STOP Jadi Super Mom, Teruslah Jadi Ibu Pembelajar




Menurut saya, jadi ibu tidak perlu super. Tapi, jadi ibu harus bermental pembelajar.  Ibu pembelajar akan mampu berkolaborasi dengan situasi, berdamai dengan kenyataan, dan terpacu untuk pencapaian yang terukur.  Jadi, STOP aja jadi Super Mom karena Super Mom itu hanya mitos!

Ibu yang memaksa dirinya jadi super, lalu bangga melabel dan dilabel dengan sebutan Super Mom, lama-lama bakal lelah dan ambruk juga. Lelah dan ambruknya ibu namun tetap dalam kondisi dipacu tugas itu bisa jadi marabahaya. Bagaimanapun, ibu juga manusia. Meski ada keunggulan fisiologis ibu yang tidak dimiliki ayah, tetap ada batas seperti manusia lainnya.

Berkolaborasi dengan Situasi 

Kalau super itu artinya Ibu bisa bangun paling awal setiap hari dengan gagah perkasa padahal setiap malam tidur paling akhir, lalu bisa melewati pagi yang hectic dan penuh drama, tiba di kantor tidak terlambat dan tune in seharian menjalani tugas, berjuang dengan lalu lintas yang aduhai, sampai atur-atur waktu memantau delegasi tugas kepada asisten rumah tangga serta menemani anak-anak belajar dan bermain sepulang kerja…… hmmm panjang banget nih kalimatnya. Kalau super itu artinya itu semua, tentulah bangga banget setiap ibu yang bisa menjalaninya dengan muluuuuuussss. Dua jempol!!

Tapi, kuat berapa lama sih? Kalau saya, dua pekan saja langsung rontok stamina. Paling kuat tiga pekan bisa stabil, dalam kondisi ayahnya bekerja di luar negeri. Buat saya, Super Mom itu cuma mitos. Dan saya tidak tertarik jadi Super Mom. Berjuang jadi super dalam pengertian seperti itu kok seperti menyiksa diri dan tidak menikmati jadi Ibu. Semacam dikejar kejar kesempurnaan dan kehilangan value.

Saya merasakan sendiri, jika tubuh terlalu lelah jadi cenderung lekas marah.  Anak berulah sedikit saja (padahal cuma karena minta diperhatikan), emosi langsung naik ke kepala.  Tubuh lelah, kurang tidur, kurang olahraga, beribadah serba tergesa, kurang waktu mengerjakan hobi atau rileks, membuat jiwa kehilangan value.  Kalau sudah begini, saya jadi bertanya-tanya, apakah yang dicari ibu? Saya tidak yakin ibu bahagia dilabel super ketika tubuh dan jiwa tidak terpenuhi hak-haknya.

Sebelum saya menikah, melahirkan anak, dan merasakan jadi ibu, sempat terbersit ragu apakah saya bisa menjadi ibu yang baik. Agak ngeri melihat perjuangan ibu saya membesarkan anak-anak. Ngga yakin bisa seperti ibu saya.  Didikan ibu sayalah yang kemudian membuat saya sampai pada pemikiran bahwa jadi ibu tidak perlu super, jadi ibu itu harus mau terus belajar.  Di situ kuncinya.

Situasi dan kondisi yang akan dialami ibu akan berbeda.  Sebab hidup itu dinamis. Dengan terus belajar dari setiap situasi dan kondisi yang dihadapi, ibu bisa berkolaborasi sambil merasakan alur yang tepat.  Bisa berkolaborasi dengan situasi itu penting sekali. Misalnya, dalam situasi harus bertindak cepat, pertama-tama mungkin ibu akan melakukan banyak kesalahan.  Kemudian ibu belajar dari kesalahan itu dan bertindak lebih baik di situasi berikutnya.

Terus begitu, waktu demi waktu. Setiap hal baru yang muncul dari situasi yang dihadapi, dijadikan tantangan baru bagi ibu.  Tantangan yang membuat ibu belajar dan terus belajar. Belajar menghadapinya, bersabar, memilih langkah yang tepat, dan menghargai diri sendiri. Ibu sadar, ada satu hal yang lebih penting untuk diperjuangkan yaitu value dalam hidup, bukan melulu sekedar pengakuan hebat dari orang-orang.  Walaupun, tidak dapat disangkal setiap orang butuh pengakuan. Tapi, value masih lebih di atas segalanya.

