Jumat, Agustus 09, 2019

Pekerjaan Tersulit Ibu


Pekerjaan tersulit seorang ibu adalah pekerjaan yang harus dikerjakan saat dipisahkan dari buah hati tercinta. Ada ibu yang tidak setuju?.......
Dari situ, sebuah pelajaran berharga saya petik.  Tentang hari-hari terbaik bersama anak-anak yang pernah terabaikan.  Saat berjauhan, barulah terasa betapa nikmat berkumpul selama ini sering tidak dimanfaatkan dengan baik.  Saya pernah malah, merasa terbeban dengan anak-anak yang selalu apa-apa maunya sama Ibu, sampai-sampai saya tidak punya kesempatan untuk menikmati waktu sendiri. 

Ketika alih tugas dari perusahaan tempat saya bekerja ke sebuah kabupaten membuat seorang Opi harus terpisah dengan keluarga, barulah terasa betapa kemudahan waktu kumpul keluarga sebelumnya sangat berharga. Selautan emas pun tidak sebanding nilainya. 

Sebulan sudah, sejak menerima perintah alih tugas sebagai unsur pimpinan kantor wilayah di sebuah kabupaten yang tidak pernah jadi impian, saya merasakan yang namanya campur baur seperti permen Nano Nano.  Semua rasa ada.  

Pertama, rasa kuatir karena harus terpisah dengan keluarga untuk jangka waktu yang tak tentu.  Kedua, rasa takut karena akan masuk ke lingkungan yang sama sekali baru, yang pastinya akan sangat berbeda dengan lingkungan di kantor pusat.  Ketiga, rasa tak rela karena harus menggeser diri dari zona nyaman. Keempat, rasa bersalah kepada suami karena beliau akan bertambah bebannya menjaga anak-anak.  

Semua rasa itu berseliweran di hati dan pikiran saya, yang selama 18 tahun berkarir selalu berada di kota Metropolitan- Jakarta. 

Efek awal dari perasaan ini sungguh terasa.  Sebulan saya tidak bisa menulis.  Tiap malam rutinitas saya adalah memandangi foto anak-anak, menonton ulang video kebersamaan kami, termasuk video anak sulung ketika sedang adzan di masjid. Lalu mewek ke suami.  Rindu adalah penghuni utama ruang malam di kabupaten perjuangan.  Karawang. 

Bisa dibilang, Karawang itu dekat tapi jauh dari Depok. Jarak 80 km kan ya sebetulnya tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan mobil sekitar 3,5 hingga 4 jam. Cengeng banget ya si Opi sampai mewek begitu cuma pindah lokasi kerja ke Karawang aja…. Belum juga ke Papua hahaha. Sebetulnya yang bikin mewek itu juga karena walaupun dari segi jarak tidak terlalu jauh, tetapi tidak selalu bisa pulang setiap pekan untuk bertemu keluarga.  

Sebabnya? Bisa dibilang kantor wilayah Karawang  adalah mukanya Jawa Barat, sekaligus pusat pertanian dan industri.  Hanya sekedap dari Jakarta dan Bekasi.  Walhasil, kami sering menerima kunjungan baik dari Kementerian maupun Kantor Pusat dan Daerah Jawa Barat. Sebagai unsur pimpinan, adalah bagian dari tanggung jawab kami untuk stand by di wilayah kerja meski pada akhir pekan.  Sungguh tak pernah terbayangkan dalam benak saya, untuk menjalani amanah ini.  

Beruntunglah, suami yang begitu sayang pada saya bersedia datang ke wilayah tugas istrinya di akhir pekan.  Tentunya  bersama anak-anak.  Walaupun terkadang mereka harus menunggu sampai ibunya selesai bertugas untuk bisa bercengkerama dalam waktu yang tidak banyak.  Sungguh nikmat yang patut sangat disyukuri.

Blog www.opiardiani.com pun jadi kosong melompong.  Adaptasi saya di tempat baru tidak memberi ruang kesempatan untuk menulis dengan hati.  Sebetulnya, pekerjaan tidak seberat yang dibayangkan.  Bahkan saya belajar hal-hal baru yang membentuk sikap positif dalam menyelesaikan pekerjaan.  Tetapi, semua jadi terasa sulit setiap teringat anak-anak. Apakah mereka baik-baik saja?  

