menjadi kesalahan orang tua. Bukan pula selalu bahwa hal baik terjadi karena dan hanya karena orang tua selalu mendampingi anak. Tidak demikian. 

Tuhan Maha Berkehendak atas apapun, termasuk hal buruk atau hal baik sesuai dengan skenarioNya.  Hal buruk (menurut persepsi manusia) mungkin terjadi, begitu pula hal baik, karena Tuhan merencanakan sesuatu terhadap hamba-hambaNya.  Persepsi tentang hal baik atau buruk terhadap anak di mata orang tua pun tidak selamanya benar.  

Awal dari perubahan mindset ini adalah ketika saya ngobrol dengan mantan atasan yang sudah tidak sekantor lagi, tapi masih menjaga silaturahmi. Saya menganggap mantan atasan saya ini sukses dalam mendidik anak.  Ketiga anaknya semua berprestasi baik akademis maupun non akademis, mau belajar agama, dan berbudi pekerti.  Ngademin hati lah pokoknya. 

Bertanyalah saya, apakah tips dan rahasianya?... Beliau menjawab, semua adalah kuasa Tuhan.  Sebagai orang tua beliau merasa banyak sekali kekurangan, tidak selalu dapat membimbing saat dibutuhkan, tak selalu bisa hadir ketika diharapkan.  Namun, itu semua karena keterbatasannya bukan karena disengaja.  

Di tengah banyaknya kelemahan, kuasa dan kasih sayang Tuhan lah menjadikan anak-anak itu terjaga dari hal-hal buruk yang tak diinginkan.  Keyakinan bahwa Tuhan selalu mendengarkan doa orang tua terhadap anaknya, serta stok kasih sayang Nya yang tidak terbatas, membuat mantan atasan saya yakin bahwa anak-anak akan baik-baik saja. 

Saya lalu merefleksi pada diri saya sendiri, dan perlahan mengubah mindset.  Saya dan suami berdiskusi.  Kami lalu meyakini bahwa hal-hal buruk dapat terjadi pada siapa saja yang dikehendakiNya, begitu juga hal-hal baik. Bukan semata karena orang tua sedang bersama anak atau tidak. 

Mindset baru kami pun terbentuk.  Bahwa orang tua bertanggung jawab penuh pada anak-anaknya, namun kuasa Tuhan tetap di atas segalanya tentang hal baik atau buruk yang akan terjadi. 

Yang perlu dilakukan orang tua adalah berusaha semaksimal mungkin untuk hadir saat dibutuhkan anak, baik secara fisik maupun non fisik.  Selain itu, doa dan ibadah lainnya yang tak pernah putus juga adalah modal untuk menguatkan ikhtiar dalam mendidik anak.  

Mindset itu merubah segalanya.  Saya dan suami merasa menjadi lebih semangat.  Ketika berjauhan dengan anak-anak, itulah saatnya kita yakin bahwa harus melakukan yang terbaik untuk bisa berkumpul kembali.  Serta yakin bahwa selama terpisah jarak, Tuhan tetap menjaga dengan kuasaNya.

Kekuatan mindset itu luar biasa, karena mengubah cara pandang kita terhadap suatu keadaan.  Juga, mengubah cara berpikir kita yang berdampak pada sikap dan perilaku nyata sehari-hari.  Menjalani parenting jarak jauh pun kita sikapi dengan positif, bahwa ini bukan untuk selamanya.  Ini bagian dari perjalanan hidup yang harus dilewati dengan sikap positif.  

Komitmen Penuh



Komitmen penuh terhadap situasi yang dijalani adalah pondasi awal yang kami bangun untuk parenting jarak jauh.  Kami berdua menyadari komitmen saja tidak cukup.  Tapi harus penuh.  Bahkan mungkin LEBIH.  Ya, LEBIH. 

Bagaimana caranya?  Kami duduk bersama dan membahas hal-hal positif  apa saja yang dapat terjadi selama saya, suami, dan anak-anak terpisah di kota dan negara yang berbeda untuk waktu yang tak tentu.  Hal positif yang pertama, anak-anak yang sekarang di kelas 2 dan 5 SD bisa menjadi lebih mandiri dan terlatih untuk tegar. 

Mereka mungkin akan menjadi lebih terbiasa untuk memikirkan survivalnya karena tidak ada orang tua yang hadir secara fisik di saat-saat tertentu.  Selintas, ini membuat kami menangis dan sedih.  Tetapi, mengingat bahwa ini untuk sementara waktu dan demi kemajuan bersama di masa depan, kami pun menguatkan hati untuk berkomitmen lebih memunculkan sisi positif dalam perkembangan anak-anak saat jauh dari orang tua.  

Komitmen lebih itu kami jaga dan tuangkan dalam sikap. Sikap kepada anak-anak, yaitu tetap bersikap tegas untuk hal-hal yang memang harus tegas.  Lembut untuk semua hal yang butuh kelembutan. Bukan karena anak-anak tidak sedang bersama orang tua lalu mereka boleh melakukan hal apapun tanpa aturan.  Kami tetap menerapkan aturan-aturan yang sudah  berjalan, namun dengan penyesuaian di sana-sini.  

Hal positif lainnya yang bisa terasah dari terpisahnya kami adalah anak-anak belajar mengelola rasa kecewa, menghargai waktu pertemuan, tumbuh rasa kepeduliannya terhadap penjagaan diri sendiri, berpikir positif, dan yakin pada doa ataupun harapan. Kami sekeluarga jadi terdorong untuk punya mimpi besar berkumpul kembali dan berjuang untuk mewujudkan mimpi itu melalui tindakan nyata. Tindakan itu adalah “lakukan yang terbaik”. 

Keberadaan asisten rumah tangga yang sudah kami percaya, menjadi salah satu rizki dari-Nya.  Bibi yang telaten memasak makanan untuk anak-anak dan mengurus rumah membuat saya jadi lebih tenang.  Gizi anak-anak terjamin karena ketelatenan Bibi mengatur menu makan sehari-hari. 

Komitmen kami juga, satu diantara Ayah atau Ibu berusaha untuk tetap ada bagi anak-anak di akhir pekan apabila salah satu harus tetap bertugas.  Jika tidak memungkinkan bagi Ibu untuk pulang, Ayah yang datang ke wilayah tugas Ibu bersama anak-anak.  Yang penting anak-anak bisa bertemu dengan ibunya walau dalam waktu yang terbatas.

Di hari kerja, saat anak-anak tidak bersama orang tua, kami berkomitmen untuk tetap menjalin komunikasi dua arah yang sehat. Ini penting banget.  Dan mau tidak mau kami harus didukung ekstra oleh teknologi. 

