Minggu, Juni 24, 2018

Terpukau Danau Ranau


#LiburanJadiMudah di era digital sekarang ini. Tempat-tempat yang jauh dan indah bukan lagi mimpi untuk dikunjungi! Bahkan oleh saya yang budgetnya pas, hehehehe.  Soal biaya dan waktu itu tergantung kemauan, bisa diatur! Namun yang paling terasa adalah kemudahan akses informasi dan transportasi membuat liburan jaman sekarang jadi serba mudah! 

Tidak percaya?

Saya juga tidak percaya sebelum mengalaminya sendiri. Tapi, pelesir sekeluarga besar ke Danau Ranau berbarengan dengan perjalanan mudik Lebaran tempo hari sudah cukup membuktikan. Mudahnya liburan jaman sekarang, itu bukan cuma khayalan. Kami sangat dimudahkan oleh akses informasi era digital dan infrastruktur transportasi!

Danau Ranau nan memukau yang kami kunjungi berbarengan dengan libur Idul Fitri 1438 H lalu, merupakan danau terbesar kedua di Sumatera setelah Danau Toba.  Danau seluas 125,9 km2 ini terletak di perbatasan Provinsi Sumatera Selatan dengan Provinsi Lampung.  Sebagian perairan danau berada di wilayah  Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (Provinsi Sumatera Selatan) dan sebagian lagi terbentang di Kabupaten Lampung Barat (Provinsi Lampung).

Danau Ranau berlatar Gunung Seminung di perbatasan Sumsel-Lampung
(Foto:Novi Ardiani)
Sebelum berangkat mudik ke Kotabumi (Lampung Utara), kami sekeluarga memang sudah merencanakan untuk sekaligus berwisata alam. Tapi, tak disangka akhirnya jadi ke Danau Ranau. Dan jadi terpukau!

Saya sempat merencanakan untuk menyaksikan keindahan Gunung Krakatau di Selat Sunda. Jadi, mestinya tulisan ini berjudul Terpukau Gunung Krakatau he he he. Sama sekali tidak repot loh untuk merencanakan liburan ke sana. Cukup mengunjungi Vizitrip di situs www.vizitrip.com dan bisa memilih paket wisata alam indah di seluruh Indonesia di situs tersebut. Trip bareng Vizitrip macam-macam jenisnya. Paket tournya lengkap ditawarkan Vizitrip sekaligus rincian biaya dan itinerary-nya.  Untuk #LiburanJadiMudah di Gunung Krakatau bisa dilihat di link ini https://www.vizitrip.com/Tour/Lampung/3D2N-Open-Trip-Gunung-Krakatau-Weekend.

Berbagai wisata unggulan Provinsi Lampung yang diarrange oleh Vizitrip

Namun, urung terlaksana.  Mengunjungi Gunung Krakatau tidak memungkinkan bagi kakek dan nenek yang sudah lanjut usia. Medannya kurang bersahabat. Akhirnya saya berpikir untuk menundanya.  Mungkin di kesempatan lain, trip bareng Vizitrip bisa terwujud. 

Dimudahkan oleh Akses Informasi 


Jadilah akhirnya, kami memutuskan pergi ke Danau Ranau. Nenek (ibu mertua saya) sudah sejak beberapa tahun lalu mengatakan ingin pergi ke sana bersama cucu-cucu. Keindahan Danau Ranau sudah sangat terkenal di kalangan masyarakat Lampung dan Sumatera Selatan.  Saya berpikir, mungkin sekaranglah saat yang tepat.  

Perencanaan untuk pergi ke sana sangat dimudahkan oleh akses informasi tentang Danau Ranau.  Dari kediaman mertua di Kotabumi (Lampung Utara), dapat langsung dicek map untuk menuju ke Danau Ranau.  Jaraknya sekitar 176 km dengan waktu tempuh sekitar 4 jam 39 menit mengendarai mobil.  Wah, perjalanan yang cukup jauh nih, pikir saya.  Sebab, kami sekeluarga akan pergi bersembilan, yaitu saya-suami-dua anak-kakek-nenek- dua adik ipar dan satu orang sepupu. Perlu dipikirkan akan menginap atau tidak.  

Wefie sekeluarga besar sebelum berangkat ke Danau Ranau
(Foto:Erwan Julianto)
Berdasarkan hasil searching dan browsing di berbagai situs internet, saya mendapati informasi bahwa keindahan Danau Ranau dapat dinikmati dari tiga sisi yaitu dari sisi Wisma PT Pusri (Sumatera Selatan), dari sisi Pantai Sinangkalan (Sumatera Selatan), atau dari sisi Desa Lombok (Lampung sebelah Barat). 

Informasi yang tergali juga menunjukkan bahwa pemandangan dari sisi Wisma PT Pusri termasuk yang paling indah dan digemari wisatawan. Sebab, dilatari oleh Gunung Seminung yang menjulang setinggi 1880 mdpl.  Didukung dengan fasilitas penginapan dan dermaga kapal penelusur danau, akhirnya kami memutuskan untuk mengambil sisi ini. Jika ingin menginap, sebetulnya bisa reserve di Wisma PT Pusri dua atau tiga hari sebelumnya. 

Kebetulan salah satu adik ipar sudah pernah mengunjungi Danau Ranau tahun lalu bersama teman-temannya. Tapi kurang beruntung, karena saat itu turun hujan.  Sehingga, belum sempat naik kapal untuk menuju Pulau Mariza dan sumber air panas di tengah danau. 

Pulau mariza di tengah Danau Ranau, berlatar Gunung Seminung
(Foto: Novi Ardiani)
Dengan pertimbangan waktu, kami tidak menginap. Maklumlah, harus segera kembali ke Jakarta karena akan membawa nenek untuk berobat. Kami berangkat pagi-pagi. Tidak lupa membawa bekal secukupnya, dan persiapan jaket untuk anak-anak. Jaga-jaga kalau udaranya dingin. Penuh harap kami berdoa agar cuaca cerah. Syukurlah doa kami terkabul.

Selain menggali informasi dari internet tentang lokasi, jarak, dan waktu tempuh, saya juga mencari informasi tentang apa saja daya tarik Danau Ranau yang sekiranya bisa dinikmati setengah hari. Mudah saja, tinggal ketik Danau Ranau di mesin pencari maka keluarlah semua informasi tentangnya.  Bahkan, saya agak merinding karena juga menemukan informasi tentang legenda yang menyeramkan tentang Danau Ranau.   

