Senin, April 23, 2018

5 Tips Pilih Jajanan Permen Sehat Untuk Anak



“Ibuuuu sayaaaaaang, jajan permen dooong,” kedua buah hati merayu manja. Nada sedikit merengek, ditambah mimik wajah memelas. Kompak, dua-duanya. Yang sulung berusia 9 tahun dan yang bungsu 6 tahun. Saya -ibunya- lalu hanya bisa menghela nafas panjang sambil nyengir was-was setiap kali anak-anak minta jajan permen.  


Sering dihadapkan dengan yang seperti itu juga? Anak-anak doyan permen tapi ibunya was-was? Kuatir dengan jajanan yang kurang sehat? Paranoid dengan berita permen anak-anak mengandung narkoba, seperti yang belakangan isunya melanda “Pindy Permen Susu” ? Tampaknya kita para Ibu memang butuh tips cara memilih jajanan permen yang aman untuk anak ya. Supaya sang buah hati bisa tetap tumbuh dengan sehat. 

Saya menerapkan 5 tips ini dalam memilih jajanan permen yang sehat untuk anak. Bisa diterapkan untuk kita para ibu yang anak-anaknya sudah mulai masuk sekolah (TK ataupun SD). Ini dia tipsnya: 


1. Buat Kesepakatan Jajan Permen dengan Anak 
2. Pilih yang Halal
3. Cek Kandungan Nutrisi dalam Permen
4. Pastikan Aman Dikonsumsi Anak
5. Secukupnya, Tidak Berlebihan 



Yuk kita bahas satu persatu: 

1. Buat Kesepakatan Jajan Permen dengan Anak 

Kenapa sih perlu membuat kesepakatan soal jajan permen dengan anak? Buat saya, perlu banget.  Permen seolah tidak bisa dipisahkan deh dari dunia anak-anak. Sering kejadian kan ketika anak-anak menangis lalu diiming-imingi dibelikan permen, langsung diam! Nah... Bayangkan kalau anak-anak dibiarkan sesuka hati makan permen tanpa kesepakatan. Bisa-bisa semangat kalau makan permen saja, dan malah ogah-ogahan makan yang lain.  Bahaya kan?

Karena itu, saya dan anak-anak membuat kesepakatan bersama tentang jajan permen. Ini berlaku buat orang tua juga.  Supaya kami para orang tua tidak bisa semena-mena makan permen sementara anaknya dibatasi. 

Ini dia kesepakatan sederhana tentang jajan permen ala kami: 
A. Boleh makan jajanan permen asalkan sesudah makan nasi sayur lauk buah dan susu. 
B. Setelah makan jajanan permen harus minum minimal segelas air putih 
C. Sikat gigi setelah makan permen di malam hari sebelum tidur
D. Makan permen dibatasi satu atau dua buah saja dalam sehari
E. Makan permen harus dikulum, tidak langsung digigit 
F. Rajin periksa ke dokter gigi enam bulan sekali, dan tidak boleh makan permen jika tidak mau menjaga kesehatan gigi

Itu adalah kesepakatan sederhana yang kami buat. Biasanya, si bungsu yang sering melanggar kesepakatan.  Kalau makan permen langsung digigit sehingga cepat habis dan selalu nambah lagi. Lalu, susah berhenti. Saya sering mengalihkan dengan membujuk makan buah-buahan.  Beruntungnya, si sulung sudah mengerti dan ikut membantu ibunya membujuk adik. 

Kami sepakat, siapa yang melanggar kesepakatan akan ditunda untuk dibelikan mainan dan atau makanan-makanan enak, termasuk penundaan pergi rekreasi. 

2. Pilih yang Halal

Saat jajan permen, pertama yang harus dicek adalah kehalalannya. Ini juga saya sampaikan kepada anak-anak.  Supaya mereka lebih berhati-hati saat mendapat pemberian permen dari orang lain atau ketika akan membeli sendiri. Jika tidak ada label Sertifikat Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), lebih baik tunda untuk mengkonsumsinya. 

Label Halal menunjukkan bahwa permen itu Insha Allah dibuat dari bahan-bahan yang halal melalui proses yang sesuai dengan syariat Islam, ajaran agama yang kami anut. Jika tidak ada label Halal, kemungkinannya ada dua :  memang mengandung bahan yang tidak halal atau sertifikasi Halal-nya belum selesai diurus.  Sebab, mengurus sertifikasi Halal itu juga membutuhkan proses.   



Ketika pertama kali makan Pindy Permen Susu, anak saya sudah memastikan ada label Halal tercantum di kemasannya. Jadi tidak perlu merasa ragu mengkonsumsi Pindy. Asalkan kembali ke kesepakatan makan jajanan permen, boleh saja anak-anak makan permen itu.   

3. Cek Kandungan Nutrisi dalam Permen 

Apa yang kita makan, itulah yang akan memberikan output diri.  Jika makan yang baik-baik maka hasilnya juga yang baik-baik seperti tubuh yang sehat dan bebas penyakit. Oleh sebab itu, walaupun kedengarannya hanya permen, harus dicek juga kandungan nutrisinya. 

Sebagai orang tua, kita harus waspada.  Harus dipastikan permen yang dipilih untuk dikonsumsi anak-anak berbahan dasar nutrisi baik. Pindy Permen Susu berbahan dasar susu yang diberi perasa coklat dan stroberi sehingga disukai anak. Dibandingkan permen manis yang hanya mengandung gula, permen susu mengandung nutrisi yang lebih baik.  

