Kamis, Agustus 15, 2019

Luka Bersih #GakPakePerih, Bisa Ya?...


“Aduuuuuuuh… periiiiihhhh,….   Bisa gak siiiih gak pake perih …..” pekik Adek (7 tahun) histeris jika Bibi atau Mas (10 tahun) membubuhkan  cairan antiseptik pembersih luka setelah peristiwa  terjatuh dari sepeda. 
Pekik serupa juga terdengar saat hal yang sama terjadi pada Mas. Adek dan Mas sama-sama tidak tahan pada rasa perih yang muncul ketika luka dibersihkan dengan cairan antiseptik yang ada. 


Karena perih, Adek dan Mas jadi trauma dan suka ngumpet-ngumpet saat terluka. Dalam mindset mereka jadinya pembersih luka sama dengan perih. Jadi, pura-puralah luka ditutupi dengan baju atau celana panjang, supaya tidak ketahuan kalau habis terjatuh.  

Padahal, frekuensi Adek dan Mas terluka karena jatuh saat main lari-larian di lapangan atau aktivitas bermain lainnya, bisa dibilang sangat sering. Ini membuat saya kuatir anak-anak terinfeksi bakteri pada lukanya dan jadi parah karena tidak segera ditangani secara tepat.

Kalau sore-sore Bibi melihat Adek atau Mas jalan terpincang-pincang sambil meringis, dia langsung curiga. Hmmm, pasti deh nih si Adek atau Mas baru aja terjatuh dan ada luka di bagian tubuhnya, tapi ngumpet-ngumpet karena takut perih diobati.  Kalau sudah begini, Bibi langsung telepon Ibu dan lapor.  Jadilah ibu yang main drama membujuk mereka agar mau dibersihkan lukanya.

Lumayan dower deh membujuknya. Seringnya sih, minimal beli es krim untuk obat bujuk. Waduh, tapi kalau sering-sering kan ngga bagus juga ya.



Apakah Bunda juga mengalami hal yang sama dengan saya?  Anak-anak jadi trauma dibersihkan atau diobati lukanya karena antiseptiknya meninggalkan rasa perih yang berkepanjangan? Wah, senasib ya kita Bunda ..he he he.

Tapi Bunda, setiap luka yang timbul memang tidak boleh dibiarkan.  Harus ditangani secara tepat.  Langkah pertama penanganan luka adalah membersihkannya dengan cairan antiseptik.

Kenapa Luka Harus Dibersihkan ?

Luka atau cedera yang timbul akibat berbagai hal, memang harus segera ditangani.  Pada anak-anak, luka dapat terjadi cukup sering ya Bunda.  Bisa dihitung bukan, kapan anak-anak bermain tanpa terjatuh dan terluka?  Ternyata memang menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, sebanyak 36,5% cedera terjadi di lingkungan rumah lho Bunda. Ini diurutkan berdasarkan proporsi terbanyak untuk tempat terjadinya cedera.





Penyebab cedera terbanyak menurut riset di atas adalah karena terjatuh yaitu 40,9%. Nah cocok bukan?... Anak-anak biasanya jatuh saat beraktivitas seperti berlari-larian, main bola, bersepeda, atau aktivitas lainnya di playground sekitar lingkungan rumah.  Luka akibat insiden tersebut walau sekecil apapun tidak boleh diabaikan, dan perlu ditangani secara tepat. Langkah pertama dalam proses penyembuhan luka adalah membersihkan luka secara benar untuk mencegah terjadinya infeksi.

Membersihkan luka untuk semua jenis luka adalah langkah yang sangat penting, tidak terkecuali seperti luka tergores, terpotong, luka tubruk, luka terbakar, dan luka terbuka.  Saat kulit terluka, lapisan pelindung kulit sedang rusak dan memungkinkan debu kotoran serta bakteri masuk ke dalam tubuh.  Ini bisa menyebabkan infeksi pada luka.  

Infeksi pada luka dapat menyebabkan kerusakan lebih jauh pada kulit dan penundaaan proses penyembuhan.  Apabila tidak segera dibersihkan, infeksi bisa menyebar ke bagian kulit yang lebih dalam.  Ini dapat mengakibatkan gangguan kondisi kesehatan ke level yang lebih serius. 

Nah, jadi penting sekali lho Bunda untuk segera menangani luka secara tepat sekecil apapun luka itu.  Hal ini wajib kita informasikan kepada anak agar mereka juga paham pentingnya menangani luka secara benar sesegera mungkin.

