Jumat, Januari 04, 2019

“STOP MOM WAR” : Jangan Ada Perang, Mari Bergandengan Tangan


 “Bukan soal siapa yang paling benar, tetapi bagaimana kita mampu menerima setiap perbedaan“

Kalau boleh rada lebay, perang antar ibu adalah jenis perang yang paling menyeramkan. Bikin ngeri! Baik yang terang-terangan maupun yang diam-diam tertutup oleh senyuman.  Dari senyum sinis sampai senyum pahit. Pokoknya bikin hidup tidak tenang cenderung kurang produktif deh. Kok?  Lha iya, bukannya fokus dan percaya diri mengasuh anak, malah jadi rempong saling serang. Waduh. Kontraproduktif!

Ajaibnya, mom war terjadi hampir selalu di tiap era. Bagai obor abadi. Sebelum zaman digital menggila, perang antar ibu berkisar di isu ibu rumah tangga versus ibu bekerja di luar rumah, ASI versus Susu Formula, hingga pro kontra imunisasi.  Lalu era digital datang menjelang. Bukannya surut, mom war justru menemukan lahan baru untuk dirambah.  Topiknya juga nambah!  Mulai dari pro kontra pemakaian gawai pada anak sampai perihal gaya hidup dan printilan pengasuhan anak di era digital. 


Keberadaan media sosial yang makin memudahkan para ibu untuk saling terhubung malah menambah luas lahan perang. Mom war pun merambah kavling di dunia maya.  Apalagi kalau bukan karena literasi digital yang masih minim di kalangan ibu?....

Baiklah, kondisinya memang seperti itu. Mau bilang apa lagi? …..

Bergerak dari kondisi tersebut, Penerbit Diva Press dan Komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB) menggagas sebuah lomba menulis dengan tema Stop Mom War bagi para emak blogger pada pertengahan tahun 2018 lalu. Dari ratusan peserta yang berpartisipasi, Dewan Juri memilih sepuluh tulisan terbaik untuk diterbitkan dalam bentuk buku.  Lahirlah buku antologi Stop Mom War.

10 tulisan dalam buku antologi Stop Mom War ini memuat pengalaman pribadi para penulisnya baik sebagai aktor maupun korban mom war. Selain memuat pengalaman, mereka juga sumbang saran seputar tips produktif untuk menghadapi mom war ala mereka masing-masing.  Saya adalah salah satu dari sepuluh penulis di buku Stop Mom War. 


Inilah kesepuluh tulisan yang dapat dinikmati dalam buku Stop Mom War: 

1. My Best Friend is A Working Mom  (Ajeng Pujianti Lestari) 
2. It Takes a Village to Raise A Mother ( Athiah Listyowati) 
3. Terjebak Mom War Berarti Tidak Bahagia (Dian Farida Ismyama)
4. Berada di Antara Dua Kubu Berbeda (Finna Kiyana) 
5. Kala Para Pejuang Suka Berperang (Gisantia Bestari) 
6. Ketika Postpartum Depression Melenyapkan Mom War dalam Diriku (Latifika Sumanti) 
7. Ibu Pembelajar Menjawab Tantangan Zaman (Novi Ardiani) 
8. Stop Bermusuhan dengan Gawai (Ruth Ninajanty)
9. Jadikan Media Sosial sebagai Penambah Wawasan Positif bagi Perempuan (Sri Mulyani) 
10. Mengubah dengan Cinta (Virgorini Dwi Fatayati) 



Kesepuluh tulisan ini memberikan inspirasi bagi pembaca, tentang bagaimana setiap pribadi sebagai seorang ibu memiliki perbedaan dan berproses dalam menerima perbedaan.  Merasa benar, adalah jebakan penglihatan terhadap perbedaan di luar sana.  Merasa paling benar, adalah sumbu utama pembakar mom war. Bukan soal siapa yang paling benar, tetapi bagaimana kita mampu menerima setiap perbedaan.
  
Masing-masing penulis di buku Stop Mom War menggunakan gaya menulisnya masing-masing.  Ada gaya kocak menyindir, sampai yang serius. Tapi nafasnya sama, bahwa mom war itu kontraproduktif! Mom war adalah cerminan rasa tidak percaya diri ibu dan bukti mereka tak mampu menerima perbedaan dengan hati legowo. 


