Selasa, September 25, 2018

Penting, Ibu Pembelajar Bangkit Cegah Stunting!

“Ibu tidak mau anak-anak Ibu jadi kerdil, baik kerdil tubuhnya maupun kerdil pikirannya.  Anak-anak Ibu harus tinggi.  Tubuhnya, pikirannya, budinya, dan cita citanya,” begitu kata Ibu.


Ibu memang hanya lulus dari Sekolah Dasar di pelosok Kutoarjo, Kabupaten Purworedjo Jawa Tengah. Nasib tidak berpihak pada perempuan sahaja itu untuk dapat mengenyam pendidikan lebih tinggi. Namun, Ibu bermental pembelajar, haus akan pengetahuan dan wawasan untuk meningkatkan taraf hidup anak-anaknya. 

Tekadnya, anak-anak harus cukup gizi dan tumbuh sehat-cerdas-kuat.  Sehingga, bisa mengenyam pendidikan jauh lebih tinggi darinya. Ibu menggunakan nalarnya dan membalut ikhtiarnya dengan doa sepanjang nafas hidup, sehingga anak-anaknya jangan sampai berkekurangan gizi walau tak berkelebihan harta.

Perempuan sahaja itu adalah Ibu yang telah melahirkan saya dan kakak-adik. Ia salah satu dari sekian banyak ibu di Indonesia yang sejatinya adalah pahlawan untuk Indonesia Sehat. Dengan segala keterbatasan pendidikan dan ekonomi, Ibu selalu bangkit untuk berjuang mencukupi gizi anak-anaknya.  Dalam benak Ibu saya, anak-anaknya harus tumbuh semakin tinggi.  Tinggi fisiknya.  Tinggi budinya.  Tinggi pikirannya.  Tinggi cita-citanya. 


Bisa dibilang, Ibu melakoni kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala.  Demi apa?  Demi bayi-bayi yang lahir dari rahimnya 4 kali berurutan selama 4 tahun, bisa tumbuh sehat, dan tidak kerdil!  Terutama saat hamil dan di tiga bulan awal setelah bayi lahir.  Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan yang menentukan ini, sungguh beruntung saya, kakak, dan adik dirawat Ibu dan Bapak penuh kesadaran.  Kelelahan dalam menjaga sanitasi dan memberikan ASI tidak pernah membuat Ibu surut selangkahpun. Doa yang selalu membersamai diyakini Ibu menjadi pelengkap semua ikhtiarnya.

Saat anak-anak usia balita, Ibu tak habis akal meski sering tak mampu beli daging atau ikan.  Tempe, tahu, dan telur diberdayakan.  Sayur mayur dan buah-buahan lokal tidak pernah dilewatkan. Walau ekonomi pas-pasan, tetapi Ibu belajar dan berusaha memanfaatkan gaji Bapak sebisa-bisanya untuk pemenuhan gizi keempat anak dan menjaga sanitasi yang layak. 

Ibu saya kini boleh tersenyum bangga, karena apa yang beliau perjuangkan di masa lalu bersama Bapak adalah sesuatu yang memang layak diperjuangkan.  Meski latar belakang pendidikan kurang dan ekonomi pun pas-pasan, tetapi tekad untuk peningkatan kualitas hidup generasi penerus keluarga membuatnya selalu bangkit.   

Ibu diapit saya dan kakak adik.   Beliaulah pahlawan bagi kami hingga tumbuh sehat  seperti ini. 
Ibu saya tidak pernah mengenal istilah stunting, yang justru menjadi momok bagi saya setelah menjadi seorang ibu.  Padahal, yang telah dilakukannya adalah bangkit mencegah agar tidak terjadi stunting pada anak-anaknya!  Pencegahan Stunting justru sudah dilakukan Ibu saya sejak dulu dengan semangat pembelajarnya.  

Stunting atau kerdil atau pendek, merupakan gangguan pertumbuhan linier pada balita yang disebabkan adanya kekurangan nutrisi kronis dan atau penyakit infeksi kronis maupun berulang, yang terjadi sejak dari masa kehamilan hingga berusia dua tahun (Aridiyah dkk, 2015).

Pendek atau kerdil pada anak dapat diidentifikasi dengan membandingkan tinggi seorang anak dengan standar baku WHO-MGRS (World Health Organization- Multicentre Growth Reference Study) tahun 2005, yaitu membandingkan nilai z score -nya. 

