Rabu, Januari 02, 2019

Stupid Marketing: Yeah, Being Stupid is Awesome!


Menjadi “Bodoh” itu Mutlak bagi seorang Marketer.  Begitu kata Stupid Team yang menulis buku Stupid Marketer, Only Stupid Marketers Keep Learning. Bagi mereka, Being Stupid is Awesome!  Kenapa?  Karena si Bodoh merasa butuh untuk terus belajar, selalu merasa kekurangan wawasan untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik. Ke depan, bisnis hanya akan bisa bertahan apabila terus dilakukan inovasi berkelanjutan, dan hanya dengan menghidupkan kultur STUPID lah perusahaan Anda bisa terus maju dan berkembang. Merasa pintar hanya akan membuat para marketer gegabah lalu tiba-tiba tergilas oleh si Bodoh yang sedang terus belajar. Percaya?  

Buku ini menyentuh perilaku para marketer baik di perusahaan besar maupun mandiri yang merasa dirinya sudah cukup pandai. Terlebih apabila membahas bidang pekerjaan yang digeluti setiap hari.  Ada sebagian masih suka menceritakan keberhasilan yang sudah lewat, daripada menemukan penyebab kegagalan saat ini, atau mempelajari peluang baru ke depan. Jadi, menurut Stupid Team, merasa pintar itu ternyata berbahaya bagi marketer!


Kalau dipikir-pikir, bukan bahaya bagi marketer saja sih.  Merasa pintar akan jadi senjata bunuh diri bagi setiap orang. Walaupun tidak mendalami bidang marketing, siapapun layak membaca buku ini sebagai tambahan wawasan seputar bodoh yang epik.  Bukan bodoh karena idiot yang sudah tidak bisa dikutik-kutik lagi akibat daya pikir yang super lemah. Bukan pula geblek seperti versi Bahasa Jawa.  Tapi bodoh karena penuh syukur pada Sang Pemilik Ilmu.  Bodoh yang mendorong untuk belajar dan berkarya tanpa berhenti di satu titik ketika sudah merasa cukup pintar. 

Tawaran menarik dalam buku ini adalah ajakan untuk menjadi bodoh, melalui skema enam langkah STUPID yang merupakan siklus berulang. Keenam langkah tersebut adalah : 

S untuk Searching Opportunity 
T untuk Theoretical Research 
U untuk Utilize Idea
P untuk Penetrate Market 
I untuk Incredible Result 
D untuk Do Review 




S untuk Searching Opportunity.
Langkah pertama ini mengajarkan para marketer untuk selalu mencari peluang baru dalam bisnis, dan tidak berpuas diri dengan kondisi sekarang.  Jika sudah merasa baik, temukan peluang untuk lebih baik. 

T untuk Theoretical Research.
Langkah kedua ini mengajak para marketer untuk selalu melakukan riset sederhana dengan metode yang tepat untuk memastikan peluang mana yang betul-betul prospektif untuk diterjuni dan dikembangkan.  Langkah ini meminimalisasi gambling, dan memaksimalkan kecerdikan serta kebijaksanaan. 

U untuk Utilize Idea.
Setelah menemukan peluang dan melakukan riset sederhana, langkah ketiga untuk tetap bodoh adalah menggunakan ide-ide yang ada dan mewujudkannya dalam rencana dan strategi untuk diterapkan. Inilah bodoh yang kreatif.



P untuk Penetrate Market.
Selanjutnya, rencana dan strategi dari ide yang sudah dibuat harus direalisasikan.  Ini bodoh yang berani karena berdasar akan pencarian, riset, dan dipadu ide.  Risiko kegagalan dijamin sudah sangat minim jika sudah melewati tahapan S-T-U.  Makanya di langkah ini, diajarkan keberanian untuk penetrasi ke pasar dan hajar bleh!

I untuk Incredible Result. Langkah kelima adalah saat siap terkejut dengan hasil yang diperoleh dari empat langkah bodoh tadi.  Sebagai si Bodoh, pasti langsung takjub dengan hasil yang didapat.

D untuk Do Review. 
Di langkah keenam, marketer diajak untuk melakukan peninjauan atas apa yang sudah dilakukan dan dihasilkan.  Jika hasilnya ternyata masih meleset dari marketing plan yang dibuat, maka kembalilah ke langkah S di awal. Artinya, marketer sudah melewati satu siklus STUPID dan kembali menjalani siklus STUPID dari awal lagi.  

Begitulah seterusnya siklus berulang yang dikemukakan dalam buku ini. 

My Result are Incredible…, Why Do Review? 