Biasanya malam hari adalah waktu kami bercengkerama dan mengerjakan tugas sekolah bersama.  Atau sekedar baca buku bareng-bareng, main boneka, dan membuat karya. Mendengarkan curhat anak-anak tentang guru, teman, tetangga, ataupun bibi juga adalah rutinitas sebelum tidur yang mampu melepaskan semua beban sebelum benar-benar terlelap.  

Sebulan berlalu membuat saya pun rindu menuliskan rasa rindu. Harapan saya, tulisan ini bukan sekedar jadi curhat belaka, tapi jadi inspirasi buat ibu bekerja di mana saja berada untuk tidak meremehkan sedikitpun waktu kebersamaan dengan putra-putri tercinta.  Percayalah, itu sangat mahal. Priceless.

Tantangan dan Perjuangan Si Pembelajar 


Tantangan dimulai ketika saya harus memutuskan, maju terus atau menyerah mengundurkan diri. Awalnya saya berpikir akan memilih untuk mundur.  Mungkin lebih baik saya mengundurkan diri dari pekerjaan, pikir saya ketika itu.  Karena, cepat atau lambat saya pasti akan dipromosi ke daerah. Ya walaupun saya ngga pintar pintar amat di kantor, tapi ya saya termasuk golongan karyawati yang tidak pernah melakukan pelanggaran disiplin ataupun sejenisnya.  

Prestasi saya memang tidak secemerlang rekan-rekan seangkatan yang sudah menduduki jabatan jauh lebih tinggi.  Saya termasuk karyawati yang komit untuk dapat melakukan tugas kantor seoptimal mungkin tanpa melanggar aturan kantor sekaligus tetap punya cukup waktu mendidik anak-anak serta melakukan kesenangan/hobby seperti menulis-menyanyi-bersepeda. 

Saya cinta keseimbangan hidup.  Bagi saya jabatan tidak penting, tak ada satu jabatanpun yang saya incar.  Saya merasa cukup dengan gaji yang saya terima, waktu yang ada, dan rasanya semua sempurna.  Nyaman. 

Tanpa disadari, itulah zona nyaman saya. Zona nyaman yang tidak mau saya lepaskan.  Karena begitu nyaman.  Tanpa disadari ya saya berhenti bertumbuh. Lalu, di mana si Perempuan Pembelajar yang selama ini saya gembor-gemborkan ya?....

Saya sempat menangis dua hari dua malam, setelah menerima kabar resmi promosi sebagai wakil pimpinan di kantor wilayah Karawang, Jawa Barat terhitung mulai tanggal 5 Agustus 2019.  Langsung terbayang anak-anak dan suami. Bagaimana dengan mereka nanti?  Saya tidak tahu berapa lama akan bertugas di Karawang, sehingga pertimbangan untuk membawa atau tidak membawa anak-anak jadi sangat serius.  

Tapi ya menangis kan tidak menyelesaikan masalah yang saya hadapi.  Dengan dukungan suami, Ibu, dan kakak adik, akhirnya saya memilih untuk menjalani amanah ini. Saya berhak memilih, dan saya pun memilih untuk melakukan yang terbaik dalam amanah ini sehingga kans untuk bekumpul kembali dengan keluarga akan semakin terbuka. Jika prestasi bagus, akan sangat mungkin ditarik kembali ke kantor pusat.  

Berangkatlah saya ke kabupaten perjuangan, untuk mengenyam pelajaran hidup yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan di Jakarta, kota tempat impian kelak saya akan kembali.  Kembali berkumpul dengan keluarga dan anak-anak yang telah lebih mandiri, pulang  sebagai ibu yang lebih matang.

Survival Ala Opi 


Selanjutnya, bagaimana supaya bisa survive? Pertama saya menanamkan mindset, bahwa amanah ini mengandung hikmah hidup yang bagus bagi saya dan anak-anak.  Hikmahnya, Tuhan memberi kesempatan anak-anak saya untuk belajar lebih mandiri ketika berjauhan dengan ibunya. Si kakak jadi lebih care kepada adik. Ayah jadi lebih ngayom.  Ibu pun jadi lebih tegar.  

