Kamis, Juni 27, 2019

Buku Solilokui Sepeda: Sebuah Kado untuk Hidup Berkualitas

Bersepeda bukan hanya indah untuk rekereasi, olahraga, transportasi, ataupun bersenang-senang (hobi). Bersepeda itu bahkan jalan yang indah untuk merdeka, membebaskan jiwa. Sekaligus, wahana untuk melatih kesadaran agar lebih tangguh dan sabar menjalani kehidupan yang kadang tak sesuai keinginan.

Semua itu dikemas bernas oleh Purwanto Setiadi (Mas Pur) dalam buku Solilokui Sepeda, sebagai kado bagi pesepeda dan hidup yang lebih berkualitas.   

Buku ini memuat percakapan akrab penulisnya (Mas Pur) dengan diri sendiri, sepeda, dan beragam udara luar. Sebuah meditasi dan refleksi yang langka. Bisa dibilang begitu karena hidup yang serba bergegas sudah menggerus waktu untuk bercakap dengan jiwa.   

Melalui buku ini penulis hendak menyampaikan bahwa bersepeda telah mengajari  manusia untuk menyeimbangkan semua aspek kehidupan dan lingkungan.  Di situ ada kekuatan dalam diri sendiri untuk mencapai tujuan hidup secara mental dan fisik.  Ada start, ada finish. Artinya, berani mengayuh selangkah, berani menyelesaikan hingga tuntas di finish, dengan kemenangan. Daleeeeeem ya….

Bagi saya yang bersepeda sebatas mengalihkan diri dari jengah, buku ini menggoda dan menginspirasi.  Saya belum pernah bersepeda jauh-jauh, tapi sering terkagum-kagum dan ikut merasakan kesenangan ketika kakak laki-laki semata wayang membagikan kisahnya bertualang dengan sepeda. Menjelajah alam, menempuh perjalanan, dengan sepeda. 



Kakak laki-laki saya bekerja sebagai seorang designer grafis di sebuah group media nasional dan kebetulan berteman dengan Mas Pur penulis buku ini.  Mereka juga sering gowes bareng komunitasnya. Buku ini pun dibuatkan cover dan lay out-nya oleh kakak saya. Trilogi sepeda-buku-kopi memang menyatu dalam kehidupan mereka.  

Nah, kalau saya sih tinggal membaca saja bukunya.  Menikmati dengan santai dan berbahagia.  Tulisan mas Pur yang jernih dan rapi, memikat saya walau dibaca tak berurutan.  Menjejaki paragraf demi paragraf yang ditulisnya seperti ikut tersenyum,-tertawa- bahkan tergelitik mengulum pengalaman Mas Pur bersama sahabat sejatinya – sepeda. 



164 halaman yang di tulis Mas Pur menunjukkan kepiawaiannya meramu bacaan dan pengalaman menjadi menu baru yang adem di hati. Bacaan seperti inilah yang cocok sebagai suplemen otak dan jiwa.  Ya, jiwa kita pun diajak membaca, tersenyum, dan bersyukur.  

Mas Pur menulis buku ini dengan terstruktur dalam tiga bagian.  Di bagian pertama, 15 tulisannya memuat pengalaman tentang diri, sepeda, dan kehidupan.  10 tulisan di bagian kedua secara khusus menyajikan kisahnya dan sepeda sebagai alat transportasi. Pernak pernik kisah tentang bersepeda ke kantor lalu ditulis Mas Pur di bagian ketiga.  Ada 9 tulisan yang bisa kita nikmati tentang bike to work yang ngehits itu.




Bagian terakhir dari buku ini memuat cerita perjalanan bersepeda jarak jauh yang seru dan menggoda. 9 tulisan di bagian terakhir ini seperti tangan ramah yang melambai-lambai mengajak pembaca untuk ikut menikmati senangnya bersepeda. 






Memberdayakan Perempuan dengan Sepeda


Saya tidak pernah membayangkan bahwa sepeda dapat memberdayakan perempuan di tempat-tempat di belahan bumi ini.  Mas Pur menuliskannya.  Perempuan dan anak-anak pengungsi dari negara konflik seperti Afganistan dan Suriah, merasakan artinya sepeda yang memberdayakan hidup mereka.  Di Jerman, mereka dibantu sukarelawan dan Bikeygees (yang didirikan oleh Annette Kruger).  Para perempuan pengungsi ini diajari mengendarai sepeda dan kursus singkat perbaikan ringan serta pengetahuan tentang peraturan lalu lintas di Jerman.  Dari donasi, mereka mendapatkan sepeda, helm, serta perkakas untuk pemeliharaan dan kunci pengaman.  


500 perempuan pengungsi itupun merasakan hidup yang lebih berdaya setelah terampil bersepeda.  Perlahan-lahan remaja perempuan mulai memperlihatkan rasa percaya diri.  Emily, gadis pengungsi berusia 22 tahun yang tinggal di Jerman mengungkapkan terima kasihnya atas sepeda yang memberdayakan.  Begini tulisnya :” Pengalaman ini memberi saya perasaan bebas dan percaya diri.  Maksud saya, ini pengalaman yang sangat indah, bisa berada dalam keadaan mengendalikan diri dan berkonsentrasi di atas dua roda.  Saya merasa bagaikan burung di angkasa.”  Wow!



Para perempuan dari negara konflik ternyata memiliki harapan yang besar untuk menjelang ke dunia luar dan menyampaikan ide mereka sendiri.  Bukan cuma ide suami atau saudara lelaki mereka. Perempuan ingin berdaya dan didengar.  Siapa yang menyangka, diawali dengan belajar bersepeda dan keluar rumah dengan bersepeda para perempuan inipun telah merasa lebih berdaya. Mengesankan.   

Bersepeda sebagai Sarana Mindfulness


Mindfulness adalah kemampuan untuk mengarahkan pikiran ke tujuan yang kita inginkan dan sekaligus “hadir” bersama dengan apa pun yang sedang terjadi saat itu.  Di masa ketika orang pada umumnya cenderung autopilot, mindfulness menyediakan cara yang sudah terbukti secara ilmiah untuk keluar dari situasi itu.  



Berbeda dengan keadaan sadar saja, mindfulness bukanlah duduk berdiam diri dan bersantai, atau sesuatu yang menghabiskan waktu seharian.  Bisa dibilang mindfulness adalah praktek meditasi secara aktif, yang bisa dilakukan dengan yoga, berjalan, ataupun bersepeda.  Ini saya setuju sekali.  Sebab sayapun pernah melakukannya. Di pagi atau sore hari, saya kayuh sepeda tanpa tujuan, kadang hanya berputar-putar di kompleks perumahan.  

Suatu hari pernah saya merasa jenuh bekerja di tempat yang sekarang, dan dengan bekal ijazah S2 yang saya miliki serta pengalaman pernah mengajar di universitas, saya beranikan diri melamar sebagai dosen di Universitas Negeri.  Setelah melalui proses yang panjang , tes demi tes yang melelahkan dan menghabiskan jatah cuti saya, endingnya saya tidak diterima.  
Sore harinya setelah pengumuman itu, saya mengeluarkan sepeda, mengayuhnya jauh jauh tanpa tujuan.  Saya menyatukan pikiran hanya pada menikmati kayuhan pedal dan situasi sekeliling yang hadir bersama dengan diri saya.  Sepulangnya, saya menjadi lebih tenang dan mampu menerima kenyataan.  

Benar adanya jika Mas Pur menuliskan bahwa bersepeda bisa manjadi salah satu alternatif meditasi aktif yang menyejukkan jiwa.  Saya pun mengalaminya.  Kayuhan pedal bisa melupakan kesedihan, dan mengantarkan kita pada kekuatan baru untuk menjelang pada kenyataan segetir apapun. 


Bersepeda tanpa batas usia


Siapa bilang bersepeda hanya untuk para orang muda? Oo tidak.  Yang bilang begitu, harus baca dulu uraian Mas Pur di buku ini. Bahkan seorang mantan pengusaha pakaian dalam perempuan berusia 97 tahun dari Denmark, Thorkild Thim, hanya punya satu kendaraan pribadi seumur hidupnya : sepeda. 