Saya sendiri mengulas tentang ide ibu pembelajar untuk menjawab tantangan zaman di dalam buku ini. Stop mom war, jadilah ibu pembelajar. Idenya berawal dari kisah nyata diri sendiri dalam mengasuh anak yang alergi.  Sebagai korban mom war, saya menawarkan lima tips untuk mengakhiri semua peperangan sesama perempuan. Kelima tips itu adalah : 

1. Temukan passion 
Perempuan yang memahami di mana passionnya, akan memiliki semangat tinggi dan terjaga untuk melakukan sesuatu dengan senang hati dan gembira. 

2. Belajar, bekerja, dan berkarya sesuai passion
Jika sudah ketemu passion, lakukan trilogi belajar, bekerja, dan berkarya.  Nyalakan terus gairah sehingga bisa produktif dan bermanfaat.

3. Terus belajar hal baru, tularkan pada anak-anak 
Jangan berhenti di satu titik karena merasa puas.  Stay foolish and hungry.  Terus belajar mengikuti dinamika zaman dan tularkan pada anak sebagai bekal survival hidup.

4. Bergabung dengan komunitas dan berkolaborasilah 
Jangan menyendiri, bergabunglah dengan komunitas sesuai passion.  Atur skala prioritas dan hasilkan sesuatu yang baru dan bermanfaat dengan cara bekerjasama.

5. Sibukkan diri dengan terus belajar dan memperbaiki diri.
Cukupkan ketidaksukaan pada perbedaan hanya sampai di jalur berpikir otak.  Tidak perlu diterjemahkan jadi perang.  Jadikan itu bahan pemikiran untuk menyibukkan diri dalam proses pembelajaran.  Sibukkan diri dengan usaha memperbaiki diri sendiri dan hasilnya akan kembali pada diri kita sendiri. 


Mempelajari hal-hal baru yang bermanfaat dan sibuk memperbaiki diri sudah cukup menyita waktu agar setiap perempuan tidak sempat lagi berperang kata dengan sesamanya.  Itulah yang menjadi mantra bagi saya setiap saat.  Mendengungkan mantra itu membuat saya selalu akhirnya tidak membalas setiap ajakan perang.  Justru saya mengalihkan diri dengan sibuk belajar apa saja yang menurut saya perlu untuk survive sebagai ibu. Semua jadi lebih mudah setelah menemukan passion.
  
Kisah lain dalam buku ini yang bisa jadi inspirasi antara lain dituliskan Ajeng Pujianti Lestari.  Cerita Ajeng tentang sahabatnya -seorang ibu pekerja berhati mulia- meluluhkan persepsi tentang ibu kantoran yang nampak kejam karena tega meninggalkan anak untuk bekerja.

Kejam itu adalah penghakiman sepihak.  Tapi lain cerita jika hubungan yang terjalin dekat menunjukkan kemuliaan murni sebagai manusia, tanpa embel-embel apakah dia seorang ibu yang bekerja di luar rumah atau tinggal di rumah sepanjang hari. Ajeng menceritakannya dengan gaya bercerita polos yang agak lucu namun menyentuh hati.  



Ragam kisah lainnya dapat disimak, dan pastinya akan membuka cakrawala para ibu tentang bagaimana berjibaku menghadapi mom war. Buku ini mencerahkan. Serta konkrit.  Iya.  Para ibu dan calon ibu layak membacanya.  Percayalah, ibu layak tersenyum dan bahagia.  Bukan sibuk perang dan kontraproduktif!

Pada akhirnya, kita semua kaum ibu tetap adalah perempuan. Perempuan yang perasaannya lembut dan mudah tergores.  Perempuan yang emosinya lebih dulu terungkapkan daripada logikanya.  Sesama perempuan kita harusnya bisa saling memahami.

Perbedaan bukanlah bahan bakar untuk menyulut api peperangan.  Tetapi perbedaan adalah sebuah karunia yang apabila dikelola dan dikolaborasikan akan menghasilkan sesuatu yang menakjubkan.  Kenapa tidak?....  Yuk kita jadi Ibu Pembelajar yang saling berkolaborasi untuk menjawab semua tantangan zaman nan terbentang panjang di hadapan. Stop Mom War! (Opi) 



Informasi Buku :

Judul Buku : Stop Mom War
Penulis :  Kumpulan Emak Blogger 
Editor : Mika Ayunda
Cetakan Pertama 2018 
Penerbit Laksana, Diva Press Yogyakarta 
Tebal 204 halaman , Dimensi buku 14 x 20 x 1 cm 
Harga wilayah Pulau Jawa Rp 65.000,- 
Genre Parenting dan Family 

** Pembaca dapat membeli buku Stop Mom War di toko buku mayor di kota-kota besar, Gramedia online, atau langsung ke Penerbit Diva Press.  Dapat juga menghubungi saya via email ya. 


