Kamis, April 12, 2018

10 Cara Telaten Kenali dan Obati TB Laten


Bocah lelaki yang belum genap berusia empat tahun itu meringis sedikit ketika dokter menyuntik lengan kanannya. Tidak sampai sepuluh detik kemudian wajahnya kembali biasa. Tidak menangis, apalagi meraung. 

“Anak hebat,” kata Dokter Sri ketika itu, lalu menoleh kepada ibu si bocah sambil tersenyum.

Saya, ibu dari anak itu, tersenyum bangga. Di balik itu, rasa kuatir menelusup. Pagi itu memang saya memutuskan membawa anak sulung ke Dokter Spesialis Anak untuk dilakukan Tes Mantoux (Uji Tuberkulin).  Saya membawanya atas inisiatif sendiri.  Sebabnya?  Sudah hampir setahun berat badannya tak ada peningkatan tanpa sebab yang jelas. Rasa-rasanya kebutuhan makannya terpenuhi dengan baik. Apa yang salah ya? Ini menerbitkan rasa was was dan curiga.

Latar belakang Ilmu Mikrobiologi dan pernah mengajar di Fakultas Kedokteran membuat saya justru kuatir adanya infeksi bakteri TB pada anak. Memang tak ada batuk atau demam berkepanjangan, ataupun kontak yang intens dengan penderita TB aktif.  Tetapi, karena gejala TB pada anak tidak spesifik, saya memutuskan untuk menjawab semua keraguan itu dengan bukti medis. 



Peristiwa itu sudah terjadi hampir tujuh tahun silam, di penghujung tahun 2011.  Bersamaan kondisinya saya sedang mengandung anak kedua di trimester ketiga dan menjalani kuliah Pascasarjana di Universitas Indonesia (UI), Depok. Dengan perut gendut dan jalan tertatih, saya bujuk si sulung ke Dokter. Alhamdulillah ia menurut dan tidak menangis. Saat itu suami sedang bertugas di luar kota dan menyetujui usul saya agar si sulung diuji tuberkulin.

Dokter menandai bekas suntik dengan spidol tahan air.  “Ibu, tolong perhatikan di bekas suntik ini ya sampai dua atau tiga hari ke depan, apakah muncul bengkak (indurasi),” pesan Dokter Sri. Dokter Sri meminta saya mengukur dengan mistar jika ada indurasi dan tetap kembali kontrol di hari ketiga. 

Saya pulang dengan was was tak terhenti.  Kuatir hasil tes itu positif. Tetapi, setelah diamati hingga memasuki hari ketiga, bekas suntikan itu tidak menunjukkan tanda tanda bengkak. Kulitnya tetap datar. Saya kembali ke Dokter Sri dengan senyum lebar.  


Ketika beliau menegaskan tes Mantoux (Uji Tuberkulin) pada anak sulung hasilnya negatif, saya lega. Sekaligus kemudian mengintrospeksi diri mengapa berat badan si kakak tak naik-naik. Usut punya usut ternyata karena anak itu kelewat aktif.

Singkat cerita, kini sulung sudah duduk di kelas 3 SD, alhamdulillah sehat walafiat.  Ia tumbuh cerdas dan kuat. Syukurlah. Adiknya demikian pula. Namun, saya dan suami tetap waspada,  dan berupaya memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti informasi tentang TB maupun edukasi kesehatan keluarga. 

Rasa ingin tahu yang kuat untuk updating perkembangan penyakit TB pula yang mendorong  saya untuk ikut serta pada kegiatan Bloggers Forum bertajuk “Treat Latent TB for TB Free World”  pada hari Sabtu tanggal 7 April 2018 yang lalu. 

Kumpulan Emak Blogger menerima edukasi #KenalidanObatiTBLaten
Bersama para emak Blogger yang tergabung dalam Komunitas Kumpulan Emak-Emak Blogger (KEB), kami menerima edukasi kesehatan yang fokus pada cara-cara mengenali dan mengobati TB Laten pada Anak.  Mengapa fokus pada TB Laten? Sebab, anak dengan TB Laten potensial untuk berlanjut menjadi penderita TB aktif saat dewasa. 

Dari kegiatan ini pula saya mengetahui perkembangan pemeriksaan TB.  Pada tahun 2011 dulu hanya ada tes Mantoux (seperti yang telah dilakukan pada anak sulung saya). Kini, sudah berkembang pemeriksaan darah lengkap IGRA (Interferon Gamma Release Assay), yang biayanya sungguh jauh di atas biaya Tes Mantoux. 

Beruntung sekali dalam kesempatan itu, para Emak Blogger diedukasi langsung oleh ahli Respirologi Anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Wahyuni Indawati SpA(K) dan Dr Arya Wibitomo dari Sanofi Indonesia. 

Selama dua jam setengah, saya dan para Emak Blogger lainnya belajar dalam suasana yang kondusif di Restoran Penang Bistro, Gedung Oakwood Premier Cozmo, Jakarta. Seru ya, belajar di restoran (iya banget). He he he….

Semua ilmu dan informasi dari kegiatan tersebut, saya olah dalam bentuk 10 cara telaten mengenali dan mengobati TB Laten pada anak.  Selain sebagai pengingat bagi diri saya sendiri, juga untuk diambil manfaatnya oleh pembaca. 

Dr Wahyuni Indawati SpA(K) menyampaikan pemaparan
Sepuluh cara ini secara bertahap dan paralel memang butuh ketelatenan kita sebagai orang tua. 
Secara umum, 10 cara untuk #KenalidanObatiTBLaten saya rangkum sebagai berikut: 

1.  Edukasi Diri (Ayah dan Ibu) 
2.  Dimulai dengan Vaksinasi BCG pada bayi 
3.  Terapkan pola hidup sehat dengan pedoman gizi seimbang dan istirahat cukup
4.  Ciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi bakteri Mycobacterium tuberculosis, jaga  
     secara konsisten kebersihan diri dan lingkungan sekitar
5.  Waspada berinteraksi di Area Publik, hindari kontak dengan penderita TB aktif
6.  Konsisten dan telaten amati pertumbuhan anak 
7.  Periksakan anak segera ke Dokter Spesialis Anak apabila menemui gejala TB 
8.  Lakukan investigasi kontak, karena jika anak terinfeksi TB kemungkinan besar tertular 
     dari penderita TB aktif dewasa 
9.  Telaten mendampingi anak dalam menjalani profilaksis hingga tuntas apabila telah 
     ditegakkan diagnosis TB Laten 
10. Bantu anak menjaga kepercayaan diri dan semangatnya untuk berobat sampai sembuh 
      total 


Yuk kita simak satu persatu.

1. Edukasi Diri (Ayah dan Ibu) 

Ini cara yang pertama kali harus dilakukan orang tua. Kita wajib mengedukasi diri dengan mencari informasi kesehatan seakurat mungkin dari sumber terpercaya.  Berilah perhatian khusus pada data dan fakta tentang penyakit TB, agar kita memiliki landasan yang kuat untuk membentuk mindset bahwa penyakit TB Laten pada anak bukan persoalan main-main. 