Thorkild dan Ole Kassow -rekannya- mampu menyebabkan para pensiunan lanjut usia dan mereka yang tinggal di rumah jompo untuk keluar bersepeda di tengah udara segar.  Menyusuri jalan-jalan yang dulu pernah mereka lalui atau yang baru akan mereka temukan.  Gerakan ini meluas, dan dinamakan  Cycling Without Age (Bersepeda Tanpa Usia), melibatkan sekian banyak orang dengan ragam profesi mulai dari tukang ledeng hingga pengacara.  Dengan sistem lisensi gratis, gerakan ini pun menyebar ke berbagai penjuru Eropa.  

Bersepeda tak pandang usia. Tua muda bisa melakukannya, asalkan mau. Dan manfaatnya bagi kesehatan tidak diragukan lagi.  Selain jogging, bersepeda bisa dilakukan oleh hampir semua usia. 

Inilah Pasangan serasi : sepeda dan kopi !!


Bukan kebetulan nampaknya jika para pesepeda juga adalah para pencinta kopi.  Persis seperti kakak saya.  Jika pergi gowes bersama teman-temannya, di belakang sepedanya teronggok tas khusus berisi perangkat mengopi.  Bersepeda hingga ke kebun kopi di Pengalengan untuk memperdalam pelajaran kopi mengopi juga menjadi hal asyik yang langka. Menyusuri kota-kota apik di Jawa Tengah dengan sepedanya, kakak saya lalu menyambangi setiap tempat mengopi yang unik. Bahkan ia pergi ke Macau membawa sepeda lipat dan perangkat mengopi dalam koper.  Di sana dia menjelajah dengan sepeda dari satu kedai kopi ke kedai lainnya.  



Dalam bukunya Mas Pur menuliskan tentang Ted King, seorang pembalap sepeda profesional dari Amerika.  Ted bilang begini:”Sepeda dan kopi itu pasangan yang selaras. Beberapa jam awal dari bersepeda itu selalu distimulasi secangkir kopi di pagi hari.  Bersepeda santai ke kedai kopi terdekat merupakan standar di hari yang malas, tak peduli apakah anda di Amerika, Australia, Italia, Spanyol, atau Belgia.  Dari para amatir hingga profesional, menyaksikan sebuah sepeda balap yang keren diparkir di luar kedai kopi sungguh bisa dipahami.” 

Wow. Mantap ya.

Tentu saja, bukan hanya pembalap profesional yang punya hubungan erat dengan kopi.  Russ Roca, pendiri The Path Less Pedaled, website yang mempromosikan dan mengadvokasikan kegiatan bersepeda misalnya.  Mengaku sebagai pecandu kopi, Roca tak pernah berhenti mencari alat seduh kopi yang sempurna untuk dibawa touring dan kemping.  Dia menuliskan kesan setiap kali menemukan sesuatu yang baru.  

Apakah Anda termasuk penggemar kopi yang suka bersepeda?  Atau pesepeda yang gemar mengopi?....

Sepeda dan Semangat Perlawanan untuk Merdeka


Menurut Mas Pur, bersepeda bukan soal sepeda yang bagus, perlengkapan yang update, dan aksesoris yang lengkap, merk dan sebagainya.  Bersepeda itu, apapun bentuk perangkatnya-membebaskan. Entah itu dengan sepeda buruk rupa atau Brompton yang super keren.  Kisah pembebasan bagaikan keluar dari bui ini ditulis Mas Pur dengan epik.  Ya, bebas dari kerangkeng mobil, kotak mesin berjalan yang diumpamakan seperti penjara.  



Mas Pur meraih kemerdekaannya dengan meninggalkan bermobil dan beralih bersepeda.  Ia menuliskan: “Saya memperoleh kembali banyak hal yang hilang dari masa masih mengemudikan mobil sendiri ke mana-mana sambil acuh tak acuh.  Bersepeda menghadapkan saya langsung dengan segala sesuatu yang ada di sepanjang perjalanan- rumah-rumah tetangga; jerit dan tawa anak-anak serta celotehan ibu-ibu di perkampungan tak jauh dari kompleks pemukiman tempat saya tinggal.; kebun dan tanah lapang; rimbun dedaunan dari barisan pohon di kanan-kiri jalan raya di depan sebuah equestrian serta kilatan sinar matahari di permukaan air situ beberapa puluh meter di sebelahnya; kerumunan kendaraan yang terjebak kemacetan di antara kepulan asap knalpot dan debu yang beterbangan; sengatan matahari di musim kemarau; guyuran air hujan……”

Namun, tidak ketinggalan dari semua itu Mas Pur juga bisa merasakan bagaimana dengan kemerdekaan yang ada, jantungnya berdegup, perlahan maupun kencang, dan kegembiraan jadi melambung, tergantung seberapa pelan atau cepat pedal dikayuh. 

Bagi siapapun yang suka bersepeda, berniat belajar bersepeda, ataupun hanya mengetahui sepeda dari sebuah impian, layak membaca buku ini. Buku ini akan menjadi sahabat yang setia untuk dibuka kembali saat hujan di luar sana membuat kita nyaman di dalam rumah yang hangat, menikmati teh atau kopi, dan bermimpi tentang percakapan diri dengan sahabat baru- sepeda. (Opi). 


Informasi Buku 

Judul : Soli  lokui Sepeda 
Penulis : Purwanto Setiadi 
Copyright 2018 
xxvi + 164 halaman 
Kulit muka dan tata letak Aji Yuliarto 
Foto Sampul Purwanto Setiadi
Foto penulis Dhody Kincahyadi 
Dicetak oleh Buring Printing Cetakan pertama Januari 2019 
Harga Rp 75.000,- 

Jumat, Juni 21, 2019

Liku-liku Blogger Karyawati


“Mba Opi, gimana sih membagi waktu antara pekerjaan kantor, kegiatan nulis blog, dan urusan keluarga?  Kayaknya enak banget liat Mba Opi udah gajian dari kantor masih dapat duit dari nulis gitu. Keliatannya kaya enjoy banget ngga ada beban-bebannya, santai gitu…., anak-anaknya juga keliatan keurus,” tanya beberapa teman, masing-masing dalam kesempatan yang berbeda. 

Saya langsung berucap syukur, “Alhamdulillah.” Iya, ngga nyangka kalau orang lain melihatnya seperti itu.  Ya senang, sekaligus terharu.  Kalau soal dilihat dari gajian ya memang tiap bulan saya terima gaji dari kerja kantoran.  Hanya kadang-kadang saja hobi nulis dan cuap-cuap mengantar rizki ke rekening, yang tak pernah terlalu saya harap-harapkan. Motivasinya memang untuk membahagiakan diri dengan berekspresi lewat tulisan dan cuap-cuap, ya Alhamdulillah banget juga terwujud dalam bentuk materi. Allah Maha Baik.

Pertanyaan serupa bukan sekali dua kali saya terima. Makanya, saya tergerak untuk menuliskan topik liku liku blogger karyawati versi Novi Ardiani. Semoga aja ngga ngebosenin yah…. ( **jiaaaa)



Jika mau jujur, aktivitas blogging yang saya lakukan tidak seintens teman-teman blogger ngehits di sekeliling saya lho. Ngehits maksudnya? Ya, mereka yang ngehits tu jauh lebih sering juga konsisten nulis di blog baik artikel organik maupun paid post.  Mungkin sepekan bisa lebih dari tiga artikel. Tambah lagi,  eksis di medsos untuk booster campaign dan tulisannya. Dan yang lebih ngehits, juara lomba nulis tiap bulan! 

Saya? He he he.  Sebulan bisa menulis dua sampai tiga artikel saja sudah sangat bagus. Di bulan-bulan pekerjaan kantor yang cukup padat, atau saat ngga ada asisten rumah tangga, saya cuma nulis satu artikel blog dalam sebulan. Miris deh. Ini males atau hobi sih? (Nyindir diri sendiri).  

