Rabu, September 18, 2019

Parenting Jarak Jauh

Direntang jarak, parenting jarak jauh membutuhkan mindset, komitmen, dukungan teknologi, dan konsistensi dengan kadar EKSTRA. 
Jangan coba-coba bila tak siap !

Jika dihadapkan pada pilihan, orang tua pasti lebih memilih untuk dapat selalu mendampingi buah hatinya di setiap tahap perkembangan.  Betul begitu Ayah dan Bunda?....  Ya, siapa sih yang sengaja mau terpisah dari keluarga terutama buah hatinya dalam jangka waktu yang tidak tentu?  

Pasti inginnya selalu bisa memeluk anak-anak setiap hari.  Bahkan ingin mendampinginya dalam berbagai kegiatan yang memang membutuhkan pendampingan orang tua.  Itu sudah naluriahnya para orang tua.  

Namun, pilihan itu tidak selamanya bisa diambil.  Sesuatu hal yang dipandang lebih prioritas untuk masa depan akhirnya dapat saja membuat kita memilih terpisah sementara waktu dengan keluarga dan anak-anak. 

Ada kepala keluarga yang bertugas di luar kota, sementara anak-anak dan istrinya tinggal di kota yang lain. Ada pula anak-anak yang untuk sementara waktu harus mandiri tanpa ayah ibunya karena keduanya dinas di kota yang berbeda, bahkan mungkin di negara yang berbeda.  Saya mengalaminya.  

Tulisan ini saya buat untuk berbagi dengan para orang tua yang terkondisi untuk menerapkan parenting jarak jauh.  Semoga dapat memberikan inspirasi agar tetap semangat menjalani parenting jarak jauh dalam ikhtiar segera dapat berkumpul kembali bersama keluarga. 

Ibu Lebih Sensitif?


Pada saat berjauhan dengan anak-anak, bisa diduga seorang ibu umumnya akan merasa lebih merana dibanding ayah. Sebabnya jelas, anak-anak adalah mereka yang dulu berada di rahim ibu selama sembilan bulan sepuluh hari. Ini pun saya alami. 

Hari-hari awal mulai bertugas di kantor cabang kabupaten, saya merasakan betapa merananya hidup tanpa celoteh anak-anak di malam hari sepulang bekerja.  Tidak ada teriakan ,”Ibuuuu pulaaaaaaaaang,” seperti yang selalu saya dengar setiap sore sepulang bekerja di masa lalu saat masih bertugas di kantor pusat. 

Sebab, sejak bertugas di kabupaten saya nyaris tak bisa pulang karena harus stand by di wilayah tugas, sekalipun di hari libur atau akhir pekan.  Jadilah anak-anak yang datang menghampiri saya ke rumah dinas bersama ayahnya, nyempil di sela-sela tugas ibunya.

Lebih dari itu, sholat dan doa jadi selalu dibarengi derai air mata rindu, dan bias-bias perasaan bersalah tidak dapat mendampingi anak-anak. Namun, dengan sekuat tenaga saya dan suami membangun ketegaran bersama.  Berusaha meyakini bahwa pilihan ini telah diambil, dan menjadi tanggung jawab kami bersama untuk menjaga keutuhan semuanya hingga saatnya berkumpul kembali. 

Kami pun berupaya melakukan parenting jarak jauh dengan segenap daya yang dimiliki. 
Modal utama kami ada empat yaitu mindset, komitmen, konsistensi, dan dukungan teknologi.  Semuanya dalam kadar lebih, plus, ekstra.  Serta terus kami evaluasi sikap dari waktu ke waktu.  


Berawal dari Mindset 



Untuk kuat menjalani parenting jarak jauh, kita sebaiknya mulai dari mindset yang kompak antara ayah dan ibu.  Sebagai ibu, pada awalnya saya berada dalam alam pemikiran seperti ini:  bahwa anak-anak adalah sepenuhnya tanggung jawab orang tua.  Ketika anak-anak berperilaku tidak sesuai harapan, atau tidak mencapai sesuatu yang diharapkan orang tua, sepenuhnya itu kesalahan orang tua. 

