Senin, Maret 18, 2019

Manajemen Risiko Mampu Menciptakan Nilai?


"Mengawinkan Manajemen Risiko dengan proses bisnis di Indonesia kini masih merupakan tantangan tersendiri. Para pakar dan praktisi kerap merasakan posisi manajemen risiko bagaikan “makhluk asing” yang terpisah dari proses organisasional lainnya. Nampaknya, selama proses integrasi manajemen risiko ke dalam rangkaian proses bisnis masih tersendat, selama itu pula tujuan manajemen risiko untuk menciptakan dan melindungi nilai semakin sulit dicapai."

Oleh karena itu, para leader dan praktisi  seharusnya memiliki kemampuan yang cukup dalam mengelola risiko. Memahami pedoman pengelolaan risiko, yang saat ini berbasis pada ISO 31000:2018 berikut updatenya, merupakan bagian penting.  Sama pentingnya dengan kepedulian dan kesadaran terhadap pengelolaan risiko. Untuk itulah buku Manajemen Risiko Berbasis ISO 31000:2018- Panduan untuk Risk Leaders dan Risk Practitioners hadir.  


Saya merasa perlu untuk mengulasnya dalam artikel #ulasanbuku  karena telah merasakan manfaat nyata dari buku ini.  Sebagai Risk Compliance Officer di Kantor Pusat sebuah BUMN, pekerjaan saya antara lain melakukan Risk Assessment sangat terbantu dengan panduan buku ini.   Ditulis oleh para begawan yang telah malang melintang di bidang Tata Kelola Perusahaan dan Manajemen Risiko berikut sertifikasinya, kualitas buku kuning ini tidak perlu diragukan lagi. 

Patut salut terhadap upaya para penulis buku yaitu Bapak Leo J Susilo dan Victor Riwu Kaho dalam menyajikan tutorial lengkap untuk para leaders dan praktisi di bidang Manajemen Risiko. Selain memberikan panduan, para penulis buku ini juga membuka cakrawala pembaca tentang realitas penerapan Manajemen Risiko di bisnis internasional, terutama perihal integrasi Manajemen Risiko ke dalam proses bisnis. 

Buku ini menggarisbawahi perihal manajemen risiko bertujuan untuk menciptakan dan melindungi nilai, membantu mencapai bahkan melampaui sasaran, dan meningkatkan kinerja organisasi.  Bila hal ini tidak terjadi pada organiasi yang telah menerapkan manajemen risiko, artinya ada yang salah dengan penerapan tersebut. 



Seperti kebanyakan yang terjadi, kemungkinan besar penyebabnya adalah belum terintegrasinya manajemen risiko ke dalam seluruh proses bisnis organisasi. Silo-silo atau kotak-kotak yang terpisah dalam bekerja membuat manajemen risiko hanya sekedar catatan tentang sederet daftar risiko yang belum tentu ditangani dengan benar. 

Dibagi menjadi 6 Bab, buku ini didahului oleh Prolog dan diakhiri oleh Epilog.  Prolog buku mengambil tajuk “Bila Manajemen Berisiko”.   Manajemen yang berisiko terjadi apabila jajaran manajemen tidak memahami apa yang dapat menyebabkan kegagalan dalam pencapaian sasaran organisasi, dan peluang apa yang dapat mempercepat melampaui sasaran. Kalau sudah begini, bagaimana manajemen dapat mengelola risiko dengan tepat? Ini sungguh menjadi “Manajemen Berisiko”.  

Prolog buku ini juga memaparkan peristiwa-peristiwa berisiko tinggi  yang pernah terjadi di dunia, serta mengambil pelajaran darinya.  Persiapan, perencanaan, dan pengelolaan yang baik adalah kunci. Jangan pernah menabung faktor risiko hingga mewujud jadi bencana. Apalagi merendahkan agenda politik sebagai penyebab risiko. Arogansi individu dan organisasi seringkali menjadi penyebab risiko yang lebih besar daripada yang pernah diduga.  


Isi utama buku ini adalah panduan melakukan manajemen risiko dalam organisasi berbasis ISO 31000. Bagi organisasi yang pernah menerapkan manajemen risiko dengan standar lain dan ingin beralih ke ISO 31000, disarankan untuk melakukan adaptasi dan penyesuaian seperlunya sehingga penerapan manajemen risiko dapat berlangsung dengan efisien, efektif, dan konsisten.  

Bab 1 hingga 6  membahas pemahaman risiko berikut ruang lingkupnya hingga prinsip-kerangka kerja-proses manajemen risiko berbasis ISO 31000:2018. Termasuk juga penjelasan atas perubahan-perubahan yang ada dibandingkan dengan ISO31000 versi tahun sebelumnya (2013).  



Pada bab-bab tersebut, disajikan apa saja lingkup penerapan Manajemen Risiko dan bagaimana cara memahami risiko.  Prinsip-Kerangka Kerja-Proses Manajemen Risiko diurai secara detil pada bab 4 sampai dengan 6.  

Khusus di bagian Epilog, sebuah bahasan tentang “Menciptakan Nilai” serta uraian Studi Kasus di POLARIS dan LEGO Group disajikan. Ini memberikan paparan bagaimana praktek manajemen risiko perusahaan kelas dunia mampu menciptakan dan melindungi nilai. Keduanya menjadi contoh nyata dalam integrasi manajemen risiko ke dalam proses bisnis sehingga mampu mencapai sasaran perusahaan. 

Menciptakan dan Melindungi Nilai 


Studi Kasus POLARIS 


Studi pada kasus ini menunjukkan bagaimana manajemen risiko diintegrasikan pada manajemen proyek.  Proyek Polaris adalah proyek kapal selam yang mampu melontarkan peluru kendali tanpa harus muncul ke permukaan laut.  Proyek ini muncul sebagai upaya Amerika Serikat (AS) untuk menyiapkan serangan balasan kepada Uni Sofyet (US) pasca peluncuran satelit Sputnik I dan II di tahun 1957.  

Mengapa AS berusaha melakukan serangan balasan dengan cara membuat kapal selam ini?  Selain karena merasa terhina, Pemerintah AS juga khawatir apabila US sudah mampu menempatkan satelit di angkasa, maka mereka dengan mudah mampu memantau tanpa hambatan seluruh lokasi strategis persenjataan AS. Ini sangat berbahaya bagi AS.  



AS memperkirakan bahwa dari aspek teknologi, US memerlukan waktu sekitar 5 tahun untuk menempatkan rudal nuklir di angkasa.  Jadi, AS memilki tenggat waktu relatif sempit untuk mengembangkan teknologi dari nol hingga Polaris berhasil dibuat.  

AS menerapkan Manajemen Risiko dalam seluruh tahapan mulai dari awal hingga akhir pelaksanaan Proyek Polaris ini.  Seluruhnya berbasis risiko.  Perencanaan disusun mulai dari metodologi, budget, schedule, hingga peta risikonya.  Identifikasi risiko dilakukan dengan review semua dokumen terkait proyek.  Analisi risiko dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif.  

Perlakukan risiko dalam proyek Polaris dibagi dua, yaitu perlakuan terhadap risiko positif dan perlakuan terhadap risiko negatif seuai dengan nilai EMV (Expected Monetary Value) yang diperoleh.  


Untuk risiko positif, perlakuan terhadap risiko kemungkinannya adalah : eksploitasi, ditingkatkan, berbagi, atau diterima.  Sedangkan untuk risiko negatif maka kemungkinan terhadap perlakuannya adalah hindari, mitigasi, transfer, atau diterima.  

Bagaimana hasil yang dicapai proyek Polaris dengan integrasi manajemen risiko ke dalam manajemen proyek?  Ternyata, waktu penyelesaian proyek tiga tahun lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan.  Selain itu juga ditemukan teknik dan metode baru sebagai solusi dari berbagai macam risiko yang teridentifikasi.  Misalnya, ditemukan teknik baru pengelolaan manajemen proyek, hulu ledak yang kompak dan dapat diintegrasikan ke sistem rudal  yang ada, serta pelindung panas untuk hulu ledak nuklir.  Kesemuanya ini menunjukkan penciptaan nilai yang baru.  