Tapi, saya enjoy saja dan tidak mau memaksakan diri jika harus mengorbankan anak-anak, keluarga, dan kesehatan. Menulis bagi saya untuk menebar manfaat dan berbahagia. Kalau dipikir tulisan saya kurang bermanfaat, saya ngga jadi upload.  Simpan aja dulu. Masuk folder. Suatu saat dipoles lagi supaya lebih baik dan bermanfaat untuk disebarluaskan. 



Selain hanya menulis hal-hal yang memang benar-benar diminati dan dikuasai, saya juga termasuk banyak aturan dalam menyabet job nulis.  Sok idealis?... Tepatnya, ini demi kualitas tulisan dan pertanggungjawaban moral saya.  Sesimpel itu. Karena saya butuh menjalani hidup dengan nyaman plus berkualitas. Lah, ini mah semua orang juga butuh ya hihihihi…. Plis deh.

Ya artinya menulis sesuai bidang keahlian, minat, dan dapat dipertanggungjawabkan adalah hal penting yang mempengaruhi kenyamanan hidup saya.  Makanya harus diingat dan diusahakan selalu. Pertanyaan tentang bagaimana mengatur waktu antara pekerjaan kantor, nulis, dan urusan domestik sebetulnya agak susah dijawab.  

Sebab, saya sendiri merasa manajemen waktu sampai detik ini masih jauh dari bagus. Indikatornya adalah sering sekali menghanguskan kesempatan tantangan nulis di komunitas, lomba nulis, ataupun job untuk paid post. Niat sih ada, tapi akhirnya digugurkan oleh hal-hal lain yang lebih mendesak untuk saya kerjakan. Mendampingi anak-anak adalah hal utama yang sering mengalahkan apapun untuk dikerjakan termasuk nulis.  Yah, momen untuk menemani mereka tak bisa terulang, saya tak mau menyesal karena sengaja melewatkannya untuk kesenangan menulis.   


Walau tampak dari luar saya ini sepertinya santai dan dapat uang melulu, sesungguhnya ngga gitu gitu amat deh, hihihihi. Sebelum menilik liku-likunya, saya berikan sekilas ilustrasi tentang keseharian ibu yang bekerja kantoran sekaligus hobi nulis blog ya. 

Sehari-hari, saya bekerja di kantor  -Senin sampai Jumat-  pada jam kerja pukul delapan pagi hingga lima sore. Beruntunglah saya bukan pejabat teras di kantor, sehingga beban kerja dan tanggung jawab saya juga ngga mengharuskan saya pulang malam setiap hari.  Sebisa mungkin, saya mengusahakan pulang tepat waktu, terkecuali memang ada pekerjaan penting di bawah tanggung jawab saya yang mendesak untuk dituntaskan saat itu juga.  

Rumah tempat tinggal saya berjarak sekitar 24 km dari kantor. Ini bukan jarak yang dekat loh. Perjalanan dengan transportasi publik (ojek daring plus commuterline) ditempuh sekitar satu setengah jam untuk tiba di kantor.  Pulangnya juga seperti itu.  Walhasil, saya harus berangkat sebelum pukul 6 pagi dan tiba di rumah lagi sekitar Maghrib.  Waktu yang ada di pagi dan malam hari rasanya sangat singkat dan digantungi lelah. 



Satu jam di pagi hari lebih saya utamakan untuk bersama anak-anak menyambut pagi yang sibuk, siap-siap berangkat sekolah dan bekerja.  Malam hari diisi dengan main dan belajar bersama anak-anak, atau sekedar ngobrol. Satu atau setengah jam menjelang tidur malam, adalah yang tersisa jika saya mau menulis.  

Bersama buah hati tercinta

Waktu emas itulah yang masih membuat saya bersemangat untuk tetap menulis walau sedikit demi kewarasan dan kebahagiaan hakiki hehehe….. (**sedaaap). Walaupun dalam liku likunya, waktu emas itu sering dilewatkan karena sudah lebih dulu terlelap akibat sudah lelah dan ngantuk (waduuuh). Ya itulah liku-liku …..   


Inilah sebagain liku-liku blogger karyawati beranak dua yang sempat tercatat:

LIKU 1:  Trilematis Nulis, Baca, atau Aktivitas bersama Anak?


Tiga hal ini paling trilematis deh (bukan dilematis lagi hehehe) bagi saya.  Hal inilah yang paling sering saya hadapi. Membaca dan menulis di blog itu satu paket, tidak bisa dipisah.  Aktivitas membaca lah yang sering menelurkan ide menulis.  Kesenangan membaca buku membuat saya juga suka menulis ulasan buku di blog.  Berikut beberapa ulasan buku yang pernah saya tulis di blog : 

(Klik untuk membaca ulasan) 

Nah, saya tuh kalau sudah tiba di rumah sepulang kerja kantor, badan rasanya sudah lelah dan inginnya cuma main-main aja sama bocah dilanjut istirahat.  Anak-anak juga super senang kalau ibunya sudah tiba di rumah.  Kita bisa main boneka, menggambar dan mewarnai, main guru-guruan, dokter-dokteran, atau ngobrol dan cerita-cerita sambal bobo-boboan. Kalau sudah begitu, wassalam deh. Ngga akan tega untuk buka laptop dan mencicil tulisan yang mau dibuat.  

Akhirnya, ide-ide tulisan banyak ngendon sebatas draf di folder sampai berhari-hari, bahkan pekan!  Menghadapi liku-liku ini, saya sih santai aja.  Nikmatin aja sampai akhirnya otak dan hati saya protes sendiri, ini gimana sih kok ga nulis-nulis buuuu???   Kalau sudah begini biasanya di ujung penantian draft tulisan itu akan saya sentuh penuh buncah rasa dan hanya butuh waktu beberapa jam saja hingga akhirnya jadi tulisan yang siap tayang. Jreng jreeeeeng…….

LIKU 2 :  Timbang-timbang menghadiri event blogger


Sejak aktif menulis blog dengan domain berbayar www.opiardiani.com pada Juli 2017 dan bergabung dengan komunitas blogger, otomatis banyak sekali kesempatan untuk menghadiri event.  Segala macam event.  Mulai dari yang gratis, dibayar bahkan berbayar. Event atau acara ajang kumpul para blogger memang sangat menyenangkan.  Saat menghadiri event, kita bisa menambah wawasan, melatih sudut pandang kepenulisan, memperluas ide nulis, berkenalan langsung dengan para bloger ngehits– hampir ngehits, maupun yg malu-malu kucing hahaha.  Seru lah pokoknya.


Event blogger yang menambah wawasan dan pengetahuan 



Awalnya, semua undangan event rasanya menarik! Maunya, semua dihadiri. Inginnya, semua diikuti.  Namun seiring berjalannya waktu saya pun mulai mengamalkan timbang menimbang untuk menghadiri event blogger.  

Karena saya bekerja penuh waktu Senin hingga Jumat, maka pertimbangan utama memilih event blogger yang akan dihadiri adalah: 

1. Dilaksanakan di akhir pekan Sabtu atau Minggu apabila memungkinkan, dengan catatan tidak ada agenda acara keluarga 
2. Jarak lokasi event dapat ditempuh dengan perjalanan dengan transportasi umum 60 sampai 90 menit.
3. Event yang dipilih adalah yang sesuai dengan konsep blog yaitu pembelajaran, parenting, kesehatan, lingkungan, pendidikan dan semacamnya
4. Lebih diutamakan yang membuka kesempatan belajar lebih banyak dan bertemu orang-orang baru, bukan yang cuma haha hihi aja.   

Jadilah, banyak akhirnya event blogger yang lalu saya lewatkan, terutama di hari kerja.  Walaupun untuk tema-tema yang betul-betul saya minati, bela-belain ikut dengan  bermanuver agar pekerjaan kantor tidak terganggu.  **edisi nekat inih!!