Mindset tersebut awalnya tertanam sangat kuat dalam diri saya.  Saya lupa bahwa ada kekuatan lain yang jauh lebih besar yaitu kuasa Tuhan.  

Jadi, sebelumnya saya selalu merasa bersalah ketika saya sedang tidak bersama anak-anak, lalu mereka terluka atau mengalami hal-hal buruk yang tak diharapkan. Seolah-olah semua hal buruk tak kan terjadi apabila orang tua ada di dekat anak.  Namun benarkah demikian?..

Belakangan saya menyadari, mindset seperti itu harus saya ubah.  Memang, sebagai orang tua kita bertanggung jawab penuh terhadap anak, namun bukan berarti apabila anak-anak mengalami hal-hal buruk itu menjadi kesalahan orang tua. Bukan pula selalu bahwa hal baik terjadi karena dan hanya karena orang tua selalu mendampingi anak. Tidak demikian. 

Tuhan Maha Berkehendak atas apapun, termasuk hal buruk atau hal baik sesuai dengan skenarioNya.  Hal buruk (menurut persepsi manusia) mungkin terjadi, begitu pula hal baik, karena Tuhan merencanakan sesuatu terhadap hamba-hambaNya.  Persepsi tentang hal baik atau buruk terhadap anak di mata orang tua pun tidak selamanya benar.  

Awal dari perubahan mindset ini adalah ketika saya ngobrol dengan mantan atasan yang sudah tidak sekantor lagi, tapi masih menjaga silaturahmi. Saya menganggap mantan atasan saya ini sukses dalam mendidik anak.  Ketiga anaknya semua berprestasi baik akademis maupun non akademis, mau belajar agama, dan berbudi pekerti.  Ngademin hati lah pokoknya. 

Bertanyalah saya, apakah tips dan rahasianya?... Beliau menjawab, semua adalah kuasa Tuhan.  Sebagai orang tua beliau merasa banyak sekali kekurangan, tidak selalu dapat membimbing saat dibutuhkan, tak selalu bisa hadir ketika diharapkan.  Namun, itu semua karena keterbatasannya bukan karena disengaja.  

Di tengah banyaknya kelemahan, kuasa dan kasih sayang Tuhan lah menjadikan anak-anak itu terjaga dari hal-hal buruk yang tak diinginkan.  Keyakinan bahwa Tuhan selalu mendengarkan doa orang tua terhadap anaknya, serta stok kasih sayang Nya yang tidak terbatas, membuat mantan atasan saya yakin bahwa anak-anak akan baik-baik saja. 

Saya lalu merefleksi pada diri saya sendiri, dan perlahan mengubah mindset.  Saya dan suami berdiskusi.  Kami lalu meyakini bahwa hal-hal buruk dapat terjadi pada siapa saja yang dikehendakiNya, begitu juga hal-hal baik. Bukan semata karena orang tua sedang bersama anak atau tidak. 

Mindset baru kami pun terbentuk.  Bahwa orang tua bertanggung jawab penuh pada anak-anaknya, namun kuasa Tuhan tetap di atas segalanya tentang hal baik atau buruk yang akan terjadi. 

Yang perlu dilakukan orang tua adalah berusaha semaksimal mungkin untuk hadir saat dibutuhkan anak, baik secara fisik maupun non fisik.  Selain itu, doa dan ibadah lainnya yang tak pernah putus juga adalah modal untuk menguatkan ikhtiar dalam mendidik anak.  

Mindset itu merubah segalanya.  Saya dan suami merasa menjadi lebih semangat.  Ketika berjauhan dengan anak-anak, itulah saatnya kita yakin bahwa harus melakukan yang terbaik untuk bisa berkumpul kembali.  Serta yakin bahwa selama terpisah jarak, Tuhan tetap menjaga dengan kuasaNya.

