Senin, Desember 30, 2019

Morning Cycling is Healing !


Karena rutin bersepeda tiap pagi, saya jadi kenal dengan Teteh Mihati, perempuan sebaya saya yang bekerja sebagai penyapu jalan.  Berseragam oranye, selepas Subuh Teh Mihati mengayuh sepeda dari rumahnya di Nagasari menuju Kantor Bupati di kawasan pusat Kabupaten Karawang.  Sepeda diparkirnya di sana.  Lalu, ia menunaikan tugasnya menyapu tepian Jln Husni Hamid. Jatahnya sekitar 1 km. Tugas itu tuntas Pukul 8.00 pagi.  Siang hari, ia kembali bertugas menyapu jalan pada Pukul 14.00 hingga selesai ba’da ashar. Demikian setiap hari.  

---

Rutin bersepeda ba’da Subuh selama satu jam setiap hari mulai saya lakukan sejak awal November 2019. Genap dua bulan aktivitas morning cycling saya jalani dengan sukacita. Kenapa sih kok morning cycling? .....


---

Enam bulan sudah saya bertugas di kantor cabang sebagai wakil pimpinan.  4 bulan di awal saya cuma ikut olahraga senam.  Belum kepikiran untuk bawa sepeda sama sekali. Kalau kemudian memutuskan untuk rutin bersepeda di pagi hari, itu memang ada triggernya. 

Trigger utamanya adalah rasa takut, kuatir, dan sedih yang melanda.  Kadang tidak tahu kenapa sebabnya.  Mungkin stress ya?  Barangkali.  Saya tidak tahu persis waktu itu.  Namun, bertugas di kantor cabang dan tinggal terpisah dengan keluarga memang mempengaruhi pribadi saya. 

Pertama, jadi sering kepikiran anak, sedikit - sedikit jadi baper.  Kedua, waktu sepulang kerja yang biasa dinikmati bersama keluarga jadi terasa hampa karena dilewatkan sendirian.  Perasaan jadi lebih sensitif dan mudah sedih.  Ketiga, di awal-awal sering saya gagal pulang di akhir pekan karena tugas.  Ternyata kurang waktu berkumpul dengan keluarga melemahkan saya.


Saran Sahabat 

Seorang sahabat yang juga terpisah jarak nun jauh di sana dan menjalani kehidupan yang serupa dengan saya, tapi sudah lebih lama serta survive, bilang begini,”Pi, kamu hanya butuh lebih banyak olahraga untuk membuang semua yang negatif.”  

Lalu dia bercerita, waktu luangnya setelah bekerja habis untuk olahraga.  Ya bulutangkis, tenis meja, tenis lapangan, sampai volley dan basket.  Semua dijabanin.  Hasilnya? Ya ngga sempat sedih. Ngga sempat sama sekali. Bahkan kalau semua cabang lagi off, dia push up dan sit up sampai mandi keringat di rumah dinas sendirian.  Hahahaha…..  Edan.  Lah habis gimana, mau pulang tiket pesawat masih mahal, alamakjan. 

Tapi, positifnya tidur jadi nyenyak dan otomatis terbangun di malam hari untuk bermunajat.  Lalu bertilawah sejenak tetiba sudah Subuh. Kalau sudah Subuh, matahari akan cepat meninggi…. Hari akan cepat berlalu bersama tugas-tugas yang datang silih berganti.  



Saya sebetulnya jauh lebih beruntung dari sahabat. Setidaknya saya masih bisa pulang setiap pekan karena ngga perlu pusing dengan harga tiket pesawat. Karawang-Depok sebetulnya ngga jauh.  Hanya tanggung jawab stand by di wilayah tugas lah yang akan membuat pimpinan bijak memilih kapan saat harus tetap di wilayah tugas, dan kapan boleh lepas sejenak.  Jadi ya ngga bisa seenaknya aja meninggalkan wilayah tugas dong.  

Lantas, diri ini terpekur dan berpikir keras.  Olahraga apa yang bisa saya nikmati seperti dia menikmati semua cabang olahraga itu?  Bulutangkis, ngga bisa.  Tenis meja, tenis lapangan, volley dan basket semuanya saya ngga bisa! Kasian deh….. ngapain aja saya semasa muda ya?  Hahahaha….

Lari ? sudah ngga kuat hehehe.  Jogging? Entah kenapa rasanya kurang nendang.  Dipikir-pikir,  bersepeda paling cocok lah buat saya. Beberapa sepeda nganggur di rumah  Depok, cuma digowes Sabtu atau Minggu. Kesempatan saya nih untuk balas dendam karena selama masih bertugas di kantor pusat, hampir pasti tidak akan bisa bersepeda di pagi hari.  Jarak rumah di Depok ke kantor di Jakarta Selatan sekitar 26 km dan pagi buta saya sudah harus berdesakan di kereta cuuyy. 


MULAI MORNING CYCLING


Fix, saya putuskan bersepeda di pagi hari seusai sholat Subuh. Yang penting coba dulu dan konsisten.  Yang lain urusan nanti. 

Jadilah saya dibakar tekad untuk rutin bersepeda di pagi hari supaya sehat.  Usai sholat Subuh, langsung cuzzz gowes muter-muter jalan raya kabupaten, nyusur rel, atau sedikit masuk ke perkampungan dengan sepeda kesayangan yang sengaja diboyong dari rumah Depok ke rumah dinas di Karawang. 

Udara pagi yang sejuk dan kaya oksigen ternyata punya kemampuan hipnotis yang tinggi! Kesejukan dan keheningan pagi itu membuka hati, merasakan bahwa dunia ini ternyata begitu
indah.  Setiap pagi Mang Kumis penjaga rumah dinas membukakan pagar untuk saya, dan dengan suka hati memotret saat bergaya dengan sepeda sebelum melesat dalam kayuhan pedal.
 



Dari kayuhan pertama, sejak menyusur jalan kecil menuju jalan raya, kiri kanan telah ramah menyapa.  Satpam Rumah Sakit Dr Djoko yang letaknya berderetan dengan rumah dinas, selalu tersenyum pada saya walau ia tampak lelah. Mungkin mau aplusan. Abang tukang parkir RS selalu berteriak nyaring ketika saya akan melintas, pertanda untuk berhati-hati akan mobil yang keluar masuk RS.  

Mamang kupat tahu yang baru saja mengeluarkan gerobak dorong untuk menyiapkan dagangannya di depan RS tidak lupa mengangguk atau sekedar menundukkan tubuh.  Caranya memberikan salam kepada saya, pesepeda yang tak pernah dikenalnya. 

Menuju jalan raya, seringnya belum ramai. Sengaja, keluar sepagi mungkin saat jalan masih sepi.  Sebetulnya saya ini penakut, ngeri bersepeda di jalan raya yang ramai.  Beberapa berita tentang tertabraknya pesepeda di jalan raya hingga meninggal, sering menghantui.  Tapi saya mencoba melawan ketaakutan itu sendiri.  Solusinya, gowes pagi-pagi, ketika jalan raya masih sepi.  Namun tetap mengayuh di tepi.  

Teteh Mihati, perempuan penyapu jalan di Jln Husni Hamid Karawang


SEGENGGAM HIKMAH SETIAP PAGI

Karena rutin bersepeda tiap pagi, saya jadi kenal dengan Teteh Mihati, perempuan sebaya saya yang bekerja sebagai penyapu jalan.  Berseragam oranye, selepas Subuh Teh Mihati mengayuh sepeda dari rumahnya di Nagasari menuju Kantor Bupati di kawasan pusat kabupaten.  Sepeda diparkirnya di sana.  Lalu, ia menunaikan tugasnya menyapu tepian Jln Husni Hamid. Jatahnya sekitar 1 km. Tugasnya tuntas Pukul 8.00 pagi.  Siangnya, ia kembali bertugas menyapu jalan pada Pukul 14.00 sampai selesai ba’da ashar. Demikian setiap hari. 