Dukungan Teknologi Ekstra



Teknologi ekstra mutlak dibutuhkan dalam parenting jarak jauh. Kemajuan teknologi bisa kita manfaatkan untuk mendukung komunikasi audio maupun visual saat berjauhan dengan keluarga.  Untuk anak-anak yang masih di bawah umur, kami tidak merekomendasikan smartphone atau gadget sejenis yang menggunakan simcard dalam kendali anak.  

Mengapa?  Dampak negatifnya sangat mengancam.  Memberi anak di bawah umur 14 tahun sebuah smartphone dan sejenisnya tanpa pengawasan orang tua atau orang dewasa yang dipercaya akan membuka peluang anak kecanduan gadget serta bahaya laten pornografi. 

Kami sudah sepakat sekeluarga, juga dengan anak-anak bahwa mereka tidak akan dibelikan smartphone dan gadget sejenis sebelum usia mereka kelak 14 tahun. Itu pun nanti dievaluasi lagi apakah di usia tersebut anak-anak sudah menunjukkan sikap yang bertanggung jawab terhadap penggunaan barang semacam itu.  Ini kami tiru dari para pencipta teknologi itu sendiri.  Bill Gates si pencipta brand Microsoft, Steve Jobs si pencipta brand Apple dan Hewlett-Packard si pencipta brand HP.  

Meskipun berjauhan, aturan penggunaan gadget tetap sama seperti ketika kami masih berkumpul.  Di akhir pekan dan hari libur, anak-anak boleh main gadget dengan pendampingan orang tua.  Pada hari sekolah, anak-anak sudah sepakat no gadget. 

Untuk komunikasi dengan ayah ibunya saat berjauhan, kami menggunakan smartwatch yang simcard nya berada di bawah kendali Ibu sebagai admin.  Smartwatch tersebut bisa digunakan untuk saling berkirim pesan suara, gambar, dan video antara anak dan orang tua.  Juga bisa digunakan untuk telfon dan video call.  Komunikasi jadi lebih lancar.  Selain itu, GPS yang terpasang pada smartwatch dapat membuat orang tua bisa selalu melacak posisi anak sedang di mana, selama smartwatch tersebut dipakai oleh si anak. 

Smartwatch tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali Ibu.  Siapa-siapa saja yang ditambahkan sebagai daftar kontak yang bisa menghubungi anak pun diatur oleh Ibu. Smartwatch ini betul-betul hanya berfungsi sebagai alat komunikasi yang fun, tanpa ada games atau permainan lain di dalamnya. Sangat pas dengan yang saya butuhkan untuk anak-anak. Gadget with no games. 

Jika anak-anak ingin main games, kita tetap konsisten untuk menunggu saat bersama. Teknologi ini kurang lebihnya membentuk suatu jadwal dan kemampuan untuk menahan diri bagi kami sekeluarga.  Anak-anak jadi terbiasa tidak main games atau main gadget.  

Sebagai kompensasinya, kami orang tua menyediakan beragam buku bacaan sesuai usia mereka di rumah.  Juga kami sediakan beragam alat musik seperti gitar, piano, biola, dan lainnya untuk mereka mainkan sebagai pengganti gadget dan siaran televisi.  

Oh ya, kami sudah 6 tahun terakhir ini tidak menggunakan siaran televisi.  Anak-anak sudah terbiasa tanpa televisi. Agar mereka semangat belajar alat musik, kami sertakan mereka untuk belajar musik dengan guru privat sesuai keinginan mereka.  

Saya berpesan pada anak-anak, jika kalian sedang di rumah saat pulang sekolah atau malam hari dan karena ibu jauh belum bisa pulang, ambillah alat musik dan mainkan.  Atau ambilah buku diary, tuliskan apa yang kalian rasakan, tumpahkan di sana. 

Saya percaya seni adalah salah satu cara positif bagi anak-anak untuk mengekspreasikan apa yang belum dapat mereka ungkapkan dengan kata-kata.  Dan untuk anak yang lebih besar, menulis diary adalah cara yang positif untuk melatih mengungkapkan rasa. 

Tidak lupa, di atas segalanya saya pesan kepada anak-anak untuk tidak meninggalkan sholat lima waktu serta doa yang khusuk.  Mintalah kepada-Nya, apapun yang kalian ingin.  Ibu juga meminta kepada Tuhan.  Nanti doa kita akan bertemu di langit. Begitu pesan saya. Sehingga, kendatipun secara fisik kita belum bertemu, tetapi doa-doa kita bertemu di langit.  

Selain itu, jangan lupa kita tetap menjaga hubungan baik dengan tetangga, para guru dan pihak sekolah. Dengan bantuan teknologi juga kita dapat selalu berkomunikasi dengan mereka dalam hal perkembangan anak-anak kita sehari-hari. 

Tak perlu baper jika ternyata perkembangan anak-anak dalam akademis tidak secemerlang sebelumnya, saat kita selalu menemani mereka belajar.  Memang ada hal yang perlu ditoleransi.  Selama anak-anak masih dapat mengikuti pelajaran, sehat, aktif, dan mampu mengungkapkan perasaannya, saya meyakini semua akan baik-baik saja. 

Nilai akademis bukan segalanya, bantulah anak-anak untuk survive. Itu jauh lebih penting untuk masa depannya.  

Konsistensi Plus



Semua upaya dalam parenting jarak jauh tidak ada artinya jika tidak dijalankan dengan konsisten.  Ini bagian tersulit.  Kadang, lelah dan putus asa membuat orang tua merasa ingin quit saja.

Mungkin tips yang paling sederhana dari saya agar bisa konsisten cuma satu, segera bicara dari hati-ke hati dengan pasangan setiap kali merasa akan menyerah.  Biasanya, saat Ibu hampir menyerah- Ayah masih setrong.  Sebaliknya, ketika Ayah yang hampir nyerah, Ibu justru masih setrong.  Itulah keajaiban.  

Tuhan memang sudah menciptakan setiap pasangan untuk saling melengkapi. Karenanya, setiap kali diserang godaaan inkonsistensi, langkah pertaama yang harus dilakukan adalah kroscek dengan pasangan. Maka, akan saling menguatkan. 

Saya, contoh nyata yang sepertinya gampang sekali mau menyerah karena perasaan bersalah saat jauh dari anak-anak.  Tapi setiap kali akan menyerah, pasangan selalu mengingatkan kembali tentang awal dan tujuan dari semua ini.  

Tujuan yang akan diperjuangkan adalah kembali berkumpul pada saatnya tiba dalam kondisi yang lebih baik.  Untuk mencapai itu, maka saat terpisah ini kita harus melakukan yang terbaik.  Bukan hanya Ibu atau Ayah yang berjuang, tetapi anak-anak juga berjuang secara tidak langsung.  

Itulah sebabnya, konsisten bersikap positif tetap harus diperjuangkan.  Konsisten terhadap aturan yang sudah disepakati juga wajib.  Konsisten untuk terus mencurahkan perhatian kepada anak melalui semua channel yang bisa ditempuh, itu harus banget.  Karena konsistensi inilah yang akan membentuk anak-anak akan menjadi seperti apa nantinya. 

