Senin, Agustus 06, 2018

7 Tips Menjadi Panutan Positif untuk Menjaga Psikis Anak Sejak Dini



“Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga”
Pada umumnya, sifat dan perilaku anak akan mengikuti teladan orang tuanya.

“Ibu, hati-hati ya di tempat tugas. Jangan lupa sholat lima waktu. Terus jangan lupa banyak makan buah-buahan dan sayur supaya segar ya.  Semoga lancar tugas Ibu ya. Aku sayang Ibu,” begitu kata anak sulung kepada saya di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta, Minggu malam itu. 

Bersama ayahnya, Si Sulung yang belum genap berusia 10 tahun mengantar saya ke Bandara untuk penerbangan malam dalam rangka perjalanan dinas ke Papua selama sepekan. Senin pagi Pukul 9.00 waktu setempat saya sudah harus berada di Merauke untuk tugas kantor.  Maskapai penerbangan Garuda telah siap untuk penerbangan malam ke Jayapura, dengan waktu tempuh sekitar 6 jam. Kemudian dilanjutkan dengan penerbangan dari Jayapura ke Merauke pada Senin pagi harinya. 

Saya berlutut dan menatap wajah anak sulung dengan senyum haru. Penuh kasih sayang, sebuah kecupan di kening dan belaian di kepala saya persembahkan padanya.  Masih dengan senyum, saya menjawab,”Pasti, Nak. Insha Allah. Tetap bersikap baik walau ngga bareng Ibu dan jaga adik ya.”

Diantar Si Sulung ke Bandara dan berfoto sebelum berangkat dinas 
Kami sempat berfoto sebelum berpisah. Ketika tangan mungilnya melambai dan saya berlalu ke dalam terminal Bandara, rasa haru saya makin menyeruak di dada.  Kata-kata si Sulung menggema terus di telinga. Kata-kata yang diucapkannya sama persis seperti yang selalu saya ucapkan ketika ia akan pergi kegiatan outing.  “Hati-hati di tempat sana ya, Nak. Jangan lupa sholat lima waktu.  Terus jangan lupa makan buah-buahan dan sayur supaya segar.  Semoga lancar kegiatanmu ya. Ibu sayang Dio.” 

DEG.

Ucapan-ucapan itu berbalik kepada saya. 


Jadi, apa yang saya ucapkan serta lakukan, adalah role model yang otomatis ditiru oleh anak. Mungkin kalau saya sering berucap,” Jangan nakal ya. Makan yang banyak. Nurut sama Bu Guru ya.” Bisa jadi si sulung akan berpesan,” Jangan nakal ya Ibu.  Makan yang banyak.  Nurut sama Bos ya.” Bisa jadi.... Saya nyengir membayangkannya.

Saat pesawat mengudara, lampu sudah dimatikan, dan sebagian besar penumpang terlelap, ingatan saya malah terlempar pada peristiwa di rumah beberapa jam lalu. 


“Ayo ibu, bergegas..bergegas. Jangan berlambat-lambat,” kata Si Bungsu pada saya ketika ibunya ini masih duduk-duduk santai sementara ayahnya sudah siap mengantar ke Bandara.  Saat mengingatkan saya, mata Si Bungsu sudah mengantuk berat, sudah hampir Pukul 21.00 Wib.  Biasanya sudah lelap.

Saya jadi kembali tersenyum mengingat kata-kata yang diucapkan Si Bungsu.  

Itu sama persis dengan yang selalu saya ucapkan setiap pagi ketika melihatnya berlambat-lambat saat sarapan atau mandi pagi. "Ayo Dede bergegas, bergegas. Jangan berlambat-lambat, " begitu kata saya biasanya. Maksud saya sih, supaya anak terbiasa cekatan di pagi hari, agar tidak terlambat berangkat ke sekolah. Saya juga seringkali mengucapkan kata-kata itu ketika kelihatan anak-anak masih bersantai-santai padahal kita akan berangkat ke sebuah acara atau kegiatan di luar rumah.  