Setiap kali akan jajan permen, saya dan anak-anak berdiskusi tentang kandungannya.  Kalau terlalu manis, biasanya saja membujuk anak-anak untuk memilih yang lain, yang kandungan gulanya lebih masuk akal. 

4. Pastikan Aman Dikonsumsi Anak

Memang, permen pasti mengandung perasa dan pewarna. Ini yang perlu kita cermati. Ada beberapa jajanan yang ternyata mengandung perasa manis yang tidak boleh dikonsumsi oleh anak dan ibu hamil/menyusui. Ada pula jajanan yang mengandung perasa manis yang relatif lebih tinggi dibandingkan sejenisnya.  Sebagai konsumen kita harus teliti membaca kandungan dan peringatan yang ada di kemasan. 



Perasa, pewarna, dan pengawet dalam makanan asalkan memang jenis yang diizinkan digunakan untuk makanan, akan aman-aman saja. Tentunya bila dikonsumsi dalam jumlah yang tidak berlebihan.  Coba kita cek komposisi kandungan permen jajanan anak-anak kita. Pewarna dan perasa apa saja yang dikandung, baik jenisnya maupun jumlahnya.  Amankah?  Jangan ragu mencari informasi atau bertanya kepada ahlinya.  

Keamanan produk permen dan kelayakannya untuk dikonsumsi anak-anak bisa kita lihat dari kandungan yang tertulis di kemasan dan kejelasan keberadaan produsen permen.  Pastikan juga ada izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di kemasan tersebut. Izin Edar ini memastikan bahwa permen itu memang sudah layak diedarkan/ dijual ke masyarakat. Artinya permen telah memenuhi ketentuan kemasan dan pendaftaran sesuai persyaratan BPOM.  

Janga lupa untuk mengecek tanggal produksi dan kedaluwarsa permen. Cek juga apakah ada nomor Customer Care yang dapat dihubungi di kemasannya. Sehingga, bila terjadi keluhan ataupun memerlukan informasi lebih lanjut, kita sebagai konsumen tahu harus menghubungi siapa. 



Jika itu semua tercantum pada kemasan, permen yang akan dikonsumsi Insha Allah aman dan layak dikonsumsi anak-anak. Pindy Pemen Susu memuat itu semua di kemasannya.  

Pindy Permen Susu diproduksi oleh PT Inasentra Unisatya yang beralamat di Jl. Narogong Raya KM 14.5. Kp. Bakom RT. 001/RW. 04, Desa Limusnunggal, Kec. Cileungsi, Kab. Bogor, Limus Nunggal, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat 16820. 

Beberapa waktu lalu, Pindy Permen Susu sempat diisukan mengandung narkoba.  Walaupun telah dibuktikan dengan uji di lab BPOM dan ternyata memang tidak mengandung bahan berbahaya, ini sempat membuat para Ibu paranoid terhadap jenis-jenis permen untuk anak. 



Sebagai orang tua, memang wajib selalu waspada.  Walaupun permen yang dimakan aman, tetap jangan luput perhatian terhadap segala macam jajanan anak-anak kita.  Sebagai konsumen yang cerdas, bertindaklah dengan bijaksana.  Mencari informasi dari sumber terpercaya, kemudian konfirmasi lebih dulu dan tidak menyebarkan hoax itu harus.  Semua agar tidak saling merugikan. 

5. Secukupnya, Tidak Berlebihan 

Segala yang berlebihan pastinya tidak baik.  Itu juga yang wajib kita tanamkan kepada anak-anak. Biasakan membatasi jajan permen untuk anak dengan cara yang bijaksana.  Mentang-mentang aman dan bernutrisi, bukan berarti lalu makan sebanyak-banyaknya sehingga ogah makan makan nasi sayur lauk dan buah.  Bukan berarti kalau lapar terus langsung makan permen.  



Anak-anak suka permen, itu sudah pasti.  Permen adalah kenangan indah masa kecil setiap generasi.  Jadi, cara yang bijak bukan dengan melarang anak-anak makan permen karena kuatir giginya berlubang.  Tapi, lebih arahkan bahwa makan permen itu boleh, seperti kita boleh makan makanan yang lain, secukupnya, tidak berlebihan. Juga, diimbangi dengan menjaga kesehatan gigi.

Dengan kelima tips itu, saya jadi punya pegangan saat memilih jajanan permen yang sehat dan aman untuk anak.  Pindy Permen Susu Halal dan Aman, menjadi salah satu alternatif pilihan. Nah, mulai ajak yuk anak-anak kita untuk belajar jadi konsumen cerdas dan peduli pada jajanan yang kita konsumsi dengan tips di atas.  Semoga anak-anak kita sehat selalu yaaaa.... (Opi)   

Informasi lebih lanjut tentang Pindy Permen Susu dapat diakses melalui akun media sosial dan website berikut: 

Facebook: https://www.facebook.com/PermenPindy 
Instagram :  @permenpindy_id
Website produk: www.iu.co.id  


**Foto foto pada artikel adalah koleksi pribadi penulis. 

Sabtu, April 21, 2018

Kartini Digital, Pantang Ngasal !!


Seratus empat belas tahun berlalu sejak Raden Ajeng Kartini wafat. Raganya telah pupus, tetapi semangat juangnya masih mengalir di bumi Indonesia.  Setiap tahun, ketika penanggalan menunjukkan tanggal 21 April, kita masih mengingatnya sebagai perempuan agung yang memiliki pemikiran jauh melampaui batas zamannya.

