Kamis, Agustus 15, 2019

Luka Bersih #GakPakePerih, Bisa Ya?...


“Aduuuuuuuh… periiiiihhhh,….   Bisa gak siiiih gak pake perih …..” pekik Adek (7 tahun) histeris jika Bibi atau Mas (10 tahun) membubuhkan  cairan antiseptik pembersih luka setelah peristiwa  terjatuh dari sepeda. 
Pekik serupa juga terdengar saat hal yang sama terjadi pada Mas. Adek dan Mas sama-sama tidak tahan pada rasa perih yang muncul ketika luka dibersihkan dengan cairan antiseptik yang ada. 


Karena perih, Adek dan Mas jadi trauma dan suka ngumpet-ngumpet saat terluka. Dalam mindset mereka jadinya pembersih luka sama dengan perih. Jadi, pura-puralah luka ditutupi dengan baju atau celana panjang, supaya tidak ketahuan kalau habis terjatuh.  

Padahal, frekuensi Adek dan Mas terluka karena jatuh saat main lari-larian di lapangan atau aktivitas bermain lainnya, bisa dibilang sangat sering. Ini membuat saya kuatir anak-anak terinfeksi bakteri pada lukanya dan jadi parah karena tidak segera ditangani secara tepat.

Kalau sore-sore Bibi melihat Adek atau Mas jalan terpincang-pincang sambil meringis, dia langsung curiga. Hmmm, pasti deh nih si Adek atau Mas baru aja terjatuh dan ada luka di bagian tubuhnya, tapi ngumpet-ngumpet karena takut perih diobati.  Kalau sudah begini, Bibi langsung telepon Ibu dan lapor.  Jadilah ibu yang main drama membujuk mereka agar mau dibersihkan lukanya.

Lumayan dower deh membujuknya. Seringnya sih, minimal beli es krim untuk obat bujuk. Waduh, tapi kalau sering-sering kan ngga bagus juga ya.



Apakah Bunda juga mengalami hal yang sama dengan saya?  Anak-anak jadi trauma dibersihkan atau diobati lukanya karena antiseptiknya meninggalkan rasa perih yang berkepanjangan? Wah, senasib ya kita Bunda ..he he he.

Tapi Bunda, setiap luka yang timbul memang tidak boleh dibiarkan.  Harus ditangani secara tepat.  Langkah pertama penanganan luka adalah membersihkannya dengan cairan antiseptik.

Kenapa Luka Harus Dibersihkan ?

Luka atau cedera yang timbul akibat berbagai hal, memang harus segera ditangani.  Pada anak-anak, luka dapat terjadi cukup sering ya Bunda.  Bisa dihitung bukan, kapan anak-anak bermain tanpa terjatuh dan terluka?  Ternyata memang menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, sebanyak 36,5% cedera terjadi di lingkungan rumah lho Bunda. Ini diurutkan berdasarkan proporsi terbanyak untuk tempat terjadinya cedera.





Penyebab cedera terbanyak menurut riset di atas adalah karena terjatuh yaitu 40,9%. Nah cocok bukan?... Anak-anak biasanya jatuh saat beraktivitas seperti berlari-larian, main bola, bersepeda, atau aktivitas lainnya di playground sekitar lingkungan rumah.  Luka akibat insiden tersebut walau sekecil apapun tidak boleh diabaikan, dan perlu ditangani secara tepat. Langkah pertama dalam proses penyembuhan luka adalah membersihkan luka secara benar untuk mencegah terjadinya infeksi.

Membersihkan luka untuk semua jenis luka adalah langkah yang sangat penting, tidak terkecuali seperti luka tergores, terpotong, luka tubruk, luka terbakar, dan luka terbuka.  Saat kulit terluka, lapisan pelindung kulit sedang rusak dan memungkinkan debu kotoran serta bakteri masuk ke dalam tubuh.  Ini bisa menyebabkan infeksi pada luka.  

Infeksi pada luka dapat menyebabkan kerusakan lebih jauh pada kulit dan penundaaan proses penyembuhan.  Apabila tidak segera dibersihkan, infeksi bisa menyebar ke bagian kulit yang lebih dalam.  Ini dapat mengakibatkan gangguan kondisi kesehatan ke level yang lebih serius. 

Nah, jadi penting sekali lho Bunda untuk segera menangani luka secara tepat sekecil apapun luka itu.  Hal ini wajib kita informasikan kepada anak agar mereka juga paham pentingnya menangani luka secara benar sesegera mungkin.

Bagaimana menangani luka secara benar?  Langkah pertama, luka harus dibersihkan dengan cairan antiseptik pembersih luka. Kedua, luka harus dilindungi dari pengaruh eksternal seperti kotoran dan bakteri, bisa dengan perban atau plester.  Ketiga, lakukan cara aman untuk membantu penyembuhan luka dengan memberikan salep penyembuh luka.


Nah, langkah pertama yang paling penting adalah membersihkan luka.  Inilah tahapan yang penuh drama pada anak-anak kita karena cairan antiseptik pembersih luka pada umumnya meninggalkan rasa perih sesudahnya.  Anak-anak bahkan orang dewasa jadi trauma. 

Kenapa Perih ?

Mengutip pernyataan dr. Adisaputra Ramadhinara, Certified Wound Specialist Physician – seorang dokter spesialis luka bersertifikasi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, ternyata kandungan dalam banyak produk pembersih luka yang dijual bebas mengandung bahan yang bisa menyebabkan terasa perih serta  meninggalkan noda.   



Pembersih luka yang meninggalkan noda tidak menjadi pilihan karena noda akan menutupi luka dengan warna yang bukan warna asli luka tersebut.  Sehingga, keadaan luka yang sebenarnya tidak bisa terlihat secara jelas. Di klink dan rumah sakit, para medis lebih memilih untuk menggunakan obat pembersih luka yang mengandung Polyhexanide (PHMB) sebab tidak meninggalkan noda. PHMB juga tidak berbau dan tidak menimbulkan rasa perih.

Inovasi Hansaplast Spray : Gak Pake Perih

Nah Bunda, saat ini di pasaran sudah tersedia jenis cairan antispetik pembersih luka yang mengandung Polyhexanide (PHMB). Membersihkan luka jadi lebih bersahabat karena Gak Pake Perih lagi. Anak-anak pun jadi terbebas dari trauma. Pembersih luka yang tidak menimbulkan rasa perih ini menjadi inovasi Hansaplast



Bentuk kemasan Hansaplast ini berupa botol mini dengan spray yang menjamin isi botol tetap steril. Botolnya sangat ergonomis untuk digenggam oleh anak-anak sehingga merekapun bisa melakukan sendiri aktifitas membersihkan luka. Acara penanganan luka pun jadi kegiatan yang menyenangkan dengan Hansaplast Spray.  

Bunda pastinya sudah tidak asing lagi bukan dengan merk Hansaplast. Selama ini kita sangat akrab dengan produk plesternya yang selalu disebut pertama kali ketika membutuhkan penutup luka. Eksistensi Hansaplast memang sudah tidak diragukan lagi dalam hal mencegah infeksi.