Sederhananya, saat anak-anak dengan usia dan jenis kelamin yang sama berkumpul di suatu arena, tinggi badannya akan kelihatan sangat beragam. Ada yang kelihatan sangat tinggi, ada pula yang kelihatan sangat pendek. Bisa jadi di antara mereka ada yang tergolong balita pendek (stunted) apabila tinggi badan menurut umur dan jenis kelaminnya di bawah -2SD dari nilai standar baku. 


Sumber gambar:  Trihono dkk, Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya (2015) 


Menurut Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak yang dituangkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010, jika ukuran tinggi badan anak menurut umur (z score) kurang dari -2SD (Standar Deviasi) maka disebut balita pendek (stunted).  Apabila kurang dari -3SD maka disebut balita sangat pendek (severely stunted). 


Gambaran Balita Normal (kiri) dan Balita Pendek/ Stunted (kanan)
Sumber Gambar:  Bank Dunia, 2017 
Kementerian Kesehatan melalui berbagai publikasinya melansir bahwa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yaitu 270 hari masa kehamilan dan 730 hari pertama setelah bayi lahir merupakan masa yang paling krusial diperhatikan untuk mencegah terjadinya stunting.  Gizi yang cukup, imunisasi, dan sanitasi yang baik pada periode kritis ini, mampu mencegah infeksi berulang yang menjadi penyebab terganggunya pertumbuhan. 

Seandainya saat mengandung anak-anaknya dulu Ibu saya mengabaikan kebutuhan nutrisi kehamilan, lalai memberikan ASI pada bayi dan imuniasi, serta tidak menjaga kebersihan dengan baik, kemungkinan besar saya sudah terkena stunting. Tubuh saya mungkin tak setinggi rata-rata anak normal. Di masa balita mungkin saya sakit-sakitan karena kekurangan gizi dan infeksi akibat rendahnya sanitasi lingkungan. Prestasi saya mungkin tak secemerlang yang pernah dialami.

Ibu dan Saya.  Terima Kasih Ibu, Pahlawanku.
Saya ingin selalu mewarisi semangat ibu pembelajar darinya yang selalu dapat bangkit untuk mencegah stunting
Bersyukurlah, itu tak pernah terjadi.  Lalu ketika saya tumbuh dewasa, menikah dan melahirkan anak-anak, saya mewarisi apa yang diajarkan ibu. Dalam benak saya, dengan kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi berkat jasa ibu, harusnya saya mampu melakukan lebih banyak hal untuk membantu upaya pencegahan stunting. Harusnya.  Menuliskannya di blog ini adalah cara yang saya pilih, agar semangat para ibu untuk menjadi pembelajar dan bangkit mencegah stunting bisa dibaca banyak orang. Meluas dan menginspirasi. Semoga.

Stunting di Indonesia, Mengapa Meresahkan?


Stunting meresahkan, karena dampaknya yang multidimensi!

Kejadian stunting di Indonesia memang cukup meresahkan. Dari tahun ke tahun terus terjadi peningkatan angka prevalensinya.  Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 tercatat prevalensi stunting nasional telah mencapai 37,2%.  Artinya, pertumbuhan tidak maksimal ini telah diderita oleh sekitar 8,9 juta anak Indonesia. Ini  juga bermakna bahwa 1 dari 3 anak di Indonesia menderita stunting (Buku Saku Desa Dalam Penanganan Stunting, 2017).

Angka 37,2% ini dapat dikatakan relatif tinggi.  Sebab, WHO melansir bahwa stunting menjadi masalah kesehatan suatu negara apabila prevalensinya mencapai angka 20% atau lebih. Itulah sebabnya, stunting di Indonesia menjadi masalah yang cukup meresahkan dan perlu mendapat perhatian berbagai pihak.  Bukan cuma Pemerintah, tetapi juga seluruh pihak yang terlibat.  



Dari Pantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada tahun 2016, sebagaimana dilansir oleh Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, angka prevalensi stunting di Indonesia masih berada di atas 20%, yaitu 27,5%.  Sedangkan pada tahun 2017, angkanya meningkat menjadi 29,6%.   Artinya, stunting masih menjadi masalah yang serius untuk tetap ditingkatkan dan dipantau upaya penanganannya.  Di tahun 2019 Pemerintah menargetkan angka prevalensi stunting turun menjadi 28%.  