Kekuatan mindset itu luar biasa, karena mengubah cara pandang kita terhadap suatu keadaan.  Juga, mengubah cara berpikir kita yang berdampak pada sikap dan perilaku nyata sehari-hari.  Menjalani parenting jarak jauh pun kita sikapi dengan positif, bahwa ini bukan untuk selamanya.  Ini bagian dari perjalanan hidup yang harus dilewati dengan sikap positif.  

Komitmen Penuh



Komitmen penuh terhadap situasi yang dijalani adalah pondasi awal yang kami bangun untuk parenting jarak jauh.  Kami berdua menyadari komitmen saja tidak cukup.  Tapi harus penuh.  Bahkan mungkin LEBIH.  Ya, LEBIH. 

Bagaimana caranya?  Kami duduk bersama dan membahas hal-hal positif  apa saja yang dapat terjadi selama saya, suami, dan anak-anak terpisah di kota dan negara yang berbeda untuk waktu yang tak tentu.  Hal positif yang pertama, anak-anak yang sekarang di kelas 2 dan 5 SD bisa menjadi lebih mandiri dan terlatih untuk tegar. 

Mereka mungkin akan menjadi lebih terbiasa untuk memikirkan survivalnya karena tidak ada orang tua yang hadir secara fisik di saat-saat tertentu.  Selintas, ini membuat kami menangis dan sedih.  Tetapi, mengingat bahwa ini untuk sementara waktu dan demi kemajuan bersama di masa depan, kami pun menguatkan hati untuk berkomitmen lebih memunculkan sisi positif dalam perkembangan anak-anak saat jauh dari orang tua.  

Komitmen lebih itu kami jaga dan tuangkan dalam sikap. Sikap kepada anak-anak, yaitu tetap bersikap tegas untuk hal-hal yang memang harus tegas.  Lembut untuk semua hal yang butuh kelembutan. Bukan karena anak-anak tidak sedang bersama orang tua lalu mereka boleh melakukan hal apapun tanpa aturan.  Kami tetap menerapkan aturan-aturan yang sudah  berjalan, namun dengan penyesuaian di sana-sini.  

Hal positif lainnya yang bisa terasah dari terpisahnya kami adalah anak-anak belajar mengelola rasa kecewa, menghargai waktu pertemuan, tumbuh rasa kepeduliannya terhadap penjagaan diri sendiri, berpikir positif, dan yakin pada doa ataupun harapan. Kami sekeluarga jadi terdorong untuk punya mimpi besar berkumpul kembali dan berjuang untuk mewujudkan mimpi itu melalui tindakan nyata. Tindakan itu adalah “lakukan yang terbaik”. 

Keberadaan asisten rumah tangga yang sudah kami percaya, menjadi salah satu rizki dari-Nya.  Bibi yang telaten memasak makanan untuk anak-anak dan mengurus rumah membuat saya jadi lebih tenang.  Gizi anak-anak terjamin karena ketelatenan Bibi mengatur menu makan sehari-hari. 

Komitmen kami juga, satu diantara Ayah atau Ibu berusaha untuk tetap ada bagi anak-anak di akhir pekan apabila salah satu harus tetap bertugas.  Jika tidak memungkinkan bagi Ibu untuk pulang, Ayah yang datang ke wilayah tugas Ibu bersama anak-anak.  Yang penting anak-anak bisa bertemu dengan ibunya walau dalam waktu yang terbatas.

Di hari kerja, saat anak-anak tidak bersama orang tua, kami berkomitmen untuk tetap menjalin komunikasi dua arah yang sehat. Ini penting banget.  Dan mau tidak mau kami harus didukung ekstra oleh teknologi. 

Dukungan Teknologi Ekstra



Teknologi ekstra mutlak dibutuhkan dalam parenting jarak jauh. Kemajuan teknologi bisa kita manfaatkan untuk mendukung komunikasi audio maupun visual saat berjauhan dengan keluarga.  Untuk anak-anak yang masih di bawah umur, kami tidak merekomendasikan smartphone atau gadget sejenis yang menggunakan simcard dalam kendali anak.  