Nah…. Bagaimana kalau hasil sudah sangat memuaskan? Tetap butuh peninjauan? Yes. Sebab, menurut Stupid Team Anda harus terus melakukan perbaikan dan menciptakan sesuatu yang lebih baik.  Jangan pernah berhenti berkembang. Keep on STUPID.  Begitu pakemnya.  Apabila Anda merasa hasilnya sudah luar biasa dan tidak perlu ditinjau lagi, hati-hati.  Itulah saatnya overconfidence dan arrogance muncul untuk merajai Anda.



Sadarkah Anda, ketika sebuah karya tidak ditinjau, maka lain kali pada saat Anda membuat karya baru mungkin tidak akan sesukses karya sebelumnya.  Contohnya Microsoft.  Walaupun Windows XP pertama kali saat dimunculkan luar biasa diterima pasar, kelanjutannya Microsoft malah menciptakan Windows Vista yang lambat, banyak error, dan akhirnya mendapatkan rating yang buruk plus banyak komplain.  Hal itu tentu saja menjatuhkan nama baik Microsoft.  Memanfaatkan kelemahan Microsoft, saat itu juga Apple akhirnya bisa naik daun. Miris kan.

Jadi, sukses pada satu titik bukan berarti Anda akan terus sukses sampai mati.  Kesuksesan bisa bertambah atau bisa habis dalam sekejap.  Kuncinya, hindari sikap arogan dan terlalu percaya diri.  Selalu lakukan review.  Temukan daya tarik dan kekurangan pada setiap karya, pertajam daya tarik dan tutup kekurangan. Begitulah saran Stupid Team. 

Buku ini terdiri dari sembilan chapter, masing-masing dikemas dalam bahasa singkat tapi padat. Kesembilan chapter itu adalah sbb: 

1. Being Stupid is Awesome
2. Stupid Step 1 : Searching Opportunities
3. Stupid Step 2 :  Theoretical Research 
4. Stupid Step 3 : Utilize Ideas
5. Stupid Step 4:  Penetrate Market 
6. Stupid Step 5: Incredible Result
7. Stupid Step 6: Do Review
8. Stupid Marketing : The Beginning 
9. Just For You



Di tiap chapter, pembaca disuguhi langkah yang harus dilakukan untuk menjalani skema STUPID. Dua chapter terakhir memberikan clues bagi pembaca bahwa Stupid Marketer itu Mutlak! Sebab ekonomi yang tidak pasti, cepatnya perubahan teknologi, dan kecilnya kepemilikan masing-masing bisnis membuat tantangan marketing ke depan tidak bisa dihadapi dengan arogan dan sok merasa pintar!

Bagaimana untuk menjadi STUPID Marketer? 


Stupid Marketer setidaknya wajib memiliki karakter 5C.  Curious, Critical, Creative, Cooperative, dan Credible.  Tumbuhkan selalu rasa ingin tahu (curious) yang mendorong Anda untuk tidak berhenti belajar.  Kenapa omzet turun? Kenapa dia tidak lagi membeli produk saya? Kenapa sekarang dia membeli lebih sedikit ketimbang sebelumnya? Rasa ingin tahu tentang kondisi yang dialami dan tentang hal-hal baru yang belum diketahui, akan membuat si Bodoh jadi mencari tahu.  Tanpa rasa ingin tahu, mana mungkin?


Berpikirlah secara kritis (critical).  Setelah diketahui sebab mengapa omzet turun dan beberapa pelanggan beralih serta membeli lebih sedikit, lalu marketer tidak segera menganalisis, itu belum kritis namanya.  Marketer yang berkarakter kritis tidak akan mudah percaya, selalu mencari data dan fakta pembanding, dan meminta pendapat orang lain yang kompeten.  Dengan jalan itu, marketer bodoh dapat bertindak dari rasa ingin tahu. 

Berpikir kritis akan melatih Anda untuk selanjutnya bisa jadi kreatif (creative).  Berani beda. Berkreasilah.  Baik dalam melakukan pendekatan ke pelanggan, menyempurnakan produk dan layanan, serta membumikan brand.  Tanpa didahului dengan berpikir kritis, mustahil Anda bisa kreatif.  

Selanjutnya, bekerjasamalah dengan pihak ketiga (cooperate).  Tidak ada yang bisa dilakukan semuanya sendirian. Sehebat apapun Anda. Setiap orang atau perusahaan punya kekhususan keahlian.  Bentuk kerjasama yang dipilih bisa disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai.  Yang jelas, bersikaplah jeli dalam menentukan partner kerjasama.