Behind The Scene

Kenapa Saya baca buku ini? Jelas karena saya termasuk dari salah satu penulis dalam buku antologi ini.  Masak ngga baca buku sendiri ya, kebangetan dong.  Cuma, memang saya tidak perlu membeli karena mendapatkan bukti terbit dari Penerbit.  

Saya tidak pernah berharap tulisan yang diikutkan ke lomba menulis ini akan masuk ke dalam pilihan 10 tulisan terbaik untuk dibukukan.  Seperti biasa, kalau sudah ikut lomba saya lupakan saja.  Menulis, kirim, lalu lupakan. Ternyata dinilai termasuk tulisan terbaik, tentunya senang.  

Saya ingin tulisan dalam buku ini dibaca banyak orang, supaya manfaatnya juga bisa dirasakan perempuan di mana saja.  Makanya beberapa kali saya “mengiklankannya” di media sosial pribadi. Dan, tidak lupa menulis ulasannya di blog saya sendiri ini.  Buku karya orang lain saja saya tulis reviewnya, buku tulisan sendiri masa ngga sih… he he he….. Hitung-hitung latihan nulis dan berbagi wawasan. Semoga manfaatnya mengalir sepanjang waktu…. Aamiin.  

Kamis, Januari 03, 2019

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat ala Mark Manson


Bersikap “bodo amat” versi Manson bukanlah masa bodoh seperti kosa kata yang pernah saya telan sebelumnya. Masa bodoh atau bodo amat ala Manson artinya memandang tanpa gentar tantangan yang paling menakutkan dan sulit dalam kehidupan lalu mau mengambil tindakan. Bodo amat atau masa bodoh tidak sama dengan acuh tak acuh seperti yang selama ini saya pahami.  

Mulanya agak sulit mencerna maksud Manson, harus dibaca pelan-pelan dan direfleksikan dalam hal-hal yang pernah dialami dalam perjalanan hidup. Manson menawarkan sebuah seni sebagai pendekatan yang waras dalam menjalani hidup yang baik, yang saya tangkap sebagai dorongan kuat untuk berjuang menjadi diri sendiri, menerima diri sendiri, lalu berjalan tegak dengan segala atributnya. 

Iya, kalau Anda memang mau belajar dan berjuang jadi diri sendiri, memang pantas baca buku ini. Buku ini tidak akan berkenan bagi para penjilat bermuka dua. orang-orang yang tidak tahu tujuan hidupnya dan atau yang terlalu bernafsu mencapai hal-hal tertentu dalam hidup tanpa memahami prioritas. Kecuali diantara mereka terketuk hatinya untuk berputar arah. Oh sungguh saya merasa ditampar untuk hal ini. 



Perbaikan diri dan kesuksesan kadang terjadi bersama.  Namun itu tidak lantas berarti keduanya adalah hal yang sama.  Ini diceritakan Manson lewat analogi kisah seorang penyortir surat di kantor pos yang di usia senja menjadi penulis terkenal.  Bukowski. 

“Bukowski sukses jadi penulis bukan karena perubahannya menjadi orang yang lebih baik.  Melainkan, karena dia nyaman dengan cerminan dirinya yang dianggap sebagai kegagalan.  Ia hebat karena kemampuan sederhananya untuk jujur pada diri sendiri sepenuhnya dan setulusnya- terutama mengakui hal-hal paling buruk yang ada pada dirinya sekalipun- dan untuk membagikan perasaannya tanpa segan dan ragu.”  Begitu tulis Manson. 

Bukoswki adalah contoh nyata sosok yang berhasil menerima dirinya beserta berbagai atribut yang ada. Sementara sekian banyak dari kita mungkin sedang bercermin dan mengatakan,”Aku cantik”, sekalipun wajah yang nampak di cermin sama sekali tidak seperti yang dikatakan. Kenapa manusia sulit menerima diri sendiri? 