“Teteh, pagi banget ya harus sudah nyapu jalanan,” kata saya.
“Iya bu, alhamdulillah ini juga ada pekerjaan bu, ada gaji, masih bisa ngurus anak pulang dari nyapu pagi sebelum berangkat nyapu siang,” ujar Teh Mihati sambil tersenyum. Tampak indah di kulit wajahnya yang kuning bersih. 

Teteh Mihati, perempuan penyapu jalan di Jln Husni Hamid Karawang
sedang menunaikan tugas mulianya

Saya pura-pura melihat ke jalan sambil menyembunyikan mata yang tiba-tiba berair. Rasa syukur tergambar jelas di wajah Teh Mihati yang walaupun pekerjaannya menyapu jalan mulai jam 5.30 pagi tapi sudah tampil rapi dengan seragam oranye. Lengkap dengan wajah berbedak serta bibir bergincu. Senyumnya sumringah. 

“Senang ya Teh, tiap bulan gajian. Terima berapa teh kalau gajian?” tanya saya lagi.
 “Satu juta delapan ratus lima puluh ribu, bu.  Alhamdulillah gaji ga pernah telat,” jawabnya, lagi-lagi tersenyum.

“Alhamdulillah,” ucap saya sambil tersenyum.  Rasanya tersenyum di atas kebahagiaan orang lain itu indah loh…. Dalam hati, saya memohon keberkahan Tuhan atas rizki yang disyukuri Teteh Mihati.  

Setelah perkenalan kami, setiap melihat saya melintas mengayuh pedal di ruas jalan Husni Hamid saat bersepeda pagi hari, Teh Mihati pasti melambaikan tangannya sambil tersenyum.  Kadang memanggil, “Ibu…hati hati.” 

Jika melihatnya lebih dulu sedang menyapu, saya pasti menyapanya sambil melambai, “Teteh Selamat pagi…” 

Sesederhana itu tapi rasanya tidak terbeli olah apapun.  Senyum yang tulus di pagi hari , adalah pelajaran penting buat saya untuk menghargai hidup.


Secara kebetulan juga setiap pagi jalur sepeda saya selalu melewati Taman Pemakaman Umum (TPU) Karangpawitan. Melewati kuburan pagi hari, saat cahaya dunia masih redup dan jalan masih sepi, membuat saya lebih memperhatikan jalan.  Jelas terlewati makam-makam yang dipagar rapi.  Di dalamnya jasad-jasad tak bernyawa mungkin sudah hancur menunggu dibangkitkan di hari kebangkitan. Pulang ke akhirat dengan bekal amal masing-masing.  Saya nantinya juga akan seperti itu.  Tiba-tiba saya teringat bekal pulang ke akhirat. Sudah cukup?.... 

Kalu sudah mengingat mati, saya jadi lupa dengan sedih dan luka. Yang teringat, hari ini amal kebaikan apa yang sudah dan akan dilakukan untuk bekal pulang?....



Setelah selesai gowes, saya masih sempat ngadem lalu mandi cantik dan sarapan sebelum ngantor. Jarak kantor cabang dengan rumah dinas yang cuma 5 menit jalan kaki, membuat saya tidak harus gedubrakan di pagi hari untuk berangkat kerja.  

Morning cycling secara tidak langsung membuat saya jadi belajar mengatur waktu.  Malam hari sepulang bertugas, saya nyaris tidak pernah keluyuran.  Langsung pulang dan bersih-bersih, video call an dengan keluarga, lalu mencoba untuk tidur lebih cepat supaya bisa bangun satu jam sebelum Subuh.  Supaya bisa sholat malam dan tilawah dan tiba-tiba sudah Subuh.  Persis seperti yang diujar sahabat saya.  

Begitu setiap hari, saya coba untuk konsisten.  Ngga mudah juga.  Karena kadang ada tugas sebagai wakil pimpinan yang harus dilakukan sampai larut malam, atau sebelum Subuh sudah harus ada di gudang untuk mengawasi fumigasi.  Tapi itu ngga setiap hari.  Pada saat-saat itu memang saya absen gowes.  Ya ngga apa-apa juga.  Besok dilanjut lagi.  Santai aja, ngga ada beban. 

Dalam hal ini, saya harus berterima kasih banyak kepada sahabat saya yang alhamdulillah, dari yang tugasnya dekat dengan keluarga, lalu dijauhin, lalu dekat lagi, jauh lagi, dan sekarang dekat lagi, dia tetap konsisten dengan semangat olahraganya itu.  Bertugas terpisah dari pasangan dan anak memang banyak tantangannya, dan itu terselesaikan dengan olahraga serta ibadah!



Dua bulan rutin bersepeda di pagi hari, saya bisa bilang morning cycling is healing.  Menyembuhkan segalanya.  Pedih, sakit, luka yang ada di hati karena sedih, kuatir, dan tidak puas dengan keadaan bisa menguap.  Kok bisa?....

Ya, bisa banget.  Apalagi kalau di jalur sepedamu selalu melewati keheningan dan kesejukan, menjumpai senyum tulus orang-orang yang penuh rasa syukur (seperti Teh Mihati, Abang tukang kupat tahu, satpam RS Dr Djoko, dan tukang parkirnya), dan melintasi makam-makam yang juga suatu saat akan menjadi rumahmu. Sekejap kesedihan di hati akan sirna.  Berganti dengan syukur dan indah, serta motivasi untuk menjadi versi terbaik diri sendiri.  



Cuma satu yang tidak bisa digantikan oleh morning cycling yaitu rindu.  Rindu bertemu pasangan dan anak-anak harus ditunaikan dengan perjumpaan. Jadi, bersepeda di pagi hari menjadi sarana untuk saya supaya bertekad sehat. Sehingga saat perjumpaan menunaikan rindu dengan yang tercinta kita semua dalam keadaan sehat dan segar.  

Udara pagi yang dihirup sambil mengayuh pedal sepeda itu memang ajaib. Bisa merasuk sampai ke dalam sukma. Oksigennya masuk ke paru-paru, disaring dengan baik hingga diedarkan oleh pembuluh darah sampai ke otak dan seluruh tubuh. Keheningan yang kemudian beralih menjadi bergegas seiring dengan meningginya matahari, menyajikan gambaran yang nyata tentang gerak kehidupan di bawah kuasa Nya. 

Itulah sebabnya, sayang sekali melewatkan bersepeda pagi hari.  Setiap malam, saya berusaha mengkondisikan agar cukup istirahat sehingga tidak kesiangan bangun. Suatu pagi, hujan gerimis.  Mang Kumis penjaga rumah dinas melarang saya pergi gowes. “ Gerimis bu, nanti masuk angin,” ujarnya.

Saya bersikukuh.  Terus gowes dalam gerimis sampai tuntas satu jam.  Namun, memang badan sudah tak muda lagi, yah saya baru saja berulang tahun yang ke 42 tahun.  Jadilah benar apa yang dikuatirkan Mang Kumis. Enter win.  Sampai kantor saya merasa pusing dan perut mual-mual. Hahaha.  Tanpa aba-aba langsung nenggak jamu Tolak Angin.  

Suatu hari, salah seorang bos di kantor pusat yang kebetulan selalu mengamati perkembangan saya bersepeda, memberikan apresiasi pada saya.  Beliau bilang, “Kereen, salut dengan semangat untuk sehatnya”.



Saya menjawab,” Bismillah Bu, harus sehat, ada anak-anak yang nunggu ibunya pulang , jadi harus sehat.”  Tekad untuk selalu pulang dalam keadaan sehat dan memberikan kasih sayang yang utuh pada anak-anak membuat semangat sehat terus membuncah. Walaupun kadang memang akhir pekan pulang bersama lelah, saya bertekad tetap positif dan yakin pengaruhnya pada kesehatan tubuh dan jiwa. 