Pelajaran yang dapat ditarik dari Proyek Polaris adalah, dengan menerapkan manajemen risiko yang diintegrasikan ke dalam proses pelaksanaan proyek maka kesamaan bahasa dan pehamanan terhadap sasaran proyek dapat diperoleh.  Sehingga, apabila diperlukan perubahan atau pemutakhiran, dapat lebih mudah dilakukan .  Risiko-risiko pun dapat diidentifikasi dengan cepat, sehingga risiko negatif dapat ditangani lebih dini.  Sementara, risiko positif dapat dimanfaatkan segera untuk melampai sasaran.  Semua risiko mampu diukur dan dicarikan solusi yang paling tepat.  

Studi Kasus LEGO 


Contoh kasus bahwa manajemen risiko yang diintegrasikan pada proses bisnis akan mampu menciptakan nilai, ditunjukkan pada LEGO Group.  LEGO Group adalah perusahaan mainan balok susun yang didirikan tahun 1932 di Denmark oleh Ole Kirk Kristiansen. Perusahaan mainan ini terus berkembang dan makin cemerlamng saat ini.

Dalam studi kasus ini, manajemen risiko diintegrasikan pada manajemen strategis sehingga membuat LEGO mampu tumbuh jauh di atas pertumbuhan pasar.  Walaupun ini bukan semata-mata karena kontribusi manajemen risiko semata, namun para CEO LEGO meyakini manajemen risiko berkontribusi dalam penciptaan nilai.  



Kisah serunya, silakan langsung dibaca ya di buku kuning setebal 360 halaman ini.  Dijamin akan memperluas wawasan dan memberikan impak yang positif.  Yuk…cuuuzzzz belajar Manajemen Risiko. (Opi) 

Informasi Buku 
Judul buku :  Manajemen Risiko Berbasis ISO 31000: 2018, Panduan untuk Risk Leader dan Risk Practitioners 
Penulis :  Leo J Susilo dan Victor Riwu Kaho 
ISBN: 978-602-05-1234-1
Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) Jakarta 2018
Tebal buku : xxiv +360 hlm. 
Dimensi 15 x 2,3  x 23 cm 
Harga Rp 95.000,-


Minggu, Maret 17, 2019

Manajemen Risiko Perpajakan Perusahaan: Insight Sederhana yang Menancap!


“Denda pajak yang menggunung di sebuah perusahaan potensial menggerus laba yang semestinya diperoleh. Padahal, laba bersih perusahaan adalah cermin kinerja yang selanjutnya sangat mempengaruhi jumlah insentif yang akan diterima oleh karyawan. Lalu, Manajemen bisa apa?”

Miris sekali jika ilustrasi tersebut terjadi di perusahaan tempat kita bekerja.  Pasti tidak mau kan? Capek-capek bekerja, kok labanya ludes gara-gara denda pajak! Ngga dapat bonus dong! Kok bisa?
Iya, ternyata bisa kejadian seperti itu lho! Getir tapi nyata. 

Denda Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari proses penjualan dan pembelian yang dilakukan oleh perusahaan sangat potensial mengurangi total keuntungan. Sebabnya, bisa karena faktur pajak masukan cacat-tidak dapat dikreditkan, faktur pajak keluaran tidak tepat waktu, atau kurang bayar .  Semua itu kena denda! Bisa terbayang kan jika transaksi jual beli barang kena pajak yang terjadi jumlahnya milyaran ataupun triliunan, kemungkinan akumulasi dendanya juga bisa mencapai 10 digit! 


Sssst, saya pun baru belakangan ini agak peduli dengan yang namanya masalah perpajakan perusahaan.  Sebagai karyawati BUMN yang tidak memiliki latar belakang pendidikan perpajakan, saya awalnya sangat buta soal pajak badan.  Namun, sejak bertugas sebagai Risk Compliance Officer di Divisi Penjualan Distributor dua tahun terakhir ini, saya mulai terdorong untuk belajar memahami risiko-risiko apa saja yang strategis dan mayor di perusahaan. 

Mata dan pikiran saya mulai terbuka, ketika menghadapi kenyataan bahwa risiko perpajakan itu cukup mengerikan jika tidak dikelola dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab semua pihak.  Betapa banyak hal yang perlu dipelajari dan dipahami  untuk andil dalam kesadaran dan tanggung jawab ini.  


Hunting buku dan membaca adalah cara saya yang paling sederhana untuk belajar hal-hal yang menjadi kebutuhan di tempat kerja. Buku-buku Manajemen Risiko di Bidang Perpajakan tidak banyak beredar di pasaran.  Buku genre ini termasuk jenis buku yang langka.  Tidak seperti buku-buku Manajemen Pemasaran yang banyak ragammya, tersebar di pasar maya dan nyata.  

Di suatu malam gerimis sepulang kantor, langkah kaki menggiring saya ke obral buku cuci gudang di Toko Gramedia Depok. Lautan buku yang membuat para kutu buku ngences terbentang di hadapan.  Buku-buku berkualitas diobral mulai dari harga Rp 10.000,- hingga Rp 30.000,-.  Di sinilah saya menemukan buku tipis dan ringkas yang membahas Manajemen Risiko Perpajakan Perusahaan. Inilah buku Corporate Tax Risk Management


Tipis dan Ringkas ?


Iya, buku Corporate Tax Risk Management yang ditulis Dr. Nur Hidayat, SE,ME, Ak,CA, BKP ini relatif tipis (166 halaman).  Hanya seukuran buku tulis yang bisa digunakan anak Sekolah Dasar. Isinya terbagi dalam 5 Bab yang sistematis, yaitu :

Bab 1 Dasar-Dasar Manajemen Risiko 
Bab 2 Kewajiban Perpajakan dan Sanksi 
Bab 3 Mengidentifikasi Risiko Perpajakan Perusahaan 
Bab 4 Mengukur Risiko Perpajakan Perusahaan 
Bab 5 Mengelola Risiko Perpajakan Perusahaan 

Masing-masing bab menjelaskan secara ringkas tentang pokok bahasan bab.  Ringkas banget malah.  Dari masing-masing poin ringkas, nampaknya pembaca perlu tambahan bacaan lebih lengkap yang bisa ditelusur di Daftar Pusataka di bagian belakang buku ini.  


Buku ini pas sekali untuk para praktisi perpajakan sebagai modal bacaan dalam mempersiapkan diri memenuhi kewajiban pajak agar terhindar dari risiko pajak yang memberatkan. Selain itu, ulasan gamblang dalam buku ini juga bermanfaat bagi pembaca yang ingin mendalami perpajakan dalam perspektif yang berbeda.  

Secara umum, buku ini memiliki nilai advokasi yang komprehensif bagi pembaca yang ingin mengetahui dan mendalami manajemen risiko perpajakan, baik saat mempersiapkan transaksi dan saat menyiapkan laporan-laporan pajak yang menjadi rutinitas di setiap perusahaan.  

Bagi saya yang sudah lebih dulu belajar Manajemen Risiko sebelum membaca buku ini, uraian di buku ini terasa lebih praktis. Lebih ke arah implementasi atau praktek di perusahaan.  Contoh-contohnya juga tidak njlimet.  Sederhana, singkat, dan terstruktur. Makanya, buku ini memang cocok sekali bagi praktisi.  Walaupun, buku ini juga ditujukan bagi para mahasiswa Program Sarjana dan Pascasarjana yang mengambil mata kuliah Manajemen Perpajakan.  


Buku ini memang bukan murni gagasan penulis, melainkan banyak terinspirasi dari beberapa karya yang telah lebih dulu terbit di seputar Manajemen Risiko dan Manajemen Perpajakan.  

Mengelola Risiko Perpajakan Perusahaan ala Buku Ini 


Risiko bukanlah sesuatu yang bisa dikelola sekali dalam setiap kuartal, bulan, atau minggu.  Risiko timbul dan harus dikelola sepanjang waktu. Begitu pula dengan risiko perpajakan pada suatu perusahaan. Pengelolaan risiko seharusnya terintegrasi dengan setiap proses pengambilan keputusan, penentuan dan implementasi strategi, serta pengelolaan kinerja setiap elemen perusahaan.  

Pengelolaan risiko perpajakan perusahaan erat kaitannya dengan mengelola risiko pajak yang diperkirakan, yaitu risiko yang diterima kehadirannya oleh perusahaan.  Menurut buku ini, tiga hal utama dalam menyikapi risiko pajak yang diperkirakan adalah : 

1. Perusahaan menjadikan risiko sebagai bagian dalam proses penyusunan strategi 
2. Perusahaan mengalokasikan sejumlah dana cadangan (cushion) terhadap risiko 
3. Perusahaan menerapkan manajemen risiko dengan pilihan penghindaran risiko, pengurangan risiko, pemindahan risiko, atau penangana risiko.  