Ini disebabkan karena kebanyakan manusia mengingkari hukum kebalikan yang dikemukakan filsuf Alan Watts.  Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif.  Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif.  



Intinya adalah, semakin kuat Anda berusaha baik setiap saat, Anda akan merasa semakin tidak puas, karena mengejar susuatu hanya akan meneguhkan fakta bahwa pertama-tama Anda tidak baik.  Semakin mati-matian Anda berusaha untuk ingin sesuatu, Anda semakin merasa tidak kunjung meraihnya, terlepas dari seberapa yang sebetulnya telah Anda peroleh.  

Jalan yang dicetuskan Manson adalah menciptakan seni. Inilah tiga seni utama yang ditawarkan Manson untuk Bersikap Masa Bodoh sebagai pendekatan waras demi menjalani hidup yang baik: 

1. Seni Pertama : Masa bodoh = nyaman saat menjadi berbeda. Tidak sama dengan acuh tak acuh atau tidak peduli. Acuh tak acuh dan tidak peduli hanya dibutuhkan untuk menyikapi hal tak penting yang kurang makna. 

Pertanyaannya, bagaimana caranya untuk nyaman saat berbeda?  Fakta tentang kehidupan adalah tidak pernah ada yang namanya masa bodoh.  Sisi biologis manusia selalu peduli akan sesuatu, karena itulah manusia punya kecenderungan untuk selalu peduli terhadap sesuatu. 

Namun, bukan berarti manusia harus peduli terhadap semua sesuatu dan merespon semua hal dengan kadar kepedulian yang sama.  Pedulilah hanya pada hal besar dan penting.  Hal yang kaya makna.  Setelah itu Anda akan menjadi berbeda.  Agar tetap nyaman ketika menjadi berbeda, Anda harus konsisten dengan apa yang dipercaya sebagai hal besar dan penting. Sebagai dampaknya, orang akan melihat dan peduli pada Anda. Anda menjadi sesuatu yang penting dan bermakna bagi orang lain.  Menginspirasi. Alangkah nyaman ketika setiap orang nyaman dengan dirinya sendiri, menjadi diri mereka sendiri.  



2. Seni Kedua: Peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan, sehingga Anda dapat mengatakan bodo amat pada kesulitan.  

Pertanyaannya, apa yang lebih penting dari kesulitan? Itulah yang harus Anda temukan.  Apa yang sangat berarti bagi hidup Anda?  Temukan.  Menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan Anda, menjadi cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga.  Karena, jika Anda tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, maka perhatian Anda hanya akan habis tercurah untuk hal-hal tanpa makna dan sembrono. 

Selama manusia masih menganggap bahwa kesulitan yang dihadapi dalam hidup adalah hal terpenting yang harus dipedulikan,  selama itu pula pikiran dan tenaganya akan habis tercurah untuk fokus peduli pada kesulitan hdup! Betapa malangnya. Sementara hidup terlalu sebentar untuk menjelang pada kematian, dan masa hidup menjadi sia-sia.  

Intinya adalah bukan menghindari kesulitan, namun menemukan hal sulit yang bisa Anda hadapi dan nikmati. Menancap!

3. Seni Ketiga: Pilih hanya hal-hal yang penting untuk diperhatikan.  

Pertanyaannya, apa hal-hal yang penting dalam hidup?  Pilih.  Sekali lagi pilih.  Memilih mana yang penting untuk diperjhatikan adalah hak prerogatif Anda dalam menjalani hidup sebagai diri Anda sendiri.  Keluarga.  Teman-teman.  Sahabat.  Kesehatan jiwa dan raga.  Target Hidup. Pilih.  Sekali lagi pilih.  Itulah yang dianjurkan Manson.  Jika untuk memilih hal penting pun Anda tidak bisa, apa tujuan Anda hidup?....

Manusia akan menjadi lebih selektif terhadap perhatian yang rela diberikan.  Inilah sesuatu yang disebut Manson : Kedewasaan.  Ini bagus.  Sebaiknya Anda mencobanya.  Kedewasaan muncul ketika seseorang belajar untuk peduli hanya pada sesuatu yang sangat berharga.  

Semakin bertambah usia, semakin renta, manusia hanya akan menyisihkan perhatian pada hal penting yang semain berkurang jumlahnya dibandingkan ketika baru mendewasa.  Namun, hal itupun sudah cukup membahagiakan bagi para manusia tua. 



