Fun Coding: Berkreasi dengan Teknologi Informasi di Tengah Pandemi


”Kuasailah teknologi nak, pelajari sejak dini.  
Kalau bisa menguasai teknologi, seseorang bisa berkreasi di mana saja (bahkan cuma di rumah saja) tapi karyanya mendunia. 
Caranya, maksimalkan penggunaan teknologi informasi. 
Namun ingat, kita yang mengendalikan teknologi bukan kita yang dikendalikan teknologi.”


Kalimat itu selalu diulang-ulang oleh suami saya kepada Si Sulung yang berusia sebelas tahun, setiap saat melihatnya sedang asyik di depan laptop mengerjakan tugas proyek coding dari sekolah berupa games dan aplikasi. “Jangan seperti ayah dan ibu nih, sangat terbatas kemampuan penguasaan teknologinya. Gaptek. Jalan kamu masih panjang, Cah Bagus.”

Mas Dio  - begitu Si Sulung biasa disapa- mengikuti ekstrakurikuler coding di sekolah sejak tiga tahun terakhir, hingga kini ia duduk di kelas lima Sekolah Dasar.  Entah dari mana ketertarikannya muncul terhadap bahasa pemrograman komputer ini. Yang saya ingat, kami orang tuanya paling keras melarang anak-anak main game.  No game for student! 

Nah, di ekskul coding ini, Mas Dio mendapat info bahwa yang dipelajari adalah cara membuat game dan aplikasi. Mungkin itu sebabnya dia memilih ikut coding, supaya ada kesempatan resmi berhubungan dengan game tanpa dilarang orang tua.  

Asyik beraktivitas coding

Kami orang tua memang tidak melarangnya.  Saya sempat browsing, tentang manfaat coding bagi anak-anak.  Selain mengasah logika, nalar, analisis, dan kreativitas, coding akan berdampak positif pada anak untuk lebih menyukai Matematika -pelajaran yang paling sulit menurut Mas Dio.  

Saya juga pernah membaca kisah sukses Arianna Huffington, yang awalnya ngeblog dan blognya “The Huffington Post” kini menjadi salah satu blog paling sukses di Amerika, cukup berpengaruh di dunia, bahkan mampu meraup dollar yang menakjubkan. Banyak kolumnis terkenal dan hebat menulis secara rutin di blog ini serta menjadikannya sebagai kanal pembentuk opini publik, tak hanya di Amerika.   Kata Ariana: “Learning to code is useful no matter what your career ambitions are.” 


Itulah sebabnya, saya bebaskan si sulung bercoding ria sepekan sekali di sekolah, dan berlatih di rumah pada akhir pekan dengan laptop bekas ayahnya. Saya pikir, kelak besarnya ingin berkarier di bidang apapun, skill codingnya tetap akan bermanfaat baginya untuk memaksimalkan teknologi informasi dalam setiap aktivitas yang disukainya.  
   
Mas Dio gemar berlatih, sehingga makin terampil menggunakan program Scratch dan Codu.  Ia praktik membuat beragam macam games dan aplikasi seperti kamus dan kalkulator digital sederhana.  Mas Dio bahkan menabung selama tiga tahun untuk bisa membeli laptop baru yang lebih mendukung untuk programming dibandingkan laptop bekas ayahnya. Kami memang sengaja tidak membelikan laptop baru di awal, untuk menanamkan kebiasaan menabung dan berjuang mendapatkan perangkat baru yang dibutuhkan.  

Coding Mandiri Saat Pandemi


Masa pandemi Covid-19 sejak pertengahan Maret 2020 kemudian kami manfaatkan untuk makin mengakrabkan Mas Dio memaksimalkan teknologi informasi dalam berkreasi. Kegemaran pada coding ditambah sepanjang hari harus berada di rumah saja, otomatis menggerakkannya untuk berkreasi, seusai menuntaskan tugas sekolah. Namun karena teknologi informasi melibatkan lalu lintas di internet dan ia masih kanak-kanak, semua aktivitasnya berada di bawah pendampingan orang tua.   

Kreasi yang dipilih Mas Dio adalah coding untuk pemrograman web, karena katanya mulai bosan membuat games atau aplikasi dengan Scratch dan Codu.  Juga, karena ayahnya yang dengan iseng mengompori,”Waaah Mas Dio mau bikin karya keren nih, soalnya nongkrong depan laptop terus. Itu bukan main games aja kan?” ledek ayahnya.  


Kadang kami sering pusing kepala juga karena selama pandemi semuanya di rumah.  Bekerja dari rumah, belajar di rumah, semua aktivitas di rumah.  Waktu demi waktu kami banyak dihabiskan di depan laptop. Kadang saya harus sering mengingatkan semua untuk mengalihkan mata dari layar laptop sejenak, mengistirahatkan indera yang lelah.  

Selain bekerja kantoran, saya juga ngeblog untuk menyalurkan hobi menulis.  Awalnya dengan blog gratisan, yang akhirnya dengan bantuan seorang teman bisa transfer domain ke TLD (Top Level Domain) berbayar. Ini saya lakukan agar bisa ikut lomba-lomba menulis yang mensyaratkan blog TLD.  Saya tentu harus cek domain dulu di provider domain yang dituju, apakah nama domain yang diinginkan tersedia atau tidak. Sempat ditawari hosting murah juga.  Namun, mengingat blog yang saya rintis belum terlalu menghasilkan, akhirnya diputuskan untuk hosting gratisan saja dulu. 