Setelah demikian besar manfaat yang saya rasakan dari bersepeda di pagi hari, rasanya sebisa mungkin akan terus saya jalani selama masih mampu.  Morning cycling is healing, of course. (Opi)






Bersepeda Pagi Hari 


Lewat kayuh pedalku 
Pagi adalah anugerah 
Sebongkah waktu yang dikaruniakan Tuhan 
Untuk menutrisi hati dan menata jiwa insan
Lewat keberlimpahan oksigen dan harmoni 
yang tercipta dari udara berpadu berkas cahaya matahari baru, 
ditingkahi telisik daun-daun bergoyang di dahan pohon-pohon besar sepanjang jalan raya yg kulalui

Lewat kayuh pedalku 
Pagi adalah rahmah 
Sebentuk kemenangan yang disediakan Tuhan 
Untuk insan yang bersikukuh membuka katup kelopak mata
Di awal panggilan adzan
Yang bersedia melawan ketakutan dan kekuatiran tentang 
Apa dan bagaimana nantinya hari ini akan berujung

Lewat kayuh pedalku 
Pagi adalah karunia 
Segenggam rasa yang kukenang setiap waktu berjeda
Melalui senyum perempuan penyapu jalan 
Menyela lambaian tangan abang penarik becak 
Menyusul tatapan mata penuh harap ibu penjual nasi uduk 
Menyambangi deru kendaraan di jalan yang makin riuh seiring meningginya matahari 

Lewat kayuh pedalku 
Pagi menjadi saksi 
Beralihnya hening fajar ke riuhnya gerak yang bergeges dan menderu 
Menyusul aktivitas menjemput rizki 


Lewat kayuh pedalku
Jarak dan pacu bukanlah penentu 
Tapi harmoni dan semangat pagi 
Pasti kurekam dan kugenggam sampai senja nanti 
Bekalku untuk kokoh menyusuri hari
Bismillahi tawaqaltu alaih…. La haula wala quwwata illa billahil alil adziim…. 

Opi
Karawang, 30 Desember 2019 



Rabu, September 18, 2019

Parenting Jarak Jauh

Direntang jarak, parenting jarak jauh membutuhkan mindset, komitmen, dukungan teknologi, dan konsistensi dengan kadar EKSTRA. 
Jangan coba-coba bila tak siap !

Jika dihadapkan pada pilihan, orang tua pasti lebih memilih untuk dapat selalu mendampingi buah hatinya di setiap tahap perkembangan.  Betul begitu Ayah dan Bunda?....  Ya, siapa sih yang sengaja mau terpisah dari keluarga terutama buah hatinya dalam jangka waktu yang tidak tentu?  

Pasti inginnya selalu bisa memeluk anak-anak setiap hari.  Bahkan ingin mendampinginya dalam berbagai kegiatan yang memang membutuhkan pendampingan orang tua.  Itu sudah naluriahnya para orang tua.  

Namun, pilihan itu tidak selamanya bisa diambil.  Sesuatu hal yang dipandang lebih prioritas untuk masa depan akhirnya dapat saja membuat kita memilih terpisah sementara waktu dengan keluarga dan anak-anak. 

Ada kepala keluarga yang bertugas di luar kota, sementara anak-anak dan istrinya tinggal di kota yang lain. Ada pula anak-anak yang untuk sementara waktu harus mandiri tanpa ayah ibunya karena keduanya dinas di kota yang berbeda, bahkan mungkin di negara yang berbeda.  Saya mengalaminya.  

Tulisan ini saya buat untuk berbagi dengan para orang tua yang terkondisi untuk menerapkan parenting jarak jauh.  Semoga dapat memberikan inspirasi agar tetap semangat menjalani parenting jarak jauh dalam ikhtiar segera dapat berkumpul kembali bersama keluarga. 

Ibu Lebih Sensitif?


Pada saat berjauhan dengan anak-anak, bisa diduga seorang ibu umumnya akan merasa lebih merana dibanding ayah. Sebabnya jelas, anak-anak adalah mereka yang dulu berada di rahim ibu selama sembilan bulan sepuluh hari. Ini pun saya alami. 

Hari-hari awal mulai bertugas di kantor cabang kabupaten, saya merasakan betapa merananya hidup tanpa celoteh anak-anak di malam hari sepulang bekerja.  Tidak ada teriakan ,”Ibuuuu pulaaaaaaaaang,” seperti yang selalu saya dengar setiap sore sepulang bekerja di masa lalu saat masih bertugas di kantor pusat. 

Sebab, sejak bertugas di kabupaten saya nyaris tak bisa pulang karena harus stand by di wilayah tugas, sekalipun di hari libur atau akhir pekan.  Jadilah anak-anak yang datang menghampiri saya ke rumah dinas bersama ayahnya, nyempil di sela-sela tugas ibunya.

Lebih dari itu, sholat dan doa jadi selalu dibarengi derai air mata rindu, dan bias-bias perasaan bersalah tidak dapat mendampingi anak-anak. Namun, dengan sekuat tenaga saya dan suami membangun ketegaran bersama.  Berusaha meyakini bahwa pilihan ini telah diambil, dan menjadi tanggung jawab kami bersama untuk menjaga keutuhan semuanya hingga saatnya berkumpul kembali. 

Kami pun berupaya melakukan parenting jarak jauh dengan segenap daya yang dimiliki. 
Modal utama kami ada empat yaitu mindset, komitmen, konsistensi, dan dukungan teknologi.  Semuanya dalam kadar lebih, plus, ekstra.  Serta terus kami evaluasi sikap dari waktu ke waktu.  


Berawal dari Mindset 



Untuk kuat menjalani parenting jarak jauh, kita sebaiknya mulai dari mindset yang kompak antara ayah dan ibu.  Sebagai ibu, pada awalnya saya berada dalam alam pemikiran seperti ini:  bahwa anak-anak adalah sepenuhnya tanggung jawab orang tua.  Ketika anak-anak berperilaku tidak sesuai harapan, atau tidak mencapai sesuatu yang diharapkan orang tua, sepenuhnya itu kesalahan orang tua. 

Mindset tersebut awalnya tertanam sangat kuat dalam diri saya.  Saya lupa bahwa ada kekuatan lain yang jauh lebih besar yaitu kuasa Tuhan.  

Jadi, sebelumnya saya selalu merasa bersalah ketika saya sedang tidak bersama anak-anak, lalu mereka terluka atau mengalami hal-hal buruk yang tak diharapkan. Seolah-olah semua hal buruk tak kan terjadi apabila orang tua ada di dekat anak.  Namun benarkah demikian?..

Belakangan saya menyadari, mindset seperti itu harus saya ubah.  Memang, sebagai orang tua kita bertanggung jawab penuh terhadap anak, namun bukan berarti apabila anak-anak mengalami hal-hal buruk itu menjadi kesalahan orang tua. Bukan pula selalu bahwa hal baik terjadi karena dan hanya karena orang tua selalu mendampingi anak. Tidak demikian. 

Tuhan Maha Berkehendak atas apapun, termasuk hal buruk atau hal baik sesuai dengan skenarioNya.  Hal buruk (menurut persepsi manusia) mungkin terjadi, begitu pula hal baik, karena Tuhan merencanakan sesuatu terhadap hamba-hambaNya.  Persepsi tentang hal baik atau buruk terhadap anak di mata orang tua pun tidak selamanya benar.  

Awal dari perubahan mindset ini adalah ketika saya ngobrol dengan mantan atasan yang sudah tidak sekantor lagi, tapi masih menjaga silaturahmi. Saya menganggap mantan atasan saya ini sukses dalam mendidik anak.  Ketiga anaknya semua berprestasi baik akademis maupun non akademis, mau belajar agama, dan berbudi pekerti.  Ngademin hati lah pokoknya. 

Bertanyalah saya, apakah tips dan rahasianya?... Beliau menjawab, semua adalah kuasa Tuhan.  Sebagai orang tua beliau merasa banyak sekali kekurangan, tidak selalu dapat membimbing saat dibutuhkan, tak selalu bisa hadir ketika diharapkan.  Namun, itu semua karena keterbatasannya bukan karena disengaja.  

