Senin, Agustus 13, 2018

Cara Bijak Kelola Keuangan bagi “Mompreneur Wanna Be”



Mompreneur Wanna Be. Do you one of ?

Kalau iya, harus bangeeeet membekali diri dengan literasi finansial yang cukup. Dan yang lebih penting lagi, harus sudah mantap dalam pengelolaan keuangan keluarga. Supaya, keuangan usaha dan keluarga tidak tercampur baur. Nah, sudah belum?....  

Ngga usah panik kalau belum.  Tidak pernah ada kata terlambat kok untuk memulai sesuatu yang baik.  Better later than never. 

Di sini saya akan berbagi langkah-langkah apa saja yang wajib diterapkan para ibu dalam pengelolaan keuangan rumah tangga dan ketika akan melangkah di dunia wirausaha. Langkah-langkah tersebut dipaparkan Finansial Educator terkemuka Prita Hapsari Gozie dalam Workshop #IbuBerbagiBijak pada Rabu, 8 Agustus lalu di Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta.  “Bijak Kelola Keuangan, Kunci Keluarga dan Masa Depan Sejahtera”, begitu tajuk yang diusung dalam workshop ini.


Prita Gozie dikenal sebagai Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia yang juga pendiri dan Direktur perusahaan konsultan perencanaan keuangan ZAP Finance.  Prita juga aktif menulis buku dan menjadi narasumber untuk perencanaan keuangan.  

Workshop #IbuBerbagiBijak ini merupakan yang kedua kalinya dilaksanakan atas kerjasama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan PT Visa Worldwide Indonesia. Di tahun 2017, workshop serupa telah dilaksanakan dan berfokus pada manjemen keuangan keluarga.  Di tahun kedua ini, lebih difokuskan sebagai bekal literasi keuangan bagi para mompreneur maupun calon mompreneur. 



Selain mendengarkan pemaparan Prita Gozie, dalam workshop #IbuBerbagiBijak saya juga berkesempatan mendengarkan sharing dari mompreneur Jenahara Nasution, seorang designer yang berfokus pada usaha moslem fashion.  Suasana di aula lantai 2 Gedung Nyi Ageng Serang jadi terasa hangat dan seru, karena audiens yang hadir full!  Para ibu Pengurus Dharma Wanita Pemprov DKI Jakarta dan mombloggers dari berbagai Komunitas Blogger hadir dengan antusiasme tinggi untuk mengikuti workshop yang ditunggu-tunggu ini.  

Saya yang termasuk sangat newbie dalam belajar literasi keuangan, merasa sangat bersyukur ikut diundang oleh The Urban Mama Bloggers dalam kegiatan ini.  Sudah lama sekali ingin langsung belajar dari Mrs. Prita Gozie, dan kesampaian juga. Alhamdulillah...


Perempuan Perlu Belajar Pengelolaan Keuangan?


Perlu bangeeet. 

Sebabnya?  Perempuan sebagai Ibu adalah manajer keuangan keluarga yang harus dapat diandalkan.  Jadi, sangat penting bagi tiap ibu untuk membekali diri dengan pengetahuan yang memadai tentang pengelolaan keuangan keluarga. Literasi keuangan perempuan harus cukup. 

Sayangnya, ternyata masih ditemui adanya kesenjangan kemampuan literasi keuangan pada perempuan dan laki-laki.  Meskipun di tiap kelompok baik laki-laki maupun perempuan terjadi peningkatan literasi keuangan dari tahun ke tahun, namun survei yang dilaksanakan OJK (2018) mendapati kemampuan literasi perempuan (25,5%) masih lebih rendah daripada laki-laki (33,2%).   Untuk mengatasi kesenjangan ini, workshop #IbuBerbagiBijak hadir.



Direktur PT Visa Worldwide Indonesia Riko Abdurrahman yang membuka Workshop #IbuBerbagiBijak menyambut baik antusiasme para ibu untuk meningkatkan literasi keuangan.  “Selain membekali perempuan dengan literasi keuangan, kami juga ingin menginspirasi perempuan untuk menjadi wirausahawati yang mampu mengelola keuangan usaha dan keluarga dengan baik,” ujarnya. 


Dasar-Dasar Pengelolaan Keuangan Keluarga


Sebelum sampai ke pengelolaan keuangan bisnis, setiap ibu harus mantap dulu nih dengan pengelolaan keuangan keluarga. Ada 3 hal paling mendasar dalam pengelolaan keuangan keluarga yang harus diperhatikan untuk mencapai keuangan ideal.  Tiga hal tersebut adalah:

1. Financial Check Up
2. Mengelola Arus Kas
3. Merencanakaan Keuangan 

Mari kita tilik satu persatu. 


1. Financial Check Up

Sebelum mengelola keuangan rumah tangga, perlu diketahui dulu kondisi awal keuangan keluarga saat ini.  Sehat kah?  Kondisi keuangan keluarga yang sehat dapat diindikasikan dengan empat indikator ini nih :



a. Apakah ada utang/pinjaman ?  

Jika ada utang, coba dicek apakah utang tersebut utang produktif atau konsumtif? Utang produktif misalnya cicilan rumah, cicilan emas, atau cicilan properti. Utang produktif disarankan besarnya di bawah 30% penghasilan.  Semakin besar utang baik produktif maupun konsumtif, maka makin tidak sehat kondisi keuangan keluarga. 
Notes penting dari Prita Gozie: “ Jika Anda akan membeli sesuatu dengan cara berhutang/cicilan, pastikan bahwa produk yang dibeli memang layak dibeli dengan cara cicilan (bukan produk konsumtif). Jika terpaksa mencicil barang konsumtif, pastikan Anda tidak mengambil cicilan baru sebelum cicilan yang lama lunas.” 



b. Apakah biaya hidup lebih besar dari pemasukan?

Pedoman “Jangan lebih besar pasak daripada tiang” wajib dipegang teguh.  Idealnya biaya hidup adalah maksimal 50% dari jumlah pemasukan.  Apabila selama ini biaya hidup lebih dari itu, atau bahkan selalu kurang, maka perlu dicek kembali. Apakah biaya yang dikeluarkan betul-betul perlu?  
Untuk mengecek ulang, beri tanda pada pengeluaran mana yang prioritas, mana yang wajib, mana yang butuh, dan mana yang hanya sekedar ingin?..... 
Note penting dari Prita Gozie: “ Jika setiap bulan Anda selalu ada pinjaman untuk keperluan biaya hidup, artinya keuangan Anda tidak sehat”. 



c. Apakah punya dana darurat?

Idealnya, dana darurat tersedia dalam bentuk kas sejumlah tiga kali pengeluaran rutin. Maksudnya, apabila hal buruk terjadi misalnya kehilangan pekerjaan atau kepala keluarga wafat, maka masih tersedia dana untuk melanjutkan hidup selama tiga bulan sambil mencari pekerjaan atau sumber penghasilan baru.  
Bahkan untuk keluarga yang punya anak usia sekolah, idealnya punya dana darurat sebesar 12 kali pengeluaran rutin.  Sehingga ketika hal buruk terjadi, anak-anak tidak harus putus sekolah.  
Note penting dari Prita Gozie: “ Dana darurat harus dalam bentuk kas/ tunai.  Boleh dipadu dengan emas, tetapi dalam bentuk kas harus tetap ada.  Itulah gunanya kita memiliki tabungan.” 



d. Apakah punya tabungan?  