Danau Ranau dan Gunung Seminung dilihat dari tepi jalan
(Foto: Novi Ardiani) 
Kesejukan udara, panorama alam danau dari berbagai sudut pandang, sunrise dan sunset di danau, berperahu ke Pulau Mariza dan sumber air panas, berenang di tepi danau yang berpasir putih mirip pantai, adalah beberapa checklist wisata Danau Ranau.  Dari checklist itu, jelas saja sunrise tidak bisa kami nikmati jika tidak menginap.  Sementara berenang, saya masih pikir-pikir.  Lihat situasi lah nanti, namun tetap membawa perlengkapan.  Pasalnya, saya agak deg-degan dengan kisah legenda Danau Ranau yang cukup bikin saya merinding. 

Rasa takut hanya saya simpan dalam hati, begitupun suami. Bermodalkan doa dan mohon perlindungan Allah, kami berangkat dengan niat tulus ingin melihat keindahan Danau Ranau yang fenomenal itu. Berbekal hasil browsing dan searching, kami menyusun itinerary sebagai berikut:

07.30 sd 12.30 Wib perjalanan Kotabumi-Danau Ranau
12.30 sd 13.30 Wib makan siang dan sholat Zuhur 
13.30 sd 16.00 Wib naik kapal keliling danau, ke Pulau Mariza, ke sumber air panas
16.00 sd 18.00 Wib Sholat Ashar, istirahat dan berenang di tepi danau 
18.00 sd 19.00 Wib Sholat Maghrib dan persiapan pulang
19.00 sd 22.00 Wib Perjalanan Danau Ranau-Kotabumi 

Alhamdulillah, penjadwalan yang kami susun tidak terlalu meleset.  Hanya, karena mengendarai kendaraan dengan santai dan beberapa kali berhenti untuk istirahat, kami akhirnya tiba di Kotabumi sekitar pukul 23.00 Wib. 

Dimudahkan oleh Akses Transportasi 


Selain dimudahkan oleh akses informasi, perjalanan kami menuju Danau Ranau sangat dimudahkan juga oleh akses transportasi.  Terutama, infrastruktur jalan dari Kotabumi ke Danau Ranau.  Dari Kotabumi kami menyusuri Jalan Lintas Tengah Sumatera dan lanjut memasuki Jalan Lintas Liwa. Dari sini lah jalan berkelok-kelok dengan pemandangan indah menemani hingga sampai ke Danau Ranau.

Jalan berkelok menuju Danau Ranau
(Foto: Novi Ardiani)
Jalan Lintas Tengah Sumatera dan Jalan Lintas Liwa yang kami lewati seluruhnya dalam kondisi yang mulus dan bagus.  Tidak ada jalan yang rusak atau bergelombang. Jalan berkelok hingga ke Wisma PT Pusri di tepi Danau Ranau dapat dilalui dengan aman dan nyaman.  Walaupun, malam harinya ketika kembali pulang terkesan agak seram karena gelap tanpa lampu penerangan. 

Pemandangan sepanjang jalan di Liwa menuju Ranau
(Foto: Novi Ardiani)

Beruntunglah di sini bukan jalur begal.  Di Liwa terkenal aman.  Kami pun dapat menikmati perjalanan dengan udara yang sejuk dan panorama yang indah.  Memasuki dataran tinggi Liwa, kami disuguhi pemandangan lahan sayur mayur yang asri.  Hamparan pohon wortel, kubis, tomat, dan sayur mayur lainnya menyejukkan mata. 

Pemandangan kebun sayur mayur di Liwa menuju Ranau
(Foto: Novi Ardiani)
Tanah di Liwa memang subur, karenanya cocok tanam di sini maju.  Sebabnya, Liwa masih termasuk daerah vulkanik tektonik yang juga sering dilanda gempa. 

Di Liwa, juga ditemui banyak pohon kopi di tepi jalan.  Liwa terkenal dengan kopi luwak nya yang mantap.  Sepanjang jalan di Liwa juga ditemui rumah panggung yang dihuni penduduk.  Halamannya rata-rata cukup luas, dihampari terpal bertabur biji kopi yang sedang dijemur. Nyaris di setiap rumah terpancang antena parabola.



Pemandangan di sepanjang jalan Liwa. 
Pohon kopi dan hamparan kopi yang sedang dijemur di halaman rumah penduduk
(Foto: Novi Ardiani) 

Walaupun rumahnya nampak sederhana, bisa diduga warga Liwa memiliki penghasilan yang cukup lumayan ketika musim panen kopi tiba. Harga komoditas kopi cukup menawan.

Danau Ranau Magis Nan Memukau


Senangnya akhirnya kami tiba di Danau Ranau setelah menempuh perjalanan hampir 5 jam! Ternyata kawasan wisata sedang cukup ramai.  Untuk masuk ke dalam kawasan wisata PT Pusri kami harus antri cukup panjang. Masuk ke kawasan danau, hanya ditarik uang masuk Rp. 20.000,-. Lelahnya perjalanan masih ditambah dengan parkir yang luar biasa semrawut.  

Sekitar Danau Ranau dari sisi Wisma PT Pusri
(Foto: Novi Ardiani)
Syukurlah kakek dan nenek baik-baik saja.  Namun, melihat medan menuju tepi danau yang cukup jauh dan berkontur, kakek menyerah.  Akhirnya kakek di mobil ditemani oleh salah satu adik ipar.  Kami pun bergantian sholat lalu makan siang, setelahnya mulai bergerak menuju tepi danau.

Danau Ranau menjelang senja
(Foto: Novi Ardiani)
Pertama kali menatap panorama Danau Ranau dari dermaga, langsung lenyaplah segala lelah perjalanan.  Keindahan berpadu kesejukan langsung merasuk dari paduan riak air dan vegetasinya. Seketika, saya merasakan keindahan yang agak berbau magis. Gunung Seminung yang menjulang di latar danau, puncaknya ditutupi awan putih yang berarak perlahan.  Seperti menyimpan beribu misteri.  Air danau yang bening namun pekat menunjukkan betapa dalamnya ke dasar. 

