Selasa, Januari 22, 2019

Tujuh Cara Memerangi Sampah Digital Ala Narablog 4.0


Aktif sebagai narablog / blogger merupakan tantangan tersendiri di era Revolusi 4.0 yang serba dinamis.  Di sepanjang tahun 2018, saya telah merasakannya dan jadi ketagihan! Bisa mendisiplinkan diri untuk menulis hal-hal yang disukai dengan lebih tertata, dan meraih prestasi dari beberapa kompetisi blog, cukup membanggakan bagi saya. Semua itu saya lakukan di sela aktivitas utama sebagai ibu dua anak sekaligus pekerja kantoran.

Apabila ada kompetisi blog yang temanya sesuai passion, pasti langsung saya ikuti. Kesan paling mendalam adalah saat mengikuti lomba blog bertema Rokok Harus Mahal yang diselenggarakan oleh Kantor Berita Radio (KBR),  dan Kompetisi Menulis bertema Stop Mom War yang diselenggarakan Kumpulan Emak-Emak Blogger (KEB) bekerjasama dengan Penerbit Diva Press. Dibandingkan puluhan kompetisi lain yang saya ikuti, yang dua ini benar-benar tidak disangka akan menang!

Kedua tulisan yang diikutsertakan pada kompetisi tersebut bersumber dari pengalaman duka pribadi. Tulisan berjudul 3 Sebab Utama Perempuan Dukung Rokok Harus Mahal berhasil menyabet dua kali juara dalam satu rangkaian lomba blog. Satu kali di periode bulanan, satu kali di grand final.  Jadi, tulisan yang menang di periode bulanan dinilai kembali di grand final.

Bisa dibilang, ini keberuntungan. Tidak sedikit narablog yang menulis berkali-kali di tiap periode tapi tidak mendapat juara.  Sementara saya, satu kali menulis bisa juara di periode bulanan (Mei) sekaligus grand final (September).  Saya menerima hadiah uang tunai dua kali, dan merasa tersanjung!


Momen spesial di tahun 2018 yang membuat saya semakin positif dalam menyikapi pengalaman duka atau sakit sebagai sumber inspirasi berkarya lewat tulisan

Tulisan double winner itu berkisah tentang pengalaman duka wafatnya ayah tercinta dan hubungannya dengan rokok.  Menurut penilaian Dewan Juri, kekuatan tulisan saya adalah mengalir dan detil, serta memuat data plus saran yang relevan. 

Lomba menulis Stop Mom War di pertengahan tahun 2018 juga sangat berkesan buat saya, karena 10 tulisan terbaik diterbitkan dalam bentuk buku. Termasuk di dalamnya adalah tulisan saya.  Selain mendapat hadiah uang tunai, juga direkam jejak dalam buku berjudul sama : Stop Mom War.  Tulisan saya yang terjaring sebagai salah satu tulisan terbaik ini berjudul Ibu Pembelajar Menjawab Tantangan Zaman.  Isinya tentang pengalaman sebagai korban mom war dalam mengasuh anak bungsu dan solusi yang ditawarkan dalam menghadapinya.

10 tulisan terbaik bertema Stop Mom War yang diterbitkan dalam bentuk buku di tahun 2018. 
Salah satunya adalah tulisan saya. Ini jadi momen spesial di 2018 dalam perjalanan aktivitas blogging

Kedua tulisan yang membawa saya mengukir prestasi di dunia blogging tahun 2018 adalah hasil olahan dari pengalaman negatif yang pernah dirasakan. Dari situ, saya membuktikan benarlah adanya yang ditulis oleh Meta Wagner dalam bukunya What’s Your Creative Type,  bahwa setiap orang sesungguhnya kreatif, tapi berbeda-beda tipe kreatifnya.  Saya termasuk orang yang bisa dipicu untuk berkreasi dan berkarya setelah ditekan oleh pengalaman negatif atau menyakitkan. Dari sana, saya belajar positif melihat suatu kesedihan atau kesakitan karena yakin semua membawa kebahagiaan dalam versi tak terduga.