Dari mana kita memahami pemikiran Kartini yang maju itu?  Tentu dari tulisannya! Ya, dari ratusan surat yang ditulisnya kepada para sahabatnya di negeri Kincir Angin.  Setidaknya ada 119 surat (yang dipublikasikan dalam buku Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya) memuat pemikirannya. 

Surat pertama kepada Nona E.H. Zeehandelaar ditulis Kartini di Jepara pada 25 Mei 1899 ketika berusia 20 tahun. Sementara surat terakhirnya kepada Nyonya R.M Abendanon ditulis di Rembang 7 September 1904, sepekan sebelum wafat. Kartini berpulang pada 13 September 1904, empat hari setelah melahirkan anak laki-lakinya. Dalam usia yang masih sangat muda, 25 tahun, Kartini mewariskan cita-citanya pada generasi berikut. 

Cita-cita Kartini seperti yang banyak tersirat dan tersurat dalam tulisannya kepada para sahabat, adalah mengusahakan agar perempuan mendapatkan pendidikan yang tinggi.  “Karena saya yakin sedalam-dalamnya, perempuan dapat menanamkan pengaruh besar ke dalam masyarakat, maka tidak ada sesuatu yang lebih baik dan lebih sungguh-sungguh yang saya inginkan kecuali dididik dalam bidang pengajaran, agar kelak saya dapat mengabdikan diri kepada pendidikan anak-anak perempuan kepala-kepala Bumiputera.  Aduhai, ingin sekali, benar-benar saya ingin mendapat kesempatan memimpin hati anak-anak, membentuk watak, mencerdaskan otak muda, mendidik perempuan untuk masa depan, yang dengan baik akan dapat mengembangkannya dan menyebarkannya lagi.  Suatu rahmat yang besar sekali bagi masyarakat Bumiputera, bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk perempuan itu sendiri, dengan amat sangat kami inginkan mereka mendapat pengajaran dan pendidikan, yang bagi mereka akan merupakan rahmat besar,” begitu tulis Kartini dalam suratnya kepada Nyonya Van Kool pada Agustus 1901.



Bayangkan apabila Kartini tidak menulis.  Bayangkan bila semua pemikirannya hanya berputar-putar di kepala, diperbincangkan dengan saudara, tanpa dituliskan. Mungkin, kita semua tidak akan pernah tahu tentang perempuan ningrat yang memiliki visi jauh ke depan.
Dari jejak penanya di surat-surat untuk sahabat, isi otak Kartini dirangkum. Lalu menjadi catatan sejarah yang menerbitkan terang setelah gelap yang panjang.

Rekam Jejak Digital 

Jika dulu Kartini menulis pemikiran dan cita-citanya melalui media surat, maka di era kini yang serba digital para perempuan generasi penerusnya lebih banyak menyampaikan pemikirannya di rekam jejak digital. Buku-buku hardcopy masih membudaya, namun era Marketing 4.0 membuat pemberdayaan online dan offline berjalan saling berkolaborasi. Buku-buku karya penulis (yang juga para penulis perempuan) lalu banyak disajikan dalam bentuk buku digital (e-book).

Kartini masa kini adalah Kartini Digital. Ungkapan pemikiran dan ide-ide perempuan bertebaran di dunia online. Para penulis blog (seperti saya) menjadikan blog sebagai rumah maya – rumah yang kedua untuk melahirkan lantunan cerita dan kisah orisinil. Para penggiat komunitas perempuan menjadikan website, media sosial, dan beragam aplikasi untuk wahana menyebarkan ilmu dan berkolaborasi antar bidang ilmu.  Para perempuan terhubung lewat dunia maya tanpa batas, menjalin networking dan betegur sapa dengan tulisan-tulisan yang bertanya jawab. 

Perempuan Pantang Ngasal 

Seandainya Kartini diberi kesempatan melihat situasi perempuan di zaman sekarang, kira-kira bagaimanakah pendapatnya? Tentunya beliau akan senang jika melihat para perempuan di zaman ini sudah lebih luas dalam meraih akses pendidikan. Seperti yang beliau cita-citakan. Tapi, mungkin beliau akan berduka jika para perempuan terdidik di era digital ini mengabaikan satu hal: menomorsekiankan tugas utama sebagai pendidik anak-anaknya sendiri. 

Dan siapakah yang lebih banyak berusaha memajukan kesejahteraan budi itu… Siapakah yang dapat membantu mempertinggi derajat budi manusia, ialah wanita, ibu…. Karena haribaan ibu itulah manusia mendapatkan didikannya yang mula sekali,” begitu kata Kartini. Beliau tak kan rela jika kita mengabaikan buah hati amanah Tuhan.  Apalah gunanya jika kita para perempuan mengenyam pendidikan tinggi tetapi tidak menggunakannya untuk bekal mendidik anak-anak kita sendiri. 

Kartini Digital menghadapi zaman yang berbeda dengan Raden Ajeng Kartini.  Kemudahan akses belajar di era digital seharusnya digunakan untuk membantu akses belajar perempuan yang lebih terbelakang, dan menularkan semangat belajar kepada anak-anak generasi berikut. 



Sebuah introspeksi bagi diri saya sendiri, sudahkan ilmu yang saya pelajari diamalkan dengan optimal? Sudahkah ilmu itu dikembangkan, dituliskan kembali, dan direkam dalam jejak abadi untuk generasi zaman berikut? Kadang semua berjalan serba asal mengalir. Perilaku abai dan asal seharusnya dipantang.

