Kamis, Mei 17, 2018

3 Sebab Utama Perempuan Dukung #RokokHarusMahal





Seusai mendengarkan siaran program radio Ruang Publik KBR yang saya ketahui dari website www.kbr.id  bertajuk #rokok harus mahal #rokok50ribu, seketika saya teringat almarhum Bapak. Perih menyeruak. 



Setiap ke rumah Ibu, ada rasa ngilu mengiris hati ketika menilik kamar mendiang Bapak. Di kamar itu, masih tersimpan barang-barang Bapak meski beliau telah wafat dua tahun yang lalu. Nebulizer, kursi roda, tabung oksigen dan alat bantu nafasnya. Almarhum Bapak berpulang untuk selamanya pada usia 72 tahun, setelah menderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). 

Sepanjang hidupnya, Bapak akrab dengan kepulan asap rokok.  Beliau perokok aktif sejak usia sekolah menengah. Dalam sehari, Bapak bisa menghabiskan setidaknya satu bungkus rokok atau sekitar 12 batang.  Ketika memasuki usia pensiun, Bapak sempat berhenti merokok karena kesehatannya yang mulai menurun. Tetapi, itu tak berlangsung lama.  Nikotin yang sudah mencandu memanggil beliau kembali aktif merokok hingga Dokter menegakkan diagnosis PPOK.  

Beberapa bulan sebelum Bapak wafat, kami anak-anak Bapak sudah diberitahu Dokter yang merawatnya bahwa paru-paru Bapak sudah rusak parah, tak dapat diperbaiki lagi, sebagaimana pada umumnya penderita PPOK.  Hanya seperlima bagian dari paru-parunya yang dapat berfungsi normal.  Selebihnya, rusak. 

Filli-filli atau bulu halus penyaring benda asing pada bronkhiolus (bagian paru-paru) Bapak sebagian besar sudah rusak karena terpapar asap rokok selama puluhan tahun. Sudah gundul. Akibatnya, sedikit saja benda asing masuk akan langsung mempengaruhi respon paru-paru menghasilkan lendir terus menerus.  


Makam almarhum Bapak yang selalu menyisakan perih setiap mengenangnya

Akibatnya, Bapak akan terus batuk dan berdahak. Di samping itu, beliau pun sulit bernafas dan selalu tersengal-sengal.  Karena, hanya seperlima saja kapasitas paru-paru maksimalnya untuk memompa oksigen ke seluruh tubuh.  Itu tidak cukup. Tubuh Bapak mengurus dan terbaring lemah tak berdaya di ranjang putih. Oksigen, yang menjadi kebutuhan utama tubuh untuk hidup, sulit didapat Bapak karena kerusakan permanen paru-parunya.  

Itulah kenyataan yang dialami Bapak saya, perokok aktif yang menderita PPOK di usia senja. Karena sifatnya sudah kronis, PPOK tidak bisa disembuhkan. Dalam dunia kedokteran, PPOK adalah istilah yang digunakan untuk sejumlah penyakit yang menyerang paru-paru untuk jangka panjang.  Penyakit ini menghalangi aliran udara dari dalam paru-paru sehingga penderita akan mengalami kesulitan dalam bernafas. 

Dari penjelasan Dokter, saya memahami bahwa para perokok aktif maupun pasif yang berumur panjang memang beresiko tinggi menderita PPOK di hari tua.  Dokter memperkirakan satu dari empat perokok aktif adalah pengidap PPOK.  

Sering kita mendengar para perokok berdalih bahwa mereka sehat-sehat saja dan bisa berumur panjang. Sementara non perokok juga ada yang mati muda. Iya, mati itu soal takdir.  Tetapi, sudah bisa dipastikan bahwa para perokok yang berkesempatan berumur panjang, akan mengalami kerusakan permanen pada paru-parunya di usia tua sehingga menderita PPOK seperti Bapak saya. 


Racun yang menjadi candu bagi Bapak 

Pada saat kami sekeluarga menyadari penyakit kronis yang diderita Bapak, semuanya sudah terlambat.  Tidak ada lagi yang bisa diperbaiki atau disembuhkan.  Dokter menasihati kami anak-anaknya untuk merawat Bapak penuh sabar.  


Bergantian kami merawat Bapak di rumah sakit. Di dalam benak kami, anak-anaknya, ada satu penyesalan tentang Bapak : kenapa Bapak mencandu rokok. Seandainya rokok tidak menjadi karibnya, mungkin paru-parunya tidak harus rusak demikian. Masa tuanya pun harusnya bisa lebih dinikmati. 

