Jumat, Juni 22, 2018

Trip Asyik Menarik Naik Kapal Ferry




#AsyiknyaNaikFerry saya rasakan sejak sebelas tahun terakhir, ketika berjodoh dengan pria dari seberang Selat Sunda. Seandainya sejak kecil sudah merasakan, pasti saya bakal merengek pada bapak ibu minta pergi berwisata dengan kapal ferry mengunjungi tempat-tempat indah di seluruh wilayah perairan Indonesia! 

Saya lahir dan besar di Jakarta, namun dalam lingkup budaya dan tradisi Jawa Tengah yang kental dari kedua orang tua. Metropolitan berpagar Jawi, begitulah. Taqdir mengantar saya berjodoh dengan pria kelahiran Baradatu (Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung) yang mengalir darah Suku Ogan (Sumatera Selatan) dalam dirinya. Ibu mertua terlahir di Baturaja, yang merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) di Provinsi Sumatera Selatan. 

Deretan mobil yang diparkir dalam kapal ferry
(Foto: Novi)
Setelah menikah sebelas tahun lalu, menyeberangi Selat Sunda dengan kapal ferry untuk mudik ke rumah mertua di Kotabumi, Lampung Utara menjadi rutinitas setiap Lebaran. Sebelumnya, saya tidak pernah menggunakan jasa ASDP Indonesia Ferry untuk penyeberangan Selat Sunda.  Biasanya, pastilah terbang dengan pesawat udara ketika melaksanakan perjalanan dinas kantor ke berbagai provinsi di Pulau Andalas. 

Suasana gerbang masuk Pelabuhan Bakauheni saat kami akan
melakukan penyeberangan malam hari dengan kapal ferry
(Foto: Novi) 

Berkenalan dengan Kapal Ferry


Saya harus berterima kasih pada suami yang telah memperkenalkan moda transportasi penyebarangan kapal ferry ini.  Awalnya pun hanya memandang sebelah mata! Tetapi akhirnya bisa dirasakan berada di ketinggian di langit biru saat naik pesawat udara dan berada di atas hamparan perairan selat yang juga biru saat naik kapal ferry memang seharusnya diresapi.  Jadi menyadari,  betapa kecilnya manusia. 

Sebagai warga Metropolitan, wisata perairan terdekat dengan tempat tinggal saya adalah Kepulauan Seribu. Meski sudah tersedia jasa penyeberangan wisata dengan kapal ferry ke pulau-pulau Kepulauan Seribu oleh ASDP Indonesia Ferry, saya belum berkesempatan mencobanya. Belasan tahun lalu, ketika masih kuliah di Jurusan Biologi Universitas Indonesia saya sempat melakukan trip kelautan di Pulau Pari dan sekitarnya.  Namun, hanya menggunakan perahu mesin sederhana untuk menyeberang ke pulau bersama teman-teman.

Kapal Ferry dilihat dari dermaga
(Foto: Novi)
Menyeberangi perairan dengan kapal ferry bagi saya asyik dan menarik! Sebab, saya tipe orang yang suka menikmati perjalanan melintasi alam. Maklum, hidup di kota, jarang bisa melihat alam yang indah dan laut yang luas he he he. Terlalu sering bersahabat dengan kemacetan kota. 

Bagi saya, menyeberangi lautan, sungai dan menelusuri perairan memberikan banyak pelajaran tentang hidup. Sekembalinya di darat saya akan mendapat beragam inspirasi yang mempengaruhi sikap hidup saya berikutnya.  Ini dinikmati sejak hanya berdua dengan suami, hingga kini sudah dikarunia dua anak yang mulai besar.  Anak-anak pun tertular, jadi kesenangan naik kapal ferry.  Mereka selalu menunggu momen Idul Fitri karena itu artinya mereka akan mudik naik kapal ferry! 


Menikmati Penyeberangan Selat Sunda dengan Kapal Ferry


Suatu kali dalam benak saya pernah terlintas untuk mengajak anak-anak berwisata perairan di Kepulauan Seribu dengan kapal ferry. Apalagi sekarang jasa penyeberangan dan wisata tersebut sudah disediakan oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).  Informasi pilihan wisatanya lengkap, dapat ditilik di official websitenya yaitu http://www.indonesiaferry.co.id. Sambil melihat-lihat infonya, saya mendorong anak-anak untuk rajin menabung. Tujuannya supaya mereka termotivasi dapat berlibur di perairan indah Indonesia!

Tarif penyeberangan mobil berpenumpang termasuk dalam golongan IV
dengan biaya Rp 374.000,-
(Foto: Novi)
PT ASDP Indonesia Ferry merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bisnis utamanya sesuai dengan namanya yaitu Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan.  Layanan yang disediakan adalah jasa angkutan penyeberangan dan pengelolaan pelabuhan penyeberangan untuk penumpang, kendaraan, maupun barang.  

Sepanjang pengalaman saya dan keluarga naik kapal ferry dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni dan sebaliknya sebelas tahun terakhir, beragam kapal ferry sudah kami tumpangi.  Salah satunya adalah Kapal Motor Penumpang (KMP) Portlink 3 yang dikelola oleh PT ASDP Indonesia Ferry.  Selain itu, kami pernah menaiki KMP Panorama Nusantara yang dikelola PT Jembatan Nusantara Ferry, KMP Virgo 18 yang dikelola PT Jemala Ferry, dan KMP Mustika Kencana yang dikelola PT Dharma Lautan Utama.  