Menkes RI Nila Farid Moeloek saat menyampaikan materi "Mewujudkan Indonesia Sehat Melalui Percepatan Penurunan Stunting" dalam Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi tahun 2018 di Jakarta, Selasa 3 Juli 2018.
Sumber Gambar:  http://sehatnegeriku.kemkes.go.id
Menurut data United Nation Statistics Division (UNSD) tahun 2014, dibandingkan negara-negara tetangga, angka prevalensi stunting di Indonesia menduduki tempat tertinggi setelah Myanmar (35%), Vietnam (23%), Malaysia (17%), Thailand (16%), dan Singapura (4%). Penyebaran balita pendek dan sangat pendek di Indonesia pun sangat lebar disparitasnya.  Berdasarkan  Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, penyebaran tertinggi ada di Nusa Tenggara Timur (51,7%) dan terendah di Kepulauan Riau (26,3%).   

Indonesia juga tercatat dalam Global Nutrition Report tahun 2014 sebagai salah satu dari 17 negara (dari 117 negara di dunia) yang memiliki tiga masalah gizi yaitu stunting, wasting, dan overweight pada balita. Ini cukup menggambarkan bahwa negara kita menghadapi masalah yang kompleks dalam hal gizi balita.  



Multidampak yang signifikan diyakini bakal terjadi terhadap masa depan suatu bangsa, apabila tingginya angka prevalensi stunting tidak ditangani dengan tepat dan segera. Perkembangan fisik dan mental anak otomatis sangat terganggu akibat stunting. Tingkat kecerdasan juga menjadi sangat tidak maksimal.  Saat dewasa, anak-anak stunting kemungkinan besar tumbuh menjadi orang dewasa yang sangat rentan terserang penyakit. Baik itu obesitas maupun penyakit terkait pola makan dan  degeneratif lainnya.  

Fungsi tubuh dan kemampuan kognitif mereka juga tidak optimal.  Kesemuanya beresiko menurunkan level produktivitas. Pada akhirnya secara luas stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan, dan memperlebar ketimpangan. Bagaimana nasib bangsa kita kelak dua puluh tahun mendatang jika stunting tidak ditangani dengan serius?

Menteri Kesehatan RI Nila Farid Moeloek dalam Kampanye Nasional Pencegahan Stunting di Monumen Nasional Minggu pagi 16 September 2018.
Sumber gambar: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id
Jelas, stunting telah menjadi masalah nasional.  Hasil riset Bank Dunia menggambarkan kerugian akibat stunting mencapai 3-11% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).  Buku Saku Desa Dalam Penanganan Stunting (2017), menyebutkan bahwa dengan nilai PDB Indonesia pada tahun 2015 senilai Rp 11.000 Triliun, maka kerugian ekonomi akibat stunting di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 300 Triliun hingga Rp 1.200 Triliun per tahun.  Miris sekali bukan?  Bayangkan jika uang sebanyak itu digunakan untuk pendidikan dan kesehatan, pastinya bisa menjangkau banyak sasaran, bukan?  


Dengan demikian, stunting pada balita perlu menjadi perhatian khusus.  Jangan biarkan stunting menjadi tragedi yang tersembunyi.  Kerusakan fungsi otak yang terjadi dari gangguan perkembangan akibat stunting bersifat irreversible (tidak dapat diubah).  Anak yang terkena stunting tidak akan pernah bisa mempelajari atau mendapatkan sebanyak yang semestinya dia bisa. Stunting bukanlah perkara yang sepele karena dapat menghambat perkembangan fisik maupun mental anak.  Pada ujungnya ini akan membuat potret buram masa depan bangsa. 

Upaya Pemerintah dan Pihak Pendukung untuk Mencegah Stunting, Sudah Cukup?


Setelah menyadari dampaknya yang luar biasa, upaya penanganan yang paling krusial adalah pencegahan stunting agar tidak terjadi di generasi selanjutnya. Untuk melakukan ini kita harus bangkit, tidak bisa tidak.  Bangkit dan mungkin jatuh, lalu bangkit lagi. Terus seperti itu.   Sebagai bangsa kita selayaknya menyadari bahwa ini bukan hal yang sederhana.  Butuh nyali besar untuk terus bangkit! Tetap bangkit dan tidak terpuruk. 



