Kamis, Juni 27, 2019

Buku Solilokui Sepeda: Sebuah Kado untuk Hidup Berkualitas

Bersepeda bukan hanya indah untuk rekereasi, olahraga, transportasi, ataupun bersenang-senang (hobi). Bersepeda itu bahkan jalan yang indah untuk merdeka, membebaskan jiwa. Sekaligus, wahana untuk melatih kesadaran agar lebih tangguh dan sabar menjalani kehidupan yang kadang tak sesuai keinginan.

Semua itu dikemas bernas oleh Purwanto Setiadi (Mas Pur) dalam buku Solilokui Sepeda, sebagai kado bagi pesepeda dan hidup yang lebih berkualitas.   

Buku ini memuat percakapan akrab penulisnya (Mas Pur) dengan diri sendiri, sepeda, dan beragam udara luar. Sebuah meditasi dan refleksi yang langka. Bisa dibilang begitu karena hidup yang serba bergegas sudah menggerus waktu untuk bercakap dengan jiwa.   

Melalui buku ini penulis hendak menyampaikan bahwa bersepeda telah mengajari  manusia untuk menyeimbangkan semua aspek kehidupan dan lingkungan.  Di situ ada kekuatan dalam diri sendiri untuk mencapai tujuan hidup secara mental dan fisik.  Ada start, ada finish. Artinya, berani mengayuh selangkah, berani menyelesaikan hingga tuntas di finish, dengan kemenangan. Daleeeeeem ya….

Bagi saya yang bersepeda sebatas mengalihkan diri dari jengah, buku ini menggoda dan menginspirasi.  Saya belum pernah bersepeda jauh-jauh, tapi sering terkagum-kagum dan ikut merasakan kesenangan ketika kakak laki-laki semata wayang membagikan kisahnya bertualang dengan sepeda. Menjelajah alam, menempuh perjalanan, dengan sepeda. 



Kakak laki-laki saya bekerja sebagai seorang designer grafis di sebuah group media nasional dan kebetulan berteman dengan Mas Pur penulis buku ini.  Mereka juga sering gowes bareng komunitasnya. Buku ini pun dibuatkan cover dan lay out-nya oleh kakak saya. Trilogi sepeda-buku-kopi memang menyatu dalam kehidupan mereka.  

Nah, kalau saya sih tinggal membaca saja bukunya.  Menikmati dengan santai dan berbahagia.  Tulisan mas Pur yang jernih dan rapi, memikat saya walau dibaca tak berurutan.  Menjejaki paragraf demi paragraf yang ditulisnya seperti ikut tersenyum,-tertawa- bahkan tergelitik mengulum pengalaman Mas Pur bersama sahabat sejatinya – sepeda. 



164 halaman yang di tulis Mas Pur menunjukkan kepiawaiannya meramu bacaan dan pengalaman menjadi menu baru yang adem di hati. Bacaan seperti inilah yang cocok sebagai suplemen otak dan jiwa.  Ya, jiwa kita pun diajak membaca, tersenyum, dan bersyukur.  

Mas Pur menulis buku ini dengan terstruktur dalam tiga bagian.  Di bagian pertama, 15 tulisannya memuat pengalaman tentang diri, sepeda, dan kehidupan.  10 tulisan di bagian kedua secara khusus menyajikan kisahnya dan sepeda sebagai alat transportasi. Pernak pernik kisah tentang bersepeda ke kantor lalu ditulis Mas Pur di bagian ketiga.  Ada 9 tulisan yang bisa kita nikmati tentang bike to work yang ngehits itu.




Bagian terakhir dari buku ini memuat cerita perjalanan bersepeda jarak jauh yang seru dan menggoda. 9 tulisan di bagian terakhir ini seperti tangan ramah yang melambai-lambai mengajak pembaca untuk ikut menikmati senangnya bersepeda. 