Tabungan bukan hanya untuk dana darurat, melainkan juga untuk mewujudkan rencana-rencana pengeluaran di hari esok seperti liburan.  Tabungan juga bisa sebagai modal investasi untuk masa depan. 
Note penting dari Prita Gozie: ”Dompet Digital tidak dapat dikategorikan sebagai tabungan. Bahkan, cenderung membuat diri menjadi konsumtif apabila tidak melakukan batasan pengeluaran dengan bijak.” 



Setelah tahapan financial chek up ini dilakukan, langsung ketahuan kan kondisi real keuangan keluarga saat ini?.. Cukup sehat?  Atau sakit parah?  Yuk dibenahi .... Setelah berbenah, baru masuk ke tahap kedua ini. 


2. Mengelola Arus Kas

Bagaimana cara yang bijak dalam mengelola arus kas? Intinya harus ada kesadaran bahwa pemasukan adalah given, sementara pengeluaran butuh dikendalikan oleh diri masing-masing.  
Sebagai pedoman, harus ada keseimbangan antara uang yang masuk dengan uang yang keluar.  Pemasukan keluarga dapat diperoleh dari gaji, keuntungan usaha, ataupun bonus.  Sementara pengeluaran keluarga, lazimnya dibedakan menjadi:

a. Zakat/Sedekah , idealnya 5% dari pemasukan
b. Assurance /Jaminan, idealnya meliputi dana darurat berupa kas dan asuransi, totalnya  = 10% dari pemasukan 
c. Present Consumption, yaitu pengeluaran masa kini termasuk biaya hidup = 30% dari pemasukan. Perlu diingat bahwa sangat pantang berhutang untuk pemgeluaran rutin. 
d. Future Spending, yaitu pengeluaran masa depan misalnya untuk liburan, khitanan, pernikahan, sekolah, mudik dll = 10% dari pemasukan.
e. Investasi = 15 % dari pemasukan.
f. Cicilan/Pinjaman, idealnya jangan lebih dari 30% pemasukan keluarga. 



3. Merencanakaan Keuangan 

Merencanakan keuangan sederhanaya adalah mengetahui dengan pasti apa kebutuhan dan mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan keluarga, serta cara mencapainya. Rencana- rencana yang ingin dilakukan mungkin membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  Agar biaya tersebut tidak lebih besar dari pemasukan maka ada alternatif pilihan untuk menambah income keluarga dengan menjalankan usaha.  

Menjadi mompreneur saat ini adalah pilihan ibu bijak untuk membantu menopang hidup keluarga saat ini dan di masa depan. Sebab pilihan hanya dua, menambah income atau mengurangi pengeluaran.  

Note penting dari Prita Gozie:” Kita semua punya mimpi-mimpi untuk diwujudkan.  Tetapi menabung saja tidak cukup, karena ada inflasi yang selalu menggerus nilai mata uang.”

5 Langkah Pengelolaan Keuangan Usaha


Apabila dasar pengelolaan keuangan keluarga sebagaimana tahapan di atas sudah dimantapkan, maka ibu akan melangkah ke tahap berikutnya yaitu mengelola keuangan usaha. 
Mengapa berusaha?

Usaha (menjadi mompreneur) merupakan salah satu cara bagi ibu untuk menambah penghasilan keluarga.  Cara lain yang dapat ditempuh adalah bekerja secara aktif atau menjadi investor. Biasanya, sebelum nyemplung ke duania usaha, ibu akan menghadapi tantangan baru berupa: 

a. Mau usaha apa? Biasanya ibu bingung, mau usaha apa ya yang bisa menambah income keluarga?  Saran dari Prita Gozie, sebaiknya usaha yang dijalani bermula dari kesukaan atau hobi ibu yang sudah menemukan pasar yang tepat. Sesuai dengan passion lah. Jika belum, ibu tampaknya harus menggali lagi.  Jangan sampai usaha yang dilakukan cuma jadi jam sibuk yang tidak menghasilkan.  Bedakan antara mengelola bisnis dengan mengisi waktu luang ya ibu. 



b. Tidak tahu untung rugi.  Ini jadi tantangan besar karena ibu yang baru memualai usaha biasanya masih mencampur aduk biaya keluarga dengan biaya usaha.  Untuk itu, sejak awal harus sudah dipisahkan antara keuangan keluarga dan usaha.  Alangkah baiknya, ibu memiliki catatan arus kas tersendiri.  Bahkan sangat penting untuk mencatat modal investasi dan biaya yang dikeluarkan secara detil. 

c. Pertimbangan modal dan mitra.  Ini juga terkadang jadi dilema.  Tapi jangan lama-lama ya ibu dilemanya.  Akan bermitra atau jalan sendiri, maupun bermodal besar atau kecil, harus dipetakan dengan jelas baik buruknya. Jika baru mulai dan sangat newbie, ada baiknya jalan sendiri.  Tetapi jika peluang pasar nampak sangat baik, dan untuk hal-hal tertentu bukan merupakan keahlian ibu, tidak ada salahnya bermitra. 



Apabila ketiga hal dasar tersebut sudah KLIK dan PAS untuk ibu, maka ibu dapat memulai usaha dan menjalankan kelima langkah /tips dari Prita Gozie ini:  

1. Punya Rencana Pengeluaran 
2. Berpantang Utang Konsumtif
3. Sisihkan untuk Tabungan dan Investasi
4. Sediakan Dana Darurat
5. Jangan Abaikan Asuransi Kesehatan dan Jiwa 

Yuk kita bahas satu persatu: 

1. Punya Rencana Pengeluaran 
Rencana pengeluaran sebaiknya dirinci dan dipisahkan dari keuangan rumah tangga.  Pengeluaran seperti gaji bagi diri sendiri, ongkos angkut, alat-alat produksi, atau tempat usaha yang kebetulan menggunakan aset rumah tangga juga harus dihitung. Supaya, bisa ditentukan berapa omzet usaha dan biayanya.  Omzet usaha dikurangi biaya adalah keuntungan usaha.  Keuntungan usaha ini nantinya menjadi pemasukan (dana kas masuk) bagi keuangan rumah tangga. 
Note penting dari Prita Gozie: “ Setiap keuntungan sebaiknya dalam bentuk kas, baru dimasukkan ke dalam pendapatan keluarga.” 

2. Berpantang Utang Konsumtif
Dalam menjalankan usaha, boleh saja berhutang untuk menambah modal usaha.  Ini yang disebut utang produktif.  Tetapi, jangan sekai-kali berutang konsumtif saat menjalankan usaha, apalagi belum menghasilkan keuntungan. Utang konsumtif misalnya berutang untuk pembelian yang tidak memberikan benefit pada keberlanjutan usaha. Selain mengganggu dana kas, juga akan menggerus laba jika ada.  
Note penting dari Prita Gozie:”Setelah memulai usaha jangan sampai punya utang konsumtif, itu pertanda usaha tidak sehat.”