Ayah dan Ibu pastinya sudah sangat akrab dengan istilah Tuberkulosis. Tuberkulosis (TB) atau yang dahulu sering kita sebut sebagai TBC adalah penyakit menular yang disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.  Bakteri ini berbentuk batang dan memiliki sifat khas tahan terhadap pewarnaan dengan dekolorisasi oleh asam pada Teknik Pewarnaan Ziehl-Nielsen, sehingga disebut sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA). 

Walaupun sudah belasan tahun berlalu, saya masih ingat sediaan mikroskopis BTA yang pernah dipelajari di Laboratorium Mikrobiologi FK YARSI, ketika masih mengajar di sana.  Bentuk-bentuk batang warna merah muda nampak di bawah mikroskop itu adalah Bakteri TB, sementara bakteri lain non TB di sekelilingnya  berwarna biru.   

TB umumnya menyerang paru-paru, namun 20 sampai 30% TB pada anak juga dapat menyerang organ tubuh yang lain seperti kelenjar getah bening, usus, dan tulang. Dr Wahyuni Indawati SpA(K) mengatakan bahwa pada status kekebalan tubuh yang tidak baik (sangat lemah), bakteri TB bisa menyebar ke saluran pencernaan, tulang, ginjal, bahkan otak.  


Meskipun TB menular dan endemik di Indonesia, bukan berarti tidak bisa dicegah. Bisa, tapi butuh kerjasama partnership antara orang tua, keluarga, lingkungan, tenaga kesehatan, farmasi, pihak swasta, dan pemerintah juga. Sebab, memutus mata rantai TB itu tidak semudah menggunting tali. Sebagai orang tua, kita mulai dengan kepedulian, mengedukasi diri, lalu melihat anak-anak kita sendiri terlebih dahulu. 


2. Dimulai dengan Vaksinasi BCG pada bayi 

Apakah anak-anak kita sudah divaksinasi BCG?  Vaksinasi BCG memang tidak membebaskan 100% seseorang dari penyakit TB. Menurut Dr Wahyuni Indawati SpA(K), efektivitas vaksinasi BCG untuk menghindarkan dari penyakit TB adalah 60 sd. 80%.  

Namun, vaksinasi BCG mampu melindungi seseorang dari penyakit TB yang berat. Sebab, vaksin BCG mampu membangkitkan kekebalan spesifik tubuh terhadap bakteri TB ketika masuk ke dalam tubuh.

Lain halnya bila seseorang tidak pernah divaksinasi BCG, kemungkinan terkena infeksi yang berat akan lebih besar. 

3. Terapkan pola hidup sehat dengan pedoman gizi seimbang dan istirahat cukup

Anak-anak merupakan anggota masyarakat yang rentan diserang penyakit, selain ibu hamil dan orang tua.  Sebab, kekebalan tubuh mereka belum terbentuk dengan sempurna.  Namun kekebalan tubuh tidak bekerja sendiri.  

Bayi yang telah diimunisasi BCG seharusnya mendapat kecukupan gizi dari ASI lalu makanan tambahan.  Saat tumbuh menjadi batita hingga balita, anak-anak seharusnya diasuh dalam pola hidup sehat oleh orang tuanya. Makan makanan bergizi, cukup istirahat, dan tinggal di lingkungan yang sehat dalam limpahan kasih sayang. 

MC Miss. Liatna Jaya menghangatkan susana belajar para Emak Blogger
Pola hidup yang sehat akan membantu anak untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya terhadap infeksi bakteri.  Menurut istilah Dr Wahyuni, satpam-satpam penjaganya diperbanyak. Apabila anak secara tidak sengaja terpapar udara yang tercemar bakteri TB dari kontak dengan penderita TB dewasa, dan terhirup, maka anak yang daya tahan tubuhnya lebih kuat akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk tidak tertular. Sebab, satpam-satpam yang banyak dan kuat berhasil mengalahkan semua benda asing merugikan yang akan masuk ke tubuh, termasuk bakteri TB. 

Sangat baik sedini mungkin untuk membiasakan anak belajar menjaga kebersihan.  Sederhananya seperti mencuci tangan dengan benar sebelum makan dan setelah bermain.  Dengan penuh ketelatenan, kita sebagai orang tua wajib mengupayakannya secara konsisten. 

4. Ciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi bakteri Mycobacterium tuberculosis, jaga secara konsisten kebersihan diri dan lingkungan sekitar

Secara umum, penularan penyakit TB terjadi melalui udara. Ketika penderita TB dewasa batuk/bersin/bicara, ia mengeluarkan percik renik yang mengandung bakteri TB.  Bakteri TB yang ada di udara tercemar itu akan mampu bertahan di lingkungan yang kondusif yaitu lingkungan yang lembab, kotor, jorok, kumuh, padat, dan kurang ventilasi. 

Para Emak Blogger bersama Narasumber seusai forum
Di lingkungan seperti rumah yang padat oleh penghuni serta kurang perputaran udara, kemungkinan penularan TB sangat besar.  Begitu pula di berbagai area publik yang banyak kerumunan orang seperti kereta api, bus, tempat rekreasi, pasar/ mall, daycare, penjara, rumah sakit, dan tempat-tempat umum lainnya.  

Sebaliknya, di lingkungan yang kaya cahaya matahari dan bersih, vitalitas bakteri TB akan menurun. Peluang penularan TB di lingkungan ini sangat kecil, walau tetap saja masih ada peluang keterjadian.  Terutama apabila daya tahan tubuh sangat lemah.

Karena itu, penting sekali untuk menciptakan tempat tinggal dan lingkungan sekitar yang sehat dan bersih. Buka jendela lebar-lebar di pagi hari agar cukup perputaran udara dan cahaya matahari.  Jangan meletakkan pakaian atau handuk basah/lembab di dalam kamar, apalagi membiarkannya sepanjang hari. 

Lakukan secara konsisten dan tularkan kebiasaan itu kepada seluruh anggota keluarga. 

5. Waspada berinteraksi di Area Publik, hindari kontak dengan penderita TB Aktif

Area publik yang wajib diwaspadai adalah seluruh area di ranah publik yang kemungkinan dipenuhi oleh orang dari berbagai asal usul dan tempat.  Misalnya asrama, rumah sakit, penjara, daycare, sekolah, pasar, mall, tempat pertunjukan, bus, kereta api, dan semacamnya. 

Sumber:  Pemaparan Dr Wahyuni Indawati SpA(K)
Di area publik seperti disebutkan di atas, kemungkinan percik renik yang mengandung bakteri TB dari batuknya penderita TB aktif terhirup oleh kita akan semakin besar.  Apabila percik renik itu terhirup oleh orang yang sehat akan masuk ke saluran pernafasan hingga ke paru-paru. 

Narasumber menjawab pertanyaan para Emak Blogger
Ketika bakteri TB dari percik renik terhirup, pertahanan tubuh non spesifik kita akan otomatis menolaknya sebagai benda asing. Jika pertahanan tubuh kita cukup kuat, maka tidak akan terinfeksi. Namun jika pertahanan tubuh non spesifik tidak cukup kuat, bakteri TB yang terhirup akan terus menetap di paru-paru serta memunculkan reaksi pertahanan spesifik tubuh kita terhadap kuman TB.  