Memberdayakan Perempuan dengan Sepeda


Saya tidak pernah membayangkan bahwa sepeda dapat memberdayakan perempuan di tempat-tempat di belahan bumi ini.  Mas Pur menuliskannya.  Perempuan dan anak-anak pengungsi dari negara konflik seperti Afganistan dan Suriah, merasakan artinya sepeda yang memberdayakan hidup mereka.  Di Jerman, mereka dibantu sukarelawan dan Bikeygees (yang didirikan oleh Annette Kruger).  Para perempuan pengungsi ini diajari mengendarai sepeda dan kursus singkat perbaikan ringan serta pengetahuan tentang peraturan lalu lintas di Jerman.  Dari donasi, mereka mendapatkan sepeda, helm, serta perkakas untuk pemeliharaan dan kunci pengaman.  


500 perempuan pengungsi itupun merasakan hidup yang lebih berdaya setelah terampil bersepeda.  Perlahan-lahan remaja perempuan mulai memperlihatkan rasa percaya diri.  Emily, gadis pengungsi berusia 22 tahun yang tinggal di Jerman mengungkapkan terima kasihnya atas sepeda yang memberdayakan.  Begini tulisnya :” Pengalaman ini memberi saya perasaan bebas dan percaya diri.  Maksud saya, ini pengalaman yang sangat indah, bisa berada dalam keadaan mengendalikan diri dan berkonsentrasi di atas dua roda.  Saya merasa bagaikan burung di angkasa.”  Wow!



Para perempuan dari negara konflik ternyata memiliki harapan yang besar untuk menjelang ke dunia luar dan menyampaikan ide mereka sendiri.  Bukan cuma ide suami atau saudara lelaki mereka. Perempuan ingin berdaya dan didengar.  Siapa yang menyangka, diawali dengan belajar bersepeda dan keluar rumah dengan bersepeda para perempuan inipun telah merasa lebih berdaya. Mengesankan.   

Bersepeda sebagai Sarana Mindfulness


Mindfulness adalah kemampuan untuk mengarahkan pikiran ke tujuan yang kita inginkan dan sekaligus “hadir” bersama dengan apa pun yang sedang terjadi saat itu.  Di masa ketika orang pada umumnya cenderung autopilot, mindfulness menyediakan cara yang sudah terbukti secara ilmiah untuk keluar dari situasi itu.  



Berbeda dengan keadaan sadar saja, mindfulness bukanlah duduk berdiam diri dan bersantai, atau sesuatu yang menghabiskan waktu seharian.  Bisa dibilang mindfulness adalah praktek meditasi secara aktif, yang bisa dilakukan dengan yoga, berjalan, ataupun bersepeda.  Ini saya setuju sekali.  Sebab sayapun pernah melakukannya. Di pagi atau sore hari, saya kayuh sepeda tanpa tujuan, kadang hanya berputar-putar di kompleks perumahan.  

Suatu hari pernah saya merasa jenuh bekerja di tempat yang sekarang, dan dengan bekal ijazah S2 yang saya miliki serta pengalaman pernah mengajar di universitas, saya beranikan diri melamar sebagai dosen di Universitas Negeri.  Setelah melalui proses yang panjang , tes demi tes yang melelahkan dan menghabiskan jatah cuti saya, endingnya saya tidak diterima.  
Sore harinya setelah pengumuman itu, saya mengeluarkan sepeda, mengayuhnya jauh jauh tanpa tujuan.  Saya menyatukan pikiran hanya pada menikmati kayuhan pedal dan situasi sekeliling yang hadir bersama dengan diri saya.  Sepulangnya, saya menjadi lebih tenang dan mampu menerima kenyataan.  

Benar adanya jika Mas Pur menuliskan bahwa bersepeda bisa manjadi salah satu alternatif meditasi aktif yang menyejukkan jiwa.  Saya pun mengalaminya.  Kayuhan pedal bisa melupakan kesedihan, dan mengantarkan kita pada kekuatan baru untuk menjelang pada kenyataan segetir apapun. 


Bersepeda tanpa batas usia


Siapa bilang bersepeda hanya untuk para orang muda? Oo tidak.  Yang bilang begitu, harus baca dulu uraian Mas Pur di buku ini. Bahkan seorang mantan pengusaha pakaian dalam perempuan berusia 97 tahun dari Denmark, Thorkild Thim, hanya punya satu kendaraan pribadi seumur hidupnya : sepeda. 