Bagaimana menangani luka secara benar?  Langkah pertama, luka harus dibersihkan dengan cairan antiseptik pembersih luka. Kedua, luka harus dilindungi dari pengaruh eksternal seperti kotoran dan bakteri, bisa dengan perban atau plester.  Ketiga, lakukan cara aman untuk membantu penyembuhan luka dengan memberikan salep penyembuh luka.


Nah, langkah pertama yang paling penting adalah membersihkan luka.  Inilah tahapan yang penuh drama pada anak-anak kita karena cairan antiseptik pembersih luka pada umumnya meninggalkan rasa perih sesudahnya.  Anak-anak bahkan orang dewasa jadi trauma. 

Kenapa Perih ?

Mengutip pernyataan dr. Adisaputra Ramadhinara, Certified Wound Specialist Physician – seorang dokter spesialis luka bersertifikasi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, ternyata kandungan dalam banyak produk pembersih luka yang dijual bebas mengandung bahan yang bisa menyebabkan terasa perih serta  meninggalkan noda.   



Pembersih luka yang meninggalkan noda tidak menjadi pilihan karena noda akan menutupi luka dengan warna yang bukan warna asli luka tersebut.  Sehingga, keadaan luka yang sebenarnya tidak bisa terlihat secara jelas. Di klink dan rumah sakit, para medis lebih memilih untuk menggunakan obat pembersih luka yang mengandung Polyhexanide (PHMB) sebab tidak meninggalkan noda. PHMB juga tidak berbau dan tidak menimbulkan rasa perih.

Inovasi Hansaplast Spray : Gak Pake Perih

Nah Bunda, saat ini di pasaran sudah tersedia jenis cairan antispetik pembersih luka yang mengandung Polyhexanide (PHMB). Membersihkan luka jadi lebih bersahabat karena Gak Pake Perih lagi. Anak-anak pun jadi terbebas dari trauma. Pembersih luka yang tidak menimbulkan rasa perih ini menjadi inovasi Hansaplast



Bentuk kemasan Hansaplast ini berupa botol mini dengan spray yang menjamin isi botol tetap steril. Botolnya sangat ergonomis untuk digenggam oleh anak-anak sehingga merekapun bisa melakukan sendiri aktifitas membersihkan luka. Acara penanganan luka pun jadi kegiatan yang menyenangkan dengan Hansaplast Spray.  

Bunda pastinya sudah tidak asing lagi bukan dengan merk Hansaplast. Selama ini kita sangat akrab dengan produk plesternya yang selalu disebut pertama kali ketika membutuhkan penutup luka. Eksistensi Hansaplast memang sudah tidak diragukan lagi dalam hal mencegah infeksi.

Inovasi Hansaplast Spray Pembersih Luka dengan bahan aktif PHMB ini sangat membantu saya untuk meyakinkan anak-anak bahwa luka bisa dibersihkan tanpa rasa perih.  Gak Pake Perih.  Upaya saya menanamkan kesadaran pada anak-anak tentang pentingnya mencegah infeksi jadi lebih mudah. Saya pun jadi selalu menyediakan produk Hansaplast Spray di rumah, dan meletakkannya di jangkauan anak-anak. 




Ini dia keunggulan Hansaplast Spray sebagai pembersih luka dibandingkan cairan antiseptik lainnya di pasaran :

1.    Tidak berwarna
Karena cairannya tidak berwarna, maka luka yang sudah dibersihkan dengan Hansaplast Spray akan terlihat sebagaimana mestinya. Proses penyembuhan dan pengeringan luka juga akan mudah untuk diamati karena tidak terhalang oleh warna buatan dari cairan pembersih luka.
 
2.   Tidak berbau
Bau tertentu dari cairan antiseptik secara psikologis juga menimbulkan trauma.  Tanpa bau obat yang menyengat, aktifitas membersihkan luka akan menjadi lebih bersahabat bagi siapa saja. 

3.   Tidak meninggalkan rasa perih
Hansaplast Spray menggunakan bahan aktif PHMB / Polyhexanide/ PolyHexaMethylene Biguanide  yang membantu mencegah dan mengatasi infeksi tanpa rasa perih.  Bahan aktifnya berupa 0,1% Decyl Glucoside Tenside dan 0,04% Polihexanide (PHMB) dalam Larutan Ringer. 