-------


Itulah sekedar sharing yang bisa saya tuliskan.  Rada lebay sih, nulis ini sambil mewek dan berurai air mata juga.  Karena sampai detik ini pun saya belum tahu kapan kami sekeluarga akan kembali berkumpul.  Tapi saya meyakini bahwa itu pasti akan terjadi di saat yang tepat yang sudah direncanakan olehNya.  Apabila itu masih lama, artinya saya diminta belajar lebih bersabar.  Apabila itu sudah dekat, artinya saya diminta lebih bersyukur.  

Dan saya akan terus berjalan dengan sikap sabar dan syukur sampai kapanpun.

Hal terpenting yang tidak dapat luput dari semua ini adalah dukungan dari keluarga mulai dari orang tua, mertua, ipar, kakak dan adik.  Semuanya memberikan dukungan penuh dalam bentuk yang beraneka ragam.  Semuanya membuat kasih sayang di keluarga besar terjaga dan tetap tertanam. 

Salam untuk semua keluarga yang saat ini sedang menjalani parenting jarak jauh, tetap semangat dan lakukan yang terbaik untuk dapat berkumpul kembali.  Semangat !!!! (Opi)




Kamis, Agustus 15, 2019

Luka Bersih #GakPakePerih, Bisa Ya?...


“Aduuuuuuuh… periiiiihhhh,….   Bisa gak siiiih gak pake perih …..” pekik Adek (7 tahun) histeris jika Bibi atau Mas (10 tahun) membubuhkan  cairan antiseptik pembersih luka setelah peristiwa  terjatuh dari sepeda. 
Pekik serupa juga terdengar saat hal yang sama terjadi pada Mas. Adek dan Mas sama-sama tidak tahan pada rasa perih yang muncul ketika luka dibersihkan dengan cairan antiseptik yang ada. 


Karena perih, Adek dan Mas jadi trauma dan suka ngumpet-ngumpet saat terluka. Dalam mindset mereka jadinya pembersih luka sama dengan perih. Jadi, pura-puralah luka ditutupi dengan baju atau celana panjang, supaya tidak ketahuan kalau habis terjatuh.  

Padahal, frekuensi Adek dan Mas terluka karena jatuh saat main lari-larian di lapangan atau aktivitas bermain lainnya, bisa dibilang sangat sering. Ini membuat saya kuatir anak-anak terinfeksi bakteri pada lukanya dan jadi parah karena tidak segera ditangani secara tepat.

Kalau sore-sore Bibi melihat Adek atau Mas jalan terpincang-pincang sambil meringis, dia langsung curiga. Hmmm, pasti deh nih si Adek atau Mas baru aja terjatuh dan ada luka di bagian tubuhnya, tapi ngumpet-ngumpet karena takut perih diobati.  Kalau sudah begini, Bibi langsung telepon Ibu dan lapor.  Jadilah ibu yang main drama membujuk mereka agar mau dibersihkan lukanya.

Lumayan dower deh membujuknya. Seringnya sih, minimal beli es krim untuk obat bujuk. Waduh, tapi kalau sering-sering kan ngga bagus juga ya.



Apakah Bunda juga mengalami hal yang sama dengan saya?  Anak-anak jadi trauma dibersihkan atau diobati lukanya karena antiseptiknya meninggalkan rasa perih yang berkepanjangan? Wah, senasib ya kita Bunda ..he he he.

Tapi Bunda, setiap luka yang timbul memang tidak boleh dibiarkan.  Harus ditangani secara tepat.  Langkah pertama penanganan luka adalah membersihkannya dengan cairan antiseptik.

Kenapa Luka Harus Dibersihkan ?

Luka atau cedera yang timbul akibat berbagai hal, memang harus segera ditangani.  Pada anak-anak, luka dapat terjadi cukup sering ya Bunda.  Bisa dihitung bukan, kapan anak-anak bermain tanpa terjatuh dan terluka?  Ternyata memang menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, sebanyak 36,5% cedera terjadi di lingkungan rumah lho Bunda. Ini diurutkan berdasarkan proporsi terbanyak untuk tempat terjadinya cedera.





Penyebab cedera terbanyak menurut riset di atas adalah karena terjatuh yaitu 40,9%. Nah cocok bukan?... Anak-anak biasanya jatuh saat beraktivitas seperti berlari-larian, main bola, bersepeda, atau aktivitas lainnya di playground sekitar lingkungan rumah.  Luka akibat insiden tersebut walau sekecil apapun tidak boleh diabaikan, dan perlu ditangani secara tepat. Langkah pertama dalam proses penyembuhan luka adalah membersihkan luka secara benar untuk mencegah terjadinya infeksi.

Membersihkan luka untuk semua jenis luka adalah langkah yang sangat penting, tidak terkecuali seperti luka tergores, terpotong, luka tubruk, luka terbakar, dan luka terbuka.  Saat kulit terluka, lapisan pelindung kulit sedang rusak dan memungkinkan debu kotoran serta bakteri masuk ke dalam tubuh.  Ini bisa menyebabkan infeksi pada luka.  

Infeksi pada luka dapat menyebabkan kerusakan lebih jauh pada kulit dan penundaaan proses penyembuhan.  Apabila tidak segera dibersihkan, infeksi bisa menyebar ke bagian kulit yang lebih dalam.  Ini dapat mengakibatkan gangguan kondisi kesehatan ke level yang lebih serius. 

Nah, jadi penting sekali lho Bunda untuk segera menangani luka secara tepat sekecil apapun luka itu.  Hal ini wajib kita informasikan kepada anak agar mereka juga paham pentingnya menangani luka secara benar sesegera mungkin.

Bagaimana menangani luka secara benar?  Langkah pertama, luka harus dibersihkan dengan cairan antiseptik pembersih luka. Kedua, luka harus dilindungi dari pengaruh eksternal seperti kotoran dan bakteri, bisa dengan perban atau plester.  Ketiga, lakukan cara aman untuk membantu penyembuhan luka dengan memberikan salep penyembuh luka.


Nah, langkah pertama yang paling penting adalah membersihkan luka.  Inilah tahapan yang penuh drama pada anak-anak kita karena cairan antiseptik pembersih luka pada umumnya meninggalkan rasa perih sesudahnya.  Anak-anak bahkan orang dewasa jadi trauma. 

Kenapa Perih ?

Mengutip pernyataan dr. Adisaputra Ramadhinara, Certified Wound Specialist Physician – seorang dokter spesialis luka bersertifikasi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, ternyata kandungan dalam banyak produk pembersih luka yang dijual bebas mengandung bahan yang bisa menyebabkan terasa perih serta  meninggalkan noda.   