LIKU 3:  Fokus kerjaan kantor, lalu bablas deadline lomba nulis 


Saya termasuk blogger yang semangat banget nget nget ikut lomba nulis, walau ngga selalu menang hahahaha. Banyakan kalahnya daripada menangnya. Di tahun 2018 saya getol  nulis untuk lomba. Karena, saya mau menunjukkan ke anak-anak tentang proses mencapai sebuah keinginan.  


Beberapa taqdir di lomba nulis yang penuh berkah 




Keinginan untuk punya prestasi di bidang menulis, membuat saya terus mencoba berbagai lomba.  Saya pilih lomba yang memang temanya saya kuasai dengan baik.  Ngga punya nyali lah saya untuk ikut lomba nulis dengan topik kecantikan, biarlah itu buat para beauty blogger saja hehehehe. Kapabilitas saya untuk hal cantik-cantik ini super minim gaaaeesss….

Saya tunjukkan kepada anak-anak bagaimana ibunya berusaha membagi waktu antara kerjaan kantor dengan nulis untuk lomba.  Mereka lihat sendiri malam minggu saya begadang di depan laptop menyelesaikan tulisan lomba.  Dan ketika pengumuman karya saya menang, dapat hadiah, mereka jadi tahu bagaimana sebuah perjuangan untuk meraih apa yang diinginkan. 

Tapi, beberapa kali saya bablas loh.  Kelewat deadline lomba. Akibat lagi fokus sama kerjaan kantor. Alkisah biasanya saya akan membuat draft tulisan ketika niat ikut lomba. Saya juga riset kecil-kecilan dan mengumpulkan koleksi foto yang terbaik.  Di tengah jalan, saya sering kelupaan tuh kalau lagi fokus kerjaan kantor.  Tahu-tahu kok sudah lewat batas waktu pengumpulan tulisan. Aduh, nyesek banget deh.  Apalagi pas lihat pengumuman pemenang lomba lalu membaca tulisan yang menang lhooo kok beda beda tipis alias mirip siiihh dengan yang sedang saya buat.  Sebel banget kan.  Ya gitu deh liku-likunya.

LIKU 4: Mencuri waktu, dengan niat produktivitas


Kalau ada kesempatan pengakuan dosa, sepertinya blogger bernama Novi Ardiani bakal ngaku dosa banyak nih.  Pasalnya, saya sering melakukan pencurian waktu untuk bisa nulis di sela-sela pekerjaan lain.  Itu kalau di otak saya udah ngga bisa ditahan lagi arus idenya.  Tidak bisa ditunda lagi.  Dalih saya adalah produktivitas, halah!! 

Tapi, ngga sering-sering kok.  Bagian dari liku ini saya nikmati sebagai aliran adrenalin rush.  Soalnya kalau ketahuan lagi nulis artikel padahal harusnya saya sedang ngumpulin data buat laporan kerjaan, kan malu-maluin yaaaa.  Duh. Jangan ditiru yaaaa…. **mudah-mudahan atasan saya ngga baca ini  ampuuuunnn.

Baca juga: 

http://www.opiardiani.com/2019/04/perempuan-pekerja-berproses-dalam-produktivitas.html


Sebaliknya, saya kadang beruntung punya waktu napas yang legaaaaa banget saat atasan dinas luar kota atau tugas selesai lebih cepat.  Seperti mendapat “hadiah waktu” yang saya curi untuk menulis. Manusiawi kan ya. Hmmm, begitulah liku-likunya.  

LIKU 5: Menularkan kebiasaan membaca dan menulis kepada anak-anak 


Sepanjang liku-likunya, kegiatan ngeblog sangat berpengaruh positif pada saya dan anak-anak dalam hal literasi.  Karena untuk menulis perlu banyak baca, otomatis kebiasaan baca jadi nular ke anak-anak. 

Anak sulung yang berusia 10 tahun sudah mirip sekali dengan saya di masa kecil.  Baca novel, baca buku-buku tebal yang isinya tulisan melulu, ngga ada gambarnya.  Dia seperti sudah menemukan kenikmatan dan kebahagiaan ketika berinteraksi dengan ribuan aksara dalam helai demi helai kertas buku ! 

Agak kaget juga saya ketika menemukan anak sulung saya selalu bawa buku bacaan ke manapun dia pergi.  Ke sekolah, ke tempat les, ke rumah nenek, saat jalan-jalan/rekreasi, bahkan sekedar ke warung baso atau mall teteeeuup bawa buku yang sedang dibacanya.  Persis saya waktu kecil!! Bedanya, dulu saya ngga pergi ke mall , hehehe. 

Membaca di perpustakaan Kota Depok sepulang Les Bahasa Inggris 
Begitu pula anak bungsu yang berusia 7 tahun.  Sudah mulai pilih-pilih buku sendiri yang disukainya.  Pilihannya masih didominasi oleh buku bergambar warna warni.  Kadang, masih suka dibacakan oleh ibu, ayah, atau kakaknya. 

LIKU 6: Pak Suami dan andilnya, kadang pedas nian


Salah satu faktor yang turut membakar semangat saya untuk terus menulis di tengah aktivitas yang lain adalah Pak Suami.  Iya.  Beliau itu sabarnya minta ampun, tapi kalau sudah menyindir uwoooowww, bikin saya jadi terbakar untuk menunjukkan bahwa saya bisa!  

Suatu hari saya pernah mengeluh pada suami karena kewalahan ngatur waktu nulis, kerja dan ngurus anak. Sempat keluar dari mulut saya, “ Ayah, kayaknya lebih baik aku berhenti kerja, trus fokus ngurus anak dan nulis deh ya yah,” 

Pak Suami yang bijak pun bilang begini,” Justru, kalau di tengah kesibukan kamu bekerja dan mengurus anak, tetap bisa menyempatkan rutin berkarya melalui menulis, di situ letak nilai tambahnya.  Di situ letak kerennya.   Apalagi kalau bisa konsisten dan menghasilkan tulisan yang bermanfaat buat banyak orang sekaligus menghasilkan yang lain buat kamu sendiri, di situlah nantinya kamu akan merasa sangat berarti. “ 
Bersamanya yang super sabar 
Ibaratnya seperti seorang ustad di pesantren, yang memiliki waktu sangat luas untuk beribadah sholat dan membaca Al Quran. Kita pun melihatnya sangat elok, dianugerahkan waktu yang lapang untuk melakukan ibadah-ibadah itu.  Tapi coba bayangkan seorang biasa yang bekerja dengan mobilitas tinggi di lapangan dari pagi sampai sore, dan pulang ke rumah malam hari dengan tubuh lelah.  Tetapi, dia tetap berusaha untuk sholat tepat waktu, berusaha membaca Al Quran walau terkantuk-kantuk dan terganggu oleh deringan telpon soal pekerjaan.  Letak kemuliaan dan kebanggaannya mungkin sama.  Tetapi kita mungkin akan melihat Pak Ustad lebih mulia dan membanggakan ya. 

Dia yang super sabar tapi suka membakar semangat istrinya dengan sindiran maut
Dari situ, saya kemudian menarik sebuah hikmah.  Bersyukur di setiap keadaan.  Berkarya itu tidak menunggu pintar.  Menulis itu tidak menunggu kalau ada waktu.  Ngeblog itu ngga harus berhenti kerja kantoran.  Apapun yang ingin kita lakukan dengan niat dan tujuan yang baik, akan menemukan jalannya walau tetap ada liku-likunya. Ya dikerjakan aja.  Kalau ngga dilakukan, cuma berwacana saja ya ngga ada hasil karya apa-apa.  Lamis. Lip service.  Omdo, NATO. Gitu lho. **maksudnya cuma ngomong aja, ngga dikerjain gaeess

Nah, dengan beragam liku yang dijalani, saya memutuskan untuk terus menulis. Entah sampai kapan. Semoga masih tetap ada ya mata yang mau dan butuh membaca hasil karya seorang Novi Ardiani, blogger yang sama sekali ngga ngehits dari Depok ini.  He he he…. 