Di dermaga tepian Danau Ranau
(Foto: Erwan Julianto)
Tak heran bila wisata Danau Ranau termasuk salah satu wisata alam andalan di Provinsi Sumatera Selatan. Keindahannya khas. Cocok untuk orang-orang kota semacam saya yang terlalu penat dengan kemacetan dan polusi.  Bisa sejenak merasakan ketenangan, kesejukan, dan menikmati alam yang murni. 

Di atas perahu di dermaga tepian Danau Ranau
(Foto: Erwan Julianto)
Saking luasnya, Danau Ranau tampak seperti lautan.  Tepian danaunya jadi mirip pantai yang berpasir putih. Di tepian danau, anak-anak ramai berenang dan bermain pasir.  

Danau Ranau secara ilmiah terbentuk dari gempa tektonik dan letusan gunung berapi. Gempa berkekuatan besar yang berasal dari letusan vulkanik gunung berapi, lalu membentuk cekungan besar. Sungai besar yang mengalir di kaki gunung berapi kemudian mengisi cekungan itu.  Bekas letusan gunung berapi tersebut lama kelamaan dipenuhi genangan air membentuk danau.  



Bersiap naik perahu dari dermaga menuju Pulau Mariza
(Foto: Novi Ardiani)
Menurut cerita nenek, di sekitar danau penduduk menyebut tumbuhan dan semak yang tumbuh sebagai Ranau. Makanya kemudian disebut Danau Ranau.  Di sana banyak ikan mujair yang menjadi tangkapan utama nelayan.

Di dermaga tepian Danau Ranau berlatar Gunung Seminung
(Foto: Novi Ardiani) 
Kesan magis yang saya rasakan juga dirasakan oleh nenek dan suami saya.  Nenek bercerita, bahwa ada beragam legenda yang diceritakan turun menurun tentang danau ini.  Sebagian orang percaya bahwa kesan magis terasa karena ada makam Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat yang terletak di tepi danau.  Alkisah mereka adalah dua pendekar sakti yang berkelahi dan mati di sekitar Danau Ranau.  Saya sendiri pensaran di mana persis letak makamnya, tetapi mengurungkan niat untuk browsing dan mengunjunginya. Merasakan kesan magis perariran danau apalagi menjelang senja sudah cukup membuat saya merinding. 

Sunset di tepi Danau Ranau
(Foto: Novi Ardiani)
Senja di tepi danau sangatlah indah.  Dengan HP sederhana saya berusaha menangkap momen sunset di tepi danau. Ini gara-gara kamera yang saya bawa ternyata baterainya habis sejak akan digunakan di perjalanan ke  danau.  Aneh juga, malamnya saya cek masih penuh.  Ya sudahlah. Di perjalanan dan danau akhirnya saya memotret dengan HP. 

Sunset di tepi Danau Ranau
(Foto: Novi Ardiani)
Nenek juga sempat berkisah tentang salah satu cerita turun temurun di Danau Ranau.  Bahwasanya pada zaman penjajahan Belanda, ada seorang Meneer Belanda yang sedang bersantai di Danau Ranau.  Ia melihat ada seekor angsa putih yang berenang di tengah danau.  Sang Meneer lalu menembakkan senapannya ke angsa tersebut. Peluru tepat mengenai si angsa, dan suatu hal mengejutkan sekaligus mengerikan terjadi. Angsa yang tertembak itu berubah menjadi seekor ular naga. Sebagian masyarakat percaya relung-relung dan gua di dasar danau adalah tempat bersemayamnya ular naga.  

Menikmati berperahu di perairan Danau Ranau
(Foto: Novi Ardiani)
Berbagai kisah, legenda, dan cerita turun temurun yang saya dengar dari nenek membuat bulu kuduk saya menegak.  Tak henti-hentinya saya dan suami menyebut nama Allah dan berdoa mohon keselamatan. Sungguh sensasi yang luar biasa memandangi Danau Ranau yang memukau sekaligus bernuansa magis! Baik dari tepian maupun ketika berada di perahu menyusurinya.

Bersama nenek di dermaga tepian Danau Ranau
(Foto: Doni Indrawan)


Menuju Pulau Mariza 


Rasa penasaran membawa saya dan keluarga pergi naik perahu (kapal klotok) ke tengah danau untuk mengunjungi Pulau Mariza. Seperti apa sih Pulau Mariza itu, pikir saya. Dari hasil browsing, saya tidak menemukan detail ilustrasi tentang Pulau Mariza. 


Di dermaga mini di tepi Pulau Mariza di tengah Danau Ranau
(Foto:Erwan Julianto)
Di dermaga tersedia jasa penyewaan perahu untuk mengelilingi danau.  Tarif naik perahu ke sumber air panas Rp. 250.000,- pulang pergi ditunggu.  Sedangkan tarif ke Pulau Mariza dan sumber air panas Rp 350.000,- pulang pergi ditunggu.  Satu perahu muat untuk sekitar 15 orang.  Saya lalu menyewa satu perahu untuk kami bertujuh. Kakek dan adik ipar tidak ikut karena medannya terlalu berbahaya untuk kakek.  Sedangkan nenek yang semula tidak mau ikut, jadi tergoda ikut karena melihat cucu-cucunya semangat. 

Di salah satu sisi Pulau Mariza
(Foto: Erwan Julianto)
Perjalanan naik perahu sampai ke Pulau Mariza ditempuh sekitar 30 menit.  Dalam perjalanan mengapung di perairan danau, kami sempat merasakan ombak yang cukup kuat menggoyang perahu. Seperti ada kekuatan dari dalam danau yang mengayun perahu kami. Kedalaman rata-rata Danau Ranau sekitar 174 m dan dasarnya bukanlah dataran yang rata.  Menurut nenek, dasar danau berbentuk palung-palung yang kedalamannya tidak sama.  Kedalaman maksimal berkisar 229 m.  Bisa dibayangkan betapa jauh ke dasar danau.  

Gunung Seminung melatari Danau Ranau
(Foto: Novi Ardiani)

Menikmati berperahu di Danau Ranau
(Foto: Novi Ardiani)
Saat itu, suami saya sempat gusar. Begitu pula saya.  Agak takut terjadi sesuatu.  Syukurlah tak terjadi apa-apa.  Kami tiba di Pulau Mariza dengan selamat.  Pulaunya kecil dan dipenuhi vegetasi nan rapat.  Pohon kelapa yang berbelok batangnya ke kanan dan ke kiri menjadikan pemandangan Pulau Mariza menjadi elok. 