Pembersih luka yang meninggalkan noda tidak menjadi pilihan karena noda akan menutupi luka dengan warna yang bukan warna asli luka tersebut.  Sehingga, keadaan luka yang sebenarnya tidak bisa terlihat secara jelas. Di klink dan rumah sakit, para medis lebih memilih untuk menggunakan obat pembersih luka yang mengandung Polyhexanide (PHMB) sebab tidak meninggalkan noda. PHMB juga tidak berbau dan tidak menimbulkan rasa perih.

Inovasi Hansaplast Spray : Gak Pake Perih

Nah Bunda, saat ini di pasaran sudah tersedia jenis cairan antispetik pembersih luka yang mengandung Polyhexanide (PHMB). Membersihkan luka jadi lebih bersahabat karena Gak Pake Perih lagi. Anak-anak pun jadi terbebas dari trauma. Pembersih luka yang tidak menimbulkan rasa perih ini menjadi inovasi Hansaplast



Bentuk kemasan Hansaplast ini berupa botol mini dengan spray yang menjamin isi botol tetap steril. Botolnya sangat ergonomis untuk digenggam oleh anak-anak sehingga merekapun bisa melakukan sendiri aktifitas membersihkan luka. Acara penanganan luka pun jadi kegiatan yang menyenangkan dengan Hansaplast Spray.  

Bunda pastinya sudah tidak asing lagi bukan dengan merk Hansaplast. Selama ini kita sangat akrab dengan produk plesternya yang selalu disebut pertama kali ketika membutuhkan penutup luka. Eksistensi Hansaplast memang sudah tidak diragukan lagi dalam hal mencegah infeksi.

Inovasi Hansaplast Spray Pembersih Luka dengan bahan aktif PHMB ini sangat membantu saya untuk meyakinkan anak-anak bahwa luka bisa dibersihkan tanpa rasa perih.  Gak Pake Perih.  Upaya saya menanamkan kesadaran pada anak-anak tentang pentingnya mencegah infeksi jadi lebih mudah. Saya pun jadi selalu menyediakan produk Hansaplast Spray di rumah, dan meletakkannya di jangkauan anak-anak. 




Ini dia keunggulan Hansaplast Spray sebagai pembersih luka dibandingkan cairan antiseptik lainnya di pasaran :

1.    Tidak berwarna
Karena cairannya tidak berwarna, maka luka yang sudah dibersihkan dengan Hansaplast Spray akan terlihat sebagaimana mestinya. Proses penyembuhan dan pengeringan luka juga akan mudah untuk diamati karena tidak terhalang oleh warna buatan dari cairan pembersih luka.
 
2.   Tidak berbau
Bau tertentu dari cairan antiseptik secara psikologis juga menimbulkan trauma.  Tanpa bau obat yang menyengat, aktifitas membersihkan luka akan menjadi lebih bersahabat bagi siapa saja. 

3.   Tidak meninggalkan rasa perih
Hansaplast Spray menggunakan bahan aktif PHMB / Polyhexanide/ PolyHexaMethylene Biguanide  yang membantu mencegah dan mengatasi infeksi tanpa rasa perih.  Bahan aktifnya berupa 0,1% Decyl Glucoside Tenside dan 0,04% Polihexanide (PHMB) dalam Larutan Ringer. 

4.    Aman digunakan
Tolerabilitas Hansaplast Spray lebih tinggi, efek samping lebih sedikit dibandingkan dengan zat antiseptik lain.



Bagaimana cara menggunakan Hansaplast Spray Antiseptik?  Mudah sekali, Bunda.  Ketika anak terjatuh dan terluka:
Pertama, langsung semprotkan Hansaplast Spray  dari jarak kurang lebih 10 cm ke seluruh area luka
Kedua, ulangi apabila dibutuhkan, kemudian secara perlahan keringkan area di sekitar luka. 

Nah, mudah sekali kan menangani luka dengan Hansaplast Spray?  Anak-anak juga pasti akan bersemangat mengurus lukanya. Tidak akan terjadi lagi mereka pura-pura menutupi luka dengan pakaian panjang karena takut perih diobati. 

Itu sebabnya, sejak sekarang harus sedia Hansaplast Spray di rumah ya Bunda. 




Bunda semua bisa lebih banyak kepoin tentang Hansaplast Spray di akun Instagram resmi Hansaplast yaitu @Hansaplast_ID dan Facebook Fanpage @HansaplastID ya.  Informasi lebih lanjut juga bisa diikuti di official website www.hansaplast.co.id.  (Opi)

Luka Bersih #GaPakePerih, Bisa Ya?...... Bisa Banget karena pakai #HansaplastID.



Jumat, Agustus 09, 2019

Pekerjaan Tersulit Ibu


Pekerjaan tersulit seorang ibu adalah pekerjaan yang harus dikerjakan saat dipisahkan dari buah hati tercinta. Ada ibu yang tidak setuju?.......
Dari situ, sebuah pelajaran berharga saya petik.  Tentang hari-hari terbaik bersama anak-anak yang pernah terabaikan.  Saat berjauhan, barulah terasa betapa nikmat berkumpul selama ini sering tidak dimanfaatkan dengan baik.  Saya pernah malah, merasa terbeban dengan anak-anak yang selalu apa-apa maunya sama Ibu, sampai-sampai saya tidak punya kesempatan untuk menikmati waktu sendiri. 

Ketika alih tugas dari perusahaan tempat saya bekerja ke sebuah kabupaten membuat seorang Opi harus terpisah dengan keluarga, barulah terasa betapa kemudahan waktu kumpul keluarga sebelumnya sangat berharga. Selautan emas pun tidak sebanding nilainya. 

Sebulan sudah, sejak menerima perintah alih tugas sebagai unsur pimpinan kantor wilayah di sebuah kabupaten yang tidak pernah jadi impian, saya merasakan yang namanya campur baur seperti permen Nano Nano.  Semua rasa ada.  

Pertama, rasa kuatir karena harus terpisah dengan keluarga untuk jangka waktu yang tak tentu.  Kedua, rasa takut karena akan masuk ke lingkungan yang sama sekali baru, yang pastinya akan sangat berbeda dengan lingkungan di kantor pusat.  Ketiga, rasa tak rela karena harus menggeser diri dari zona nyaman. Keempat, rasa bersalah kepada suami karena beliau akan bertambah bebannya menjaga anak-anak.  

Semua rasa itu berseliweran di hati dan pikiran saya, yang selama 18 tahun berkarir selalu berada di kota Metropolitan- Jakarta. 

Efek awal dari perasaan ini sungguh terasa.  Sebulan saya tidak bisa menulis.  Tiap malam rutinitas saya adalah memandangi foto anak-anak, menonton ulang video kebersamaan kami, termasuk video anak sulung ketika sedang adzan di masjid. Lalu mewek ke suami.  Rindu adalah penghuni utama ruang malam di kabupaten perjuangan.  Karawang. 