Terima kasih sudah membaca ya…….   (Opi)  


Sumber Gambar : koleksi pribadi dan free stock photo at pexels.com 


Rabu, Juni 19, 2019

Praktik Manajemen Teritori di Era Peradaban VUCA


Penjualan masa kini membutuhkan beragam pergeseran strategi dan aksi. Pasar yang semakin dinamis di era disruption, mendorong marketer untuk lebih peka terhadap pelanggan yang sangat demanding.  Selain berorientasi pada pelanggan, pengelolaan wilayah penjualan menjadi salah satu kunci keberhasilan pemanfaatan optimalnya eksekusi terhadap peluang penjualan. Sebuah Manajemen Teritori yang memfasilitasi potensi penjualan berbeda di tiap wilayah, dapat menjawab tantangan ini.  

Bagaimana cara Manajemen Teritori bisa menjawab tantangan penjualan zaman now? Sebelum sampai ke sana, terlebih dahulu kita elaborasi seperti apakah pelanggan di era kini? Memahami dinamika pelanggan di era disruption sekarang akan membawa kita lebih bijak menerapkan Manajemen Teritori yang pas untuk cakupan bisnis yang dijalankan.  

Very Demanding Customer di era VUCA


Saat ini kita berada di era peradaban VUCA yaitu peradaban di mana volatility, uncertainty, complexity, dan ambigu bergabung jadi satu menyebabkan situasi yang super dinamis.  Iya, bisa dibilang zaman makin edan.  Volatility (rentang gejolak/fluktuasi) dan Uncertainty (ketidakpastian)  yang tinggi memicu perubahan begitu cepat dan arahnya tidak dapat diduga-duga.  Serta merta saja terjadi sebelum diprediksi.  Complexity (kompleksitas /kerumitan) karena begitu cepatnya arah perubahan di berbagai lini juga semakin mengemuka.  Dalam kondisi ini, kebanyakan pelaku bisnis menjadi Ambigu, bingung dalam menentukan sikap dan positioning.  

Dalam kondisi peradaban yang demikian, para pelanggan baik untuk sektor B2B (Business to Business) maupun B2C (Business to Consumers) pun berubah perilakunya.  Mereka menjadi sangat demanding alias banyak maunya.  Ini dia enam ciri perilaku pelanggan zaman now yang sebelumnya tidak ditemui pada pelanggan masa sebelum era digital: 


1. www: whatever, wherever, whenever (apapun, dimanapun, kapanpun) 

Pelanggan masa kini memang banyak maunya.  Mereka menginginkan sesuatu serba cepat untuk didapat.  Apapun yang mereka butuhkan, ingin didapat dengan cepat di manapun, kapanpun.  Karena itu, pelaku bisnis yang mampu memenuhi keinginan inilah yang akan dikerubuti pelanggan. 

2. Fear of Missing Out (FoMO)

Era digital membuat orang selalu terhubung melalui internet dan memperoleh transfer informasi secara cepat.  Orang menjadi terbiasa dengan informasi terkini. Ini menyebabkan adanya kecenderungan orang menjadi takut apabila ketinggalan informasi.  Para pelanggan ingin selalu update dengan segala sesuatu yang baru. 

3. Business to Me
Pelanggan zaman now inginnya diperlakukan secara khusus.  Special dan customized.  Segala sesuatu ingin dibuat khusus baginya, tidak mau disama-samakan dengan orang lain.  Seolah-olah bisnis ini diperuntukkan hanya untuk dirinya seorang. 

4. Everything is Servicing 
Pelanggan masa kini maunya serba dilayani. Bukan sekedar dilayani, tetapi layanan yang extra dan impresif. Hanya layanan yang mengesankan namun harga terjangkau yang akan menjadi acuan mereka untuk menggunakan kembali produk/layanan di kesempatan berikutnya.   

5. YOLO (You Only Life Ones) 

Prinsip YOLO dianut oleh pelanggan millenial.  Bagi mereka, hidup yang cuma sekali wajib diisi dengan aktivitas yang menyenangkan.  Tidak peduli untuk melakukan aktivitas itu mereka akan membelanjakan uang lebih banyak.  Mengunjungi tempat-tempat yang unik, liburan anti mainstream, menikmati fitur gadget terbaru, hingga hang out bersama komunitas menjadi kebutuhan baru yang menggeser kebutuhan investasi dan properti. Ini membuka peluang bisnis yang luas dengan segmen pelanggan para millenials.  

6. PD (Physical Digital) 

Pelanggan era kini melahirkan budaya baru akibat keleluasaan penggunaan teknologi informasi.  Gadget dan internet menjadi kebutuhan wajib yang harus ada di mana saja kapanpun bagaimanapun. Walau secara fisik berada di tempat yang, tetapi masing-masing tetap lebih aware pada dunia digital yang tercakup dalam gadgetnya. 

Enam ciri perilaku tersebut selalu ditemui saat ini, membuat perusahaan dan para marketer harus menyesuaikan diri.  Sudah menjadi kunci bahwa menjadikan pelanggan sebagai titik acuan bisnis akan jauh lebih menghasilkan dibandingkan berkutat dengan produk.  Itulah sebabnya pelanggan era VUCA menjadi trigger para merketer untuk merumuskan kembali strategi apa yang harus diambil perusahaan untuk meraih hati pelanggan dan memenangkannya. 

Dengan kondisi perilaku pelanggan yang demikian, dibutuhkan suatu Analisis Dimensi Pelanggan yang dipadukan dengan Analisis Dimensi Kompetitor serta Analisis Dimensi Perusahaan.  Ini akan dijadikan dasar untuk Implementasi Manajemen Teritori.  

Analisis Dimensi Pelanggan  


Analisis tentang pelanggan dibutuhkan untuk mencari potensi pelanggan baru dan memahami kebutuhan pelanggan lama.  Pada prinsipnya perusahaan akan mentransfer value kepada pelanggan melalui penjualan produk/layanan.  Memahami apa yang dibutuhkan dan diinginkan pelanggan, serta bagaimana cara yang disukai pelanggan dalam memenuhi keinginan dan  kebutuhannya itu, adalah kunci dalam melakukan penjualan yang sukses.  Oleh sebab itu, wawasan mengenai pelanggan sebagai value-demander wajib diperkaya.

Berdasarkan tingkat pemahaman terhadap produk/layanan,  ada tiga tipe pelanggan yaitu enlightened, informationalized, dan empowered.   Pelanggan dikatakan enlightened apabila telah memiliki pengetahuan tentang produk kita. Pelanggan dikatakan informationalized apabila memiliki kemampuan menganalisis produk kita di pasar.  Pelanggan dikatakan empowered apabila telah membeli produk kita serta memiliki hubungan atau partnership dengan kita.   

Berdasarkan pembagian tipe tersebut, akan tergambar bahwa masing-masing tipe pelangan akan diperlakukan berbeda sesuai dengan kebutuhan masing-masing.  Misalnya, untuk pelanggan kategori enlightened, kita dapat lebih memfokuskan pada upaya menyampaikan informasi produk dan layanan kita secara interaktif dan menarik.  Sekaligus, mengarahkan pelanggan untuk mengambil keputusan membeli produk/layanan tersebut.  

Pelanggan yang sudah informationalized tidak perlu terlalu banyak dijejali informasi, namun cukup diberi updating yang persuasif.  Sedangkan untuk pelanggan yang empowered, akan lebih baik bila upaya perusahaan diarahkan untuk menjaga hubungan kemitraan yang sudah terjalin.    
Setiap tipe pelanggan layak dipilihkan metode transfer value yang paling tepat.  Tak sama caranya, namun sama tujuannya.  Tujuannya yaitu meraih dan memenangkan hati pelanggan. 

Analisis Dimensi Kompetitor 


Wawasan mengenai kompetitor dibutuhkan untuk memahami persaingan antar merek di pasar dan membandingkan keunggulan kompetitif kita dengan kompetitor.  Dari sana, kita dapat membuat rencana aksi yang berbeda sesuai dengan klasifikasi dan kapabilitas yang dimiliki kompetitor.  