Thorkild dan Ole Kassow -rekannya- mampu menyebabkan para pensiunan lanjut usia dan mereka yang tinggal di rumah jompo untuk keluar bersepeda di tengah udara segar.  Menyusuri jalan-jalan yang dulu pernah mereka lalui atau yang baru akan mereka temukan.  Gerakan ini meluas, dan dinamakan  Cycling Without Age (Bersepeda Tanpa Usia), melibatkan sekian banyak orang dengan ragam profesi mulai dari tukang ledeng hingga pengacara.  Dengan sistem lisensi gratis, gerakan ini pun menyebar ke berbagai penjuru Eropa.  

Bersepeda tak pandang usia. Tua muda bisa melakukannya, asalkan mau. Dan manfaatnya bagi kesehatan tidak diragukan lagi.  Selain jogging, bersepeda bisa dilakukan oleh hampir semua usia. 

Inilah Pasangan serasi : sepeda dan kopi !!


Bukan kebetulan nampaknya jika para pesepeda juga adalah para pencinta kopi.  Persis seperti kakak saya.  Jika pergi gowes bersama teman-temannya, di belakang sepedanya teronggok tas khusus berisi perangkat mengopi.  Bersepeda hingga ke kebun kopi di Pengalengan untuk memperdalam pelajaran kopi mengopi juga menjadi hal asyik yang langka. Menyusuri kota-kota apik di Jawa Tengah dengan sepedanya, kakak saya lalu menyambangi setiap tempat mengopi yang unik. Bahkan ia pergi ke Macau membawa sepeda lipat dan perangkat mengopi dalam koper.  Di sana dia menjelajah dengan sepeda dari satu kedai kopi ke kedai lainnya.  



Dalam bukunya Mas Pur menuliskan tentang Ted King, seorang pembalap sepeda profesional dari Amerika.  Ted bilang begini:”Sepeda dan kopi itu pasangan yang selaras. Beberapa jam awal dari bersepeda itu selalu distimulasi secangkir kopi di pagi hari.  Bersepeda santai ke kedai kopi terdekat merupakan standar di hari yang malas, tak peduli apakah anda di Amerika, Australia, Italia, Spanyol, atau Belgia.  Dari para amatir hingga profesional, menyaksikan sebuah sepeda balap yang keren diparkir di luar kedai kopi sungguh bisa dipahami.” 

Wow. Mantap ya.

Tentu saja, bukan hanya pembalap profesional yang punya hubungan erat dengan kopi.  Russ Roca, pendiri The Path Less Pedaled, website yang mempromosikan dan mengadvokasikan kegiatan bersepeda misalnya.  Mengaku sebagai pecandu kopi, Roca tak pernah berhenti mencari alat seduh kopi yang sempurna untuk dibawa touring dan kemping.  Dia menuliskan kesan setiap kali menemukan sesuatu yang baru.  

Apakah Anda termasuk penggemar kopi yang suka bersepeda?  Atau pesepeda yang gemar mengopi?....

Sepeda dan Semangat Perlawanan untuk Merdeka


Menurut Mas Pur, bersepeda bukan soal sepeda yang bagus, perlengkapan yang update, dan aksesoris yang lengkap, merk dan sebagainya.  Bersepeda itu, apapun bentuk perangkatnya-membebaskan. Entah itu dengan sepeda buruk rupa atau Brompton yang super keren.  Kisah pembebasan bagaikan keluar dari bui ini ditulis Mas Pur dengan epik.  Ya, bebas dari kerangkeng mobil, kotak mesin berjalan yang diumpamakan seperti penjara.  