Bisa dibilang, Karawang itu dekat tapi jauh dari Depok. Jarak 80 km kan ya sebetulnya tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan mobil sekitar 3,5 hingga 4 jam. Cengeng banget ya si Opi sampai mewek begitu cuma pindah lokasi kerja ke Karawang aja…. Belum juga ke Papua hahaha. Sebetulnya yang bikin mewek itu juga karena walaupun dari segi jarak tidak terlalu jauh, tetapi tidak selalu bisa pulang setiap pekan untuk bertemu keluarga.  

Sebabnya? Bisa dibilang kantor wilayah Karawang  adalah mukanya Jawa Barat, sekaligus pusat pertanian dan industri.  Hanya sekedap dari Jakarta dan Bekasi.  Walhasil, kami sering menerima kunjungan baik dari Kementerian maupun Kantor Pusat dan Daerah Jawa Barat. Sebagai unsur pimpinan, adalah bagian dari tanggung jawab kami untuk stand by di wilayah kerja meski pada akhir pekan.  Sungguh tak pernah terbayangkan dalam benak saya, untuk menjalani amanah ini.  

Beruntunglah, suami yang begitu sayang pada saya bersedia datang ke wilayah tugas istrinya di akhir pekan.  Tentunya  bersama anak-anak.  Walaupun terkadang mereka harus menunggu sampai ibunya selesai bertugas untuk bisa bercengkerama dalam waktu yang tidak banyak.  Sungguh nikmat yang patut sangat disyukuri.

Blog www.opiardiani.com pun jadi kosong melompong.  Adaptasi saya di tempat baru tidak memberi ruang kesempatan untuk menulis dengan hati.  Sebetulnya, pekerjaan tidak seberat yang dibayangkan.  Bahkan saya belajar hal-hal baru yang membentuk sikap positif dalam menyelesaikan pekerjaan.  Tetapi, semua jadi terasa sulit setiap teringat anak-anak. Apakah mereka baik-baik saja?  

Biasanya malam hari adalah waktu kami bercengkerama dan mengerjakan tugas sekolah bersama.  Atau sekedar baca buku bareng-bareng, main boneka, dan membuat karya. Mendengarkan curhat anak-anak tentang guru, teman, tetangga, ataupun bibi juga adalah rutinitas sebelum tidur yang mampu melepaskan semua beban sebelum benar-benar terlelap.  

Sebulan berlalu membuat saya pun rindu menuliskan rasa rindu. Harapan saya, tulisan ini bukan sekedar jadi curhat belaka, tapi jadi inspirasi buat ibu bekerja di mana saja berada untuk tidak meremehkan sedikitpun waktu kebersamaan dengan putra-putri tercinta.  Percayalah, itu sangat mahal. Priceless.

Tantangan dan Perjuangan Si Pembelajar 


Tantangan dimulai ketika saya harus memutuskan, maju terus atau menyerah mengundurkan diri. Awalnya saya berpikir akan memilih untuk mundur.  Mungkin lebih baik saya mengundurkan diri dari pekerjaan, pikir saya ketika itu.  Karena, cepat atau lambat saya pasti akan dipromosi ke daerah. Ya walaupun saya ngga pintar pintar amat di kantor, tapi ya saya termasuk golongan karyawati yang tidak pernah melakukan pelanggaran disiplin ataupun sejenisnya.  

Prestasi saya memang tidak secemerlang rekan-rekan seangkatan yang sudah menduduki jabatan jauh lebih tinggi.  Saya termasuk karyawati yang komit untuk dapat melakukan tugas kantor seoptimal mungkin tanpa melanggar aturan kantor sekaligus tetap punya cukup waktu mendidik anak-anak serta melakukan kesenangan/hobby seperti menulis-menyanyi-bersepeda. 

Saya cinta keseimbangan hidup.  Bagi saya jabatan tidak penting, tak ada satu jabatanpun yang saya incar.  Saya merasa cukup dengan gaji yang saya terima, waktu yang ada, dan rasanya semua sempurna.  Nyaman. 

Tanpa disadari, itulah zona nyaman saya. Zona nyaman yang tidak mau saya lepaskan.  Karena begitu nyaman.  Tanpa disadari ya saya berhenti bertumbuh. Lalu, di mana si Perempuan Pembelajar yang selama ini saya gembor-gemborkan ya?....

Saya sempat menangis dua hari dua malam, setelah menerima kabar resmi promosi sebagai wakil pimpinan di kantor wilayah Karawang, Jawa Barat terhitung mulai tanggal 5 Agustus 2019.  Langsung terbayang anak-anak dan suami. Bagaimana dengan mereka nanti?  Saya tidak tahu berapa lama akan bertugas di Karawang, sehingga pertimbangan untuk membawa atau tidak membawa anak-anak jadi sangat serius.  

Tapi ya menangis kan tidak menyelesaikan masalah yang saya hadapi.  Dengan dukungan suami, Ibu, dan kakak adik, akhirnya saya memilih untuk menjalani amanah ini. Saya berhak memilih, dan saya pun memilih untuk melakukan yang terbaik dalam amanah ini sehingga kans untuk bekumpul kembali dengan keluarga akan semakin terbuka. Jika prestasi bagus, akan sangat mungkin ditarik kembali ke kantor pusat.  

Berangkatlah saya ke kabupaten perjuangan, untuk mengenyam pelajaran hidup yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan di Jakarta, kota tempat impian kelak saya akan kembali.  Kembali berkumpul dengan keluarga dan anak-anak yang telah lebih mandiri, pulang  sebagai ibu yang lebih matang.

Survival Ala Opi 


Selanjutnya, bagaimana supaya bisa survive? Pertama saya menanamkan mindset, bahwa amanah ini mengandung hikmah hidup yang bagus bagi saya dan anak-anak.  Hikmahnya, Tuhan memberi kesempatan anak-anak saya untuk belajar lebih mandiri ketika berjauhan dengan ibunya. Si kakak jadi lebih care kepada adik. Ayah jadi lebih ngayom.  Ibu pun jadi lebih tegar.  

Karena memang anak-anak masih dalam usia yang membutuhkan banyak bimbingan dan arahan orang tua, saya dan suami jadi tertantang untuk bisa melakukannya dari jarak jauh dengan fasilitas komunikasi yang ada. 

Sejak awal, kami termasuk orang tua yang tidak memberikan gadget kepada anak kecuali di akhir pekan dengan pendampingan orang tua.  Di rumah, kami juga tidak menggunakan siaran televisi sejak enam tahun terakhir.  Dan ini tetap berjalan meskipun ibunya pindah tugas ke daerah.  

Sebagai alat komunikasi visual ibu dan anak, kami memilih smart watch yang bisa digunakan anak-anak untuk telepon, berkirim pesan suara, tulisan, gambar maupun video call dengan ibunya. Smart watch tersebut juga digunakan sebagai penanda lokasi karena dilengkapi dengan GPS.  Sehingga, saya bisa tetap memantau dan berkomunikasi dengan anak-anak sekalipun berjauhan. 