4.    Aman digunakan
Tolerabilitas Hansaplast Spray lebih tinggi, efek samping lebih sedikit dibandingkan dengan zat antiseptik lain.



Bagaimana cara menggunakan Hansaplast Spray Antiseptik?  Mudah sekali, Bunda.  Ketika anak terjatuh dan terluka:
Pertama, langsung semprotkan Hansaplast Spray  dari jarak kurang lebih 10 cm ke seluruh area luka
Kedua, ulangi apabila dibutuhkan, kemudian secara perlahan keringkan area di sekitar luka. 

Nah, mudah sekali kan menangani luka dengan Hansaplast Spray?  Anak-anak juga pasti akan bersemangat mengurus lukanya. Tidak akan terjadi lagi mereka pura-pura menutupi luka dengan pakaian panjang karena takut perih diobati. 

Itu sebabnya, sejak sekarang harus sedia Hansaplast Spray di rumah ya Bunda. 




Bunda semua bisa lebih banyak kepoin tentang Hansaplast Spray di akun Instagram resmi Hansaplast yaitu @Hansaplast_ID dan Facebook Fanpage @HansaplastID ya.  Informasi lebih lanjut juga bisa diikuti di official website www.hansaplast.co.id.  (Opi)

Luka Bersih #GaPakePerih, Bisa Ya?...... Bisa Banget karena pakai #HansaplastID.



Jumat, Agustus 09, 2019

Pekerjaan Tersulit Ibu


Pekerjaan tersulit seorang ibu adalah pekerjaan yang harus dikerjakan saat dipisahkan dari buah hati tercinta. Ada ibu yang tidak setuju?.......
Dari situ, sebuah pelajaran berharga saya petik.  Tentang hari-hari terbaik bersama anak-anak yang pernah terabaikan.  Saat berjauhan, barulah terasa betapa nikmat berkumpul selama ini sering tidak dimanfaatkan dengan baik.  Saya pernah malah, merasa terbeban dengan anak-anak yang selalu apa-apa maunya sama Ibu, sampai-sampai saya tidak punya kesempatan untuk menikmati waktu sendiri. 

Ketika alih tugas dari perusahaan tempat saya bekerja ke sebuah kabupaten membuat seorang Opi harus terpisah dengan keluarga, barulah terasa betapa kemudahan waktu kumpul keluarga sebelumnya sangat berharga. Selautan emas pun tidak sebanding nilainya. 

Sebulan sudah, sejak menerima perintah alih tugas sebagai unsur pimpinan kantor wilayah di sebuah kabupaten yang tidak pernah jadi impian, saya merasakan yang namanya campur baur seperti permen Nano Nano.  Semua rasa ada.  

Pertama, rasa kuatir karena harus terpisah dengan keluarga untuk jangka waktu yang tak tentu.  Kedua, rasa takut karena akan masuk ke lingkungan yang sama sekali baru, yang pastinya akan sangat berbeda dengan lingkungan di kantor pusat.  Ketiga, rasa tak rela karena harus menggeser diri dari zona nyaman. Keempat, rasa bersalah kepada suami karena beliau akan bertambah bebannya menjaga anak-anak.  

Semua rasa itu berseliweran di hati dan pikiran saya, yang selama 18 tahun berkarir selalu berada di kota Metropolitan- Jakarta. 

Efek awal dari perasaan ini sungguh terasa.  Sebulan saya tidak bisa menulis.  Tiap malam rutinitas saya adalah memandangi foto anak-anak, menonton ulang video kebersamaan kami, termasuk video anak sulung ketika sedang adzan di masjid. Lalu mewek ke suami.  Rindu adalah penghuni utama ruang malam di kabupaten perjuangan.  Karawang. 

Bisa dibilang, Karawang itu dekat tapi jauh dari Depok. Jarak 80 km kan ya sebetulnya tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan mobil sekitar 3,5 hingga 4 jam. Cengeng banget ya si Opi sampai mewek begitu cuma pindah lokasi kerja ke Karawang aja…. Belum juga ke Papua hahaha. Sebetulnya yang bikin mewek itu juga karena walaupun dari segi jarak tidak terlalu jauh, tetapi tidak selalu bisa pulang setiap pekan untuk bertemu keluarga.  