Menjejak Pulau Mariza di tengah Danau Ranau bukan hal yang mudah bagi nenek.  Dermaganya kecil dan tepian pulau berombak kuat.  Hap, kami melompat bergantian dari perahu ke dermaga mini. Nenek hebat, di usianya yang sudah 65 tahun masih lincah melompat dari perahu.  Di Pulau Mariza, saya sempat bercakap-cakap dengan Ratna dan Wati, penjaga kedai mini di sana.  Mereka berjualan minuman dan cemilan untuk pengunjung pulau.  

Di sebuah kedai di Pulau Mariza
(Foto: Erwan Julianto)
Ratna yang asal Sunda dan Wati yang asal Jawa Tengah sempat saya tanya tentang asal-usul Pulau Mariza.  

“Kenapa sih Mba, pulau ini namanya Pulau Mariza?” tanya saya.
“Pulau ini pemiliknya namanya Pak Mariza, Bu.  Beliau tokoh masyarakat sini, namun sudah meninggal,” jawab Ratna.
“Ooo begitu. Mba tinggal di pulau ini?” tanya saya lagi.
“Tidak Bu, kami tinggal di seberang sana. Tapi sering menginap di sini menjaga kedai,” kata Ratna lagi. 
“Wah, trus kalau mau mandi dan buang air di mana?” tanya saya.  Saya tidak melihat ada fasilitas sanitasi di pulau kecil itu. 
“Di mana aja Bu, sudah biasa,” jawab Ratna sambil tersenyum malu.  Wati ikut tersipu. 

Saya dan keluarga tidak berlama-lama di Pulau Mariza.  Setelah membeli sekedar jajanan di kedai Ratna dan Wati, serta berfoto-foto, kami kembali ke perahu untuk melanjutkan wisata. 

Di tepi Pulau Mariza
(Foto: Novi Ardiani)

Menikmati Sumber Air Panas


Dari Pulau Mariza kami melanjutkan  perjalanan ke sumber air panas di tengah danau. Jarak tempuh dengan perahu dari Pulau Mariza ke Sumber Air Panas sekitar 15 menit. Sungguh menakjubkan ya, di tengah danau ada sumber air panas. Secara ilmiah, ini terjadi karena aktivitas vulkanisme di perut bumi. Sumber air panas ini dimanfaatkan para wisatawan untuk sekedar merendam kaki atau bahkan mandi berendam full body. Air panas ini mengandung belerang yang dipercaya dapat menyembuhkan beragam penyakit kulit. 

Bersiap berendam air panas di Sumber Air Panas Danau Ranau
(Foto:Erwan Julianto)
Selalu ada kisah tentang Danau Ranau di tiap sisi.  Untuk sisi air panas, ada kepercayaan magis dari masyarakat setempat. Konon berdasarkan legenda, awalnya sebelum ada danau Ranau lebih dulu ada pohon ara besar yang tumbuh tepat di tengah wilayah terbentuknya Danau Ranau.  Dipercaya saat itu warga kesulitan mendapatkan air.  Mereka lalu mendapat petunjuk untuk menebang pohon ara agar mendapatkan sumber air.  

Mencelup kaki di Sumber Air Panas Danau Ranau
(Foto:Erwan Julianto)
Lalu mereka menebang pohon ara dengan susah payah. Dari bekas tumbangnya pohon ara keluarlah mata air yang sangat besar sehingga terbentuklah  Danau Ranau.  Tetapi diyakini bahwa penghuni (makhluk halus) pohon ara marah karena pohon tersebut ditebang warga.  Kemarahannya diluapkan dengan meludah sehingga menjadi sumbur air panas yang ada di tengah danau. 

Berperahu sekeluarga besar , seru!
(Foto:Erwan Julianto)
Sumber air panas di tengah danau itu sudah dilokalisir dan dibentuk kolam persegi.  Saya tidak mencium bau belerang yang tajam.  Konon kata orang-orang, dulunya bau belerang sangat tajam.  Bahkan sampai menewaskan banyak ikan.  Tapi sekarang sudah tidak lagi sejak dilokalisir dengan kolam persegi. Saya tidak paham persis mengapa demikian.  Yang jelas, saya sendiri tidak kuat berlama-lama berendam kaki di kolam air panas itu.  Sayangnya, tidak membawa thermometer untuk mengukur suhu air. 

Untuk masuk ke sumber air panas, kami dikenai tariff Rp.10.000,- per orang dewasa, sementara anak-anak gratis. Dipersilakan untuk berendam sepuasnya.  Disediakan pula fasilitas bilas dan ganti.  
Setelah puas berendam dan foto-foto, kami naik perahu untuk kembali ke dermaga Wisma PT Pusri.  Sesampainya di dermaga hari telah menjelang senja.  

Di tepian Sumber Air Panas Danau Ranau
(Foto:Erwan Julianto)


Terus Terpukau hingga Pulang 


Petang mengajak saya untuk menyudahi wisata ini.  Suasana senja membuat kesan sendu berbaur indah dan magis di sekitar danau semakin terasa.  Dengan berat hati saya tidak mengizinkan anak-anak untuk berenang di tepi danau.  Adzan magrib telah berkumandang dan hari merambat gelap.
  
Hari sudah benar-benar gelap ketika mobil meluncur pulang melalui jalan berkelok yang sama dengan berangkatnya. Di Liwa, kami menyempatkan membeli oleh-oleh alpukat dan gula merah khas Liwa. Sepanjang jalan pulang, segenap pikiran dan jiwa saya masih terpukau oleh keindahan dan kesan magis Danau Ranau.  

Terlepas dari semua kisah legenda yang beraneka ragam, saya bersyukur sempat menikmati keindahan dan keagungan ciptaan Tuhan.  Terbayang dahsyatnya gempa dan letusan gunung berapi yang membentuk danau itu. Sekaligus terbayang kisah-kisah legenda yang saya dengar dari nenek.  Semuanya memberikan kesan tersendiri pada perjalanan wisata kali ini. 