Menganalisis kompetitor perlu namun bukan berarti kita harus terfokus pada kompetitor.  Fokus terhadap peningkatan value pada pelanggan justru lebih diutamakan. Analisis kompetitor dibutuhkan sebatas untuk mendukung peningkatan value tersebut.  

Dalam analisis kompetitor, wajib dijawab pertanyaan siapa saja kompetitor kita di wilayah wilayah yang berbeda.  Lalu, apa keunggulan dan kelemahan para kompetitor dibanding kita.  Tak kalah penting, analisis harus menjawab aktivitas pemasaran dan penjualan apa saja yang sudah dilakukan para kompetitor.  Ini akan menjadi bahan bagi kita untuk bertanya ulang, apa yang sudah dilakukan dalam aktivitas pemasaran dan penjualannya? Apakah kita tertinggal atau selangkah di depan?

Analisis Kompetitor sangat perlu dilakukan karena pada kenyataannya dinamika kompetitor sangat sulit untuk ditebak.  Dimensi yang perlu dianalisis adalah klasifikasi, agresivitas, dan kapabilitas dari para kompetitor di sekeliling kita.  

Klasifikasi akan mengelompokkan mana kompetitor yang termasuk winner competitor, emerging competitor, dan loser competitor.  Agresivitas menunjukkan seberapa taktis aktivitas yang dilakukan kompetitor dapat meraih keunggulan kompetitif.  Sedangkan kapabilitas menunjukkan kemampuan dan keunggulan kompetitif dari para kompetitor.  

Analisis Dimensi Perusahaan dan Situasi Internal 


Analisis dimensi perusahaan dan situasi internal diperlukan untuk menilai kapabilitas yang dimiliki perusahaan. Perusahaan (kita) wajib peduli pada kapabilitas diri sendiri, dan harus punya upaya pengembangan kompetensi.   Dimensi ini terdiri dari tiga elemen yaitu existing competencies, stretch competencies, dan risk attitude.  

Existing competencies adalah kompetensi yang dimiliki perusahaan saat ini mencakup baik aset tangible maupun non tangible serta kapabilitas organisasi. Stretch competencies merupakan kompetensi perusahaan yang masih bisa dikembangkan untuk meraih peluang pemanfaatan.  Sedangkan Risk attitude adalah sikap perusahaan menghadapi risiko dari pengembangan kompetensi yang ingin dilakukan. 

Analisis dimensi perusahaan sebagai value decider bertujuan untuk memahami situasi internal.  Pemahaman ini mendorong analisis kapabilitas perusahaan sebagai langkah untuk merumuskan strategi yang jelas.  

Cara melakukan analisis dimensi perusahaan adalah mengidentifikasi beberapa hal krusial yaitu : kompetensi kunci perusahaan, hal-hal yang belum maksimal dan masih dapat diperbaiki oleh perusahaan, introspeksi cara perusahaan menghadapi tantangan pemasaran dan penjualan, peluang bisnis yang masih dapat dieksplorasi, serta ancaman yang mungkin muncul di depan.  After all, hal terpenting adalah: apa sesungguhnya tujuan bisnis perusahaan ke depannya. 

Implementasi Manajemen Teritori 


Setelah memahami hasil analisis pelanggan, kompetitor dan perusahaan/ situasi internal, barulah Implementasi Manajemen Teritori dapat lebih mantap silakukan.  Tiga elemen utama dalam Manajemen Teritori adalah : 

1. Mengukur Potensi Outlet 
2. Memetakan Potensi Outlet
3. Memonitor Outlet 

Pada prinsipnya, mengukur potensi outlet penjualan adalah memperhitungkan dan membuat setting kuota penjualan.  Berapa banyak yang akan mampu kita jual dengan memperhatikan pelanggan, competitor dan kekuatan diri sendiri?  Seberapa kuat potensi outlet perusahaan?  Berapa banyak outlet yang potensial? 

Dari ukuran potensi outlet, kita akan bergerak untuk memetakannya.  Di wilayah mana saja outlet yang potensial? Bagaimana profil wilayah masing-masing, baik demografi serta calon pelanggan dan kompetitor di wilayah tersebut? Memetakan potensi outlet pada prinsipnya adalam membuat rencana perjalanan pemasaran dan penjualan di wilayah-wilayah dengan outlet yang potensial. 

Selanjutnya, perjalanan pemasaran dan penjualan itu wajib dimonitor terus.  Memonitor outlet dilakukan dengan rencana monitoring yang benar berdasarkan analisis pelanggan, kompetitor, dan situasi internal perusahaan.  

Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah bahwa tiap area penjualan memiliki potensi yang berbeda-beda.  Profil wilayah wajib dipahami benar-benar, dilengkapi dengan pengetahuan mengenai  aspek kompetitor dan segmen pelanggan pada jenis area tersebut agar fokus pada rencana penjualan. 

Melaklukan pemetaan pada jenis area akan memudahkan perusahaan memahami peta persaingan dan merusmuskan strategi yang tepat sasaran.  Strategi yang berbeda akan melahirkan pendekatan yang berbeda.  

Implementasi Manajemen Teritori mustahil dilakukan jika kegagalan memahami pelanggan, kompetitor dan diri sendiri tidak mau diperbaiki lebih dulu. Secara jujur, selama kita tidak mampu memahami diri sendiri, arah tujuan berdirinya perusahaan serta buta pengetahuan terhadap siapa siapa saja pesaing dan pelanggan kita, rancangan manajemen teritori secanggih apapun akan terjungkal di tengah jalan. 

Supaya ini tidak terjadi, segera bangun pemahaman bersama tentang perusahaan kita dan outlet potensialnya di tiap wilayah. Yuk mulai peduli tentang layanan, segmen pelanggan, dan para pesaing. Lalu mari bergerak bersama-sama dalam pemahaman dan tujuan yang sama.  Manajemen Teritori untuk kita itu perlu pasti! (Opi)**   

** disarikan dari Customized Training Session Program Perum BULOG – MarkPlus Inc: “Territory Management” 

Tanpa Sistem, Upaya Pelayanan Prima Hanya Utopia


Utopia selalu menjadi mimpi terjauh untuk dijangkau apalagi diwujudkan. Menjulang tinggi di awang-awang.  Seperti itu pula jadinya jika upaya-upaya pengembangan bisnis dilakukan tanpa dilandasi sistem yang terintegrasi. Termasuk berbagai upaya pelayanan prima dan penanganan komplain pelanggan yang dilakukan seiring berjalannya roda komersial.  Tanpa sistem yang dibangun oleh kecakapan leadership, hampir tidak mungkin meraih hasil optimal.  Yang ada, hanya menggenggam mimpi. 
Itulah benang merah workshop dua hari bertajuk  “Service Excellent & Handling Complaints Profesionally” yang sempat saya ikuti beberapa waktu lalu di BULOG Corporate University, Jakarta.  Nara sumber sekaligus guru, Alfa Maulana, MBA., CEC dari James Gwee Success Center mengupas dari kulit hingga ke inti topik mengenai pelayanan prima dan penanganan keluhan pelanggan.

Upaya pelayanan prima dan penanganan keluhan pelanggan menjadi dua sisi mata uang yang sejatinya adalah satu di dalam sistem. Sebuah organisasi bisnis sangat bergantung pada leadership yang mampu membangun sistem saat dibutuhkan untuk berjalannya roda bisnis. Sistem yang terbentuk akan mengalami pemantapan seiring berjalannya waktu, dan ketika sistem sudah terbangun dengan baik, maka bergantinya leader tidak akan menjadi hambatan selama penyiapan kader leader juga terjadi.  Sistem tetap berjalan karena sudah tertanam dengan kokoh.  Sementara pergantian leader akan terjadi secara alamiah. 

Alfa Maulana, MBA., CEC dari James Gwee Success Center mengupas dari kulit hingga ke inti topik mengenai pelayanan prima dan penanganan keluhan pelanggan.