Gerbang Pelabuhan Merak 
(Foto: Novi)
Ketika masih sepasang suami istri hingga memiliki satu anak, kami naik bus Damri dari Gambir ke Pelabuhan Merak, lalu menyeberang dengan kapal ferry ke Pelabuhan Bakauheni.  Barulah kami lanjut dengan perjalanan darat ke Kotabumi. Biasanya kami berangkat malam hari.  Sebab, menyeberang malam lebih nyaman bagi bayi. Dulu, bus Damri yang kami naiki akan masuk ke dalam kapal ferry dan kami semua tetap diam di dalam bus sampai kapal sandar di Pelabuhan Bakauheni.  Tidak naik ke geladak atau anjungan. 

Selat Sunda dilihat dari kapal ferry saat penyeberangan malam hari.
(Foto: Novi)
Begitu pula sebaliknya saat pulang menyeberang malam.  Sebab, menyeberang saat malam tidak bisa melihat apa-apa kecuali gelap.  Seringnya, saya tidak tahu apa nama kapal yang ditumpangi dan sebesar apa kapalnya.  Cuma gelap saja dan tahu-tahu sampai, hehehe. Maklumlah membawa bayi, sibuk menyusui saja dan memangkunya. 

Waktu itu cuma rasanya asyik berada di dalam bus dan busnya berada di dalam kapal yang bergoyang-goyang kena ombak laut. Seperti diayun-ayun! Sebagai orang kota, saya takjub tentunya, melihat besarnya kapal yang bisa dimasuki orang dan kendaraan! Mulai dari sepeda, motor, mobil, bus hingga truk yang di dalamnya ada penumpang dan barang! Pokoknya, awalnya saya norak sekali! Beruntung tidak mabuk karena sibuk takjub!

Wefie bersama suami tercinta di geladak kapal ferry
dengan latar kapal ferry lain melintas di perairan Selat Sunda
(Foto: Novi)
Ketika sudah memiliki dua anak, kami mengendarai mobil sendiri ke Pelabuhan Merak, lalu mobil kami akan masuk ke dalam kapal ferry untuk menyeberang. Kami sengaja selalu menyeberang Selat Sunda di hari H Idul Fitri (1 Syawal) setelah sholat Ied.  Selain suasananya lebih lengang terhindar dari sibuknya arus mudik, siang hingga sore hari adalah waktu yang tepat untuk mengajak anak-anak mengeksplorasi perjalanan di kapal ferry.  Mulai dari mengamati kapal ferry yang ditumpangi hingga menikmati pemandangan selat. Birunya laut sudah menunggu dinikmati!


Haluan kapal ferry dengan kibar Sang Merah Putih
(Foto: Novi)
Setelah mobil terparkir dengan aman dalam kapal, barulah kami sekeluarga akan turun dari mobil.  Menaiki tangga kami naik ke geladak dan anjungan kapal menikmati kurang lebih dua jam waktu penyeberangan Selat Sunda.

Naik kapal ferry jadi pilihan kami sekeluarga setiap mudik Lebaran karena biayanya yang lebih bersahabat.  Selain itu, bisa lebih banyak membawa muatan untuk oleh-oleh kerabat di kampung halaman!

Asyik dan Menariknya Naik Kapal Ferry untuk Keluarga


#AsyiknyaNaikFerry bagi saya dan keluarga adalah kami dapat menerapkan beragam pembelajaran secara real kepada anak-anak sejak dini dengan cara yang nyata dalam suasana trip yang menyenangkan.  Sejak usia mereka masih balita, perjalanan dua jam penyeberangan Selat Sunda setahun sekali di dalam kapal ferry selalu menjadi asyik dan menarik.  Ini dia hal-hal asyik dan menarik di kapal ferry yang kami terapkan pada anak-anak: 

1. Wahana eksplorasi 


2. Implementasi Go Green


3. Mengagumi dan mensyukuri ciptaan Tuhan


4. Latihan kemandirian dan keselamatan 


5. Teamwork dan kekompakan 


Yuk, saya ingin berbagi asyik dan menariknya naik ferry dan membahasnya satu persatu ya: 

1. Wahana eksplorasi 


Eksplorasi bagi anak-anak adalah cara paling jitu untuk membuat mereka terpapar pada beragam bentuk pengalaman yang melibatkan panca indera. Eksplorasi berfungsi sebagai stimulus untuk perkembangan sensorik maupun motoriknya.  Efeknya sangat nyata pada perubahan pola pikir dan sikap mereka ke depan, apabila dilakukan secara tepat dan sinambung. 

Naik kapal ferry jadi momen yang asyik dan menarik bagi anak-anak untuk mengeksplorasi banyak hal.  Mulai dari kapal ferry sebagai moda transportasi pada beragam sisi, perairan selat dan geografi, vegetasi dan biota laut, juga kesibukan pelabuhan.  Anak-anak juga dapat mengeksplorasi perilaku dan budaya para penumpang di kapal, hingga interaksi dan berbagi dengan para penumpang lainnya. 

Fasilitas kafetaria di dalam kapal ferry
(Foto: Novi) 
Fasilitas musholla dalam kapal ferry
(Foto:Novi)



Si sulung sering bertanya, bagaimana kapal sebesar ini dibuat, di mana letak mesinnya, siapa yang mengendarai, dan bagaimana caranya kapal bisa berjalan.  Saya pernah mengajaknya duduk di ruang penumpang paling depan, dengan jendela menghadap ke haluan kapal. Pada bagian kapal ini, gulungan buhul tali yang terhubung ke jangkar terletak.  

Ketika kapal akan berangkat, saya meminta si sulung memperhatikan proses pengangkatan jangkar sehingga buhul gulungan tali memutar.  Kapal akan perlahan bergerak.  Si sulung merasakan seiring dengan gulungan buhul tali semakin tebal, kapal semakin laju hingga akhirnya benar-benar bergerak stabil di atas permukaan laut.  

