Menghidupkan Budaya Inovasi BUMN



Necessity is the mother of invention.  Begitu kata Plato, filsuf  Yunani ratusan abad lalu sebelum Masehi.  Kebutuhan untuk bertahan hidup akan menggerakkan orang untuk menemukan cara-cara survival yang berbeda dengan sebelumnya. Penemuan-penemuan baru bermunculan, pembaruan di sana-sini dilakukan melalui beragam inovasi.  

Dari waktu ke waktu, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga dihadapkan pada kebutuhan untuk survive sebagai perusahaan negara yang memberikan sumbangsih deviden.  Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dan tak terduga (disruptive) saat ini menegaskan bahwa cara-cara baru untuk bertahan mutlak diperlukan. 

Bagaimana cara-cara baru untuk beradaptasi terhadap perubahan itu dapat ditemukan? Bagaimana inovasi dalam tubuh BUMN dapat muncul dan diimplementasikan?  Bagaimana gelombang perubahan yang tinggi dapat diantisipasi dengan munculnya penemuan-penemuan yang menjadi pemenuh kebutuhan survival?

Jawabnya akan mengerucut pada satu hal : hidupkan budaya inovasi di BUMN.  Inovasi tidak melulu sesuatu yang benar-benar baru, megah, ataupun sophisticated. Bisa jadi sebuah pembaharuan adalah hal yang sederhana dan dekat dengan keseharian. Sesuatu yang simple dan mungkin nyaris tidak terlihat, kadang di sanalah inovasi itu sebenarnya bertebaran. Tak terlihat, karena ada sebagian orang yang merasa pintar dan berpengalaman justru buta perubahan sehingga tidak mampu melihat inovasi yang dekat. 

Contoh sederhana, kita sudah terbiasa menggunakan kemasan plastik sekali pakai untuk komoditi beras, selama puluhan tahun.  Kemudian, muncul gagasan untuk mengganti kemasan plastik dengan kemasan isi ulang.  Bukankan ini sesuatu yang sangat sederhana, tetapi menjadi sebuah pembaruan yang akan berdampak pada banyak sisi kehidupan.  Bukan hanya dari sekedar ekonomi, namun juga ke arah cinta lingkungan.  

Petanyaan berikutnya adalah, apakah inovasi yang bermunculan di BUMN-BUMN bisa ditangkap sebagai bibit-bibit cara survival ?  Atau hanya sebatas wacana yang muncul kemudian terlupakan? Jawabannya sangat tergantung apakah perusahaan negara bersedia untuk menghidupkan budaya inovasi atau tidak.  Agar budaya inovasi itu hidup dan tumbuh subur, sehingga dapat mengencourage BUMN tumbuh dinamis dan lincah, menurut Saya ada delapan (8) poin kondisi yang perlu diperhatikan, yaitu: 

1. Lepas dari Belenggu Masa Lalu 
2. Fasilitasi Orang Muda 
3. Rejuvening Mindset
4. Kuatkan Mental Self Driving 
5. Membiasakan Provokative Thinking/ Lateral Thinking
6. Menciptakan Iklim Berkreasi
7. Membuka Kontribusi yang Luas  
8. Fleksibilitas Jam Kerja

Marilah kita tilik satu persatu: 

1. Lepas dari Belenggu Masa Lalu 

Seperti dijelaskan oleh Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Disruption, lepas dari belenggu masa lalu merupakan syarat utama bagi sebuah organisasi untuk mampu menemukan cara-cara baru dalam menghadapi tantangan baru. 

Apabila kita masih terkungkung pada kondisi masa lalu, kita akan cenderung buta- tak dapat melihat perubahan- sama sekali.  Padahal era disruptive itu sudah terjadi di depan mata.  Fenomena perubahan abad 21 yang disruptive  adalah 3 S yaitu Surprise, Speed, dan Sudden Shift Technology.  Perubahan cenderung  mengejutkan (surprise), cepat dan tiba-tiba (speed) serta mengubah teknologi secara cepat (sudden shift technology).  

Kita, yang masih berpikir bahwa semua akan stabil, perusahaan telah sejahtera sejak zaman dahulu kala dan pasti akan demikian seterusnya, akan cenderung tidak mampu melihat bahwa dunia sudah berubah.  

Apabila tidak segera membebaskan diri dari belenggu masa lalu, kita mungkin akan bernasib sama seperti Nokia atau Kodak. Atau bahkan seperti tukang ojek pangkalan yang kehilangan pasar setelah munculnya ojek online.  Untuk mewujudkan kondisi bebas dari belenggu masa lalu, setiap insan BUMN wajib sadar akan datangnya era disruptive.  
 