Apabila kita sudah divaksinasi BCG, kekebalan spesifik kita terhadap bakteri ini akan diuji. Jika kekebalan spesifik kita kalah, maka bakteri TB akan menetap di dalam tubuh kita, dan inilah yang disebut Infeksi TB Laten. 


6. Konsisten dan telaten amati pertumbuhan anak 

Kita wajib telaten dan konsisten mengamati pertumbuhan anak, karena gejala TB pada anak sangat tidak spesifik.  Kadangkala malah mirip dengan gejala penyakit lain, sehingga menyulitkan diagnosa awal yang berdampak pada kesalahan penanganan.  

Sebagai orang tua kita wajib waspada dengan gejala umum TB anak sebagai berikut:

1.  Berat badan turun tanpa sebab yang jelas, atau tidak naik secara signifikan dalam satu bulan
    setelah diberikan upaya perbaikan gizi yang baik
2.  Demam lebih dari 2 pekan dan / atau berulang tanpa sebab yang jelas.  Suhu tubuh demam
    umumnya tidak tinggi (sekitar 38 derajat Celcius)
3.  Batuk lebih dari 3 pekan, tidak pernah reda atau intensitasnya semakin lama semakin parah
4.  Nafsu makan tidak ada atau berkurang
5.  Lesu, sehingga anak nampak kurang aktif bermain
6.  Diare terus menerus lebih dari 2 pekan yang tidak sembuh dengan pengobatan dasar diare




7. Periksakan segera anak ke Dokter Spesialis Anak apabila menemui gejala TB  

Apabila menemui gejala seperti di poin nomor 6, ada baiknya orang tua segera menemui Dokter Spesialis Anak untuk pemeriksaan secara tepat.  Anak-anak yang berkontak intens dengan penderita TB aktif sebaiknya juga diperiksa karena besar kemungkinan terinfeksi bakteri TB walau nampak sehat. Tes Mantoux (Uji Tuberkulin) /IGRA, Rontgen dada, dan kultur dari dahak jika ada batuk merupakan cara yang biasanya dilakukan agar dapat diketahui adanya infeksi TB atau tidak. 

Sumber:  Pemaparan Dr Wahyuni Indawati SpA(K)

Apabila anak ternyata menderita TB Laten, jangan dibiarkan. Sebanyak 5 hingga 10% anak dengan TB Laten memiliki risiko untuk mengidap penyakit TB (TB aktif) jika tidak diketahui sejak dini dan tanpa penanganan yang tepat. Meskipun anak dengan TB Laten tidak menularkan TB kepada orang dewasa atau anak lain, namun untuk masa depannya sebaiknya segera dilakukan profilaksis sampai tuntas.

8. Lakukan investigasi kontak, karena jika anak terinfeksi TB kemungkinan besar tertular dari penderita TB aktif dewasa 

Apapun hasil dari pemeriksaan awal, janganlah membuat ayah dan ibu menjadi gulana.  Jika anak didiagnosis TB Laten ataupun TB Aktif (Sakit TB) maka hal pertama yang harus kita perhatikan adalah pengobatan anak kita dan investigasi kontak.  Investigasi kontak ini semacam penelusuran siapa saja orang dewasa penderita TB Aktif yang berkontak secara intens dengan anak.  

Sumber:  Pemaparan Dr Wahyuni Indawati SpA(K)

Mengapa ini penting? Menurut Dr Wahyuni, Penderita TB aktif itu sendiri memiliki kemungkinan 65 persen menularkan penyakitnya kepada anak atau lingkungan terdekat yang berkontak intens dengannya.  Karena itu, jika dijumpai kasus TB Laten ataupun TB aktif pada anak, patut ditelusuri sumber kontak untuk dapat dilakukan pengobatan juga kepada sumber kontak.  Selain itu, akan membantu untuk memutus mata rantai penularan TB. 

Sumber:  Pemaparan Dr Wahyuni Indawati SpA(K)

9. Telaten mendampingi anak dalam menjalani profilaksis hingga tuntas apabila telah ditegakkan diagnosis TB Laten 

Pengobatan TB pada anak terdiri dari terapi (pengobatan) dan profilaksis (pengobatan pencegahan).  Terapi TB diberikan kepada anak yang sakit TB (TB aktif).  Profilaksis TB diberikan kepada anak yang kontak erat dengan pasien TB menular (profilaksis primer) atau anak yang terinfeksi TB tanpa sakit TB/ anak dengan TB Laten (profilaksis sekunder).

Apabila hasil uji tuberkulin /skin test/Tes Mantoux terhadap anak kita positif, anak dikatakan menderita TB Laten dan wajib menjalani profilaksis. Pemberian profilaksis/ pengobatan  pencegahan pada anak dengan TB Laten akan akan menurunkan risiko sakit TB sebesar 60%.  

Sumber:  Pemaparan Dr Wahyuni Indawati SpA(K)
5 sampai dengan 10% anak yang menderita TB Laten memiliki kemungkinan menderita TB Aktif (sakit TB) di usia dewasanya.  Karena itu, segera obati TB Laten sampai tuntas sesuai petunjuk Dokter, demi masa depan anak. 

Hal penting yang harus diperhatikan orang tua dalam mendampingi pengobatan anak dengan TB Laten maupun TB Aktif adalah ketelatenan dan kesabaran.  Karena pengobatan ini membutuhkan waktu 6 hingga 12 bulan, tergantung dari tingkat infeksi bakteri, orang tua harus sabar dan menularkan kesabaran itu kepada anak.  

Biasanya pengobatan akan memberikan kombinasi 3 sampai 4 jenis obat.  Kunci keberhasilan pengobatan TB adalah kepatuhan dan keteraturan dalam meminum obat.  Orang tua harus telaten sebagai PMO (Pengawas Minum Obat) anak agar pengobatan berjalan sesuai timeline.  Jika tidak tertib, hasil pengobatan tidak akan terlihat.  Pengobatan pun harus diulang dari awal lagi. 

Selain itu, daya tahan tubuh anak selama pengobatan harus disupport dengan suplai makanan bergizi tinggi, supaya pengobatan memberikan hasil yang nyata. 

10. Bantu anak menjaga kepercayaan diri dan semangatnya untuk berobat sampai sembuh total 

Anak dengan TB Laten maupun TB Aktif kemungkinan akan mengalami penurunan kepercayaan diri apabila diekspos sebagai penderita penyakit menular.  Apalagi bila edukasi kepada masyarakat belum dipahami bahwa TB Laten tidak menular.  Yang menularkan adalah Penderita Dewasa TB Aktif infectious dan juga tidak secara serta merta 100% menularkan (kemungkinan menularkan 65%).

Anak dengan penyakit TB tidak selalu menularkan orang sekitarnya, kecuali anak tersebut menderita TB Bakteri Tahan Asam (BTA) positif atau TB tipe dewasa.  Maksudnya adalah TB pada anak namun dengan gambaran menyerupai TB Dewasa dan ditemukan BTA pada pemeriksaan dahaknya. 