Apa itu Pelayanan Prima? 


Pelayanan prima kepada pelanggan mengandung makna memberikan apa yang diinginkan oleh pelanggan kapanpun dan dengan cara yang sesuai dengan yang diharapkan pelanggan sebelum pelanggan memintanya. Hal ini mengandung makna, bahwa sebuah organisasi bisnis harus tahu betul apa yang dibutuhkan dan diinginkan pelanggan, kapan pelanggan membutuhkan atau menginginkannya, dan bagaimana cara yang diinginkan pelanggan untuk terpenuhinya kebutuhan serta keinginan itu.  

Apakah customer Anda mengingat dan membicarakan Anda?
Untuk dapat tahu betul akan hal tersebut, organisasi bisnis harus sudah memiliki positioning yang jelas akan produk dan layanan yang akan diberikan kepada pelanggan. Juga, produk maupun layanan tersebut tersedia secara konsisten dan kontinu. Seiring dengan itu, ada standar pelayanan yang memberlakukan hal sama kepada pelanggan pertama hingga pelanggan yang terakhir.  Meskipun kemudian, sistem akan memilah pelayanan berdasarkan pengelompokan pelanggan berdasarkan value yang dimiliki.    

Dalam sudut pandang bisnis, tujuan utama bisnis adalah mendapatkan pelanggan baru dan memelihara pelanggan yang sudah didapat (Peter Drucker -Management Guru). Di sinilah ada fungsi selling (penjualan) dan service (pelayanan). Meraih pelanggan dilakukan dengan penjualan, dan memelihara/memantain pelanggan itu dilakukan dengan pelayanan. 

Pada praktiknya, apabila kita sudah meraih pelanggan, maka upaya memelihara pelanggan tersebut akan menjadi lebih mudah dibandingkan apabila harus meraih pelanggan baru.  Waktu dan biaya untuk meraih pelanggan baru relatif jauh lebih besar dibutuhkan ketimbang memelihara pelanggan yang sudah ada.  Karena itu, upaya memelihara pelanggan wajib dilakukan untuk keberlanjutan bisnis. 

Bagaimana cara memelihara pelanggan agar tetap loyal dengan produk dan layanan kita?  Tentunya dengan memberikan pelayanan yang prima, yang bukan sekedar memuaskan namun harus mengesankan pelanggan.  Memberikan pelayanan yang memuaskan saja tidak menjamin pelanggan menjadi loyal.  Pelayanan yang memuaskan hanya menjamin bahwa tidak ada komplain dari pelanggan.  Namun apakah pelanggan akan kembali menggunakan produk dan layanan kita setelahnya?  Tidak ada jaminan.

Dalam Training Session ini, saya berbahagia mendapat penghargaan sebagai peserta terbaik pertama.  
Itulah sebabnya, pelanggan harus dibuat terkesan, bukan cuma puas. Pelayanan yang mengesankan akan membuat pelanggan menjadi loyal dan menceritakan kepuasan mereka kepada orang lain.  Mereka pun menjadi agen advokasi yang menyebarluaskan berita baik tentang pelayanan prima yang kita berikan.    

Untuk dapat memberikan pelayanan yang mengesankan, kunci utamanya adalah mengenali pelanggan kita baik-baik. 

7 Tipe Pelanggan 


Mengenali pelanggan adalah cara yang harus dilakukan untuk dapat memberikan pelayanan prima. Pada sudut pandang bisnis, setiap pelanggan pada dasarnya memiliki dua nilai (values) yaitu potential value dan pulling value.  Potential value dimiliki oleh pelanggan yang memiliki uang relatif banyak.  Sedangkan pulling value dimiliki oleh pelanggan yang banyak memiliki relasi atau hubungan pertemanan dengan banyak orang. Berdasarkan value yang dimiliki pelanggan inilah, pelayanan dapat dibedakan. 

Pelayanan prima selain memerlukan sistem yang sudah baku, juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  Dalam sudut pandang bisnis, biaya yang dikeluarkan untuk memberikan pelayanan dan memelihara pelanggan ini harus dipastikan “worthed” untuk mencapai profitabilitas yanag lebih besar dan kontinu.  

Alfa Maulana menjelaskan, ada 7 tipe pelanggan yang dapat dikenali dari sikapnya saat kita berkomunikasi.  Ketujuh tipe pelanggan tersebut adalah: 

1. Tipe Penggerak, kebutuhan dasarnya berkomunikasi maka perlu dilayani dengan mengajak berkomunikasi, bercakap-cakap tentang hal-hal yang digemarinya.  

2. Tipe Peresah, kebutuhan dasarnya adalah rasa aman.  Maka, apabila menawarkan produk atau layanan pada pelanggan tipe ini, jangan menyudutkan atau membuatnya jadi merasa terancam.  Pelanggan tipe ini perlu dibantu dalam membuat keputusan pembelian secara lembut. 

3. Tipe Politikus, kebutuhan dasarnya ingin selalu menang.  Untuk pelanggan jenis ini, kita sebagai penjual harus memposisikan bahwa pelanggan hebat.  Pada saat merasa menang dan hebat, saat itulah didorong untuk mengambil keputusan pembelian.  

4. Tipe Seniman, kebutuhan dasarnya menciptakan.  Pelanggan tipe ini nyentrik dan sangat detil, serta menyukai hal yang inovatif dan kreatif.  Karena itu sediakan informasi sesuai yang dibutuhkannya dan jangan memaksa dalam pengambilan keputusan. 

5. Tipe Insinyur, kebutuhan dasarnya adalah menyelesaikan masalah. Pelanggan tipe ini juga detil seperti tipe seniman, tetapi bedanya adalah ia ingin produk yang dibelinya menyelesaikan masalah yang dihadapi.  Karena itu, yakinkan pelanggan ini dengan fakta dan tester produk. 

6. Tipe Penggiat, kebutuhan dasarnya adalah kesuksesan secara materi.  Pelanggan tipe ini tidak terlalu perduli pada kualitas, namun lebih sensitif terhadap harga.  

7. Tipe Normal, adalah pelanggan yang pada umumnya ditemui, tidak secara detil dapat didefinisikan ciri-cirinya.  Pelanggan normal bisa bersifat seperti bunglon, berubah-ubah warna tergantung lingkungannya. 

Dengan mengenali pelanggan, kita dapat memilih bagaimana melayani sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.  Jika pelanggan merasa nyaman dengan layanan kita, dijamin akan loyal dan senang berhubungan dengan perusahaan kita. Ini dia potensi profit kontinu bagi perusahaan kita. 

5 Level Pelayanan 


Ketika memberikan pelayanan kepada pelanggan, disesuaikan dengan valuenya, maka pelayanan yang mengesankan adalah ujung dari segalanya.  Untuk sampai ke pelayanan yang mengesankan, sebenarnya ada level-level di bawahnya sebagai ukuran.

5 Ukuran dalan Level Pelayanan adalah :

1. Basic, merupakan level yang paling bawah dari sebuah layanan. Pelayanan basic hanya sama persis seperti apa yang dipersyaratkan pada SOP atau standar layanan yang ada di tiap perusahaan. 

2. Expected, merupakan level layanan yang mampu memenuhi ekspektasi pelanggan.  Sederhanaya, pelayanan yang didapat sesuai dengan harapan. 

3. Desired, merupakan level layanan yang mampu memenuhi hasrat pelanggan.  Ibaratnya, apa yang diangan-angankan oleh pelanggan dapat dipenuhi dalam pelayanan. 

4. Surprising, merupakan level layanan yang  lebih tinggi dari harapan atau hasrat pelanggan.  Layanan ini mengejutkan pelanggan sekaligus menyenangkannya. 

5. Raving Fans, merupakan level layanan di mana pelanggan benar-benar terkesan dengan layanan yang didapat. Ini membuat pelanggan susah move on dan selalu kembali untuk mendapatkan layanan tersebut, sperti fans yang tergila-gila. 