Peristiwa yang dialami Bapak meninggalkan satu bekas yang tidak bisa hilang dalam sisa hidup saya. Bekas perih menyaksikan penderitaan pengidap PPOK hingga akhir hidupnya. Kami sekeluarga tidak pernah digubris Bapak jika mengingatkan tentang bahaya rokok.  Candu nikotin dan power Bapak sebagai kepala keluarga lebih dominan.  

Sebagai perempuan yang juga istri dan ibu dari dua orang anak, saya termasuk yang mudah teriris perasaannya jika melihat dan mendengar tentang pro kontra permasalahan rokok-kesehatan-dan kesejahteraan. Lagi-lagi, peristiwa yang dialami Bapak membuat saya trauma dan anti rokok. Dari keempat anak Bapak, tak satupun yang perokok.  Dan kami pun menikah dengan non perokok. Ada satu kesamaan sikap yang kami rasakan tanpa dikomando siapapun.  Kami mencamkan jahatnya rokok bagi kesehatan.

Saya Dukung #RokokHarusMahal
Sebagai perempuan, dilatarbelakangi dengan pengalaman Bapak perokok aktif yang meninggal karena PPOK, saya mengambil sikap untuk mendukung bahwa rokok harus dijual dengan harga mahal. Harga rokok harus lebih mahal dari harga barang-barang pokok kebutuhan rumah tangga. Supaya, para perokok terutama kepala keluarga akan berpikir sekian kali untuk memilih beli rokok. 

Ada tiga sebab utama mengapa perempuan seperti saya memutuskan mendukung #rokokharusmahal.  Ketiga sebab itu adalah:


1. Perempuan sebagai Manager Keuangan Keluarga bertanggung jawab terhadap pengeluaran rumah tangga yang bijaksana 


2. Perempuan sebagai Ibu mencita-citakan generasi yang sehat dan berkualitas 


3. Perempuan sebagai istri yang membantu pendapatan keluarga memiliki peluang luas untuk menambah income keluarga selain dengan berjualan rokok



Yuk bahas satu persatu:


1. Perempuan sebagai Manager Keuangan Keluarga bertanggung jawab terhadap pengeluaran rumah tangga yang bijaksana 



Mayoritas perempuan yang sudah menikah akan serta merta bertanggung jawab terhadap manajemen keuangan rumah tangga. Walau, masih ada beberapa yang keuangan rumah tangga sepenuhnya dipegang suami.  Istri tahu beres saja.  Jika suami sebagai kepala keluarga bekerja, penghasilannya akan diberikan sebagian besar kepada istri untuk dikelola.  Sebagain kecil mungkin dipegangnya sendiri untuk kebutuhan pribadi.  

Begitupun yang dilakukan Bapak dulu. Ibu saya harus pasrah saja diberi berapapun uang dari penghasilan Bapak, untuk dikelola memenuhi kebutuhan keluarga.  Jumlahnya sudah lebih dulu dipotong Bapak untuk membeli kebutuhannya termasuk rokok. Itupun kemudian masih minta lagi ke Ibu untuk beli rokok lagi. 

Saya tidak pernah tahu berapa banyak uang belanja Ibu dipotong Bapak untuk beli rokok.  Yang jelas, seharga sebungkus rokok setiap hari. Sepanjang hidup.  Saya bahkan sering disuruh beli rokok oleh Bapak, dan uangnya minta sama Ibu. Memang sepertinya sedikit, karena harga sebungkus rokok memang murah sejak dulu. Tetapi sering.   Jika ada pilihan untuk beli kebutuhan sekolah anak-anak dan beli rokok, maka uang untuk kebutuhan sekolah juga jadi berkurang. Misalnya tadinya mau beli dua pensil, jadi satu pensil saja.  Penghapusnya satu buah dipotong untuk berdua. 

Secara tidak langsung sudah terjadi pemaksaan pembelian rokok pada anggaran belanja rumah tangga selama bertahun-tahun. Itulah sebabnya kenapa kemudian saya mencari calon suami yang tidak merokok. Saya tidak mau ada anggaran beli rokok di pengeluaran rumah tangga.  
  
Karena Bapak bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, masih ada jaminan pendapatan tetap setiap bulan, walau jumlahnya pas-pasan untuk menghidupi seorang istri dan empat orang anak. Saya mendapati kejadian yang lebih mengerikan di lingkungan sekitar.  Ada tetangga yang tidak punya pekerjaan tetap, tetapi rajin merokok.  Sementara istrinya yang banting tulang bekerja sebagai kuli cuci pakaian, sembari mengasuh dua anak.  Jangankan memikirkan sekolah anak, untuk makan pun kembang kempis.  Tapi kepala keluarganya bisa merokok dengan penuh kenikmatan. 