3. Sisihkan untuk Tabungan dan Investasi
Dari setiap keuntungan usaha, sisihkan untuk tabungan dan investasi yang bertujuan keberlanjutan dan pengembangan usaha.  Sisihkan walau keuntungan belum banyak.  
Note penting dari Prita Gozie:” Menyisihkan sebagian keuntungan usaha untuk tabungan dan investasi usaha itu harus, supaya ketika usaha makin berkembang, ibu punya bayangan bagaimana melanjutkan usaha.”

4. Sediakan Dana Darurat
Dana darurat usaha ini terpisah dengan dana darurat pada keuangan keluarga. Jumlahnya dapat disesuaikan lebih dulu dengan perkembangan usaha. 
Note penting dari Prita Gozie:” Dengan adanya dana darurat berupa kas dapat menjaga keberlanjutan usaha ketika terjadi dinamika usaha dan krisis.” 

5. Jangan Abaikan Asuransi Kesehatan dan Jiwa
Ketika usaha makin berkembang, ibu akan menyadari bahwa asuransi kesehatan dan jiwa sangat penting.  Saat usaha makin maju, ada kemantapan hati ibu untuk resign dari pekerjaan sebagai pegawai kantoran dan fokus menjalankan usaha.  Nah, jika sebelumnya asuransi kesehatan ditanggung oleh kantor maka setelah menjadi wirausaha harus menanggung sendiri biaya tersebut. 



Note penting dari Prita Gozie:”Usaha yang dijalankan ibu tidak selamanya mendatangkan keuntungan yang besar.  Ada masa pasang dan masa surut.  Memiliki asuransi kesehatan dan jiwa akan mebantu ibu untuk mengalokasikan biaya berobat dengan bijak.  Sehingga, tidak perlu pusing memikirkan dana tunai untuk berobat ketika membutuhkan sementara usaha sedang surut.“

Dalam berbisnis, ada kalanya ibu mungkin harus write off terhadap piutang dari klien yang tidak terbayar hingga bertahun-tahun. “Ya sudah direlakan saja untuk yang demikian.  Tidak perlu lagi dicatat terus karena kenyataannya tidak bisa tertagih dan tidak jadi kas,” ujar Prita. 

Nampaknya ribet ya, belum mulai usaha tapi sudah harus memikirkan tentang pengelolaan keuangannya. Ribet di awal lebih baik ibu, dibandingkan setelah menjalankan usaha ibu lalu bingung. Perencanaan yang matang memang mutlak dibutuhkan.  Itu baru namanya Ibu Bijak.  

Tips Mompreneur dari Jenahara Nasution


Jika Prita Gozie banyak membahas langkah dan tips pengelolaan keuangan yang ideal, Jenahara sebagai designer yang sudah 7 tahun ini terjun di dunia usaha moslem fashion memberikan beberapa tips praktis. 



Ini dia tips dari Jenahara:

a. Tentukan tujuan utama dan motivasi yang kuat, yang mampu membuat kita bangkit ketika jatuh dan tetap berjalan ketika hasil seolah tidak kunjung nampak.  
b. Dari tujuan utama, tetapkan target dan pecah target itu menjadi target-target kecil yang harus dicapai dalam waktu tertentu.  Berusahalah konsisten mencapai target itu dengan melihat lagi tujuan utama. 
c. Konsisten untuk memisahkan secara detil keuangan rumah tangga dengan keuangan bisnis
d. Pilih mitra atau partner bisnis yang dapat dipercaya dan membuat kita terus termotivasi untuk maju

Putri pasangan Ida Royani dan Keenan Nasution ini memang sudah bercita-cita menjadi designer sejak kecil.  Namun baru mulai berbisnis ketika telah berumah tangga dan hamil anak kedua. 



Selain mendengarkan pemaparan Prita Gozie dan Jenahara Nasution, para undangan juga menerima buku saku Ibu Bijak yang berisikan pengetahuan dan wawasan literasi keuangan bagi perempuan.  Isinya sangat bermanfaat buat para ibu, termasuk saya. Terima kasih dan apresiasi untuk The Urban Mama yang telah mengikutsertakan saya dalam Workshop #IbuBerbagiBijak yang sangat bermanfaat ini. 

Saya berharap , sharing tentang #IbuBerbagiBijak bisa menambah kesadaran dan motivasi kita sebagai ibu untuk meningkatkan literasi keuangan dan terus belajar. Supaya makin keren dalam mengelola keuangan keluarga, berani jadi mompreneur, dan makin mantap mengelola keuangan bisnisnya. Semoga ya.....  (Opi)  

Senin, Agustus 06, 2018

7 Tips Menjadi Panutan Positif untuk Menjaga Psikis Anak Sejak Dini



“Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga”
Pada umumnya, sifat dan perilaku anak akan mengikuti teladan orang tuanya.

“Ibu, hati-hati ya di tempat tugas. Jangan lupa sholat lima waktu. Terus jangan lupa banyak makan buah-buahan dan sayur supaya segar ya.  Semoga lancar tugas Ibu ya. Aku sayang Ibu,” begitu kata anak sulung kepada saya di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta, Minggu malam itu. 

Bersama ayahnya, Si Sulung yang belum genap berusia 10 tahun mengantar saya ke Bandara untuk penerbangan malam dalam rangka perjalanan dinas ke Papua selama sepekan. Senin pagi Pukul 9.00 waktu setempat saya sudah harus berada di Merauke untuk tugas kantor.  Maskapai penerbangan Garuda telah siap untuk penerbangan malam ke Jayapura, dengan waktu tempuh sekitar 6 jam. Kemudian dilanjutkan dengan penerbangan dari Jayapura ke Merauke pada Senin pagi harinya. 

Saya berlutut dan menatap wajah anak sulung dengan senyum haru. Penuh kasih sayang, sebuah kecupan di kening dan belaian di kepala saya persembahkan padanya.  Masih dengan senyum, saya menjawab,”Pasti, Nak. Insha Allah. Tetap bersikap baik walau ngga bareng Ibu dan jaga adik ya.”

Diantar Si Sulung ke Bandara dan berfoto sebelum berangkat dinas 
Kami sempat berfoto sebelum berpisah. Ketika tangan mungilnya melambai dan saya berlalu ke dalam terminal Bandara, rasa haru saya makin menyeruak di dada.  Kata-kata si Sulung menggema terus di telinga. Kata-kata yang diucapkannya sama persis seperti yang selalu saya ucapkan ketika ia akan pergi kegiatan outing.  “Hati-hati di tempat sana ya, Nak. Jangan lupa sholat lima waktu.  Terus jangan lupa makan buah-buahan dan sayur supaya segar.  Semoga lancar kegiatanmu ya. Ibu sayang Dio.” 

DEG.

Ucapan-ucapan itu berbalik kepada saya. 


Jadi, apa yang saya ucapkan serta lakukan, adalah role model yang otomatis ditiru oleh anak. Mungkin kalau saya sering berucap,” Jangan nakal ya. Makan yang banyak. Nurut sama Bu Guru ya.” Bisa jadi si sulung akan berpesan,” Jangan nakal ya Ibu.  Makan yang banyak.  Nurut sama Bos ya.” Bisa jadi.... Saya nyengir membayangkannya.