Mas Pur meraih kemerdekaannya dengan meninggalkan bermobil dan beralih bersepeda.  Ia menuliskan: “Saya memperoleh kembali banyak hal yang hilang dari masa masih mengemudikan mobil sendiri ke mana-mana sambil acuh tak acuh.  Bersepeda menghadapkan saya langsung dengan segala sesuatu yang ada di sepanjang perjalanan- rumah-rumah tetangga; jerit dan tawa anak-anak serta celotehan ibu-ibu di perkampungan tak jauh dari kompleks pemukiman tempat saya tinggal.; kebun dan tanah lapang; rimbun dedaunan dari barisan pohon di kanan-kiri jalan raya di depan sebuah equestrian serta kilatan sinar matahari di permukaan air situ beberapa puluh meter di sebelahnya; kerumunan kendaraan yang terjebak kemacetan di antara kepulan asap knalpot dan debu yang beterbangan; sengatan matahari di musim kemarau; guyuran air hujan……”

Namun, tidak ketinggalan dari semua itu Mas Pur juga bisa merasakan bagaimana dengan kemerdekaan yang ada, jantungnya berdegup, perlahan maupun kencang, dan kegembiraan jadi melambung, tergantung seberapa pelan atau cepat pedal dikayuh. 

Bagi siapapun yang suka bersepeda, berniat belajar bersepeda, ataupun hanya mengetahui sepeda dari sebuah impian, layak membaca buku ini. Buku ini akan menjadi sahabat yang setia untuk dibuka kembali saat hujan di luar sana membuat kita nyaman di dalam rumah yang hangat, menikmati teh atau kopi, dan bermimpi tentang percakapan diri dengan sahabat baru- sepeda. (Opi). 


Informasi Buku 

Judul : Soli  lokui Sepeda 
Penulis : Purwanto Setiadi 
Copyright 2018 
xxvi + 164 halaman 
Kulit muka dan tata letak Aji Yuliarto 
Foto Sampul Purwanto Setiadi
Foto penulis Dhody Kincahyadi 
Dicetak oleh Buring Printing Cetakan pertama Januari 2019 
Harga Rp 75.000,- 

Jumat, Juni 21, 2019

Liku-liku Blogger Karyawati


“Mba Opi, gimana sih membagi waktu antara pekerjaan kantor, kegiatan nulis blog, dan urusan keluarga?  Kayaknya enak banget liat Mba Opi udah gajian dari kantor masih dapat duit dari nulis gitu. Keliatannya kaya enjoy banget ngga ada beban-bebannya, santai gitu…., anak-anaknya juga keliatan keurus,” tanya beberapa teman, masing-masing dalam kesempatan yang berbeda. 

Saya langsung berucap syukur, “Alhamdulillah.” Iya, ngga nyangka kalau orang lain melihatnya seperti itu.  Ya senang, sekaligus terharu.  Kalau soal dilihat dari gajian ya memang tiap bulan saya terima gaji dari kerja kantoran.  Hanya kadang-kadang saja hobi nulis dan cuap-cuap mengantar rizki ke rekening, yang tak pernah terlalu saya harap-harapkan. Motivasinya memang untuk membahagiakan diri dengan berekspresi lewat tulisan dan cuap-cuap, ya Alhamdulillah banget juga terwujud dalam bentuk materi. Allah Maha Baik.

Pertanyaan serupa bukan sekali dua kali saya terima. Makanya, saya tergerak untuk menuliskan topik liku liku blogger karyawati versi Novi Ardiani. Semoga aja ngga ngebosenin yah…. ( **jiaaaa)



Jika mau jujur, aktivitas blogging yang saya lakukan tidak seintens teman-teman blogger ngehits di sekeliling saya lho. Ngehits maksudnya? Ya, mereka yang ngehits tu jauh lebih sering juga konsisten nulis di blog baik artikel organik maupun paid post.  Mungkin sepekan bisa lebih dari tiga artikel. Tambah lagi,  eksis di medsos untuk booster campaign dan tulisannya. Dan yang lebih ngehits, juara lomba nulis tiap bulan! 

Saya? He he he.  Sebulan bisa menulis dua sampai tiga artikel saja sudah sangat bagus. Di bulan-bulan pekerjaan kantor yang cukup padat, atau saat ngga ada asisten rumah tangga, saya cuma nulis satu artikel blog dalam sebulan. Miris deh. Ini males atau hobi sih? (Nyindir diri sendiri).  