Inovasi Hansaplast Spray Pembersih Luka dengan bahan aktif PHMB ini sangat membantu saya untuk meyakinkan anak-anak bahwa luka bisa dibersihkan tanpa rasa perih.  Gak Pake Perih.  Upaya saya menanamkan kesadaran pada anak-anak tentang pentingnya mencegah infeksi jadi lebih mudah. Saya pun jadi selalu menyediakan produk Hansaplast Spray di rumah, dan meletakkannya di jangkauan anak-anak. 




Ini dia keunggulan Hansaplast Spray sebagai pembersih luka dibandingkan cairan antiseptik lainnya di pasaran :

1.    Tidak berwarna
Karena cairannya tidak berwarna, maka luka yang sudah dibersihkan dengan Hansaplast Spray akan terlihat sebagaimana mestinya. Proses penyembuhan dan pengeringan luka juga akan mudah untuk diamati karena tidak terhalang oleh warna buatan dari cairan pembersih luka.
 
2.   Tidak berbau
Bau tertentu dari cairan antiseptik secara psikologis juga menimbulkan trauma.  Tanpa bau obat yang menyengat, aktifitas membersihkan luka akan menjadi lebih bersahabat bagi siapa saja. 

3.   Tidak meninggalkan rasa perih
Hansaplast Spray menggunakan bahan aktif PHMB / Polyhexanide/ PolyHexaMethylene Biguanide  yang membantu mencegah dan mengatasi infeksi tanpa rasa perih.  Bahan aktifnya berupa 0,1% Decyl Glucoside Tenside dan 0,04% Polihexanide (PHMB) dalam Larutan Ringer. 

4.    Aman digunakan
Tolerabilitas Hansaplast Spray lebih tinggi, efek samping lebih sedikit dibandingkan dengan zat antiseptik lain.



Bagaimana cara menggunakan Hansaplast Spray Antiseptik?  Mudah sekali, Bunda.  Ketika anak terjatuh dan terluka:
Pertama, langsung semprotkan Hansaplast Spray  dari jarak kurang lebih 10 cm ke seluruh area luka
Kedua, ulangi apabila dibutuhkan, kemudian secara perlahan keringkan area di sekitar luka. 

Nah, mudah sekali kan menangani luka dengan Hansaplast Spray?  Anak-anak juga pasti akan bersemangat mengurus lukanya. Tidak akan terjadi lagi mereka pura-pura menutupi luka dengan pakaian panjang karena takut perih diobati. 

Itu sebabnya, sejak sekarang harus sedia Hansaplast Spray di rumah ya Bunda. 




Bunda semua bisa lebih banyak kepoin tentang Hansaplast Spray di akun Instagram resmi Hansaplast yaitu @Hansaplast_ID dan Facebook Fanpage @HansaplastID ya.  Informasi lebih lanjut juga bisa diikuti di official website www.hansaplast.co.id.  (Opi)

Luka Bersih #GaPakePerih, Bisa Ya?...... Bisa Banget karena pakai #HansaplastID.



Jumat, Agustus 09, 2019

Pekerjaan Tersulit Ibu


Pekerjaan tersulit seorang ibu adalah pekerjaan yang harus dikerjakan saat dipisahkan dari buah hati tercinta. Ada ibu yang tidak setuju?.......
Dari situ, sebuah pelajaran berharga saya petik.  Tentang hari-hari terbaik bersama anak-anak yang pernah terabaikan.  Saat berjauhan, barulah terasa betapa nikmat berkumpul selama ini sering tidak dimanfaatkan dengan baik.  Saya pernah malah, merasa terbeban dengan anak-anak yang selalu apa-apa maunya sama Ibu, sampai-sampai saya tidak punya kesempatan untuk menikmati waktu sendiri. 

Ketika alih tugas dari perusahaan tempat saya bekerja ke sebuah kabupaten membuat seorang Opi harus terpisah dengan keluarga, barulah terasa betapa kemudahan waktu kumpul keluarga sebelumnya sangat berharga. Selautan emas pun tidak sebanding nilainya. 

Sebulan sudah, sejak menerima perintah alih tugas sebagai unsur pimpinan kantor wilayah di sebuah kabupaten yang tidak pernah jadi impian, saya merasakan yang namanya campur baur seperti permen Nano Nano.  Semua rasa ada.  

Pertama, rasa kuatir karena harus terpisah dengan keluarga untuk jangka waktu yang tak tentu.  Kedua, rasa takut karena akan masuk ke lingkungan yang sama sekali baru, yang pastinya akan sangat berbeda dengan lingkungan di kantor pusat.  Ketiga, rasa tak rela karena harus menggeser diri dari zona nyaman. Keempat, rasa bersalah kepada suami karena beliau akan bertambah bebannya menjaga anak-anak.  

Semua rasa itu berseliweran di hati dan pikiran saya, yang selama 18 tahun berkarir selalu berada di kota Metropolitan- Jakarta. 

Efek awal dari perasaan ini sungguh terasa.  Sebulan saya tidak bisa menulis.  Tiap malam rutinitas saya adalah memandangi foto anak-anak, menonton ulang video kebersamaan kami, termasuk video anak sulung ketika sedang adzan di masjid. Lalu mewek ke suami.  Rindu adalah penghuni utama ruang malam di kabupaten perjuangan.  Karawang. 

Bisa dibilang, Karawang itu dekat tapi jauh dari Depok. Jarak 80 km kan ya sebetulnya tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan mobil sekitar 3,5 hingga 4 jam. Cengeng banget ya si Opi sampai mewek begitu cuma pindah lokasi kerja ke Karawang aja…. Belum juga ke Papua hahaha. Sebetulnya yang bikin mewek itu juga karena walaupun dari segi jarak tidak terlalu jauh, tetapi tidak selalu bisa pulang setiap pekan untuk bertemu keluarga.  

Sebabnya? Bisa dibilang kantor wilayah Karawang  adalah mukanya Jawa Barat, sekaligus pusat pertanian dan industri.  Hanya sekedap dari Jakarta dan Bekasi.  Walhasil, kami sering menerima kunjungan baik dari Kementerian maupun Kantor Pusat dan Daerah Jawa Barat. Sebagai unsur pimpinan, adalah bagian dari tanggung jawab kami untuk stand by di wilayah kerja meski pada akhir pekan.  Sungguh tak pernah terbayangkan dalam benak saya, untuk menjalani amanah ini.  

Beruntunglah, suami yang begitu sayang pada saya bersedia datang ke wilayah tugas istrinya di akhir pekan.  Tentunya  bersama anak-anak.  Walaupun terkadang mereka harus menunggu sampai ibunya selesai bertugas untuk bisa bercengkerama dalam waktu yang tidak banyak.  Sungguh nikmat yang patut sangat disyukuri.

Blog www.opiardiani.com pun jadi kosong melompong.  Adaptasi saya di tempat baru tidak memberi ruang kesempatan untuk menulis dengan hati.  Sebetulnya, pekerjaan tidak seberat yang dibayangkan.  Bahkan saya belajar hal-hal baru yang membentuk sikap positif dalam menyelesaikan pekerjaan.  Tetapi, semua jadi terasa sulit setiap teringat anak-anak. Apakah mereka baik-baik saja?  

Biasanya malam hari adalah waktu kami bercengkerama dan mengerjakan tugas sekolah bersama.  Atau sekedar baca buku bareng-bareng, main boneka, dan membuat karya. Mendengarkan curhat anak-anak tentang guru, teman, tetangga, ataupun bibi juga adalah rutinitas sebelum tidur yang mampu melepaskan semua beban sebelum benar-benar terlelap.  