Smart watch tersebut diamankan oleh aplikasi sehingga hanya anggota keluarga yang diapprove oleh admin saja yang bisa berkomunikasi dengan anak-anak.  Saya, adalah adminnya.  Dari jauh, saya memegang penuh kontrol ini.  Apabila smart watch tersebut sampai hilang, pun orang yang menemukan atau mencurinya tidak dapat menggunakannya karena kontrol admin tetap ada pada saya.  

Teknologi ini memang sengaja kami pilih untuk jalan komunikasi paling aman, karena anak-anak tidak kami perkenankan memiliki smartphone sebelum mereka cukup umur.  

Memang, komunikasi visual dan suara via smart watch tidak dapat sekaligus menggantikan komunikasi pertemuan langsung.  Tetapi, setidaknya saya dapat meyakini bahwa kondisi anak-anak baik-baik saja.  Masih bisa mendengarkan curhat mereka, melihat ekspresi wajah lucu, dan mengobati kangen karena belum dapat bertemu langsung.  

Banyak hal patut disyukuri bahwa anak-anak walaupun sempat protes dan nangis, perlahan-lahan bisa terkondisikan untuk menjalani perjuangan awal kemandirian.  Ada pelajaran hidup tentang mengelola rasa kecewa untuk kami sekeluarga.  Dan ini kami yakini akan membentuk sikap hidup yang lebih positif.  Pastinya.  

Survival saya sangat ditentukan oleh sifat pengayom suami yang dominan.  Dukungan beliau dalam menciptakan kondisi yang kondusif sangat besar.  Beliau menceritakan masa kecilnya kepada anak-anak, tentang bagaimana dulu kakek dan nenek juga berjuang karena harus terpisah oleh jarak.  Ayah mereka juga merasakan saat duduk di bangku Sekolah Dasar hanya bertemu ibunya sepekan sekali.  Namun karena meyakini itu hanya untuk sementara dan selalu berjuang untuk berkumpul kembali, maka justru membuat anak-anak menjadi belajar mandiri.  

Suami pun mendukung saya untuk menjalani amanah ini dengan mantap.  “Yakinilah bahwa ini cara Tuhan untuk memberi kesempatan kamu belajar hal yang belum ditemui sebelumnya.  Kan katanya Perempuan Pembelajar tho…belajar sepanjang hayat di Universitas Kehidupan. Belajar memimpin, mengatur strategi untuk lingkup yang lebih luas, menangani personil yang bermacam karakter, sampai belajar empati terhadap sisi lain kehidupan di daerah. Ayo, kamu pasti bisa.  Jadikan ini pijakan untuk maju menjadi pribadi yang  lebih matang dan keren.”  Begitu pesan suami. 

Begitupun orang tua, mertua, kakak-kakak dan adik semuanya memberikan dukungan supaya maju.  Terutama Ibu dan kakak laki-laki saya.  Ibu berpesan, pastilah berat meninggalkan anak-anak. Tapi cobalah untuk semeleh ati.  Semeleh kuwi entheng nanging abot, abot nanging ngentengake.  Berserah diri itu ringan tapi berat, berat tapi meringankan.  Begitu kata petuah di tanah Jawa.  Berserah diri itu menyerahkan segalanya kepada Tuhan sambil terus berikhtiar dan berdoa untuk harapan terbaik.  Di dalamnya ada pembelajaran ikhlas dan syukur yang teramat dalam.  

Berbekal itu semua, kemampuan saya untuk survive rasanya menjadi berlipat ganda.  Rasanya.  Padahal mungkin ya kemampuan saya segitu aja.  Tapi dukungan mental yang besar dari keluarga membuat saya yakin bahwa saya sedang menjalani hal yang berharga bagi keluarga. Karenanya saya harus survive. Harus.  Pun dalam menghadapi pekerjaan tersulit.  

Keluarga pun bergantian menemani anak-anak saya ketika saya bertugas. Ikatan kasih sayang kami sebagai anggota keluarga besar pun jadi semakin terasa. Semua ini patut disyukuri, meskipun kami bukanlah keluarga yang berkelimpahan uang atau harta benda.  Tapi ikatan kasih sayang yang tertanam dan terpelihara adalah rezeki bagi keluarga kami.  Rezeki yang patut disyukuri selalu. 

Harapan Saya Ke Depan 


Sebulan sudah saya di sini, di kabupaten perjuangan.  Hidup dalam lingkup yang sangat berbeda dengan belasan tahun sebelumnya.  Fasilitas seadanya, semua serba seadanya, membuat saya belajar lebih mensyukuri hidup. Lebih empati terhadap perjuangan masing-masing personil yang ada di sekeliling saya.  Lebih positif dalam menyikapi ragam hal, dari yang membuat pening sampai yang membuat mual.  Lebih bijak untuk bersikap terhadap siapa saja.  Lebih bertekad untuk mampu meringankan beban orang lain sekalipun hanya dengan senyum atau tutur kata yang adem.  Lebih, lebih, dan lebih lagi.  Untuk lebih banyak hal.

Harapan yang tumbuh subur merekah di dalam hati seiring dengan langkah bukan cuma satu dua. Banyak. Banyak sekali seperti rumpun bunga di taman yang terindah, bersemi seiring berjalannya waktu.  Harapan itu adalah semoga perjuangan ini tak pernah sia-sia, amanah ini dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya, tumbuh sejalan dengan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.  

Harapan agar anak-anak menjadi semakin mandiri dan mampu belajar berjuang berpadu dengan harapan agar saya menjadi ibu yang lebih pandai bersyukur serta instrospeksi diri.  Di ujungnya, harapan itu mengerucut menjadi satu harapan terindah yaitu kembali berkumpul dengan anak-anak dan suami tercinta dalam keridhoan Allah SWT.  

Saya meyakini, harapan itu akan selalu ada, layak diihktiarkan untuk terwujud melalui perjuangan dan doa. Pada waktu yang ditetapkan Allah SWT, harapan itu akan menjadi nyata.  

Pekerjaan tersulit seorang ibu adalah pekerjaan yang harus dikerjakan saat dipisahkan dari buah hati tercinta. Ada ibu yang tidak setuju?.......

Saya salah satu ibu yang setuju dengan pernyataan itu.  Dan saya juga termasuk ibu yang percaya bahwa saya mampu menjalani pekerjaan tersulit itu sebagai bagian perjuangan melakukan yang terbaik demi dapat berkumpul kembali dengan kesayangan…… Semoga …… Gusti Allah boten sare (Opi) 

Kamis, Juni 27, 2019

Buku Solilokui Sepeda: Sebuah Kado untuk Hidup Berkualitas

Bersepeda bukan hanya indah untuk rekereasi, olahraga, transportasi, ataupun bersenang-senang (hobi). Bersepeda itu bahkan jalan yang indah untuk merdeka, membebaskan jiwa. Sekaligus, wahana untuk melatih kesadaran agar lebih tangguh dan sabar menjalani kehidupan yang kadang tak sesuai keinginan.