Kita perempuan mungkin terlalu sering merasa lebih berjasa. Padahal mendidik anak sudah kewajiban utama.  Perempuan juga mungkin terjebak merasa hebat karena bisa berpendidikan sama atau lebih tinggi dari laki-laki.  Padahal mengedukasi diri itu juga sudah menjadi kewajiban insan, tidak dibatasi laki-laki atau perempuan. 

Andai saya bisa lebih dalam merenung, bahwa Kartini tidak menyombongkan diri. Ia memikirkan banyak hal tentang masa depan.  Bergerak dalam perubahan dan menentang ketidakadilan serta zaman yang lalim.  Bahwa kegelisahannya karena gamang antara patuh pada ayah kandungnya atau memperjuangkan cita-cita, terekam jelas dalam suratnya. Semuanya disisip kobar semangat. Apakah dapat semangat Kartini itu kita resapi dan nyalakan  kembali? 

Dengan pendidikan yang lebih tinggi, zaman yang semakin canggih, seharusnya kita para Kartini Digital bisa lebih tertantang untuk mempertahankan keseimbangan membela keadilan, bergerak dalam perubahan, dan menaunginya dengan terang. Minimal, meresapi dan menularkannya pada anak-anak sendiri. Para Kartini Digital, pantang asal-asalan. (Opi)


Bahan Bacaan:

Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, 1985, diterjemahkan dari Door Duisternis Tot Licht oleh Sulastin Sutrisno, Penerbit Djambatan xxii + 406 hlm

Gelap Terang Hidup Kartini, Seri Buku TEMPO: Perempuan Perempuan Perkasa, 2013, ix + 148 hlm, Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta 


Ini adalah petikan surat Kartini yang ke-29 , ditulis 4 September 1901 untuk Nyonya R.M. Abendanon – Mandri , ketika usainya 22 tahun. Yang menggambarkan kegalauan Kartini ketika dihadapkan pada kewajiban patuh pada orang tua sekaligus kewajiban memperjuangkan cita cita pendidikan:  


Aduhai! Kami tidak dapat, tidak mau percaya bahwa hidup kami akan berakhir biasa sekali, sama seperti hari-hari ribuan orang lain sebelum dan sesudah kami.  Sungguhpun demikian, kadang-kadang serasa mustahil hidup kami lain dari pada itu! Ada kalanya keinginan hati kami yang sungguh-sungguh dan paling kami dambakan serasa hampir-hampir terkabul, ada kalanya lagi keinginan itu jauhnya tak terhingga dari kami. 

Ada kalanya saat hati manusia yang dilambung-lambungkan kian kemari dan disiksa, bertanya dalam kebimbangan;” Tuhanku, apakah sebenarnya kewajiban itu?” Menyingkirkan kehendak hati namanya kewajiban dan menurutkan kehendak hati namanya kewajiban pula.  Bagaimana menentukan dua perkara yang sama sekali bertentangan ini, kedua-duanya dinamakan kewajiban dan kedua-duanya benar-benar kewajiban.  

“Diamlah.” Kata suara dalam hati dengan nyaring,”diamlah, lenyapkan hasrat dalam hatimu sendiri terhadap mereka, yang kasih kepadamu dan yang engkau kasihi.  Perjuanganmu seperti itu akan memuliakan peri kemanusiaanmu. Diamlah!”

Lalu terdengar pula suara nyaring dan kuat:”Pergilah, bekerjalah untuk mewujudkan cita-citamu.  Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan ribuan orang yang tertindas oleh hukum yang lalim, dengan faham yang keliru tentang benar dan salah, tentang baik dan jahat.  Pergilah, pergilah, tanggunglah derita dan berjuanglah, tetapi bekerjalah untuk sesuatu yang kekal!

Manakah kewajiban yang lebih mulia di antara keduanya itu, yang pertama atau yang terakhir?

Memikirkan kepentingan diri sendiri selalu saya pandang sebagai kejahatan yang paling jahat dan yang sangat jijik.  Demikian juga halnya dengan rasa tiada terima kasih dan yang sejenisnya.  Cita-cita kami, menjadi satu dengan kehidupan kami.  Kami tidak dapat hidup tanpa cita-cita.  Demikian pula, tanpa cinta kami tidak dapat memperlakukan orang-orang yang kami sayangi. 
…………...……………
…………………………

Terinspirasi dari Kartini, para Kartini Digital bekerjalah untuk sesuatu yang kekal. Bukan untuk kemudharatan. 





Tubuh Fit Ala Youvit dan Asupan Gizi Seimbang


Kamis, April 12, 2018

10 Cara Telaten Kenali dan Obati TB Laten


Bocah lelaki yang belum genap berusia empat tahun itu meringis sedikit ketika dokter menyuntik lengan kanannya. Tidak sampai sepuluh detik kemudian wajahnya kembali biasa. Tidak menangis, apalagi meraung. 

“Anak hebat,” kata Dokter Sri ketika itu, lalu menoleh kepada ibu si bocah sambil tersenyum.

Saya, ibu dari anak itu, tersenyum bangga. Di balik itu, rasa kuatir menelusup. Pagi itu memang saya memutuskan membawa anak sulung ke Dokter Spesialis Anak untuk dilakukan Tes Mantoux (Uji Tuberkulin).  Saya membawanya atas inisiatif sendiri.  Sebabnya?  Sudah hampir setahun berat badannya tak ada peningkatan tanpa sebab yang jelas. Rasa-rasanya kebutuhan makannya terpenuhi dengan baik. Apa yang salah ya? Ini menerbitkan rasa was was dan curiga.