Sebabnya? Bisa dibilang kantor wilayah Karawang  adalah mukanya Jawa Barat, sekaligus pusat pertanian dan industri.  Hanya sekedap dari Jakarta dan Bekasi.  Walhasil, kami sering menerima kunjungan baik dari Kementerian maupun Kantor Pusat dan Daerah Jawa Barat. Sebagai unsur pimpinan, adalah bagian dari tanggung jawab kami untuk stand by di wilayah kerja meski pada akhir pekan.  Sungguh tak pernah terbayangkan dalam benak saya, untuk menjalani amanah ini.  

Beruntunglah, suami yang begitu sayang pada saya bersedia datang ke wilayah tugas istrinya di akhir pekan.  Tentunya  bersama anak-anak.  Walaupun terkadang mereka harus menunggu sampai ibunya selesai bertugas untuk bisa bercengkerama dalam waktu yang tidak banyak.  Sungguh nikmat yang patut sangat disyukuri.

Blog www.opiardiani.com pun jadi kosong melompong.  Adaptasi saya di tempat baru tidak memberi ruang kesempatan untuk menulis dengan hati.  Sebetulnya, pekerjaan tidak seberat yang dibayangkan.  Bahkan saya belajar hal-hal baru yang membentuk sikap positif dalam menyelesaikan pekerjaan.  Tetapi, semua jadi terasa sulit setiap teringat anak-anak. Apakah mereka baik-baik saja?  

Biasanya malam hari adalah waktu kami bercengkerama dan mengerjakan tugas sekolah bersama.  Atau sekedar baca buku bareng-bareng, main boneka, dan membuat karya. Mendengarkan curhat anak-anak tentang guru, teman, tetangga, ataupun bibi juga adalah rutinitas sebelum tidur yang mampu melepaskan semua beban sebelum benar-benar terlelap.  

Sebulan berlalu membuat saya pun rindu menuliskan rasa rindu. Harapan saya, tulisan ini bukan sekedar jadi curhat belaka, tapi jadi inspirasi buat ibu bekerja di mana saja berada untuk tidak meremehkan sedikitpun waktu kebersamaan dengan putra-putri tercinta.  Percayalah, itu sangat mahal. Priceless.

Tantangan dan Perjuangan Si Pembelajar 


Tantangan dimulai ketika saya harus memutuskan, maju terus atau menyerah mengundurkan diri. Awalnya saya berpikir akan memilih untuk mundur.  Mungkin lebih baik saya mengundurkan diri dari pekerjaan, pikir saya ketika itu.  Karena, cepat atau lambat saya pasti akan dipromosi ke daerah. Ya walaupun saya ngga pintar pintar amat di kantor, tapi ya saya termasuk golongan karyawati yang tidak pernah melakukan pelanggaran disiplin ataupun sejenisnya.  

Prestasi saya memang tidak secemerlang rekan-rekan seangkatan yang sudah menduduki jabatan jauh lebih tinggi.  Saya termasuk karyawati yang komit untuk dapat melakukan tugas kantor seoptimal mungkin tanpa melanggar aturan kantor sekaligus tetap punya cukup waktu mendidik anak-anak serta melakukan kesenangan/hobby seperti menulis-menyanyi-bersepeda. 

Saya cinta keseimbangan hidup.  Bagi saya jabatan tidak penting, tak ada satu jabatanpun yang saya incar.  Saya merasa cukup dengan gaji yang saya terima, waktu yang ada, dan rasanya semua sempurna.  Nyaman. 

Tanpa disadari, itulah zona nyaman saya. Zona nyaman yang tidak mau saya lepaskan.  Karena begitu nyaman.  Tanpa disadari ya saya berhenti bertumbuh. Lalu, di mana si Perempuan Pembelajar yang selama ini saya gembor-gemborkan ya?....

Saya sempat menangis dua hari dua malam, setelah menerima kabar resmi promosi sebagai wakil pimpinan di kantor wilayah Karawang, Jawa Barat terhitung mulai tanggal 5 Agustus 2019.  Langsung terbayang anak-anak dan suami. Bagaimana dengan mereka nanti?  Saya tidak tahu berapa lama akan bertugas di Karawang, sehingga pertimbangan untuk membawa atau tidak membawa anak-anak jadi sangat serius.  