Pertahankanlah kredibilitas Anda sebagai marketer (credible) dengan tetap berintegritas, profesional, dan transparan.  Ini mutlak.  Berintegritas artinya menjadi pribadi yang menjalankan sesuai apa yang dikatakan. Profesional artinya Anda benar-benar paham apa yang harus dilakukan untuk membuat bisnis berkembang.  Transparan artinya berkata ya jika memang maknanya ya. Tidak jika memang tidak.  Jangan sampai reputasi Anda jatuh karena melakukan over promise, under deliver. 

Buku ini lugas dan mudah dipahami.  Diagram-diagram berwarna yang ditampilkan membuat pembaca langsung fokus dengan inti langkah yang disarankan.  Ukurannya pas, tidak terlalu tebal, sehingga enak dibawa kemana-mana untuk teman baca di perjalanan.  Fungsinya dobel, sebagai buku referensi dan buku saku untuk dipraktekkan. Desain buku dan pemilihan hurufnya terkesan santai plus “rada ngeledek”.  Nyenengin sih kalau buat saya pribadi.  Harganya pun pas di kantong.



Yang lebih menyenangkan, buku ini maknanya luas bukan hanya untuk marketer.  Bisa menyeberang ke arah pengembangan diri. Ada banyak inspirasi di dalam buku ini yang bersumber dari pemikiran para pakar ilmu pengetahuan dan pendahulu diantaranya Aristoteles, Albert Einstein, Edward De Bono, Henry Ford, George Bernard Shaw, dan Robin Sharma.  Bagi Anda yang senang belajar dan berkepribadian simpel, buku ini bakal dikekepin terus deh saking bermaknanya. 

After all, saya merasa buku ini mungkin pada awalnya akan menampar para calon pembaca. Mungkin juga bisa membuat orang jadi malas untuk membacanya. Awalnya saya juga begitu.  Tapi perasaan saya mengatakan harus baca buku ini sampai selesai dulu.  Dan, seketika saya pun merasa sama sekali tidak mudah untuk menjadi stupid person who loved to learn.  Pada akhirnya, buku ini mejadi salah satu buku yang cukup berpengaruh pada cara pandang saya terhadap proses dan langkah dalam hidup.  Mudah-mudahan buku ini juga bisa banyak manfaatnya buat Anda ya….. (Opi)



Informasi Buku 
Judul Buku  :  Stupid Marketing, Only Stupid Marketers Keep Learning 
Jenis             :  Pocket book (buku saku) sekaligus referensi 
Penulis        :  The Stupid Team yang terdiri dari Sandy Wahyudi, Avila Carlo, Evan Linando, Marvin Ade 
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama , Jakarta 
Cetakan kelima Agustus 2017
156 halaman , Dimensi 14 x 21 x 1 cm 
Harga Rp. 68.000,-  



Behind The Scene: 

Kenapa saya baca buku ini? Awalnya saya tertarik ketika melihat warnanya yang kuning mencolok bertengger di rak buku bisnis toko buku Gramedia Depok sekitar akhir tahun 2017 lalu.  Seperti biasa, setidaknya sebulan sekali saya suka mampir ke toko buku ini sepulang kerja.  Kadang memang niat mau cari buku untuk saya atau anak-anak, kadang sekedar cari inspirasi.  Kali ini memang saya niatnya mau beli buku Strawberry Generation karya Prof. Rhenald Kasali.  Dan tidak sengaja lihat buku ini. 

Warnanya yang kuning terang membuat mata saya langsung teralih, lalu mengamati buku ini.  Tanpa banyak pertimbangan saya beli deh karena merasa yakin akan bisa membacanya secara cepat.  Soalnya, bukunya ngga terlalu tebal dan harganya juga bersahabat.  Tema marketing memang sering menarik bagi saya. Terutama tema marketing yang berhubungan dengan pembelajaran dan peningkatan soft skill. 

Tidak terasa, setahun berlalu dan saya baru sempat menyelesaikan baca buku ini. Lalu, sering saya ulang-ulang baca-baca untuk beberapa point penting sebagai bahan instrospeksi diri. Parah ya, buku setipis ini saja setelah setahun lebih baru beres dibaca dan dipelajari! **Malu hati! Sebabnya, saya sering tergoda untuk baca buku yang lain sebelum yang satu selesai.  Kebiasaan deh. Semoga keterlambatan ini tetap membawa manfaat. Aamiin ... (Opi) 

G+

3 komentar :

  1. nyesel kenapa malah baru tahu ada buku begini disaat udah gak kerja lagi sebagai marketing

    BalasHapus
  2. Ternyata STUPIDnya itu ada kepanjangannya lagi, ya. Keren. Kayaknya harus baca buku ini sesegera mungkin.

    BalasHapus

Back to Top