Latar belakang Ilmu Mikrobiologi dan pernah mengajar di Fakultas Kedokteran membuat saya justru kuatir adanya infeksi bakteri TB pada anak. Memang tak ada batuk atau demam berkepanjangan, ataupun kontak yang intens dengan penderita TB aktif.  Tetapi, karena gejala TB pada anak tidak spesifik, saya memutuskan untuk menjawab semua keraguan itu dengan bukti medis. 



Peristiwa itu sudah terjadi hampir tujuh tahun silam, di penghujung tahun 2011.  Bersamaan kondisinya saya sedang mengandung anak kedua di trimester ketiga dan menjalani kuliah Pascasarjana di Universitas Indonesia (UI), Depok. Dengan perut gendut dan jalan tertatih, saya bujuk si sulung ke Dokter. Alhamdulillah ia menurut dan tidak menangis. Saat itu suami sedang bertugas di luar kota dan menyetujui usul saya agar si sulung diuji tuberkulin.

Dokter menandai bekas suntik dengan spidol tahan air.  “Ibu, tolong perhatikan di bekas suntik ini ya sampai dua atau tiga hari ke depan, apakah muncul bengkak (indurasi),” pesan Dokter Sri. Dokter Sri meminta saya mengukur dengan mistar jika ada indurasi dan tetap kembali kontrol di hari ketiga. 

Saya pulang dengan was was tak terhenti.  Kuatir hasil tes itu positif. Tetapi, setelah diamati hingga memasuki hari ketiga, bekas suntikan itu tidak menunjukkan tanda tanda bengkak. Kulitnya tetap datar. Saya kembali ke Dokter Sri dengan senyum lebar.  


Ketika beliau menegaskan tes Mantoux (Uji Tuberkulin) pada anak sulung hasilnya negatif, saya lega. Sekaligus kemudian mengintrospeksi diri mengapa berat badan si kakak tak naik-naik. Usut punya usut ternyata karena anak itu kelewat aktif.

Singkat cerita, kini sulung sudah duduk di kelas 3 SD, alhamdulillah sehat walafiat.  Ia tumbuh cerdas dan kuat. Syukurlah. Adiknya demikian pula. Namun, saya dan suami tetap waspada,  dan berupaya memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti informasi tentang TB maupun edukasi kesehatan keluarga. 

Rasa ingin tahu yang kuat untuk updating perkembangan penyakit TB pula yang mendorong  saya untuk ikut serta pada kegiatan Bloggers Forum bertajuk “Treat Latent TB for TB Free World”  pada hari Sabtu tanggal 7 April 2018 yang lalu. 

Kumpulan Emak Blogger menerima edukasi #KenalidanObatiTBLaten
Bersama para emak Blogger yang tergabung dalam Komunitas Kumpulan Emak-Emak Blogger (KEB), kami menerima edukasi kesehatan yang fokus pada cara-cara mengenali dan mengobati TB Laten pada Anak.  Mengapa fokus pada TB Laten? Sebab, anak dengan TB Laten potensial untuk berlanjut menjadi penderita TB aktif saat dewasa. 

Dari kegiatan ini pula saya mengetahui perkembangan pemeriksaan TB.  Pada tahun 2011 dulu hanya ada tes Mantoux (seperti yang telah dilakukan pada anak sulung saya). Kini, sudah berkembang pemeriksaan darah lengkap IGRA (Interferon Gamma Release Assay), yang biayanya sungguh jauh di atas biaya Tes Mantoux. 

Beruntung sekali dalam kesempatan itu, para Emak Blogger diedukasi langsung oleh ahli Respirologi Anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Wahyuni Indawati SpA(K) dan Dr Arya Wibitomo dari Sanofi Indonesia. 

Selama dua jam setengah, saya dan para Emak Blogger lainnya belajar dalam suasana yang kondusif di Restoran Penang Bistro, Gedung Oakwood Premier Cozmo, Jakarta. Seru ya, belajar di restoran (iya banget). He he he….

Semua ilmu dan informasi dari kegiatan tersebut, saya olah dalam bentuk 10 cara telaten mengenali dan mengobati TB Laten pada anak.  Selain sebagai pengingat bagi diri saya sendiri, juga untuk diambil manfaatnya oleh pembaca. 

Dr Wahyuni Indawati SpA(K) menyampaikan pemaparan
Sepuluh cara ini secara bertahap dan paralel memang butuh ketelatenan kita sebagai orang tua. 
Secara umum, 10 cara untuk #KenalidanObatiTBLaten saya rangkum sebagai berikut: 

1.  Edukasi Diri (Ayah dan Ibu) 
2.  Dimulai dengan Vaksinasi BCG pada bayi 
3.  Terapkan pola hidup sehat dengan pedoman gizi seimbang dan istirahat cukup
4.  Ciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi bakteri Mycobacterium tuberculosis, jaga  
     secara konsisten kebersihan diri dan lingkungan sekitar
5.  Waspada berinteraksi di Area Publik, hindari kontak dengan penderita TB aktif
6.  Konsisten dan telaten amati pertumbuhan anak 
7.  Periksakan anak segera ke Dokter Spesialis Anak apabila menemui gejala TB 
8.  Lakukan investigasi kontak, karena jika anak terinfeksi TB kemungkinan besar tertular 
     dari penderita TB aktif dewasa 
9.  Telaten mendampingi anak dalam menjalani profilaksis hingga tuntas apabila telah 
     ditegakkan diagnosis TB Laten 
10. Bantu anak menjaga kepercayaan diri dan semangatnya untuk berobat sampai sembuh 
      total 


Yuk kita simak satu persatu.