Di tengah banyaknya kelemahan, kuasa dan kasih sayang Tuhan lah menjadikan anak-anak itu terjaga dari hal-hal buruk yang tak diinginkan.  Keyakinan bahwa Tuhan selalu mendengarkan doa orang tua terhadap anaknya, serta stok kasih sayang Nya yang tidak terbatas, membuat mantan atasan saya yakin bahwa anak-anak akan baik-baik saja. 

Saya lalu merefleksi pada diri saya sendiri, dan perlahan mengubah mindset.  Saya dan suami berdiskusi.  Kami lalu meyakini bahwa hal-hal buruk dapat terjadi pada siapa saja yang dikehendakiNya, begitu juga hal-hal baik. Bukan semata karena orang tua sedang bersama anak atau tidak. 

Mindset baru kami pun terbentuk.  Bahwa orang tua bertanggung jawab penuh pada anak-anaknya, namun kuasa Tuhan tetap di atas segalanya tentang hal baik atau buruk yang akan terjadi. 

Yang perlu dilakukan orang tua adalah berusaha semaksimal mungkin untuk hadir saat dibutuhkan anak, baik secara fisik maupun non fisik.  Selain itu, doa dan ibadah lainnya yang tak pernah putus juga adalah modal untuk menguatkan ikhtiar dalam mendidik anak.  

Mindset itu merubah segalanya.  Saya dan suami merasa menjadi lebih semangat.  Ketika berjauhan dengan anak-anak, itulah saatnya kita yakin bahwa harus melakukan yang terbaik untuk bisa berkumpul kembali.  Serta yakin bahwa selama terpisah jarak, Tuhan tetap menjaga dengan kuasaNya.

Kekuatan mindset itu luar biasa, karena mengubah cara pandang kita terhadap suatu keadaan.  Juga, mengubah cara berpikir kita yang berdampak pada sikap dan perilaku nyata sehari-hari.  Menjalani parenting jarak jauh pun kita sikapi dengan positif, bahwa ini bukan untuk selamanya.  Ini bagian dari perjalanan hidup yang harus dilewati dengan sikap positif.  

Komitmen Penuh



Komitmen penuh terhadap situasi yang dijalani adalah pondasi awal yang kami bangun untuk parenting jarak jauh.  Kami berdua menyadari komitmen saja tidak cukup.  Tapi harus penuh.  Bahkan mungkin LEBIH.  Ya, LEBIH. 

Bagaimana caranya?  Kami duduk bersama dan membahas hal-hal positif  apa saja yang dapat terjadi selama saya, suami, dan anak-anak terpisah di kota dan negara yang berbeda untuk waktu yang tak tentu.  Hal positif yang pertama, anak-anak yang sekarang di kelas 2 dan 5 SD bisa menjadi lebih mandiri dan terlatih untuk tegar. 

Mereka mungkin akan menjadi lebih terbiasa untuk memikirkan survivalnya karena tidak ada orang tua yang hadir secara fisik di saat-saat tertentu.  Selintas, ini membuat kami menangis dan sedih.  Tetapi, mengingat bahwa ini untuk sementara waktu dan demi kemajuan bersama di masa depan, kami pun menguatkan hati untuk berkomitmen lebih memunculkan sisi positif dalam perkembangan anak-anak saat jauh dari orang tua.  

Komitmen lebih itu kami jaga dan tuangkan dalam sikap. Sikap kepada anak-anak, yaitu tetap bersikap tegas untuk hal-hal yang memang harus tegas.  Lembut untuk semua hal yang butuh kelembutan. Bukan karena anak-anak tidak sedang bersama orang tua lalu mereka boleh melakukan hal apapun tanpa aturan.  Kami tetap menerapkan aturan-aturan yang sudah  berjalan, namun dengan penyesuaian di sana-sini.  

Hal positif lainnya yang bisa terasah dari terpisahnya kami adalah anak-anak belajar mengelola rasa kecewa, menghargai waktu pertemuan, tumbuh rasa kepeduliannya terhadap penjagaan diri sendiri, berpikir positif, dan yakin pada doa ataupun harapan. Kami sekeluarga jadi terdorong untuk punya mimpi besar berkumpul kembali dan berjuang untuk mewujudkan mimpi itu melalui tindakan nyata. Tindakan itu adalah “lakukan yang terbaik”. 

Keberadaan asisten rumah tangga yang sudah kami percaya, menjadi salah satu rizki dari-Nya.  Bibi yang telaten memasak makanan untuk anak-anak dan mengurus rumah membuat saya jadi lebih tenang.  Gizi anak-anak terjamin karena ketelatenan Bibi mengatur menu makan sehari-hari. 

Komitmen kami juga, satu diantara Ayah atau Ibu berusaha untuk tetap ada bagi anak-anak di akhir pekan apabila salah satu harus tetap bertugas.  Jika tidak memungkinkan bagi Ibu untuk pulang, Ayah yang datang ke wilayah tugas Ibu bersama anak-anak.  Yang penting anak-anak bisa bertemu dengan ibunya walau dalam waktu yang terbatas.

Di hari kerja, saat anak-anak tidak bersama orang tua, kami berkomitmen untuk tetap menjalin komunikasi dua arah yang sehat. Ini penting banget.  Dan mau tidak mau kami harus didukung ekstra oleh teknologi. 

Dukungan Teknologi Ekstra



Teknologi ekstra mutlak dibutuhkan dalam parenting jarak jauh. Kemajuan teknologi bisa kita manfaatkan untuk mendukung komunikasi audio maupun visual saat berjauhan dengan keluarga.  Untuk anak-anak yang masih di bawah umur, kami tidak merekomendasikan smartphone atau gadget sejenis yang menggunakan simcard dalam kendali anak.  

Mengapa?  Dampak negatifnya sangat mengancam.  Memberi anak di bawah umur 14 tahun sebuah smartphone dan sejenisnya tanpa pengawasan orang tua atau orang dewasa yang dipercaya akan membuka peluang anak kecanduan gadget serta bahaya laten pornografi. 

Kami sudah sepakat sekeluarga, juga dengan anak-anak bahwa mereka tidak akan dibelikan smartphone dan gadget sejenis sebelum usia mereka kelak 14 tahun. Itu pun nanti dievaluasi lagi apakah di usia tersebut anak-anak sudah menunjukkan sikap yang bertanggung jawab terhadap penggunaan barang semacam itu.  Ini kami tiru dari para pencipta teknologi itu sendiri.  Bill Gates si pencipta brand Microsoft, Steve Jobs si pencipta brand Apple dan Hewlett-Packard si pencipta brand HP.  

Meskipun berjauhan, aturan penggunaan gadget tetap sama seperti ketika kami masih berkumpul.  Di akhir pekan dan hari libur, anak-anak boleh main gadget dengan pendampingan orang tua.  Pada hari sekolah, anak-anak sudah sepakat no gadget. 

Untuk komunikasi dengan ayah ibunya saat berjauhan, kami menggunakan smartwatch yang simcard nya berada di bawah kendali Ibu sebagai admin.  Smartwatch tersebut bisa digunakan untuk saling berkirim pesan suara, gambar, dan video antara anak dan orang tua.  Juga bisa digunakan untuk telfon dan video call.  Komunikasi jadi lebih lancar.  Selain itu, GPS yang terpasang pada smartwatch dapat membuat orang tua bisa selalu melacak posisi anak sedang di mana, selama smartwatch tersebut dipakai oleh si anak. 

Smartwatch tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali Ibu.  Siapa-siapa saja yang ditambahkan sebagai daftar kontak yang bisa menghubungi anak pun diatur oleh Ibu. Smartwatch ini betul-betul hanya berfungsi sebagai alat komunikasi yang fun, tanpa ada games atau permainan lain di dalamnya. Sangat pas dengan yang saya butuhkan untuk anak-anak. Gadget with no games. 