Mengapa?  Dampak negatifnya sangat mengancam.  Memberi anak di bawah umur 14 tahun sebuah smartphone dan sejenisnya tanpa pengawasan orang tua atau orang dewasa yang dipercaya akan membuka peluang anak kecanduan gadget serta bahaya laten pornografi. 

Kami sudah sepakat sekeluarga, juga dengan anak-anak bahwa mereka tidak akan dibelikan smartphone dan gadget sejenis sebelum usia mereka kelak 14 tahun. Itu pun nanti dievaluasi lagi apakah di usia tersebut anak-anak sudah menunjukkan sikap yang bertanggung jawab terhadap penggunaan barang semacam itu.  Ini kami tiru dari para pencipta teknologi itu sendiri.  Bill Gates si pencipta brand Microsoft, Steve Jobs si pencipta brand Apple dan Hewlett-Packard si pencipta brand HP.  

Meskipun berjauhan, aturan penggunaan gadget tetap sama seperti ketika kami masih berkumpul.  Di akhir pekan dan hari libur, anak-anak boleh main gadget dengan pendampingan orang tua.  Pada hari sekolah, anak-anak sudah sepakat no gadget. 

Untuk komunikasi dengan ayah ibunya saat berjauhan, kami menggunakan smartwatch yang simcard nya berada di bawah kendali Ibu sebagai admin.  Smartwatch tersebut bisa digunakan untuk saling berkirim pesan suara, gambar, dan video antara anak dan orang tua.  Juga bisa digunakan untuk telfon dan video call.  Komunikasi jadi lebih lancar.  Selain itu, GPS yang terpasang pada smartwatch dapat membuat orang tua bisa selalu melacak posisi anak sedang di mana, selama smartwatch tersebut dipakai oleh si anak. 

Smartwatch tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali Ibu.  Siapa-siapa saja yang ditambahkan sebagai daftar kontak yang bisa menghubungi anak pun diatur oleh Ibu. Smartwatch ini betul-betul hanya berfungsi sebagai alat komunikasi yang fun, tanpa ada games atau permainan lain di dalamnya. Sangat pas dengan yang saya butuhkan untuk anak-anak. Gadget with no games. 

Jika anak-anak ingin main games, kita tetap konsisten untuk menunggu saat bersama. Teknologi ini kurang lebihnya membentuk suatu jadwal dan kemampuan untuk menahan diri bagi kami sekeluarga.  Anak-anak jadi terbiasa tidak main games atau main gadget.  

Sebagai kompensasinya, kami orang tua menyediakan beragam buku bacaan sesuai usia mereka di rumah.  Juga kami sediakan beragam alat musik seperti gitar, piano, biola, dan lainnya untuk mereka mainkan sebagai pengganti gadget dan siaran televisi.  

Oh ya, kami sudah 6 tahun terakhir ini tidak menggunakan siaran televisi.  Anak-anak sudah terbiasa tanpa televisi. Agar mereka semangat belajar alat musik, kami sertakan mereka untuk belajar musik dengan guru privat sesuai keinginan mereka.  

Saya berpesan pada anak-anak, jika kalian sedang di rumah saat pulang sekolah atau malam hari dan karena ibu jauh belum bisa pulang, ambillah alat musik dan mainkan.  Atau ambilah buku diary, tuliskan apa yang kalian rasakan, tumpahkan di sana. 

Saya percaya seni adalah salah satu cara positif bagi anak-anak untuk mengekspreasikan apa yang belum dapat mereka ungkapkan dengan kata-kata.  Dan untuk anak yang lebih besar, menulis diary adalah cara yang positif untuk melatih mengungkapkan rasa. 

Tidak lupa, di atas segalanya saya pesan kepada anak-anak untuk tidak meninggalkan sholat lima waktu serta doa yang khusuk.  Mintalah kepada-Nya, apapun yang kalian ingin.  Ibu juga meminta kepada Tuhan.  Nanti doa kita akan bertemu di langit. Begitu pesan saya. Sehingga, kendatipun secara fisik kita belum bertemu, tetapi doa-doa kita bertemu di langit.  