Sebagai narablog, saya punya keyakinan bahwa konten yang diunggah harus berkualitas. Pantang asal-asalan. Walau juga  tak selalu harus menang.  Buat apa menulis sesuatu yang hanya akan jadi sampah digital?

Sampah Digital 


Sampah digital versi saya adalah semua jenis konten digital yang minim manfaat bagi warganet, yang umumnya berisi kalimat bualan, omong kosong, cercaan, ujaran kebencian, fitnah, cemoohan, kebohongan, dan cerminan perilaku negatif lainnya.


Narablog atau blogger punya peran strategis untuk memerangi sampah digital. Semakin sering, banyak, positif dan bermanfaat konten yang diunggah narablog, semakin besar kemungkinan untuk menggeser sampah digital ke tepi. Sebaliknya, semakin “ngasal” dan negatif konten yang diunggah narablog, akan serta merta membuat narablog jadi tokoh yang mengotori dan memenuhi dunia maya dengan sampah digital!


Pilih yang mana?  Jadi narablog yang (1) giat memerangi sampah digital, atau justru (2) jadi tokoh yang “nyampah” di dunia maya? Jujur, saya ingin jadi yang pertama. Sebagai narablog, saya ingin bisa fokus pada satu hal ini di 2019:  konsisten memerangi sampah digital.  Yang artinya, harus menulis konten yang berkualitas terus menerus sesering mungkin! Cukup menantang!

Transformasi Narablog Tradisional Menjadi Narablog 4.0


Sudah waktunya saya bertransformasi dari blogger tradisional menjadi narablog 4.0 untuk bisa memerangi sampah digital di era Revolusi 4.0 kini.  Kalau blogger tradisional hanya menulis dan mengunggah konten tanpa memperhatikan kolaborasi online-offline yang tepat, maka narablog 4.0 sebaliknya!

Narablog 4.0 adalah mereka yang terampil nulis di blog sekaligus menghidupkan kampanye positif di dunia nyata sesuai yang ditulisnya. Selain itu, narablog 4.0 memanfaatkan data, studi empiris, dan memperhatikan dinamika online-offline untuk meningkatkan bobot konten.

Kenapa sih harus perang anti sampah digital? Jawabnya sederhana.  Supaya para warganet tetap sehat mentalnya. Terlalu banyak konten negatif bisa membuat mental warganet jadi sakit. Membaca konten negatif itu seperti menyerap racun. Tubuh dan pikiran jadi kontraproduktif! Padahal, setiap hari kita tak dapat lepas dari dunia digital.

Menghadapi situasi ini saya pun berpikir dan merasa, ingin melakukan sesuatu tapi tidak tahu apa.  Sampai suatu saat, inspirasi itu mengemuka.  Ketika membuka-buka file lama di komputer, saya menemukan pesan almarhum Bapak Nukman Luthfie, seorang pakar media sosial.

Pada 8 Juli 2010, Pak Nukman pernah datang sebagai narasumber untuk memberikan masukan bagi pengembangan media online atas undangan kantor tempat saya bekerja. Pada masa itu Pak Nukman menjabat sebagai CEO Virtual Consulting. Saya, kebetulan adalah salah satu anggota pengurus website perusahaan yang sedang berusaha melakukan pengembangan konten.

Pakar Media Sosial Bapak Nukman Luthfie (alm) yang pesan-pesannya menginspirasi saya 
  Satu pesan beliau yang tercatat di notulensi adalah, bahwa konten-konten negatif di dunia maya hanya dapat digeser dengan memperbanyak postingan konten positif.  Upayakan  jumlah konten positif jauh lebih banyak berlipat-lipat kali.  Dengan sendirinya, konten positif itulah yang akan mendominasi.