Jika anak-anak ingin main games, kita tetap konsisten untuk menunggu saat bersama. Teknologi ini kurang lebihnya membentuk suatu jadwal dan kemampuan untuk menahan diri bagi kami sekeluarga.  Anak-anak jadi terbiasa tidak main games atau main gadget.  

Sebagai kompensasinya, kami orang tua menyediakan beragam buku bacaan sesuai usia mereka di rumah.  Juga kami sediakan beragam alat musik seperti gitar, piano, biola, dan lainnya untuk mereka mainkan sebagai pengganti gadget dan siaran televisi.  

Oh ya, kami sudah 6 tahun terakhir ini tidak menggunakan siaran televisi.  Anak-anak sudah terbiasa tanpa televisi. Agar mereka semangat belajar alat musik, kami sertakan mereka untuk belajar musik dengan guru privat sesuai keinginan mereka.  

Saya berpesan pada anak-anak, jika kalian sedang di rumah saat pulang sekolah atau malam hari dan karena ibu jauh belum bisa pulang, ambillah alat musik dan mainkan.  Atau ambilah buku diary, tuliskan apa yang kalian rasakan, tumpahkan di sana. 

Saya percaya seni adalah salah satu cara positif bagi anak-anak untuk mengekspreasikan apa yang belum dapat mereka ungkapkan dengan kata-kata.  Dan untuk anak yang lebih besar, menulis diary adalah cara yang positif untuk melatih mengungkapkan rasa. 

Tidak lupa, di atas segalanya saya pesan kepada anak-anak untuk tidak meninggalkan sholat lima waktu serta doa yang khusuk.  Mintalah kepada-Nya, apapun yang kalian ingin.  Ibu juga meminta kepada Tuhan.  Nanti doa kita akan bertemu di langit. Begitu pesan saya. Sehingga, kendatipun secara fisik kita belum bertemu, tetapi doa-doa kita bertemu di langit.  

Selain itu, jangan lupa kita tetap menjaga hubungan baik dengan tetangga, para guru dan pihak sekolah. Dengan bantuan teknologi juga kita dapat selalu berkomunikasi dengan mereka dalam hal perkembangan anak-anak kita sehari-hari. 

Tak perlu baper jika ternyata perkembangan anak-anak dalam akademis tidak secemerlang sebelumnya, saat kita selalu menemani mereka belajar.  Memang ada hal yang perlu ditoleransi.  Selama anak-anak masih dapat mengikuti pelajaran, sehat, aktif, dan mampu mengungkapkan perasaannya, saya meyakini semua akan baik-baik saja. 

Nilai akademis bukan segalanya, bantulah anak-anak untuk survive. Itu jauh lebih penting untuk masa depannya.  

Konsistensi Plus



Semua upaya dalam parenting jarak jauh tidak ada artinya jika tidak dijalankan dengan konsisten.  Ini bagian tersulit.  Kadang, lelah dan putus asa membuat orang tua merasa ingin quit saja.

Mungkin tips yang paling sederhana dari saya agar bisa konsisten cuma satu, segera bicara dari hati-ke hati dengan pasangan setiap kali merasa akan menyerah.  Biasanya, saat Ibu hampir menyerah- Ayah masih setrong.  Sebaliknya, ketika Ayah yang hampir nyerah, Ibu justru masih setrong.  Itulah keajaiban.  

Tuhan memang sudah menciptakan setiap pasangan untuk saling melengkapi. Karenanya, setiap kali diserang godaaan inkonsistensi, langkah pertaama yang harus dilakukan adalah kroscek dengan pasangan. Maka, akan saling menguatkan. 

Saya, contoh nyata yang sepertinya gampang sekali mau menyerah karena perasaan bersalah saat jauh dari anak-anak.  Tapi setiap kali akan menyerah, pasangan selalu mengingatkan kembali tentang awal dan tujuan dari semua ini.  

Tujuan yang akan diperjuangkan adalah kembali berkumpul pada saatnya tiba dalam kondisi yang lebih baik.  Untuk mencapai itu, maka saat terpisah ini kita harus melakukan yang terbaik.  Bukan hanya Ibu atau Ayah yang berjuang, tetapi anak-anak juga berjuang secara tidak langsung.  

Itulah sebabnya, konsisten bersikap positif tetap harus diperjuangkan.  Konsisten terhadap aturan yang sudah disepakati juga wajib.  Konsisten untuk terus mencurahkan perhatian kepada anak melalui semua channel yang bisa ditempuh, itu harus banget.  Karena konsistensi inilah yang akan membentuk anak-anak akan menjadi seperti apa nantinya. 

-------


Itulah sekedar sharing yang bisa saya tuliskan.  Rada lebay sih, nulis ini sambil mewek dan berurai air mata juga.  Karena sampai detik ini pun saya belum tahu kapan kami sekeluarga akan kembali berkumpul.  Tapi saya meyakini bahwa itu pasti akan terjadi di saat yang tepat yang sudah direncanakan olehNya.  Apabila itu masih lama, artinya saya diminta belajar lebih bersabar.  Apabila itu sudah dekat, artinya saya diminta lebih bersyukur.  

Dan saya akan terus berjalan dengan sikap sabar dan syukur sampai kapanpun.

Hal terpenting yang tidak dapat luput dari semua ini adalah dukungan dari keluarga mulai dari orang tua, mertua, ipar, kakak dan adik.  Semuanya memberikan dukungan penuh dalam bentuk yang beraneka ragam.  Semuanya membuat kasih sayang di keluarga besar terjaga dan tetap tertanam. 

Salam untuk semua keluarga yang saat ini sedang menjalani parenting jarak jauh, tetap semangat dan lakukan yang terbaik untuk dapat berkumpul kembali.  Semangat !!!! (Opi)




Kamis, Agustus 15, 2019

Luka Bersih #GakPakePerih, Bisa Ya?...


“Aduuuuuuuh… periiiiihhhh,….   Bisa gak siiiih gak pake perih …..” pekik Adek (7 tahun) histeris jika Bibi atau Mas (10 tahun) membubuhkan  cairan antiseptik pembersih luka setelah peristiwa  terjatuh dari sepeda. 
Pekik serupa juga terdengar saat hal yang sama terjadi pada Mas. Adek dan Mas sama-sama tidak tahan pada rasa perih yang muncul ketika luka dibersihkan dengan cairan antiseptik yang ada. 


Karena perih, Adek dan Mas jadi trauma dan suka ngumpet-ngumpet saat terluka. Dalam mindset mereka jadinya pembersih luka sama dengan perih. Jadi, pura-puralah luka ditutupi dengan baju atau celana panjang, supaya tidak ketahuan kalau habis terjatuh.  

Padahal, frekuensi Adek dan Mas terluka karena jatuh saat main lari-larian di lapangan atau aktivitas bermain lainnya, bisa dibilang sangat sering. Ini membuat saya kuatir anak-anak terinfeksi bakteri pada lukanya dan jadi parah karena tidak segera ditangani secara tepat.

Kalau sore-sore Bibi melihat Adek atau Mas jalan terpincang-pincang sambil meringis, dia langsung curiga. Hmmm, pasti deh nih si Adek atau Mas baru aja terjatuh dan ada luka di bagian tubuhnya, tapi ngumpet-ngumpet karena takut perih diobati.  Kalau sudah begini, Bibi langsung telepon Ibu dan lapor.  Jadilah ibu yang main drama membujuk mereka agar mau dibersihkan lukanya.

Lumayan dower deh membujuknya. Seringnya sih, minimal beli es krim untuk obat bujuk. Waduh, tapi kalau sering-sering kan ngga bagus juga ya.



Apakah Bunda juga mengalami hal yang sama dengan saya?  Anak-anak jadi trauma dibersihkan atau diobati lukanya karena antiseptiknya meninggalkan rasa perih yang berkepanjangan? Wah, senasib ya kita Bunda ..he he he.