Saat pesawat mengudara, lampu sudah dimatikan, dan sebagian besar penumpang terlelap, ingatan saya malah terlempar pada peristiwa di rumah beberapa jam lalu. 


“Ayo ibu, bergegas..bergegas. Jangan berlambat-lambat,” kata Si Bungsu pada saya ketika ibunya ini masih duduk-duduk santai sementara ayahnya sudah siap mengantar ke Bandara.  Saat mengingatkan saya, mata Si Bungsu sudah mengantuk berat, sudah hampir Pukul 21.00 Wib.  Biasanya sudah lelap.

Saya jadi kembali tersenyum mengingat kata-kata yang diucapkan Si Bungsu.  

Itu sama persis dengan yang selalu saya ucapkan setiap pagi ketika melihatnya berlambat-lambat saat sarapan atau mandi pagi. "Ayo Dede bergegas, bergegas. Jangan berlambat-lambat, " begitu kata saya biasanya. Maksud saya sih, supaya anak terbiasa cekatan di pagi hari, agar tidak terlambat berangkat ke sekolah. Saya juga seringkali mengucapkan kata-kata itu ketika kelihatan anak-anak masih bersantai-santai padahal kita akan berangkat ke sebuah acara atau kegiatan di luar rumah.  

Ah, rupanya semua kata-kata yang diucapkan ibu pada anaknya menjadi contoh untuk mereka tiru.  Pada kesempatan berbeda, namun konteks yang sama, kata-kata itu akan berbalik mereka tujukan kepada kita. Itu yang saya alami. 

Lagi-lagi saya ngengir mengingatnya.


Apakah Bunda mengalami hal yang mirip?.......


Semua pasti memiliki kisahnya masing-masing.  Namun, pada intinya kita sepakat bukan, bahwa orang tua adalah panutan bagi anak.  Mereka mencontoh apa yang dikatakan dan dilakukan orang tuanya. Mengacu dari sana, pasti kita ingin menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita bukan? Contoh yang baik akan menjadi makanan jiwa yang baik juga bagi anak.  

Anak-anak kita bukan hanya butuh makanan untuk fisiknya, tapi juga butuh suplai makanan  bagi psikisnya.  Contoh perkataan, perbuatan, dan kebiasaan yang baik sejak dini akan menumbuhkan psikis yang sehat dan moralitas yang baik bagi anak-anak sebagai bekal kemandiriannya saat dewasa.  Agar ia pandai membawa diri di lingkungan di mana ia berada. Agar ia survive. 

Seperti apa sih contoh yang baik itu? Bagaimana agar sebagai orang tua bisa jadi panutan yang baik bagi anak?  Bagaimana menumbuhkan psikis yang baik sejak dini dengan segala sumber daya dan keterbatasan yang dimiliki orang tua? Bukankah kita sebagai orang tua juga manusia yang bisa lelah dan salah?  Pertanyaan itu pula yang selalu hadir di benak para orang tua. Iya, itu manusiawi sekali. 


Alhamdulillah, saya mendapatkan jawabannya saat mendengarkan sharing Dr. dr. Tjhin Wiguna Sp.(KJ) (K), seorang Psikiater Anak dan Remaja yang sehari hari bertugas di Divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Departemen Medik Ilmu Kesehatan Jiwa RSCM- FKUI.  

Bertempat di Paradigma Kafe, Cikini Jakarta pada Selasa tanggal 31 Juli 2018 lalu, Dr Tjhin berbagi tips pada para mom bloggers dalam kegiatan “Blogger Gathering Halodoc bersama Mom Blogger Community yang bertajuk Tips Menjaga Psikis Anak Sejak Dini”.  Acara ini dihadiri oleh anggota Komunitas Mom Blogger Community dan Instagrammer #PakeHalodoc dengan sangat antusias.    
  


“Sebagai orang tua sudah seharusnya bersikap asah, asih, asuh kepada anak.  Asah dilakukan dengan memberikan stimulasi yang tepat untuk tiap tahap perkembangan anak.  Asih dilakukan dengan melimpahkan kasih sayang.  Asuh dilakukan dengan memenuhi sandang, pangan, dan papan,” demikian papar Dr Tjhin.  

Namun, mengasah ternyata tidak cukup hanya dengan stimulasi.  Dr Tjhin mengungkapkan, bahwa role modelling yaitu orang tua memperlihatkan perilaku yang baik sehari-hari juga turut mempengaruhi terbentuknya moralitas anak yang lebih baik.  

“Kita semua berharap, anak-anak bukan sekedar pintar secara akademik.  Namun, kita ingin mereka memiliki moralitas yang baik yaitu mampu membawa diri di dalam lingkungan di manapun ia berada, dan mampu membedakan mana yang pantas dan tidak pantas, benar dan salah, serta berperilaku baik,” ujar Dr Tjhin.   


Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita sering menemui perilaku anak yang tidak pantas di depan umum, tetapi orang tuanya hanya membiarkan. Gemas ya, ingin menegur tetapi jadi gamang karena menyaksikan bahwa orang tuanya saja tidak melakukan apa-apa. Padahal, itu terjadi di depan mata mereka! Siapa yang harus bertanggung jawab ketika anak gagal membawa diri di lingkungan? Orang tua! Ya, karena mungkin perilaku itu ditirunya dari orang tua. 

Untuk itu Dr Tjhin menawarkan 7 tips berikut ini bag para orang tua agar anak-anak memiliki psikis yang baik dari role modelling orang tuanya.  


Apa saja tips dari Dr Tjhin? Ini dia: 


1. Bantu anak menemukan panutan dalam bidang yang disukai, kenalkan anak Anda dengan orang tersebut.


Misalnya, anak menyukai sains dan teknologi.  Maka, bantulah anak untuk mengakses beragam informasi tentang orang-orang yang berprestasi di bidang tersebut.  Kenalkan pada kisah-kisah tokoh dunia seperti Thomas Alfa Edison dan Albert Einstein misalnya yang bisa jadi tokoh hebat sepanjang masa walau dengan ujian pahit di masa kecilnya. 

Ini akan membuat anak memiliki spektrum yang luas tentang moralitas yang baik.  Bahwa tokoh-tokoh hebat itu pantang menyerah menghadapi ujian berat dan memiliki jiwa yang kuat. Motivasi ini penting bagi anak. Mereka butuh contoh yang kongkrit.


2. Bicara dengan anak tentang orang-orang yang telah bekerja untuk membuat perubahan positif dalam kehidupan  atau di sekitar mereka 


Berdiskusilah dengan anak tentang peran nyata orang di sekitar kita yang sangat berarti dalam kehidupan.  Misal: ada tetangga yang aktif melakukan penghimpunan dana untuk anak cacat, yatim, dan terlantar.  Contoh itu bisa kita diskusikan dengan anak.  Anak bisa belajar untuk mengasah humanisme dan belas kasihan.  Juga, menajamkan empati dan kasih sayangnya terhadap sesama. 