Si sulung eksplorasi di haluan kapal


Sekali waktu si sulung memuaskan rasa ingin tahunya, meminta ditemani berjalan ke haluan.  Diamatinya gulungan buhul tali itu.  Dipegangnya tali yang tebalnya bahkan lebih dari tangannya sendiri! Setidaknya ia bisa merasakan kekuatan tali itu. Sekaligus, membayangkan sebesar apa jangkar yang terhubung dengan tali untuk menahan kapal saat berhenti. 

Sepanjang perjalanan penyeberangan, si sulung antusias untuk menelusuri haluan, geladak, buritan, dan anjungan kapal ferry.  Saya mendampinginya sambil ikut eksplorasi.  Menikmati angin laut menampar wajah dari pinggiran kapal adalah ritual favoritnya. 

Kaka dan adik menikmati angin laut dan riak laut di tepian kapal ferry
 (Foto: Novi)


Sesekali ia mengajak adiknya untuk ikut berdiri di tepi kapal sedekat mungkin dengan air laut.  Awalnya adiknya takut, tetapi lama-lama ikut menikmati.  

Ini sekilas percakapan mereka di tepian kapal ferry: 

“Luas ya dek, lautnya. Lihat deh“, ujar si kakak
“Di dalam lautnya itu ada hiu dan paus ngga?” tanya si adik 
“Hmm, mungkin adanya di laut lepas dek.  Ini kan selat, mungkin banyak ikan-ikan,” kata si kakak
“Tuh ada kapal lewat!” seru si adik “ Padahal kapalnya besar tapi keliatannya jadi kecil kalau di laut ya mas,” kata si adik.
“Iya... laut kan luas.  Liat ke atas dek, langitnya bagus ya... luas dan biru. Ada awan-awan gerak dek!!” timpal si kakak
“Ituuu, bentuk awannya seperti Mickey Mouse!” sorak si adik.

Si kakak memperhatikan awan yang ditunjuk si adik. Wajahnya mengernyit aneh karena menurutnya tidak ada awan yang mirip Mickey Mouse di sana.  Ya, imajinasi anak-anak namanya juga. He he he. 

Sertifikasi keselmatan kapal dipampang di lorong kapal ferry
(Foto: Erwan Julianto) 

Eksplorasi tidak berhenti di situ.  Mereka akan mengajak ayah ibunya ke posisi kapal sedekat mungkin dengan air laut.  Mungkin ingin merasakan sensasinya.  Saya dan suami selalu mengizinkan tetapi tetap waspada mengawasi. 

Suasana di geladak kapal ferry
(Foto: Novi)



Kami membiarkan anak-anak mengeksplorasi bagian kapal mana saja sedapat mungkin yang masih dapat terjangkau dan diizinkan oleh aturan keselamatan kapal.  Pernah mereka diajak di ruang lesehan, bahkan pernah juga kami menyewa ruang VIP.  Tujuannya agar mereka merasakan berbagai situasi.  Dengan terpapar pada beragam kondisi mereka akan belajar untuk pandai menempatkan diri dalam beragam situasi juga. 

Wefie sekeluarga di ruang VIP kapal ferry
(Foto: Erwan Julianto)



Suatu kali kami pernah kembali ke Jakarta dengan penyeberangan malam.  Anak-anak minta naik ke geladak dan berdiri di tepian pagar kapal. Katanya, ingin menikmati bintang-bintang di langit hitam yang menaungi laut yang juga nampak hitam.  Angin yang cukup kencang menerpa wajah dan membuat anak-anak tersenyum sambil menepuk-nepuk pipi.  “Seru ya malam-malam di kapal dek,” kata si kakak yang disambut dengan senyum si adik. “Aku suka bintang di atas laut!” seru si adik.

Suasana penyeberangan malam Selat Sunda dengan kapal ferry
(Foto: Novi)



2. Implementasi Go Green


Salah satu momen trip di atas kapal ferry saya manfaatkan untuk mengimplementasikan falsafah Go Green pada anak-anak.  Awalnya si sulung yang sering protes melihat perilaku penumpang yang hobi buang sampah sembarangan di kapal dan laut. Kesadaran penumpang untuk menjaga kebersihan ruangan kapal dinilainya sangat kurang.  Momen itu saya gunakan untuk menanamkan kepadanya sikap positif.  “Tetap buang sampah di tempatnya, sekalipun orang-orang di sekelilingmu membuang sampah sembarangan,” saya memperingati.  

Peringatan untuk tidak membuang sampah ke laut di kapal ferry
(Foto: Novi)
Si sulung sudah mulai paham, bahwa perilaku positif tidak boleh tergerus oleh pengaruh negatif.  Itulah yang namanya prinsip dan pendirian.  Dia juga menyadari bahwa tidak mudah memberikan pengaruh positif di lautan manusia! 

Implementasi Go Green yang saya terapkan di kapal ferry kepada anak-anak adalah hal sederhana seperti: 
a. membuang sampah di tempatnya
b. tidak membuang sampah ke laut
c. meminimalisir penggunaan wadah/kemasan plastik sekali pakai
d. menggunakan air bersih secukupnya
e. membawa dan membeli makanan secukupnya hingga tidak terbuang
f. menghabiskan makanan bekal sehingga tidak ada yang terbuang mubazir.  

Sambil memandangi permukaan laut yang biru, dengan riak riak indah di atasnya, saya sering berpesan,” Tuh lihat bagusnya laut itu, sayang sekali kan kalau dicemari sampah-sampah plastik.  Nanti jadi tidak indah lagi deh.”  Anak-anak jadi ingat untuk tidak mengotori laut.  Mereka ingin tetap menikmati keindahan laut tanpa cemaran sampah.  Apalagi sampah plastik yang sulit terurai!