Tapi Bunda, setiap luka yang timbul memang tidak boleh dibiarkan.  Harus ditangani secara tepat.  Langkah pertama penanganan luka adalah membersihkannya dengan cairan antiseptik.

Kenapa Luka Harus Dibersihkan ?

Luka atau cedera yang timbul akibat berbagai hal, memang harus segera ditangani.  Pada anak-anak, luka dapat terjadi cukup sering ya Bunda.  Bisa dihitung bukan, kapan anak-anak bermain tanpa terjatuh dan terluka?  Ternyata memang menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, sebanyak 36,5% cedera terjadi di lingkungan rumah lho Bunda. Ini diurutkan berdasarkan proporsi terbanyak untuk tempat terjadinya cedera.





Penyebab cedera terbanyak menurut riset di atas adalah karena terjatuh yaitu 40,9%. Nah cocok bukan?... Anak-anak biasanya jatuh saat beraktivitas seperti berlari-larian, main bola, bersepeda, atau aktivitas lainnya di playground sekitar lingkungan rumah.  Luka akibat insiden tersebut walau sekecil apapun tidak boleh diabaikan, dan perlu ditangani secara tepat. Langkah pertama dalam proses penyembuhan luka adalah membersihkan luka secara benar untuk mencegah terjadinya infeksi.

Membersihkan luka untuk semua jenis luka adalah langkah yang sangat penting, tidak terkecuali seperti luka tergores, terpotong, luka tubruk, luka terbakar, dan luka terbuka.  Saat kulit terluka, lapisan pelindung kulit sedang rusak dan memungkinkan debu kotoran serta bakteri masuk ke dalam tubuh.  Ini bisa menyebabkan infeksi pada luka.  

Infeksi pada luka dapat menyebabkan kerusakan lebih jauh pada kulit dan penundaaan proses penyembuhan.  Apabila tidak segera dibersihkan, infeksi bisa menyebar ke bagian kulit yang lebih dalam.  Ini dapat mengakibatkan gangguan kondisi kesehatan ke level yang lebih serius. 

Nah, jadi penting sekali lho Bunda untuk segera menangani luka secara tepat sekecil apapun luka itu.  Hal ini wajib kita informasikan kepada anak agar mereka juga paham pentingnya menangani luka secara benar sesegera mungkin.

Bagaimana menangani luka secara benar?  Langkah pertama, luka harus dibersihkan dengan cairan antiseptik pembersih luka. Kedua, luka harus dilindungi dari pengaruh eksternal seperti kotoran dan bakteri, bisa dengan perban atau plester.  Ketiga, lakukan cara aman untuk membantu penyembuhan luka dengan memberikan salep penyembuh luka.


Nah, langkah pertama yang paling penting adalah membersihkan luka.  Inilah tahapan yang penuh drama pada anak-anak kita karena cairan antiseptik pembersih luka pada umumnya meninggalkan rasa perih sesudahnya.  Anak-anak bahkan orang dewasa jadi trauma. 

Kenapa Perih ?

Mengutip pernyataan dr. Adisaputra Ramadhinara, Certified Wound Specialist Physician – seorang dokter spesialis luka bersertifikasi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, ternyata kandungan dalam banyak produk pembersih luka yang dijual bebas mengandung bahan yang bisa menyebabkan terasa perih serta  meninggalkan noda.   



Pembersih luka yang meninggalkan noda tidak menjadi pilihan karena noda akan menutupi luka dengan warna yang bukan warna asli luka tersebut.  Sehingga, keadaan luka yang sebenarnya tidak bisa terlihat secara jelas. Di klink dan rumah sakit, para medis lebih memilih untuk menggunakan obat pembersih luka yang mengandung Polyhexanide (PHMB) sebab tidak meninggalkan noda. PHMB juga tidak berbau dan tidak menimbulkan rasa perih.

Inovasi Hansaplast Spray : Gak Pake Perih

Nah Bunda, saat ini di pasaran sudah tersedia jenis cairan antispetik pembersih luka yang mengandung Polyhexanide (PHMB). Membersihkan luka jadi lebih bersahabat karena Gak Pake Perih lagi. Anak-anak pun jadi terbebas dari trauma. Pembersih luka yang tidak menimbulkan rasa perih ini menjadi inovasi Hansaplast



Bentuk kemasan Hansaplast ini berupa botol mini dengan spray yang menjamin isi botol tetap steril. Botolnya sangat ergonomis untuk digenggam oleh anak-anak sehingga merekapun bisa melakukan sendiri aktifitas membersihkan luka. Acara penanganan luka pun jadi kegiatan yang menyenangkan dengan Hansaplast Spray.  

Bunda pastinya sudah tidak asing lagi bukan dengan merk Hansaplast. Selama ini kita sangat akrab dengan produk plesternya yang selalu disebut pertama kali ketika membutuhkan penutup luka. Eksistensi Hansaplast memang sudah tidak diragukan lagi dalam hal mencegah infeksi.

Inovasi Hansaplast Spray Pembersih Luka dengan bahan aktif PHMB ini sangat membantu saya untuk meyakinkan anak-anak bahwa luka bisa dibersihkan tanpa rasa perih.  Gak Pake Perih.  Upaya saya menanamkan kesadaran pada anak-anak tentang pentingnya mencegah infeksi jadi lebih mudah. Saya pun jadi selalu menyediakan produk Hansaplast Spray di rumah, dan meletakkannya di jangkauan anak-anak. 




Ini dia keunggulan Hansaplast Spray sebagai pembersih luka dibandingkan cairan antiseptik lainnya di pasaran :

1.    Tidak berwarna
Karena cairannya tidak berwarna, maka luka yang sudah dibersihkan dengan Hansaplast Spray akan terlihat sebagaimana mestinya. Proses penyembuhan dan pengeringan luka juga akan mudah untuk diamati karena tidak terhalang oleh warna buatan dari cairan pembersih luka.
 
2.   Tidak berbau
Bau tertentu dari cairan antiseptik secara psikologis juga menimbulkan trauma.  Tanpa bau obat yang menyengat, aktifitas membersihkan luka akan menjadi lebih bersahabat bagi siapa saja. 

3.   Tidak meninggalkan rasa perih
Hansaplast Spray menggunakan bahan aktif PHMB / Polyhexanide/ PolyHexaMethylene Biguanide  yang membantu mencegah dan mengatasi infeksi tanpa rasa perih.  Bahan aktifnya berupa 0,1% Decyl Glucoside Tenside dan 0,04% Polihexanide (PHMB) dalam Larutan Ringer. 

4.    Aman digunakan
Tolerabilitas Hansaplast Spray lebih tinggi, efek samping lebih sedikit dibandingkan dengan zat antiseptik lain.



Bagaimana cara menggunakan Hansaplast Spray Antiseptik?  Mudah sekali, Bunda.  Ketika anak terjatuh dan terluka:
Pertama, langsung semprotkan Hansaplast Spray  dari jarak kurang lebih 10 cm ke seluruh area luka
Kedua, ulangi apabila dibutuhkan, kemudian secara perlahan keringkan area di sekitar luka. 

Nah, mudah sekali kan menangani luka dengan Hansaplast Spray?  Anak-anak juga pasti akan bersemangat mengurus lukanya. Tidak akan terjadi lagi mereka pura-pura menutupi luka dengan pakaian panjang karena takut perih diobati. 

Itu sebabnya, sejak sekarang harus sedia Hansaplast Spray di rumah ya Bunda. 




Bunda semua bisa lebih banyak kepoin tentang Hansaplast Spray di akun Instagram resmi Hansaplast yaitu @Hansaplast_ID dan Facebook Fanpage @HansaplastID ya.  Informasi lebih lanjut juga bisa diikuti di official website www.hansaplast.co.id.  (Opi)

Luka Bersih #GaPakePerih, Bisa Ya?...... Bisa Banget karena pakai #HansaplastID.