Yang jelas, liburan ke alam indah yang jauh dari tempat tinggal tak serempong yang saya sangka. Banyak situs internet yang bisa dimanfaatkan untuk akses informasi bahkan menyediakan tour lengkap.  Pemesanan tiket perjalanan juga semakin mudah era kini.  #LiburanJadiMudah bukan khayalan! Yuk, siap-siap merancang liburan lagi. Alam nan indah memukau sudah menanti untuk dikunjungi! (Opi) 

Sampai jumpa di kisah wisata keluarga berikutnya!
**Foto-foto adalah koleksi pribadi penulis
**Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition #LiburanJadiMudah yang diselenggarakan Vizitrip.

Jumat, Juni 22, 2018

Trip Asyik Menarik Naik Kapal Ferry




#AsyiknyaNaikFerry saya rasakan sejak sebelas tahun terakhir, ketika berjodoh dengan pria dari seberang Selat Sunda. Seandainya sejak kecil sudah merasakan, pasti saya bakal merengek pada bapak ibu minta pergi berwisata dengan kapal ferry mengunjungi tempat-tempat indah di seluruh wilayah perairan Indonesia! 

Saya lahir dan besar di Jakarta, namun dalam lingkup budaya dan tradisi Jawa Tengah yang kental dari kedua orang tua. Metropolitan berpagar Jawi, begitulah. Taqdir mengantar saya berjodoh dengan pria kelahiran Baradatu (Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung) yang mengalir darah Suku Ogan (Sumatera Selatan) dalam dirinya. Ibu mertua terlahir di Baturaja, yang merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) di Provinsi Sumatera Selatan. 

Deretan mobil yang diparkir dalam kapal ferry
(Foto: Novi)
Setelah menikah sebelas tahun lalu, menyeberangi Selat Sunda dengan kapal ferry untuk mudik ke rumah mertua di Kotabumi, Lampung Utara menjadi rutinitas setiap Lebaran. Sebelumnya, saya tidak pernah menggunakan jasa ASDP Indonesia Ferry untuk penyeberangan Selat Sunda.  Biasanya, pastilah terbang dengan pesawat udara ketika melaksanakan perjalanan dinas kantor ke berbagai provinsi di Pulau Andalas. 

Suasana gerbang masuk Pelabuhan Bakauheni saat kami akan
melakukan penyeberangan malam hari dengan kapal ferry
(Foto: Novi) 

Berkenalan dengan Kapal Ferry


Saya harus berterima kasih pada suami yang telah memperkenalkan moda transportasi penyebarangan kapal ferry ini.  Awalnya pun hanya memandang sebelah mata! Tetapi akhirnya bisa dirasakan berada di ketinggian di langit biru saat naik pesawat udara dan berada di atas hamparan perairan selat yang juga biru saat naik kapal ferry memang seharusnya diresapi.  Jadi menyadari,  betapa kecilnya manusia. 

Sebagai warga Metropolitan, wisata perairan terdekat dengan tempat tinggal saya adalah Kepulauan Seribu. Meski sudah tersedia jasa penyeberangan wisata dengan kapal ferry ke pulau-pulau Kepulauan Seribu oleh ASDP Indonesia Ferry, saya belum berkesempatan mencobanya. Belasan tahun lalu, ketika masih kuliah di Jurusan Biologi Universitas Indonesia saya sempat melakukan trip kelautan di Pulau Pari dan sekitarnya.  Namun, hanya menggunakan perahu mesin sederhana untuk menyeberang ke pulau bersama teman-teman.

Kapal Ferry dilihat dari dermaga
(Foto: Novi)
Menyeberangi perairan dengan kapal ferry bagi saya asyik dan menarik! Sebab, saya tipe orang yang suka menikmati perjalanan melintasi alam. Maklum, hidup di kota, jarang bisa melihat alam yang indah dan laut yang luas he he he. Terlalu sering bersahabat dengan kemacetan kota. 

Bagi saya, menyeberangi lautan, sungai dan menelusuri perairan memberikan banyak pelajaran tentang hidup. Sekembalinya di darat saya akan mendapat beragam inspirasi yang mempengaruhi sikap hidup saya berikutnya.  Ini dinikmati sejak hanya berdua dengan suami, hingga kini sudah dikarunia dua anak yang mulai besar.  Anak-anak pun tertular, jadi kesenangan naik kapal ferry.  Mereka selalu menunggu momen Idul Fitri karena itu artinya mereka akan mudik naik kapal ferry! 


Menikmati Penyeberangan Selat Sunda dengan Kapal Ferry


Suatu kali dalam benak saya pernah terlintas untuk mengajak anak-anak berwisata perairan di Kepulauan Seribu dengan kapal ferry. Apalagi sekarang jasa penyeberangan dan wisata tersebut sudah disediakan oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).  Informasi pilihan wisatanya lengkap, dapat ditilik di official websitenya yaitu http://www.indonesiaferry.co.id. Sambil melihat-lihat infonya, saya mendorong anak-anak untuk rajin menabung. Tujuannya supaya mereka termotivasi dapat berlibur di perairan indah Indonesia!

Tarif penyeberangan mobil berpenumpang termasuk dalam golongan IV
dengan biaya Rp 374.000,-
(Foto: Novi)
PT ASDP Indonesia Ferry merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bisnis utamanya sesuai dengan namanya yaitu Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan.  Layanan yang disediakan adalah jasa angkutan penyeberangan dan pengelolaan pelabuhan penyeberangan untuk penumpang, kendaraan, maupun barang.  

Sepanjang pengalaman saya dan keluarga naik kapal ferry dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni dan sebaliknya sebelas tahun terakhir, beragam kapal ferry sudah kami tumpangi.  Salah satunya adalah Kapal Motor Penumpang (KMP) Portlink 3 yang dikelola oleh PT ASDP Indonesia Ferry.  Selain itu, kami pernah menaiki KMP Panorama Nusantara yang dikelola PT Jembatan Nusantara Ferry, KMP Virgo 18 yang dikelola PT Jemala Ferry, dan KMP Mustika Kencana yang dikelola PT Dharma Lautan Utama.  

