Life in Balance : Mungkinkah?....




“Mendekatlah ke garis keseimbangan, agar tercipta harmoni yang utuh”


Dalam kejernihan pikiran dan jiwa, simaklah dulu sejenak sebuah kisah pencarian “Life in Balance” untuk direnungkan, dikutip dari Buku “33 Menit Resign” yang ditulis Adie Pamungkas: 


Namanya Mohamed El-Erian.

Dia dikenal baik oleh para investor keuangan di Amerika Serikat bahkan oleh seorang presiden seperti Barack Obama.  Jabatan sebagai CEO perusahaan investasi PIMCO membuat pria 56 tahun ini memiliki penghasilan yang sangat besar, yaitu US $ 8,4 juta atau sekitar Rp 100 Miliar per bulan!  Penghasilan fantastis yang pasti semua orang idam-idamkan.  Bandingkan dengan gaji rata-rata pegawai, angka 100 miliar hanya impian semata.  Untuk sekadar bermimpi pun tak sanggup.  Bagi banyak orang, ini bukan mimpi indah tapi justru mimpi yang menakutkan. 

Penghasilan yang diperolehnya sangat sepadan dengan beban dan tanggung jawab kerjanya.  Mohamed El-Erian telah menebus waktu, energi, pikiran, emosi, perhatian, dan semua kemampuan terbaiknya untuk bekerja.  Sebuah profesionalitas tingkat tinggi yang layak dibayar mahal.  

Namun pada Mei 2013, sebuah keputusan besar diambil dalam hidupnya.  Mohamed El-Erian memutuskan resign (mundur)  dari pekerjaan dan perusahaan tersebut.  Anda tahu mengapa? Tentu bukan karena faktor materi dan kurangnya fasilitas yang diterima.  Bukan pula tidak cocok dengan perusahaan, bukan berkonflik dengan lingkungan kerjanya, juga bukan karena menerima tawaran pekerjaan di tempat lain dengan income dan fasilitas yang lebih menggiurkan.  

Pengunduran diri ini bermula saat putri Mohamed El-Erian yang berusia 10 tahun mengirimkan sebuah surat.  Dalam surat tersebut, sang putri menuliskan bahwa dia sangat sedih ayahnya tidak datang pada hari pertamanya di sekolah, tidak pernah datang saat rapat orang tua, tidak pernah ikut pesta Halloween, dan tidak datang pada pertandingan sepak bola pertamanya karena ayahnya terlalu sibuk bekerja. 

“Setahun yang lalu, putri saya memberikan selembar kertas yang berisi daftar kegiatan anak saya yang tidak pernah saya hadiri.  Saya selalu punya alasan untuk tidak datang, misalnya ada perjalanan bisnis, pertemuan penting, telepon mendesak, dan segala macam,” ujar Mohamed El-Erian seperti dilansir oleh Dailymail.co.uk.  “Tapi, saya sadar ada satu titik yang lebih penting.  Saya merasa keseimbangan hidup sudah rusak oleh pekerjaan dan hal tersebut sudah menyakiti hubungan saya dan anak.  Saya tidak bisa meneruskan hal ini lebih lama,” lanjutnya. 

Bagi para pelaku bisnsi dan jaringannya, tentu ini sangat mengagetkan.  Keputusan seorang Mohamed El-Erian yang tidak terbayangkan, tidak dinyana nyana.  Bagaimana mungkin dia resign hanya karena sebuah alasan yang terdengar sentimentil?  Namun, bukan itu inti masalahnya. Ada kebahagiaan lain yang jauh lebih bernilai dibanding uang dan gaji besar.  Sebuah fitrah halus manusia dengan sapaan humanisme dan tanggung jawab yang jauh melebihi batas laingit, kewajiban atas nama Ayah!

Dulu, Mohamed El-Erian hanya bisa tidur dari pukul 9 malam hingga 1 pagi, kemudian dia harus mengisi kolom surat kabar.  Dia sudah harus sampai di kantor pukul 4.30 pagi untuk melihat perkembangan perdagangan, kemudian pukul 9 pagi berpindah ke ruang CEO.  Begitu setiap hari hingga tak ada waktu untuk keluarga.  

Namun sekarang, Mohamed El-Erian punya banyak waktu bersama keluarganya.  Dia bisa membuatkan sarapan untuk putrinya, mengantar dan menjemput sekolah, bermain bersama bahkan pergi liburan.  Walau saat ini Mohamed El-Erian sudah tidak lagi menjadi CEO PIMCO, dia masih dipercaya menjadi penasihat ekonomi Allianz, dengan jam kerja yang lebih santai.  Tidak ada yang disesali Mohamed El-Erian dengan keputusannya untuk mengundurkan diri dari pekerjaan yang menghasilkan gaji luar biasa.  “Saya lebih bangga menjadi ayah yang baik ketimbang menjadi investor dengan gaji besar.” 

Sebuah pilihan atas prioritas kebahagiaan hidup yang tak semua orang mampu menemukannya.  Kehangatan pelukan dan kelembutan sinar mata putrinya jauh lebih mahal dibanding nilai 100 miliar per bulan yang diterimanya.  