Pilihan untuk penghindaran, pengurangan, pemindahan atau penanganan risiko dipilih berdasarkan analisis pada peta risiko yang telah dibuat sebelumnya.  Peta risiko dibuat berdasarkan identifikasi dan pengukuran/penilaian risiko di tiap poin perpajakan.  

Sebagai contoh, di poin PPN (Pajak Pertambahan Nilai), ada empat risiko yang mungkin terjadi yaitu; 

1. Faktur pajak cacat sehingga tidak dapat dikreditkan
2. Faktur pajak keluaran tidak tepat waktu akan berdampak sanksi denda 
3. Kurang bayar , maka akan berdampak pada cash flow 
4. Lebih bayar, maka akan berdampak pada pemeriksaan 

Misalnya suatu perusahaan melakukan penjualan Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP).  Faktur pajak PPN pada umumnya dibuat pada saat penyerahan atau penerimaan.  Apabila Pengusaha Kena Pajak (PKP) menerbitkan faktur tidak tepat waktu, maka akan dikenakan sanksi denda. 



Ada BKP berupa komoditi pertanian (contohnya jagung untuk pakan ternak) yang nilai PPN nya nol rupiah.  Namun, pada saat penjualannya tetap harus dibuat faktur pajak dengan nilai nol tersebut.  Apabila faktur pajak tidak dibuat atau terlambat dibuat, akan terkena sanksi denda yang jumlahnya merupakan prosentasi dari nilai penjualannya.  Denda ini ternyata jumlahnya berpotensi semakin menumpuk dan bisa jadi melebihi biaya-biaya penjualan lainnya.  Menggerus laba?  Bisa jadi! 

Sebagai dasar pemahaman, buku ini sangat baik.  Namun, untuk implementasi di perusahaan, buku ini tidak dapat berdiri sendiri.  Kita membutuhkan buku-buku tambahan untuk mengelaborasi poin-poin yang disampaikan.  

Di tengah minimnya literatur dan buku-buku yang membahas tentang topik manajemen risiko perpajakan perusahaan, buku ini diharapkan akan memacu diskurus (pertukaran ide dan gagasan secara verbal) di bidang manajemen risiko perpajakan perusahaan lebih lanjut. Sangat disarankan untuk membaca buku ini didampingi dengan buku manajemen risiko yang semakin berkembang teori dan prakteknya.  Bagi saya, buku ini memberikan insight sederhana yang menancap.  (Opi) 




Informasi Buku
Judul buku :  Corporate Tax Risk Management / Manajemen Risiko Perpajakan Perusahaan 
Penulis :  DR. Nur Hidayat, SE,ME,Ak,CA,BKP
ISBN 978 602 02 5991 8 
Penerbit : PT Elex Media Komputindo 
Cetakan pertama , Februari 2015
Dimensi 14 x 1,1 x 21 cm 
Tebal buku : viii + 166 hlm.
Harga Rp 37.000,-

Selasa, Februari 26, 2019

Ulasan Buku : Didiklah Anak Sesuai Zamannya




Ketakutan berlebihan para orang tua akan pengaruh negatif gawai terhadap anak-anak adalah bukti ketidakmampuan mereka dalam beradaptasi dengan perkembangan zaman.  Ketakutan yang ironi. Orang tua sendiri tak bisa lepas dari gawai, lalu sang anak diminta untuk tidak menyentuh gawai? Orang tua tak hadir saat anak ingin melakukan aktivitas fisik bersama, tapi anak dimarahi ketika beralih ke gawai? Ironi ini perlu disadari orang tua agar bertindak solutif.  Tamparan bagi para orang tua, ya memang, tapi demikianlah adanya yang terjadi.  


 Anak-anak yang terlahir di masa kini adalah milik zamannya sendiri.  Tidak dapat ditentang atau dilawan.  Kita para orang tua tidak bisa lagi memaksakan nostalgia akan masa kecil yang bebas di sawah dan kebun bersemak belukar ketika semuanya telah berubah jadi bangun ruang berlayar digital.  Lalu bagaimana? 

“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu.” – Ali Bin Abi Thalib  

Mendidik anak sesuai dengan zamannya adalah kunci.  Orang tua pun diminta untuk beradaptasi dengan era baru.  Mengoptimalkan potensi anak di era digital ada caranya.  Kunci jawaban dan cara inilah yang dibahas dalam format tanya jawab di buku “ Didiklah Anak Sesuai Zamannya” yang ditulis oleh Nyi Mas Diane Wulansari. Syaratnya, orang tua harus mau berubah dan memahami kebutuhan anak secara bertanggung jawab.  Sebab, bagaimanapun jadinya anak adalah karena hasil tindakan orang tuanya.  

Buku ini tidak hanya enak dibaca, tetapi juga penting untuk dimiliki orang tua sebagai referensi.  Isi buku ini menjawab segala tantangan era digital apa adanya.  Tidak hanya memberikan saran bagi para orang tua dalam bertindak, tetapi juga memberikan solusi bagaimana agar anak-anak mempergunakan gawai dengan semestinya.  Tanpa menghakimi, buku ini menyajikan rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan seputar penggunaan gawai bagi anak.


Mengendalikan Teknologi 


Buku ini diawali dengan ajakan yang mendasar dalam menyelami era digital, yaitu mari kita kendalikan teknologi agar teknologi tidak mengendalikan kita. Manusia menciptakan teknologi untuk mempermudah dan meningkatkan kualitas kehidupan. Karena itu, sepantasnya manusia memegang kendali terhadap teknologi yang diciptakannya.  Bukan malah dikendalikan oleh teknologi sehingga terenggut kebebasannya. 

Bagaimana cara orang tua mengendalikan teknologi?  Tidak lain dengan penuh kesadaran menyediakan waktu yang cukup untuk memperhatikan, mendampingi, dan mengawal anak-anak dalam menggunakan teknologi baru yang muncul.  Selain itu, cara yang penting dilakukan adalah meningkatkan daya literasi teknologi orang tua agar memiliki kemampuan menyaring informasi.



Minimnya literasi digital yang berpadu dengan kesibukan orang tua sehingga enggan mendampingi anak, akan menciptakan kondisi asosial antara orang tua dan anak. Masing-masing berjalan sendiri dan semakin asing dari hari ke hari. Ditambah dengan sikap orang tua yang selalu ingin agar anak-anak menuruti kemauan mereka, jadilah semakin jauh dan dalam jurang komunikasi akan terentang. 

Era Digital, Generasi Digital, dan Optimalisasi Potensinya


Tanya jawab dalam buku ini disajikan agar orang tua mampu melindungi anak-anak dari ancaman era digital, tetapi tidak menghalangi potensi manfaat yang ditawarkannya. Menurut buku ini, mendidik anak di era digital merupakan suatu proses pendampingan dan dialog dalam membangun ikatan emosional (bonding) dengan memberi latihan lengkap.  Latihan itu mencakup ajaran, tuntunan, dan pengetahuan mengenai akhlak dan moral anak didik, dengan menggunakan sistem digital untuk kehidupan sehari-hari dan dilakukan sejak usia dini.   

Era digital adalah suatu masa ketika sebagian besar atau seluruh masyarakatnya menggunakan sistem digital, teknologi komputer, dan internet dalam kehidupan sehari-hari.  Sistem digital ini telah terbukti mutakhir dari sistem yang telah dikembangkan sebelumnya, yaitu sistem analog.  



Di era digital terdapat dua generasi berbeda yaitu Generasi Digital Native dan Immigrant Digital.  Anak-anak era kini sebagai Generasi Digital Native adalah mereka yang lahir di masa perkembangan teknologi digital tengah berlangsung.  Generasi ini sudah mengenal internet sebelum mulai belajar menulis.  Sementara kebanyakan orang tua adalah Generasi Immigrant Digital, yaitu mereka yang lahir saat teknologi digital belum berkembang pesat.  Generasi ini telah berusia dewasa ketika internet mulai berkembang pesat.  

Gap ini pada kenyataannya membentuk cara pandang yang berbeda antar generasi. Orang tua sebagai generasi yang mengenyam masa di mana teknologi belum berkembang versus masa kini di saat terknologi begitu pesat, dihantui oleh ketakutan akan intrusi kebebasan yang kebablasan pada anak-anak  mereka.  Sementara, mereka sendiri asyik menikmati teknologi baru itu.  