Gerbang Pelabuhan Merak 
(Foto: Novi)
Ketika masih sepasang suami istri hingga memiliki satu anak, kami naik bus Damri dari Gambir ke Pelabuhan Merak, lalu menyeberang dengan kapal ferry ke Pelabuhan Bakauheni.  Barulah kami lanjut dengan perjalanan darat ke Kotabumi. Biasanya kami berangkat malam hari.  Sebab, menyeberang malam lebih nyaman bagi bayi. Dulu, bus Damri yang kami naiki akan masuk ke dalam kapal ferry dan kami semua tetap diam di dalam bus sampai kapal sandar di Pelabuhan Bakauheni.  Tidak naik ke geladak atau anjungan. 

Selat Sunda dilihat dari kapal ferry saat penyeberangan malam hari.
(Foto: Novi)
Begitu pula sebaliknya saat pulang menyeberang malam.  Sebab, menyeberang saat malam tidak bisa melihat apa-apa kecuali gelap.  Seringnya, saya tidak tahu apa nama kapal yang ditumpangi dan sebesar apa kapalnya.  Cuma gelap saja dan tahu-tahu sampai, hehehe. Maklumlah membawa bayi, sibuk menyusui saja dan memangkunya. 

Waktu itu cuma rasanya asyik berada di dalam bus dan busnya berada di dalam kapal yang bergoyang-goyang kena ombak laut. Seperti diayun-ayun! Sebagai orang kota, saya takjub tentunya, melihat besarnya kapal yang bisa dimasuki orang dan kendaraan! Mulai dari sepeda, motor, mobil, bus hingga truk yang di dalamnya ada penumpang dan barang! Pokoknya, awalnya saya norak sekali! Beruntung tidak mabuk karena sibuk takjub!

Namun, beberapa tahun terakhir ini ada kebijakan untuk mematikan mesin kendaraan dalam kapal.  Aturan ini diberlakukan demi keselamatan penumpang. Konsekuensinya, seluruh penumpang bus/mobil harus keluar dari kendaraan.  Justru ini memberi kesempatan bagi penumpang untuk menikmati keindahan perjalanan dengan kapal ferry. 

Beberapa kapal ferry juga memiliki deck atas yang dapat ditempati oleh kendaraan kecil Golongan IV. Sehingga, orang tua atau para disable dapat tetap menikmati keindahan perjalanan penyeberangan selat.

Wefie bersama suami tercinta di geladak kapal ferry
dengan latar kapal ferry lain melintas di perairan Selat Sunda
(Foto: Novi)
Ketika sudah memiliki dua anak, kami mengendarai mobil sendiri ke Pelabuhan Merak, lalu mobil kami akan masuk ke dalam kapal ferry untuk menyeberang. Kami sengaja selalu menyeberang Selat Sunda di hari H Idul Fitri (1 Syawal) setelah sholat Ied.  Selain suasananya lebih lengang terhindar dari sibuknya arus mudik, siang hingga sore hari adalah waktu yang tepat untuk mengajak anak-anak mengeksplorasi perjalanan di kapal ferry.  Mulai dari mengamati kapal ferry yang ditumpangi hingga menikmati pemandangan selat. Birunya laut sudah menunggu dinikmati!


Haluan kapal ferry dengan kibar Sang Merah Putih
(Foto: Novi)
Setelah mobil terparkir dengan aman dalam kapal, barulah kami sekeluarga akan turun dari mobil.  Menaiki tangga kami naik ke geladak dan anjungan kapal menikmati kurang lebih dua jam waktu penyeberangan Selat Sunda.

Naik kapal ferry jadi pilihan kami sekeluarga setiap mudik Lebaran karena biayanya yang lebih bersahabat.  Selain itu, bisa lebih banyak membawa muatan untuk oleh-oleh kerabat di kampung halaman!

Asyik dan Menariknya Naik Kapal Ferry untuk Keluarga


#AsyiknyaNaikFerry bagi saya dan keluarga adalah kami dapat menerapkan beragam pembelajaran secara real kepada anak-anak sejak dini dengan cara yang nyata dalam suasana trip yang menyenangkan.  Sejak usia mereka masih balita, perjalanan dua jam penyeberangan Selat Sunda setahun sekali di dalam kapal ferry selalu menjadi asyik dan menarik.  Ini dia hal-hal asyik dan menarik di kapal ferry yang kami terapkan pada anak-anak: 

1. Wahana eksplorasi 


2. Implementasi Go Green


3. Mengagumi dan mensyukuri ciptaan Tuhan


4. Latihan kemandirian dan keselamatan 


5. Teamwork dan kekompakan 


Yuk, saya ingin berbagi asyik dan menariknya naik ferry dan membahasnya satu persatu ya: 

1. Wahana eksplorasi 


Eksplorasi bagi anak-anak adalah cara paling jitu untuk membuat mereka terpapar pada beragam bentuk pengalaman yang melibatkan panca indera. Eksplorasi berfungsi sebagai stimulus untuk perkembangan sensorik maupun motoriknya.  Efeknya sangat nyata pada perubahan pola pikir dan sikap mereka ke depan, apabila dilakukan secara tepat dan sinambung. 

Naik kapal ferry jadi momen yang asyik dan menarik bagi anak-anak untuk mengeksplorasi banyak hal.  Mulai dari kapal ferry sebagai moda transportasi pada beragam sisi, perairan selat dan geografi, vegetasi dan biota laut, juga kesibukan pelabuhan.  Anak-anak juga dapat mengeksplorasi perilaku dan budaya para penumpang di kapal, hingga interaksi dan berbagi dengan para penumpang lainnya. 

Fasilitas kafetaria di dalam kapal ferry
(Foto: Novi) 
Fasilitas musholla dalam kapal ferry
(Foto:Novi)



Si sulung sering bertanya, bagaimana kapal sebesar ini dibuat, di mana letak mesinnya, siapa yang mengendarai, dan bagaimana caranya kapal bisa berjalan.  Saya pernah mengajaknya duduk di ruang penumpang paling depan, dengan jendela menghadap ke haluan kapal. Pada bagian kapal ini, gulungan buhul tali yang terhubung ke jangkar terletak.  

Ketika kapal akan berangkat, saya meminta si sulung memperhatikan proses pengangkatan jangkar sehingga buhul gulungan tali memutar.  Kapal akan perlahan bergerak.  Si sulung merasakan seiring dengan gulungan buhul tali semakin tebal, kapal semakin laju hingga akhirnya benar-benar bergerak stabil di atas permukaan laut.  

