Lingerie yang Mengubah Cara Pandang


"Lingerie ajaib yang compang camping seperti yang ditawarkan pramuniaga itu telah mengubah cara pandangku tentang usia."

Ada satu hal yang menyenangkan hatiku belakangan ini, justru setelah usiaku tak lagi muda. Itu adalah ketika beberapa kali disangka masih berumur 34 tahun oleh para pramuniaga di beberapa departement store yang berbeda, padahal usiaku sudah menginjak 42 tahun lewat beberapa bulan.  Nah, dapat discount umur 8 tahun tuh.  

Hal serupa juga kualami ketika menghadiri event para mom bloggers dan berkenalan dengan rekan baru.  Seringnya aku dikira berusia sekitar 32 sampai 35 tahun. Menyenangkan, karena ya aku ni perempuan normal. Seperti kebanyakan lainnya, perempuan bisa seketika bahagia saat disangka berusia lebih muda dari sebenarnya. Receh banget ya…. (ngusap-ngusap pipi nih)

Begitulah.  Umur bagi perempuan sepertiku dan mungkin bagi perempuan kebanyakan adalah topik sensitif. 

Akupun merasakan bagaimana umur juga mengubah cara pandangku tentang usia melalui kebiasaanku sendiri. Jadi begini ceritanya, aku punya kebiasaan yang masih dijalani sejak pertama kali bekerja di usia 23 tahun dulu, sampai kini usiaku menjelang 43 tahun. Kebiasaan itu adalah belanja lingerie setiap kali habis gajian atau dapat rejeki lebih. 

Membeli lingerie dengan warna dan model berbeda adalah caraku membahagiakan diri sendiri. Ya, senang aja pakai lingerie baru dengan warna dan model yang lucu. Bobo cantik dan bahagia, anggap saja begitu. Apalagi kubeli dengan uang hasil kerja sendiri, ngga minta orang tua atau suami.  Itu kebahagiaan juga buatku.  Membeli sesuatu yang sangat pribadi sesuka hati tanpa intervensi siapapun.  

Aku menikmati tahun demi tahun menjalani kebiasaanku ini dan merekam setiap perlakuan para pramuniaga kepadaku ketika hunting lingerie. Ketika usiaku masih dua puluhan hingga tiga puluhan, aku hampir tidak pernah dikomentari macam-macam oleh pramuniaga. Tapi ketika semakin bertambah usia, persisnya setelah berumur 40 tahun, aku mulai mendapat perlakuan berbeda.  

Jadi ketika aku merasa sudah makin tua itulah, alam bawah sadar menuntunku mencari lingerie ke bagian tertentu tempat dipajangnya lingerie dengan model yang cenderung sederhana, biasa, tidak heboh, dan menurutku akan membuatku tampil lebih anggun atau elegan.  Hahaha….   Di saat itulah pramuniaga selalu menghampiriku dan dengan sopan berkata, “Mba, model dan warna yang di sebelah sini lebih oke lho… lebih sesuai untuk usia tiga puluhan seperti mba.” Dibimbingnya aku ke bagian yang dimaksudnya.  

Aku awalnya terkikik. Gimana ngga senang sih dikira umur tiga puluhan.  Di bulan-bulan berikutnya setiap habis gajian lalu belanja lingerie dan menerima perlakuan begitu lagi dari pramuniaga yang berbeda, bikin aku tambah senang.  Kebahagiaan receh level dewa, eeeeaaaa.   

Mba pramuniaganya suka tembak gini,”Saya tebak usia mba nya sekitar 33 tau 34 tahun gitu. Bener mba?” Waaaah, pingin banget jawab, “Benar!”  Tapi kemudian yang keluar dari mulutku adalah, “Saya udah 42 tahun mba.”  Jawabanku itu disambut serta merta oleh wajah melongo sang pramuniaga.  Ngga nyangka udah setua itu kayaknya.  

Suudzonnya sih, si pramuniaga sengaja tebak usia pelanggannya jauh lebih muda supaya pelanggan senang dan mood belanjanya naik.  Hahahaa..... Tapi ngga juga sih,  kadang si mba pramuniaga juga salah tebak lebih tua terhadap pelanggan yang lain. Eeeeaaa..... (ini judulnya tebak-tebak buah manggis)

Aku yang merasa tua karena menghitung usia, masih mesem mesem karena senang disangka umur 34 tahun.  Padahal diam-diam tetap merasa tua dan akan nampak aneh di depan suamiku ketika mengenakan lingerie seperti saat pengantin baru.  Ohya, aku menikah ketika usiaku 30 tahun, mengalami hamil tiga kali, dua kali melahirkan, dan anak-anak kini sudah kelas lima dan dua SD.

Para pramuniaga itu kemudian akan menawariku lingerie-lingerie dengan model heboh dan unik. Juga yang sedang promo beli satu gratis satu atau discount.  Begitu yang kuingat.  Dari yang modelnya bisa disingkap seperti gorden, sampai yang warnanya sebelah muda sebelah tua. Dari yang loreng loreng dan tutul tutul bagai kulit binatang buas (yang aku sudah punya model begitu sepuluh tahun lalu) sampai yang polos mengkilat. Dari yang teksturnya seperti kulit jeruk hingga yang seperti jaring penangkap ikan hihihi.  Pokoknya yang ajaib ajaib.  

Kadang, aku menerima yang ajaib-ajaib itu sekedar untuk variasi.  Dan betapa mengejutkan bahwa hidup ini memang butuh kejutan, variasi, serta persepsi berbeda. Setidaknya untuk hal bobo cantik dengan lingerie kekinian untuk perempuan berusia jelang 43 tahun.  