Ah, rupanya semua kata-kata yang diucapkan ibu pada anaknya menjadi contoh untuk mereka tiru.  Pada kesempatan berbeda, namun konteks yang sama, kata-kata itu akan berbalik mereka tujukan kepada kita. Itu yang saya alami. 

Lagi-lagi saya ngengir mengingatnya.


Apakah Bunda mengalami hal yang mirip?.......


Semua pasti memiliki kisahnya masing-masing.  Namun, pada intinya kita sepakat bukan, bahwa orang tua adalah panutan bagi anak.  Mereka mencontoh apa yang dikatakan dan dilakukan orang tuanya. Mengacu dari sana, pasti kita ingin menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita bukan? Contoh yang baik akan menjadi makanan jiwa yang baik juga bagi anak.  

Anak-anak kita bukan hanya butuh makanan untuk fisiknya, tapi juga butuh suplai makanan  bagi psikisnya.  Contoh perkataan, perbuatan, dan kebiasaan yang baik sejak dini akan menumbuhkan psikis yang sehat dan moralitas yang baik bagi anak-anak sebagai bekal kemandiriannya saat dewasa.  Agar ia pandai membawa diri di lingkungan di mana ia berada. Agar ia survive. 

Seperti apa sih contoh yang baik itu? Bagaimana agar sebagai orang tua bisa jadi panutan yang baik bagi anak?  Bagaimana menumbuhkan psikis yang baik sejak dini dengan segala sumber daya dan keterbatasan yang dimiliki orang tua? Bukankah kita sebagai orang tua juga manusia yang bisa lelah dan salah?  Pertanyaan itu pula yang selalu hadir di benak para orang tua. Iya, itu manusiawi sekali. 


Alhamdulillah, saya mendapatkan jawabannya saat mendengarkan sharing Dr. dr. Tjhin Wiguna Sp.(KJ) (K), seorang Psikiater Anak dan Remaja yang sehari hari bertugas di Divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Departemen Medik Ilmu Kesehatan Jiwa RSCM- FKUI.  

Bertempat di Paradigma Kafe, Cikini Jakarta pada Selasa tanggal 31 Juli 2018 lalu, Dr Tjhin berbagi tips pada para mom bloggers dalam kegiatan “Blogger Gathering Halodoc bersama Mom Blogger Community yang bertajuk Tips Menjaga Psikis Anak Sejak Dini”.  Acara ini dihadiri oleh anggota Komunitas Mom Blogger Community dan Instagrammer #PakeHalodoc dengan sangat antusias.    
  


“Sebagai orang tua sudah seharusnya bersikap asah, asih, asuh kepada anak.  Asah dilakukan dengan memberikan stimulasi yang tepat untuk tiap tahap perkembangan anak.  Asih dilakukan dengan melimpahkan kasih sayang.  Asuh dilakukan dengan memenuhi sandang, pangan, dan papan,” demikian papar Dr Tjhin.  

Namun, mengasah ternyata tidak cukup hanya dengan stimulasi.  Dr Tjhin mengungkapkan, bahwa role modelling yaitu orang tua memperlihatkan perilaku yang baik sehari-hari juga turut mempengaruhi terbentuknya moralitas anak yang lebih baik.  

“Kita semua berharap, anak-anak bukan sekedar pintar secara akademik.  Namun, kita ingin mereka memiliki moralitas yang baik yaitu mampu membawa diri di dalam lingkungan di manapun ia berada, dan mampu membedakan mana yang pantas dan tidak pantas, benar dan salah, serta berperilaku baik,” ujar Dr Tjhin.   


Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita sering menemui perilaku anak yang tidak pantas di depan umum, tetapi orang tuanya hanya membiarkan. Gemas ya, ingin menegur tetapi jadi gamang karena menyaksikan bahwa orang tuanya saja tidak melakukan apa-apa. Padahal, itu terjadi di depan mata mereka! Siapa yang harus bertanggung jawab ketika anak gagal membawa diri di lingkungan? Orang tua! Ya, karena mungkin perilaku itu ditirunya dari orang tua. 