Si sulung eksplorasi di haluan kapal


Sekali waktu si sulung memuaskan rasa ingin tahunya, meminta ditemani berjalan ke haluan.  Diamatinya gulungan buhul tali itu.  Dipegangnya tali yang tebalnya bahkan lebih dari tangannya sendiri! Setidaknya ia bisa merasakan kekuatan tali itu. Sekaligus, membayangkan sebesar apa jangkar yang terhubung dengan tali untuk menahan kapal saat berhenti. 

Sepanjang perjalanan penyeberangan, si sulung antusias untuk menelusuri haluan, geladak, buritan, dan anjungan kapal ferry.  Saya mendampinginya sambil ikut eksplorasi.  Menikmati angin laut menampar wajah dari pinggiran kapal adalah ritual favoritnya. 

Kaka dan adik menikmati angin laut dan riak laut di tepian kapal ferry
 (Foto: Novi)


Sesekali ia mengajak adiknya untuk ikut berdiri di tepi kapal sedekat mungkin dengan air laut.  Awalnya adiknya takut, tetapi lama-lama ikut menikmati.  

Ini sekilas percakapan mereka di tepian kapal ferry: 

“Luas ya dek, lautnya. Lihat deh“, ujar si kakak
“Di dalam lautnya itu ada hiu dan paus ngga?” tanya si adik 
“Hmm, mungkin adanya di laut lepas dek.  Ini kan selat, mungkin banyak ikan-ikan,” kata si kakak
“Tuh ada kapal lewat!” seru si adik “ Padahal kapalnya besar tapi keliatannya jadi kecil kalau di laut ya mas,” kata si adik.
“Iya... laut kan luas.  Liat ke atas dek, langitnya bagus ya... luas dan biru. Ada awan-awan gerak dek!!” timpal si kakak
“Ituuu, bentuk awannya seperti Mickey Mouse!” sorak si adik.

Si kakak memperhatikan awan yang ditunjuk si adik. Wajahnya mengernyit aneh karena menurutnya tidak ada awan yang mirip Mickey Mouse di sana.  Ya, imajinasi anak-anak namanya juga. He he he. 

Sertifikasi keselmatan kapal dipampang di lorong kapal ferry
(Foto: Erwan Julianto) 

Eksplorasi tidak berhenti di situ.  Mereka akan mengajak ayah ibunya ke posisi kapal sedekat mungkin dengan air laut.  Mungkin ingin merasakan sensasinya.  Saya dan suami selalu mengizinkan tetapi tetap waspada mengawasi. 

Suasana di geladak kapal ferry
(Foto: Novi)



Kami membiarkan anak-anak mengeksplorasi bagian kapal mana saja sedapat mungkin yang masih dapat terjangkau dan diizinkan oleh aturan keselamatan kapal.  Pernah mereka diajak di ruang lesehan, bahkan pernah juga kami menyewa ruang VIP.  Tujuannya agar mereka merasakan berbagai situasi.  Dengan terpapar pada beragam kondisi mereka akan belajar untuk pandai menempatkan diri dalam beragam situasi juga. 

Wefie sekeluarga di ruang VIP kapal ferry
(Foto: Erwan Julianto)



Suatu kali kami pernah kembali ke Jakarta dengan penyeberangan malam.  Anak-anak minta naik ke geladak dan berdiri di tepian pagar kapal. Katanya, ingin menikmati bintang-bintang di langit hitam yang menaungi laut yang juga nampak hitam.  Angin yang cukup kencang menerpa wajah dan membuat anak-anak tersenyum sambil menepuk-nepuk pipi.  “Seru ya malam-malam di kapal dek,” kata si kakak yang disambut dengan senyum si adik. “Aku suka bintang di atas laut!” seru si adik.

Suasana penyeberangan malam Selat Sunda dengan kapal ferry
(Foto: Novi)



2. Implementasi Go Green


Salah satu momen trip di atas kapal ferry saya manfaatkan untuk mengimplementasikan falsafah Go Green pada anak-anak.  Awalnya si sulung yang sering protes melihat perilaku penumpang yang hobi buang sampah sembarangan di kapal dan laut. Kesadaran penumpang untuk menjaga kebersihan ruangan kapal dinilainya sangat kurang.  Momen itu saya gunakan untuk menanamkan kepadanya sikap positif.  “Tetap buang sampah di tempatnya, sekalipun orang-orang di sekelilingmu membuang sampah sembarangan,” saya memperingati.  

Peringatan untuk tidak membuang sampah ke laut di kapal ferry
(Foto: Novi)
Si sulung sudah mulai paham, bahwa perilaku positif tidak boleh tergerus oleh pengaruh negatif.  Itulah yang namanya prinsip dan pendirian.  Dia juga menyadari bahwa tidak mudah memberikan pengaruh positif di lautan manusia! 

Implementasi Go Green yang saya terapkan di kapal ferry kepada anak-anak adalah hal sederhana seperti: 
a. membuang sampah di tempatnya
b. tidak membuang sampah ke laut
c. meminimalisir penggunaan wadah/kemasan plastik sekali pakai
d. menggunakan air bersih secukupnya
e. membawa dan membeli makanan secukupnya hingga tidak terbuang
f. menghabiskan makanan bekal sehingga tidak ada yang terbuang mubazir.  

Sambil memandangi permukaan laut yang biru, dengan riak riak indah di atasnya, saya sering berpesan,” Tuh lihat bagusnya laut itu, sayang sekali kan kalau dicemari sampah-sampah plastik.  Nanti jadi tidak indah lagi deh.”  Anak-anak jadi ingat untuk tidak mengotori laut.  Mereka ingin tetap menikmati keindahan laut tanpa cemaran sampah.  Apalagi sampah plastik yang sulit terurai!

Menikmati sore di kapal ferry
(Foto: Novi )


3. Mengagumi dan mensyukuri ciptaan Tuhan


Dua jam perjalanan penyeberangan juga menjadi saat yang asyik bagi kami sekeluarga untuk dapat mengangumi dan mensyukuri alam ciptaan Tuhan.  Laut yang luas membiru dinaungi langit berpayung awan, bagai lukisan tanpa garis batas.  Kebesaran Tuhan terpampang melalui kebesaran ciptaanNya itu. 