Menikmati sore di kapal ferry
(Foto: Novi )


3. Mengagumi dan mensyukuri ciptaan Tuhan


Dua jam perjalanan penyeberangan juga menjadi saat yang asyik bagi kami sekeluarga untuk dapat mengangumi dan mensyukuri alam ciptaan Tuhan.  Laut yang luas membiru dinaungi langit berpayung awan, bagai lukisan tanpa garis batas.  Kebesaran Tuhan terpampang melalui kebesaran ciptaanNya itu. 

Menghadap ke haluan, mengamati arah lajunya kapal ferry
(Foto: Novi) 


Gugusan pulau serta kapal yang lalu lalang di selat berpadu indahnya dengan ombak yang kadang besar juga kadang bersahabat. Angin laut yang menerpa wajah seperti mengusir kantuk dan gundah dengan cara ramah. Bunyi kapal yang membahana di selat, semuanya mencipakan memori tersendiri tentang sebuah  perjalanan.

Menghadap ke haluan, mengamati arah lajunya kapal ferry
yang makin mendekati daratan
(Foto: Novi) 

Karena sudah terbiasa sejak bayi, anak-anak tidak mabuk laut atau pusing saat naik kapal ferry.  Mereka sudah bisa menikmati perjalanan. Sebagai orang tua, kami sudah bisa memasukkan nilai-nilai pembelajaran. Termasuk bersyukur atas nikmat panca indera yang sehat sehingga bisa melakukan perjalanan dan menikmati keindahan pemandangan laut dari kapal ferry. Menikmati keasyikan ini membuat anak-anak termotivasi untuk menjaga kesehatan supaya bisa naik kapal ferry lagi berikutnya. 

4. Latihan kemandirian dan keselamatan 


Di kapal ferry, belajar mandiri dan memperhatikan keselamatan bisa diterapkan dengan asyik.  Sebab, suasananya menyenangkan sembari berada di atas kapal yang bergerak di tengah perairan dengan pemandangan indah. Beda sekali seandainya wejangan kemandirian dan keselamatan diberikan di dalam kelas!  

Anak-anak saya ajarkan waspada dan memperhatikan keselamatan.  Misalnya berjalan dengan hati-hati di tangga dan geladak, memperhatikan barang bawaan, dan saling menjaga antar sesama anggota keluarga.  

Berhati-hati menuruni tangga kapal
(Foto: Novi) 


Kakak adik yang biasanya suka bertengkar di rumah, di kapal ferry jadi rukun dan saling menjaga.  Sebab ibunya bilang, “ Kita ada di atas kapal nih, satu keluarga harus saling jaga, karena kita ingin selamat bersama kan sampai di seberang?”  Jadilah si kakak akan melarang adiknya jika ingin jalan sendiri ke tempat yang berbahaya.  Kakak jadi lebih mandiri, adik jadi lebih terlindungi.  Kami orang tuanya pun jadi senang.  

Si bungsu berpose bersama ayah di geladak
(Foto: Novi)

Mengamati air laut dari kapal yang bergerak
(Foto: Novi)

Berjalan mengelilingi kapal ferry
(Foto: Novi)


Saya sering mengingatkan kepada anak-anak, jika terjadi sesuatu maka selamatkan diri sendiri terlebih dulu, baru menyelamatkan yang lain.  Sebab, untuk membantu menyelamatkan orang lain kita butuh memastikan bahwa diri kita juga sudah aman. Tidak lupa saya mengingatkan anak-anak untuk berdoa dan mengingat nama Allah di perjalanan agar terlindungi dari bahaya. 

5. Teamwork dan kekompakan 


Trip keluarga adalah salah satu wahana untuk melatih kerja tim dan kekompakan keluarga.  Saya dan suami menanamkan kepada anak-anak bahwa satu keluarga adalah satu tim yang harus selalu bahu membahu untuk kepentingan bersama.  Di kapal ferry, ini jadi terlatih secara mengasyikkan.  

Suami saya biasanya yang akan memimpin untuk mengarahkan jalan ketika turun dari mobil menuju bagian atas kapal lalu mencari tempat duduk yang nyaman.  Saya akan menuntun si bungsu, dan si sulung membantu membawa barang bawaan atau bekal makanan. 

Wefie sekeluarga di geladak kapal ferry saat siang terik
(Foto: Erwan Julianto) 

Saat melewati tangga kapal yang curam atau samping mesin yang panas, kami harus kompak.  Begitu pula agar tidak terpisah di kapal, kami harus saling menjaga jarak tetap dekat.  Saat mereka masih balita, ini cukup sulit.   Namun tahun-tahun belakangan sejak si sulung masuk bangku Sekolah Dasar, ia semakin terlatih dan bisa diandalkan. 

Apabila kompak, trip akan jadi nyaman dan menyenangkan.  Si sulung menyadari sekali akan hal itu.  Makanya, agar keasyikannya menikmati penyeberangan tak terganggu, ia bersedia bekerjasama dengan ayah ibu dan adiknya untuk tetap kompak.  Ia mau berkoordinasi mengatur sesi eksplorasi kapal dan tidak berjalan sendiri ke bagian yang kurang aman.    

Senyum sumringah
di geladak kapal ferry pada penyeberangan Selat Sunda
(Foto: Erwan Julianto)
#AsyiknyaNaikFerry memang memberikan pengalaman tersendiri bagi keluarga kami.   Kapal ferry jadi saksi senyum sekeluarga setiap mudik Lebaran! Seusai perjalanan, kami merasa semakin kompak sebagai sebuah tim.  Pun terinspirasi dan termotivasi untuk menabung agar bisa menyambangi perairan yang lebih jauh dan indah di Indonesia dengan ASDP Indonesia Ferry! Agar kami sekeluarga bisa eksplorasi dan lebih banyak belajar tentang hidup dan kehidupan. 