Tapi, saya enjoy saja dan tidak mau memaksakan diri jika harus mengorbankan anak-anak, keluarga, dan kesehatan. Menulis bagi saya untuk menebar manfaat dan berbahagia. Kalau dipikir tulisan saya kurang bermanfaat, saya ngga jadi upload.  Simpan aja dulu. Masuk folder. Suatu saat dipoles lagi supaya lebih baik dan bermanfaat untuk disebarluaskan. 



Selain hanya menulis hal-hal yang memang benar-benar diminati dan dikuasai, saya juga termasuk banyak aturan dalam menyabet job nulis.  Sok idealis?... Tepatnya, ini demi kualitas tulisan dan pertanggungjawaban moral saya.  Sesimpel itu. Karena saya butuh menjalani hidup dengan nyaman plus berkualitas. Lah, ini mah semua orang juga butuh ya hihihihi…. Plis deh.

Ya artinya menulis sesuai bidang keahlian, minat, dan dapat dipertanggungjawabkan adalah hal penting yang mempengaruhi kenyamanan hidup saya.  Makanya harus diingat dan diusahakan selalu. Pertanyaan tentang bagaimana mengatur waktu antara pekerjaan kantor, nulis, dan urusan domestik sebetulnya agak susah dijawab.  

Sebab, saya sendiri merasa manajemen waktu sampai detik ini masih jauh dari bagus. Indikatornya adalah sering sekali menghanguskan kesempatan tantangan nulis di komunitas, lomba nulis, ataupun job untuk paid post. Niat sih ada, tapi akhirnya digugurkan oleh hal-hal lain yang lebih mendesak untuk saya kerjakan. Mendampingi anak-anak adalah hal utama yang sering mengalahkan apapun untuk dikerjakan termasuk nulis.  Yah, momen untuk menemani mereka tak bisa terulang, saya tak mau menyesal karena sengaja melewatkannya untuk kesenangan menulis.   


Walau tampak dari luar saya ini sepertinya santai dan dapat uang melulu, sesungguhnya ngga gitu gitu amat deh, hihihihi. Sebelum menilik liku-likunya, saya berikan sekilas ilustrasi tentang keseharian ibu yang bekerja kantoran sekaligus hobi nulis blog ya. 

Sehari-hari, saya bekerja di kantor  -Senin sampai Jumat-  pada jam kerja pukul delapan pagi hingga lima sore. Beruntunglah saya bukan pejabat teras di kantor, sehingga beban kerja dan tanggung jawab saya juga ngga mengharuskan saya pulang malam setiap hari.  Sebisa mungkin, saya mengusahakan pulang tepat waktu, terkecuali memang ada pekerjaan penting di bawah tanggung jawab saya yang mendesak untuk dituntaskan saat itu juga.  

Rumah tempat tinggal saya berjarak sekitar 24 km dari kantor. Ini bukan jarak yang dekat loh. Perjalanan dengan transportasi publik (ojek daring plus commuterline) ditempuh sekitar satu setengah jam untuk tiba di kantor.  Pulangnya juga seperti itu.  Walhasil, saya harus berangkat sebelum pukul 6 pagi dan tiba di rumah lagi sekitar Maghrib.  Waktu yang ada di pagi dan malam hari rasanya sangat singkat dan digantungi lelah. 



Satu jam di pagi hari lebih saya utamakan untuk bersama anak-anak menyambut pagi yang sibuk, siap-siap berangkat sekolah dan bekerja.  Malam hari diisi dengan main dan belajar bersama anak-anak, atau sekedar ngobrol. Satu atau setengah jam menjelang tidur malam, adalah yang tersisa jika saya mau menulis.  

Bersama buah hati tercinta

Waktu emas itulah yang masih membuat saya bersemangat untuk tetap menulis walau sedikit demi kewarasan dan kebahagiaan hakiki hehehe….. (**sedaaap). Walaupun dalam liku likunya, waktu emas itu sering dilewatkan karena sudah lebih dulu terlelap akibat sudah lelah dan ngantuk (waduuuh). Ya itulah liku-liku …..   