3. Usahakan untuk selalu melingkupi rumah tangga dengan suasana Ilahiyah, menghidupkan lentera keagamaan di dalam rumah


Orang tua boleh saja sibuk bekerja untuk mencari nafkah.  Tetapi jangan lupa untuk tetap meluangkan waktu di rumah untuk menghidupkan semangat beribadah pada anak-anak setiap saat.  Rumah, adalah wadah yang tepat untuk itu.  

Rumah yang selalu dipenuhi dengan lantunan doa dan kajian agama adalah rumah yang penuh berkah.  Worthed untuk diperjuangkan.  Percayalah ini sangat mempengaruhi moralitas anak. 


4. Beri pujian sewajarnya, tidak berlebihan yaitu ketika anda melihat sikap, perilaku dan bahasa anak yang positif.


Ketika melakukan hal yang sepantasnya, anak perlu diapresiasi dengan pujian.  Sewajarnya saja misalnya ,”Good Job! Ibu bangga kamu sudah melakukannya dengan baik!” atau,” Ini keren. Begitu seharusnya anak hebat!” 
Pujian yang wajar membuat anak merasa dihargai.  Anak yang merasa dihargai akan tumbuh kepercayaan dirinya, bahwa ia mampu melakukan sesuatu yang berarti bagi lingkungannya.

5. Mampukan diri dalam mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain (anak), dan belajarlah untuk terus memotivasi diri sendiri serta mampu mengolah emosi dengan baik, lalu semangati anak untuk selalu bersikap dan berperilaku positif


Bagaimana caranya memampukan diri?  Berlatih.  Itu satu-satunya cara.  Latihlah secara terus menerus dan bertahap.  Kemampuan mengenali perasaan dan mengelolanya akan  membantu orang tua menangani anak dengan tepat. Orang tua wajib mengenali perasaan dan sikap anak saat sedih, gembira, kesal, dan marah.  Orang tua jadi tahu bagaimana seharusnya menghadapi anak yang sedang kesal, senang, marah, atau sedih.  


Sikap yang tepat saat berhadapan dengan anak dengan emosinya, akan membentuk hubungan emosi yang baik antara orang tua dan anak.  Anak akan meniru bagaimana orang tua memperlakukan dirinya.

6. Ingatkan dan beri contoh pada anak dalam menjalankan tata krama kehidupan sehari-hari, seperti : bersyukur, berterima kasih, memaafkan, meminta maaf, bertanggung jawab, menolong, memberi salam dan sebagainya 


Bersyukur bisa dilatih dengan membiasakan anak untuk menghabiskan makanan yang diambil maupun berbagi makanan dengan teman atau tetangga. Sebagai orang tua kita juga secara real melakukannya, memberi contoh dengan perbuatan, bukan hanya memberi nasehat dberupa kata-kata.  Nah, tentangan besar kan Bunda?...



7. Hidupkan dan tumbuhkan empati pada anak.  Misalnya dengan melibatkan anak menjenguk orang sakit, memaknai penderitaan orang lain, dll. 


Dr Tjhin mengingatkan, dalam menjalankan tips tersebut ada dua hal utama yang menjadi pegangan dalam upaya fokus menjadi panutan yang positif bagi anak.  Kedua hal tersebut adalah: 

1. Tunjukkan pada anak bahwa orang tua terus menunjukkan sikap dan perilaku yang positif .  Jadi kita sebagai orang tua juga terus belajar dan berlatih, praktek memperbaiki sikap hari ke hari.  Proses ini juga akan dilihat oleh anak.

2. Tunjukkan pada anak bahwa orang tua selalu berorientasai pada tujuan dan perencana yang baik. Merencanakan sesuatu akan melatih anak menghargai proses.  Kita tekankan pada anak-anak bahwa semua ada proses untuk mencapai sesuatu.  Tidak ada hasil instan yang bagus.  Dengan demikian, anak jadi lebih sabar dan tertata.    


Bagaimana Jika Anak Sudah Terlanjur Meniru Perilaku Negatif Orang Tuanya? 


Pemaparan Dr Tjhin cukup membuat para mom blogger yang hadir tergerak untuk bertanya.  Satu pertanyaan yang mewakili kebanyakan para orang tua adalah, bagaimana jika anak sudah terlanjur terkontaminasi perilaku buruk orang tua? 

“Jika orang tua sudah sadar akan perilaku yang buruk, segera lakukan perubahan sikap. Tunjukkan perubahan sikap itu kepada anak-anak kita.  Terus menerus secara konsisten.  Lama-lama anak akan merekam kembali sikap kita yang baru dan kekuatannya bisa menghapus contoh buruk sikap yang sebelumnya,” kata Dr. Tjhin.


Dr Tjin mengingatkan bahwa tidak ada metode pengasuhan yang paling benar dan paling salah untuk semua. Yang ada adalah kita sebagai orang tua berbenah dan memperbaiki diri terus menerus.  Memperbanyak rekaman model positif adalah jalan terbaik untuk membentuk sikap anak-anak kita.

Mengasuh anak bukanlah hal yang sederhana.  Dibutuhkan orang sekampung untuk mendidik seorang anak, seperti kata Pepatah Afrika Kuno: “It Takes a village to raise a child”.  Iya, anak-anak kita bukan hanya terdidik oleh contoh yang dilihat dari orang tuanya, tetapi juga contoh dari orang-orang dewasa di lingkungan terdekatnya.  Alangkah baiknya jika orang dewasa bersatu untuk memberikan contoh yang baik pada anak. 



HALODOC Ikut Ambil Peran Untuk Anak Indonesia Sehat 


Kepedulian untuk ikut mewujudkan kondisi anak Indonesia yang sehat fisik maupun mentalnya juga diwujudkan oleh Halodoc. Dalam memperingatai Hari Anak Nasional inilah Halodoc sebagai aplikasi kesehatan terpadu berbasis online bekerjasama dengan Mom Blogger Community turut mengedukasi orang tua melalui #HalodocxMBC Gathering ini.  

#HalodocHariAnak mempercayai kegiatan ini berdampak positif bagi orang tua, terutama para mom blogger yang hadir.  Offline Marketing Manager Halodoc Nana Nirmala mengungkapkan bahwa Halodoc memiliki komitmen yang tinggi terhadap kesehatan anak dan keluarga. Salah satu komitmen ini diwujudkan dengan mengalokasikan subsidi harga untuk obat-obatan yang dibeli customer dengan aplikasi Halodoc.  


“Harga obat jadi relatif lebih rendah namun kualitas dan jenis obat yang sama.  Ini karena ada subsidi harga dari Halodoc,” kata Nana.  

Aplikasi Halodoc saat ini mulai banyak digunakan oleh para orang tua untuk berbagai kebutuhan kesehatan.  Selain aman dan mudah, aplikasi ini memiliki beragam fitur yang sesuai dengan berbagai kebutuhan.  

Fitur-fitur layanan yang ada di aplikasi Halodoc adalah Hubungi Dokter, Apotik Antar, dan Lab Service. 

1. Hubungi Dokter

Fitur layanan ini memfasilitasi para pengguna untuk berinteraksi secara langsung dengan ribuan dokter terpilih melalui voice call, video call, atau chat. Tim medis yang melayani terdiri dari dokter umum, spesialis anak, internis, hingga spesialis mata yang online selama 24 jam.  