Jadi, banyak untungnya lho mengajak anak-anak dan keluarga naik kapal ferry untuk eksplorasi dan pembelajaran. Asalkan memilih waktu perjalanan yang tepat, naik kapal ferry bisa jadi alternatif pembelajaran positif yang asyik dan menarik untuk anak-anak dan keluarga. Semoga saja peningkatan fasilitas penyeberangan terutama fasilitas kebersihan, kenyamanan, dan keselamatan penumpang semakin mendapat perhatian pengelola sehingga kita semua bisa lebih menikmati #AsyiknyaNaik Ferry!  Yuk naik ferry! (Opi) 

Teman-teman, yuk naik ferry ......
(Foto; Novi) 

**Foto-foto dalam tulisan ini adalah koleksi pribadi penulis selama melakukan perjalanan sekeluarga dengan kapal ferry tahun 2007 sd 2018 

** Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition #AsyiknyaNaikFerry yang diselenggarakan ASDP Indonesia Ferry

Kamis, Juni 07, 2018

10 Tips Mudik Nyaman Antar Pulau Mengendarai Mobil



Mudik! 


Siapa yang sudah siap-siap mudik menjelang Idul Fitri ?  Coba acungkan tangannya ! Pastinya seru bin rempong ya mempersiapkan segala sesuatu agar nyaman di perjalanan jauh. Bisa ditebak, banyak bawaan deh buat pulang kampung!

Pulang ke kampung halaman atau mudik saat Lebaran menjadi kegiatan seru yang merekam beragam cerita bagi banyak orang. Tidak terkecuali buat saya. Sebagai anak Metropolitan yang lahir dan besar di Jakarta, saya baru merasakan keseruan mudik setelah berkeluarga sebelas tahun lalu. Setelah menikah, saya ikut suami tinggal di Depok, Jawa Barat.  Setiap Idul Fitri (terkecuali waktu hamil muda dan saat wafatnya ayahanda), sayapun ikut mudik mengunjungi mertua di Kotabumi, Lampung Utara.  

Memandang salah satu kapal feri dari dermaga 

Walaupun kampung halaman suami dapat dicapai lebih cepat dengan pesawat terbang, kami selalu memilih mudik mengendarai mobil lalu menyeberang dengan kapal feri. Pertimbangannya adalah, bawaan yang Allahu Akbar banyak (banget) saat mudik.  Pastinya bisa melampaui batas bawaan bagasi di pesawat. Ditambah lagi, dari Bandara ke Kotabumi masih harus menempuh perjalanan darat yang cukup panjang. Penggunaan dua moda transportasi ini juga akan membuat budget mudik jadi bengkak.  Itu sebabnya pilihan jatuh pada mengendarai mobil sendiri dan jasa penyeberangan kapal feri. 

Muatan bawaan mudik di mobil bagian belakang 

Memang bawa apa aja sih ke kampung halaman?  Rupa-rupa lah yang kami bawa.  Mulai dari sembako, pakaian layak pakai untuk saudara di kampung (ini yang paling berat), perabot layak pakai, oleh-oleh dan hadiah untuk mertua, dan barang bawaan kami sekeluarga. Walaupun perabotan dan pakaian itu bukan barang baru tetapi masih sangat diharapkan saudara-saudara di kampung dan bermanfaat sekali.  Itulah sebabnya dibela-belain deh dibawa dari Jakarta! Bahkan kami pernah bawa rak piring, bekas antena parabola, dan ember besar ... hehehe....

Menyeberang Selat Sunda dengan kapal feri menjadi alternatif moda transportasi paling pas buat keluarga kami.  Selain biayanya lebih terjangkau, waktu sepanjang perjalanan bisa digunakan untuk eksplorasi bersama anak-anak. Uang lebihnya bisa digunakan untuk kebutuhan lain di kampung halaman. 

Menikmati suasana Selat Sunda di geladak kapal feri

Kedua anak kami jadinya sudah terbiasa berkeliaran di geladak, anjungan, haluan, dan buritan kapal feri sejak bayi.  Terbiasa melihat laut dari dekat, dan menyaksikan kerasnya hidup di pelabuhan. Itu menjadi kenangan masa kecil yang tertanam kuat dalam benak mereka. 

Berkali-kali mudik dengan moda transportasi yang sama, sejak masih sepasang suami istri hingga kini dengan dua anak yang mulai besar, membuat saya ingin berbagi tips dengan pembaca agar mudik antar pulau jadi nyaman. 

Ini dia tips ala saya:

1. Pilih jadwal mudik paling pas untuk keluarga
2. Cicil persiapan barang bawaan
3. Cek mobil dari A sampai Z, harus!
4. Kondisikan kesehatan seluruh anggota keluarga
5. Cukup istirahat sebelum cuzzz berangkat
6. Persiapkan kegiatan menyenangkan untuk anak dan keluarga di perjalanan
7. Perhatian khusus untuk Pak Supir!
8. Bekal, obat, charger, dan mainan anak, tidak boleh lupa!
9. Persiapkan kebutuhan sanitasi perjalanan
10. Utamakan keselamatan, seimbangkan istirahat, makan, ibadah, dan kegiatan selama perjalanan   


Sederhana ya? Yuk ditilik satu persatu ........

1. Pilih jadwal mudik paling pas untuk keluarga 


Rencanakan jadwal mudik jauh-jauh hari, terutama hari keberangkatan dan kepulangan. Ini berguna untuk mengajukan cuti ke atasan di kantor dan mendapatkan jumlah hari cuti sesuai yang diharapkan. 

Saya biasanya berangkat mudik setelah sholat Ied di Masjid Kompleks Perumahan dan mengunjungi orang tua di Jakarta. Sementara, jadwal kepulangan sekitar H+3 atau H+4 Lebaran. Biasanya juga saya tidak mengambil cuti tambahan, hanya memanfaatkan cuti bersama yang sudah diberlakukan di perusahaan tempat saya bekerja.  