Orang tua diharapkan mampu melindungi anak-anak dari ancaman era digital, tetapi tidak menghalangi potensi manfaat yang ditawarkannya.  Hal yang menjadi PR besar bagi orang tua adalah mempersiapkan anak-anak dalam menghadapi zamannya, yang bukan zaman orang tua. Visi besarnya tentu agar anak-anak menjadi pribadi yang bermanfaat dan berdaya guna, serta menjadi amal kebaikan kelak di akhirat.  Dari sinilah pentingnya para orang tua berkembang, sehingga perlu menyesuaikan dengan pendidikan anak-anak kita.  

Di dalam buku ini, dikemukakan secara sederhana dalam bentuk tanya jawab hal-hal mendasar yang berkaitan dengan optimalisasi potensi anak di era digital.  Mulai dari rekomendasi batasan-batasan  konsumsi gawai pada anak, kebiasaan-kebiasaan buruk orang tua memegang gawai di depan anak, media sosial dan proteksinya bagi anak dan remaja, hingga perihal kecanduan gawai dan pornografi. 

 
Kapan Anak Boleh Punya Gawai? 


Sebelum membaca buku ini, saya kesulitan menjawab pertanyaan anak sulung, ”Kenapa aku ngga boleh punya ponsel sekarang?” Ketika itu anak sulung saya duduk di kelas 3SD, dan saya tidak memenuhi permintaannya untuk memiliki ponsel seperti teman-temannya yang lain. Setelah membaca buku ini, saya bisa mengajaknya duduk santai dan membaca bersama.  


Di halaman 25, buku ini menjelaskan tentang penelitian American Academy of Pediatrics (AAP) yang merekomendasikan gawai hanya untuk anak usia di atas 13 tahun.  Begitupun para tokoh dunia seperti Bill Gates, Steve Jobs, dan Hawlett Packard tidak memberikan gawai pada anak mereka sebelum usia 14 tahun.  Maka saya pun membuka jalur cakrawala kepada si Sulung, bahwa para tokoh pencipta teknologi gawai itu sendiri tidak mengizinkan anak mereka untuk punya gawai sebelum usianya 14 tahun.  Mereka pencipta teknologi paham betul dampak negatifnya, dan tidak rela anak kesayangan mereka dikendalikan teknologi.



Anak sulung saya ternyata  dapat menerima penjelasan ini. Dapat diterima oleh logika berpikirnya. Ia pun lalu mulai tertarik membaca sejarah para tokoh dunia yang membawanya pada cakrawala baru yang lebih luas.  Ia tidak keberatan ketika saya memperkenalkan metode yang digunakan keluarga Bill Gates terhadap ketiga anak mereka yaitu: 

1. Melarang anak memiliki ponsel sebelum usia 14 tahun
2. Membatasi screen time, sehingga anak memiliki lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama keluarga
3. Tidak mengizinkan anggota keluarga membawa ponsel saat makan bersama
4. Menentukan jam berlaku untuk menatap layar digital setiap hari, sehingga bisa pergi tidur tepat waktu.  Diusahakan satu jam sebelum tidur tidak lagi bermain gawai. 

Mengganti Gawai dengan Buku Bacaan?


Buku ini mengajarkan bahwa memupuk gairah membaca sejak dini, jauh lebih dini dari memperkenalkan gawai pada anak, adalah sangat baik.  Kemampuan literasi yang terbentuk sejak dini akan membiasakan anak untuk lebih senang membaca dan menelusur informasi secara tersistem.  
Lebih dulu menumbuhkan kecintaan membaca buku akan mempermudah orang tua untuk mengajarkan anak-anak mengendalikan teknologi perlahan-lahan. Tapi jika orang tua sudah lebih awal memperkenalkan gawai dan layar digital sejak anak belum terbiasa untuk membaca, kreativitas anak akan jadi rendah.  Kemungkinan besar anak akan jadi malas membaca dan kurang mencintai ilmu pengetahuan. 



Membaca itu pada awalnya bukan diajarkan, tetapi ditularkan. Anak-anak akan mencintai buku bacaan dan terbiasa membaca apabila melihat orang tuanya sebagai role model.  Jangan pernah bermimpi anak-anak gemar membaca jika orang tua tidak pernah membacakan buku untuk anaknya, mengajak ke perpustakaan dan ke toko buku, atau menghadiahkan buku-buku pada anak-anak sejak dini.  

Mempertahankan Kebersamaan di Era Digital 


Bagian akhir buku ini memuat langkah-langkah bijak dan cerdas mendidik anak di era digital bagi para orang tua, sehingga potensi anak melesat dan kebersamaan keluarga tetap terjaga.  Kuncinya orang tua harus menyediakan waktu untuk belajar menjadi role model dan mendampingi putra putrinya.  

11 langkah yang disarankan buku ini adalah: 

1. Tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bertekad untuk mengontrol diri 
2. Membuatkan jadwal atau buku harian media, misalnya waktu yang dapat digunakan untuk menonton televisi, berselancar di internet, atau bermain game
3. Orang tua berperan serta bersama-sama lembaga pendidikan yang terkait dengan anak
4. Memupuk kecintaan kepada pengetahuan 
5. Menghadirkan sarana berkualitas di rumah
6. Membaca buku bersama anak dan menumbuhkan kecintaan buku pada anak.  Jadikan kegiatan membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dan bermakna bagi anak.  Pupuklah gairah anak untuk membaca sejak dini karena membaca merupakan kunci pembuka jendela dunia.  Saat kunci tersebut ditemukan, mereka akan siap menghias dunia dengan penuh warna.   
7. Membatasi penggunaan media digital dengan membuatkan jadwal atau buku harian media dan pendampingan 
8. Mengaktifkan parental control atau media pengendali di bawah pengawasan dan bimbingan orang tua 
9. Membuat kesepakatan terkait acara TV yang boleh ditonton dan pastikan acara tersebut memang untuk anak-anak
10. Mendorong anak untuk melakukan aktivitas, terutama di luar ruangan, dengan teman sebaya dan bersama orang tua seperti bercocok tanam, bersepeda, bermain layang-layang, bermain bola, bermain permainan tradisional seperti gangsing, petak umpet, dan berolahraga serta main catur
11. Jadilah role model bagi anak 



Orang tua patut sepenuhnya sadar, bahwa ketika zaman berubah maka tantangannya pun berubah.  Anak-anak akan hidup dalam kedewasaan di zaman kelak di mana orang tua sudah jadi abu. Tidak ada yang paling bijak kecuali membukakan pintu bagi mereka menyongsong zamannya dengan daya survival maksimal.  Dan itu tak akan tercapai dengan cara melarang anak main gawai saja. Gawai hanyalah alat.  Lebih dalam di balik itu, orang tualah yang bertugas menjalin hubungan hangat dengan anak dan mendampingi mereka menggali potensi diri dengan penggunaan gawai yang semestinya.   

Buku ini sesuai untuk cermin para orang tua, apakah kita sudah menjadi role model yang pantas bagi anak-anak kita?  (Opi)




INFORMASI BUKU 

Judul :  Didiklah Anak Sesuai Zamannya : Mengoptimalkan Potensi Anak di Era Digital
Penulis :  Nyi Mas Diane Wulansari (Dee Motivational) 
Penerbit PT Visimedia Pustaka,  Jakarta 
Tebal buku : x+190 hlm, 215 x 200 mm 
ISBN (13) 978-979-065-290-3
Cetakan pertama, 2017 
Harga Rp. 95.000,-
Juga tersedia dalam versi e-book di Google Play 

Selasa, Januari 22, 2019

Tujuh Cara Memerangi Sampah Digital Ala Narablog 4.0


Aktif sebagai narablog / blogger merupakan tantangan tersendiri di era Revolusi 4.0 yang serba dinamis.  Di sepanjang tahun 2018, saya telah merasakannya dan jadi ketagihan! Bisa mendisiplinkan diri untuk menulis hal-hal yang disukai dengan lebih tertata, dan meraih prestasi dari beberapa kompetisi blog, cukup membanggakan bagi saya. Semua itu saya lakukan di sela aktivitas utama sebagai ibu dua anak sekaligus pekerja kantoran.