2. Fasilitasi Orang Muda 

BUMN terisi oleh beberapa generasi yang berbeda, mulai dari generasi dengan masa kerja puluhan tahun hingga generasi muda yang baru saja diangkat sebagai karyawan tetap.  Mereka yang baru saja bergabung dengan perusahaan negara mungkin tidak terlalu paham atas kondisi organisasi di masa lalu, tapi mereka paham bahwa mereka harus survive puluhan tahun ke depan.  Kondisi para generasi muda pada prinsipnya sudah bebas dari belenggu masa lalu, sehingga mereka mungkin memiliki sekian ratus atau juta ide “gila”  untuk survival BUMN ke depan.  

Kemungkinan positif ini tidak berarti apabila para generasi muda tidak difasilitasi untuk mengimplementasikan inovasi-inovasi atau cara-cara baru untuk survive yang mereka pikirkan.  Generasi yang memimpin di atasnya perlu menajamkan leadership, dan meyakini bahwa dengan memfasilitasi generasi muda secara tepat akan membawa dampak yang positif bagi survival organisasi. 

Bagaimana cara memfasilitasi generasi muda untuk berinovasi? Libatkan generasi muda dalam setiap project krusial yang membutuhkan pemikiran baru.  Beri tantangan dan tenggat waktu kepada mereka. Beri kesempatan mereka untuk memimpin tim dalam skala kecil hingga menengah dalam kendali supervisor.  Terapkan knowledge management dengan baik. Gerakkan mereka dengan sedikit saja pemicu dan kendalikan secara bijaksana layaknya memupuk dan menyirami tanaman yang kita pelihara supaya tumbuh subur.  Biarkan mereka merasakan kegagalan dan keberhasilan, lalu kembangkan dalam hal yang lebih besar.

Generasi yang lebih tua perlu memahami bahwa cara-cara baru mungkin kelihatan gila dan tidak mungkin, tetapi cara-cara lama sudah pasti tidak dapat lagi digunakan untuk menghadapi tantangan baru.  Kita tidak dapat lagi menggunakan cara yang sama untuk menghadapi tantangan yang berbeda.  

Satu hal yang juga perlu diingat, generasi yang paling baru mungkin belum menyadari sepenuhnya kondisi yang terjadi dalam organisasi dan perubahannya.  Tugas generasi yang memimpinlah untuk menyatukan arah dan mendorong kesadaran seluruh entitas organisasi untuk menyadari tantangan baru. 

3. Rejuvening Mindset

Bukan cuma generasi muda yang harus berperan dalam berinovasi.  Seluruh insan BUMN punya kewajiban yang sama.  Mindset kita pun perlu diperbaharui.  Peremajaan (rejuvening) bukan hanya perlu bagi tata organisasi, tapi juga perlu bagi mindset kita.  Mindset perlu terlahir kembali sebagai sesuatu yang baru dan lebih adaptable. 

Bagaimana cara meremajakan mindset? Kesadaran bahwa kita membutuhkan terobosan cara berpikir baru dalam memandang situasi di era disruptive ini, adalah kunci untuk berusaha melahirkan mindset baru.  

Cara sederhana yang bisa dilakukan agar kita mampu untuk selalu memperbaharui mindset adalah berusaha melatih diri berpikir kreatif.  Berpikir kreatif dapat dilatih dengan melakukan satu hal berbeda setiap hari , merencanakan dan melakukan hal yang sama sekali belum pernah dilakukan, atau melakukan hal-hal yang sama dengan metode yang berbeda.  

4. Kuatkan Mental Self Driving 

Telah dikenal adanya dua model SDM dalam sebuah organisasi yaitu mereka yang bermental driver dan mereka yang bermental passenger, sebagaimana dibahas dalam buku Self Driving karangan Prof. Rhenald Kasali.  Jika terlalu banyak tipe passenger di dalam sebuah organisasi, maka organisasi cenderung akan rusak.  Kemampuan berinovasi cenderung lemah bagi para passenger dan kemungkinan manajemen tidak dapat bekerja dengan baik.  
Karenanya, sebuah kondisi  dimana dapat ditajamkan mental self driving agar insan BUMN dapat menjadi good driver adalah penting.  Caranya? Kita harus mengalami berada dalam kondisi terekspos marabahaya, agar mental driver dapat diasah.  Kita juga harus berlatih dalam manajemen risiko yang artinya kita akan mengambil risiko serta bersiap di tengah ketidaknyamanan. 

5. Membiasakan Provokative Thinking/ Lateral Thinking

Inovasi muncul dari kreativitas yang diwujudkan.  Berpikir kreatif merupakan cikal bakalnya.  Untuk mampu berpikir kreatif, terlebih dahulu kita harus belajar lateral thinking, atau yang sering disebut sebagai provocative thinking. Cara berpikir ini menantang seseorang untuk memikirkan dua atau beberapa hal yang saling bertentangan dalam satu waktu, sehingga memunculkan kreativitas. 

