Jumat, Desember 29, 2017

Sayangku Tiada Batas


“Para ibu selalu mempunyai tempat untuk menampung duka, lalu mengecupnya dan bangkit.” – Helvy Tiana Rosa, Tanah Perempuan.

Merawat si kecil yang sakit membuatku belajar banyak tentang mencintai dan menyayangi tanpa batas.  Terutama, ketika menangani anak kedua yang sejak lahir alergi terhadap bermacam hal. Aku belajar bagaimana menampung duka, lalu mengecupnya dan bangkit selama menangani putriku ketika sakit. 

Putri mungilku lahir sehat walafiat saat usiaku menjelang 35 tahun. Selama hamil, melahirkan, dan menyusuinya, aku sedang menjalani kuliah pascasarjana di Fakultas Ekonomi UI Depok, atas beasiswa dari kantor tempatku bekerja. Kuberi ia nama Padmaningrum.  Padma artinya bunga teratai. Ningrum artinya bening dan harum.
Ini lantaran aku terkesima pada teratai yang bagus rupanya dan bermanfaat seluruh bagiannya.  Ingin sekali putriku tumbuh menjadi seseorang yang bermanfaat sekaligus bening hati serta harum namanya. Karena itu kuberi ia nama Padmaningrum. Sehari-hari putri mungilku disapa Ningrum. 

Ningrum sudah ikut kuliah sejak masih dalam rahim. Kadang aku mengajaknya bercakap cakap saat belajar, sambil mengelus ngelus perut. Sepanjang kehamilan, aku tidak menemui banyak masalah.  Tugas kuliah yang tidak pernah surut dan berbagai aktivitas kampus tidak membuatku lemah. Bahkan, rasanya aku jauh lebih kuat dan bersemangat. Membayangkan akan menggendong bayi perempuan memang sangat menyenangkan saat itu.  Karena sebelumnya aku telah menimang bayi laki-laki yang juga sehat. 

Kelahiran Ningrum disambut suka cita.  Segala daya upaya kucurahkan agar bisa memberikannya ASI eksklusif hingga usia 6 bulan dan diteruskan bahkan hingga usianya 3,5 tahun.  Iya, Ningrumku tersayang baru berhasil disapih pada usia 3,5 tahun.  Meskipun aku bekerja di kantor dari pagi hingga sore hari, tidak menghalangi tekadku memberikannya ASI.  Walau itu semuanya tidaklah mudah. 

Alergi dan Bolak Balik Rumah Sakit

Ningrum adalah cara Tuhan menyuruhku belajar mencintai dan menyayangi dengan cara yang berbeda. Sejak lahir, ia tidak tahan banyak hal. Sangat berbeda dengan kakaknya. Ia bisa tiba-tiba berbercak merah sekujur tubuh, panas tinggi, batuk, dan sesak. Alerginya macam-macam.  

Ningrum yang telah mengajariku cara mencintai 

Selama menyusuinya, dokter anak menyarankanku untuk tidak mengkonsumsi ragam makanan yang diduga kuat sebagai pencetus alergi.  Susu sapi dan turunannya, kuning telur, kacang kacangan, serta seafood.  Ningrum kecil juga harus dijauhkan dari debu dan semua benda yang dapat menampung debu seperti boneka dan bantal-bantal lucu. 

Mulai usia delapan bulan, Ningrum sudah merasakan dirawat di rumah sakit karena alerginya.  Sesudahnya, dalam setahun minimal dua kali ia dirawat di rumah sakit. Kenapa harus dirawat?  Karena di belakang alergi itu berbagai infeksi mikroorganisme mengikutinya. Setiap kali dirawat di rumah sakit, aku selalu ada di sampingnya. Walau harus mengurus berbagai ijin ke kampus dan kantor, diomongin sana sini, kujalani saja. 