Apabila ada kompetisi blog yang temanya sesuai passion, pasti langsung saya ikuti. Kesan paling mendalam adalah saat mengikuti lomba blog bertema Rokok Harus Mahal yang diselenggarakan oleh Kantor Berita Radio (KBR),  dan Kompetisi Menulis bertema Stop Mom War yang diselenggarakan Kumpulan Emak-Emak Blogger (KEB) bekerjasama dengan Penerbit Diva Press. Dibandingkan puluhan kompetisi lain yang saya ikuti, yang dua ini benar-benar tidak disangka akan menang!

Kedua tulisan yang diikutsertakan pada kompetisi tersebut bersumber dari pengalaman duka pribadi. Tulisan berjudul 3 Sebab Utama Perempuan Dukung Rokok Harus Mahal berhasil menyabet dua kali juara dalam satu rangkaian lomba blog. Satu kali di periode bulanan, satu kali di grand final.  Jadi, tulisan yang menang di periode bulanan dinilai kembali di grand final.

Bisa dibilang, ini keberuntungan. Tidak sedikit narablog yang menulis berkali-kali di tiap periode tapi tidak mendapat juara.  Sementara saya, satu kali menulis bisa juara di periode bulanan (Mei) sekaligus grand final (September).  Saya menerima hadiah uang tunai dua kali, dan merasa tersanjung!


Momen spesial di tahun 2018 yang membuat saya semakin positif dalam menyikapi pengalaman duka atau sakit sebagai sumber inspirasi berkarya lewat tulisan

Tulisan double winner itu berkisah tentang pengalaman duka wafatnya ayah tercinta dan hubungannya dengan rokok.  Menurut penilaian Dewan Juri, kekuatan tulisan saya adalah mengalir dan detil, serta memuat data plus saran yang relevan. 

Lomba menulis Stop Mom War di pertengahan tahun 2018 juga sangat berkesan buat saya, karena 10 tulisan terbaik diterbitkan dalam bentuk buku. Termasuk di dalamnya adalah tulisan saya.  Selain mendapat hadiah uang tunai, juga direkam jejak dalam buku berjudul sama : Stop Mom War.  Tulisan saya yang terjaring sebagai salah satu tulisan terbaik ini berjudul Ibu Pembelajar Menjawab Tantangan Zaman.  Isinya tentang pengalaman sebagai korban mom war dalam mengasuh anak bungsu dan solusi yang ditawarkan dalam menghadapinya.

10 tulisan terbaik bertema Stop Mom War yang diterbitkan dalam bentuk buku di tahun 2018. 
Salah satunya adalah tulisan saya. Ini jadi momen spesial di 2018 dalam perjalanan aktivitas blogging

Kedua tulisan yang membawa saya mengukir prestasi di dunia blogging tahun 2018 adalah hasil olahan dari pengalaman negatif yang pernah dirasakan. Dari situ, saya membuktikan benarlah adanya yang ditulis oleh Meta Wagner dalam bukunya What’s Your Creative Type,  bahwa setiap orang sesungguhnya kreatif, tapi berbeda-beda tipe kreatifnya.  Saya termasuk orang yang bisa dipicu untuk berkreasi dan berkarya setelah ditekan oleh pengalaman negatif atau menyakitkan. Dari sana, saya belajar positif melihat suatu kesedihan atau kesakitan karena yakin semua membawa kebahagiaan dalam versi tak terduga.

Sebagai narablog, saya punya keyakinan bahwa konten yang diunggah harus berkualitas. Pantang asal-asalan. Walau juga  tak selalu harus menang.  Buat apa menulis sesuatu yang hanya akan jadi sampah digital?

Sampah Digital 


Sampah digital versi saya adalah semua jenis konten digital yang minim manfaat bagi warganet, yang umumnya berisi kalimat bualan, omong kosong, cercaan, ujaran kebencian, fitnah, cemoohan, kebohongan, dan cerminan perilaku negatif lainnya.


Narablog atau blogger punya peran strategis untuk memerangi sampah digital. Semakin sering, banyak, positif dan bermanfaat konten yang diunggah narablog, semakin besar kemungkinan untuk menggeser sampah digital ke tepi. Sebaliknya, semakin “ngasal” dan negatif konten yang diunggah narablog, akan serta merta membuat narablog jadi tokoh yang mengotori dan memenuhi dunia maya dengan sampah digital!


Pilih yang mana?  Jadi narablog yang (1) giat memerangi sampah digital, atau justru (2) jadi tokoh yang “nyampah” di dunia maya? Jujur, saya ingin jadi yang pertama. Sebagai narablog, saya ingin bisa fokus pada satu hal ini di 2019:  konsisten memerangi sampah digital.  Yang artinya, harus menulis konten yang berkualitas terus menerus sesering mungkin! Cukup menantang!

Transformasi Narablog Tradisional Menjadi Narablog 4.0


Sudah waktunya saya bertransformasi dari blogger tradisional menjadi narablog 4.0 untuk bisa memerangi sampah digital di era Revolusi 4.0 kini.  Kalau blogger tradisional hanya menulis dan mengunggah konten tanpa memperhatikan kolaborasi online-offline yang tepat, maka narablog 4.0 sebaliknya!

Narablog 4.0 adalah mereka yang terampil nulis di blog sekaligus menghidupkan kampanye positif di dunia nyata sesuai yang ditulisnya. Selain itu, narablog 4.0 memanfaatkan data, studi empiris, dan memperhatikan dinamika online-offline untuk meningkatkan bobot konten.

Kenapa sih harus perang anti sampah digital? Jawabnya sederhana.  Supaya para warganet tetap sehat mentalnya. Terlalu banyak konten negatif bisa membuat mental warganet jadi sakit. Membaca konten negatif itu seperti menyerap racun. Tubuh dan pikiran jadi kontraproduktif! Padahal, setiap hari kita tak dapat lepas dari dunia digital.

Menghadapi situasi ini saya pun berpikir dan merasa, ingin melakukan sesuatu tapi tidak tahu apa.  Sampai suatu saat, inspirasi itu mengemuka.  Ketika membuka-buka file lama di komputer, saya menemukan pesan almarhum Bapak Nukman Luthfie, seorang pakar media sosial.

Pada 8 Juli 2010, Pak Nukman pernah datang sebagai narasumber untuk memberikan masukan bagi pengembangan media online atas undangan kantor tempat saya bekerja. Pada masa itu Pak Nukman menjabat sebagai CEO Virtual Consulting. Saya, kebetulan adalah salah satu anggota pengurus website perusahaan yang sedang berusaha melakukan pengembangan konten.

Pakar Media Sosial Bapak Nukman Luthfie (alm) yang pesan-pesannya menginspirasi saya 
  Satu pesan beliau yang tercatat di notulensi adalah, bahwa konten-konten negatif di dunia maya hanya dapat digeser dengan memperbanyak postingan konten positif.  Upayakan  jumlah konten positif jauh lebih banyak berlipat-lipat kali.  Dengan sendirinya, konten positif itulah yang akan mendominasi.



Beberapa tahun kemudian melalui akun Instagram-nya di tahun 2018 sebelum wafat, Pak Nukman juga berpesan bahwa pahlawan era digital adalah mereka yang memenuhi dunia maya dengan konten positif.  Secara sadar, inilah yang kemudian mendorong dan menginspirasi saya dalam mencari jalan memerangi sampah digital.  Terima kasih Pak Nukman.

Cara Memerangi Sampah Digital Ala Narablog 4.0 


Baiklah, saya sudah bertekat untuk menjadi narablog 4.0 dan memerangi sampah digital secara konsisten di tahun 2019.  Sekarang, bagaimana caranya?  Ini tujuh cara yang bisa saya tawarkan:

1. Konsisten menulis sesuai passion dan bidang keahlian yang dikuasai sebanyak dan sesering mungkin  

2. Selalu memilih sudut pandang positif dari kejadian atau tema negatif sekalipun

3. Say No to Impulsif Posting !

4. Pantang sekedar ikutan tren tanpa konsep yang jelas

5. Pamer prestasi? Boleh banget! 

6. Perdalam seni mengolah curhat, sumpah serapah, hujatan, cemoohan menjadi konten yang bermanfaat untuk warganet 

7. Jangan berhenti mendidik diri sendiri dan merefleksikannya ke seluruh penjuru dunia digital



Bahas satu-satu yuk!

1. Konsisten menulis sesuai passion dan bidang keahlian yang dikuasai sebanyak dan sesering mungkin

Menulis sesuatu yang dikuasai dengan baik akan membuat konten yang dihasilkan lebih berkualitas.  Selain itu, membuat narablog yang menulisnya bisa enjoy karena menulis sesuatu yang disukai.  Kenikmatan apa lagi yang didustakan selain dari menulis dengan nikmat dan hasilnya bermanfaat buat umat?  Nah!