Beberapa tahun kemudian melalui akun Instagram-nya di tahun 2018 sebelum wafat, Pak Nukman juga berpesan bahwa pahlawan era digital adalah mereka yang memenuhi dunia maya dengan konten positif.  Secara sadar, inilah yang kemudian mendorong dan menginspirasi saya dalam mencari jalan memerangi sampah digital.  Terima kasih Pak Nukman.

Cara Memerangi Sampah Digital Ala Narablog 4.0 


Baiklah, saya sudah bertekat untuk menjadi narablog 4.0 dan memerangi sampah digital secara konsisten di tahun 2019.  Sekarang, bagaimana caranya?  Ini tujuh cara yang bisa saya tawarkan:

1. Konsisten menulis sesuai passion dan bidang keahlian yang dikuasai sebanyak dan sesering mungkin  

2. Selalu memilih sudut pandang positif dari kejadian atau tema negatif sekalipun

3. Say No to Impulsif Posting !

4. Pantang sekedar ikutan tren tanpa konsep yang jelas

5. Pamer prestasi? Boleh banget! 

6. Perdalam seni mengolah curhat, sumpah serapah, hujatan, cemoohan menjadi konten yang bermanfaat untuk warganet 

7. Jangan berhenti mendidik diri sendiri dan merefleksikannya ke seluruh penjuru dunia digital



Bahas satu-satu yuk!

1. Konsisten menulis sesuai passion dan bidang keahlian yang dikuasai sebanyak dan sesering mungkin

Menulis sesuatu yang dikuasai dengan baik akan membuat konten yang dihasilkan lebih berkualitas.  Selain itu, membuat narablog yang menulisnya bisa enjoy karena menulis sesuatu yang disukai.  Kenikmatan apa lagi yang didustakan selain dari menulis dengan nikmat dan hasilnya bermanfaat buat umat?  Nah!

2. Selalu memilih sudut pandang positif dari kejadian atau tema negatif sekalipun

Akan lebih mudah menemukan sudut pandang positif setelah kita terimbas oleh hal negatif.  Karena itu, jangan lekas marah saat mengalami kejadian yang negatif, dihina, dicerca, atau dicemooh, bahkan dihujat! Berbahagialah karena sudut pandang positif jadi lebih mudah ditemukan untuk diolah jadi konten positif yang bermanfaat buat orang lain.  Cakep kan?

3. Say No to Impulsif Posting !

Memang era digital membuat orang jadi cenderung impulsif.  Untuk sebuah konten yang berkualitas, jangan pandang remeh proses pengendapan konten meskipun hanya hitungan menit atau jam. Setelah konten usai ditulis, pantang langsung diposting.  Endapkan dulu sejenak.

Baca ulang setelah proses pengendapan.  Pasti deh, akan ada revisi di sana-sini yang akan menjadikan konten lebih sarat makna. Ingat, bahwa semua postingan di dunia maya akan menjadi rekam jejak.  Lebih baik jeda sejenak tapi hasilnya manfaat daripada cepat-cepat tapi nyampah!

4. Pantang sekedar ikutan tren tanpa konsep yang jelas

Sebagai narablog, wajib punya konsep blog dan tulisan yang jelas, yang menjadi nafas utama dalam kegiatan menulis. Ini akan jadi sarana agar blogging lebih fokus, tidak asal ikutan tren, yang akhirnya kurang mendukung upaya memerangi sampah digital.

5. Pamer prestasi? Boleh banget! 

Jadikan dunia digital sebagai tempat pamer prestasi, bukan pamer yang lain-lain. Ini juga pesan almarhum Pak Nukman Luthfie, yang selalu teringat. Saya pun terlecut menulis lebih baik setelah melihat sederetan prestasi para narablog terpampang di dunia digital!  Contohnya narablog Adi Nugroho yang selalu memenangkan kejuaraan menulis secara konsisten. Yuk, penuhi konten digital dengan prestasi para narablog sebagai branding bahwa narablog itu berbuat dan bertindak lho! 