Pernah suatu kali, ketika Ningrum harus dirawat, itu bersamaan dengan jadwal ujian di kampus.  Setelah lobby sana-sini, aku berhasil minta ujian susulan. Beberapa tugas pun kukerjakan di rumah sakit sambil menunggui putriku.  Aku tidak bisa meninggalkannya karena setiap saat ia butuh menyusu.   Dalam keadaan sehat, aku bisa meninggalkannya ke kampus dan ke kantor, sementara asistenku di rumah yang memberikan ASI perah dari botol. Tapi dalam keadaan sakit, aku nyaris tidak tega meninggalkannya. Setiap kali berada di pelukanku sambil menyusu, Ningrum kecil kelihatan tenang dan damai.  Bagaimana aku bisa tega melepaskannya.  

Biasanya Ningrum akan membaik setelah empat sampai lima hari perawatan di rumah sakit. Kadang aku merasa apabila alerginya kumat dan terinfeksi sehingga harus dirawat di rumah sakit, ini seperti teguran Tuhan kepadaku untuk lebih banyak waktu mengurusnya. Setiap kali merawatnya, aku bisa merasakan putriku sangat kangen pada ibunya. 

Menangani Sakitnya dengan Sabar dan Sayang 

Waktu Ningrum bolak balik dirawat di rumah sakit, aku sempat mendengar suara nyinyir.  Yah, mau tidak mau agak terpengaruh juga.  “Ningrum itu ASI nya full, tapi kok bolak balik rumah sakit aja sih, kenapa ya?” Seolah-olah tiada guna memberi ASI susah payah, kok anak masih saja sakit-sakitan. Bolak balik ijin cuti alasan penting dari kantor dan meninggalkan pekerjaanku untuk merawat Ningrum juga membuat bekas tak enak dalam batinku. Seolah-olah aku tak becus punya anak karena sakit-sakitan. 

Mentalku memang kurang bagus saat itu.  Ekspektasiku tidak sesuai kenyataan.  Anak sakit atau sehat itu bukan semata ibunya becus atau tidak becus mengurus anak, tapi lebih kepada cara Tuhan memberikan ujian.  Cara Tuhan menyuruhku untuk bersyukur, bersabar, dan merawat anakku baik-baik. 

Aku meringis. Memilih diam saja sambil berdoa agar putri kecilku bisa melalui saat-saat beratnya dengan kuat. Aku percaya kata dokter, seiring bertambahnya usia maka imunitas Ningrum akan semakin terbentuk. Sehingga, perlahan-lahan daya tahannya terhadap alergen akan berubah. 

Benar.  Awalnya kena debu sedikit saja Ningrum langsung kumat.  Batuk, sesak, dan panas tinggi.  Sampai usianya 3 tahun, masih seperti itu.  Di kompleks perumahan kami, waktu itu tidak henti-hentinya orang merenovasi rumah.  Setelah tetangga sebelah , lalu tetangga depan rumah, lalu sebelahnya lagi.  Terus tiada henti. Debu bangunan membuat Ningrum kumat.  

Kalau sudah kumat, panasnya tinggi sekali. Beberapa kali panasnya hingga 41 derajat Celcius. Anak pertamaku tidak pernah panas hingga setinggi itu.  Tapi Ningrum, langganan. Lalu aku menyaksikan semakin besar, Ningrum semakin kuat.  Makanan yang dulu dipantang, pada usia tiga tahun sudah bisa dimakannya semua. Satu-satunya alergen yang masih menghantui adalah debu. 

Putri kecil yang selalu minta foto sebelum ibunya berangkat ke kantor

Aku punya cara tersendiri menangani Ningrum pada saat ia panas tinggi sebagai dampak dari respon tubuhnya terhadap allergen atau indikasi adanya infeksi mikroorganisme, yang kupelajari dari berbagai sumber: 

1. Mewaspadai sesak napas 

Setelah terpapar debu, biasanya Ningrum mulai hangat suhu tubuhnya disertai bercak merah di tubuh lalu sesak.  Mulanya aku tidak terlalu paham. Ningrum tidak rewel walau suhu tubuhnya mulai naik hingga 39 derajat Celcius.  Ia nampak hanya diam. Justru pada anak-anak sesak napas agak berbeda dengan kita orang dewasa.  Kelihatannya anak seperti diam saja padahal dia sudah sesak.  Yang bisa membedakannya saat sesak adalah gerakan turun naik di sekitar perutnya. Kalau kita tidak seksama, nampaknya ia baik-baik saja.  
Mulanya aku panik, tapi setelah menanganinya beberapa kali, lalu terbiasa. Sedapat mungkin kubuat Ningrum lega, kulepaskan kancing baju di sekitar dada, atau kalau perlu dibuka pakaiannya. Pintu kamar dibuka lebar-lebar supaya ada aliran udara. Sedapat mungkin ia tidak dalam posisi terlentang karena akan menyulitkannya bernafas. 
2. Mengatasi panas tinggi 