Tapi ya menangis kan tidak menyelesaikan masalah yang saya hadapi.  Dengan dukungan suami, Ibu, dan kakak adik, akhirnya saya memilih untuk menjalani amanah ini. Saya berhak memilih, dan saya pun memilih untuk melakukan yang terbaik dalam amanah ini sehingga kans untuk bekumpul kembali dengan keluarga akan semakin terbuka. Jika prestasi bagus, akan sangat mungkin ditarik kembali ke kantor pusat.  

Berangkatlah saya ke kabupaten perjuangan, untuk mengenyam pelajaran hidup yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan di Jakarta, kota tempat impian kelak saya akan kembali.  Kembali berkumpul dengan keluarga dan anak-anak yang telah lebih mandiri, pulang  sebagai ibu yang lebih matang.

Survival Ala Opi 


Selanjutnya, bagaimana supaya bisa survive? Pertama saya menanamkan mindset, bahwa amanah ini mengandung hikmah hidup yang bagus bagi saya dan anak-anak.  Hikmahnya, Tuhan memberi kesempatan anak-anak saya untuk belajar lebih mandiri ketika berjauhan dengan ibunya. Si kakak jadi lebih care kepada adik. Ayah jadi lebih ngayom.  Ibu pun jadi lebih tegar.  

Karena memang anak-anak masih dalam usia yang membutuhkan banyak bimbingan dan arahan orang tua, saya dan suami jadi tertantang untuk bisa melakukannya dari jarak jauh dengan fasilitas komunikasi yang ada. 

Sejak awal, kami termasuk orang tua yang tidak memberikan gadget kepada anak kecuali di akhir pekan dengan pendampingan orang tua.  Di rumah, kami juga tidak menggunakan siaran televisi sejak enam tahun terakhir.  Dan ini tetap berjalan meskipun ibunya pindah tugas ke daerah.  

Sebagai alat komunikasi visual ibu dan anak, kami memilih smart watch yang bisa digunakan anak-anak untuk telepon, berkirim pesan suara, tulisan, gambar maupun video call dengan ibunya. Smart watch tersebut juga digunakan sebagai penanda lokasi karena dilengkapi dengan GPS.  Sehingga, saya bisa tetap memantau dan berkomunikasi dengan anak-anak sekalipun berjauhan. 

Smart watch tersebut diamankan oleh aplikasi sehingga hanya anggota keluarga yang diapprove oleh admin saja yang bisa berkomunikasi dengan anak-anak.  Saya, adalah adminnya.  Dari jauh, saya memegang penuh kontrol ini.  Apabila smart watch tersebut sampai hilang, pun orang yang menemukan atau mencurinya tidak dapat menggunakannya karena kontrol admin tetap ada pada saya.  

Teknologi ini memang sengaja kami pilih untuk jalan komunikasi paling aman, karena anak-anak tidak kami perkenankan memiliki smartphone sebelum mereka cukup umur.  

Memang, komunikasi visual dan suara via smart watch tidak dapat sekaligus menggantikan komunikasi pertemuan langsung.  Tetapi, setidaknya saya dapat meyakini bahwa kondisi anak-anak baik-baik saja.  Masih bisa mendengarkan curhat mereka, melihat ekspresi wajah lucu, dan mengobati kangen karena belum dapat bertemu langsung.  

Banyak hal patut disyukuri bahwa anak-anak walaupun sempat protes dan nangis, perlahan-lahan bisa terkondisikan untuk menjalani perjuangan awal kemandirian.  Ada pelajaran hidup tentang mengelola rasa kecewa untuk kami sekeluarga.  Dan ini kami yakini akan membentuk sikap hidup yang lebih positif.  Pastinya.  

Survival saya sangat ditentukan oleh sifat pengayom suami yang dominan.  Dukungan beliau dalam menciptakan kondisi yang kondusif sangat besar.  Beliau menceritakan masa kecilnya kepada anak-anak, tentang bagaimana dulu kakek dan nenek juga berjuang karena harus terpisah oleh jarak.  Ayah mereka juga merasakan saat duduk di bangku Sekolah Dasar hanya bertemu ibunya sepekan sekali.  Namun karena meyakini itu hanya untuk sementara dan selalu berjuang untuk berkumpul kembali, maka justru membuat anak-anak menjadi belajar mandiri.  