6. Perdalam seni mengolah curhat, sumpah serapah, hujatan, cemoohan menjadi konten yang bermanfaat untuk warganet 

Ini seni yang mungkin butuh waktu dan sensitivitas untuk diperdalam, namun wajib jadi prioritas untuk dipelajari. Kalau di dunia nyata kita bisa mengolah sampah jadi produk daur ulang yang bermanfaat, di dunia maya pun sebetulnya juga bisa. Sampah-sampah digital berupa hujatan dan sumpah serapah atau cemoohan bisa menjadi inspirasi atau ide yang selanjutnya diolah jadi konten bagus bermanfaat.

7. Jangan berhenti mendidik diri sendiri dan merefleksikannya ke seluruh penjuru dunia digital.  

Mendidik diri sendiri untuk jadi narablog 4.0 yang keren bisa dicapai dengan cara lebih rajin baca buku, melakukan perjalanan, mengasah empati dengan mengamati lingkungan sekitar, dan tidak berhenti belajar dari dinamika online-offline di era digital. Untuk menghasilkan konten yang berkualitas, mutlak narablog harus menjadi pembelajar sepanjang hayat.  Tidak ada tawar menawar untuk ini.

Yuk, para narablog bergandengan tangan di era Revolusi 4.0 ini, untuk bersama-sama konsisten membanjiri dunia digital dengan konten keren, positif, dan bermanfaat bagi  warganet. (Opi)



Jumat, Januari 04, 2019

“STOP MOM WAR” : Jangan Ada Perang, Mari Bergandengan Tangan


 “Bukan soal siapa yang paling benar, tetapi bagaimana kita mampu menerima setiap perbedaan“

Kalau boleh rada lebay, perang antar ibu adalah jenis perang yang paling menyeramkan. Bikin ngeri! Baik yang terang-terangan maupun yang diam-diam tertutup oleh senyuman.  Dari senyum sinis sampai senyum pahit. Pokoknya bikin hidup tidak tenang cenderung kurang produktif deh. Kok?  Lha iya, bukannya fokus dan percaya diri mengasuh anak, malah jadi rempong saling serang. Waduh. Kontraproduktif!

Ajaibnya, mom war terjadi hampir selalu di tiap era. Bagai obor abadi. Sebelum zaman digital menggila, perang antar ibu berkisar di isu ibu rumah tangga versus ibu bekerja di luar rumah, ASI versus Susu Formula, hingga pro kontra imunisasi.  Lalu era digital datang menjelang. Bukannya surut, mom war justru menemukan lahan baru untuk dirambah.  Topiknya juga nambah!  Mulai dari pro kontra pemakaian gawai pada anak sampai perihal gaya hidup dan printilan pengasuhan anak di era digital. 


Keberadaan media sosial yang makin memudahkan para ibu untuk saling terhubung malah menambah luas lahan perang. Mom war pun merambah kavling di dunia maya.  Apalagi kalau bukan karena literasi digital yang masih minim di kalangan ibu?....

Baiklah, kondisinya memang seperti itu. Mau bilang apa lagi? …..

Bergerak dari kondisi tersebut, Penerbit Diva Press dan Komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB) menggagas sebuah lomba menulis dengan tema Stop Mom War bagi para emak blogger pada pertengahan tahun 2018 lalu. Dari ratusan peserta yang berpartisipasi, Dewan Juri memilih sepuluh tulisan terbaik untuk diterbitkan dalam bentuk buku.  Lahirlah buku antologi Stop Mom War.

10 tulisan dalam buku antologi Stop Mom War ini memuat pengalaman pribadi para penulisnya baik sebagai aktor maupun korban mom war. Selain memuat pengalaman, mereka juga sumbang saran seputar tips produktif untuk menghadapi mom war ala mereka masing-masing.  Saya adalah salah satu dari sepuluh penulis di buku Stop Mom War. 