Di tengah laut itu menyenangkan buat anak-anak
Emak kantoran seperti saya sangat irit menyimpan cuti untuk digunakan saat darurat.  Misalnya ketika tidak ada asisten rumah tangga atau harus mendampingi anak-anak pada kegiatan tertentu. Biasanya, seusai Lebaran dan asisten rumah tangga belum kembali, saya ajak anak-anak ke kantor.  Jika ternyata si mba asisten tidak kembali, barulah saya ambil cuti untuk mencari ganti dan mengajarinya kerja dari awal. 

Kami sekeluarga menikmati keberangkatan di hari H (1 Syawal) karena perjalanan sangat lancar.  Baik perjalanan ke pelabuhan melalui tol dalam kota (sekitar  2 sampai 3 jam), maupun perjalanan penyeberangan dengan feri dari Merak ( sekitar 2 sampai 3 jam), sampai lanjut perjalanan darat dari Bakauheni ke Kotabumi (sekitar 5 sampai 6 jam).  Kapal ferinya juga lapang, tidak penuh sesak.  Dengan begitu, perjalanan mudik bisa lebih nyaman terutama buat anak-anak. Hanya, perlu agak sabar menunggu jadwal penyeberangan feri yang sering agak lambat dari seharusnya.  

Kami memang banyak berhenti di perjalanan, dan berkendara dengan santai untuk menikmati perjalanan.  Biasanya, kami baru merasakan arus balik saat kembali ke Jakarta.  Berbeda sekali perjalanan saat berangkat dengan pulang. Lebih padat tentunya.  Namun, akhirnya kami terbiasa dan menyesuaikan diri.  Dinikmati aja!

2. Cicil persiapan barang bawaan 


Bukan beli panci aja lho yang dicicil, mak! Mempersiapkan baawan mudik juga perlu dicicil.  Apalagi ini mudik antar pulau, hehehe.... Supaya, ngga stress level dewa saat keberangkatan karena belum beres packing!  Cicillah persiapan mulai dari barang yang paling sulit dipak mendadak.  Misalnya, kalau saya sih, perabot dan pakaian layak pakai untuk saudara di kampung.  Itu bisa tiga tas besar. 

Mencicil packing barang bawaan mudik

Biasanya barang dan pakaian layak pakai yang akan dibawa mudik sudah saya pilih sejak awal Ramadhan.  Diklasifikasikan antara pakaian anak, dewasa, kerudung, selimut atau sprei.  Jika sudah dipak, letakkan di tempat yang aman.  Bisa di atas lemari atau di bawah tangga.  Jangan sampai diacak-acak bocah ya (hehehe). 

Barang lain seperti hadiah-hadiah lebaran untuk mertua biasanya disiapkan setelah dapat THR, dan langsung dikemas. Sementara barang lain seperti pakaian dan perlengkapan anak-anak disiapkan sekitar 3 hari sebelum berangkat.  Pada menjelang hari H, tinggal mengecek dan menyiapkan oleh-oleh makanan, bekal makanan serta perbekalan lain yang sifatnya bukan barang yang awet. 

Posisi muatan barang bawaan mudik di bagian belakang mobil

Ketika anak-anak masih balita, agak lebih rempong persiapannya. Ya bawa gendongan lah, bekal makanan lunak lah,  Sekarang, setelah anak-anak usia SD, lebih ringkas. Waktu anak-anak masih bayi dan ngASI eksklusif, saya selalu bawa bantal kecil untuk menyusui dan kain yang adem.  

3. Cek mobil dari A sampai Z, harus! 


Kendaraan yang akan digunakan untuk mudik harus dalam kondisi prima.  Jalan jauh antar pulau nih! Supaya nyaman dong! Keselamatan adalah yang utama! Itu sebabnya sebelum mudik, kondisi mobil harus dicek. Jangan mepet ya, setidaknya sepekan sebelum keberangkatan. Ingat juga antrian padat di bengkel jika mepet hari Lebaran. 

Pokoknya dari A sampai Z wajib dicek.  Mulai dari kondisi mesin, ban utama dan ban serep, rem, aki, sampai sedetil-detilnya. Ganti oli dan cek kilometer jangan lupa. Tool kit harus ready di dalam mobil.  Sehingga, jika ada kondisi tertentu bisa segera diatasi tanpa harus menghambat perjalanan.  Kami pernah harus ganti ban sendiri di tengah perjalanan karena ban belakang bocor tertusuk benda tajam.  Untungnya Pak Suami lihai dan penuh persiapan untuk yang hal begini.  

Suasana di pintu masuk Pelabuhan Merak 

Perhatikan keamanan anak dan barang-barang ketika harus mengganti onderdil mobil di jalan. Apalagi jika berada di jalur sepi seperti jalur begal Lintas Sumatera dan kondisinya hari sudah senja.  Karena itu penting untuk memperkirakan jarak dan waktu perjalanan serta jadwal perhentian agar kita tidak berada di jalur bahaya pada malam hari.  

Kebiasaan suami saya, sedapat mungkin selalu berhenti di tiap waktu sholat. Ada tempat-tempat cukup representatif yang bisa dijadikan tempat perhentian agar aman dari kejahatan. Sekarang serba mudah, tinggal pakai Google Map bisa diketahui semua yang dibutuhkan.  Restoran terdekat, pom bensin terdekat, masjid terdekat, pokoknya mantap!

4. Kondisikan kesehatan seluruh anggota keluarga 


Mudik antar pulau itu butuh stamina prima lho! Apalagi kita akan berada di kapal selama beberapa jam saat menyebarang Selat Sunda.  Kondisinya kadang sering tak terduga seperti angin kencang, mendung, hujan, ombak besar yang bikin kapal goyang goyang, dan sebagainya. Jika kurang fit, gak nikmat deh. Yang ada, malah masuk angin!