Inilah sebagain liku-liku blogger karyawati beranak dua yang sempat tercatat:

LIKU 1:  Trilematis Nulis, Baca, atau Aktivitas bersama Anak?


Tiga hal ini paling trilematis deh (bukan dilematis lagi hehehe) bagi saya.  Hal inilah yang paling sering saya hadapi. Membaca dan menulis di blog itu satu paket, tidak bisa dipisah.  Aktivitas membaca lah yang sering menelurkan ide menulis.  Kesenangan membaca buku membuat saya juga suka menulis ulasan buku di blog.  Berikut beberapa ulasan buku yang pernah saya tulis di blog : 

(Klik untuk membaca ulasan) 

Nah, saya tuh kalau sudah tiba di rumah sepulang kerja kantor, badan rasanya sudah lelah dan inginnya cuma main-main aja sama bocah dilanjut istirahat.  Anak-anak juga super senang kalau ibunya sudah tiba di rumah.  Kita bisa main boneka, menggambar dan mewarnai, main guru-guruan, dokter-dokteran, atau ngobrol dan cerita-cerita sambal bobo-boboan. Kalau sudah begitu, wassalam deh. Ngga akan tega untuk buka laptop dan mencicil tulisan yang mau dibuat.  

Akhirnya, ide-ide tulisan banyak ngendon sebatas draf di folder sampai berhari-hari, bahkan pekan!  Menghadapi liku-liku ini, saya sih santai aja.  Nikmatin aja sampai akhirnya otak dan hati saya protes sendiri, ini gimana sih kok ga nulis-nulis buuuu???   Kalau sudah begini biasanya di ujung penantian draft tulisan itu akan saya sentuh penuh buncah rasa dan hanya butuh waktu beberapa jam saja hingga akhirnya jadi tulisan yang siap tayang. Jreng jreeeeeng…….

LIKU 2 :  Timbang-timbang menghadiri event blogger


Sejak aktif menulis blog dengan domain berbayar www.opiardiani.com pada Juli 2017 dan bergabung dengan komunitas blogger, otomatis banyak sekali kesempatan untuk menghadiri event.  Segala macam event.  Mulai dari yang gratis, dibayar bahkan berbayar. Event atau acara ajang kumpul para blogger memang sangat menyenangkan.  Saat menghadiri event, kita bisa menambah wawasan, melatih sudut pandang kepenulisan, memperluas ide nulis, berkenalan langsung dengan para bloger ngehits– hampir ngehits, maupun yg malu-malu kucing hahaha.  Seru lah pokoknya.


Event blogger yang menambah wawasan dan pengetahuan 



Awalnya, semua undangan event rasanya menarik! Maunya, semua dihadiri. Inginnya, semua diikuti.  Namun seiring berjalannya waktu saya pun mulai mengamalkan timbang menimbang untuk menghadiri event blogger.  

Karena saya bekerja penuh waktu Senin hingga Jumat, maka pertimbangan utama memilih event blogger yang akan dihadiri adalah: 

1. Dilaksanakan di akhir pekan Sabtu atau Minggu apabila memungkinkan, dengan catatan tidak ada agenda acara keluarga 
2. Jarak lokasi event dapat ditempuh dengan perjalanan dengan transportasi umum 60 sampai 90 menit.
3. Event yang dipilih adalah yang sesuai dengan konsep blog yaitu pembelajaran, parenting, kesehatan, lingkungan, pendidikan dan semacamnya
4. Lebih diutamakan yang membuka kesempatan belajar lebih banyak dan bertemu orang-orang baru, bukan yang cuma haha hihi aja.   

Jadilah, banyak akhirnya event blogger yang lalu saya lewatkan, terutama di hari kerja.  Walaupun untuk tema-tema yang betul-betul saya minati, bela-belain ikut dengan  bermanuver agar pekerjaan kantor tidak terganggu.  **edisi nekat inih!!