Pada suatu saat, manusia dalam hidupnya tidak lagi terlalu peduli pada banyak hal.  Hidup berjalan apa adanya.  Lalu diterima dengan wajar, entah itu baik maupun buruk.  Ekstrimnya, Manson menuliskan bahwa manusia dapat menerima ketika kanker yang diderita bisa diobati tapi mungkin tidak dapat disembuhkan.  Tidak bisa pergi ke bulan.  Atau tidak bisa merasakan putting Jennifer Anniston.  Wow. Dan itu semua tidak masalah. Begitu saja.  

Manson menulis buku ini bukan untuk mengajari pembaca untuk meraih atau mencapai sesuatu, namun lebih pada bagaimana cara berlapang dada dan membiarkan sesuatu pergi. Secara detil, manson menyajikan tutorial bagi pembaca cara membuat inventaris kehidupan dan menyortir hal-hal yang paling penting saja. Belajar peduli lebih sedikit.  Tapi pada hal yang bermakna.  Sementara hal bermakna itu sepenuhnya ada pada pilihan Anda masing-masing.  

Menentukan Nilai dalam Hidup 


Memilih untuk peduli atau masa bodoh menurut Manson juga sangat ditentukan oleh NILAI yang terkandung dalam suatu hal.  

Secara gamblang Manson menyebut empat hal utama sebagai nilai-nilai sampah. Empat hal tersebut adalah kenikmatan, kesuksesan material, selalu benar, dan tetap positif.  Bukan berarti keempat hal tersebut sama sekali tidak penting, tetapi akan jadi hal yang menakutkan ketika dijadikan prioritas dalam hidup. 

Mengerikan, penjabaran yang ditulis Manson mengenai keempat hal yang selama ini dianggap sebagai prioritas hidup. Ambisi selalu benar faktanya justru menghalangi diri untuk bisa belajar dari kesalahan.  Padahal, manusia mana yang tidak berbuat salah? Tetap positif yang artinya menyangkal emosi negatif justru sama dengan mengekalkan masalah, bukannya menyelesaikan. Lalu kenapa berpikir sebaiknya selalu benar dan tetap positif?



Kemudian, nilai apa yang baik dan buruk dalam hidup menurut Manson?  Nilai yang baik adalah yang (1) berdasarkan pada kenyataan; (2) membangun secara sosial; (3) segara dan dapat dikendalikan. 

Nilai-nilai yang buruk adalah (1) tahayul; (2) merusak secara sosial; (3) tidak segera dan tidak dapat dikendalikan.  

Manson menekankan bahwa pengembangan diri yang sesungguhnya adalah yang memprioritaskan nilai-nilai yang lebih baik, serta memilih hal-hal yang lebih baik untuk dipedulikan.  

Buku ini membuat pembaca berpikir, menelaah, dan merefleksi diri.  Pada beberapa bagian, bahkan membuat saya tidak setuju.  Contohnya bahasan tentang jangan berusaha. Mana mungkin jangan berusaha? Namun setelah ditelaah dengan jernih, maksud Manson sebetulnya sudah terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.  Ia memotret dengan cara yang berbeda.  Potret yang menampar tapi lalu membuat senyum jadi lebih ringan. (Opi) 


Judul buku : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (terjemahan oleh F Wicaksono dan editor Adinto F.Susanto)
Terbit pertama kali di New York oleh Penerbit HarperOne pada tahun 2016 dengan judul The Subtle Art of Not Giving A Fuck
Cetakan ke XI :  Oktober 2018, di Indonesia pertama kali dicetak pada Februari 2018.
Penerbit : PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)
Tebal buku : vii + 246 halaman
Dimensi :
Harga Pulau Jawa :  Rp 67.000,-
Kategori buku Self Improvement Usia 17+

Behind The Scene : 
Kenapa Saya baca buku ini?  Adalah Sarie Febriane, teman saya yang berprofesi sebagai wartawan di Harian Kompas yang merekomendasikan untuk baca buku ini.  Malamnya Sarie ngomong, paginya saya langsung beli bukunya via online. Dan, saya mengambil manfaat banyak dari membaca buku ini.  Sebab, pengembangan diri yang ditawarkan Mark Manson tidak mengawang-ngawang dan nancep!  Dampaknya, saya tidak ragu untuk berjuang jadi diri saya sendiri, dan tersenyum ringan dengan segala konsekuensinya. 

Back to Top