Selat Sunda di malam hari 

Perjalanan lebih dari sepuluh jam akan nyaman jika kita dalam kondisi bugar.  Karena itu, pastikan sudah mempersiapkan diri dengan kondisi fisik prima sebelum berangkat. Baiknya, jangan makan yang aneh-aneh sepekan sebelum mudik. Jika perlu, minum tambahan suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh seperti ekstrak Habatussauda (jintan hitam) seperti dicontohkan Rasul. 

Menikmati pemandangan kapal kapal yang melintas di Selat Sunda
dari geladak feri

Kenakan pakaian yang nyaman saat di perjalanan. Pakailah jaket saat berada di kapal untuk menghadang angin kencang ketika bereksplorasi di geladak kapal.   

Anak-anak juga perlu diberi pengertian untuk menjaga kesehatan.  Anak-anak saya biasanya sangat antusias untuk mudik karena jarang bertemu dengan kakek neneknya. Tapi ya namanya anak-anak, disuruh tidur siang saja susahnya minta ampun!  Siang-siang di bulan puasa malah main bola, begitu buka puasa langsung minum es pula! Ini dia nih yang bikin ibunya senewen.  

Di tengah laut 

Harus ekstra pendampingan pada anak-anak supaya mereka betul-betul peduli untuk menjaga kondisi tubuh supaya fit saat mudik. Cukup istirahat, makan bergizi saat sahur dan berbuka, cukup makan sayur dan buah, cukup minum air putih, dan cukup aktivitas fisik akan membuat tubuh bugar. 

5. Cukup istirahat sebelum cuzz berangkat

Ini bagian yang cukup penting.  Biasanya saking rempongnya mempersiapkan mudik, kita sampai lupa istirahat sehari menjelang berangkat.  Anak-anak apalagi.  Saking antusiasnya, sampai ngga tidur tuh semalam sebelum berangkatnya!  Biasanya sih tidak terasa efeknya saat baru berangkat.  Tetapi beberapa jam kemudian akan terasa lelahnya.  Padahal perjalanan baru dimulai.  Rugi banget kalau perjalanan mudik tidak dapat dinikmati gara-gara kurang istirahat sebelum berangkat.  

Supaya bisa cukup istirahat sebelum hari H keberangkatan, poin 1 sampai 4 harus sudah fix! Kalau tidak mencicil packing, dan baru ngepak sehari sebelum berangkat, sudah pasti bakal lelah sangat! Intinya memang di perencanaan mudik jangan main-main deh.  

6. Persiapkan kegiatan menyenangkan untuk anak dan keluarga di perjalanan


Perjalanan mudik antar pulau itu relatif panjang.  Akan jadi membosankan bagi anak-anak terutama jika tidak diisi dengan kegiatan yang menyenangkan.  Nah, tugas orang tua nih untuk berkreasi dengan rencana kegiatan yang asyik.  Saya dan suami biasanya menyiapkan beberapa hal terkait yaitu: 

a. Download lagu-lagu dan musik yang semangat untuk di perjalanan, untuk mengatasi bosan
b. Bawa kamera, dan mengizinkan anak-anak bereksplorasi dengan memotret di perjalanan dengan pendampingan
c. Bermain boneka, tebak-tebakan, atau permaiann lainnya selama perjalanan 
d. Siapkan energi untuk meladeni anak yang baru bisa membaca untuk membaca semua tulisan di perjalanan dan mengajaknya ngobrol
e. Menemani mengeksplorasi kapal feri di semua area yang dibolehkan dari sudut pandang keamanan mulai dari depan sampai belakang (haluan, anjungan, geladak, buritan) 

Semua akan jadi menyenangkan jika tiap anggota keluarga saling terlibat.  Jadinya kompak. 

Menemani ayah menyetir 

7. Perhatian khusus untuk Pak Supir! 


Berkendara antar pulau butuh pengemudi yang handal lho.  Jadi, perhatikan kebutuhan fisik dan psikisnya baik-baik.  Kebetulan, saya selalu menggunakan driver handal yaitu suami saya sendiri, hehehe.  Beliau sudah teruji!  Full menyetir berangkat-pulang tanpa aplusan karena istrinya belum bisa menyetir. Hehehehe....

Copilot harus siap siaga mendampingi ayah menyetir
bergantian dengan si sulung 

Mengemudi jarak jauh antar pulau butuh stamina yang bagus.  Karena itu, jangan sampai turun stamina di jalan, bisa bahaya.  Sedapat mungkin, driver jangan terlambat makan dan minum.  Minimal, berhenti tiga jam sekali untuk istirahat. Refresh segera setiap terasa jenuh untuk mengembalikan konsentrasi dan kesegaran berkendara.  Caranya?  Saya wajib bantu pengemudi dengan fungsi copilot alias asisten setir.  Suapi cemilan dan pasang senyum manis sepanjang jalan supaya suasana berkendara jadi menyenangkan.

8. Bekal, obat, charger, dan mainan anak, tidak boleh lupa!


Ini sama sekali tidak boleh lupa!  Bekal makanan kesukaan anggota keluarga bisa jadi penyelamat suasana perjalanan.  Obat-obatan tidak boleh lupa untuk berjaga-jaga.  Apalagi mainan kesayangan anak-anak.  Biarkan anak-anak bermain dengan mainannya selama di perjalanan sepanjang tidak membahayakan keselamatan. Bawalah beberapa charger dan power bank yang sudah terisi full sebagai persiapan.  Ngga mau kan mati gaya di jalan gara-gara HP lowbatt atau mati dan lupa bawa charger atau power bank sehingga menyulitkan komunikasi. 

Bantal leher sangat berguna untuk
perjalanan mudik antar pulau
jadi ngga pegel lehernya

Penting juga untuk membawa bantal-bantal kecil, bantal leher, dan selimut untuk kenyamanan di perjalanan. 