1. Edukasi Diri (Ayah dan Ibu) 

Ini cara yang pertama kali harus dilakukan orang tua. Kita wajib mengedukasi diri dengan mencari informasi kesehatan seakurat mungkin dari sumber terpercaya.  Berilah perhatian khusus pada data dan fakta tentang penyakit TB, agar kita memiliki landasan yang kuat untuk membentuk mindset bahwa penyakit TB Laten pada anak bukan persoalan main-main. 


Ayah dan Ibu pastinya sudah sangat akrab dengan istilah Tuberkulosis. Tuberkulosis (TB) atau yang dahulu sering kita sebut sebagai TBC adalah penyakit menular yang disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.  Bakteri ini berbentuk batang dan memiliki sifat khas tahan terhadap pewarnaan dengan dekolorisasi oleh asam pada Teknik Pewarnaan Ziehl-Nielsen, sehingga disebut sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA). 

Walaupun sudah belasan tahun berlalu, saya masih ingat sediaan mikroskopis BTA yang pernah dipelajari di Laboratorium Mikrobiologi FK YARSI, ketika masih mengajar di sana.  Bentuk-bentuk batang warna merah muda nampak di bawah mikroskop itu adalah Bakteri TB, sementara bakteri lain non TB di sekelilingnya  berwarna biru.   

TB umumnya menyerang paru-paru, namun 20 sampai 30% TB pada anak juga dapat menyerang organ tubuh yang lain seperti kelenjar getah bening, usus, dan tulang. Dr Wahyuni Indawati SpA(K) mengatakan bahwa pada status kekebalan tubuh yang tidak baik (sangat lemah), bakteri TB bisa menyebar ke saluran pencernaan, tulang, ginjal, bahkan otak.  


Meskipun TB menular dan endemik di Indonesia, bukan berarti tidak bisa dicegah. Bisa, tapi butuh kerjasama partnership antara orang tua, keluarga, lingkungan, tenaga kesehatan, farmasi, pihak swasta, dan pemerintah juga. Sebab, memutus mata rantai TB itu tidak semudah menggunting tali. Sebagai orang tua, kita mulai dengan kepedulian, mengedukasi diri, lalu melihat anak-anak kita sendiri terlebih dahulu. 


2. Dimulai dengan Vaksinasi BCG pada bayi 

Apakah anak-anak kita sudah divaksinasi BCG?  Vaksinasi BCG memang tidak membebaskan 100% seseorang dari penyakit TB. Menurut Dr Wahyuni Indawati SpA(K), efektivitas vaksinasi BCG untuk menghindarkan dari penyakit TB adalah 60 sd. 80%.  

Namun, vaksinasi BCG mampu melindungi seseorang dari penyakit TB yang berat. Sebab, vaksin BCG mampu membangkitkan kekebalan spesifik tubuh terhadap bakteri TB ketika masuk ke dalam tubuh.

Lain halnya bila seseorang tidak pernah divaksinasi BCG, kemungkinan terkena infeksi yang berat akan lebih besar. 

3. Terapkan pola hidup sehat dengan pedoman gizi seimbang dan istirahat cukup

Anak-anak merupakan anggota masyarakat yang rentan diserang penyakit, selain ibu hamil dan orang tua.  Sebab, kekebalan tubuh mereka belum terbentuk dengan sempurna.  Namun kekebalan tubuh tidak bekerja sendiri.  

Bayi yang telah diimunisasi BCG seharusnya mendapat kecukupan gizi dari ASI lalu makanan tambahan.  Saat tumbuh menjadi batita hingga balita, anak-anak seharusnya diasuh dalam pola hidup sehat oleh orang tuanya. Makan makanan bergizi, cukup istirahat, dan tinggal di lingkungan yang sehat dalam limpahan kasih sayang. 

MC Miss. Liatna Jaya menghangatkan susana belajar para Emak Blogger
Pola hidup yang sehat akan membantu anak untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya terhadap infeksi bakteri.  Menurut istilah Dr Wahyuni, satpam-satpam penjaganya diperbanyak. Apabila anak secara tidak sengaja terpapar udara yang tercemar bakteri TB dari kontak dengan penderita TB dewasa, dan terhirup, maka anak yang daya tahan tubuhnya lebih kuat akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk tidak tertular. Sebab, satpam-satpam yang banyak dan kuat berhasil mengalahkan semua benda asing merugikan yang akan masuk ke tubuh, termasuk bakteri TB. 

Sangat baik sedini mungkin untuk membiasakan anak belajar menjaga kebersihan.  Sederhananya seperti mencuci tangan dengan benar sebelum makan dan setelah bermain.  Dengan penuh ketelatenan, kita sebagai orang tua wajib mengupayakannya secara konsisten. 

4. Ciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi bakteri Mycobacterium tuberculosis, jaga secara konsisten kebersihan diri dan lingkungan sekitar

Secara umum, penularan penyakit TB terjadi melalui udara. Ketika penderita TB dewasa batuk/bersin/bicara, ia mengeluarkan percik renik yang mengandung bakteri TB.  Bakteri TB yang ada di udara tercemar itu akan mampu bertahan di lingkungan yang kondusif yaitu lingkungan yang lembab, kotor, jorok, kumuh, padat, dan kurang ventilasi. 