Lalu bagaimana mencegah agar stunting tidak terjadi lagi? Pencegahan yang paling tepat adalah dengan terlebih dulu mengidentifikasi penyebabnya.  Penyebab-penyebab inilah yang akan dicegah agar tidak terjadi atau diturunkan risikonya. Menurut hasil penelusuran saya di berbagai literatur, penyebab stunting bukan melulu masalah gizi.  Penyebabnya multidimensional dan yang utama adalah keempat hal yang saling berhubungan ini:  

1. Praktek pengasuhan yang tidak memenuhi kebutuhan bayi/batita secara terintegrasi
2. Keterbatasan layanan kesehatan, termasuk pelayanan kesehatan ibu selama kehamilan dan terbatasnya pembelajaran dini yang berkualitas bagi calon ibu
3. Akses keluarga ke makanan bergizi masih kurang
4. Akses keluarga ke sanitasi dan air bersih masih kurang 


Presiden RI Joko Widodo dan Menkes RI Nila Farid Moeloek pada kunjungan kerja "Pencegahan Stunting" di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat,
Minggu 8 April 2018.
Sumber Gambar:  http://sehatnegeriku.kemkes.go.id
Praktek pengasuhan yang tidak memenuhi kebutuhan bayi/batita secara terintegrasi misalnya ibu tidak memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dan dilanjutkan hingga 2 tahun, memberikan makanan pendamping ASI terlalu cepat atau terlalu lambat, kualitas gizi MPASI yang kurang, dan stimulasi yang tidak tepat pada bayi untuk mendukung perkembangan kecerdasannya.  Ini bukan hanya terjadi di keluarga miskin atau di pedesaan.  

Di perkotaan dan kalangan terpelajar, ada kecenderungan ibu juga terkendala memberikan ASI. Bahkan, kurang paham nutrisi MPASI yang tepat untuk bayi.  Ini juga saya alami.  Walaupun, akhirnya dengan segenap perjuangan tetap dapat menyusui bayi hingga selesai.  Ibu saya yang menyarankan untuk rajin memantau perkembangan ilmu kesehatan.  Tujuannya agar mendapat inspirasi bahan-bahan lokal murah meriah apa saja yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Yang penting, ibu mau belajar dan mencari dukungan.  



Betapa bawelnya ibu saya dulu, agar saya memperhatikan kebersihan dalam perawatan bayi. Setiap bayi terkena diare, saya pasti dicereweti ibu agar lebih memperhatikan kebersihan dan asupan gizi setelahnya.  “Anak yang habis sakit harus lebih dipompa asupan gizinya supaya terbayar kekurangan pada waktu sakit kemarin,” begitu kata Ibu. Logis.

Sederhananya, pada waktu sakit para batita tidak nafsu makan, asupan gizipun berkurang. Gizi cukup akan membuat anak mendapatkan asupan yang cukup pula untuk imunitas tubuhnya. Imunitas yang baik akan membuatnya tak mudah sakit.  Sakit infeksi berulang-ulang serta gizi yang minim berpotensi membuat batita terganggu perkembangannya dan beresiko stunting.   

Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya stunting pada anak balita yang berada di pedesaan maupun perkotaan adalah pendidikan ibu, pendapatan keluarga, pengetahuan ibu mengenai gizi, pemberian ASI eksklusif, umur pemberian MP-ASI, tingkat kecukupan Zinc dan Zat Besi, riwayat penyakit infeksi serta faktor genetik (Aridiyah dkk, 2015).



Meskipun pendidikan ibu juga berpengaruh, tidak selamanya ibu yang berpendidikan rendah akan menghasilkan anak-anak yang kerdil.  Sebab, sebagaimana saya ungkapkan di atas, keempat sebab itu tidak berdiri sendiri.  Para ibu yang berpendidikan rendah, tetapi memiliki semangat pembelajar yang tinggi, akan mampu bangkit dan mencari dukungan untuk tegar.  Contohnya ibu saya sendiri, seperti yang saya ceritakan di awal.  