2. Apotik Antar

Fitur layanan ini membantu para pengguna dalam membeli suplemen, vitamin, dan obat dengan resep Dokter secara cepat, aman, dan nyaman.  Layanan apotik 24 jam ini tidak dikenakan biaya pengantaran, tanpa minimal nominal pembelian. Kita bisa langsung memesan obat pada fitur layanan ini semudah dan secepat yang dibutuhkan. 

3. Lab Service 

Fitur layanan ini memberi kemudahan bagi pengguna untuk melakukan pengecekan kesehatan dengan kedatangan petugas lab (phlebotomist) ke rumah atau kantor untuk mengambil sampel darah atau urin. Bekerjasama dengan Prodia, Halodoc menyediakan layanan ini untuk wilayah Jakarta Pusat dan Selatan.  



Informasi lebih lanjut tentang Halodoc dapat ditilik di : 
website: www.halodoc.com
Instagram: @halodoc
#HariAnak
#PakeHalodoc
#HalodocxMBC

Dari lubuk hati yang terdalam, ketika alinea terakhir ini dituliskan, saya ingin menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Halodoc dan Mom Blogger Community untuk Gathering yang berkualitas ini.  Kehadiran dan ulasan narasumber ahli Dr Tjhin membuka mata saya sebagai orang tua, bahwa dengan segala sumber daya dan keterbatasan yang dimiliki orang tua, saya bisa terus berusaha menjadi panutan positif.  Asalkan mau belajar dan konsisten mempraktekkan, pasti bisa. Mari orang tua terus berbenah, untuk anak tercinta yang sudah jadi amanah. (Opi) 

**Foto foto adalah dokumentasi penulis dan Mom Blogger Community





Kamis, Agustus 02, 2018

Screen Time Kreatif Penuh Warna Bersama Faber-Castell Colour to Life


Senin petang yang remang.

Adzan Maghrib telah berkumandang ketika saya tiba di Stasiun Pondok Cina, Depok.  Hap, akhirnya bisa bernafas lega turun dari Kereta Rel Listrik (KRL) Commuterline yang penuh sesak.  Dua belas gerbong itu pun berlalu. Sebagian penumpang yang turun bergegas menuju tempat sholat Maghrib di area stasiun, sebagian bersegera ke area parkir kendaraan, sebagian lagi menyebar ke jalan menuju tujuannya masing-masing.  Saya termasuk yang langsung menelusur menuju Jalan Margonda Raya.

Bersama penat selepas kerja kantor saya menyeberang Jalan Margonda Raya yang ramai, menuju Toko Gramedia Depok.  Ini Gramedia terdekat yang ada di area tempat tinggal saya. Ada misi penting yang ingin ditunaikan! Iya misi penting! Lelah sepulang kerja pun terkikis oleh semangat menunaikan misi penting ini.
  
Sebelum masuk ke toko, saya turun ke lower ground untuk sholat Maghrib dan selonjor sebentar sambil mengumpulkan tenaga. Saya lebih suka sholat di sini daripada di stasiun, lebih nyaman dan tenang. Lalu seperti biasa, kalau sudah Maghrib dan saya belum tiba di rumah, telepon genggam akan berdering-dering.  Dua bocah di rumah selalu sibuk menelepon ibunya jika belum tiba dari kantor sementara hari sudah gelap. 

“ Assalamualaikum Ibu.  Ibu sudah sampai di mana?  Sudah keluar dari kantor kan?” seperti biasa suara Si Sulung yang belum genap sepuluh tahun akan mengecek keberadaan ibunya.
“ Waalaikum salam Mas Dio dan Dede Ningrum.  Iya, ibu sudah di Gramedia Depok, sudah dekat rumah kok. Ibu mau beli sesuatu dulu sebentar.  Tunggu ya,” jawab saya. 

Beberapa menit kemudian saya pun berhasil menunaikan misi penting itu.  Apa sih? Misi penting itu adalah membeli satu paket Faber-Castell Colour to Life di Gramedia.  Itu kah misi pentingnya? Iya Bunda.  


Misi penting ini berhubungan dengan SCREEN TIME. Tapi bukan sekedar screen time.  Saya mau screen time yang cerdas dan kreatif buat anak-anak saya. 

Tentang Screen Time di Keluarga Kami 


Sudah beberapa pekan ini saya kehabisan ide untuk menghadirkan screen time yang positif buat anak-anak. Iya screen time.  Bunda semua pasti sudah akrab dengan istilah screen time bukan? Iyess, screen time adalah waktu yang dihabiskan di depan layar digital, entah itu perangkat komputer, laptop, televisi, smartphone, atau perangkat gadget lainnya.  

Setuju kan kalau hampir TIDAK MUNGKIN bagi anak-anak Generasi Milenial steril dari gadget? Hey, mereka ditaqdirkan sebagai digital native!  Sementara saya orang tuanya, adalah digital immigrant yang tertatih-tatih belajar parenting untuk memahami bagaimana menumbuhkan anak berkarakter di zaman serba mudah tapi edan ini.  



Sudah hampir lima tahun ini sekeluarga kami hidup tanpa siaran televisi.  Screen time dengan layar televisi hanya digunakan untuk menonton CD berisi film yang sudah kami pilih dan yakin aman untuk anak-anak. Tapi, karena sudah terbiasa tanpa TV sejak usia dini, anak-anak jarang sekali menyetel CD. Sepulang sekolah mereka lebih suka main sepeda, main bola, atau membaca buku.

Saya memang menerapkan pembatasan penggunaan gadget sesuai dengan rekomendasi The American Academy of Pediatrics (2013) dan Canadian Paediatrics Society (2010). Anak-anak di bawah usia 3 tahun sebaiknya tidak diberikan izin bermain gadget, termasuk TV, smartphone, ataupun tablet.  Anak-anak usia 3 hingga 4 tahun disarankan menggunakan gadget kurang dari satu jam dalam sehari. Sedangkan anak-anak usia 5 tahun ke atas sebaiknya menggunakan gadget tidak lebih dari dua jam dalam sehari untuk penggunaan rekreasional ( di luar kebutuhan belajar).

Selama ini saya membuat kesepakatan screen time dengan kedua anak saya.  Tidak ada gadget selama weekdays. Screen time untuk tujuan main hanya diperbolehkan tidak lebih dari 30 menit saat ibu mandi dan makan sepulang kerja. Mereka boleh pakai smartphone Ibu, yang tentu saja sudah dipasang parental lock. Itu sebabnya kepulangan ibu dari kantor selalu dinantikan! 


Kadang, saya bertanya pada anak-anak, “Sebetulnya kangen sama Ibu atau HP hayoooo?”  Mereka akan tertawa sambil menjawab,” Kangen dua-duanya deh Bu.”

Saat weekend, screen time boleh dilakukan di rumah bersama-sama ibu atau ayah.  Kadang main games, atau kadang nonton video di You Tube.  Tetapi, belakangan saya merasa perlu aktivitas yang lebih cerdas dan kreatif dari cuma sekedar main games dan nonton video. 

Baiklah, fix banget bahwa saya sebagai orang tua butuh inspirasi bagaimana agar gadget yang dipegang anak-anak saya ketika waktu screen time tiba, memberikan manfaat yang nyata. Yes, itulah misi penting saya! Lalu mengapa saya memilih Faber Castel-Colour to Life untuk menunaikan misi penting itu? 