2. Selalu memilih sudut pandang positif dari kejadian atau tema negatif sekalipun

Akan lebih mudah menemukan sudut pandang positif setelah kita terimbas oleh hal negatif.  Karena itu, jangan lekas marah saat mengalami kejadian yang negatif, dihina, dicerca, atau dicemooh, bahkan dihujat! Berbahagialah karena sudut pandang positif jadi lebih mudah ditemukan untuk diolah jadi konten positif yang bermanfaat buat orang lain.  Cakep kan?

3. Say No to Impulsif Posting !

Memang era digital membuat orang jadi cenderung impulsif.  Untuk sebuah konten yang berkualitas, jangan pandang remeh proses pengendapan konten meskipun hanya hitungan menit atau jam. Setelah konten usai ditulis, pantang langsung diposting.  Endapkan dulu sejenak.

Baca ulang setelah proses pengendapan.  Pasti deh, akan ada revisi di sana-sini yang akan menjadikan konten lebih sarat makna. Ingat, bahwa semua postingan di dunia maya akan menjadi rekam jejak.  Lebih baik jeda sejenak tapi hasilnya manfaat daripada cepat-cepat tapi nyampah!

4. Pantang sekedar ikutan tren tanpa konsep yang jelas

Sebagai narablog, wajib punya konsep blog dan tulisan yang jelas, yang menjadi nafas utama dalam kegiatan menulis. Ini akan jadi sarana agar blogging lebih fokus, tidak asal ikutan tren, yang akhirnya kurang mendukung upaya memerangi sampah digital.

5. Pamer prestasi? Boleh banget! 

Jadikan dunia digital sebagai tempat pamer prestasi, bukan pamer yang lain-lain. Ini juga pesan almarhum Pak Nukman Luthfie, yang selalu teringat. Saya pun terlecut menulis lebih baik setelah melihat sederetan prestasi para narablog terpampang di dunia digital!  Contohnya narablog Adi Nugroho yang selalu memenangkan kejuaraan menulis secara konsisten. Yuk, penuhi konten digital dengan prestasi para narablog sebagai branding bahwa narablog itu berbuat dan bertindak lho! 

6. Perdalam seni mengolah curhat, sumpah serapah, hujatan, cemoohan menjadi konten yang bermanfaat untuk warganet 

Ini seni yang mungkin butuh waktu dan sensitivitas untuk diperdalam, namun wajib jadi prioritas untuk dipelajari. Kalau di dunia nyata kita bisa mengolah sampah jadi produk daur ulang yang bermanfaat, di dunia maya pun sebetulnya juga bisa. Sampah-sampah digital berupa hujatan dan sumpah serapah atau cemoohan bisa menjadi inspirasi atau ide yang selanjutnya diolah jadi konten bagus bermanfaat.

7. Jangan berhenti mendidik diri sendiri dan merefleksikannya ke seluruh penjuru dunia digital.  

Mendidik diri sendiri untuk jadi narablog 4.0 yang keren bisa dicapai dengan cara lebih rajin baca buku, melakukan perjalanan, mengasah empati dengan mengamati lingkungan sekitar, dan tidak berhenti belajar dari dinamika online-offline di era digital. Untuk menghasilkan konten yang berkualitas, mutlak narablog harus menjadi pembelajar sepanjang hayat.  Tidak ada tawar menawar untuk ini.

Yuk, para narablog bergandengan tangan di era Revolusi 4.0 ini, untuk bersama-sama konsisten membanjiri dunia digital dengan konten keren, positif, dan bermanfaat bagi  warganet. (Opi)



Jumat, Januari 04, 2019

“STOP MOM WAR” : Jangan Ada Perang, Mari Bergandengan Tangan


 “Bukan soal siapa yang paling benar, tetapi bagaimana kita mampu menerima setiap perbedaan“

Kalau boleh rada lebay, perang antar ibu adalah jenis perang yang paling menyeramkan. Bikin ngeri! Baik yang terang-terangan maupun yang diam-diam tertutup oleh senyuman.  Dari senyum sinis sampai senyum pahit. Pokoknya bikin hidup tidak tenang cenderung kurang produktif deh. Kok?  Lha iya, bukannya fokus dan percaya diri mengasuh anak, malah jadi rempong saling serang. Waduh. Kontraproduktif!

Ajaibnya, mom war terjadi hampir selalu di tiap era. Bagai obor abadi. Sebelum zaman digital menggila, perang antar ibu berkisar di isu ibu rumah tangga versus ibu bekerja di luar rumah, ASI versus Susu Formula, hingga pro kontra imunisasi.  Lalu era digital datang menjelang. Bukannya surut, mom war justru menemukan lahan baru untuk dirambah.  Topiknya juga nambah!  Mulai dari pro kontra pemakaian gawai pada anak sampai perihal gaya hidup dan printilan pengasuhan anak di era digital. 


Keberadaan media sosial yang makin memudahkan para ibu untuk saling terhubung malah menambah luas lahan perang. Mom war pun merambah kavling di dunia maya.  Apalagi kalau bukan karena literasi digital yang masih minim di kalangan ibu?....

Baiklah, kondisinya memang seperti itu. Mau bilang apa lagi? …..

Bergerak dari kondisi tersebut, Penerbit Diva Press dan Komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB) menggagas sebuah lomba menulis dengan tema Stop Mom War bagi para emak blogger pada pertengahan tahun 2018 lalu. Dari ratusan peserta yang berpartisipasi, Dewan Juri memilih sepuluh tulisan terbaik untuk diterbitkan dalam bentuk buku.  Lahirlah buku antologi Stop Mom War.

10 tulisan dalam buku antologi Stop Mom War ini memuat pengalaman pribadi para penulisnya baik sebagai aktor maupun korban mom war. Selain memuat pengalaman, mereka juga sumbang saran seputar tips produktif untuk menghadapi mom war ala mereka masing-masing.  Saya adalah salah satu dari sepuluh penulis di buku Stop Mom War. 


Inilah kesepuluh tulisan yang dapat dinikmati dalam buku Stop Mom War: 

1. My Best Friend is A Working Mom  (Ajeng Pujianti Lestari) 
2. It Takes a Village to Raise A Mother ( Athiah Listyowati) 
3. Terjebak Mom War Berarti Tidak Bahagia (Dian Farida Ismyama)
4. Berada di Antara Dua Kubu Berbeda (Finna Kiyana) 
5. Kala Para Pejuang Suka Berperang (Gisantia Bestari) 
6. Ketika Postpartum Depression Melenyapkan Mom War dalam Diriku (Latifika Sumanti) 
7. Ibu Pembelajar Menjawab Tantangan Zaman (Novi Ardiani) 
8. Stop Bermusuhan dengan Gawai (Ruth Ninajanty)
9. Jadikan Media Sosial sebagai Penambah Wawasan Positif bagi Perempuan (Sri Mulyani) 
10. Mengubah dengan Cinta (Virgorini Dwi Fatayati) 



Kesepuluh tulisan ini memberikan inspirasi bagi pembaca, tentang bagaimana setiap pribadi sebagai seorang ibu memiliki perbedaan dan berproses dalam menerima perbedaan.  Merasa benar, adalah jebakan penglihatan terhadap perbedaan di luar sana.  Merasa paling benar, adalah sumbu utama pembakar mom war. Bukan soal siapa yang paling benar, tetapi bagaimana kita mampu menerima setiap perbedaan.
  
Masing-masing penulis di buku Stop Mom War menggunakan gaya menulisnya masing-masing.  Ada gaya kocak menyindir, sampai yang serius. Tapi nafasnya sama, bahwa mom war itu kontraproduktif! Mom war adalah cerminan rasa tidak percaya diri ibu dan bukti mereka tak mampu menerima perbedaan dengan hati legowo. 


Saya sendiri mengulas tentang ide ibu pembelajar untuk menjawab tantangan zaman di dalam buku ini. Stop mom war, jadilah ibu pembelajar. Idenya berawal dari kisah nyata diri sendiri dalam mengasuh anak yang alergi.  Sebagai korban mom war, saya menawarkan lima tips untuk mengakhiri semua peperangan sesama perempuan. Kelima tips itu adalah : 

1. Temukan passion 
Perempuan yang memahami di mana passionnya, akan memiliki semangat tinggi dan terjaga untuk melakukan sesuatu dengan senang hati dan gembira. 