Inilah kesepuluh tulisan yang dapat dinikmati dalam buku Stop Mom War: 

1. My Best Friend is A Working Mom  (Ajeng Pujianti Lestari) 
2. It Takes a Village to Raise A Mother ( Athiah Listyowati) 
3. Terjebak Mom War Berarti Tidak Bahagia (Dian Farida Ismyama)
4. Berada di Antara Dua Kubu Berbeda (Finna Kiyana) 
5. Kala Para Pejuang Suka Berperang (Gisantia Bestari) 
6. Ketika Postpartum Depression Melenyapkan Mom War dalam Diriku (Latifika Sumanti) 
7. Ibu Pembelajar Menjawab Tantangan Zaman (Novi Ardiani) 
8. Stop Bermusuhan dengan Gawai (Ruth Ninajanty)
9. Jadikan Media Sosial sebagai Penambah Wawasan Positif bagi Perempuan (Sri Mulyani) 
10. Mengubah dengan Cinta (Virgorini Dwi Fatayati) 



Kesepuluh tulisan ini memberikan inspirasi bagi pembaca, tentang bagaimana setiap pribadi sebagai seorang ibu memiliki perbedaan dan berproses dalam menerima perbedaan.  Merasa benar, adalah jebakan penglihatan terhadap perbedaan di luar sana.  Merasa paling benar, adalah sumbu utama pembakar mom war. Bukan soal siapa yang paling benar, tetapi bagaimana kita mampu menerima setiap perbedaan.
  
Masing-masing penulis di buku Stop Mom War menggunakan gaya menulisnya masing-masing.  Ada gaya kocak menyindir, sampai yang serius. Tapi nafasnya sama, bahwa mom war itu kontraproduktif! Mom war adalah cerminan rasa tidak percaya diri ibu dan bukti mereka tak mampu menerima perbedaan dengan hati legowo. 


Saya sendiri mengulas tentang ide ibu pembelajar untuk menjawab tantangan zaman di dalam buku ini. Stop mom war, jadilah ibu pembelajar. Idenya berawal dari kisah nyata diri sendiri dalam mengasuh anak yang alergi.  Sebagai korban mom war, saya menawarkan lima tips untuk mengakhiri semua peperangan sesama perempuan. Kelima tips itu adalah : 

1. Temukan passion 
Perempuan yang memahami di mana passionnya, akan memiliki semangat tinggi dan terjaga untuk melakukan sesuatu dengan senang hati dan gembira. 

2. Belajar, bekerja, dan berkarya sesuai passion
Jika sudah ketemu passion, lakukan trilogi belajar, bekerja, dan berkarya.  Nyalakan terus gairah sehingga bisa produktif dan bermanfaat.

3. Terus belajar hal baru, tularkan pada anak-anak 
Jangan berhenti di satu titik karena merasa puas.  Stay foolish and hungry.  Terus belajar mengikuti dinamika zaman dan tularkan pada anak sebagai bekal survival hidup.

4. Bergabung dengan komunitas dan berkolaborasilah 
Jangan menyendiri, bergabunglah dengan komunitas sesuai passion.  Atur skala prioritas dan hasilkan sesuatu yang baru dan bermanfaat dengan cara bekerjasama.

5. Sibukkan diri dengan terus belajar dan memperbaiki diri.
Cukupkan ketidaksukaan pada perbedaan hanya sampai di jalur berpikir otak.  Tidak perlu diterjemahkan jadi perang.  Jadikan itu bahan pemikiran untuk menyibukkan diri dalam proses pembelajaran.  Sibukkan diri dengan usaha memperbaiki diri sendiri dan hasilnya akan kembali pada diri kita sendiri. 


Mempelajari hal-hal baru yang bermanfaat dan sibuk memperbaiki diri sudah cukup menyita waktu agar setiap perempuan tidak sempat lagi berperang kata dengan sesamanya.  Itulah yang menjadi mantra bagi saya setiap saat.  Mendengungkan mantra itu membuat saya selalu akhirnya tidak membalas setiap ajakan perang.  Justru saya mengalihkan diri dengan sibuk belajar apa saja yang menurut saya perlu untuk survive sebagai ibu. Semua jadi lebih mudah setelah menemukan passion.
  