Halo, ini Saya :) Salam pembelajar!!
Sebaiknya, anak dengan TB Laten selalu disemangati untuk sembuh.  Begitu pula anak penderita TB Aktif.  Walau pengobatannya berbeda, tetapi keduanya harus ditumbuhkan semangatnya untuk kembali sehat.  Yakinkan kepada anak-anak tersebut bahwa mereka bisa sembuh sampai tuntas apabila berobat dengan tertib.  Yakinkan bahwa kita semua bisa bebas dari TB dan sehat seperti sedia kala. 

Kesepuluh cara tersebut mutlak membutuhkan ketelatenan dan kesabaran orang tua.  Ketelatenan dan kesabaran itu pula modal kita dalam memerangi TB. Anak-anak yang sehat adalah harapan kita untuk masa depan.  Semoga para orang tua selalu diberikan kekuatan untuk menjaga anak-anak tetap sehat hingga dewasa dan mandiri.  

Mari kita selalu waspada dan mawas diri serta saling support untuk memerangi TB secara masiv. Terutama kita berikan perhatian pada Anak dengan TB Laten agar TB dapat diberantas sebelum menjadi parah.  Semangat terus para orang tua dan : Jangan kasih kendor!!! (Opi)






Kamis, April 05, 2018

10 Tips Sederhana Agar Anak Gemar Membaca


Buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak akan pernah selesai, tapi membuat kita tahu: kita hanyalah penafsir tanda-tanda, di mana kebenaran menerakan jejaknya.  Itu sebabnya kata pertama yang menakjubkan adalah :”BACALAH”. – Gunawan Mohamad

Belakangan ini, beberapa rekan kerja dan kawan lama menanyakan hal serupa kepada saya.  Pertanyaan itu adalah, “Mba bagaimana sih caranya supaya anak-anak gemar membaca?  Saya perhatikan anak-anaknya Mba suka sekali membaca. Kasih tips dong.” 

Lalu saya berusaha mengingat-ngingat apa saja yang sudah dan masih saya dan suami lakukan selama ini kepada anak-anak untuk menularkan virus membaca. Terangkumlah dalam tulisan ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi siapapun yang butuh tips sederhana agar anak jadi gemar membaca.  

Membaca di pojok ruangan pun jadilah
Ketika menuliskan ini, saya terinspirasi seorang kawan SMA yang sekarang berprofesi sebagai Psikolog, juga Direktur STIFIN Institut Hidayati Nurrokhmah yang sejak SMA biasa kusapa Hiday. Hiday bilang begini: “ Sampaikan yang Dilakukan dan Lakukan yang Disampaikan.” 

Jadi dalam tulisan ini saya hanya menyampaikan tips yang memang saya dan suami lakukan kepada anak-anak kami.  Sangat terbuka kemungkinan beragam tips lainnya dari pembaca. Perlu keberanian sangat besar buat saya menyampaikan ini dalam tulisan. Karena, akan menjadi tanggung jawab moral bagi saya dan suami untuk memperbaiki dan terus melakukan secara konsisten apa yang sudah dimulai untuk dilakukan. Ngga mudah, tapi ayolah belajar jadi pemberani. (**talk to myself).

Sebenarnya, anak-anak saya tidak terlalu kutu buku banget sih.  Ini kalau dibandingkan dengan saya sewaktu seusia mereka. Ketika duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, saya bisa melahap satu buku seri petualangan Lima Sekawan dalam semalam.  Bukunya pinjam dari teman, karena saya tidak punya uang untuk membeli buku cerita.  Dan, orang tua pun tidak pernah membelikan buku cerita.  Hanya buku pelajaran sekolah.

Kalau sudah asyik membaca, sering lupa waktu 
Di usia 9 tahun juga saya sudah mewakili sekolah untuk Lomba Menulis SD mulai dari level Kelurahan, Kecamatan, Kotamadya hingga Provinsi.  Sungguh kenangan masa kecil yang indah, walaupun semua piagam penghargaannya sudah musnah dibawa banjir. Sekarang, anak sulung saya yang duduk di kelas 3 SD belum sekalipun membaca buku cerita setebal yang saya baca itu dalam semalam. Malah lebih suka baca komik! 

Namun, saya mulai berhenti membandingkan anak-anak saya dengan diri sendiri.  Saya percaya, bahwa yang harus dibangun lebih dulu adalah kecintaan anak pada buku-buku dan bahan bacaan.  Selanjutnya, untuk kapasitas menghabiskan bacaan kesukaan dalam waktu-waktu tertentu kelak akan menemukan momennya sendiri.

Buku Screen Time menjadi salah satu buku favorit keluarga 

Ini dia 10 tips yang sudah dan masih saya lakukan kepada anak-anak agar terkondisikan untuk mencintai buku dan gemar membacanya:
1. Dimulai dari orang tua, saya dan suami harus gemar membaca
2. Biasakan bacakan buku sejak anak dalam kandungan 
3. Sediakan buku sejak anak-anak masih bayi : buku kain dan buku bantal
4. Batasi screen time (siaran televisi, gadget, game, etc)
5. Biarkan anak memilih dan membaca buku yang dia suka 
6. Tebarkan buku di seluruh sudut rumah atau buat perpustakaan di rumah, ciptakan suasana cinta buku 
7. Ajak dan dampingi anak-anak ke perpustakaan dan toko buku 
8. Sediakan budget untuk membeli buku-buku berkualitas
9. Ciptakan moment reading time yang hangat 
10. Ajak dan dampingi anak untuk menceritakan dan menuliskan apa yang telah dibaca 

Nah, mari kita bahas yuk tips nya satu persatu: 

1. Dimulai dari orang tua, saya dan suami harus gemar membaca

Jangan sekalipun berharap anak gemar membaca jika orang tuanya malas menyentuh buku.  Anak-anak adalah peniru yang ulung.  Beragam hal yang mereka lihat dan dengar dengan cepat akan diteladani.  

Jadi, jika kita sebagai orang tua sudah paham betul manfaat dan positifnya kegiatan membaca, maka membacalah.  Pilih-buku-buku kesukaan dan nikmati reading time. Tunjukkan itu di depan anak-anak.  
Ia mulai membaca beragam buku apa saja
yang saya sebar di rumah
Saya pernah menegur anak sulung ketika membaca di kendaraan, “Nanti pusing. Sudah, letakkan dulu bukunya,” kata saya.  Tapi anak saya menjawab, “Ibu juga pernah baca buku di mobil.  Kok aku ga boleh niru?”  

Pesan moralnya, selalu bersiap-siaplah ditiru anak.  Itu mendorong kita sebagai orang tua untuk lebih dulu memberi contoh nyata sebagai teladan bagi anak-anak kita, termasuk untuk hal membaca.

2. Biasakan bacakan buku sejak anak dalam kandungan 

Ini saya lakukan sejak anak yang pertama. Kadang lucu mengingatnya.  Sebelum hamil, saya pernah membaca dari berbagai sumber bahwa sangat baik bagi perkembangan janin diperdengarkan bacaan Al Quran (baik yang dibaca sendiri oleh ibu atau diperdengarkan dari rekaman bacaan orang lain), musik klasik, diajak berbicara, dan dibacakan cerita. 