Mari saya jabarkan.....

Faber-Castell Colour to Life 


Pilihan saya untuk mengisi screen time anak-anak secara positif jatuh pada Faber-Castell Colour to Life.  Apa sih Faber-Castell Colour to Life.? Apa hubungannya dengan gadget?  Bukankah Faber-Castell itu perangkat alat tulis dan mewarnai



Yak, Bunda betul.  Faber-Castell Colour to Life juga adalah perangkat mewarnai.  Satu paketnya berisi:

1. satu buah buku gambar setebal 15 halaman yang sudah ada gambarnya
2. 20 connector pen yang berwarna-warni
3. satu lembar brosur mini tentang teknik panduan mewarnai

Ketiganya dikemas dalam sebuah kotak bertutup dengan dimensi 26 x 19 x 2 cm yang ringkas, keren, dan kokoh.  Kok keren?  Iya, karena colourful dan glossy! Anak-anak pasti suka melihatnya.  Karena ringkas dan kokoh, kotak kemasan ini mudah dibawa-bawa dan ngga gampang rusak. 



Makanya, setelah melihat benda satu ini terpajang di etalase Toko Gramedia, dan membaca keterangan pada kemasannya, saya langsung tertarik.  Walau ngga langsung beli, sih.  Sebab, saat itu saya kebetulan sudah banyak pengeluaran untuk membeli buku-buku dan keperluan di tahun ajaran baru bagi kedua anak saya.  Nantilah, pekan depan kalau sudah agak lowong, saya berniat mau beli. Begitu pikir saya.



Nah, niat itu saya laksanakan Senin sore sepulang kantor. Setelah membaca keterangan pada kemasan, menonton video youtube yang direkomendasikan dan mendownload aplikasinya, saya yakin benda ini sesuai dengan misi saya.  Misi untuk mewujudkan screen time yang positif bersama anak. 

Bunda juga bisa menonton video tentang Faber-Castell Colour to Life  di sini: https://www.youtube.com/watch?v=xRCCr0U5pl4.


Beruntunglah saya, karena saat membelinya, sedang ada diskon untuk seluruh produk Faber-Castell di Toko Gramedia.  Lumayan banget deh.  Ya namanya juga emak-emak ya. Sudah paham susahnya cari uang yang halal, maka dapat barang dengan kualitas bagus dan potongan harga itu sesuatu banget! He he he.....

Selain di Toko Gramedia, Bunda juga dapat membeli produk ini di toko buku terdekat.  Jika lebih suka belanja online, bisa langsung order di Tokopedia melalui link ini: https://www.tokopedia.com/faber-castell/faber-castell-colour-to-life.

Nah, jadi apa bedanya Faber-Castell dengan perangkat mewarnai pada umumnya?... Iya beda, Bunda. Perangkat mewarnai yang ini digunakan bersama Aplikasi Colour to Life pada gadget (smartphone atau tablet) untuk menciptakan suatu cara baru screen time yang lebih positif dari pada sekedar “hanya” main games. 

Makanya, ini sangat sesuai dengan misi saya. Kalau selama ini anak-anak hanya pasif nonton video atau main games yang sudah ada, dengan Color to Life anak-anak diajak cerdas dan kreatif untuk menjadikan games itu seru bagi mereka dengan usaha maksimal dari mereka sendiri.  Lho kok?...  Iya, karena sebelum memainkan games, mereka harus lebih dulu mewarnai gambar yang sudah ada di buku sebagus mungkin. 

Tanpa diwarnai, games pada Aplikasi Colour to Life nya jadi tidak seru untuk dimainkan karena tokoh (karakter) hidup yang muncul cuma putih saja, tidak berwarna.  Sebaliknya, jika gambar sudah diwarnai full colour, maka tokoh hidup yang muncul dalam games dari hasil scan gambar akan berwarna juga.  Lebih seru untuk dimainkan dan diajak berfoto karena colourful.

Perbandingan antara karakter hidup dari gambar yang
tidak diwarnai (putih-atas) dan gambar yang diwarnai (colourful-bawah)



Cara Mendownload Aplikasi Colour to Life 


Sudah punya buku Colour to Life dan ingin segera memainkannya?  Sebentar, kita harus mendownload Aplikasi Colour to Life pada smartphone atau gadget terlebih dahulu. Caranya mudah sekali.

1. Pastikan gadget memiliki spesifikasi yang memadai untuk mendownload aplikasi ini.
2. Masuk ke Google Play / Play Store untuk smartphone dengan sistem operasi Android.  Untuk pengguna Apple (sistem operasi iOS, masuklah ke App Store untuk mendownload-nya.
3. Klik “INSTALL” pada menu yang tersedia
4. Tunggu beberapa saat sampai aplikasi terinstall dengan sempurna 
5. Aplikasi Colour to Life siap digunakan



Nah, mudah kan?

Sebelum mulai menggunakannya, perlu tahu dulu Apa saja isi Aplikasi Colour to Life? Aplikasi ini berisi:

1. Lima macam games menarik dengan karakter hidup yang bisa dimainkan setelah mewarnai gambar pada buku Colour to Life.  Karakternya  jadi hidup setelah gambar yang diwarnai discan menggunakan gadget yang sudah terinstall aplikasi Colour to Life. 
2. Fasilitas pengambilan foto (bisa selfie  dengan tokoh dalam games)


5 macam games itu, apa saja sih? Yang jelas bukan sembarang games lho.  Asalkan dimainkan sesuai porsinya ya.  Saya sarankan untuk anak di atas lima tahun.  Di bawah usia itu, lebih baik diajak bermain non-gadget deh Bunda. Yuk kita tilik satu persatu games-nya:

1. Giddy Up, membuat anak berkhayal sedang menunggang kuda melintasi rintangan.   Game ini bisa dijadikan wahana dalam memperkuat koordinasi tangan dengan mata sekaligus melatih kemampuan motorik.  Bisa juga untuk melatih gerak refleks, dan meningkatkan konsentrasi serta perhatian.  


2. Pogo Boy, membuat anak membayangkan dirinya melompat-lompat dengan tongkat tunggangan tetapi tidak boleh jatuh ke air! Game ini sejenis dengan Giddy Up. 

3. Dress-Up Challenge.  Game ini sesuai untuk melatih menajamkan ingatan sekaligus meningkatkan perhatian dan konsentrasi. 

4. Balance Your Brain.  Game ini menstimulasi koordinasi otak kanan dan kiri sekaligus meningkatkan konsentrasi dan perhatian.  

5. Safe Flight.  Game ini membuat anak berkhayal seolah sedang mengendarai pesawat terbang.  Serasa jadi pilot.  Game ini serupa tujuannya dengan Giddy Up dan Pogo Boy.  

Lalu, bagaimana cara memainkan Colour to Life?  Mudah, tapi Seru lho. 


Pertama, kita pilih gambar yang akan diwarnai dari buku gambar yang tersedia.  Warnailah sekreatif mungkin. Bebas tanpa batasan. 