Jika harga rokok mahal, para istri yang memiliki kendali terhadap keuangan rumah tangga akan mengatakan tidak untuk membeli rokok bagi suaminya.  Dan suaminya kemungkinan juga akan berpikir ulang.  Selama ini, harga rokok sangat murah, sehingga menjadi godaan kuat untuk membelinya walau tak punya banyak uang.  



Saya pernah membaca di media online tentang hasil survei Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia.  Pada Desember 2015-Januari 2016 mereka melakukan survei terhadap 1000 orang tentang harga rokok.  Hasilnya, 46% perokok mengaku akan berhenti merokok jika harga rokok di atas Rp. 50.000,- per bungkus. Jadi usulan #rokok50ribu itu sungguh berdasar, bukan asal-asalan. 

Pemerintah bisa mengkaji, berapa kenaikan cukai rokok yang harus diberlakukan agar harganya di atas Rp 50.000,- / bungkus.  Kenaikan tarif cukai rokok ini akan menambah penerimaan negara.  Penerimaan ini mungkin bisa dianggarkan untuk meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat atas penyakit yang disebabkan oleh kecanduan rokok. 


2. Perempuan sebagai Ibu mencita-citakan generasi yang sehat dan berkualitas



Semua perempuan yang bergelar ibu pasti menginginkan kehidupan anak-anaknya kelak lebih berkualitas dibandingkan dirinya.  Segala cara akan diperjuangkan untuk mencapainya.  Namun, perjuangan para perempuan untuk mewujudkan hal ini nampaknya dihadang oleh banyak tempaan.  Termasuk, kondisi akses mudah dan harga murah pada rokok.  

Rokok yang dijual di Indonesia bahkan ada yang harganya Rp 500,-/ hingga Rp 1.000,- /batang, dijual “ketengan”.  Racun itu dijual sangat murah, menyebar di pergaulan anak sekolah. Anak-anak yang menjadi harapan kita di masa depan.  Sejak kecil paru-parunya sudah dijejali asap rokok. Bagaimana kualitas hidupnya kelak jika terus berlanjut demikian?

Harga rokok menurut saya harus dipatok jauh di atas rata-rata uang jajan siswa Sekolah Dasar dan Menengah.  Supaya, mereka tidak dengan mudah bisa membeli rokok. Selain harganya harus mahal, Pemerintah juga harus lebih ketat dalam pengawasan peredaran rokok.  #Rokok50ribu sangat masuk akal untuk dipertimbangkan.

Rokok seharusnya tidak boleh diakses dan dibeli dengan mudah di toko oleh anak-anak di bawah umur. Lebih bagus lagi jika rokok tidak bisa dibeli “ketengan” per batang. Global Health Tobacco Survey pada tahun 2014 sebagaimana dimuat di www.fctcuntukindonesia.org menyebutkan bahwa tiga dari lima anak sekolah membeli rokok di warung/toko tanpa ditolak karena usia mereka.  Ini menunjukkan betapa longgarnya peredaran rokok bagi anak-anak di Indonesia. 



Selama ini akses rokok terlalu mudah dari segi harga dan keterjangkauan. Dalam sudut pandang marketing memang ini sengaja dilakukan oleh industri rokok.  Sasaran utama industri rokok adalah anak-anak, remaja, dan usia produktif.  Melalui komunikasi pemasaran, industri rokok mampu membuat rokok jadi kebutuhan bagi golongan muda. Kebutuhan eksistensi.  Seolah jika tidak merokok, keberadaannya tidak diakui oleh lingkungan, tidak keren, dan tidak modern.  Sifat rokok yang mencandu akan membuat orang-orang ini terus mengkonsumsi rokok sepanjang hidupnya dan menghidupi industri rokok.

Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI tahun 2010 seperti dilansir www.fctcuntukindonesia.org menyebutkan bahwa lebih dari 30% anak di Indonesia merokok sebelum usia 10 tahun.  Sementara itu, perokok usia 15-19 tahun meningkat tiga kali lipat dalam kurun waktu 5 tahun.  Ini menyedihkan. 

Karena kita para perempuan bertanggung jawab terhadap kualitas hidup anak-anak kita kelak, makanya sikap mendukung rokok harus mahal itu menurut saya tepat.  Memang akan selalu ada pro kontra. Kalau harga rokok mahal dan rokok tidak laku, bagaimana nasib industri rokok dan tembakau? Sementara ada banyak kehidupan pula bergantung di sana.  Baiklah, jika memang industri rokok harus hidup, apakah harus merajalela? 

Menurut saya harus ada pembatasan yang mempertimbangkan kemaslahatan umat manusia, bukan segolongan tertentu.  Bukankah kita semua hidup berdampingan? Bukankah ada banyak lahan industri lainnya untuk peningkatan kualitas hidup yang bisa dikembangkan di era milenial ini?  