Buku ibunya pun dibacanya, dan ibu perlu
mendampingi untuk menjawab rasa ingin tahunya 

Lucu, karena membacakan sesuatu dengan mengeluarkan suara bukanlah kebiasaan saya. Tapi, dari sinilah awalnya kemudian saya jadi belajar mendongeng.  Walaupun tidak terlalu pandai menirukan suara-suara tapi saya menikmatinya. 

Saya meyakini, membacakan cerita yang menyenangkan akan menenangkan bayi dan menjadi bagian dari attachment.  Ibu senang tentu bayi senang. 

3. Sediakan buku sejak anak-anak masih bayi : buku kain dan buku bantal

Seperti saya sebutkan di atas, untuk membuat anak gemar membaca, terlebih dulu kita harus mampu membuatnya cinta buku dan bahan bacaan.  Bagaimana anak bisa gemar membaca kalau dia memiliki persepsi bahwa buku adalah sesuatu yang tidak menyenangkan? 

Karena itu, ajak anak cinta buku sejak bayi.  Perkenalkan mereka dengan buku dan bahan bacaan yang menyenangkan.  Dulu, saya membeli beberapa buku berbentuk bantal yang lucu dan buku-buku kain yang memang didisain untuk bayi supaya tidak mudah rusak.


Buku bantal yang saya beli di bazaar kantor
seharga Rp 60.000,- pada tahun 2008 

Tebarkan saja buku kain dan buku bantal itu diantara mainannya.  Biarkan bayi menikmati membuka lembaran kain seperti membuka lembaran buku.  Biarkan mereka perlahan-lahan membentuk perspektif yang positif tentang buku.

Buku kain untuk menumbuhkan cinta buku sejak dini

Seiring dengan bertambahnya usia, perkenalkan mereka dengan bentuk buku yang sesungguhnya.  Buku untuk balita banyak tersedia dari material yang cukup tebal dan tahan robek.  Banyak juga buku anak  penuh gambar berwarna yang menarik.  Teruskan kesukaan mereka pada buku secara perlahan-lahan. 

Buku kain bergambar macam-macam Dinosaurus
yang menarik bagi bayi dan batita

4. Batasi screen time (siaran televisi, gadget, game, etc)

Percayalah, jika Anda memperkenalkan lebih dulu layar digital kepada anak dibandingkan buku dan bahan bacaan, anak akan lebih tertarik pada layar digital!  Lebih sulit mengajak anak cinta buku dibandingkan cinta televisi.  Saya sudah membuktikannya. 

Anak tidak perlu diajari untuk menyukai layar digital, tetapi untuk mencintai buku dan gemar membaca diperlukan effort yang sangat kuat sejak dini dan konsisten dari orang tua. Karena itu, saya sarankan batasi screen time bagi keluarga supaya bisa menciptakan situasi yang kondusif untuk reading time. Matikan televisi dan letakkan gadget pada waktu yang sudah disepakati bersama keluarga.  Ambil buku-buku dan nikmati membaca bersama anak-anak.

Belum bisa membaca tetapi gemar
mengamati gambar-gambar di buku bacaan 

Bagaimana tips sederhana Manajemen Screen Time akan saya tulis di artikel terpisah (**karena ini betul-betul tantangan yang berat!). Semua tips dari saya Insha Allah sederhana, hanya butuh niat dan konsistensi saja dalam melakukannya.  Saya merasakan sendiri kok.  Yang sulit itu konsisten melakukannya!

5. Biarkan anak memilih dan membaca buku yang dia suka 

Mentang-mentang jadi orang tua dan merasa tahu segalanya yang terbaik bagi anak, kita lalu sering menggunakan otoritas untuk memilihkan buku anak. Jika selalu begitu, akan membuat anak terluka.  Anak juga ingin memilih sendiri buku yang disuka. Tugas kita sebagai orang tua memfasilitasinya. Berikanlah kesempatan anak untuk memilih buku kesukaannya.

Beri kesempatan anak memilih buku
yang dia suka, namun tetap beri pengarahan 
Ajak anak-anak kita berdiskusi tentang buku-buku bacaan yang berkualitas.  Beri mereka pandangan.  Tanyakan juga buku apa yang mereka suka.   Anak-anak saya menyukai buku tentang Dinosaurus tanpa pernah saya suruh secara verbal.  

Sejak bayi sudah saya belikan buku kain bergambar tentang Dinosaurus  dan ada belasan buku Dinosaurus hasil terjemahan Ibunya ketika lajang dulu bertebaran di rumah. Dibelikan juga boneka, seprai, dan pernak pernik Dinosaurus. Mungkin karena terbiasa terekspos dengan Dinosaurus, mereka jadi suka. 

Sekedar melihat buku buku yang asing bagi anak, tak mengapa
kelak cakrawala berpikirnya akan terbuka 
Percayalah, apa yang ditanam, itulah yang dituai. 

6. Tebarkan buku di seluruh sudut rumah atau buat perpustakaan di rumah, ciptakan suasana cinta buku 

Membaca itu suatu kegiatan yang tidak bisa disuruh dan dipaksakan, tetapi bisa dibentuk.  Alih-alih menyuruh anak membaca, lebih baik tebarkan saja bahan bacaan di segenap penjuru rumah.  

Saya menerapkan ini bertahun-tahun. Karena kami suami istri bekerja di luar rumah, maka sepulang anak-anak dari sekolah ada jeda waktu hingga bertemu dengan orang tua di sore atau malam hari.  Kami tidak menggunakan siaran televisi. Saya sengaja menebarkan beragam buku bacaan, mainan dan beberapa DVD anak di rumah.  Supaya ketika mereka pulang dari sekolah dan ingin berkegiatan, mereka bisa memilih beragam kegiatan.

Komik dan majalah anak-anak termasuk
yang menyenangkan dibaca kala santai 
Dengan menyediakan beragam buku dan majalah anak-anak, mereka mau tidak mau akan membacanya tanpa disuruh.  Sediakan banyak-banyak. Sebanyak-banyaknya. Seberapa banyak? Kira-kira sejumlah yang tidak mungkin bisa membuat mereka bosan selama berjam-jam membuka-buka buku.  Majalah anak-anak sekarang banyak ragamnya. Komik dan buku cerita juga.  Orang tua memang harus sediakan waktu khusus untuk menyediakan buku-buku dan majalah ini. 

Membuat perpustakaan di rumah tidak harus luas dan mewah. Yang penting buku-bukunya tersedia. Boleh di ruangan khusus, boleh juga ciptakan sudut-sudut peletakan buku di tempat-tempat yang disukai anak.  Terutama di dekat mainannya.  Supaya mereka bisa bermain sekaligus dengan buku, boneka, dan permainan lainnya. 
  
7. Ajak dan dampingi anak-anak ke perpustakaan dan toko buku

Anak-anak usia 3 tahun sudah bisa dibawa ke perpustakaan dan toko buku untuk dilatih literasinya.  Bukan cuma literasi, tapi juga sopan santun dan etika di tempat umum. Mereka bisa mulai diperlihatkan dengan banyaknya buku di perpustakaan dan toko buku, dan dibuka cakrawala wawasannya tentang bahan bacaan yang bisa membawa mereka ke mana saja mereka suka.