******


Kisah nyata Mohamed El-Erian di atas penulis kutip persis dari sumbernya tanpa menambah atau menghilangkan satu katapun, agar pesan yang diterima utuh.  Dari kisah itu, kita dapat menangkap perjuangan seorang ayah untuk menemukan cara hidup yang seimbang. Life in Balance. 

Keseimbangan itu dicapainya dengan mundur dari pekerjaan dan kembali memperbaiki hubungan ayah-anak yang dirasakannya tersakiti. Pekerjaan ternyata menuntutnya lebih banyak mencurahkan waktu dan tenaga untuk perusahaan dibandingkan keluarga, terutama putrinya. His life was not in balance. Keputusan untuk melepas pekerjaannya dan mengembalikan waktu yang terampas pada putrinya, berdampak ia tak lagi menerima 100 miliar per bulan, melainkan hanya secukupnya sebagai penasehat ekonomi Allianz. 

Dua poin utama tentang hidup dalam keseimbangan (Life in Balance) yang bisa kita ambil dari kisah Mohamed El-Erian adalah bahwa: 

1. Mendekat ke garis keseimbangan adalah sebuah kebutuhan yang dalam memenuhinya diperlukan perjuangan dan keberanian 

2. Waktu, moment, dan hubungan bila telah hilang tidak akan dapat diganti dengan uang sejumlah berapapun.  Sementara uang yang hilang dapat diganti selama kita masih mau bekerja. 

Berkaca dari Mohamed El-Erian, kita bisa menilai diri sendiri sejauh mana Life in Balance menjadi kebutuhan bagi diri kita dan sekuat apa perjuangan serta keberanian kita dalam memperjuangkannya? Sebelum lanjut, yuk kita simak sebentar kisah nyata yang ini sebagai pembanding. 


Ini kisah nyata seorang Mita Diran di Desember 2013.  

Mita (27 tahun), anak muda produktif dan berprestasi dalam pekerjaannya sebagai copy writer (penulis naskah) telah dinyatakan meninggal setelah 30 jam nonstop bekerja dan mengkonsumsi minuman berenergi dalam jumlah yang berlebihan. 

Berita ini sungguh menyedihkan, mengingat Mita adalah gadis belia yang penuh semangat, kreatif, dan mencintai pekerjaannya.  Menurut ayah kandungnya, Mita memang seorang pekerja keras.  Kerja ekstra keras yang dilakukan gadis peraih penghargaan Citra Pariwara rupanya tidak diimbangi dengan asupan makanan yang seimbang.  Ia jatuh tak sadarkan diri setelah menyelesaikan pekerjaannya yang dikerjakan selama 30 jam nonstop.   Rekan-rekannya segera membawa Mita ke rumah sakit sampai akhirnya ia koma dan wafat.  Sehari sebelum wafat, Mita juga menuliskan sebuah pesan di media sosialnya,”30 hours of working and still going stroooong.”

Dari kisah Mita kita belajar bawa produktivitas yang tidak dibarengi dengan keseimbangan asupan kebutuhan tubuh akhirnya berujung kematian.  Ini artinya manusia butuh keseimbangan antara bekerja dan memperhatikan kesehatan tubuh.  Butuh keseimbangan antara karier dan kesehatan. Life in Balance.

Mencermati kehidupan nyata yang kita jalani, di kehidupan pekerjaan maupun domestik dan sosial, apakah mungkin kita bisa mencapai Life in Balance? Sangat mungkin, namun membutuhkan perjuangan.  Mungkin tidak seberat Mohamed El-Erian hingga mengambil jalan resign.  Sebab penghasilan dan kebutuhan kita per bulan mungkin tidak sampai seperseratusnya.

Disadari atau tidak, dalam menempuh segala segi kehidupan memang harus seimbang.  Berkaca pada alam, secara natural alam selalu mencari keseimbangan. Ada predator, ada mangsa. Baik pada tingkatan individu maupun organisasi atau sistem, juga di komunitas yang lebih luas butuh keseimbangan.   Kisah Mita Diran adalah contoh ketidakseimbangan individu yang berdampak terhadap organisasi atau sistem.  

Gatut Prasetiyo (2016) dalam bukunya berjudul Life in Balance menuliskan bahwa keseimbangan individu berpengaruh sistemik pada keseimbangan masyarakat, demikian pula sebaliknya. Jadi, menciptakan Life in Balance itu kita mulai dulu dari individu dengan memperhatikan aspek-aspek yang perlu diseimbangkan.   


5 Aspek Keseimbangan Hidup 

Perjuangan kita untuk bisa Life in Balance perlu memperhatikan lima aspek dalam hidup yang sebaiknya diseimbangkan yaitu spiritual, karier/keuangan, hubungan, kesehatan, dan sosial.  Kisah Mohamed El-Erian merupakan contoh bagaimana aspek karier/keuangannya tak seimbang dengan aspek hubungan (dengan putrinya). Sementara kisah Mita menggambarkan adanya ketidakseimbangan antara aspek karier dengan kesehatan. 