Jumat, Agustus 09, 2019

Pekerjaan Tersulit Ibu


Pekerjaan tersulit seorang ibu adalah pekerjaan yang harus dikerjakan saat dipisahkan dari buah hati tercinta. Ada ibu yang tidak setuju?.......
Dari situ, sebuah pelajaran berharga saya petik.  Tentang hari-hari terbaik bersama anak-anak yang pernah terabaikan.  Saat berjauhan, barulah terasa betapa nikmat berkumpul selama ini sering tidak dimanfaatkan dengan baik.  Saya pernah malah, merasa terbeban dengan anak-anak yang selalu apa-apa maunya sama Ibu, sampai-sampai saya tidak punya kesempatan untuk menikmati waktu sendiri. 

Ketika alih tugas dari perusahaan tempat saya bekerja ke sebuah kabupaten membuat seorang Opi harus terpisah dengan keluarga, barulah terasa betapa kemudahan waktu kumpul keluarga sebelumnya sangat berharga. Selautan emas pun tidak sebanding nilainya. 

Sebulan sudah, sejak menerima perintah alih tugas sebagai unsur pimpinan kantor wilayah di sebuah kabupaten yang tidak pernah jadi impian, saya merasakan yang namanya campur baur seperti permen Nano Nano.  Semua rasa ada.  

Pertama, rasa kuatir karena harus terpisah dengan keluarga untuk jangka waktu yang tak tentu.  Kedua, rasa takut karena akan masuk ke lingkungan yang sama sekali baru, yang pastinya akan sangat berbeda dengan lingkungan di kantor pusat.  Ketiga, rasa tak rela karena harus menggeser diri dari zona nyaman. Keempat, rasa bersalah kepada suami karena beliau akan bertambah bebannya menjaga anak-anak.  

Semua rasa itu berseliweran di hati dan pikiran saya, yang selama 18 tahun berkarir selalu berada di kota Metropolitan- Jakarta. 

Efek awal dari perasaan ini sungguh terasa.  Sebulan saya tidak bisa menulis.  Tiap malam rutinitas saya adalah memandangi foto anak-anak, menonton ulang video kebersamaan kami, termasuk video anak sulung ketika sedang adzan di masjid. Lalu mewek ke suami.  Rindu adalah penghuni utama ruang malam di kabupaten perjuangan.  Karawang. 

Bisa dibilang, Karawang itu dekat tapi jauh dari Depok. Jarak 80 km kan ya sebetulnya tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan mobil sekitar 3,5 hingga 4 jam. Cengeng banget ya si Opi sampai mewek begitu cuma pindah lokasi kerja ke Karawang aja…. Belum juga ke Papua hahaha. Sebetulnya yang bikin mewek itu juga karena walaupun dari segi jarak tidak terlalu jauh, tetapi tidak selalu bisa pulang setiap pekan untuk bertemu keluarga.  

Sebabnya? Bisa dibilang kantor wilayah Karawang  adalah mukanya Jawa Barat, sekaligus pusat pertanian dan industri.  Hanya sekedap dari Jakarta dan Bekasi.  Walhasil, kami sering menerima kunjungan baik dari Kementerian maupun Kantor Pusat dan Daerah Jawa Barat. Sebagai unsur pimpinan, adalah bagian dari tanggung jawab kami untuk stand by di wilayah kerja meski pada akhir pekan.  Sungguh tak pernah terbayangkan dalam benak saya, untuk menjalani amanah ini.  

Beruntunglah, suami yang begitu sayang pada saya bersedia datang ke wilayah tugas istrinya di akhir pekan.  Tentunya  bersama anak-anak.  Walaupun terkadang mereka harus menunggu sampai ibunya selesai bertugas untuk bisa bercengkerama dalam waktu yang tidak banyak.  Sungguh nikmat yang patut sangat disyukuri.

Blog www.opiardiani.com pun jadi kosong melompong.  Adaptasi saya di tempat baru tidak memberi ruang kesempatan untuk menulis dengan hati.  Sebetulnya, pekerjaan tidak seberat yang dibayangkan.  Bahkan saya belajar hal-hal baru yang membentuk sikap positif dalam menyelesaikan pekerjaan.  Tetapi, semua jadi terasa sulit setiap teringat anak-anak. Apakah mereka baik-baik saja?  

Biasanya malam hari adalah waktu kami bercengkerama dan mengerjakan tugas sekolah bersama.  Atau sekedar baca buku bareng-bareng, main boneka, dan membuat karya. Mendengarkan curhat anak-anak tentang guru, teman, tetangga, ataupun bibi juga adalah rutinitas sebelum tidur yang mampu melepaskan semua beban sebelum benar-benar terlelap.  

Sebulan berlalu membuat saya pun rindu menuliskan rasa rindu. Harapan saya, tulisan ini bukan sekedar jadi curhat belaka, tapi jadi inspirasi buat ibu bekerja di mana saja berada untuk tidak meremehkan sedikitpun waktu kebersamaan dengan putra-putri tercinta.  Percayalah, itu sangat mahal. Priceless.

Tantangan dan Perjuangan Si Pembelajar 


Tantangan dimulai ketika saya harus memutuskan, maju terus atau menyerah mengundurkan diri. Awalnya saya berpikir akan memilih untuk mundur.  Mungkin lebih baik saya mengundurkan diri dari pekerjaan, pikir saya ketika itu.  Karena, cepat atau lambat saya pasti akan dipromosi ke daerah. Ya walaupun saya ngga pintar pintar amat di kantor, tapi ya saya termasuk golongan karyawati yang tidak pernah melakukan pelanggaran disiplin ataupun sejenisnya.  

Prestasi saya memang tidak secemerlang rekan-rekan seangkatan yang sudah menduduki jabatan jauh lebih tinggi.  Saya termasuk karyawati yang komit untuk dapat melakukan tugas kantor seoptimal mungkin tanpa melanggar aturan kantor sekaligus tetap punya cukup waktu mendidik anak-anak serta melakukan kesenangan/hobby seperti menulis-menyanyi-bersepeda. 

Saya cinta keseimbangan hidup.  Bagi saya jabatan tidak penting, tak ada satu jabatanpun yang saya incar.  Saya merasa cukup dengan gaji yang saya terima, waktu yang ada, dan rasanya semua sempurna.  Nyaman. 

Tanpa disadari, itulah zona nyaman saya. Zona nyaman yang tidak mau saya lepaskan.  Karena begitu nyaman.  Tanpa disadari ya saya berhenti bertumbuh. Lalu, di mana si Perempuan Pembelajar yang selama ini saya gembor-gemborkan ya?....

Saya sempat menangis dua hari dua malam, setelah menerima kabar resmi promosi sebagai wakil pimpinan di kantor wilayah Karawang, Jawa Barat terhitung mulai tanggal 5 Agustus 2019.  Langsung terbayang anak-anak dan suami. Bagaimana dengan mereka nanti?  Saya tidak tahu berapa lama akan bertugas di Karawang, sehingga pertimbangan untuk membawa atau tidak membawa anak-anak jadi sangat serius.  

Tapi ya menangis kan tidak menyelesaikan masalah yang saya hadapi.  Dengan dukungan suami, Ibu, dan kakak adik, akhirnya saya memilih untuk menjalani amanah ini. Saya berhak memilih, dan saya pun memilih untuk melakukan yang terbaik dalam amanah ini sehingga kans untuk bekumpul kembali dengan keluarga akan semakin terbuka. Jika prestasi bagus, akan sangat mungkin ditarik kembali ke kantor pusat.  

Berangkatlah saya ke kabupaten perjuangan, untuk mengenyam pelajaran hidup yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan di Jakarta, kota tempat impian kelak saya akan kembali.  Kembali berkumpul dengan keluarga dan anak-anak yang telah lebih mandiri, pulang  sebagai ibu yang lebih matang.