Karena memang anak-anak masih dalam usia yang membutuhkan banyak bimbingan dan arahan orang tua, saya dan suami jadi tertantang untuk bisa melakukannya dari jarak jauh dengan fasilitas komunikasi yang ada. 

Sejak awal, kami termasuk orang tua yang tidak memberikan gadget kepada anak kecuali di akhir pekan dengan pendampingan orang tua.  Di rumah, kami juga tidak menggunakan siaran televisi sejak enam tahun terakhir.  Dan ini tetap berjalan meskipun ibunya pindah tugas ke daerah.  

Sebagai alat komunikasi visual ibu dan anak, kami memilih smart watch yang bisa digunakan anak-anak untuk telepon, berkirim pesan suara, tulisan, gambar maupun video call dengan ibunya. Smart watch tersebut juga digunakan sebagai penanda lokasi karena dilengkapi dengan GPS.  Sehingga, saya bisa tetap memantau dan berkomunikasi dengan anak-anak sekalipun berjauhan. 

Smart watch tersebut diamankan oleh aplikasi sehingga hanya anggota keluarga yang diapprove oleh admin saja yang bisa berkomunikasi dengan anak-anak.  Saya, adalah adminnya.  Dari jauh, saya memegang penuh kontrol ini.  Apabila smart watch tersebut sampai hilang, pun orang yang menemukan atau mencurinya tidak dapat menggunakannya karena kontrol admin tetap ada pada saya.  

Teknologi ini memang sengaja kami pilih untuk jalan komunikasi paling aman, karena anak-anak tidak kami perkenankan memiliki smartphone sebelum mereka cukup umur.  

Memang, komunikasi visual dan suara via smart watch tidak dapat sekaligus menggantikan komunikasi pertemuan langsung.  Tetapi, setidaknya saya dapat meyakini bahwa kondisi anak-anak baik-baik saja.  Masih bisa mendengarkan curhat mereka, melihat ekspresi wajah lucu, dan mengobati kangen karena belum dapat bertemu langsung.  

Banyak hal patut disyukuri bahwa anak-anak walaupun sempat protes dan nangis, perlahan-lahan bisa terkondisikan untuk menjalani perjuangan awal kemandirian.  Ada pelajaran hidup tentang mengelola rasa kecewa untuk kami sekeluarga.  Dan ini kami yakini akan membentuk sikap hidup yang lebih positif.  Pastinya.  

Survival saya sangat ditentukan oleh sifat pengayom suami yang dominan.  Dukungan beliau dalam menciptakan kondisi yang kondusif sangat besar.  Beliau menceritakan masa kecilnya kepada anak-anak, tentang bagaimana dulu kakek dan nenek juga berjuang karena harus terpisah oleh jarak.  Ayah mereka juga merasakan saat duduk di bangku Sekolah Dasar hanya bertemu ibunya sepekan sekali.  Namun karena meyakini itu hanya untuk sementara dan selalu berjuang untuk berkumpul kembali, maka justru membuat anak-anak menjadi belajar mandiri.  

Suami pun mendukung saya untuk menjalani amanah ini dengan mantap.  “Yakinilah bahwa ini cara Tuhan untuk memberi kesempatan kamu belajar hal yang belum ditemui sebelumnya.  Kan katanya Perempuan Pembelajar tho…belajar sepanjang hayat di Universitas Kehidupan. Belajar memimpin, mengatur strategi untuk lingkup yang lebih luas, menangani personil yang bermacam karakter, sampai belajar empati terhadap sisi lain kehidupan di daerah. Ayo, kamu pasti bisa.  Jadikan ini pijakan untuk maju menjadi pribadi yang  lebih matang dan keren.”  Begitu pesan suami. 