Cara pandangku kini di usia menjelang 43 tahun, jadi berubah. Bukan berubah tiba-tiba, tapi setelah menghayati perlakuan para pramuniaga berbeda tahun demi tahun setiap kuberbelanja lingerie. Mereka memiliki persepsi yang berbeda tentang pelanggannya, dibandingkan persepsi si pelanggan (diriku) terhadap dirinya sendiri.  

Persepsi pramuniaga adalah, pelanggan ini nampak seperti berusia 30 tahunan, tapi dia memilih properti di bagian yang terlalu tua untuk seusianya. Kasihan nanti suaminya bakal kecewa karena istrinya nampak lebih tua.  Atau dia akan kecewa melihat bayangannya di cermin dengan lingerie yang tidak sesuai untuk usianya.

Persepsi pelanggan (diriku) adalah usiaku sudah tak lagi muda (nyaris 43 tahun), paha dan betisku sudah tak sekencang dan semulus sepuluh tahun lalu. Dadaku tak lagi penuh seperti belasan tahun silam. Mungkin aku butuh model yang membuatku nyaman mengenakannya sekaligus anggun dan elegan. Tanpa aku perlu terganggu dengan melihat bagian tubuhku yang tidak lagi sebagus sebelumnya.  

Tapi toh akhirnya aku mengikuti saran si pramuniaga untuk memilih lingerie ajaib ajaibnya itu.  Lalu aku merasa menjadi lebih muda. Berikutnya, aku mulai menganggap cara pandang terhadap usia selama ini tidak terlalu baik.  Ya memang usiaku bertambah, sel-sel tubuhku tanpa dibendung semakin menua. Tapi merasa tua tak selalu baik untuk mengambil keputusan, termasuk keputusan memilih model lingerie yang akan dibeli.  Hahaha…

Aku jadi berpikir bahwa tampak lebih muda sangat mungkin jika seseorang bahagia. Kita bahagia jika memandang diri secara proporsional sebagai pribadi yang bersyukur atas apa yang Tuhan anugerahkan. 
Toh ketika kuubah cara pandangku, aku merasa nyaman saja mengenakan lingerie model ajaib ajaib itu yang katanya diperuntukkan bagi gadis muda, tapi kukenakan di usiaku yang nyaris 43 tahun ini. 

Jadi, merasa tua dan muda atau tampak tua dan muda bukan soal usia.  Tapi soal bahagia yang terpancar dari seluruh gerak-gerik tubuh kita.  

Bahagia itu sesederhana bersyukur saat gajimu cair ke rekening tiap bulan lalu bersyukur dari sana bisa membantu suami mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga.  Berbarengan dengan sesederhana bersyukur saat suamimu dengan ringan tangan membantu pekerjaan rumah dan mengasuh anak-anak di akhir pekan. Sesederhana itu.  

Sesederhana ketika kalian berdua merencanakan untuk berlibur bersama keluarga dan giat menabung bersama-sama, dari gajimu dan gajinya.  Sesederhana tidur berpegangan tangan karena mungkin hari-hari kerja yang melelahkan telah membuat kalian berdua cukup bahagia mengetahui bahwa pasangannya sehat-sehat dan baik-baik saja, serta ada di sampingnya. Ya, bersyukur itu indah.  Dan bahagia itu manis.  

Banyak pilihan dalam hidup.  Kita pun bahkan dipacu untuk menciptakan pilihan-pilihan bagi langkah kita ke depan sepanjang hidup. Kalau aku sih yang pasti akan memilih untuk bahagia saja.  Kalau kamu gimana? (Opi) 

6 komentar

  1. Kalau disuruh memilih, tentu saja saya juga pilih bahagia. Dan memang, bahagia itu sederhana benar adanya. Cuman kadang sayanya aja sih yang maunya kebanyakan.

    BalasHapus
  2. Aku baca dengan teliti nih hehe, aku masih suka agak tersipu kalau harus beli langsung. Biasanya online aja ����

    Tapi kayanya layak dicoba beli lingerie langsung kaya mba Opi. Aku setuju tentang pandangan diri kita sendiri pada usia, siapa yang senang ketika menjadi tua. Ahh namanya manusia, apalagi dalam tubuh perempuan pasti pengennya ya awet muda. Jadi emang harus pandai memperlakukan diri dengan baik, memandang diri sudah berumur akan bagus di beberapa hal. Begitupun sebaliknya, ya ga mbak

    BalasHapus
  3. betul kita harus bahagia, saat abhagia akan terpancar dari wajah kita ya, maka bahagiakan diri kita

    BalasHapus
  4. Inspiratif sekali membaca tulisan ini. Dikala hujan mengguyur Bandung....
    Empat puluh angka luar biasa

    BalasHapus
  5. Hidup bahagia itu penting banget, bisa membuat 'aura' wajah kita pun lebih awet muda. Beberapa artikel yg sering saya baca tentang awet mudah juga sering menyarankan untuk hidup bahagia, positif thinking. Dan emang terbukti. :D

    BalasHapus
  6. Mbak, kita seumuran. Jujur saya klik link ini krn lihat tulisan '43' di pengantarnya di grup KEB.

    Saya juga hampir 43. Bulan depan tepatnya.

    Baca ini jadi tercerahkan. Ada bagian diri yang tetep perlu dijaga dan tentu disyukuri, ya.

    Karena kepala empat mengubah banyak hal, yang mungkin terjadi krn persepsi sendiri.

    Intinya, di luar profesional sesuai usia *apaan tuh*, di dalam tetap wanita belia.

    BalasHapus