Sebulan berlalu membuat saya pun rindu menuliskan rasa rindu. Harapan saya, tulisan ini bukan sekedar jadi curhat belaka, tapi jadi inspirasi buat ibu bekerja di mana saja berada untuk tidak meremehkan sedikitpun waktu kebersamaan dengan putra-putri tercinta.  Percayalah, itu sangat mahal. Priceless.

Tantangan dan Perjuangan Si Pembelajar 


Tantangan dimulai ketika saya harus memutuskan, maju terus atau menyerah mengundurkan diri. Awalnya saya berpikir akan memilih untuk mundur.  Mungkin lebih baik saya mengundurkan diri dari pekerjaan, pikir saya ketika itu.  Karena, cepat atau lambat saya pasti akan dipromosi ke daerah. Ya walaupun saya ngga pintar pintar amat di kantor, tapi ya saya termasuk golongan karyawati yang tidak pernah melakukan pelanggaran disiplin ataupun sejenisnya.  

Prestasi saya memang tidak secemerlang rekan-rekan seangkatan yang sudah menduduki jabatan jauh lebih tinggi.  Saya termasuk karyawati yang komit untuk dapat melakukan tugas kantor seoptimal mungkin tanpa melanggar aturan kantor sekaligus tetap punya cukup waktu mendidik anak-anak serta melakukan kesenangan/hobby seperti menulis-menyanyi-bersepeda. 

Saya cinta keseimbangan hidup.  Bagi saya jabatan tidak penting, tak ada satu jabatanpun yang saya incar.  Saya merasa cukup dengan gaji yang saya terima, waktu yang ada, dan rasanya semua sempurna.  Nyaman. 

Tanpa disadari, itulah zona nyaman saya. Zona nyaman yang tidak mau saya lepaskan.  Karena begitu nyaman.  Tanpa disadari ya saya berhenti bertumbuh. Lalu, di mana si Perempuan Pembelajar yang selama ini saya gembor-gemborkan ya?....

Saya sempat menangis dua hari dua malam, setelah menerima kabar resmi promosi sebagai wakil pimpinan di kantor wilayah Karawang, Jawa Barat terhitung mulai tanggal 5 Agustus 2019.  Langsung terbayang anak-anak dan suami. Bagaimana dengan mereka nanti?  Saya tidak tahu berapa lama akan bertugas di Karawang, sehingga pertimbangan untuk membawa atau tidak membawa anak-anak jadi sangat serius.  

Tapi ya menangis kan tidak menyelesaikan masalah yang saya hadapi.  Dengan dukungan suami, Ibu, dan kakak adik, akhirnya saya memilih untuk menjalani amanah ini. Saya berhak memilih, dan saya pun memilih untuk melakukan yang terbaik dalam amanah ini sehingga kans untuk bekumpul kembali dengan keluarga akan semakin terbuka. Jika prestasi bagus, akan sangat mungkin ditarik kembali ke kantor pusat.  

Berangkatlah saya ke kabupaten perjuangan, untuk mengenyam pelajaran hidup yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan di Jakarta, kota tempat impian kelak saya akan kembali.  Kembali berkumpul dengan keluarga dan anak-anak yang telah lebih mandiri, pulang  sebagai ibu yang lebih matang.

Survival Ala Opi 


Selanjutnya, bagaimana supaya bisa survive? Pertama saya menanamkan mindset, bahwa amanah ini mengandung hikmah hidup yang bagus bagi saya dan anak-anak.  Hikmahnya, Tuhan memberi kesempatan anak-anak saya untuk belajar lebih mandiri ketika berjauhan dengan ibunya. Si kakak jadi lebih care kepada adik. Ayah jadi lebih ngayom.  Ibu pun jadi lebih tegar.  

Karena memang anak-anak masih dalam usia yang membutuhkan banyak bimbingan dan arahan orang tua, saya dan suami jadi tertantang untuk bisa melakukannya dari jarak jauh dengan fasilitas komunikasi yang ada. 

Sejak awal, kami termasuk orang tua yang tidak memberikan gadget kepada anak kecuali di akhir pekan dengan pendampingan orang tua.  Di rumah, kami juga tidak menggunakan siaran televisi sejak enam tahun terakhir.  Dan ini tetap berjalan meskipun ibunya pindah tugas ke daerah.  

Sebagai alat komunikasi visual ibu dan anak, kami memilih smart watch yang bisa digunakan anak-anak untuk telepon, berkirim pesan suara, tulisan, gambar maupun video call dengan ibunya. Smart watch tersebut juga digunakan sebagai penanda lokasi karena dilengkapi dengan GPS.  Sehingga, saya bisa tetap memantau dan berkomunikasi dengan anak-anak sekalipun berjauhan. 

Smart watch tersebut diamankan oleh aplikasi sehingga hanya anggota keluarga yang diapprove oleh admin saja yang bisa berkomunikasi dengan anak-anak.  Saya, adalah adminnya.  Dari jauh, saya memegang penuh kontrol ini.  Apabila smart watch tersebut sampai hilang, pun orang yang menemukan atau mencurinya tidak dapat menggunakannya karena kontrol admin tetap ada pada saya.  

Teknologi ini memang sengaja kami pilih untuk jalan komunikasi paling aman, karena anak-anak tidak kami perkenankan memiliki smartphone sebelum mereka cukup umur.  

Memang, komunikasi visual dan suara via smart watch tidak dapat sekaligus menggantikan komunikasi pertemuan langsung.  Tetapi, setidaknya saya dapat meyakini bahwa kondisi anak-anak baik-baik saja.  Masih bisa mendengarkan curhat mereka, melihat ekspresi wajah lucu, dan mengobati kangen karena belum dapat bertemu langsung.  

Banyak hal patut disyukuri bahwa anak-anak walaupun sempat protes dan nangis, perlahan-lahan bisa terkondisikan untuk menjalani perjuangan awal kemandirian.  Ada pelajaran hidup tentang mengelola rasa kecewa untuk kami sekeluarga.  Dan ini kami yakini akan membentuk sikap hidup yang lebih positif.  Pastinya.  

Survival saya sangat ditentukan oleh sifat pengayom suami yang dominan.  Dukungan beliau dalam menciptakan kondisi yang kondusif sangat besar.  Beliau menceritakan masa kecilnya kepada anak-anak, tentang bagaimana dulu kakek dan nenek juga berjuang karena harus terpisah oleh jarak.  Ayah mereka juga merasakan saat duduk di bangku Sekolah Dasar hanya bertemu ibunya sepekan sekali.  Namun karena meyakini itu hanya untuk sementara dan selalu berjuang untuk berkumpul kembali, maka justru membuat anak-anak menjadi belajar mandiri.  

Suami pun mendukung saya untuk menjalani amanah ini dengan mantap.  “Yakinilah bahwa ini cara Tuhan untuk memberi kesempatan kamu belajar hal yang belum ditemui sebelumnya.  Kan katanya Perempuan Pembelajar tho…belajar sepanjang hayat di Universitas Kehidupan. Belajar memimpin, mengatur strategi untuk lingkup yang lebih luas, menangani personil yang bermacam karakter, sampai belajar empati terhadap sisi lain kehidupan di daerah. Ayo, kamu pasti bisa.  Jadikan ini pijakan untuk maju menjadi pribadi yang  lebih matang dan keren.”  Begitu pesan suami. 