Begitupun orang tua, mertua, kakak-kakak dan adik semuanya memberikan dukungan supaya maju.  Terutama Ibu dan kakak laki-laki saya.  Ibu berpesan, pastilah berat meninggalkan anak-anak. Tapi cobalah untuk semeleh ati.  Semeleh kuwi entheng nanging abot, abot nanging ngentengake.  Berserah diri itu ringan tapi berat, berat tapi meringankan.  Begitu kata petuah di tanah Jawa.  Berserah diri itu menyerahkan segalanya kepada Tuhan sambil terus berikhtiar dan berdoa untuk harapan terbaik.  Di dalamnya ada pembelajaran ikhlas dan syukur yang teramat dalam.  

Berbekal itu semua, kemampuan saya untuk survive rasanya menjadi berlipat ganda.  Rasanya.  Padahal mungkin ya kemampuan saya segitu aja.  Tapi dukungan mental yang besar dari keluarga membuat saya yakin bahwa saya sedang menjalani hal yang berharga bagi keluarga. Karenanya saya harus survive. Harus.  Pun dalam menghadapi pekerjaan tersulit.  

Keluarga pun bergantian menemani anak-anak saya ketika saya bertugas. Ikatan kasih sayang kami sebagai anggota keluarga besar pun jadi semakin terasa. Semua ini patut disyukuri, meskipun kami bukanlah keluarga yang berkelimpahan uang atau harta benda.  Tapi ikatan kasih sayang yang tertanam dan terpelihara adalah rezeki bagi keluarga kami.  Rezeki yang patut disyukuri selalu. 

Harapan Saya Ke Depan 


Sebulan sudah saya di sini, di kabupaten perjuangan.  Hidup dalam lingkup yang sangat berbeda dengan belasan tahun sebelumnya.  Fasilitas seadanya, semua serba seadanya, membuat saya belajar lebih mensyukuri hidup. Lebih empati terhadap perjuangan masing-masing personil yang ada di sekeliling saya.  Lebih positif dalam menyikapi ragam hal, dari yang membuat pening sampai yang membuat mual.  Lebih bijak untuk bersikap terhadap siapa saja.  Lebih bertekad untuk mampu meringankan beban orang lain sekalipun hanya dengan senyum atau tutur kata yang adem.  Lebih, lebih, dan lebih lagi.  Untuk lebih banyak hal.

Harapan yang tumbuh subur merekah di dalam hati seiring dengan langkah bukan cuma satu dua. Banyak. Banyak sekali seperti rumpun bunga di taman yang terindah, bersemi seiring berjalannya waktu.  Harapan itu adalah semoga perjuangan ini tak pernah sia-sia, amanah ini dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya, tumbuh sejalan dengan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.  

Harapan agar anak-anak menjadi semakin mandiri dan mampu belajar berjuang berpadu dengan harapan agar saya menjadi ibu yang lebih pandai bersyukur serta instrospeksi diri.  Di ujungnya, harapan itu mengerucut menjadi satu harapan terindah yaitu kembali berkumpul dengan anak-anak dan suami tercinta dalam keridhoan Allah SWT.  

Saya meyakini, harapan itu akan selalu ada, layak diihktiarkan untuk terwujud melalui perjuangan dan doa. Pada waktu yang ditetapkan Allah SWT, harapan itu akan menjadi nyata.  

Pekerjaan tersulit seorang ibu adalah pekerjaan yang harus dikerjakan saat dipisahkan dari buah hati tercinta. Ada ibu yang tidak setuju?.......

Saya salah satu ibu yang setuju dengan pernyataan itu.  Dan saya juga termasuk ibu yang percaya bahwa saya mampu menjalani pekerjaan tersulit itu sebagai bagian perjuangan melakukan yang terbaik demi dapat berkumpul kembali dengan kesayangan…… Semoga …… Gusti Allah boten sare (Opi) 

G+

2 komentar :

  1. Bener banget, mba. Saya jadi bisa membayangkan saat pertama kali mba Opi berjauhan dengan anak. Pasti sudah campur aduk rasanya, ya

    BalasHapus
  2. wah semangat mbak Novi, pasti ga mudah pisah dengan anak-anak , kenapa ga milih tiap hari pp ke karawang? hehehhe capek pastinya yah

    BalasHapus

Back to Top