Atas saran dokter anak, Ningrum diberi obat turun panas apabila suhu tubuhnya di atas 38,5 derajat Celcius. Di rumah, selalu tersedia termometer di kamar anak. Tak lupa aku juga mentransfer ilmu kepada asisten cara mengukur suhu tubuh anak. Aku memilih obat turun panas Tempra untuk Ningrum. Ningrum menyukai rasa angurnya, sehingga tidak sulit memberikan obat turun panas kepadanya.   

Tempra Syrup mengandung parasetamol yang bekerja sebagai antipiretika pada pusat pengaturan suhu di otak dan analgetika dengan meningkatkan ambang rasa sakit. Selain dosis tepat (tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis), aman di lambung anak, cairan sirupnya tidak perlu dikocok lagi karena telah larut 100%. 


Tempra Syrup menjadi sahabat saat suhu tubuh anak naik tinggi 

Selain memberikan obat turun panas, aku biasanya melepas seluruh pakaian Ningrum dan pakaianku lalu memeluknya untuk menyerap panas tubuhnya. Dibantu juga dengan kompres handuk air hangat pada dahinya, biasanya suhu tubuhnya berangsur turun setelah semalaman.

Saat memeluknya di suhu nyaris 41 derajat Celcius ini aku sering tidak bisa berhenti menangis. Panasnya seperti terbakar, ditransfer ke tubuhku. Dia tidak rewel, hanya diam kadang berbisik, “mau sama Ayah” lalu “mau sama Ibu” . 

Dari sanalah aku belajar bahwa ketika anak sakit, yang dibutuhkannya hanyalah cinta orang tuanya. Karena itu, aku berjanji akan selalu ada dekatnya dan merawatnya saat sakit.  

3. Mendampingi setiap pemeriksaan laboratorium dan perawatan

Jika panas Ningrum masih berlanjut hingga masuk hari ke tiga, aku akan langsung membawanya ke lab.  Dokter anak sudah menanamkan prosedur itu kepadaku.  Jika sudah masuk hari ke tiga, kemungkinan besar ada infeksi mikroorganisame yang membarengi saat daya tahan tubuh Ningrum turun. Bisa infeksi bakteri, bisa juga virus.  Diagnosisnya harus ditegakkan dari hasil pemeriksaan laboratorium.

Aku selalu mengambil keputusan meninggalkan semua aktivitas pekerjaan untuk mendampingi Ningrum dalam pemeriksaan laboratorium dan perawatannya, walau resikonya aku melewati berbagai kesempatan untuk karier.

4. Pemulihan dengan cinta

Setelah menjalani perawatan, biasanya Ningrum akan pulih dalam sepekan. Dokter anak selalu mengingatkanku untuk menjauhkan Ningrum dari allergen utama yang masih jadi musuhnya: debu. 
Di masa pemulihan, Ningrum justru lebih rewel dibanding saat sakit.  Ia tidak mau ditinggal.  Makan dan minum selalu harus dengan Ibu. Minta terus digendong. Minta terus bermain bersama. Aku paham bahwa itu bahasa cintanya. 

Sepulang kantor, ibu langsung memenuhinya minta bonceng sepeda


Memilih untuk tidak Mendaki Karier

Tahun 2015, ketika usia Ningrum menginjak tiga tahun, aku memutuskan mengambil cuti besar selama 3 bulan untuk secara khusus merawat Ningrum tersayang. Pada saat itu, aku telah memenuhi syarat untuk jenjang karier yang lebih tinggi karena telah menyelesaikan pendidikan pascasarjana dan persyaratan diklat manajerial muda. 