Begitupun orang tua, mertua, kakak-kakak dan adik semuanya memberikan dukungan supaya maju.  Terutama Ibu dan kakak laki-laki saya.  Ibu berpesan, pastilah berat meninggalkan anak-anak. Tapi cobalah untuk semeleh ati.  Semeleh kuwi entheng nanging abot, abot nanging ngentengake.  Berserah diri itu ringan tapi berat, berat tapi meringankan.  Begitu kata petuah di tanah Jawa.  Berserah diri itu menyerahkan segalanya kepada Tuhan sambil terus berikhtiar dan berdoa untuk harapan terbaik.  Di dalamnya ada pembelajaran ikhlas dan syukur yang teramat dalam.  

Berbekal itu semua, kemampuan saya untuk survive rasanya menjadi berlipat ganda.  Rasanya.  Padahal mungkin ya kemampuan saya segitu aja.  Tapi dukungan mental yang besar dari keluarga membuat saya yakin bahwa saya sedang menjalani hal yang berharga bagi keluarga. Karenanya saya harus survive. Harus.  Pun dalam menghadapi pekerjaan tersulit.  

Keluarga pun bergantian menemani anak-anak saya ketika saya bertugas. Ikatan kasih sayang kami sebagai anggota keluarga besar pun jadi semakin terasa. Semua ini patut disyukuri, meskipun kami bukanlah keluarga yang berkelimpahan uang atau harta benda.  Tapi ikatan kasih sayang yang tertanam dan terpelihara adalah rezeki bagi keluarga kami.  Rezeki yang patut disyukuri selalu. 

Harapan Saya Ke Depan 


Sebulan sudah saya di sini, di kabupaten perjuangan.  Hidup dalam lingkup yang sangat berbeda dengan belasan tahun sebelumnya.  Fasilitas seadanya, semua serba seadanya, membuat saya belajar lebih mensyukuri hidup. Lebih empati terhadap perjuangan masing-masing personil yang ada di sekeliling saya.  Lebih positif dalam menyikapi ragam hal, dari yang membuat pening sampai yang membuat mual.  Lebih bijak untuk bersikap terhadap siapa saja.  Lebih bertekad untuk mampu meringankan beban orang lain sekalipun hanya dengan senyum atau tutur kata yang adem.  Lebih, lebih, dan lebih lagi.  Untuk lebih banyak hal.

Harapan yang tumbuh subur merekah di dalam hati seiring dengan langkah bukan cuma satu dua. Banyak. Banyak sekali seperti rumpun bunga di taman yang terindah, bersemi seiring berjalannya waktu.  Harapan itu adalah semoga perjuangan ini tak pernah sia-sia, amanah ini dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya, tumbuh sejalan dengan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.  

Harapan agar anak-anak menjadi semakin mandiri dan mampu belajar berjuang berpadu dengan harapan agar saya menjadi ibu yang lebih pandai bersyukur serta instrospeksi diri.  Di ujungnya, harapan itu mengerucut menjadi satu harapan terindah yaitu kembali berkumpul dengan anak-anak dan suami tercinta dalam keridhoan Allah SWT.  

Saya meyakini, harapan itu akan selalu ada, layak diihktiarkan untuk terwujud melalui perjuangan dan doa. Pada waktu yang ditetapkan Allah SWT, harapan itu akan menjadi nyata.  

Pekerjaan tersulit seorang ibu adalah pekerjaan yang harus dikerjakan saat dipisahkan dari buah hati tercinta. Ada ibu yang tidak setuju?.......

Saya salah satu ibu yang setuju dengan pernyataan itu.  Dan saya juga termasuk ibu yang percaya bahwa saya mampu menjalani pekerjaan tersulit itu sebagai bagian perjuangan melakukan yang terbaik demi dapat berkumpul kembali dengan kesayangan…… Semoga …… Gusti Allah boten sare (Opi) 

Kamis, Juni 27, 2019

Buku Solilokui Sepeda: Sebuah Kado untuk Hidup Berkualitas

Bersepeda bukan hanya indah untuk rekereasi, olahraga, transportasi, ataupun bersenang-senang (hobi). Bersepeda itu bahkan jalan yang indah untuk merdeka, membebaskan jiwa. Sekaligus, wahana untuk melatih kesadaran agar lebih tangguh dan sabar menjalani kehidupan yang kadang tak sesuai keinginan.

Semua itu dikemas bernas oleh Purwanto Setiadi (Mas Pur) dalam buku Solilokui Sepeda, sebagai kado bagi pesepeda dan hidup yang lebih berkualitas.   

Buku ini memuat percakapan akrab penulisnya (Mas Pur) dengan diri sendiri, sepeda, dan beragam udara luar. Sebuah meditasi dan refleksi yang langka. Bisa dibilang begitu karena hidup yang serba bergegas sudah menggerus waktu untuk bercakap dengan jiwa.   

Melalui buku ini penulis hendak menyampaikan bahwa bersepeda telah mengajari  manusia untuk menyeimbangkan semua aspek kehidupan dan lingkungan.  Di situ ada kekuatan dalam diri sendiri untuk mencapai tujuan hidup secara mental dan fisik.  Ada start, ada finish. Artinya, berani mengayuh selangkah, berani menyelesaikan hingga tuntas di finish, dengan kemenangan. Daleeeeeem ya….

Bagi saya yang bersepeda sebatas mengalihkan diri dari jengah, buku ini menggoda dan menginspirasi.  Saya belum pernah bersepeda jauh-jauh, tapi sering terkagum-kagum dan ikut merasakan kesenangan ketika kakak laki-laki semata wayang membagikan kisahnya bertualang dengan sepeda. Menjelajah alam, menempuh perjalanan, dengan sepeda. 



Kakak laki-laki saya bekerja sebagai seorang designer grafis di sebuah group media nasional dan kebetulan berteman dengan Mas Pur penulis buku ini.  Mereka juga sering gowes bareng komunitasnya. Buku ini pun dibuatkan cover dan lay out-nya oleh kakak saya. Trilogi sepeda-buku-kopi memang menyatu dalam kehidupan mereka.  

Nah, kalau saya sih tinggal membaca saja bukunya.  Menikmati dengan santai dan berbahagia.  Tulisan mas Pur yang jernih dan rapi, memikat saya walau dibaca tak berurutan.  Menjejaki paragraf demi paragraf yang ditulisnya seperti ikut tersenyum,-tertawa- bahkan tergelitik mengulum pengalaman Mas Pur bersama sahabat sejatinya – sepeda. 



164 halaman yang di tulis Mas Pur menunjukkan kepiawaiannya meramu bacaan dan pengalaman menjadi menu baru yang adem di hati. Bacaan seperti inilah yang cocok sebagai suplemen otak dan jiwa.  Ya, jiwa kita pun diajak membaca, tersenyum, dan bersyukur.  