Tugas kitalah di Tim Penjualan untuk memberikan pelayanan pelanggan di level kelima, yaitu raving fans.  Nah, ini membutuhkan sistem yang terintegrasi.  Barang dan layanan harus tersedia tepat waktu, kualitas, dan kuantitas. Komunikasi tim penjualan dengn tim pengadaan, angkutan, dan persediaan harus mantap. Pelanggan juga harusnya lebih mudah dan nyaman dalam mendapatkan pelayanan baik oleh staf maupun pimpinan apabila sistem pelayanan prima sudah melekat.  

Penanganan komplain itu butuh sistem 

Alfa Maulana memberikan contoh, sistem itu ibarat suatu pola yang sudah berulang-ulang dilakukan selama sekian lama, sehingga menggambarkan proses yang terukur.  Sistem pun terbentuk.  Contohnya, apabila kita menikmati mie instan rebus di warung mie, mengapa rasanya lebih nikmat daripada membuat sendiri di rumah?  Padahal, warungnya panas tidak ber AC, duduk sempit-sempitan, dan meja kursi seadanya. 



Ini gambaran sederhana dari sistem.  Tukang mie rebus sudah paham betul bagaimana membuat mie rebus yang enak.  Berapa lama dimasak, berapa banyak airnya, kapan memasukkan bumbunya, dan bagaimana menghidangkannya, sudah dipahaminya betul.  Ini terjadi karena tukang mie sudah ribuan kali membuat mie rebus.  Ia telah paham polanya.  Pola itu yang dilaksanakan dalam proses, secara berulang-ulang sehingga membentuk sistem.  

Ya, sebab binis adalah proses.  Proses dapat diukur.  Apapun yang dapat diukur akan dapat dikembangkan.  Itulah sebabnya dalam mengembangkan bisnis, ukurlah proses bukan hasil akhirnya.  Bangunlah sistem, bukan terpaku di kegiatan teknisnya. Itu pesan The Marketing Jenius, Jay Abraham.

Menangani Komplain Pelanggan Secara Profesional 


Pelayanan yang memuaskan hanya akan menjamin bahwa pelanggan tidak komplain. Pelayanan yang mengesankan akan menjamin pelanggan akan loyal. Ya, namun  ada kalanya jangankan pelayanan yang mengesankan, pelayanan yang memuaskan itu pun luput kita lakukan sehingga muncul komplain.  Bagaimana menangani komplain secara profesional?  Alfa Maulana mengajarkan kepada kami cara yang simpel. 

Pertama, paradigma pelanggan harus diluruskan dulu.  Pelanggan ada dua macam, yaitu pelanggan internal dan pelanggan eksternal.  Pelanggan internal adalah sesama karyawan di perusahaan, sedangkan pelanggan eksternal adalah pelanggan di luar perusahaan. Jadi, kita wajib melayani dengan baik bukan hanya pelanggan di luar sana, tetapi juga rekan-rekan kita di dalam perusahaan. 

Kedua, komplain sesungguhnya tercampur antara emosi ketidakpusan dan masalah inti.  Seringkali, yang hadir di awal adalah emosi ketidakpuasan dari pelanggan yang muncul dalam bentuk marah-marah dan makian. Untuk itu, kita harus tetap positif dan cepat  tanggap.  Berikan pelayanan secara personal, dan segera ambil posisi tanpa menyalahkan orang lain atau perusahaan.  Follow up harus dilakukan secara cepat.  Itulah gunanya sistem.



Inilah langkah-langkah untuk menangani komplain secara profesional sebagaimana dijelaskan Alfa Maulana: 

1. Tangani dulu emosinya

Pada intinya, inilah bagian yang paling tidak menyenangkan.  Ketika pelanggan datang sambil marah-marah, kita harus melihatnya sebgai “bentuk emosi” , bukan sebuah penyerangan terhadap diri kita.  Maka itu, harus ditanggapi secara profesional, tidak ditanggapi dengan balas marah atau emosi. 

Pada tahap ini, kita harus empati terhadap posisi pelanggan, yaitu menempatkan perasaan kita pada posisi pelanggan, agar dapat merespon perasaannya dengan baik. Biarkan pelanggan mengeluarkan emosinya dan tanggapi kata-katanya dengan kata-kata positif. Pisahkan antara emosi dan fakta.


  
Ajak pelanggan yang marah ke ruangan yang tertutup agar tidak memalukan banyak orang, duduklah bersisian di sofa untuk lebih berkesan konsultatif, dan bukan duduk berhadapan untuk menghindari kesan konfrontasi.  Sediakan minuman hangat untuk meredakan emosinya dan buat pelanggan merasa nyaman.  

Catatlah keluhannya di buku catatan untuk menunjukkan kesan bahwa kita serius akan menangani keluhannya.  Jawablah dengan nada kalem dan suara yang rendah. Pastikan bahwa kita akan mencarikan solusi untuk masalahnya. 

2. Selesaikan masalahnya

Pada poin ini, kita sudah menemukan masalah dari pelanggan dan harus beritikad baik untuk menyelesaikannya.  Mintalah maaf, sekalipun kita tidak dalam posisi bersalah.   Berikan kepastian kepada pelanggan berapa lama ia harus menunggu sampai masalahnya dapat diselesaikan.  Berikan kabar kepadanya apabila keluhannya sudah ditangani sampai selesai.  

3. Raih kembali hati pelanggan 

Pelanggan yang sudah komplain adalah pelanggan yang kecewa.  Kecewa tidak dapat sembuh dengan cepat.  Kalaupun kita telah menyelesaikan komplainnya, bekas lukanya masih ada.  Karena itu, sangat penting untuk memberikan kejutan kepada pelanggan ini untuk meraih kembali hatinya.  Kejutan dapat berupa hadiah atau layanan free lainnya. Kemudian, follow up beberapa hari kemudian dengan menghubunginya kembali.  Tunjukkan bahwa kita selalu berniat berhubungan baik dengannya. 



Satu hal yang perlu diingat, jumlah komplain tidak selamanya menunjukkan seberapa baik atau buruk pelayanan kita.  Sejatinya, ada lebih banyak pelanggan di luar sana yang tidak puas tetapi tidak mengajukan keluhan, itulah yang lebih harus dipikirkan. 

Pelayanan Prima Mustahil Apabila ........ 


Alfa Maulana memaparkan bahwa pelayanan yang mengesankan pelanggan, bukan cuma memuaskan pelanggan, adalah musthil apabila: 

1. Kebijakan perusahaan ada di zona nyaman, sulit berubah
2. Spesialisasi pekerjaan mengakibatkan tidak ada koordiansi pada proses layanan
3. Kekuatan pengambil keputusan terlalu jauh hirarkinya dari pelanggan
4. Kebijakan perusahaan tidak fleksibel dan layanan juga tidak fleksibel
5. Ada kebijakan prioritas dalam pemangkasan budget komersial
6. Karyawan tidak termotivasi dan tidak punya power dalam mengatasi permasalahan 
7. Karyawan tidak cukup kreatif dalam mengatasi masalah
8. Penanganan keluhan hanya menjadi tugas satu departemen saja 
9. Ada kegagalan perusahaan dalam mendengarkan pelangan
10. Ketidakjujuran perusahaan 

Kesepuluh sebab itu, seharusnya kita hindari.  Sistem lah jawabannya.  Sistem terintegrasi antara proses mulai dari penyediaan dan pengembangan produk, perumusan positioning, upaya marketing dan selling, persediaan, pengangkutan dan pendistribusian hingga supporting keuangan dan teknologi informasi adalah rantai panjang yang harus diselaraskan.  

Tanpa sistem, upaya pelayanan prima dan penanganan keluhan pelanggan mungkin hanya jadi utopia. Mimpi yang jauh mengawang.  Yuk bangun sistem dan wujudkan nyata di tempat kita bekerja masing-masing.  Bisa?... Bisa lah, dicoba dong …Yuuuk.  (Opi) 



Back to Top