Kisah lain dalam buku ini yang bisa jadi inspirasi antara lain dituliskan Ajeng Pujianti Lestari.  Cerita Ajeng tentang sahabatnya -seorang ibu pekerja berhati mulia- meluluhkan persepsi tentang ibu kantoran yang nampak kejam karena tega meninggalkan anak untuk bekerja.

Kejam itu adalah penghakiman sepihak.  Tapi lain cerita jika hubungan yang terjalin dekat menunjukkan kemuliaan murni sebagai manusia, tanpa embel-embel apakah dia seorang ibu yang bekerja di luar rumah atau tinggal di rumah sepanjang hari. Ajeng menceritakannya dengan gaya bercerita polos yang agak lucu namun menyentuh hati.  



Ragam kisah lainnya dapat disimak, dan pastinya akan membuka cakrawala para ibu tentang bagaimana berjibaku menghadapi mom war. Buku ini mencerahkan. Serta konkrit.  Iya.  Para ibu dan calon ibu layak membacanya.  Percayalah, ibu layak tersenyum dan bahagia.  Bukan sibuk perang dan kontraproduktif!

Pada akhirnya, kita semua kaum ibu tetap adalah perempuan. Perempuan yang perasaannya lembut dan mudah tergores.  Perempuan yang emosinya lebih dulu terungkapkan daripada logikanya.  Sesama perempuan kita harusnya bisa saling memahami.

Perbedaan bukanlah bahan bakar untuk menyulut api peperangan.  Tetapi perbedaan adalah sebuah karunia yang apabila dikelola dan dikolaborasikan akan menghasilkan sesuatu yang menakjubkan.  Kenapa tidak?....  Yuk kita jadi Ibu Pembelajar yang saling berkolaborasi untuk menjawab semua tantangan zaman nan terbentang panjang di hadapan. Stop Mom War! (Opi) 



Informasi Buku :

Judul Buku : Stop Mom War
Penulis :  Kumpulan Emak Blogger 
Editor : Mika Ayunda
Cetakan Pertama 2018 
Penerbit Laksana, Diva Press Yogyakarta 
Tebal 204 halaman , Dimensi buku 14 x 20 x 1 cm 
Harga wilayah Pulau Jawa Rp 65.000,- 
Genre Parenting dan Family 

** Pembaca dapat membeli buku Stop Mom War di toko buku mayor di kota-kota besar, Gramedia online, atau langsung ke Penerbit Diva Press.  Dapat juga menghubungi saya via email ya. 


Behind The Scene

Kenapa Saya baca buku ini? Jelas karena saya termasuk dari salah satu penulis dalam buku antologi ini.  Masak ngga baca buku sendiri ya, kebangetan dong.  Cuma, memang saya tidak perlu membeli karena mendapatkan bukti terbit dari Penerbit.  

Saya tidak pernah berharap tulisan yang diikutkan ke lomba menulis ini akan masuk ke dalam pilihan 10 tulisan terbaik untuk dibukukan.  Seperti biasa, kalau sudah ikut lomba saya lupakan saja.  Menulis, kirim, lalu lupakan. Ternyata dinilai termasuk tulisan terbaik, tentunya senang.  

Saya ingin tulisan dalam buku ini dibaca banyak orang, supaya manfaatnya juga bisa dirasakan perempuan di mana saja.  Makanya beberapa kali saya “mengiklankannya” di media sosial pribadi. Dan, tidak lupa menulis ulasannya di blog saya sendiri ini.  Buku karya orang lain saja saya tulis reviewnya, buku tulisan sendiri masa ngga sih… he he he….. Hitung-hitung latihan nulis dan berbagi wawasan. Semoga manfaatnya mengalir sepanjang waktu…. Aamiin.  

Back to Top