Mas Pur menulis buku ini dengan terstruktur dalam tiga bagian.  Di bagian pertama, 15 tulisannya memuat pengalaman tentang diri, sepeda, dan kehidupan.  10 tulisan di bagian kedua secara khusus menyajikan kisahnya dan sepeda sebagai alat transportasi. Pernak pernik kisah tentang bersepeda ke kantor lalu ditulis Mas Pur di bagian ketiga.  Ada 9 tulisan yang bisa kita nikmati tentang bike to work yang ngehits itu.




Bagian terakhir dari buku ini memuat cerita perjalanan bersepeda jarak jauh yang seru dan menggoda. 9 tulisan di bagian terakhir ini seperti tangan ramah yang melambai-lambai mengajak pembaca untuk ikut menikmati senangnya bersepeda. 






Memberdayakan Perempuan dengan Sepeda


Saya tidak pernah membayangkan bahwa sepeda dapat memberdayakan perempuan di tempat-tempat di belahan bumi ini.  Mas Pur menuliskannya.  Perempuan dan anak-anak pengungsi dari negara konflik seperti Afganistan dan Suriah, merasakan artinya sepeda yang memberdayakan hidup mereka.  Di Jerman, mereka dibantu sukarelawan dan Bikeygees (yang didirikan oleh Annette Kruger).  Para perempuan pengungsi ini diajari mengendarai sepeda dan kursus singkat perbaikan ringan serta pengetahuan tentang peraturan lalu lintas di Jerman.  Dari donasi, mereka mendapatkan sepeda, helm, serta perkakas untuk pemeliharaan dan kunci pengaman.  


500 perempuan pengungsi itupun merasakan hidup yang lebih berdaya setelah terampil bersepeda.  Perlahan-lahan remaja perempuan mulai memperlihatkan rasa percaya diri.  Emily, gadis pengungsi berusia 22 tahun yang tinggal di Jerman mengungkapkan terima kasihnya atas sepeda yang memberdayakan.  Begini tulisnya :” Pengalaman ini memberi saya perasaan bebas dan percaya diri.  Maksud saya, ini pengalaman yang sangat indah, bisa berada dalam keadaan mengendalikan diri dan berkonsentrasi di atas dua roda.  Saya merasa bagaikan burung di angkasa.”  Wow!



Para perempuan dari negara konflik ternyata memiliki harapan yang besar untuk menjelang ke dunia luar dan menyampaikan ide mereka sendiri.  Bukan cuma ide suami atau saudara lelaki mereka. Perempuan ingin berdaya dan didengar.  Siapa yang menyangka, diawali dengan belajar bersepeda dan keluar rumah dengan bersepeda para perempuan inipun telah merasa lebih berdaya. Mengesankan.   

Bersepeda sebagai Sarana Mindfulness


Mindfulness adalah kemampuan untuk mengarahkan pikiran ke tujuan yang kita inginkan dan sekaligus “hadir” bersama dengan apa pun yang sedang terjadi saat itu.  Di masa ketika orang pada umumnya cenderung autopilot, mindfulness menyediakan cara yang sudah terbukti secara ilmiah untuk keluar dari situasi itu.  



Berbeda dengan keadaan sadar saja, mindfulness bukanlah duduk berdiam diri dan bersantai, atau sesuatu yang menghabiskan waktu seharian.  Bisa dibilang mindfulness adalah praktek meditasi secara aktif, yang bisa dilakukan dengan yoga, berjalan, ataupun bersepeda.  Ini saya setuju sekali.  Sebab sayapun pernah melakukannya. Di pagi atau sore hari, saya kayuh sepeda tanpa tujuan, kadang hanya berputar-putar di kompleks perumahan.  

Suatu hari pernah saya merasa jenuh bekerja di tempat yang sekarang, dan dengan bekal ijazah S2 yang saya miliki serta pengalaman pernah mengajar di universitas, saya beranikan diri melamar sebagai dosen di Universitas Negeri.  Setelah melalui proses yang panjang , tes demi tes yang melelahkan dan menghabiskan jatah cuti saya, endingnya saya tidak diterima.  
Sore harinya setelah pengumuman itu, saya mengeluarkan sepeda, mengayuhnya jauh jauh tanpa tujuan.  Saya menyatukan pikiran hanya pada menikmati kayuhan pedal dan situasi sekeliling yang hadir bersama dengan diri saya.  Sepulangnya, saya menjadi lebih tenang dan mampu menerima kenyataan.  

Benar adanya jika Mas Pur menuliskan bahwa bersepeda bisa manjadi salah satu alternatif meditasi aktif yang menyejukkan jiwa.  Saya pun mengalaminya.  Kayuhan pedal bisa melupakan kesedihan, dan mengantarkan kita pada kekuatan baru untuk menjelang pada kenyataan segetir apapun. 


Bersepeda tanpa batas usia


Siapa bilang bersepeda hanya untuk para orang muda? Oo tidak.  Yang bilang begitu, harus baca dulu uraian Mas Pur di buku ini. Bahkan seorang mantan pengusaha pakaian dalam perempuan berusia 97 tahun dari Denmark, Thorkild Thim, hanya punya satu kendaraan pribadi seumur hidupnya : sepeda. 

Thorkild dan Ole Kassow -rekannya- mampu menyebabkan para pensiunan lanjut usia dan mereka yang tinggal di rumah jompo untuk keluar bersepeda di tengah udara segar.  Menyusuri jalan-jalan yang dulu pernah mereka lalui atau yang baru akan mereka temukan.  Gerakan ini meluas, dan dinamakan  Cycling Without Age (Bersepeda Tanpa Usia), melibatkan sekian banyak orang dengan ragam profesi mulai dari tukang ledeng hingga pengacara.  Dengan sistem lisensi gratis, gerakan ini pun menyebar ke berbagai penjuru Eropa.  

Bersepeda tak pandang usia. Tua muda bisa melakukannya, asalkan mau. Dan manfaatnya bagi kesehatan tidak diragukan lagi.  Selain jogging, bersepeda bisa dilakukan oleh hampir semua usia. 

Inilah Pasangan serasi : sepeda dan kopi !!


Bukan kebetulan nampaknya jika para pesepeda juga adalah para pencinta kopi.  Persis seperti kakak saya.  Jika pergi gowes bersama teman-temannya, di belakang sepedanya teronggok tas khusus berisi perangkat mengopi.  Bersepeda hingga ke kebun kopi di Pengalengan untuk memperdalam pelajaran kopi mengopi juga menjadi hal asyik yang langka. Menyusuri kota-kota apik di Jawa Tengah dengan sepedanya, kakak saya lalu menyambangi setiap tempat mengopi yang unik. Bahkan ia pergi ke Macau membawa sepeda lipat dan perangkat mengopi dalam koper.  Di sana dia menjelajah dengan sepeda dari satu kedai kopi ke kedai lainnya.  



Dalam bukunya Mas Pur menuliskan tentang Ted King, seorang pembalap sepeda profesional dari Amerika.  Ted bilang begini:”Sepeda dan kopi itu pasangan yang selaras. Beberapa jam awal dari bersepeda itu selalu distimulasi secangkir kopi di pagi hari.  Bersepeda santai ke kedai kopi terdekat merupakan standar di hari yang malas, tak peduli apakah anda di Amerika, Australia, Italia, Spanyol, atau Belgia.  Dari para amatir hingga profesional, menyaksikan sebuah sepeda balap yang keren diparkir di luar kedai kopi sungguh bisa dipahami.” 