2. Belajar, bekerja, dan berkarya sesuai passion
Jika sudah ketemu passion, lakukan trilogi belajar, bekerja, dan berkarya.  Nyalakan terus gairah sehingga bisa produktif dan bermanfaat.

3. Terus belajar hal baru, tularkan pada anak-anak 
Jangan berhenti di satu titik karena merasa puas.  Stay foolish and hungry.  Terus belajar mengikuti dinamika zaman dan tularkan pada anak sebagai bekal survival hidup.

4. Bergabung dengan komunitas dan berkolaborasilah 
Jangan menyendiri, bergabunglah dengan komunitas sesuai passion.  Atur skala prioritas dan hasilkan sesuatu yang baru dan bermanfaat dengan cara bekerjasama.

5. Sibukkan diri dengan terus belajar dan memperbaiki diri.
Cukupkan ketidaksukaan pada perbedaan hanya sampai di jalur berpikir otak.  Tidak perlu diterjemahkan jadi perang.  Jadikan itu bahan pemikiran untuk menyibukkan diri dalam proses pembelajaran.  Sibukkan diri dengan usaha memperbaiki diri sendiri dan hasilnya akan kembali pada diri kita sendiri. 


Mempelajari hal-hal baru yang bermanfaat dan sibuk memperbaiki diri sudah cukup menyita waktu agar setiap perempuan tidak sempat lagi berperang kata dengan sesamanya.  Itulah yang menjadi mantra bagi saya setiap saat.  Mendengungkan mantra itu membuat saya selalu akhirnya tidak membalas setiap ajakan perang.  Justru saya mengalihkan diri dengan sibuk belajar apa saja yang menurut saya perlu untuk survive sebagai ibu. Semua jadi lebih mudah setelah menemukan passion.
  
Kisah lain dalam buku ini yang bisa jadi inspirasi antara lain dituliskan Ajeng Pujianti Lestari.  Cerita Ajeng tentang sahabatnya -seorang ibu pekerja berhati mulia- meluluhkan persepsi tentang ibu kantoran yang nampak kejam karena tega meninggalkan anak untuk bekerja.

Kejam itu adalah penghakiman sepihak.  Tapi lain cerita jika hubungan yang terjalin dekat menunjukkan kemuliaan murni sebagai manusia, tanpa embel-embel apakah dia seorang ibu yang bekerja di luar rumah atau tinggal di rumah sepanjang hari. Ajeng menceritakannya dengan gaya bercerita polos yang agak lucu namun menyentuh hati.  



Ragam kisah lainnya dapat disimak, dan pastinya akan membuka cakrawala para ibu tentang bagaimana berjibaku menghadapi mom war. Buku ini mencerahkan. Serta konkrit.  Iya.  Para ibu dan calon ibu layak membacanya.  Percayalah, ibu layak tersenyum dan bahagia.  Bukan sibuk perang dan kontraproduktif!

Pada akhirnya, kita semua kaum ibu tetap adalah perempuan. Perempuan yang perasaannya lembut dan mudah tergores.  Perempuan yang emosinya lebih dulu terungkapkan daripada logikanya.  Sesama perempuan kita harusnya bisa saling memahami.

Perbedaan bukanlah bahan bakar untuk menyulut api peperangan.  Tetapi perbedaan adalah sebuah karunia yang apabila dikelola dan dikolaborasikan akan menghasilkan sesuatu yang menakjubkan.  Kenapa tidak?....  Yuk kita jadi Ibu Pembelajar yang saling berkolaborasi untuk menjawab semua tantangan zaman nan terbentang panjang di hadapan. Stop Mom War! (Opi) 



Informasi Buku :

Judul Buku : Stop Mom War
Penulis :  Kumpulan Emak Blogger 
Editor : Mika Ayunda
Cetakan Pertama 2018 
Penerbit Laksana, Diva Press Yogyakarta 
Tebal 204 halaman , Dimensi buku 14 x 20 x 1 cm 
Harga wilayah Pulau Jawa Rp 65.000,- 
Genre Parenting dan Family 

** Pembaca dapat membeli buku Stop Mom War di toko buku mayor di kota-kota besar, Gramedia online, atau langsung ke Penerbit Diva Press.  Dapat juga menghubungi saya via email ya. 


Behind The Scene

Kenapa Saya baca buku ini? Jelas karena saya termasuk dari salah satu penulis dalam buku antologi ini.  Masak ngga baca buku sendiri ya, kebangetan dong.  Cuma, memang saya tidak perlu membeli karena mendapatkan bukti terbit dari Penerbit.  

Saya tidak pernah berharap tulisan yang diikutkan ke lomba menulis ini akan masuk ke dalam pilihan 10 tulisan terbaik untuk dibukukan.  Seperti biasa, kalau sudah ikut lomba saya lupakan saja.  Menulis, kirim, lalu lupakan. Ternyata dinilai termasuk tulisan terbaik, tentunya senang.  

Saya ingin tulisan dalam buku ini dibaca banyak orang, supaya manfaatnya juga bisa dirasakan perempuan di mana saja.  Makanya beberapa kali saya “mengiklankannya” di media sosial pribadi. Dan, tidak lupa menulis ulasannya di blog saya sendiri ini.  Buku karya orang lain saja saya tulis reviewnya, buku tulisan sendiri masa ngga sih… he he he….. Hitung-hitung latihan nulis dan berbagi wawasan. Semoga manfaatnya mengalir sepanjang waktu…. Aamiin.  

Kamis, Januari 03, 2019

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat ala Mark Manson


Bersikap “bodo amat” versi Manson bukanlah masa bodoh seperti kosa kata yang pernah saya telan sebelumnya. Masa bodoh atau bodo amat ala Manson artinya memandang tanpa gentar tantangan yang paling menakutkan dan sulit dalam kehidupan lalu mau mengambil tindakan. Bodo amat atau masa bodoh tidak sama dengan acuh tak acuh seperti yang selama ini saya pahami.  

Mulanya agak sulit mencerna maksud Manson, harus dibaca pelan-pelan dan direfleksikan dalam hal-hal yang pernah dialami dalam perjalanan hidup. Manson menawarkan sebuah seni sebagai pendekatan yang waras dalam menjalani hidup yang baik, yang saya tangkap sebagai dorongan kuat untuk berjuang menjadi diri sendiri, menerima diri sendiri, lalu berjalan tegak dengan segala atributnya. 

Iya, kalau Anda memang mau belajar dan berjuang jadi diri sendiri, memang pantas baca buku ini. Buku ini tidak akan berkenan bagi para penjilat bermuka dua. orang-orang yang tidak tahu tujuan hidupnya dan atau yang terlalu bernafsu mencapai hal-hal tertentu dalam hidup tanpa memahami prioritas. Kecuali diantara mereka terketuk hatinya untuk berputar arah. Oh sungguh saya merasa ditampar untuk hal ini. 



Perbaikan diri dan kesuksesan kadang terjadi bersama.  Namun itu tidak lantas berarti keduanya adalah hal yang sama.  Ini diceritakan Manson lewat analogi kisah seorang penyortir surat di kantor pos yang di usia senja menjadi penulis terkenal.  Bukowski. 

“Bukowski sukses jadi penulis bukan karena perubahannya menjadi orang yang lebih baik.  Melainkan, karena dia nyaman dengan cerminan dirinya yang dianggap sebagai kegagalan.  Ia hebat karena kemampuan sederhananya untuk jujur pada diri sendiri sepenuhnya dan setulusnya- terutama mengakui hal-hal paling buruk yang ada pada dirinya sekalipun- dan untuk membagikan perasaannya tanpa segan dan ragu.”  Begitu tulis Manson. 

Bukoswki adalah contoh nyata sosok yang berhasil menerima dirinya beserta berbagai atribut yang ada. Sementara sekian banyak dari kita mungkin sedang bercermin dan mengatakan,”Aku cantik”, sekalipun wajah yang nampak di cermin sama sekali tidak seperti yang dikatakan. Kenapa manusia sulit menerima diri sendiri? 

Ini disebabkan karena kebanyakan manusia mengingkari hukum kebalikan yang dikemukakan filsuf Alan Watts.  Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif.  Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif.  