Karena itu, semangat pembelajar para ibu semestinya disambut oleh Pemerintah dan pihak pendukung.  Berkolaborasi bersama untuk memperbaiki layanan dan akses gizi serta sanitasi yang dihadapi para keluarga, adalah sangat mendesak. Ibu butuh itu.  


Long March bersama Menkes RI dalam rangka Kampanye Pencegahan Stunting Itu Penting di Bunderan HI menuju Monumen Nasional
pada Minggu Pagi 16 September 2018.
Sumber Gambar:  http://sehatnegeriku.kemkes.go.id

Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif 


Selama ini, Pemerintah dan pihak pendukung menerapkan metode Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif untuk pencegahan stunting. Intervensi gizi spesifik ditujukan khusus terhadap ibu hamil dan bayi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).  Ini diharapkan dapat berkontribusi pada 30% penurunan stunting.  Para ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu dengan anak batita sampai usia 2 tahun, merupakan sasaran utama dilakukannya intervensi.

Intervensi Gizi Spesifik dilakukan dengan memberikan makanan tambahan pada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan energi dan protein.  Selain itu, tambahan suplemen Zat Besi, Asam Folat dan Iodium bagi ibu hamil juga penting. Tidak boleh lupa pencegahan cacingan dan malaria pada ibu hamil.  Juga, dengan menggiatkan program Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan program ASI eksklusif bagi ibu menyusui.  Untuk para batita, diupayakan program tepat MPASI, suplemen obat cacing, Zinc, fortivikasi Zat Besi ke dalam makanan, imunisasi lengkap, Program Ayo ke Posyandu, dan Program Pencegahan Diare.  

Stunting sudah dapat terdeteksi ketika anak berusia 2 tahun
Sumber Gambar: www.mca-indonesia.go.id (Stunting dan Masa Depan Indonesia) 
Intervensi Gizi Sensitif lebih ditekankan pada pembangunan di luar sektor kesehatan, yang dipercaya akan berkontribusi pada 70% intervensi stunting.  Mulai dari mempermudah akses terhadap air bersih, memastikan akses sanitasi yang layak, fortivikasi bahan pangan, layanan KB dan kesehatan yang pantas.  Lebih dari itu, perlu sekali Jaminan Kesehatan Nasional serta Jaminan Persalinan Universal, apalagi jaminan sosial bagi keluarga miskin! Tak kalah pentingnya adalah pendidikan pengasuhan pada orang tua dan pendidikan gizi pada masyarakat.  Edukasi gizi, kesehatan seksual dan reproduksi terhadap remaja para calon ibu juga penting.  

Apabila intervensi gizi sensitif dilakukan berbarengan dengan intervensi gizi spesifik secara konsisten, hasilnya akan terasa.  Sebab, dukungan inilah yang sangat dibutuhkan oleh para ibu dan rumah tangga. Namun, itu saja tidak cukup.  Sadarkah kita bahwa semua upaya itu akan sia-sia jika tidak ada semangat pembelajar dan kebangkitan para ibu?....

Penting, Peran Kebangkitan Ibu Pembelajar 


Pemerintah dan Masyarakat yang saling mendukung, adalah modal kuat untuk bangkit dan maju!

Kita perlu gerakan masif pembelajaran perempuan.  Perempuan harus diberi akses yang cukup untuk pembelajaran.  Perempuan harus dibangkitkan motivasinya untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas hidup. 


Apabila tidak memungkinkan sekolah formal hingga jenjang yang lebih tinggi, maka penyuluhan dan pencerahan hingga ke pelosok desa harus dioptimalkan oleh beragam pihak. Pintu belajar informal harus dibuka selebar mungkin bagi perempuan. Bisa oleh Komunitas Perempuan, Relawan, organisasi nirlaba, sayap-sayap pendidikan organisasi privat maupun swasta, CSR, ataupun Lembaga Pengabdian Masyarakat pada Universitas.  Semuanya bisa mengambil peran dalam gerakan masif pembelajaran perempuan di seluruh pelosok Indonesia. 

Bersamaan dengan itu, para ibu sudah waktunya bangkit sebagai ibu pembelajar yang tangguh untuk berperan mencegah stunting.  Jangan jadikan diri ibu  - perempuan Indonesia - sebagai korban, tapi bangkitlah untuk berperan sebagai subjek pembangunan.  Anak-anak yang lahir dari rahim ibu adalah amanah dan pemilik hari depan.  Mencegah stunting adalah bagian amal baik orang tua sekaligus hak anak untuk tumbuh normal. 