Wow. Mantap ya.

Tentu saja, bukan hanya pembalap profesional yang punya hubungan erat dengan kopi.  Russ Roca, pendiri The Path Less Pedaled, website yang mempromosikan dan mengadvokasikan kegiatan bersepeda misalnya.  Mengaku sebagai pecandu kopi, Roca tak pernah berhenti mencari alat seduh kopi yang sempurna untuk dibawa touring dan kemping.  Dia menuliskan kesan setiap kali menemukan sesuatu yang baru.  

Apakah Anda termasuk penggemar kopi yang suka bersepeda?  Atau pesepeda yang gemar mengopi?....

Sepeda dan Semangat Perlawanan untuk Merdeka


Menurut Mas Pur, bersepeda bukan soal sepeda yang bagus, perlengkapan yang update, dan aksesoris yang lengkap, merk dan sebagainya.  Bersepeda itu, apapun bentuk perangkatnya-membebaskan. Entah itu dengan sepeda buruk rupa atau Brompton yang super keren.  Kisah pembebasan bagaikan keluar dari bui ini ditulis Mas Pur dengan epik.  Ya, bebas dari kerangkeng mobil, kotak mesin berjalan yang diumpamakan seperti penjara.  



Mas Pur meraih kemerdekaannya dengan meninggalkan bermobil dan beralih bersepeda.  Ia menuliskan: “Saya memperoleh kembali banyak hal yang hilang dari masa masih mengemudikan mobil sendiri ke mana-mana sambil acuh tak acuh.  Bersepeda menghadapkan saya langsung dengan segala sesuatu yang ada di sepanjang perjalanan- rumah-rumah tetangga; jerit dan tawa anak-anak serta celotehan ibu-ibu di perkampungan tak jauh dari kompleks pemukiman tempat saya tinggal.; kebun dan tanah lapang; rimbun dedaunan dari barisan pohon di kanan-kiri jalan raya di depan sebuah equestrian serta kilatan sinar matahari di permukaan air situ beberapa puluh meter di sebelahnya; kerumunan kendaraan yang terjebak kemacetan di antara kepulan asap knalpot dan debu yang beterbangan; sengatan matahari di musim kemarau; guyuran air hujan……”

Namun, tidak ketinggalan dari semua itu Mas Pur juga bisa merasakan bagaimana dengan kemerdekaan yang ada, jantungnya berdegup, perlahan maupun kencang, dan kegembiraan jadi melambung, tergantung seberapa pelan atau cepat pedal dikayuh. 

Bagi siapapun yang suka bersepeda, berniat belajar bersepeda, ataupun hanya mengetahui sepeda dari sebuah impian, layak membaca buku ini. Buku ini akan menjadi sahabat yang setia untuk dibuka kembali saat hujan di luar sana membuat kita nyaman di dalam rumah yang hangat, menikmati teh atau kopi, dan bermimpi tentang percakapan diri dengan sahabat baru- sepeda. (Opi). 


Informasi Buku 

Judul : Soli  lokui Sepeda 
Penulis : Purwanto Setiadi 
Copyright 2018 
xxvi + 164 halaman 
Kulit muka dan tata letak Aji Yuliarto 
Foto Sampul Purwanto Setiadi
Foto penulis Dhody Kincahyadi 
Dicetak oleh Buring Printing Cetakan pertama Januari 2019 
Harga Rp 75.000,- 

Jumat, Juni 21, 2019

Liku-liku Blogger Karyawati


“Mba Opi, gimana sih membagi waktu antara pekerjaan kantor, kegiatan nulis blog, dan urusan keluarga?  Kayaknya enak banget liat Mba Opi udah gajian dari kantor masih dapat duit dari nulis gitu. Keliatannya kaya enjoy banget ngga ada beban-bebannya, santai gitu…., anak-anaknya juga keliatan keurus,” tanya beberapa teman, masing-masing dalam kesempatan yang berbeda. 

Saya langsung berucap syukur, “Alhamdulillah.” Iya, ngga nyangka kalau orang lain melihatnya seperti itu.  Ya senang, sekaligus terharu.  Kalau soal dilihat dari gajian ya memang tiap bulan saya terima gaji dari kerja kantoran.  Hanya kadang-kadang saja hobi nulis dan cuap-cuap mengantar rizki ke rekening, yang tak pernah terlalu saya harap-harapkan. Motivasinya memang untuk membahagiakan diri dengan berekspresi lewat tulisan dan cuap-cuap, ya Alhamdulillah banget juga terwujud dalam bentuk materi. Allah Maha Baik.

Pertanyaan serupa bukan sekali dua kali saya terima. Makanya, saya tergerak untuk menuliskan topik liku liku blogger karyawati versi Novi Ardiani. Semoga aja ngga ngebosenin yah…. ( **jiaaaa)



Jika mau jujur, aktivitas blogging yang saya lakukan tidak seintens teman-teman blogger ngehits di sekeliling saya lho. Ngehits maksudnya? Ya, mereka yang ngehits tu jauh lebih sering juga konsisten nulis di blog baik artikel organik maupun paid post.  Mungkin sepekan bisa lebih dari tiga artikel. Tambah lagi,  eksis di medsos untuk booster campaign dan tulisannya. Dan yang lebih ngehits, juara lomba nulis tiap bulan! 

Saya? He he he.  Sebulan bisa menulis dua sampai tiga artikel saja sudah sangat bagus. Di bulan-bulan pekerjaan kantor yang cukup padat, atau saat ngga ada asisten rumah tangga, saya cuma nulis satu artikel blog dalam sebulan. Miris deh. Ini males atau hobi sih? (Nyindir diri sendiri).  

Tapi, saya enjoy saja dan tidak mau memaksakan diri jika harus mengorbankan anak-anak, keluarga, dan kesehatan. Menulis bagi saya untuk menebar manfaat dan berbahagia. Kalau dipikir tulisan saya kurang bermanfaat, saya ngga jadi upload.  Simpan aja dulu. Masuk folder. Suatu saat dipoles lagi supaya lebih baik dan bermanfaat untuk disebarluaskan. 



Selain hanya menulis hal-hal yang memang benar-benar diminati dan dikuasai, saya juga termasuk banyak aturan dalam menyabet job nulis.  Sok idealis?... Tepatnya, ini demi kualitas tulisan dan pertanggungjawaban moral saya.  Sesimpel itu. Karena saya butuh menjalani hidup dengan nyaman plus berkualitas. Lah, ini mah semua orang juga butuh ya hihihihi…. Plis deh.

Ya artinya menulis sesuai bidang keahlian, minat, dan dapat dipertanggungjawabkan adalah hal penting yang mempengaruhi kenyamanan hidup saya.  Makanya harus diingat dan diusahakan selalu. Pertanyaan tentang bagaimana mengatur waktu antara pekerjaan kantor, nulis, dan urusan domestik sebetulnya agak susah dijawab.  