9. Persiapkan kebutuhan sanitasi di perjalanan 


Bawalah beberapa handuk kecil, pakaian dalam cadangan, tisu basah, hand sanitizer, sabun cair dalam botol kecil untuk sanitasi di perjalanan, terutama di kapal. Masukkan dalam satu tas dan letakkan di tempat yang mudah dijangkau di mobil. Kadang kala kita beruntung dapat kapal yang bagus dan layak perlengkapan sanitasinya.  Tapi, kadang pernah juga kami kurang beruntung dapat kapal yang Masha Allah, toiletnya jorok banget! Ngga ada sabun, apalagi tisu deh. Hahaha.  

Tapi anak-anak jadi belajar untuk tertib nih.  Di perhentian setiap masjid yang bagus atau pom bensin yang layak, saya selalu menawarkan untuk ke toilet kepada anak-anak sambil mengingatkan. “Nanti di kapal belum tentu toiletnya bagus lho. Ngga mau kan nahan pipis atau pup di kapal? Dua jam lho minimal kita di kapal sampai selesai sandar.”  Biasanya anak-anak akan nurut. Habis, peringatan ibunya berbau konsekuensi tak nyaman gitu sih ya ...hehehehe.  

Menikmati perjalanan dengan nyaman 

Biasakan anak-anak untuk tidak menahan buang air kecil supaya terhindar dari infeksi saluran kemih.  Perhatikan kebersihan toilet umum yang digunakan di perhentian. Selalu gunakan air mengalir/ kran.  Bukan yang sudah tertampung di wadah. Jika tidak yakin dengan airnya, gunakan tisu basah.  Lalu begitu tiba di perhentian yang ada air bersih, barulah basuh dengan air bersih.  

Suasana dermaga pelabuhan penyeberangan feri 

Jangan lupa, siapkan juga beberapa botol air mineral kosong untuk persiapan kalau betul-betul kepepet bocah laki-laki harus buang air kecil di botol.  Prepare for the worst. Pernah lho, kami berada di antrian panjang di tol. Rest area masih jauh, sementara si sulung sudah tidak tahan mau buang air kecil.  Untunglah saya sedia botol kosong itu, jadi terselamatkanlah. Hehehe.

10. Utamakan keselamatan, seimbangkan istirahat, makan, ibadah, dan kegiatan selama perjalanan 


Khusus untuk poin kesepuluh ini, banyak hal yang harus diperhatikan yaitu : 

a. Berhenti dua atau tiga jam sekali untuk istirahat dan hindari microsleep.  Ini untuk keselamatan bersama  
Ini di dalam kapal feri, nyaman ya ......

b. Berhati-hati di tempat perhentian dan kapal.  Terutama awasi anak-anak ketika membuka dan menutup pintu mobil, saat mengisi bahan bakar, dan di tempat perhentian lainnya. Dampingi anak-anak, jangan ditinggal.  Terutama di kapal, pastikan mobil parkir terkunci aman sebelum ditinggal naik ke geladak.  Jangan tinggalkan barang berharga di dalam mobil yang diparkir.  Perhatikan keselamatan anak-anak saat di kapal terutama ketika mengeksplorasi geladak, haluan, buritan, dan anjungan kapal. 

c. Membawa uang tunai secukupnya. Sebaiknya bawa hanya satu kartu ATM saja yang bisa digunakan di ATM manapun.  Membawa uang berlebihan dan banyak kartu akan mendukung pemborosan, hehehe. Padahal sepulang mudik hari masih panjang lhooo.....


Siang terik di Selat Sunda 


d. Tidak menggunakan perhiasan berlebihan.  Ini bisa mengundang kejahatan, terutama di tempat perhentian.  

e. Jangan skip waktu makan, sholat, dan istirahat karena bisa mengganggu keseimbangan tubuh dalam perjalanan.  Waktunya makan, ya makan.  Waktunya istirahat, ya istirahat.  Ukur ukur sesuai kemampuan kita masing-masing ya.

Ini di dalam kapal, nyaman ya .....

f. Waspada dan jangan lengah awasi anak-anak apalagi jika membawa bayi dan balita.  Tapi ya ngga usah parno juga sih.  Ajari si kakak untuk menjaga adik di perjalanan. 

g. Saat anak (terutama balita) tidur, ibu sebaiknya ikut tidur supaya ketika mereka bangun kita bisa mengawasi dan ketika tiba di tujuan tidak terlalu lelah.  Ingat,  masih banyak acara dan kunjungan ketika tiba di kampung halaman lho.  Jangan forsir di jalan yaaa. 

Mushalla di dalam kapal feri 


h. Cukup minum air putih di perjalanan, hindari terlalu banyak ngemil keripik atau coklat dan permen supaya ngga batuk dan alergi.

i. Hindari main gadget di perjalanan, gunakan waktu perjalanan untuk menguatkan bonding orang tua dengan anak.  Libatkan anak dalam menelusuri Google Map dan minta pendapatnya tentang tempat perhentian yang lebih disukai. Supaya, perjalanan mudik jadi wahana pembelajaran juga bagi anak-anak.

Wefie di geladak kapal feri, diterpa angin laut 

Itulah sepuluh tips dari saya.  Semoga bisa cukup membantu menciptakan kenyamanan di perjalanan mudik antar pulau ya.  Nah, selamat mudik buat semuanya ..... Semoga perjalanan mudiknya lancar dan bisa happy di kampung halaman, serta selamat sampai kembali ke rumah. Ditunggu cerita mudiknya ya teman-teman..... Happy pulang kampung!!! (Opi) 

Di geladak feri di siang terik.... Selamat Mudik!!!


** foto-foto adalah koleksi pribadi penulis

Back to Top