Kakak dan adik menikmati membaca buku
di Perpustakaan Kota Depok 

Luangkan waktu untuk mendampingi anak-anak. Dampingi mereka berkhayal dan menerawang lewat batas cakrawala sejauh yang mereka mau dengan menelusuri buku.  

Akan menjadi motivasi yang kuat bagi anak, ketika didampingi orang tua mengarungi sesuatu yang baru termasuk menelusuri buku. 

8. Sediakan budget untuk membeli buku-buku berkualitas

Aturlah keuangan sebijak mungkin, sehingga dapat tersedia dana untuk membeli buku-buku berkualitas bagi anak-anak.  Ada atau tidak ada dana tergantung dari manajemen dan skala prioritas kita.  Mana yang lebih prioritas, membeli buku berkualitas yang harganya lumayan atau membeli pakaian dan aksesoris baru?  Jika terpaksa memilih, saya memilih yang pertama.  Lebih baik pakai baju lama, asal bisa beli buku baru.  Tapi kalau bisa dua-duanya ya tidak apa-apa. 

Sekali-sekali, pengeluaran untuk jajan, dan makan-makan di restoran yang mengeluarkan biaya tinggi dapat dialihkan untuk pengeluaran membeli buku. Sebagai gantinya, kita bisa berbelanja sendiri dengan biaya lebih rendah dan melakukan kegiatan memasak bersama keluarga di rumah.  

9. Ciptakan moment reading time yang hangat 

Moment ini penting.  Anak akan mengingat moment kebersamaan dan attachment dengan orang tuanya sepanjang hidup.  Termasuk ketika kita menyediakan waktu untuk membacakan cerita yang diinginkannya.  

Biasanya, anak punya buku favorit yang akan dibacanya berulang-ulang dan tak pernah bosan.  Kita bisa membacakannya dengan gaya lain yang akan membuatnya semakin suka.  Nanti dia akan termotivasi membacakan untuk adiknya dengan gayanya sendiri. Ini akan menyenangkan, dan akan membuat kita saling menularkan semangat membaca.

10. Ajak dan dampingi anak untuk menceritakan dan menuliskan apa yang telah dibaca 

Untuk mengembangkan kemampuan literasi anak-anak, akan sangat baik jika di usia Sekolah Dasar anak-anak mulai diajak menceritakan dan menuliskan kembali apa yang sudah dibaca.  Saya menerapkan ini kepada anak yang sulung, yang sudah lancar membaca dan menulis. Bukan cuma untuk buku yang dibacanya, saya juga suka menugaskannya menuliskan pengalaman kegiatan dan film yang ditonton ke dalam bentuk tulisan.  

Saya biasanya memberikan panduan untuk pokok pikiran yang ditulis, selanjutnya biarkan ia berkreasi.  Biarkan saja anak-anak berlatih mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan menulis. Skill ini akan terbentuk jika sering dilatih.  Dan menjadi bekal bagi hidupnya kelak.

Komik sangat menarik anak, dan kita bisa pilih komik yang mendidik
agar kecintaan anak terhadap buku muncul secara alami 
Untuk anak-anak yang belum lancar membaca dan menulis, mereka bisa kita latih dan dampingi untuk menceritakan kembali secara lisan tentang cerita yang sudah dibacakan.  Biarkan mereka bercerita dengan bahasanya sendiri.  Beri apresiasi dengan ucapan positif dan kecupan/pelukan.  Boleh juga dengan membelikan buku-buku baru yang lebih seru supaya semakin gemar membaca. 

Sederhana kan tips nya?... Yang tidak sederhana itu adalah menerapkan dengan konsisten.  Sebagai ibu bekerja ranah publik yang banyak bekerja dengan layar digital, saya sering kesulitan dalam manajemen screen time supaya bisa lebih banyak waktu mendampingi anak-anak membaca.  Doakan ya, supaya saya tetap semangat berbenah sedikit demi sedikit secara konsisten. Aamiin.
  
Semoga 10 tips sederhana ini bisa bermanfaat.  Abaikan bila ada yang lebay ya..... Terakhir, ada dua kutipan penulis ternama dan tokoh negara yang ingin saya sampaikan : 

 “Ketika sibuk membaca, seorang terhalang masuk ke dalam kebodohan”  **Dr. Aidh Bin Abdullah Al Qarni ( Penulis buku inspiratif  Laa Tahzan / Jangan Bersedih ) 

“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”  Proklamator Kemerdekaan dan Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia - Mohammad Hatta 

Dari kedua kutipan itu, saya termotivasi untuk menjadi pribadi yang bebas dan anti kebodohan.  Caranya?.... Gemar membaca dan tularkan pada anak-anak kita.  Hayukk...... (Opi) 

Kamis, Februari 22, 2018

Kenali Mitos dan Fakta Untuk Kesehatan Anak



Mitos tentang penyakit pada anak yang dipercaya orang tua secara turun temurun, tanpa disadari bisa menjadi penghalang bagi kesembuhan anak dan tumbuh kembangnya. Naif sekali apabila ini terjadi akibat orang tua enggan belajar untuk membedakan antara mitos dan fakta. 

Kepedulian orang tua untuk terus menggali informasi tentang mitos dan fakta terkini seputar penyakit anak dari sumber yang terpercaya, wajib ditingkatkan. Kenapa? Supaya kita sebagai orang tua bisa memberikan perlakuan pertama yang tepat ketika menemukan gejala sakit pada anak.  

Tidak perlu khawatir,  di era teknologi maju seperti sekarang ini, banyak kemudahan didapat untuk membantu orang tua belajar tepat pada ahlinya. Bahkan, sumber terpercaya sekaligus ahlinya dalam memelihara kesehatan kini mudah diakses di www.halodoc.com dan aplikasi Halodoc.

Suasana talkshow yang interaktif 
Itulah benang merah utama yang dapat saya tarik dari Talkshow Kesehatan bertajuk “Mitos dan Fakta Penyakit pada Anak” yang digelar pada Minggu, 11 Februari 2018 lalu.  Bertempat di Paradigma Cafe Cikini Jakarta, saya berkesempatan mengikuti Halodoc Bloggers Gathering with The Urban Mama tersebut atas undangan dari The Urban Mama. 

Talkshow #katadokterHalodoc ini sekaligus sebagai meet up kami para mama yang tergabung dalam The Urban Mama Bloggers. Saya sangat bersuka cita dapat turut serta pada kegiatan ini karena selain bisa bertemu santai dengan para mama blogger, juga menambah wawasan yang dibutuhkan untuk memantau tumbuh kembang anak. 

Serunya, penyelenggara acara juga memperkenankan mama blogger hadir membawa pasangan dan anak.  Selama mama ikut acara bincang-bincang, anak-anak bisa bermain bersama ayahnya di halaman cafe yang luas dan ditumbuhi rumput hijau. Mama bisa belajar, anak dan ayah pun ikut senang.  