Sebab, saya sendiri merasa manajemen waktu sampai detik ini masih jauh dari bagus. Indikatornya adalah sering sekali menghanguskan kesempatan tantangan nulis di komunitas, lomba nulis, ataupun job untuk paid post. Niat sih ada, tapi akhirnya digugurkan oleh hal-hal lain yang lebih mendesak untuk saya kerjakan. Mendampingi anak-anak adalah hal utama yang sering mengalahkan apapun untuk dikerjakan termasuk nulis.  Yah, momen untuk menemani mereka tak bisa terulang, saya tak mau menyesal karena sengaja melewatkannya untuk kesenangan menulis.   


Walau tampak dari luar saya ini sepertinya santai dan dapat uang melulu, sesungguhnya ngga gitu gitu amat deh, hihihihi. Sebelum menilik liku-likunya, saya berikan sekilas ilustrasi tentang keseharian ibu yang bekerja kantoran sekaligus hobi nulis blog ya. 

Sehari-hari, saya bekerja di kantor  -Senin sampai Jumat-  pada jam kerja pukul delapan pagi hingga lima sore. Beruntunglah saya bukan pejabat teras di kantor, sehingga beban kerja dan tanggung jawab saya juga ngga mengharuskan saya pulang malam setiap hari.  Sebisa mungkin, saya mengusahakan pulang tepat waktu, terkecuali memang ada pekerjaan penting di bawah tanggung jawab saya yang mendesak untuk dituntaskan saat itu juga.  

Rumah tempat tinggal saya berjarak sekitar 24 km dari kantor. Ini bukan jarak yang dekat loh. Perjalanan dengan transportasi publik (ojek daring plus commuterline) ditempuh sekitar satu setengah jam untuk tiba di kantor.  Pulangnya juga seperti itu.  Walhasil, saya harus berangkat sebelum pukul 6 pagi dan tiba di rumah lagi sekitar Maghrib.  Waktu yang ada di pagi dan malam hari rasanya sangat singkat dan digantungi lelah. 



Satu jam di pagi hari lebih saya utamakan untuk bersama anak-anak menyambut pagi yang sibuk, siap-siap berangkat sekolah dan bekerja.  Malam hari diisi dengan main dan belajar bersama anak-anak, atau sekedar ngobrol. Satu atau setengah jam menjelang tidur malam, adalah yang tersisa jika saya mau menulis.  

Bersama buah hati tercinta

Waktu emas itulah yang masih membuat saya bersemangat untuk tetap menulis walau sedikit demi kewarasan dan kebahagiaan hakiki hehehe….. (**sedaaap). Walaupun dalam liku likunya, waktu emas itu sering dilewatkan karena sudah lebih dulu terlelap akibat sudah lelah dan ngantuk (waduuuh). Ya itulah liku-liku …..   


Inilah sebagain liku-liku blogger karyawati beranak dua yang sempat tercatat:

LIKU 1:  Trilematis Nulis, Baca, atau Aktivitas bersama Anak?


Tiga hal ini paling trilematis deh (bukan dilematis lagi hehehe) bagi saya.  Hal inilah yang paling sering saya hadapi. Membaca dan menulis di blog itu satu paket, tidak bisa dipisah.  Aktivitas membaca lah yang sering menelurkan ide menulis.  Kesenangan membaca buku membuat saya juga suka menulis ulasan buku di blog.  Berikut beberapa ulasan buku yang pernah saya tulis di blog : 

(Klik untuk membaca ulasan) 

Nah, saya tuh kalau sudah tiba di rumah sepulang kerja kantor, badan rasanya sudah lelah dan inginnya cuma main-main aja sama bocah dilanjut istirahat.  Anak-anak juga super senang kalau ibunya sudah tiba di rumah.  Kita bisa main boneka, menggambar dan mewarnai, main guru-guruan, dokter-dokteran, atau ngobrol dan cerita-cerita sambal bobo-boboan. Kalau sudah begitu, wassalam deh. Ngga akan tega untuk buka laptop dan mencicil tulisan yang mau dibuat.  

Akhirnya, ide-ide tulisan banyak ngendon sebatas draf di folder sampai berhari-hari, bahkan pekan!  Menghadapi liku-liku ini, saya sih santai aja.  Nikmatin aja sampai akhirnya otak dan hati saya protes sendiri, ini gimana sih kok ga nulis-nulis buuuu???   Kalau sudah begini biasanya di ujung penantian draft tulisan itu akan saya sentuh penuh buncah rasa dan hanya butuh waktu beberapa jam saja hingga akhirnya jadi tulisan yang siap tayang. Jreng jreeeeeng…….

LIKU 2 :  Timbang-timbang menghadiri event blogger


Sejak aktif menulis blog dengan domain berbayar www.opiardiani.com pada Juli 2017 dan bergabung dengan komunitas blogger, otomatis banyak sekali kesempatan untuk menghadiri event.  Segala macam event.  Mulai dari yang gratis, dibayar bahkan berbayar. Event atau acara ajang kumpul para blogger memang sangat menyenangkan.  Saat menghadiri event, kita bisa menambah wawasan, melatih sudut pandang kepenulisan, memperluas ide nulis, berkenalan langsung dengan para bloger ngehits– hampir ngehits, maupun yg malu-malu kucing hahaha.  Seru lah pokoknya.


Event blogger yang menambah wawasan dan pengetahuan 



Awalnya, semua undangan event rasanya menarik! Maunya, semua dihadiri. Inginnya, semua diikuti.  Namun seiring berjalannya waktu saya pun mulai mengamalkan timbang menimbang untuk menghadiri event blogger.  

Karena saya bekerja penuh waktu Senin hingga Jumat, maka pertimbangan utama memilih event blogger yang akan dihadiri adalah: 

1. Dilaksanakan di akhir pekan Sabtu atau Minggu apabila memungkinkan, dengan catatan tidak ada agenda acara keluarga 
2. Jarak lokasi event dapat ditempuh dengan perjalanan dengan transportasi umum 60 sampai 90 menit.
3. Event yang dipilih adalah yang sesuai dengan konsep blog yaitu pembelajaran, parenting, kesehatan, lingkungan, pendidikan dan semacamnya
4. Lebih diutamakan yang membuka kesempatan belajar lebih banyak dan bertemu orang-orang baru, bukan yang cuma haha hihi aja.   

Jadilah, banyak akhirnya event blogger yang lalu saya lewatkan, terutama di hari kerja.  Walaupun untuk tema-tema yang betul-betul saya minati, bela-belain ikut dengan  bermanuver agar pekerjaan kantor tidak terganggu.  **edisi nekat inih!!

LIKU 3:  Fokus kerjaan kantor, lalu bablas deadline lomba nulis 


Saya termasuk blogger yang semangat banget nget nget ikut lomba nulis, walau ngga selalu menang hahahaha. Banyakan kalahnya daripada menangnya. Di tahun 2018 saya getol  nulis untuk lomba. Karena, saya mau menunjukkan ke anak-anak tentang proses mencapai sebuah keinginan.  


Beberapa taqdir di lomba nulis yang penuh berkah 




Keinginan untuk punya prestasi di bidang menulis, membuat saya terus mencoba berbagai lomba.  Saya pilih lomba yang memang temanya saya kuasai dengan baik.  Ngga punya nyali lah saya untuk ikut lomba nulis dengan topik kecantikan, biarlah itu buat para beauty blogger saja hehehehe. Kapabilitas saya untuk hal cantik-cantik ini super minim gaaaeesss….