Intinya adalah, semakin kuat Anda berusaha baik setiap saat, Anda akan merasa semakin tidak puas, karena mengejar susuatu hanya akan meneguhkan fakta bahwa pertama-tama Anda tidak baik.  Semakin mati-matian Anda berusaha untuk ingin sesuatu, Anda semakin merasa tidak kunjung meraihnya, terlepas dari seberapa yang sebetulnya telah Anda peroleh.  

Jalan yang dicetuskan Manson adalah menciptakan seni. Inilah tiga seni utama yang ditawarkan Manson untuk Bersikap Masa Bodoh sebagai pendekatan waras demi menjalani hidup yang baik: 

1. Seni Pertama : Masa bodoh = nyaman saat menjadi berbeda. Tidak sama dengan acuh tak acuh atau tidak peduli. Acuh tak acuh dan tidak peduli hanya dibutuhkan untuk menyikapi hal tak penting yang kurang makna. 

Pertanyaannya, bagaimana caranya untuk nyaman saat berbeda?  Fakta tentang kehidupan adalah tidak pernah ada yang namanya masa bodoh.  Sisi biologis manusia selalu peduli akan sesuatu, karena itulah manusia punya kecenderungan untuk selalu peduli terhadap sesuatu. 

Namun, bukan berarti manusia harus peduli terhadap semua sesuatu dan merespon semua hal dengan kadar kepedulian yang sama.  Pedulilah hanya pada hal besar dan penting.  Hal yang kaya makna.  Setelah itu Anda akan menjadi berbeda.  Agar tetap nyaman ketika menjadi berbeda, Anda harus konsisten dengan apa yang dipercaya sebagai hal besar dan penting. Sebagai dampaknya, orang akan melihat dan peduli pada Anda. Anda menjadi sesuatu yang penting dan bermakna bagi orang lain.  Menginspirasi. Alangkah nyaman ketika setiap orang nyaman dengan dirinya sendiri, menjadi diri mereka sendiri.  



2. Seni Kedua: Peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan, sehingga Anda dapat mengatakan bodo amat pada kesulitan.  

Pertanyaannya, apa yang lebih penting dari kesulitan? Itulah yang harus Anda temukan.  Apa yang sangat berarti bagi hidup Anda?  Temukan.  Menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan Anda, menjadi cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga.  Karena, jika Anda tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, maka perhatian Anda hanya akan habis tercurah untuk hal-hal tanpa makna dan sembrono. 

Selama manusia masih menganggap bahwa kesulitan yang dihadapi dalam hidup adalah hal terpenting yang harus dipedulikan,  selama itu pula pikiran dan tenaganya akan habis tercurah untuk fokus peduli pada kesulitan hdup! Betapa malangnya. Sementara hidup terlalu sebentar untuk menjelang pada kematian, dan masa hidup menjadi sia-sia.  

Intinya adalah bukan menghindari kesulitan, namun menemukan hal sulit yang bisa Anda hadapi dan nikmati. Menancap!

3. Seni Ketiga: Pilih hanya hal-hal yang penting untuk diperhatikan.  

Pertanyaannya, apa hal-hal yang penting dalam hidup?  Pilih.  Sekali lagi pilih.  Memilih mana yang penting untuk diperjhatikan adalah hak prerogatif Anda dalam menjalani hidup sebagai diri Anda sendiri.  Keluarga.  Teman-teman.  Sahabat.  Kesehatan jiwa dan raga.  Target Hidup. Pilih.  Sekali lagi pilih.  Itulah yang dianjurkan Manson.  Jika untuk memilih hal penting pun Anda tidak bisa, apa tujuan Anda hidup?....

Manusia akan menjadi lebih selektif terhadap perhatian yang rela diberikan.  Inilah sesuatu yang disebut Manson : Kedewasaan.  Ini bagus.  Sebaiknya Anda mencobanya.  Kedewasaan muncul ketika seseorang belajar untuk peduli hanya pada sesuatu yang sangat berharga.  

Semakin bertambah usia, semakin renta, manusia hanya akan menyisihkan perhatian pada hal penting yang semain berkurang jumlahnya dibandingkan ketika baru mendewasa.  Namun, hal itupun sudah cukup membahagiakan bagi para manusia tua. 



Pada suatu saat, manusia dalam hidupnya tidak lagi terlalu peduli pada banyak hal.  Hidup berjalan apa adanya.  Lalu diterima dengan wajar, entah itu baik maupun buruk.  Ekstrimnya, Manson menuliskan bahwa manusia dapat menerima ketika kanker yang diderita bisa diobati tapi mungkin tidak dapat disembuhkan.  Tidak bisa pergi ke bulan.  Atau tidak bisa merasakan putting Jennifer Anniston.  Wow. Dan itu semua tidak masalah. Begitu saja.  

Manson menulis buku ini bukan untuk mengajari pembaca untuk meraih atau mencapai sesuatu, namun lebih pada bagaimana cara berlapang dada dan membiarkan sesuatu pergi. Secara detil, manson menyajikan tutorial bagi pembaca cara membuat inventaris kehidupan dan menyortir hal-hal yang paling penting saja. Belajar peduli lebih sedikit.  Tapi pada hal yang bermakna.  Sementara hal bermakna itu sepenuhnya ada pada pilihan Anda masing-masing.  

Menentukan Nilai dalam Hidup 


Memilih untuk peduli atau masa bodoh menurut Manson juga sangat ditentukan oleh NILAI yang terkandung dalam suatu hal.  

Secara gamblang Manson menyebut empat hal utama sebagai nilai-nilai sampah. Empat hal tersebut adalah kenikmatan, kesuksesan material, selalu benar, dan tetap positif.  Bukan berarti keempat hal tersebut sama sekali tidak penting, tetapi akan jadi hal yang menakutkan ketika dijadikan prioritas dalam hidup. 

Mengerikan, penjabaran yang ditulis Manson mengenai keempat hal yang selama ini dianggap sebagai prioritas hidup. Ambisi selalu benar faktanya justru menghalangi diri untuk bisa belajar dari kesalahan.  Padahal, manusia mana yang tidak berbuat salah? Tetap positif yang artinya menyangkal emosi negatif justru sama dengan mengekalkan masalah, bukannya menyelesaikan. Lalu kenapa berpikir sebaiknya selalu benar dan tetap positif?



Kemudian, nilai apa yang baik dan buruk dalam hidup menurut Manson?  Nilai yang baik adalah yang (1) berdasarkan pada kenyataan; (2) membangun secara sosial; (3) segara dan dapat dikendalikan. 

Nilai-nilai yang buruk adalah (1) tahayul; (2) merusak secara sosial; (3) tidak segera dan tidak dapat dikendalikan.  

Manson menekankan bahwa pengembangan diri yang sesungguhnya adalah yang memprioritaskan nilai-nilai yang lebih baik, serta memilih hal-hal yang lebih baik untuk dipedulikan.  

Buku ini membuat pembaca berpikir, menelaah, dan merefleksi diri.  Pada beberapa bagian, bahkan membuat saya tidak setuju.  Contohnya bahasan tentang jangan berusaha. Mana mungkin jangan berusaha? Namun setelah ditelaah dengan jernih, maksud Manson sebetulnya sudah terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.  Ia memotret dengan cara yang berbeda.  Potret yang menampar tapi lalu membuat senyum jadi lebih ringan. (Opi) 


Judul buku : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (terjemahan oleh F Wicaksono dan editor Adinto F.Susanto)
Terbit pertama kali di New York oleh Penerbit HarperOne pada tahun 2016 dengan judul The Subtle Art of Not Giving A Fuck
Cetakan ke XI :  Oktober 2018, di Indonesia pertama kali dicetak pada Februari 2018.
Penerbit : PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)
Tebal buku : vii + 246 halaman
Dimensi :
Harga Pulau Jawa :  Rp 67.000,-
Kategori buku Self Improvement Usia 17+

Behind The Scene : 
Kenapa Saya baca buku ini?  Adalah Sarie Febriane, teman saya yang berprofesi sebagai wartawan di Harian Kompas yang merekomendasikan untuk baca buku ini.  Malamnya Sarie ngomong, paginya saya langsung beli bukunya via online. Dan, saya mengambil manfaat banyak dari membaca buku ini.  Sebab, pengembangan diri yang ditawarkan Mark Manson tidak mengawang-ngawang dan nancep!  Dampaknya, saya tidak ragu untuk berjuang jadi diri saya sendiri, dan tersenyum ringan dengan segala konsekuensinya. 

Back to Top