Yakinlah, dengan kebangkitan para ibu pembelajar, dan komitmen pemerintah yang terus dijaga serta dukungan semua pihak, stunting bisa dicegah lebih masif!  Ibu yang selalu haus belajar lalu difasilitasi dan didukung dengan tepat akan menjadi aset negara yang tidak terkira.  Semoga, para ibu di Indonesia tersentuh hatinya untuk mau membangkitkan semangat belajar dan mewariskannya kepada anak-anak sebagai warisan terindah. 

Saya percaya, kebangkitan Ibu Pembelajar akan membuat potret masa depan bangsa menjadi lebih cerah dan indah. Indonesia Sehat bukan utopia. Yuk Ibu, kita pun dapat berperan untuk kemajuan bangsa dengan pencegahan stunting apabila kita mampu selalu bangkit dan belajar serta mencari dukungan dalam setiap proses pembelajaran.  Ibu pembelajar bangkit dan berperan cegah stunting untuk Indonesia Sehat, pasti bisa! (Opi) 


Ibu dan Saya.  Terima Kasih Ibu, Inspirator dan Pejuang bagi Kesehatan Keluarga. 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog/Kompetisi Media Sosial bertema Indonesia Sehat Melalui Pencegahan Stunting dan Imunisasi yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018.

Referensi dan Bacaan Lebih Lanjut: 

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/topik/rilis-media/

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. 2018. Buku Saku Pemantauan Status Gizi Tahun 2017. 

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. 2017.  100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). Cetakan pertama Jakarta: 38 hlm.

Kementerian Desa. Pembangunan, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. 2017.  Buku Saku Desa dalam Penanganan Stunting. Jakarta: v+35 hlm 

Infodatin. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republi Indonesia. Situasi Balita Pendek.  2016. Jakarta: 10 hlm. 

Hastuti,W., Par’i, H.M, Utami,S. Intervensi Gizi Spesifik dan Pendampingan Gizi terhadap Status Gizi Balita di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat.  Jurnal Riset Kesehatan Vol 9 Nomor 1 tahun 2017 hlm 32-44.

Bunga Ch. Rosa, Kencana Sari, Indri Yunita SP., Nurilah Amaliah, NH Utami. Peran Interensi Gizi Spesifik dan Sensiitiof dalamm Perbaikan Masalah Gizi Balita di Kota Bogor.  Buletin Penelitian Kesehatan Vol 44 Nomor 2 Juni 2016 hlm 127-138. 

Trihono, Atmarita, Dwi Hapsari Tjandrarini, Anies Irawati, Nur Handayani Utami, Teti Tejayanti, & Iin Nurlinawati. 2015. Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya. Lembaga Penerbit Balitbangkes Kemenetrian Kesehatan RI, Jakarta (xxxiii + 182 hlm)

Farah Okky Faradiyah, Ninna Rahmawati, Mury Ririanty.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Anak Balita di Wilayah Pedesaan dan Perkotaan .  e-journal Pusataka Kesehatan Vol 3 (No. 1) Januari 2015 hlm 163-170.

Khoirun Ni’mah, Siti Rahayu Nadhirah.  Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita.  Media Gizi Indonesia Vol 0 No. 1 Januari – Juni 2015 hlm 13-19.

Kukuh Eka Kusuma, Nuryanto. Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Usia 2-3 tahun ( Studi Di Kecamatan Semarang Timur).  Journal of Nutrition College, Vol 2 Nomor 4 tahun 2013 hlm 523-530. Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jnc





G+

6 komentar :

  1. ini gaya bahasanya suka banget deh mirip novel..aku baca sampe habis !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thx Riza udah baca sampe habis.... Iya nih soalnya nulis novel blom kelar kelar 😂😂😂

      Hapus
  2. Balasan
    1. Sama Sama mba, semoga bermanfaat ya

      Hapus
  3. ga nyangka mbak kalau angka stunting di Indonesia tinggi, kirain ya ga separah ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nhaaaa saya pun baru tahu angka nya setelah mencari dan membaca mba 😂😂.

      Hapus

Back to Top