Untuk itu Dr Tjhin menawarkan 7 tips berikut ini bag para orang tua agar anak-anak memiliki psikis yang baik dari role modelling orang tuanya.  


Apa saja tips dari Dr Tjhin? Ini dia: 


1. Bantu anak menemukan panutan dalam bidang yang disukai, kenalkan anak Anda dengan orang tersebut.


Misalnya, anak menyukai sains dan teknologi.  Maka, bantulah anak untuk mengakses beragam informasi tentang orang-orang yang berprestasi di bidang tersebut.  Kenalkan pada kisah-kisah tokoh dunia seperti Thomas Alfa Edison dan Albert Einstein misalnya yang bisa jadi tokoh hebat sepanjang masa walau dengan ujian pahit di masa kecilnya. 

Ini akan membuat anak memiliki spektrum yang luas tentang moralitas yang baik.  Bahwa tokoh-tokoh hebat itu pantang menyerah menghadapi ujian berat dan memiliki jiwa yang kuat. Motivasi ini penting bagi anak. Mereka butuh contoh yang kongkrit.


2. Bicara dengan anak tentang orang-orang yang telah bekerja untuk membuat perubahan positif dalam kehidupan  atau di sekitar mereka 


Berdiskusilah dengan anak tentang peran nyata orang di sekitar kita yang sangat berarti dalam kehidupan.  Misal: ada tetangga yang aktif melakukan penghimpunan dana untuk anak cacat, yatim, dan terlantar.  Contoh itu bisa kita diskusikan dengan anak.  Anak bisa belajar untuk mengasah humanisme dan belas kasihan.  Juga, menajamkan empati dan kasih sayangnya terhadap sesama. 

3. Usahakan untuk selalu melingkupi rumah tangga dengan suasana Ilahiyah, menghidupkan lentera keagamaan di dalam rumah


Orang tua boleh saja sibuk bekerja untuk mencari nafkah.  Tetapi jangan lupa untuk tetap meluangkan waktu di rumah untuk menghidupkan semangat beribadah pada anak-anak setiap saat.  Rumah, adalah wadah yang tepat untuk itu.  

Rumah yang selalu dipenuhi dengan lantunan doa dan kajian agama adalah rumah yang penuh berkah.  Worthed untuk diperjuangkan.  Percayalah ini sangat mempengaruhi moralitas anak. 


4. Beri pujian sewajarnya, tidak berlebihan yaitu ketika anda melihat sikap, perilaku dan bahasa anak yang positif.


Ketika melakukan hal yang sepantasnya, anak perlu diapresiasi dengan pujian.  Sewajarnya saja misalnya ,”Good Job! Ibu bangga kamu sudah melakukannya dengan baik!” atau,” Ini keren. Begitu seharusnya anak hebat!” 
Pujian yang wajar membuat anak merasa dihargai.  Anak yang merasa dihargai akan tumbuh kepercayaan dirinya, bahwa ia mampu melakukan sesuatu yang berarti bagi lingkungannya.

5. Mampukan diri dalam mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain (anak), dan belajarlah untuk terus memotivasi diri sendiri serta mampu mengolah emosi dengan baik, lalu semangati anak untuk selalu bersikap dan berperilaku positif


Bagaimana caranya memampukan diri?  Berlatih.  Itu satu-satunya cara.  Latihlah secara terus menerus dan bertahap.  Kemampuan mengenali perasaan dan mengelolanya akan  membantu orang tua menangani anak dengan tepat. Orang tua wajib mengenali perasaan dan sikap anak saat sedih, gembira, kesal, dan marah.  Orang tua jadi tahu bagaimana seharusnya menghadapi anak yang sedang kesal, senang, marah, atau sedih.  


Sikap yang tepat saat berhadapan dengan anak dengan emosinya, akan membentuk hubungan emosi yang baik antara orang tua dan anak.  Anak akan meniru bagaimana orang tua memperlakukan dirinya.