Halaman rumput yang luas di depan Paradigma Cafe, sejuk hijau sepanjang mata memandangnya
Pada acara bincang-bincang yang santai namun padat materi ini, kami para mama blogger beruntung dapat menyimak pemaparan dari Dr. Herlina Sp.A tentang mitos dan fakta seputar penyakit anak yang sering dihadapi. Cha Cha Taib yang dikenal sebagai penulis dan social media influencer juga turut menyampaikan sharing kepada mama blogger tentang bagaimana beliau bertindak ketika anak sakit.

Tidak kalah penting, kehadiran Ms. Felicia Kawilarang selaku VP Marketing Communication Halodoc membuka mata mama blogger tentang aplikasi Halodoc sebagai platform baru yang memudahkan kita dalam memelihara kesehatan.  

Mitos yang Mengubur Fakta

Apa sajakah mitos yang sering kita jadikan pegangan seputar penyakit atau gangguan kesehatan pada anak? Banyak juga ternyata.  Yang paling sering ditemukan adalah ketika anak terlambat jalan, demam, terserang cacar air, tumbuh gigi, gondongan, amandel, mimisan, dan kejang.

Felicia Kawilarang (tengah berbaju merah) berbagi wawasan tentang aplikasi Halodoc kepada para urban mama
Mitos di seputar gangguan kesehatan anak itu membuat para mama mempercayai informasi yang ternyata faktanya adalah sebaliknya. Mitos itu secara turun temurun masih terus dipercaya. Bahkan dijadikan pegangan. Bisa jadi karena kita merasa harus terus mempercayainya seperti orang tua kita sebelumnya juga telah mempercayai selama bertahun-tahun.  Bisa juga karena walaupun mitos itu meragukan, kita tidak bersegera mencari tahu faktanya kepada ahli medis/ dokter. Hanya galau berkepanjangan. 

Oleh sebab itu, jadilah mitos itu tetap dipercaya dan mengubur fakta yang sesungguhnya.   Seringkali mama urban masa kini terserang tsunami informasi, karena keaktifan di media sosial dan komunikasi pergaulan era digital.  Informasi datang dari mana-mana namun sebatas di permukaan saja. Dangkal, kemudian berlalu. Padahal, sebenarnya kita membutuhkan informasi yang lengkap terpercaya dari sumber yang kompeten.  

Apabila membutuhkan informasi seputar penyakit dan kesehatan, sudah seharusnya kita langsung menghubungi ahli kesehatan seperti dokter dan paramedis. Dengan demikian, kita memperoleh informasi relevan yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Penanganan pertama pun jadi tepat.  Penangananan yang keliru sangat besar dampaknya dan malah bisa berbahaya bagi tumbuh kembang anak-anak kita.

Misalnya apabila anak menderita tonsilitis/radang amandel dan harus diangkat amandelnya.  Sebagian dari kita masih percaya mitos bahwa operasi pengangkatan amandel akan mengganggu daya tahan tubuh anak.  Padahal, faktanya apabila pengangkatan itu memang harus dilakukan lalu tidak dilakukan karena percaya mitos, dampaknya akan meningkatkan risiko munculnya kelainan atau penyakit yang lebih berat.

Pernak pernik Halodoc 
Tidak ada salahnya sih berkonsultasi di komunitas atau group yang dibentuk atas kesamaan latar belakang dan kebutuhan.  Namun, sumber terpercaya tetap harus dijadikan referensi utama.
      
Contoh lainnya saat anak terlambat berjalan, para orang tua kita percaya itu disebabkan karena anak-anak mungkin akan terlebih dulu bisa berbicara kemudian barulah mulai bisa berjalan. Inilah mitos.  Faktanya menurut Dr. Herlina Sp.A, apabila sudah sampai masanya anak seharusnya bisa berjalan tetapi anak tersebut belum bisa berjalan, hal itu menandakan ada masalah pada motorik dan keseimbangannya.

Kecenderungan kita untuk percaya pada mitos akan membuat kita tidak mengambil tindakan apa-apa.  Hanya menunggu sampai anak bisa menunjukkan kemampuan berjalan.  

Seharusnya, apabila kita menyadari fakta bahwa ada yang kurang pada motorik dan keseimbangan anak, kita sebagai orang tua harus segera berkonsultasi ke dokter anak.  Anak dapat diperiksa lebih lanjut.  Mungkin, anak memerlukan terapi di klinik tumbuh kembang agar kemampuan motoriknya dapat dipacu lebih lanjut.

Pernak pernik Halodoc
Sangat disayangkan apabila gara-gara mitos, anak jadi terlambat terdeteksi untuk dioptimalkan tumbuh kembangnya. Di sinilah diperlukan kepekaan orang tua untuk mampu membedakan mana yang mitos dan mana fakta sebenarnya.  

Dalam kesempatan talkshow ini, Dr. Herlina Sp.A secara gamblang memaparkan sejumlah mitos dan fakta seputar penyakit anak yang sering membuat gamang para orang tua terutama ibu.  Mama blogger yang hadir dengan serius mendengarkan pemaparan beliau.  Mitos dan fakta tersebut saya rangkum dalam tabel  berikut ini, untuk memudahkan mempelajarinya.  



Tabel Mitos versus Fakta Penyakit pada Anak yang saya rangkum dari pemaparan Dr. Herlina Sp.A 
Saya sendiri yang pernah kuliah di Jurusan Biologi masih sering bingung dengan mitos dan fakta seputar penyakit anak.  Padahal latar belakang ilmu Biologi memberikan dasar ilmu kesehatan dan kedokteran yang relatif cukup memadai.

Masalahnya, saya belum benar-benar peduli dengan mitos dan fakta itu sampai kejadiannya benar-benar menimpa anak-anak saya sendiri.  Nah.  Ini memberikan pelajaran bahwa sebagai calon ibu ataupun ibu kita semestinya sudah bersiap dan membekali diri secara sungguh sungguh dari sumber yang relevan dan kompeten.  Dan tentunya, tidak berhenti belajar sesudahnya.

Saya mulai mempelajari mitos dan fakta mengenai demam setelah anak saya terserang demam.  Sebelumnya, ya belum benar-benar peduli. Hanya membaca informasi lalu lewat begitu saja. Bahkan, saya sempat misuh-misuh karena bingung pada suhu berapa sih sebenarnya anak disebut demam sehingga boleh diberikan obat penurun panas.

Dr. Herlina Sp.A menyampaikan kesimpulan pemaparannya
Ada yang bilang suhu 38 derajat Celcius, ada yang bilang 38,5 derajat Celcius.  Setelah mengkonfirmasi ke Dr. Herlina Sp.A, barulah saya meyakini bahwa memang dalam ilmu kedokteran yang disebut demam adalah suhu 37,5 derajat Celcius atau di atasnya.

“Pada suhu 37,5 derajat Celcius anak sudah merasa tidak nyaman sehingga bisa diberikan obat demam,” ujar Dr Herlina Sp.A.

Saya baru mulai mencari tahu tentang mitos versus fakta mimisan ketika anak sulung terserang mimisan.  Kemudian, baru mulai mencari-cari tahu tentang mitos versus fakta alergi ketika anak bungsu saya terdeteksi mengidap bermacam-macam alergi. Sebelumnya, ya sama sekali tidak membekali diri dengan baik.  Sehingga, awalnya selalu panik.  