Semua itu dikemas bernas oleh Purwanto Setiadi (Mas Pur) dalam buku Solilokui Sepeda, sebagai kado bagi pesepeda dan hidup yang lebih berkualitas.   

Buku ini memuat percakapan akrab penulisnya (Mas Pur) dengan diri sendiri, sepeda, dan beragam udara luar. Sebuah meditasi dan refleksi yang langka. Bisa dibilang begitu karena hidup yang serba bergegas sudah menggerus waktu untuk bercakap dengan jiwa.   

Melalui buku ini penulis hendak menyampaikan bahwa bersepeda telah mengajari  manusia untuk menyeimbangkan semua aspek kehidupan dan lingkungan.  Di situ ada kekuatan dalam diri sendiri untuk mencapai tujuan hidup secara mental dan fisik.  Ada start, ada finish. Artinya, berani mengayuh selangkah, berani menyelesaikan hingga tuntas di finish, dengan kemenangan. Daleeeeeem ya….

Bagi saya yang bersepeda sebatas mengalihkan diri dari jengah, buku ini menggoda dan menginspirasi.  Saya belum pernah bersepeda jauh-jauh, tapi sering terkagum-kagum dan ikut merasakan kesenangan ketika kakak laki-laki semata wayang membagikan kisahnya bertualang dengan sepeda. Menjelajah alam, menempuh perjalanan, dengan sepeda. 



Kakak laki-laki saya bekerja sebagai seorang designer grafis di sebuah group media nasional dan kebetulan berteman dengan Mas Pur penulis buku ini.  Mereka juga sering gowes bareng komunitasnya. Buku ini pun dibuatkan cover dan lay out-nya oleh kakak saya. Trilogi sepeda-buku-kopi memang menyatu dalam kehidupan mereka.  

Nah, kalau saya sih tinggal membaca saja bukunya.  Menikmati dengan santai dan berbahagia.  Tulisan mas Pur yang jernih dan rapi, memikat saya walau dibaca tak berurutan.  Menjejaki paragraf demi paragraf yang ditulisnya seperti ikut tersenyum,-tertawa- bahkan tergelitik mengulum pengalaman Mas Pur bersama sahabat sejatinya – sepeda. 



164 halaman yang di tulis Mas Pur menunjukkan kepiawaiannya meramu bacaan dan pengalaman menjadi menu baru yang adem di hati. Bacaan seperti inilah yang cocok sebagai suplemen otak dan jiwa.  Ya, jiwa kita pun diajak membaca, tersenyum, dan bersyukur.  

Mas Pur menulis buku ini dengan terstruktur dalam tiga bagian.  Di bagian pertama, 15 tulisannya memuat pengalaman tentang diri, sepeda, dan kehidupan.  10 tulisan di bagian kedua secara khusus menyajikan kisahnya dan sepeda sebagai alat transportasi. Pernak pernik kisah tentang bersepeda ke kantor lalu ditulis Mas Pur di bagian ketiga.  Ada 9 tulisan yang bisa kita nikmati tentang bike to work yang ngehits itu.




Bagian terakhir dari buku ini memuat cerita perjalanan bersepeda jarak jauh yang seru dan menggoda. 9 tulisan di bagian terakhir ini seperti tangan ramah yang melambai-lambai mengajak pembaca untuk ikut menikmati senangnya bersepeda. 






Memberdayakan Perempuan dengan Sepeda


Saya tidak pernah membayangkan bahwa sepeda dapat memberdayakan perempuan di tempat-tempat di belahan bumi ini.  Mas Pur menuliskannya.  Perempuan dan anak-anak pengungsi dari negara konflik seperti Afganistan dan Suriah, merasakan artinya sepeda yang memberdayakan hidup mereka.  Di Jerman, mereka dibantu sukarelawan dan Bikeygees (yang didirikan oleh Annette Kruger).  Para perempuan pengungsi ini diajari mengendarai sepeda dan kursus singkat perbaikan ringan serta pengetahuan tentang peraturan lalu lintas di Jerman.  Dari donasi, mereka mendapatkan sepeda, helm, serta perkakas untuk pemeliharaan dan kunci pengaman.  


500 perempuan pengungsi itupun merasakan hidup yang lebih berdaya setelah terampil bersepeda.  Perlahan-lahan remaja perempuan mulai memperlihatkan rasa percaya diri.  Emily, gadis pengungsi berusia 22 tahun yang tinggal di Jerman mengungkapkan terima kasihnya atas sepeda yang memberdayakan.  Begini tulisnya :” Pengalaman ini memberi saya perasaan bebas dan percaya diri.  Maksud saya, ini pengalaman yang sangat indah, bisa berada dalam keadaan mengendalikan diri dan berkonsentrasi di atas dua roda.  Saya merasa bagaikan burung di angkasa.”  Wow!



Para perempuan dari negara konflik ternyata memiliki harapan yang besar untuk menjelang ke dunia luar dan menyampaikan ide mereka sendiri.  Bukan cuma ide suami atau saudara lelaki mereka. Perempuan ingin berdaya dan didengar.  Siapa yang menyangka, diawali dengan belajar bersepeda dan keluar rumah dengan bersepeda para perempuan inipun telah merasa lebih berdaya. Mengesankan.   

Bersepeda sebagai Sarana Mindfulness


Mindfulness adalah kemampuan untuk mengarahkan pikiran ke tujuan yang kita inginkan dan sekaligus “hadir” bersama dengan apa pun yang sedang terjadi saat itu.  Di masa ketika orang pada umumnya cenderung autopilot, mindfulness menyediakan cara yang sudah terbukti secara ilmiah untuk keluar dari situasi itu.  



Berbeda dengan keadaan sadar saja, mindfulness bukanlah duduk berdiam diri dan bersantai, atau sesuatu yang menghabiskan waktu seharian.  Bisa dibilang mindfulness adalah praktek meditasi secara aktif, yang bisa dilakukan dengan yoga, berjalan, ataupun bersepeda.  Ini saya setuju sekali.  Sebab sayapun pernah melakukannya. Di pagi atau sore hari, saya kayuh sepeda tanpa tujuan, kadang hanya berputar-putar di kompleks perumahan.  