Contoh lateral thinking/provocative thinking misalnya cobalah dalam satu waktu untuk memikirkan surga sekaligus memikirkan sepatu.  Surga dan sepatu adalah dua hal yang sangat jauh dan bertentangan. Kemudian kemukakan dengan kalimat tentang hubungan antara surga dengan sepatu.  

Satu orang mungkin akan mengatakan bahwa sepatu dapat digunakan untuk melangkah di jalan kebaikan menuju surga.  Orang lain mungkin akan mengatakan pakailah sepatu yang biasa-biasa saja tidak perlu bagus bagus karena sekalipun nanti di surga kita tak membutuhkan sepatu itu.  

Melatih diri untuk berpikir lateral ini akan menumbuhkan cara berpikir yang kreatif.  Cara berpikir seperti ini mungkin bisa ditumbuhsuburkan dan diterapkan dalam lingkungan kerja.  Sehingga, akan terbuka kreativitas sebagai cikal bakal berinovasi setiap waktu. 

6. Menciptakan Iklim Berkreasi

Iklim yang membuka kesempatan orang-orang untuk bebas berkreasi dan berinovasi sekaligus bertanggung jawab, sangat penting diciptakan dalam perusahaan negara.  Seringkali kita belum mampu menghargai kreativitas dan inovasi seseorang karena iklim yang tercipta belum membiasakan kita untuk itu.  

Peran manajemen sangat kuat dalam hal ini.  Mencantumkan item kreativitas dan inovasi dalam kriteria kepemimpinan di berbagai level dapat menjadi pendorong bagi semua untuk menghidupkan iklim ini.  Lebih lanjut, item kreativitas dan inovasi dapat dijadikan salah satu Key Performance Indicators (KPI) individu bagi setiap pegawai BUMN sehingga dapat memotivasi karya nyata. 

7. Membuka Kontribusi yang Luas  

Iklim kontributif akan jauh lebih positif dibandingkan dengan iklim kompetitif.  Kondisi yang memungkinkan bagi semua orang untuk memberikan kontribusi terbaiknya bagi perusahaan akan sangat mendukung inovasi dibandingkan dengan kompetisi.  

Dalam iklim kompetisi, akan ada yang maju dan ada yang tersingkir ketika babak kompetisi memenangkan salah satu pihak tertentu.  Tetapi dalam strategi iklim kontributif, semua diberi kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi sesuai dengan bidang perannya.  

Teknik jitu dalam strategi kontributif adalah tidak mengumpulkan beberapa orang yang memiliki talenta yang mirip pada satu divisi.  Sebar mereka di wilayah yang berbeda, supaya potensinya muncul semua.  Pacu setiap insan BUMN untuk menyadari potensi masing-masing dan beri ruang untuk memunculkan potensi itu ke permukaan sehingga menjadi kontribusi yang berharga bagi perusahaan.  

Dengan dibukanya iklim kontributif, seluruh insan BUMN akan merasa tertantang untuk memberikan kontribusi terbaik mereka, yang kemudian akan memicu kreativitas untuk berinovasi.  

8. Fleksibilitas Jam Kerja

Di era teknologi serba aplikasi ini, bekerja bukan hanya ketika berada di depan meja dan komputer di kantor pada jam kerja pagi hingga sore hari. Jika dipatok pada jam kerja tersebut, mungkin tak banyak inovasi yang dapat dilahirkan. 

Jam kerja setidaknya bisa lebih fleksibel karena pemikiran luar biasa seringkali muncul bukan di jam kerja.  Obrolan warung kopi (coffee table talk) di jam istirahat siang hari sering memunculkan pemikiran baru yang solutif.  Bahkan obrolan di pantry atau percakapan di lapangan olahraga pada pagi hari, seringkali memunculkan ide gila yang menjadi cikal bakal inovasi.  

Setiap orang terlahir berbeda.  Ada orang-orang yang dapat berpikir cemerlang di pagi hari, tapi tak jarang yang justru kemampuan berpikirnya menghebat menjelang senja atau malam hari. Apabila semua dibatasi pada jam kerja,  mungkin inovasi akan sulit muncul.  Perlu terobosan-terobosan di BUMN untuk membuat sistem yang memungkinkan bagi karyawan bekerja secara fleksibel namun bertanggung jawab sehingga iklim berinovasi dapat hidup dan tumbuh subur. 

Kedelapan poin itu menurut pemikiran Saya adalah kondisi yang memungkinkan diciptakan untuk menghidupkan budaya berinovasi di BUMN.  Apakah kita mau menciptakan kondisi itu, semua berpaling kepada insan BUMN sendiri.  Namun satu hal yang tidak dapat dihindari, necessity is the mother of invention. Dan sekarang kita butuh inovasi cara cara baru untuk survival.  (Opi)  



**Tulisan ini dibuat setelah membaca dua buku karangan Prof. Rhenald Kasali yaitu buku berjudul Disruption  dan Self Driving. 

0 komentar