Survival Ala Opi 


Selanjutnya, bagaimana supaya bisa survive? Pertama saya menanamkan mindset, bahwa amanah ini mengandung hikmah hidup yang bagus bagi saya dan anak-anak.  Hikmahnya, Tuhan memberi kesempatan anak-anak saya untuk belajar lebih mandiri ketika berjauhan dengan ibunya. Si kakak jadi lebih care kepada adik. Ayah jadi lebih ngayom.  Ibu pun jadi lebih tegar.  

Karena memang anak-anak masih dalam usia yang membutuhkan banyak bimbingan dan arahan orang tua, saya dan suami jadi tertantang untuk bisa melakukannya dari jarak jauh dengan fasilitas komunikasi yang ada. 

Sejak awal, kami termasuk orang tua yang tidak memberikan gadget kepada anak kecuali di akhir pekan dengan pendampingan orang tua.  Di rumah, kami juga tidak menggunakan siaran televisi sejak enam tahun terakhir.  Dan ini tetap berjalan meskipun ibunya pindah tugas ke daerah.  

Sebagai alat komunikasi visual ibu dan anak, kami memilih smart watch yang bisa digunakan anak-anak untuk telepon, berkirim pesan suara, tulisan, gambar maupun video call dengan ibunya. Smart watch tersebut juga digunakan sebagai penanda lokasi karena dilengkapi dengan GPS.  Sehingga, saya bisa tetap memantau dan berkomunikasi dengan anak-anak sekalipun berjauhan. 

Smart watch tersebut diamankan oleh aplikasi sehingga hanya anggota keluarga yang diapprove oleh admin saja yang bisa berkomunikasi dengan anak-anak.  Saya, adalah adminnya.  Dari jauh, saya memegang penuh kontrol ini.  Apabila smart watch tersebut sampai hilang, pun orang yang menemukan atau mencurinya tidak dapat menggunakannya karena kontrol admin tetap ada pada saya.  

Teknologi ini memang sengaja kami pilih untuk jalan komunikasi paling aman, karena anak-anak tidak kami perkenankan memiliki smartphone sebelum mereka cukup umur.  

Memang, komunikasi visual dan suara via smart watch tidak dapat sekaligus menggantikan komunikasi pertemuan langsung.  Tetapi, setidaknya saya dapat meyakini bahwa kondisi anak-anak baik-baik saja.  Masih bisa mendengarkan curhat mereka, melihat ekspresi wajah lucu, dan mengobati kangen karena belum dapat bertemu langsung.  

Banyak hal patut disyukuri bahwa anak-anak walaupun sempat protes dan nangis, perlahan-lahan bisa terkondisikan untuk menjalani perjuangan awal kemandirian.  Ada pelajaran hidup tentang mengelola rasa kecewa untuk kami sekeluarga.  Dan ini kami yakini akan membentuk sikap hidup yang lebih positif.  Pastinya.  

Survival saya sangat ditentukan oleh sifat pengayom suami yang dominan.  Dukungan beliau dalam menciptakan kondisi yang kondusif sangat besar.  Beliau menceritakan masa kecilnya kepada anak-anak, tentang bagaimana dulu kakek dan nenek juga berjuang karena harus terpisah oleh jarak.  Ayah mereka juga merasakan saat duduk di bangku Sekolah Dasar hanya bertemu ibunya sepekan sekali.  Namun karena meyakini itu hanya untuk sementara dan selalu berjuang untuk berkumpul kembali, maka justru membuat anak-anak menjadi belajar mandiri.  

Suami pun mendukung saya untuk menjalani amanah ini dengan mantap.  “Yakinilah bahwa ini cara Tuhan untuk memberi kesempatan kamu belajar hal yang belum ditemui sebelumnya.  Kan katanya Perempuan Pembelajar tho…belajar sepanjang hayat di Universitas Kehidupan. Belajar memimpin, mengatur strategi untuk lingkup yang lebih luas, menangani personil yang bermacam karakter, sampai belajar empati terhadap sisi lain kehidupan di daerah. Ayo, kamu pasti bisa.  Jadikan ini pijakan untuk maju menjadi pribadi yang  lebih matang dan keren.”  Begitu pesan suami. 

Begitupun orang tua, mertua, kakak-kakak dan adik semuanya memberikan dukungan supaya maju.  Terutama Ibu dan kakak laki-laki saya.  Ibu berpesan, pastilah berat meninggalkan anak-anak. Tapi cobalah untuk semeleh ati.  Semeleh kuwi entheng nanging abot, abot nanging ngentengake.  Berserah diri itu ringan tapi berat, berat tapi meringankan.  Begitu kata petuah di tanah Jawa.  Berserah diri itu menyerahkan segalanya kepada Tuhan sambil terus berikhtiar dan berdoa untuk harapan terbaik.  Di dalamnya ada pembelajaran ikhlas dan syukur yang teramat dalam.  

Berbekal itu semua, kemampuan saya untuk survive rasanya menjadi berlipat ganda.  Rasanya.  Padahal mungkin ya kemampuan saya segitu aja.  Tapi dukungan mental yang besar dari keluarga membuat saya yakin bahwa saya sedang menjalani hal yang berharga bagi keluarga. Karenanya saya harus survive. Harus.  Pun dalam menghadapi pekerjaan tersulit.  

Keluarga pun bergantian menemani anak-anak saya ketika saya bertugas. Ikatan kasih sayang kami sebagai anggota keluarga besar pun jadi semakin terasa. Semua ini patut disyukuri, meskipun kami bukanlah keluarga yang berkelimpahan uang atau harta benda.  Tapi ikatan kasih sayang yang tertanam dan terpelihara adalah rezeki bagi keluarga kami.  Rezeki yang patut disyukuri selalu. 

Harapan Saya Ke Depan 


Sebulan sudah saya di sini, di kabupaten perjuangan.  Hidup dalam lingkup yang sangat berbeda dengan belasan tahun sebelumnya.  Fasilitas seadanya, semua serba seadanya, membuat saya belajar lebih mensyukuri hidup. Lebih empati terhadap perjuangan masing-masing personil yang ada di sekeliling saya.  Lebih positif dalam menyikapi ragam hal, dari yang membuat pening sampai yang membuat mual.  Lebih bijak untuk bersikap terhadap siapa saja.  Lebih bertekad untuk mampu meringankan beban orang lain sekalipun hanya dengan senyum atau tutur kata yang adem.  Lebih, lebih, dan lebih lagi.  Untuk lebih banyak hal.

Harapan yang tumbuh subur merekah di dalam hati seiring dengan langkah bukan cuma satu dua. Banyak. Banyak sekali seperti rumpun bunga di taman yang terindah, bersemi seiring berjalannya waktu.  Harapan itu adalah semoga perjuangan ini tak pernah sia-sia, amanah ini dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya, tumbuh sejalan dengan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.  

Harapan agar anak-anak menjadi semakin mandiri dan mampu belajar berjuang berpadu dengan harapan agar saya menjadi ibu yang lebih pandai bersyukur serta instrospeksi diri.  Di ujungnya, harapan itu mengerucut menjadi satu harapan terindah yaitu kembali berkumpul dengan anak-anak dan suami tercinta dalam keridhoan Allah SWT.  

Saya meyakini, harapan itu akan selalu ada, layak diihktiarkan untuk terwujud melalui perjuangan dan doa. Pada waktu yang ditetapkan Allah SWT, harapan itu akan menjadi nyata.  

Pekerjaan tersulit seorang ibu adalah pekerjaan yang harus dikerjakan saat dipisahkan dari buah hati tercinta. Ada ibu yang tidak setuju?.......

Saya salah satu ibu yang setuju dengan pernyataan itu.  Dan saya juga termasuk ibu yang percaya bahwa saya mampu menjalani pekerjaan tersulit itu sebagai bagian perjuangan melakukan yang terbaik demi dapat berkumpul kembali dengan kesayangan…… Semoga …… Gusti Allah boten sare (Opi) 

Back to Top