Kedua, gambar yang sudah diwarnai diletakkan di atas permukaan yang rata.  Lalu, masuklah ke aplikasi Colour to Life pada smartphone/gadget kita. Pilih item yang sama dengan gambar yang sudah diwarnai. Misalnya untuk permainan “Safe Flight” kita harus scan gambar yang bertema pesawat terbang.  Tunggu hingga sampai ke tahapan scanning. 









Ketiga, Scan gambar berwarna dengan mengarahkan smartphone/gadget tegak lurus gambar, jarak minimal 30 cm.  Akan muncul warna hijau merata pertanda scan gambar telah berhasil.  Lalu karakter pada gambar berwarna akan muncul dalam bentuk 3 dimensi bagaikan hidup.  Jika scan tidak berhasil, alihkan smartphone ke arah lain beberapa saat lalu arahkan kembali ke gambar. 

Setelah karakter hidup itu muncul, kita bisa memilih apakah akan memainkan game-nya atau akan berfoto. 


Untuk berfoto, tekan icon kamera pada layar smartphone. Bisa selfie, bisa juga normal.  Karakter hidup akan muncul di layar foto.  Kita bisa mengarahkannya ke kiri-kanan-atas-bawah untuk mendapat posisi yang diinginkan.  Karakter yang muncul juga bisa diperbesar, diperkecil, diputar tampak belakang-depan-samping untuk menyesuaikan dengan keinginan tampilan.  








Anak-anak saya, baik yang laki-laki maupun perempuan lebih menyukai games Giddy Up dan Safe Flight. Katanya sih, karena mereka ingin bisa naik kuda dan jadi pilot betulan! “ Sekarang latihan dulu, Bu. Baru nanti betulan nunggang kuda dan nerbangin pesawat,” kata Si Sulung.  Ibu tersenyum saja mendengarnya. 



Mengapa Saya dan Anak-Anak Menyukai Faber-Castell Colour to Life?


Faber-Castell Colour to Life membuat anak-anak terpapar pada suasana seru, rileks sekaligus menantang kreativitas, juga proporsional.  Itu sebabnya kami suka!

SERU

Keseruan yang kami alami adalah, harus mewarnai gambar sebagus mungkin supaya games nya bisa dimainkan. Perjuangan nih.  Biasa, anak-anak saya sering tidak sabaran.  Apa-apa maunya cepet jadi, bagus, dan gak mau repot. Maunya serba mudah! Nah, ciri khas anak milenial banget kan.... 

Jadilah saya musti sabar dan bergaya layaknya pendukung seniman yang sedang berkarya agar anak-anak semangat mewarnai sebaik-baiknya.  “Ayo, semua ada prosesnya, mari kita jalani prosesnya dengan baik supaya hasilnya baik juga,” ajak saya. 





Sesaat kemudian, barulah mereka akan asyik mewarnai sampai selesai. Yeeaaay!!



RILEKS SEKALIGUS MENANTANG KREATIVITAS

Saya meyakini anak-anak saya adalah anak yang cerdas. Sudah pasti. Tapi apakah anak-anak cukup kreatif? Apa gunanaya jika anak yang cerdas tidak dilatih daya kreasinya? Nah, marilah kita latih dan tantang anak-anak untuk berkreasi.  



Colour to Life memberi kesempatan mereka untuk mewarnai gambar sesuka jiwa.  Anak-anak boleh membayangkan dan mencampur warna sesuka hati.  Tidak ada batasan.  Mereka juga bebas menggunakan teknik mewarnai yang ada dengan connector pen yang tersedia. Bisa menggunakan teknik patterning, pointilism, squiggling, shading ataupun countouring.  Mereka juga boleh menciptakan teknik mewarnai ala mereka sendiri kok.  Bebas.  



Ketika si bungsu yang berusia 6 tahun mewarnai rambut pada gambarnya dengan warna kuning, saya tidak melarangnya.  Biarkan saja.  Mewarnai itu merupakan salah satu cara untuk melepas stress juga lho Bunda. Tidak jarang psikolog anak yang menggunakan terapi mewarnai untuk membuat anak-anak menjadi lebih rileks.  Mewarnai juga dapat melepaskan energi negatif, dan menjadi cara mengkomunikasikan hal-hal yang tidak dapat diucapkan anak-anak lewat bahasa lisan. Jadi, biarkan mereka mencampur warna sesuka hati.  Itu membuat mereka jadi rileks sekaligus kreatif.

PROPORSIONAL

Kok Proporsional?  Iya, karena bukan semata-mata mewarnai dan main games.  Colour to Life melatih banyak aspek dalam games-nya, termasuk daya ingat dan konsentrasi. Namun, semuanya proporsional buat anak-anak.  Pas dan tidak berlebihan.  Seimbang.  Setelah mewarnai, lalu memainkan games dan berfoto, kemudian bisa diperbincangkan hasilnya bersama-sama.  



Jadi, semua aspek tercapai dalam satu kegiatan.  Ada kegiatan kreatifnya, ada rileks kebersamaannya, ada main games nya, ada ngobrolnya sebagai komunikasi.  Jadi ini menurut saya pas sekali dengan yang saya cari untuk sebuah kegiatan screen time yang positif.  

Ayo Ibu Main dan Foto Bareng!


Walaupun saya hanya menemani anak-anak mewarnai dan memainkan gamesnya, tapi bisa merasakan juga serunya.  Terutama waktu mengatur-ngatur posisi untuk foto selfie.  Kakak dan Adik sampai jedotan kepala saking serunya mengatur posisi bersama karakter pesawat.  





Ibu bersedia main bersama anak-anak supaya bisa mengingatkan ketika waktu screen time usai.  Mereka tetap senang karena gambar yang harus diwarnai ada 15 halaman! Itu cukup banyak untuk dimainkan pada screen time berikutnya lho. 



“Terima kasih Ibu sudah belikan Colour to Life buat kita ya,” kata Si Sulung pada saya. Saya pun berterima kasih pada Faber-Castell untuk Colour to Life yang telah membuat misi saya tercapai yaitu: Screen time yang positif bagi anak-anak. (Opi) 



**Foto-foto adalah koleksi pribadi penulis 

Referensi: 

Nyi Mas Diane Wulansari (Dee Motivational). Didiklah Anak Sesuai Zamannya:  Mengoptimalkan Potensi Anak di Era Digital. 2017. Penerbit Visi Media Pustaka. Jakarta. x+190hlm. 

Materi SEMINAR PARENTING “Pentingkah Gadget bagi Tumbuh Kembang Anak?”, Rabu, 21 Maret 2018  Pukul 09.30 – 12.00 Wib di Auditorium Lantai 4  RSIA Bunda Aliyah, Depok, dengan narasumber: 
1. Dr. Amien Suharti, Sp.KFR ( Dosen Program Studi Okupasi Terapi dan Fisioterapi –Vokasi Universitas Indonesia , Dokter Spesialis untuk Tumbuh Kembang Anak di RSIA Bunda Aliyah, Depok ) 
2. Gisella Tani Pratiwi, M.Psi., Psikolog ( Psikolog Klinis di RSIA Bunda Aliyah, Depok, Psikolog Sekolah Teruna Muda Elementary School Kota Wisata Cibubur) 

Back to Top