Selain itu, jangan lupa kita tetap menjaga hubungan baik dengan tetangga, para guru dan pihak sekolah. Dengan bantuan teknologi juga kita dapat selalu berkomunikasi dengan mereka dalam hal perkembangan anak-anak kita sehari-hari. 

Tak perlu baper jika ternyata perkembangan anak-anak dalam akademis tidak secemerlang sebelumnya, saat kita selalu menemani mereka belajar.  Memang ada hal yang perlu ditoleransi.  Selama anak-anak masih dapat mengikuti pelajaran, sehat, aktif, dan mampu mengungkapkan perasaannya, saya meyakini semua akan baik-baik saja. 

Nilai akademis bukan segalanya, bantulah anak-anak untuk survive. Itu jauh lebih penting untuk masa depannya.  

Konsistensi Plus



Semua upaya dalam parenting jarak jauh tidak ada artinya jika tidak dijalankan dengan konsisten.  Ini bagian tersulit.  Kadang, lelah dan putus asa membuat orang tua merasa ingin quit saja.

Mungkin tips yang paling sederhana dari saya agar bisa konsisten cuma satu, segera bicara dari hati-ke hati dengan pasangan setiap kali merasa akan menyerah.  Biasanya, saat Ibu hampir menyerah- Ayah masih setrong.  Sebaliknya, ketika Ayah yang hampir nyerah, Ibu justru masih setrong.  Itulah keajaiban.  

Tuhan memang sudah menciptakan setiap pasangan untuk saling melengkapi. Karenanya, setiap kali diserang godaaan inkonsistensi, langkah pertaama yang harus dilakukan adalah kroscek dengan pasangan. Maka, akan saling menguatkan. 

Saya, contoh nyata yang sepertinya gampang sekali mau menyerah karena perasaan bersalah saat jauh dari anak-anak.  Tapi setiap kali akan menyerah, pasangan selalu mengingatkan kembali tentang awal dan tujuan dari semua ini.  

Tujuan yang akan diperjuangkan adalah kembali berkumpul pada saatnya tiba dalam kondisi yang lebih baik.  Untuk mencapai itu, maka saat terpisah ini kita harus melakukan yang terbaik.  Bukan hanya Ibu atau Ayah yang berjuang, tetapi anak-anak juga berjuang secara tidak langsung.  

Itulah sebabnya, konsisten bersikap positif tetap harus diperjuangkan.  Konsisten terhadap aturan yang sudah disepakati juga wajib.  Konsisten untuk terus mencurahkan perhatian kepada anak melalui semua channel yang bisa ditempuh, itu harus banget.  Karena konsistensi inilah yang akan membentuk anak-anak akan menjadi seperti apa nantinya. 

-------


Itulah sekedar sharing yang bisa saya tuliskan.  Rada lebay sih, nulis ini sambil mewek dan berurai air mata juga.  Karena sampai detik ini pun saya belum tahu kapan kami sekeluarga akan kembali berkumpul.  Tapi saya meyakini bahwa itu pasti akan terjadi di saat yang tepat yang sudah direncanakan olehNya.  Apabila itu masih lama, artinya saya diminta belajar lebih bersabar.  Apabila itu sudah dekat, artinya saya diminta lebih bersyukur.  

Dan saya akan terus berjalan dengan sikap sabar dan syukur sampai kapanpun.

Hal terpenting yang tidak dapat luput dari semua ini adalah dukungan dari keluarga mulai dari orang tua, mertua, ipar, kakak dan adik.  Semuanya memberikan dukungan penuh dalam bentuk yang beraneka ragam.  Semuanya membuat kasih sayang di keluarga besar terjaga dan tetap tertanam. 

Salam untuk semua keluarga yang saat ini sedang menjalani parenting jarak jauh, tetap semangat dan lakukan yang terbaik untuk dapat berkumpul kembali.  Semangat !!!! (Opi)




G+

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Back to Top