Sudah kupilih untuk tidak mendaki karier yang membentang di hadapan.  Karena untuk menapakinya, ada syarat harus bertugas di daerah (mungkin Pulau Jawa atau luar Jawa)  selama jangka waktu yang tidak tertentu.  Yang artinya, aku harus siap terpisah dengan keluarga. Jangankan tinggal terpisah, meninggalkan Ningrum ke kantor saat ia sedang panas saja aku tidak tega.  Begitu pula tahun ini, setelah menyelesaikan diklat managerial madya, aku memilih untuk tidak mendaki karier ke jenjang yang lebih tinggi.  Memperhatikan kesehatan Ningrum rasanya jauh lebih penting.  Ia butuh selalu bersama ibunya.

Putri Ningrum rajin membantu ibu saat sedang sehat

Sekarang Ningrumku semakin besar.  Sebentar lagi usianya enam tahun.  Ia tumbuh semakin sehat dan kuat.  Terakhir ia dirawat di rumah sakit adalah tahun lalu. Ningrum sudah makin kuat melawan debu. Sekarang dia sudah bisa main boneka yang rutin dicuci sebulan sekali. 

Kreativitasnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga di usia dini

Beberapa kali Ningrum masih demam tapi tidak pernah lebih dari 39,5 derajat Celcius. Tidak pernah sesak lagi.  Dan nyaris tidak pernah berbercak merah lagi, hanya sesekali di sekitar leher dan telinga. 
Aku berharap Ningrum akan semakin kuat. Ningrum telah mengajari aku cara menjadi seorang Ibu.  Ningrum mengajari ibu untuk selalu mempunyai tempat menampung duka, lalu mengecupnya dan bangkit. Meskipun aku mungkin tak punya karier yang cerah, tetapi aku yakin telah melakukan yang terbaik yang mampu kulakukan untuk buah hatiku.  Ningrum, sayang ibu tiada batas. (Opi)

Penyemangatku, sehatlah selalu

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra. 

G+

12 komentar :

  1. Mwrawat anak itu memang tiada batas ya mba.. Kita harus sedia 24 jam untuk menjaga dan mengawasi setiap perkembangannya.. Semiga ningrum bisa segera pulih ya dari alergi debunya.. Ehh, bisa hilang kan ya mba alergi debunya? Atau akan menetap sampai dewasa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba nissa, terutama saat masih balita dan tiap anak beda beda. setelah lewat balita sudah beda lagi ya model tantangannya. terima kasih atas doanya mba... iya kata dokter semakin dewasa akan semakin kuat. tapi kemungkinan untuk kambuh ya masih ada.

      Hapus
  2. namanya sama denganku ningrum....sehat terus ya dek ningrum

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaaah iya sama sama ningrum .... salam kenal ...aamiin....sehat terus buat kita semuaaaaa

      Hapus
  3. Setelah membaca ini memang saya beneran menemukan unlimited love-nya Mbak Novi :) Dua anak saya blm pernah kena alergi, jadi ini bagi saya luar biasa. Sehat terus ya Dek Ningrum cantik 😘

    BalasHapus
  4. Sehat terus jugaaaa buat kk Afra dan Dede.... Kapan kapan main bareng yaaaa

    BalasHapus
  5. Wah Ningrum sudah besar ya mau bantu-bantu bundanya juga, keren. Semoga sehat selalu ya Ningrum.

    BalasHapus
  6. Iya tanteeee..... aamiin. Dikit dikit bantuin ibu nih

    BalasHapus
  7. setuju mbak... sebagai ibu tentu sudah melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya, kalaupun anak gampang sakit bukan karena ibunya yang ga becus... semoga Ningrum semakin sehat yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Maklum deh suka sensi . Tapi skr udah lebih rileks jadi ibu antepin aja, ngga terlalu kebawa omongan orang. Aamiin... Makasih mba... Sehat selalu juga buat mba Retno sekeluarga aamiin

      Hapus
  8. semoga ningrum sehat selalu ya, duh kalo punya alergi ini harus selalu dipantau mba, salah sedikit aja makanannya bisa berakibat fatal.

    BalasHapus

Back to Top