6. Ingatkan dan beri contoh pada anak dalam menjalankan tata krama kehidupan sehari-hari, seperti : bersyukur, berterima kasih, memaafkan, meminta maaf, bertanggung jawab, menolong, memberi salam dan sebagainya 


Bersyukur bisa dilatih dengan membiasakan anak untuk menghabiskan makanan yang diambil maupun berbagi makanan dengan teman atau tetangga. Sebagai orang tua kita juga secara real melakukannya, memberi contoh dengan perbuatan, bukan hanya memberi nasehat dberupa kata-kata.  Nah, tentangan besar kan Bunda?...



7. Hidupkan dan tumbuhkan empati pada anak.  Misalnya dengan melibatkan anak menjenguk orang sakit, memaknai penderitaan orang lain, dll. 


Dr Tjhin mengingatkan, dalam menjalankan tips tersebut ada dua hal utama yang menjadi pegangan dalam upaya fokus menjadi panutan yang positif bagi anak.  Kedua hal tersebut adalah: 

1. Tunjukkan pada anak bahwa orang tua terus menunjukkan sikap dan perilaku yang positif .  Jadi kita sebagai orang tua juga terus belajar dan berlatih, praktek memperbaiki sikap hari ke hari.  Proses ini juga akan dilihat oleh anak.

2. Tunjukkan pada anak bahwa orang tua selalu berorientasai pada tujuan dan perencana yang baik. Merencanakan sesuatu akan melatih anak menghargai proses.  Kita tekankan pada anak-anak bahwa semua ada proses untuk mencapai sesuatu.  Tidak ada hasil instan yang bagus.  Dengan demikian, anak jadi lebih sabar dan tertata.    


Bagaimana Jika Anak Sudah Terlanjur Meniru Perilaku Negatif Orang Tuanya? 


Pemaparan Dr Tjhin cukup membuat para mom blogger yang hadir tergerak untuk bertanya.  Satu pertanyaan yang mewakili kebanyakan para orang tua adalah, bagaimana jika anak sudah terlanjur terkontaminasi perilaku buruk orang tua? 

“Jika orang tua sudah sadar akan perilaku yang buruk, segera lakukan perubahan sikap. Tunjukkan perubahan sikap itu kepada anak-anak kita.  Terus menerus secara konsisten.  Lama-lama anak akan merekam kembali sikap kita yang baru dan kekuatannya bisa menghapus contoh buruk sikap yang sebelumnya,” kata Dr. Tjhin.


Dr Tjin mengingatkan bahwa tidak ada metode pengasuhan yang paling benar dan paling salah untuk semua. Yang ada adalah kita sebagai orang tua berbenah dan memperbaiki diri terus menerus.  Memperbanyak rekaman model positif adalah jalan terbaik untuk membentuk sikap anak-anak kita.

Mengasuh anak bukanlah hal yang sederhana.  Dibutuhkan orang sekampung untuk mendidik seorang anak, seperti kata Pepatah Afrika Kuno: “It Takes a village to raise a child”.  Iya, anak-anak kita bukan hanya terdidik oleh contoh yang dilihat dari orang tuanya, tetapi juga contoh dari orang-orang dewasa di lingkungan terdekatnya.  Alangkah baiknya jika orang dewasa bersatu untuk memberikan contoh yang baik pada anak. 



HALODOC Ikut Ambil Peran Untuk Anak Indonesia Sehat 


Kepedulian untuk ikut mewujudkan kondisi anak Indonesia yang sehat fisik maupun mentalnya juga diwujudkan oleh Halodoc. Dalam memperingatai Hari Anak Nasional inilah Halodoc sebagai aplikasi kesehatan terpadu berbasis online bekerjasama dengan Mom Blogger Community turut mengedukasi orang tua melalui #HalodocxMBC Gathering ini.  