Menghadap ke haluan, mengamati arah lajunya kapal ferry
(Foto: Novi) 


Gugusan pulau serta kapal yang lalu lalang di selat berpadu indahnya dengan ombak yang kadang besar juga kadang bersahabat. Angin laut yang menerpa wajah seperti mengusir kantuk dan gundah dengan cara ramah. Bunyi kapal yang membahana di selat, semuanya mencipakan memori tersendiri tentang sebuah  perjalanan.

Menghadap ke haluan, mengamati arah lajunya kapal ferry
yang makin mendekati daratan
(Foto: Novi) 

Karena sudah terbiasa sejak bayi, anak-anak tidak mabuk laut atau pusing saat naik kapal ferry.  Mereka sudah bisa menikmati perjalanan. Sebagai orang tua, kami sudah bisa memasukkan nilai-nilai pembelajaran. Termasuk bersyukur atas nikmat panca indera yang sehat sehingga bisa melakukan perjalanan dan menikmati keindahan pemandangan laut dari kapal ferry. Menikmati keasyikan ini membuat anak-anak termotivasi untuk menjaga kesehatan supaya bisa naik kapal ferry lagi berikutnya. 

4. Latihan kemandirian dan keselamatan 


Di kapal ferry, belajar mandiri dan memperhatikan keselamatan bisa diterapkan dengan asyik.  Sebab, suasananya menyenangkan sembari berada di atas kapal yang bergerak di tengah perairan dengan pemandangan indah. Beda sekali seandainya wejangan kemandirian dan keselamatan diberikan di dalam kelas!  

Anak-anak saya ajarkan waspada dan memperhatikan keselamatan.  Misalnya berjalan dengan hati-hati di tangga dan geladak, memperhatikan barang bawaan, dan saling menjaga antar sesama anggota keluarga.  

Berhati-hati menuruni tangga kapal
(Foto: Novi) 


Kakak adik yang biasanya suka bertengkar di rumah, di kapal ferry jadi rukun dan saling menjaga.  Sebab ibunya bilang, “ Kita ada di atas kapal nih, satu keluarga harus saling jaga, karena kita ingin selamat bersama kan sampai di seberang?”  Jadilah si kakak akan melarang adiknya jika ingin jalan sendiri ke tempat yang berbahaya.  Kakak jadi lebih mandiri, adik jadi lebih terlindungi.  Kami orang tuanya pun jadi senang.  

Si bungsu berpose bersama ayah di geladak
(Foto: Novi)

Mengamati air laut dari kapal yang bergerak
(Foto: Novi)

Berjalan mengelilingi kapal ferry
(Foto: Novi)


Saya sering mengingatkan kepada anak-anak, jika terjadi sesuatu maka selamatkan diri sendiri terlebih dulu, baru menyelamatkan yang lain.  Sebab, untuk membantu menyelamatkan orang lain kita butuh memastikan bahwa diri kita juga sudah aman. Tidak lupa saya mengingatkan anak-anak untuk berdoa dan mengingat nama Allah di perjalanan agar terlindungi dari bahaya. 

5. Teamwork dan kekompakan 


Trip keluarga adalah salah satu wahana untuk melatih kerja tim dan kekompakan keluarga.  Saya dan suami menanamkan kepada anak-anak bahwa satu keluarga adalah satu tim yang harus selalu bahu membahu untuk kepentingan bersama.  Di kapal ferry, ini jadi terlatih secara mengasyikkan.  

Suami saya biasanya yang akan memimpin untuk mengarahkan jalan ketika turun dari mobil menuju bagian atas kapal lalu mencari tempat duduk yang nyaman.  Saya akan menuntun si bungsu, dan si sulung membantu membawa barang bawaan atau bekal makanan. 

Wefie sekeluarga di geladak kapal ferry saat siang terik
(Foto: Erwan Julianto) 

Saat melewati tangga kapal yang curam atau samping mesin yang panas, kami harus kompak.  Begitu pula agar tidak terpisah di kapal, kami harus saling menjaga jarak tetap dekat.  Saat mereka masih balita, ini cukup sulit.   Namun tahun-tahun belakangan sejak si sulung masuk bangku Sekolah Dasar, ia semakin terlatih dan bisa diandalkan. 

Apabila kompak, trip akan jadi nyaman dan menyenangkan.  Si sulung menyadari sekali akan hal itu.  Makanya, agar keasyikannya menikmati penyeberangan tak terganggu, ia bersedia bekerjasama dengan ayah ibu dan adiknya untuk tetap kompak.  Ia mau berkoordinasi mengatur sesi eksplorasi kapal dan tidak berjalan sendiri ke bagian yang kurang aman.    

Senyum sumringah
di geladak kapal ferry pada penyeberangan Selat Sunda
(Foto: Erwan Julianto)
#AsyiknyaNaikFerry memang memberikan pengalaman tersendiri bagi keluarga kami.   Kapal ferry jadi saksi senyum sekeluarga setiap mudik Lebaran! Seusai perjalanan, kami merasa semakin kompak sebagai sebuah tim.  Pun terinspirasi dan termotivasi untuk menabung agar bisa menyambangi perairan yang lebih jauh dan indah di Indonesia dengan ASDP Indonesia Ferry! Agar kami sekeluarga bisa eksplorasi dan lebih banyak belajar tentang hidup dan kehidupan. 

Jadi, banyak untungnya lho mengajak anak-anak dan keluarga naik kapal ferry untuk eksplorasi dan pembelajaran. Asalkan memilih waktu perjalanan yang tepat, naik kapal ferry bisa jadi alternatif pembelajaran positif yang asyik dan menarik untuk anak-anak dan keluarga. Semoga saja peningkatan fasilitas penyeberangan terutama fasilitas kebersihan, kenyamanan, dan keselamatan penumpang semakin mendapat perhatian pengelola sehingga kita semua bisa lebih menikmati #AsyiknyaNaik Ferry!  Yuk naik ferry! (Opi) 

Teman-teman, yuk naik ferry ......
(Foto; Novi) 

**Foto-foto dalam tulisan ini adalah koleksi pribadi penulis selama melakukan perjalanan sekeluarga dengan kapal ferry tahun 2007 sd 2018 

** Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition #AsyiknyaNaikFerry yang diselenggarakan ASDP Indonesia Ferry

Back to Top