Bukannya tidak boleh ada industri rokok, itu juga tidak mungkin.  Tapi, harus dibatasi. Jika industri rokok maju tetapi negara terbebani oleh biaya jaminan kesehatan yang membludak akibat penderita penyakit akibat rokok, kan tidak elok juga. 

Ngeri, kalau harus membayangkan anak-anak kita yang harusnya tumbuh cerdas dan sehat, sudah diracuni rokok sejak kecil.  Saat dewasa mereka telah mencandu. Mungkin juga akan meningkat jumlah penderita kanker paru di usia produktif.

 Kalaupun sampai di usia tua, mereka harus menderita seperti Bapak saya, menderita PPOK.  Ngeri.  Saya tidak mau membayangkan seperti itu. Karena itu, perempuan yang peduli pada kualitas generasi ke depan akan mangambil sikap dukung #rokokharusmahal.    

Saat ini Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia yang belum meratifikasi/aksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).  FCTC adalah perjanjian internasional tentang kesehatan yang disepakati negara di dunia anggota WHO.  

Perjanjian ini bertujuan melindungi generasi masa kini dan masa mendatang dari dampak konsumsi rokok serta paparan asap rokok.  Sebagaimana dilansir www.fctcuntukindonesia.org , saat ini sebanyak 187 negara di dunia telah menandatangani FCTC.  Saya kurang memahami apakah alasan dan pertimbangan Pemerintah Indonesia sehingga belum meratifikasi perjanjian ini.  

FCTC ini terdiri dari 11 bab dan 38 pasal yang mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.  Di dalam perjanjian ini juga diatur tentang paparan asap rokok orang lain, iklan promosi dan sponsor rokok, harga dan cukai rokok, kemasan dan pelabelan, kandungan produk tembakau, edukasi dan kesadaran publik, berhenti merokok, perdagangan ilegal rokok hingga penjualan rokok pada anak di bawah umur.  




 3. Perempuan sebagai istri yang membantu pendapatan keluarga memiliki peluang luas untuk menambah income keluarga selain dengan berjualan rokok



Saya sering melihat perempuan berjualan rokok di warung atau asongan. Mereka melakukannya untuk menambah penghasilan keluarga.  Dengan edukasi yang ramah, mereka seharusnya bisa diajak untuk lebih peduli pada kesehatan dengan tidak menjual rokok.  Mereka bisa memilih untuk menjual yang lain, bukan rokok. 

Sudah cukup banyak kisah yang kita dengar di radio, tentang kisah sukses para perempuan yang mampu menyelamatkan keluarga dari keterpurukan biaya hidup dengan berjualan.  Iya, berjualan asongan dan warung. Asongan dan warung tanpa menjual rokok bukan berarti sepi pembeli.  Sudah banyak contoh kisah warung dan asongan yang tetap mendatangkan rizki walau tidak menjual rokok. 

Sebagai perempuan, sebagai ibu dan istri kita punya peran membantu perekonomian keluarga saat dibutuhkan, dengan cara berjualan. Di situ kita punya kesempatan untuk TIDAK menjual rokok.  Dan sebaliknya, lebih baik  menjual barang kebutuhan lainnya yang lebih bermanfaat. 

Jumlah perempuan di Indonesia dengan usia sangat produktif (15-49 tahun) menurut proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) adalah 69,4 juta jiwa.  Besar artinya jika para perempuan mengambil sikap dukung #rokokharusmahal.  Suara perempuan adalah suara untuk generasi masa depan yang lebih berkualitas.  Dengarkanlah.... (Opi). 

**Tulisan ini adalah murni sikap, pendapat dan pemikiran penulis setelah membaca tentang pro kontra harga rokok di berbagai sumber berita online, serta mendengarkan Siaran Live Green Radio Pekanbaru pada 89,2 Power FM hari Jumat tanggal 11 Mei 2018 Pukul 09-10 WIB bertajuk “Perempuan Dukung Rokok Harus Mahal” 

G+

4 komentar :

  1. Alfatihah buat Almarhum Bapaknya ya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mba.... pelajaran yg penting banget buat hidup saya...

      Hapus
  2. Setujuuuu 1000% rokok harus mahal!!! Alhamdulillah suamipun sama sekali bukan perokok. Dan lebih kesel lagii yaa sering banget liat bapak2 ngerokok pdhal lg bersama istri dan anaknya yg mesih kecil !! Rokok sama sekali tidak membuat orang keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, candu nikotin itu susah dihentikan. kalau sudah merokok, lupalah istri dan anak ikut jadi perokok pasif menghisap asapnya.....

      Hapus

Back to Top