Suami pun mendukung saya untuk menjalani amanah ini dengan mantap.  “Yakinilah bahwa ini cara Tuhan untuk memberi kesempatan kamu belajar hal yang belum ditemui sebelumnya.  Kan katanya Perempuan Pembelajar tho…belajar sepanjang hayat di Universitas Kehidupan. Belajar memimpin, mengatur strategi untuk lingkup yang lebih luas, menangani personil yang bermacam karakter, sampai belajar empati terhadap sisi lain kehidupan di daerah. Ayo, kamu pasti bisa.  Jadikan ini pijakan untuk maju menjadi pribadi yang  lebih matang dan keren.”  Begitu pesan suami. 

Begitupun orang tua, mertua, kakak-kakak dan adik semuanya memberikan dukungan supaya maju.  Terutama Ibu dan kakak laki-laki saya.  Ibu berpesan, pastilah berat meninggalkan anak-anak. Tapi cobalah untuk semeleh ati.  Semeleh kuwi entheng nanging abot, abot nanging ngentengake.  Berserah diri itu ringan tapi berat, berat tapi meringankan.  Begitu kata petuah di tanah Jawa.  Berserah diri itu menyerahkan segalanya kepada Tuhan sambil terus berikhtiar dan berdoa untuk harapan terbaik.  Di dalamnya ada pembelajaran ikhlas dan syukur yang teramat dalam.  

Berbekal itu semua, kemampuan saya untuk survive rasanya menjadi berlipat ganda.  Rasanya.  Padahal mungkin ya kemampuan saya segitu aja.  Tapi dukungan mental yang besar dari keluarga membuat saya yakin bahwa saya sedang menjalani hal yang berharga bagi keluarga. Karenanya saya harus survive. Harus.  Pun dalam menghadapi pekerjaan tersulit.  

Keluarga pun bergantian menemani anak-anak saya ketika saya bertugas. Ikatan kasih sayang kami sebagai anggota keluarga besar pun jadi semakin terasa. Semua ini patut disyukuri, meskipun kami bukanlah keluarga yang berkelimpahan uang atau harta benda.  Tapi ikatan kasih sayang yang tertanam dan terpelihara adalah rezeki bagi keluarga kami.  Rezeki yang patut disyukuri selalu. 

Harapan Saya Ke Depan 


Sebulan sudah saya di sini, di kabupaten perjuangan.  Hidup dalam lingkup yang sangat berbeda dengan belasan tahun sebelumnya.  Fasilitas seadanya, semua serba seadanya, membuat saya belajar lebih mensyukuri hidup. Lebih empati terhadap perjuangan masing-masing personil yang ada di sekeliling saya.  Lebih positif dalam menyikapi ragam hal, dari yang membuat pening sampai yang membuat mual.  Lebih bijak untuk bersikap terhadap siapa saja.  Lebih bertekad untuk mampu meringankan beban orang lain sekalipun hanya dengan senyum atau tutur kata yang adem.  Lebih, lebih, dan lebih lagi.  Untuk lebih banyak hal.

Harapan yang tumbuh subur merekah di dalam hati seiring dengan langkah bukan cuma satu dua. Banyak. Banyak sekali seperti rumpun bunga di taman yang terindah, bersemi seiring berjalannya waktu.  Harapan itu adalah semoga perjuangan ini tak pernah sia-sia, amanah ini dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya, tumbuh sejalan dengan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.  

Harapan agar anak-anak menjadi semakin mandiri dan mampu belajar berjuang berpadu dengan harapan agar saya menjadi ibu yang lebih pandai bersyukur serta instrospeksi diri.  Di ujungnya, harapan itu mengerucut menjadi satu harapan terindah yaitu kembali berkumpul dengan anak-anak dan suami tercinta dalam keridhoan Allah SWT.  

Saya meyakini, harapan itu akan selalu ada, layak diihktiarkan untuk terwujud melalui perjuangan dan doa. Pada waktu yang ditetapkan Allah SWT, harapan itu akan menjadi nyata.  

Pekerjaan tersulit seorang ibu adalah pekerjaan yang harus dikerjakan saat dipisahkan dari buah hati tercinta. Ada ibu yang tidak setuju?.......

Saya salah satu ibu yang setuju dengan pernyataan itu.  Dan saya juga termasuk ibu yang percaya bahwa saya mampu menjalani pekerjaan tersulit itu sebagai bagian perjuangan melakukan yang terbaik demi dapat berkumpul kembali dengan kesayangan…… Semoga …… Gusti Allah boten sare (Opi) 

Back to Top