Value yang saya maksud di sini adalah antara lain mampu merasakan indahnya bersyukur, menghargai diri sendiri terhadap upaya yang dilakukan, menikmati momen kebersamaan, merasakan kedekatan emosional, dan merasakan makna hidup yang tidak tergesa-gesa.

Berdamai dengan Kenyataan 

Setiap orang bisa jadi setuju, jika dikatakan bahwa tugas-tugas yang dilaksanakan ibu setiap hari sangat berat.  Ibu yang dominan berkiprah di ranah domestik (ibu rumah tangga) selalu dihadapkan dengan pekerjaan rumah tangga yang tidak pernah ada habisnya. Bersamaan dengan itu, tugas mengasuh anak butuh energi dan kesabaran ekstra.

Meski tak harus ikut membantu mencari nafkah, ibu dominan ranah domestik juga harus putar otak supaya seberapapun nafkah yang diberikan suami bisa cukup untuk kebutuhan hidup. Tugas domestik membuat ibu jadi sering mengorbankan diri untuk mengesampingkan kebutuhannya seperti sekedar jalan-jalan, berkumpul dengan teman-teman, menjalankan hobi, atau memenuhi passion yang terpendam.

Tak heran, saya sering menemui ibu rumah tangga yang merasa rendah diri.  Bukan sekali dua kali, ketika kami bercakap-cakap, sebagian ibu ranah domestik merendahkan diri dengan menyebut,” Ah, saya kan cuma ibu rumah tangga.”

Saya tidak suka mendengarnya.  Bagi saya, seorang ibu rumah tangga bukan “cuma”.  Ibu rumah tangga adalah pilihan profesi Ibu yang mulia.  Seperti diajarkan Founder Ibu Profesionl Septi Peni Wulandani, semua ibu itu bekerja, pilihannya adalah ibu dominan bekerja di ranah domestik atau ibu dominan bekerja di ranah publik.

Secara objektif kita harus mengakui bahwa tidak semua perempuan akan bisa menjalani profesi ibu rumah tangga dengan profesional. Dalam sudut pandang yang sama juga kita dapat mengatakan ibu berbisnis yang banyak melakukan pekerjaannya di ranah publik pun dihadapkan pada tantangan yang sama dalam bentuk yang berbeda. Keduanya, baik ibu bekerja dominan ranah domestik maupun publik, dihadapkan pada tantangan menjadi profesional sebagai ibu.

Ibu yang dominan berkiprah di ranah publik (ibu berbisnis/ kantoran) dihadapkan pada tantangan menyeimbangkan kiprahnya agar tugas-tugas domestik dan tugas publik dapat berjalan beriringan tanpa terlalu banyak gesekan. Ibu yang dominan berkiprah di ranah domestik dihadapkan pada tantangan untuk menjadi produktif dalam makna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga.

Kondisi tersebut membuat ibu berpacu untuk mampu menjalankan semua tugasnya dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas yang tiada habisnya seolah memaksa ibu jadi super.  Label Super Mom pun sering dijadikan kebanggaan para ibu ketika berhasil melaksanakan multitaskingnya.

Sebetulnya multitasking itu jebakan buat ibu.  Bukan rahasia lagi bahwa beberapa pakar Psikologi menyatakan perempuan punya kecenderungan lebih stress daripada laki-laki.  Sebabnya, karena kebanyakan perempuan merasa harus bertanggung jawab terhadap apapun yang terjadi di sekitarnya. Terasa kan, sebagai ibu kita juga cenderung ingin semua tugas domestik dan pulik berjalan baik di bawah kendali kita.

Menurut saya, sudah waktunya saya lepas dari jebakan multitasking.  Lebih manusiawi jika memilih belajar jadi pembelajar.  Dengan menjadi pembelajar ibu dapat selalu berdamai dengan kenyataan.  Kenyataan tak selalu indah.  Kadang walau sudah melakukan yang terbaik, toh anak anak masih rewel. Apakah itu kesalahan ibu? Tidak melulu kan? Tapi bukan berarti ibu berhenti berjuang untuk yang terbaik.

Kadang ibu harus menurunkan standar untuk menerima bahwa penyelesaian tugas oleh asisten tidak bisa sebaik seperti dikerjakan sendiri.  Kenyataannya kan memang ibu tak kan mampu mengerjakan semuanya seorang diri. Jadi, berdamai dengan kenyataan ini penting sekali untuk menjaga kewarasan.  Dengan menjadi pembelajar, ibu jadi realistis.