#HalodocHariAnak mempercayai kegiatan ini berdampak positif bagi orang tua, terutama para mom blogger yang hadir.  Offline Marketing Manager Halodoc Nana Nirmala mengungkapkan bahwa Halodoc memiliki komitmen yang tinggi terhadap kesehatan anak dan keluarga. Salah satu komitmen ini diwujudkan dengan mengalokasikan subsidi harga untuk obat-obatan yang dibeli customer dengan aplikasi Halodoc.  


“Harga obat jadi relatif lebih rendah namun kualitas dan jenis obat yang sama.  Ini karena ada subsidi harga dari Halodoc,” kata Nana.  

Aplikasi Halodoc saat ini mulai banyak digunakan oleh para orang tua untuk berbagai kebutuhan kesehatan.  Selain aman dan mudah, aplikasi ini memiliki beragam fitur yang sesuai dengan berbagai kebutuhan.  

Fitur-fitur layanan yang ada di aplikasi Halodoc adalah Hubungi Dokter, Apotik Antar, dan Lab Service. 

1. Hubungi Dokter

Fitur layanan ini memfasilitasi para pengguna untuk berinteraksi secara langsung dengan ribuan dokter terpilih melalui voice call, video call, atau chat. Tim medis yang melayani terdiri dari dokter umum, spesialis anak, internis, hingga spesialis mata yang online selama 24 jam.  

2. Apotik Antar

Fitur layanan ini membantu para pengguna dalam membeli suplemen, vitamin, dan obat dengan resep Dokter secara cepat, aman, dan nyaman.  Layanan apotik 24 jam ini tidak dikenakan biaya pengantaran, tanpa minimal nominal pembelian. Kita bisa langsung memesan obat pada fitur layanan ini semudah dan secepat yang dibutuhkan. 

3. Lab Service 

Fitur layanan ini memberi kemudahan bagi pengguna untuk melakukan pengecekan kesehatan dengan kedatangan petugas lab (phlebotomist) ke rumah atau kantor untuk mengambil sampel darah atau urin. Bekerjasama dengan Prodia, Halodoc menyediakan layanan ini untuk wilayah Jakarta Pusat dan Selatan.  



Informasi lebih lanjut tentang Halodoc dapat ditilik di : 
website: www.halodoc.com
Instagram: @halodoc
#HariAnak
#PakeHalodoc
#HalodocxMBC

Dari lubuk hati yang terdalam, ketika alinea terakhir ini dituliskan, saya ingin menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Halodoc dan Mom Blogger Community untuk Gathering yang berkualitas ini.  Kehadiran dan ulasan narasumber ahli Dr Tjhin membuka mata saya sebagai orang tua, bahwa dengan segala sumber daya dan keterbatasan yang dimiliki orang tua, saya bisa terus berusaha menjadi panutan positif.  Asalkan mau belajar dan konsisten mempraktekkan, pasti bisa. Mari orang tua terus berbenah, untuk anak tercinta yang sudah jadi amanah. (Opi) 

**Foto foto adalah dokumentasi penulis dan Mom Blogger Community





7 komentar :

  1. Nice share. Saya belum jadi orang tua sih. Tapi baca tulisan ini jadi banyak tercerahkan.
    Terima kasih. :)

    BalasHapus
  2. Benar juga ya. Ortu sekarang kurang memperhatikan psikis anak sehingga anak banyak yang stress. Bagus banget materi acara ini.

    BalasHapus
  3. noted banget nih tipsnya mbak...insya Allah saya akan praktikkan dalam kehidupan sehari2

    BalasHapus
  4. Jadi ikut terharu mb, putranya cukup care sama mamanya, walo duplikasi, tp positif. Cayo

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah anak soleh Mbak...
    Acara yang bermanfaat ya Mbak

    BalasHapus
  6. Huwaaa...aku mau sontek kata-katanya. Soalnya aku kalau pamit kerja bilang ke SID: Have fun, ya! Semoga kalian (SID dan ayah) berbahagia.
    Udah gitu aja. Hahaha.

    BalasHapus

Back to Top