Para Emak Blogger bersama Narasumber seusai forum
Di lingkungan seperti rumah yang padat oleh penghuni serta kurang perputaran udara, kemungkinan penularan TB sangat besar.  Begitu pula di berbagai area publik yang banyak kerumunan orang seperti kereta api, bus, tempat rekreasi, pasar/ mall, daycare, penjara, rumah sakit, dan tempat-tempat umum lainnya.  

Sebaliknya, di lingkungan yang kaya cahaya matahari dan bersih, vitalitas bakteri TB akan menurun. Peluang penularan TB di lingkungan ini sangat kecil, walau tetap saja masih ada peluang keterjadian.  Terutama apabila daya tahan tubuh sangat lemah.

Karena itu, penting sekali untuk menciptakan tempat tinggal dan lingkungan sekitar yang sehat dan bersih. Buka jendela lebar-lebar di pagi hari agar cukup perputaran udara dan cahaya matahari.  Jangan meletakkan pakaian atau handuk basah/lembab di dalam kamar, apalagi membiarkannya sepanjang hari. 

Lakukan secara konsisten dan tularkan kebiasaan itu kepada seluruh anggota keluarga. 

5. Waspada berinteraksi di Area Publik, hindari kontak dengan penderita TB Aktif

Area publik yang wajib diwaspadai adalah seluruh area di ranah publik yang kemungkinan dipenuhi oleh orang dari berbagai asal usul dan tempat.  Misalnya asrama, rumah sakit, penjara, daycare, sekolah, pasar, mall, tempat pertunjukan, bus, kereta api, dan semacamnya. 

Sumber:  Pemaparan Dr Wahyuni Indawati SpA(K)
Di area publik seperti disebutkan di atas, kemungkinan percik renik yang mengandung bakteri TB dari batuknya penderita TB aktif terhirup oleh kita akan semakin besar.  Apabila percik renik itu terhirup oleh orang yang sehat akan masuk ke saluran pernafasan hingga ke paru-paru. 

Narasumber menjawab pertanyaan para Emak Blogger
Ketika bakteri TB dari percik renik terhirup, pertahanan tubuh non spesifik kita akan otomatis menolaknya sebagai benda asing. Jika pertahanan tubuh kita cukup kuat, maka tidak akan terinfeksi. Namun jika pertahanan tubuh non spesifik tidak cukup kuat, bakteri TB yang terhirup akan terus menetap di paru-paru serta memunculkan reaksi pertahanan spesifik tubuh kita terhadap kuman TB.  

Apabila kita sudah divaksinasi BCG, kekebalan spesifik kita terhadap bakteri ini akan diuji. Jika kekebalan spesifik kita kalah, maka bakteri TB akan menetap di dalam tubuh kita, dan inilah yang disebut Infeksi TB Laten. 


6. Konsisten dan telaten amati pertumbuhan anak 

Kita wajib telaten dan konsisten mengamati pertumbuhan anak, karena gejala TB pada anak sangat tidak spesifik.  Kadangkala malah mirip dengan gejala penyakit lain, sehingga menyulitkan diagnosa awal yang berdampak pada kesalahan penanganan.  

Sebagai orang tua kita wajib waspada dengan gejala umum TB anak sebagai berikut:

1.  Berat badan turun tanpa sebab yang jelas, atau tidak naik secara signifikan dalam satu bulan
    setelah diberikan upaya perbaikan gizi yang baik
2.  Demam lebih dari 2 pekan dan / atau berulang tanpa sebab yang jelas.  Suhu tubuh demam
    umumnya tidak tinggi (sekitar 38 derajat Celcius)
3.  Batuk lebih dari 3 pekan, tidak pernah reda atau intensitasnya semakin lama semakin parah
4.  Nafsu makan tidak ada atau berkurang
5.  Lesu, sehingga anak nampak kurang aktif bermain
6.  Diare terus menerus lebih dari 2 pekan yang tidak sembuh dengan pengobatan dasar diare




7. Periksakan segera anak ke Dokter Spesialis Anak apabila menemui gejala TB  

Apabila menemui gejala seperti di poin nomor 6, ada baiknya orang tua segera menemui Dokter Spesialis Anak untuk pemeriksaan secara tepat.  Anak-anak yang berkontak intens dengan penderita TB aktif sebaiknya juga diperiksa karena besar kemungkinan terinfeksi bakteri TB walau nampak sehat. Tes Mantoux (Uji Tuberkulin) /IGRA, Rontgen dada, dan kultur dari dahak jika ada batuk merupakan cara yang biasanya dilakukan agar dapat diketahui adanya infeksi TB atau tidak. 

Sumber:  Pemaparan Dr Wahyuni Indawati SpA(K)

Apabila anak ternyata menderita TB Laten, jangan dibiarkan. Sebanyak 5 hingga 10% anak dengan TB Laten memiliki risiko untuk mengidap penyakit TB (TB aktif) jika tidak diketahui sejak dini dan tanpa penanganan yang tepat. Meskipun anak dengan TB Laten tidak menularkan TB kepada orang dewasa atau anak lain, namun untuk masa depannya sebaiknya segera dilakukan profilaksis sampai tuntas.