Terpacu untuk Pencapaian yang Terukur 

Setelah berkolaborasi dengan situasi dan berdamai dengan kenyataan, ibu pembelajar akan lebih terpacu untuk sebuah pencapaian yang terukur.  Ngga ngoyo atau iri tengok kiri kanan. Lihat tetangga sebelah anaknya empat ngga pakai pembantu, langsung tersentak.  Lihat temen kantor kariernya nanjak dan anak-anaknya semua jadi juara kelas, langsung ngiri.  Ngga harus seperti itu sih.

Terlalu parsial dan miskin value jika selalu membandingkan dia super, saya memble. Dia keren, saya kok biasa biasa aja ya. Coba cek balik tujuan pengasuhan anak yang telah kita sepakati bersama dengan pasangan. Apa sih tujuan akhir kita dalam mendidik anak-anak?... Setiap pasangan punya penekanan yang berbeda dalam tujuan pengasuhan.  Jadi tidak perlu terusik atau rendah diri. Harus punya rasa percaya diri dan mau belajar.

Cek juga supporting system yang kita miliki, yang sudah pasti akan berbeda antara pasangan yang satu dengan yang lain. Jangan samakan kondisi keluarga yang ayahnya bekerja di luar kota dengan yang di dalam kota.  Juga jangan samakan keluarga yang betul betul mandiri tanpa campur tangan orang tua dan mertua dengan mereka yang masih serumah atau tinggal berdekatan.

Semua yang disebutkan di atas, akan berpengaruh pada pencapaian pencapaian kita sebagai ibu.  Ibu pembelajar akan mampu mendefinisikan pencapaian yang mampu diukur.  Misalnya, dalam waktu setahun ibu akan berusaha menanamkan kepada anak sulung untuk mulai membantu pekerjaan rumah tangga.  Tiga bulan pertama dimulai dengan tugas menyapu halaman dan menyiram tanaman di sore hari sebelum mandi.  Tiga bulan kedua disusul dengan tambahan merapikan kamarnya dan kamar adiknya.  Tiga bulan berikutnya ditambah dengan membantu mba merapikan pakaian yang sudah disetrika ke dalam lemari.

Terus begitu.  Dalam prosesnya ibu mengikuti dan belajar bagaimana anak-anak menjalaninya. Ukuran satu tahun dapat dievaluasi oleh ibu. Pencapaian-pencapaian kecil dalam tahapannya seperti kakak jadi semakin sabar kepada adik dan mau mengajari adik, akan menyisipkan ide ibu untuk mengapresiasi kakak. Prosesnya semua belajar.  Belajar sambil menjalani. Pencapaian ditetapkan dan diukur.  Kita belajar menerima ketika pada kenyataannya semua tidak mudah.  Atau mungkin terlalu mudah.  Namun, energi harus tetap dipersiapkan untuk melakukan yang terbaik.

Jangan Berhenti Belajar

Seringkali, seseorang yang telah merasa dirinya super jadi jumawa. Lupa belajar lagi.  Dalam menjalani kehidupan, proses tak selalu sama.  Teori dan praktek biasanya jauh berbeda.  Itu sebabnya ibu tak boleh berhenti belajar. Bumbu hidup itu aneka ragam.  Ia memberi rasa dan pengalaman baru yang indah dipelajari untuk mampu bertahan dalam rasa syukur.

Pelajaran hidup akan  membuat ibu jadi percaya bahwa melakukan yang terbaik dalam keikhlasan itu harus.  Walau mungkin kita tidak  akan pernah disebut sebagai ibu yang hebat, ibu yang super, wonder woman.

Tapi kita cukup bangga untuk terus jadi ibu pembelajar sepanjang hayat, meninggalkan jejak berupa semangat belajar menjadi lebih baik kepada anak-anak kita. Yuk, terus jadi ibu pembelajar !! (Opi)


**tulisan ini dipersembahkan untuk suamiku tercinta Erwan Julianto yang tidak pernah putus asa menggembleng saya untuk jadi ibu pembelajar, terutama belajar sabar :) .  Terima kasih untuk tumbuh dan belajar bersama dalam dekat dan jauh. I love you





4 komentar

  1. Karena super mom yang benar-benar super adalah yang mau belajar terus :D Semangat Mbak Opi :)

    asysyifaahs.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Tidak ada ibu yang sempurna, menjadi ibu yang belajar lebih baik lagi dan lagi dengan ekspektasi realistis ❤

    Tulisan Mbak Novi membuat saya "rileks" 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba lita mah juara daaah.... aku mah ngga sanggupan gituuuh

      Hapus