Ternyata hal semacam ini bukan saya saja yang mengalami.  Cha Cha Taib pun menceritakan pengalamannya kepada mama blogger saat panik menangani anak yang sakit.  Tidak tahu harus berbuat apa, sehingga kadang justru melakukan tindakan keliru.  Atau, hanya percaya pada mitos saja.  

Rumput hijau dan saya di pekarangan Paradigma Cafe
“Pesan saya, gunakan feeling kita sebagai ibu ketika anak sakit.  Banyak membaca dan menambah wawasan serta peduli pada kondisi unik masing-masing anak. Kita juga harus care dengan obat-obatan dan tata cara penggunaannya,” ujar Cha Cha.  

Khusus untuk masalah alergi, saya mendapatkan masukan yang sangat bermanfaat dari Dr. Herlina Sp.A dan Mba Felicia Kawilarang. Dr. Herlina Sp.A menyampaikan bahwa faktanya alergi sangat spesifik penyebabnya.  Alergi tertentu ada yang umumnya menetap hingga dewasa, namun ada pula yang seiring bertambahnya usia akan berkurang atau hilang dengan sendirinya.  

Felicia menceritakan bahwa dirinya alergi debu sejak kecil, namun semakin dewasa walaupun alerginya menetap tetapi ia dapat survive.  Caranyadengan menjaga kebersihan dan menghindari pencetus alergi sebisa mungkin. “Bersih-bersih rumah lebih sering agar terhindar dari debu dan selalu pakai masker apabila terpapar di udara yang mungkin mengandung banyak pencetus alergi,” ujarnya.  

Disarankan, para penderita alergi menjalani tes alergi untuk mengetahui secara pasti pencetus alerginya. Atau, para orang tua bisa menggunakan metode trial untuk mengetahui anak-anaknya tidak tahan terhadap allergen apa saja.

Pemaparan Dr. Herlina Sp.A tentang mitos pada penyakit cacar air
Dimulai dari makanan, minuman, dan kondisi lingkungan sekitar.  Memang kedengarannya sederhana, tetapi tanpa pengetahuan yang cukup kita bisa jadi akan panik ketika menghadapinya. Apalagi kalau kumat alerginya sampai sesak napas seperti anak bungsu saya.  Kalau sudah panik, tindakan jadi gegabah dan memperparah penyakit. Bukannya sembuh, malah bisa jadi semakin parah. 

Manfaatkan Teknologi bersama Halodoc

Selain bertanya langsung kepada dokter anak tentang fakta-fakta seputar penyakit anak, sekarang ini para orang tua juga bisa memanfaatkan situs dan aplikasi terpercaya sebagai sumber kompeten.  Sejak dua tahun terakhir ini situs www.halodoc.com menyediakan berbagai informasi seputar kesehatan yang dapat dijadikan referensi terpercaya bagi para orang tua.  

Fitur pada situs ini sangat bersahabat untuk diakses.  Informasi yang berisi penjelasan tentang nama penyakit, gejala, penyebab, dan penanganannya disajikan secara sederhana sehingga mudah dipahami khalayak.

Tampilan situs www.halodoc.com yang user friendly
Informasi kesehatan yang akurat, relevan, dan terpercaya juga disajikan Halodoc melalui akun media sosial Instagram (IG) @halodoc, Twitter @HalodocID, dan akun Facebook Halodoc ( @HalodocID ).

Telah diketahui bahwa jumlah dokter per kapita di Indonesia termasuk terendah di dunia.  Inilah alasannya sektor kesehatan di Indonesia perlu tumbuh empat kali lebih besar untuk mencapai level OECD (The Organisation for Economic Cooperation and Development).

Rekomendasi dokter spesialis anak di situs www.halodoc.com
Untuk menghadapi tantangan ini, Halodoc berusaha hadir menawarkan solusi dengan memanfaatkan teknologi.   Halodoc tercipta sebagai platform untuk pasien, dokter, asuransi, apoteker, dan juga diagnosis dalam satu aplikasi mobile.  

Aplikasi Halodoc yang dapat diunduh pada Smartphone Android menyediakan layanan yang pas sekali bagi para orang tua, seolah segala kebutuhan kesehatan ada dalam genggaman.  Sebagai start-up Indonesia, aplikasi kesehatan Halodoc berfungsi layaknya kotak P3K berjalan.  

Aplikasi ini memberikan kemudahan dalam menjaga dan memeriksa kesehatan seluruh anggota keluarga. Halodoc berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan akan layanan kesehatan yang lebih efektif  melalui fitur-fiturnya. Ada tiga fitur utama Halodoc sebagaimana dapat dilihat di infografis berikut ini.

3 Fitur Utama Aplikasi Halodoc
Melalui aplikasi Halodoc ini, kita para pengguna dapat mengkomunikasikan berbagai permasalahan kesehatan pada ribuan dokter ahli dengan berbagai bidang spesialisasi di seluruh Indonesia melalui chat dan video call.  Aplikasi Halodoc menyediakan jasa tim medis mulai dari dokter umum, spesialis anak, internis, spesialis mata dan lainnya secara online 24 jam. 

Layanan Pharmacy Delivery, merupakan fitur layanan apotik antar 24 jam pada aplikasi Halodoc yang bebas biaya pengantaran.  Para ibu dapat memesan obat langsung melalui fitur ini. Solusi layanan praktis untuk pembelian kebutuhan kesehatan juga dapat dilakukan ke 1000 apotek dengan cepat, aman, dan nyaman.  

Lab Home Service pada aplikasi Halodoc merupakan layanan pengecekan kesehatan Halodoc yang bekerjasama dengan Prodia.  Untuk memudahkan masyarakat akan akses laboratorium, fitur ini memungkinkan layanan yang bisa dipanggil ke rumah/kantor.  

Phlebotomist (petugas lab) akan datang ke rumah atau kantor, dan melakukan pengecekan kesehatan seperti cek darah ataupun urine.  Saat ini Lab Home Service dapat dimanfaatkan oleh pengguna di sekitar Jakarta Pusat dan Selatan.


Tampilan situs www.halodoc.com yang menyajikan informasi lengkap tentang penyakit, gejala, penyebab dan penanganannya secara sederhana 
Dengan segala kemudahan yang ditawarkan, aplikasi ini akan sangat membantu para mama urban untuk meraih solusi kesehatan dalam satu genggaman. 

Pada akhirnya, sebagai orang tua kita harus selalu siap untuk menyaring informasi yang relevan.  Jika anak sakit, lebih baik konsultasikan langsung dengan dokter anak untuk mendapatkan penanganan yang tepat daripada bingung dengan mitos-mitos yang ada.

 We are The Urban Mama Blogger
Sumber foto: The Urban Mama
Selebihnya, manfaatkan teknologi yang ada untuk membekali diri dengan wawasan kesehatan dari sumber yang kompeten.  Selamat berjibaku mama-mama urban, tetap semangat selalu memantau perkembangan kesehatan keluarga terutama sang buah hati. (Opi #katadokterHalodoc)





Back to Top