Saya tunjukkan kepada anak-anak bagaimana ibunya berusaha membagi waktu antara kerjaan kantor dengan nulis untuk lomba.  Mereka lihat sendiri malam minggu saya begadang di depan laptop menyelesaikan tulisan lomba.  Dan ketika pengumuman karya saya menang, dapat hadiah, mereka jadi tahu bagaimana sebuah perjuangan untuk meraih apa yang diinginkan. 

Tapi, beberapa kali saya bablas loh.  Kelewat deadline lomba. Akibat lagi fokus sama kerjaan kantor. Alkisah biasanya saya akan membuat draft tulisan ketika niat ikut lomba. Saya juga riset kecil-kecilan dan mengumpulkan koleksi foto yang terbaik.  Di tengah jalan, saya sering kelupaan tuh kalau lagi fokus kerjaan kantor.  Tahu-tahu kok sudah lewat batas waktu pengumpulan tulisan. Aduh, nyesek banget deh.  Apalagi pas lihat pengumuman pemenang lomba lalu membaca tulisan yang menang lhooo kok beda beda tipis alias mirip siiihh dengan yang sedang saya buat.  Sebel banget kan.  Ya gitu deh liku-likunya.

LIKU 4: Mencuri waktu, dengan niat produktivitas


Kalau ada kesempatan pengakuan dosa, sepertinya blogger bernama Novi Ardiani bakal ngaku dosa banyak nih.  Pasalnya, saya sering melakukan pencurian waktu untuk bisa nulis di sela-sela pekerjaan lain.  Itu kalau di otak saya udah ngga bisa ditahan lagi arus idenya.  Tidak bisa ditunda lagi.  Dalih saya adalah produktivitas, halah!! 

Tapi, ngga sering-sering kok.  Bagian dari liku ini saya nikmati sebagai aliran adrenalin rush.  Soalnya kalau ketahuan lagi nulis artikel padahal harusnya saya sedang ngumpulin data buat laporan kerjaan, kan malu-maluin yaaaa.  Duh. Jangan ditiru yaaaa…. **mudah-mudahan atasan saya ngga baca ini  ampuuuunnn.

Baca juga: 

http://www.opiardiani.com/2019/04/perempuan-pekerja-berproses-dalam-produktivitas.html


Sebaliknya, saya kadang beruntung punya waktu napas yang legaaaaa banget saat atasan dinas luar kota atau tugas selesai lebih cepat.  Seperti mendapat “hadiah waktu” yang saya curi untuk menulis. Manusiawi kan ya. Hmmm, begitulah liku-likunya.  

LIKU 5: Menularkan kebiasaan membaca dan menulis kepada anak-anak 


Sepanjang liku-likunya, kegiatan ngeblog sangat berpengaruh positif pada saya dan anak-anak dalam hal literasi.  Karena untuk menulis perlu banyak baca, otomatis kebiasaan baca jadi nular ke anak-anak. 

Anak sulung yang berusia 10 tahun sudah mirip sekali dengan saya di masa kecil.  Baca novel, baca buku-buku tebal yang isinya tulisan melulu, ngga ada gambarnya.  Dia seperti sudah menemukan kenikmatan dan kebahagiaan ketika berinteraksi dengan ribuan aksara dalam helai demi helai kertas buku ! 

Agak kaget juga saya ketika menemukan anak sulung saya selalu bawa buku bacaan ke manapun dia pergi.  Ke sekolah, ke tempat les, ke rumah nenek, saat jalan-jalan/rekreasi, bahkan sekedar ke warung baso atau mall teteeeuup bawa buku yang sedang dibacanya.  Persis saya waktu kecil!! Bedanya, dulu saya ngga pergi ke mall , hehehe. 

Membaca di perpustakaan Kota Depok sepulang Les Bahasa Inggris 
Begitu pula anak bungsu yang berusia 7 tahun.  Sudah mulai pilih-pilih buku sendiri yang disukainya.  Pilihannya masih didominasi oleh buku bergambar warna warni.  Kadang, masih suka dibacakan oleh ibu, ayah, atau kakaknya. 

LIKU 6: Pak Suami dan andilnya, kadang pedas nian


Salah satu faktor yang turut membakar semangat saya untuk terus menulis di tengah aktivitas yang lain adalah Pak Suami.  Iya.  Beliau itu sabarnya minta ampun, tapi kalau sudah menyindir uwoooowww, bikin saya jadi terbakar untuk menunjukkan bahwa saya bisa!  

Suatu hari saya pernah mengeluh pada suami karena kewalahan ngatur waktu nulis, kerja dan ngurus anak. Sempat keluar dari mulut saya, “ Ayah, kayaknya lebih baik aku berhenti kerja, trus fokus ngurus anak dan nulis deh ya yah,” 

Pak Suami yang bijak pun bilang begini,” Justru, kalau di tengah kesibukan kamu bekerja dan mengurus anak, tetap bisa menyempatkan rutin berkarya melalui menulis, di situ letak nilai tambahnya.  Di situ letak kerennya.   Apalagi kalau bisa konsisten dan menghasilkan tulisan yang bermanfaat buat banyak orang sekaligus menghasilkan yang lain buat kamu sendiri, di situlah nantinya kamu akan merasa sangat berarti. “ 
Bersamanya yang super sabar 
Ibaratnya seperti seorang ustad di pesantren, yang memiliki waktu sangat luas untuk beribadah sholat dan membaca Al Quran. Kita pun melihatnya sangat elok, dianugerahkan waktu yang lapang untuk melakukan ibadah-ibadah itu.  Tapi coba bayangkan seorang biasa yang bekerja dengan mobilitas tinggi di lapangan dari pagi sampai sore, dan pulang ke rumah malam hari dengan tubuh lelah.  Tetapi, dia tetap berusaha untuk sholat tepat waktu, berusaha membaca Al Quran walau terkantuk-kantuk dan terganggu oleh deringan telpon soal pekerjaan.  Letak kemuliaan dan kebanggaannya mungkin sama.  Tetapi kita mungkin akan melihat Pak Ustad lebih mulia dan membanggakan ya. 

Dia yang super sabar tapi suka membakar semangat istrinya dengan sindiran maut
Dari situ, saya kemudian menarik sebuah hikmah.  Bersyukur di setiap keadaan.  Berkarya itu tidak menunggu pintar.  Menulis itu tidak menunggu kalau ada waktu.  Ngeblog itu ngga harus berhenti kerja kantoran.  Apapun yang ingin kita lakukan dengan niat dan tujuan yang baik, akan menemukan jalannya walau tetap ada liku-likunya. Ya dikerjakan aja.  Kalau ngga dilakukan, cuma berwacana saja ya ngga ada hasil karya apa-apa.  Lamis. Lip service.  Omdo, NATO. Gitu lho. **maksudnya cuma ngomong aja, ngga dikerjain gaeess

Nah, dengan beragam liku yang dijalani, saya memutuskan untuk terus menulis. Entah sampai kapan. Semoga masih tetap ada ya mata yang mau dan butuh membaca hasil karya seorang Novi Ardiani, blogger yang sama sekali ngga ngehits dari Depok ini.  He he he…. 

Terima kasih sudah membaca ya…….   (Opi)  


Sumber Gambar : koleksi pribadi dan free stock photo at pexels.com 


Back to Top