Suatu hari pernah saya merasa jenuh bekerja di tempat yang sekarang, dan dengan bekal ijazah S2 yang saya miliki serta pengalaman pernah mengajar di universitas, saya beranikan diri melamar sebagai dosen di Universitas Negeri.  Setelah melalui proses yang panjang , tes demi tes yang melelahkan dan menghabiskan jatah cuti saya, endingnya saya tidak diterima.  
Sore harinya setelah pengumuman itu, saya mengeluarkan sepeda, mengayuhnya jauh jauh tanpa tujuan.  Saya menyatukan pikiran hanya pada menikmati kayuhan pedal dan situasi sekeliling yang hadir bersama dengan diri saya.  Sepulangnya, saya menjadi lebih tenang dan mampu menerima kenyataan.  

Benar adanya jika Mas Pur menuliskan bahwa bersepeda bisa manjadi salah satu alternatif meditasi aktif yang menyejukkan jiwa.  Saya pun mengalaminya.  Kayuhan pedal bisa melupakan kesedihan, dan mengantarkan kita pada kekuatan baru untuk menjelang pada kenyataan segetir apapun. 


Bersepeda tanpa batas usia


Siapa bilang bersepeda hanya untuk para orang muda? Oo tidak.  Yang bilang begitu, harus baca dulu uraian Mas Pur di buku ini. Bahkan seorang mantan pengusaha pakaian dalam perempuan berusia 97 tahun dari Denmark, Thorkild Thim, hanya punya satu kendaraan pribadi seumur hidupnya : sepeda. 

Thorkild dan Ole Kassow -rekannya- mampu menyebabkan para pensiunan lanjut usia dan mereka yang tinggal di rumah jompo untuk keluar bersepeda di tengah udara segar.  Menyusuri jalan-jalan yang dulu pernah mereka lalui atau yang baru akan mereka temukan.  Gerakan ini meluas, dan dinamakan  Cycling Without Age (Bersepeda Tanpa Usia), melibatkan sekian banyak orang dengan ragam profesi mulai dari tukang ledeng hingga pengacara.  Dengan sistem lisensi gratis, gerakan ini pun menyebar ke berbagai penjuru Eropa.  

Bersepeda tak pandang usia. Tua muda bisa melakukannya, asalkan mau. Dan manfaatnya bagi kesehatan tidak diragukan lagi.  Selain jogging, bersepeda bisa dilakukan oleh hampir semua usia. 

Inilah Pasangan serasi : sepeda dan kopi !!


Bukan kebetulan nampaknya jika para pesepeda juga adalah para pencinta kopi.  Persis seperti kakak saya.  Jika pergi gowes bersama teman-temannya, di belakang sepedanya teronggok tas khusus berisi perangkat mengopi.  Bersepeda hingga ke kebun kopi di Pengalengan untuk memperdalam pelajaran kopi mengopi juga menjadi hal asyik yang langka. Menyusuri kota-kota apik di Jawa Tengah dengan sepedanya, kakak saya lalu menyambangi setiap tempat mengopi yang unik. Bahkan ia pergi ke Macau membawa sepeda lipat dan perangkat mengopi dalam koper.  Di sana dia menjelajah dengan sepeda dari satu kedai kopi ke kedai lainnya.  



Dalam bukunya Mas Pur menuliskan tentang Ted King, seorang pembalap sepeda profesional dari Amerika.  Ted bilang begini:”Sepeda dan kopi itu pasangan yang selaras. Beberapa jam awal dari bersepeda itu selalu distimulasi secangkir kopi di pagi hari.  Bersepeda santai ke kedai kopi terdekat merupakan standar di hari yang malas, tak peduli apakah anda di Amerika, Australia, Italia, Spanyol, atau Belgia.  Dari para amatir hingga profesional, menyaksikan sebuah sepeda balap yang keren diparkir di luar kedai kopi sungguh bisa dipahami.” 

Wow. Mantap ya.

Tentu saja, bukan hanya pembalap profesional yang punya hubungan erat dengan kopi.  Russ Roca, pendiri The Path Less Pedaled, website yang mempromosikan dan mengadvokasikan kegiatan bersepeda misalnya.  Mengaku sebagai pecandu kopi, Roca tak pernah berhenti mencari alat seduh kopi yang sempurna untuk dibawa touring dan kemping.  Dia menuliskan kesan setiap kali menemukan sesuatu yang baru.  

Apakah Anda termasuk penggemar kopi yang suka bersepeda?  Atau pesepeda yang gemar mengopi?....

Sepeda dan Semangat Perlawanan untuk Merdeka


Menurut Mas Pur, bersepeda bukan soal sepeda yang bagus, perlengkapan yang update, dan aksesoris yang lengkap, merk dan sebagainya.  Bersepeda itu, apapun bentuk perangkatnya-membebaskan. Entah itu dengan sepeda buruk rupa atau Brompton yang super keren.  Kisah pembebasan bagaikan keluar dari bui ini ditulis Mas Pur dengan epik.  Ya, bebas dari kerangkeng mobil, kotak mesin berjalan yang diumpamakan seperti penjara.  



Mas Pur meraih kemerdekaannya dengan meninggalkan bermobil dan beralih bersepeda.  Ia menuliskan: “Saya memperoleh kembali banyak hal yang hilang dari masa masih mengemudikan mobil sendiri ke mana-mana sambil acuh tak acuh.  Bersepeda menghadapkan saya langsung dengan segala sesuatu yang ada di sepanjang perjalanan- rumah-rumah tetangga; jerit dan tawa anak-anak serta celotehan ibu-ibu di perkampungan tak jauh dari kompleks pemukiman tempat saya tinggal.; kebun dan tanah lapang; rimbun dedaunan dari barisan pohon di kanan-kiri jalan raya di depan sebuah equestrian serta kilatan sinar matahari di permukaan air situ beberapa puluh meter di sebelahnya; kerumunan kendaraan yang terjebak kemacetan di antara kepulan asap knalpot dan debu yang beterbangan; sengatan matahari di musim kemarau; guyuran air hujan……”

Namun, tidak ketinggalan dari semua itu Mas Pur juga bisa merasakan bagaimana dengan kemerdekaan yang ada, jantungnya berdegup, perlahan maupun kencang, dan kegembiraan jadi melambung, tergantung seberapa pelan atau cepat pedal dikayuh. 

Bagi siapapun yang suka bersepeda, berniat belajar bersepeda, ataupun hanya mengetahui sepeda dari sebuah impian, layak membaca buku ini. Buku ini akan menjadi sahabat yang setia untuk dibuka kembali saat hujan di luar sana membuat kita nyaman di dalam rumah yang hangat, menikmati teh atau kopi, dan bermimpi tentang percakapan diri dengan sahabat baru- sepeda. (Opi). 


Informasi Buku 

Judul : Soli  lokui Sepeda 
Penulis : Purwanto Setiadi 
Copyright 2018 
xxvi + 164 halaman 
Kulit muka dan tata letak Aji Yuliarto 
Foto Sampul Purwanto Setiadi
Foto penulis Dhody Kincahyadi 
Dicetak oleh Buring Printing Cetakan pertama Januari 2019 
Harga Rp 75.000,- 

Back to Top