Salah satu atau dua saja dari kelima aspek tersebut ada yang tidak seimbang, akan menimbulkan problem yang berdampak pada perjalanan hidup dan kebahagiaan.   

Menarik untuk diketahui bahwa selain selalu menuju ke arah keseimbangan di berbagai bidang kehidupan, keseimbangan dalam satu segi kehidupan akan berdampak langsung maupun tidak langsung ke bidang kehidupan yang lain.  

Selain itu, keseimbangan merupakan sebuah variabel yang tidak bebas untuk keseimbangan bidang lainnya.  Oleh karenanya antara sebuah “balance” dengan “balance” yang lainnya terdapat hubungan yang nyata, meskipun hubungannya tidak segera dapat dilihat.  

Misalnya, jika kita mendekatkan diri pada keseimbangan antara kesehatan dan spiritual, maka aspek lain (hubungan, sosial, dan karier/keuangan) dalam kehidupan kita juga akan terdampak. 

Selama kita masih bernafas, mendekat ke garis keseimbangan tak akan pernah ada ujungnya.  Sebab, dalam hidup kita tidak pernah bisa 100% seimbang terus menerus.  Ujung dari sebuah keseimbangan di satu fase hidup akan menciptakan keseimbangan di level berikutnya.  Lalu akan ada masalah atau kondisi kritis yang membuatnya jadi tidak seimbang.  Kemudian kita akan menyeimbangkan lagi.  Begitu seterusnya.  

Sebagai individu kadang kita tidak menyadari bahwa ketidakseimbangan selain berakibat fatal bagi individu juga memengaruhi ketidakseimbangan di sekitar kita. Namun secara naluriah, manusia hidup di dunia ini dengan mindset bagaimana terus berusaha untuk membuat hidupnya selalu mendekat ke garis keseimbangan agar tercipta harmoni yang utuh.  

Keseimbangan ditanggapi positif jika disadari bahwa krisis yang timbul merupakan sebuah proses yang harus ditempuh untuk mencapai keseimbangan yang lebih tinggi.  Apabila kita berada di zona nyaman, justru akan muncul keseimbangan negatif karena bersifat statis.  Seimbang tapi ngga kemana-mana. 


Segitiga BMW untuk Manajemen Keseimbangan 

Dalam manajemen Life in Balance, dikenal adanya Segitiga BMW (Biaya, Mutu, Waktu).  Setiap aspek penting dalam hidup yaitu spiritual, karier/keuangan, hubungan, kesehatan, dan sosial harus mendapatkan porsi penting dalam pengelolaannya, yang meliputi biaya, mutu, dan waktu.  Sehingga, tujuan keseimbangan bisa tercapai.  

Biaya, maksudnya seberapa besar uang atau modal yang harus dikeluarkan untuk mengelola kelima aspek keseimbangan.  Mutu adalah output yang ditargetkan sebagai hasil pengelolaan aspek keseimbangan.  Outputnya selayaknya berkualitas tinggi, lebih baik dari kondisi awal.  Waktu maksudnya penetapan skala prioritas atas berbagai pergesekan masalah yang terjadi dalam krisis menuju keseimbangan.  

Merujuk kisah Mohamed El-Erian, sekiranya menghadapi krisis serupa dalam skala yang lebih rendah, dengan menggunakan Segitiga BMW kita bisa memutuskan langkah yang harus diambil.  

Segitiga BMW hanyalah tool, selebihnya semua kembali pada diri kita sendiri.  Aspek-aspek penting dalam hidup kita akan senantiasa bergesekan. Bila berpegang pada pengelolaan diri yang positif, yaitu segera bangkit dan mencari jalan mendekat ke garis keseimbangan, diyakini tahap selanjutnya kita akan lebih siap menghadapi krisis dan menemukan kembali keseimbangan di level berikutnya.

Akhirnya, bolehlah kita mengingat kata Oprah Winfrey: “I’ve learned that you can’t have everything and do everything at the same time.”   Kita semua dibekali naluri mana yang prioritas, mana yang harus dibela mati-matian ketika beberapa aspek keseimbangan saling bergesekan.  Mendekatlah ke garis keseimbangan, agar tercipta harmoni yang utuh. (Opi) **



** Artikel ini juga dimuat di Warta Intra BULOG edisi 1 tahun 2020, Majalah Internal Perusahaan  BUMN tempat penulis bekerja.


Bahan Bacaan: 

Garcia, H. & F. Miralles. 2016. IKIGAI: Rahasia Hidup Bahagia dan Panjang Umur Orang Jepang. Penerbit Renebook, Cetakan Kedua September 2018, Jakarta: xix + 211 hlm.

Prasetiyo, G. 2016. Life in Balance. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: vii + 157 hlm.

Pamungkas, A. 2015. 33 Menit Resign. Penerbit PT Elex Media Komputindo. Jakarta: xvii + 138 hlm.

https://www.huffpost.com/entry/how-to-create-a-life-in-balance_b_7792928

https://chatsworthconsulting.com/article/TenStepstoFindingMoreBalanceinYourLife.pdf

Tidak ada komentar