LIKU 3:  Fokus kerjaan kantor, lalu bablas deadline lomba nulis 


Saya termasuk blogger yang semangat banget nget nget ikut lomba nulis, walau ngga selalu menang hahahaha. Banyakan kalahnya daripada menangnya. Di tahun 2018 saya getol  nulis untuk lomba. Karena, saya mau menunjukkan ke anak-anak tentang proses mencapai sebuah keinginan.  


Beberapa taqdir di lomba nulis yang penuh berkah 




Keinginan untuk punya prestasi di bidang menulis, membuat saya terus mencoba berbagai lomba.  Saya pilih lomba yang memang temanya saya kuasai dengan baik.  Ngga punya nyali lah saya untuk ikut lomba nulis dengan topik kecantikan, biarlah itu buat para beauty blogger saja hehehehe. Kapabilitas saya untuk hal cantik-cantik ini super minim gaaaeesss….

Saya tunjukkan kepada anak-anak bagaimana ibunya berusaha membagi waktu antara kerjaan kantor dengan nulis untuk lomba.  Mereka lihat sendiri malam minggu saya begadang di depan laptop menyelesaikan tulisan lomba.  Dan ketika pengumuman karya saya menang, dapat hadiah, mereka jadi tahu bagaimana sebuah perjuangan untuk meraih apa yang diinginkan. 

Tapi, beberapa kali saya bablas loh.  Kelewat deadline lomba. Akibat lagi fokus sama kerjaan kantor. Alkisah biasanya saya akan membuat draft tulisan ketika niat ikut lomba. Saya juga riset kecil-kecilan dan mengumpulkan koleksi foto yang terbaik.  Di tengah jalan, saya sering kelupaan tuh kalau lagi fokus kerjaan kantor.  Tahu-tahu kok sudah lewat batas waktu pengumpulan tulisan. Aduh, nyesek banget deh.  Apalagi pas lihat pengumuman pemenang lomba lalu membaca tulisan yang menang lhooo kok beda beda tipis alias mirip siiihh dengan yang sedang saya buat.  Sebel banget kan.  Ya gitu deh liku-likunya.

LIKU 4: Mencuri waktu, dengan niat produktivitas


Kalau ada kesempatan pengakuan dosa, sepertinya blogger bernama Novi Ardiani bakal ngaku dosa banyak nih.  Pasalnya, saya sering melakukan pencurian waktu untuk bisa nulis di sela-sela pekerjaan lain.  Itu kalau di otak saya udah ngga bisa ditahan lagi arus idenya.  Tidak bisa ditunda lagi.  Dalih saya adalah produktivitas, halah!! 

Tapi, ngga sering-sering kok.  Bagian dari liku ini saya nikmati sebagai aliran adrenalin rush.  Soalnya kalau ketahuan lagi nulis artikel padahal harusnya saya sedang ngumpulin data buat laporan kerjaan, kan malu-maluin yaaaa.  Duh. Jangan ditiru yaaaa…. **mudah-mudahan atasan saya ngga baca ini  ampuuuunnn.

Baca juga: 

http://www.opiardiani.com/2019/04/perempuan-pekerja-berproses-dalam-produktivitas.html


Sebaliknya, saya kadang beruntung punya waktu napas yang legaaaaa banget saat atasan dinas luar kota atau tugas selesai lebih cepat.  Seperti mendapat “hadiah waktu” yang saya curi untuk menulis. Manusiawi kan ya. Hmmm, begitulah liku-likunya.  

LIKU 5: Menularkan kebiasaan membaca dan menulis kepada anak-anak 


Sepanjang liku-likunya, kegiatan ngeblog sangat berpengaruh positif pada saya dan anak-anak dalam hal literasi.  Karena untuk menulis perlu banyak baca, otomatis kebiasaan baca jadi nular ke anak-anak. 

Anak sulung yang berusia 10 tahun sudah mirip sekali dengan saya di masa kecil.  Baca novel, baca buku-buku tebal yang isinya tulisan melulu, ngga ada gambarnya.  Dia seperti sudah menemukan kenikmatan dan kebahagiaan ketika berinteraksi dengan ribuan aksara dalam helai demi helai kertas buku ! 