8. Lakukan investigasi kontak, karena jika anak terinfeksi TB kemungkinan besar tertular dari penderita TB aktif dewasa 

Apapun hasil dari pemeriksaan awal, janganlah membuat ayah dan ibu menjadi gulana.  Jika anak didiagnosis TB Laten ataupun TB Aktif (Sakit TB) maka hal pertama yang harus kita perhatikan adalah pengobatan anak kita dan investigasi kontak.  Investigasi kontak ini semacam penelusuran siapa saja orang dewasa penderita TB Aktif yang berkontak secara intens dengan anak.  

Sumber:  Pemaparan Dr Wahyuni Indawati SpA(K)

Mengapa ini penting? Menurut Dr Wahyuni, Penderita TB aktif itu sendiri memiliki kemungkinan 65 persen menularkan penyakitnya kepada anak atau lingkungan terdekat yang berkontak intens dengannya.  Karena itu, jika dijumpai kasus TB Laten ataupun TB aktif pada anak, patut ditelusuri sumber kontak untuk dapat dilakukan pengobatan juga kepada sumber kontak.  Selain itu, akan membantu untuk memutus mata rantai penularan TB. 

Sumber:  Pemaparan Dr Wahyuni Indawati SpA(K)

9. Telaten mendampingi anak dalam menjalani profilaksis hingga tuntas apabila telah ditegakkan diagnosis TB Laten 

Pengobatan TB pada anak terdiri dari terapi (pengobatan) dan profilaksis (pengobatan pencegahan).  Terapi TB diberikan kepada anak yang sakit TB (TB aktif).  Profilaksis TB diberikan kepada anak yang kontak erat dengan pasien TB menular (profilaksis primer) atau anak yang terinfeksi TB tanpa sakit TB/ anak dengan TB Laten (profilaksis sekunder).

Apabila hasil uji tuberkulin /skin test/Tes Mantoux terhadap anak kita positif, anak dikatakan menderita TB Laten dan wajib menjalani profilaksis. Pemberian profilaksis/ pengobatan  pencegahan pada anak dengan TB Laten akan akan menurunkan risiko sakit TB sebesar 60%.  

Sumber:  Pemaparan Dr Wahyuni Indawati SpA(K)
5 sampai dengan 10% anak yang menderita TB Laten memiliki kemungkinan menderita TB Aktif (sakit TB) di usia dewasanya.  Karena itu, segera obati TB Laten sampai tuntas sesuai petunjuk Dokter, demi masa depan anak. 

Hal penting yang harus diperhatikan orang tua dalam mendampingi pengobatan anak dengan TB Laten maupun TB Aktif adalah ketelatenan dan kesabaran.  Karena pengobatan ini membutuhkan waktu 6 hingga 12 bulan, tergantung dari tingkat infeksi bakteri, orang tua harus sabar dan menularkan kesabaran itu kepada anak.  

Biasanya pengobatan akan memberikan kombinasi 3 sampai 4 jenis obat.  Kunci keberhasilan pengobatan TB adalah kepatuhan dan keteraturan dalam meminum obat.  Orang tua harus telaten sebagai PMO (Pengawas Minum Obat) anak agar pengobatan berjalan sesuai timeline.  Jika tidak tertib, hasil pengobatan tidak akan terlihat.  Pengobatan pun harus diulang dari awal lagi. 

Selain itu, daya tahan tubuh anak selama pengobatan harus disupport dengan suplai makanan bergizi tinggi, supaya pengobatan memberikan hasil yang nyata. 

10. Bantu anak menjaga kepercayaan diri dan semangatnya untuk berobat sampai sembuh total 

Anak dengan TB Laten maupun TB Aktif kemungkinan akan mengalami penurunan kepercayaan diri apabila diekspos sebagai penderita penyakit menular.  Apalagi bila edukasi kepada masyarakat belum dipahami bahwa TB Laten tidak menular.  Yang menularkan adalah Penderita Dewasa TB Aktif infectious dan juga tidak secara serta merta 100% menularkan (kemungkinan menularkan 65%).

Anak dengan penyakit TB tidak selalu menularkan orang sekitarnya, kecuali anak tersebut menderita TB Bakteri Tahan Asam (BTA) positif atau TB tipe dewasa.  Maksudnya adalah TB pada anak namun dengan gambaran menyerupai TB Dewasa dan ditemukan BTA pada pemeriksaan dahaknya. 

Halo, ini Saya :) Salam pembelajar!!
Sebaiknya, anak dengan TB Laten selalu disemangati untuk sembuh.  Begitu pula anak penderita TB Aktif.  Walau pengobatannya berbeda, tetapi keduanya harus ditumbuhkan semangatnya untuk kembali sehat.  Yakinkan kepada anak-anak tersebut bahwa mereka bisa sembuh sampai tuntas apabila berobat dengan tertib.  Yakinkan bahwa kita semua bisa bebas dari TB dan sehat seperti sedia kala. 

Kesepuluh cara tersebut mutlak membutuhkan ketelatenan dan kesabaran orang tua.  Ketelatenan dan kesabaran itu pula modal kita dalam memerangi TB. Anak-anak yang sehat adalah harapan kita untuk masa depan.  Semoga para orang tua selalu diberikan kekuatan untuk menjaga anak-anak tetap sehat hingga dewasa dan mandiri.  

Mari kita selalu waspada dan mawas diri serta saling support untuk memerangi TB secara masiv. Terutama kita berikan perhatian pada Anak dengan TB Laten agar TB dapat diberantas sebelum menjadi parah.  Semangat terus para orang tua dan : Jangan kasih kendor!!! (Opi)






Back to Top