Agak kaget juga saya ketika menemukan anak sulung saya selalu bawa buku bacaan ke manapun dia pergi.  Ke sekolah, ke tempat les, ke rumah nenek, saat jalan-jalan/rekreasi, bahkan sekedar ke warung baso atau mall teteeeuup bawa buku yang sedang dibacanya.  Persis saya waktu kecil!! Bedanya, dulu saya ngga pergi ke mall , hehehe. 

Membaca di perpustakaan Kota Depok sepulang Les Bahasa Inggris 
Begitu pula anak bungsu yang berusia 7 tahun.  Sudah mulai pilih-pilih buku sendiri yang disukainya.  Pilihannya masih didominasi oleh buku bergambar warna warni.  Kadang, masih suka dibacakan oleh ibu, ayah, atau kakaknya. 

LIKU 6: Pak Suami dan andilnya, kadang pedas nian


Salah satu faktor yang turut membakar semangat saya untuk terus menulis di tengah aktivitas yang lain adalah Pak Suami.  Iya.  Beliau itu sabarnya minta ampun, tapi kalau sudah menyindir uwoooowww, bikin saya jadi terbakar untuk menunjukkan bahwa saya bisa!  

Suatu hari saya pernah mengeluh pada suami karena kewalahan ngatur waktu nulis, kerja dan ngurus anak. Sempat keluar dari mulut saya, “ Ayah, kayaknya lebih baik aku berhenti kerja, trus fokus ngurus anak dan nulis deh ya yah,” 

Pak Suami yang bijak pun bilang begini,” Justru, kalau di tengah kesibukan kamu bekerja dan mengurus anak, tetap bisa menyempatkan rutin berkarya melalui menulis, di situ letak nilai tambahnya.  Di situ letak kerennya.   Apalagi kalau bisa konsisten dan menghasilkan tulisan yang bermanfaat buat banyak orang sekaligus menghasilkan yang lain buat kamu sendiri, di situlah nantinya kamu akan merasa sangat berarti. “ 
Bersamanya yang super sabar 
Ibaratnya seperti seorang ustad di pesantren, yang memiliki waktu sangat luas untuk beribadah sholat dan membaca Al Quran. Kita pun melihatnya sangat elok, dianugerahkan waktu yang lapang untuk melakukan ibadah-ibadah itu.  Tapi coba bayangkan seorang biasa yang bekerja dengan mobilitas tinggi di lapangan dari pagi sampai sore, dan pulang ke rumah malam hari dengan tubuh lelah.  Tetapi, dia tetap berusaha untuk sholat tepat waktu, berusaha membaca Al Quran walau terkantuk-kantuk dan terganggu oleh deringan telpon soal pekerjaan.  Letak kemuliaan dan kebanggaannya mungkin sama.  Tetapi kita mungkin akan melihat Pak Ustad lebih mulia dan membanggakan ya. 

Dia yang super sabar tapi suka membakar semangat istrinya dengan sindiran maut
Dari situ, saya kemudian menarik sebuah hikmah.  Bersyukur di setiap keadaan.  Berkarya itu tidak menunggu pintar.  Menulis itu tidak menunggu kalau ada waktu.  Ngeblog itu ngga harus berhenti kerja kantoran.  Apapun yang ingin kita lakukan dengan niat dan tujuan yang baik, akan menemukan jalannya walau tetap ada liku-likunya. Ya dikerjakan aja.  Kalau ngga dilakukan, cuma berwacana saja ya ngga ada hasil karya apa-apa.  Lamis. Lip service.  Omdo, NATO. Gitu lho. **maksudnya cuma ngomong aja, ngga dikerjain gaeess

Nah, dengan beragam liku yang dijalani, saya memutuskan untuk terus menulis. Entah sampai kapan. Semoga masih tetap ada ya mata yang mau dan butuh membaca hasil karya seorang Novi Ardiani, blogger yang sama sekali ngga ngehits dari Depok ini.  He he he…. 

Terima kasih sudah membaca ya…….   (Opi)  


Sumber Gambar : koleksi pribadi dan free stock photo at pexels.com 


Back to Top