Mas Dio sempat bertanya pada saya, “Kenapa ibu ngga bikin website sendiri?  Ngga bisa ya?” ledeknya.  Saya hanya nyengir kuda.  “Iya, susah sih. Ibu kan ngga bisa coding seperti Mas Dio.  Jadi Ibu pakai platform yang sudah ada, yang mudah. Yang penting Ibu bisa nulis-nulis kan,” jawab saya. 

Mas Dio lalu jadi tertarik untuk mempelajari pemrograman web, setelah ibunya ini bercerita bahwa ada teman yang masih kuliah dan sudah bisa menghasilkan uang dari jasa pembuatan web.  Jadi web developer. Kebanyakan kliennya ya ibu-ibu gaptek seperti saya, he he he.  


“Hmmm, kalau aku Insha Allah nanti ingin jadi programmer.  Sekarang aku mau belajar sendiri dulu deh bu.  Belikan bukunya ya, atau boleh aku cari tutorial pemrograman web di YouTube?” Saya mengijinkan.  Kami mencari buku yang dibutuhkan dan dibeli secara online.  

Mas Dio pun mulai mencari dan menonton video tutorial pemrograman web. Dilanjutkan dengan membaca buku.  Buku yang dipelajarinya adalah karya Adam Saputra berjudul Buku Sakti HTM, CSS, & Javascript, Pemrograman Web itu Gampang.  Saya mendampingi dan menyemangati.

Buku tutorial yang digunakan untuk praktik pemrograman web

Malam hari setelah usai tugas sekolah, atau di akhir pekan, Mas Dio menggunakan waktunya untuk belajar pemrograman web. Ia tampak sangat menikmati. Untuk memotivasi Mas Dio, saya menunjukkan tulisan Desi Anwar dalam bukunya Hidup Sederhana (2019).  Begini tulisnya:         
” Hidup ini jarang sekali berkenaan dengan berbagai benda yang kita kumpulkan, tetapi lebih pada bagaimana kita menggunakan waktu kita.  Dan waktu yang dinikmati bukanlah waktu yang sia-sia.”  

Jadi, kata saya kepadanya, tak penting seberapa banyak mainan Lego dan Gundam yang Mas Dio koleksi.  Yang lebih penting adalah Mas Dio menikmati waktu yang digunakan untuk belajar coding.  Mumpung sedang masanya sekolah di rumah selama pandemi, manfaatkan waktu ya. Siapa tahu kalau Mas Dio tekun, di usia muda sudah bisa jadi programmer muda.  

“Semangat ya Nak”, kata saya.    

Mas Dio pun belajar coding secara mandiri selama pandemi.  Kami mencari website yang menyediakan kursus pemrograman secara gratis, video-video tutorial di YouTube, dan buku pemrograman yang direkomendasikan.  Ia pun mulai mempelajari tentang domain, hosting serta berbagai providernya termasuk www.qwords.com atas informasi dari ibunya.  

Mempraktikkan pemrograman web 
Saya pun sangat bersyukur dengan kebijakan work from home (WfH) selama pandemi.  Dampak positifnya, jadi bisa intens mendampingi anak sulung dalam memaksimalkan teknologi informasi untuk berkreasi di rumah.  

Praktik Pemrograman Web selama Pandemi 


Setelah mempelajari tentang teori pemrograman web dari sumber-sumber online, Mas Dio lalu mulai praktik membuat website dengan bahasa pemrograman yang dipahaminya. Hasilnya diperlihatkan kepada saya, dan masih terus dikutik-kutik. 

Berikut adalah capture dari hasil praktik pemrograman web yang dibuat Mas Dio. Ia menggunakan bahasa pemrograman untuk mendisain sebuah web tentang dirinya.








“Nah, begitu Mas.  Ini baru awal, nanti Mas Dio terus berinovasi ya.  Terus belajar.  Ngga apa-apa sekarang belajar dari kursus online gratisan dulu.  Nanti kalau sudah semakin mengerucut, boleh kok kursus yang berbayar, “ kata saya.  

Learning to write programs stretches your mind, and helps you think better, creates a way of thinking about things that I think is helpful in all domains”, begitu kata  Bill Gates , Co-Founder Microsoft.  Bagi Mas Dio, belajar bahasa pemrograman komputer memang sangat menyenangkan.  Namun, mengingat usia Mas Dio masih  kanak-kanak, saya berusaha untuk membuka juga peluang baginya mengeksplorasi hal-hal lain agar wawasannya tentang bidang-bidang kreatif semakin luas. Salah satunya adalah musik, supaya ia memiliki pengalihan dan pilihan wadah penyaluran emosi.  

Mengisi waktu dengan bermusik: gitar, biola, dan organ


Ada lima hal prinsip yang saya pegang teguh selama mendampingi anak dalam penggunaan teknologi informasi untuk berkreasi, mengingat anak-anak belum saatnya dilepas begitu saja pada aktivitas manangkap, mengolah, dan mentransmisikan data dalam teknologi informasi di dunia maya.  Harus dengan pendampingan penuh orang tua.  Kelima hal tersebut adalah: 

1. Kenali minat dan keinginan serta kebutuhan anak Generasi Z
2. Ibu dan Ayah ikut belajar teknologi informasi, termasuk internet safety dan etika
3. Dampingi secara penuh dan beri dukungan semangat pada anak 
4. Latih untuk disiplin dan memosisikan diri akan tujuan-tujuan hidup 
5. Tekankan bahwa teknologi sebagai alat, kita yang mengendalikan teknologi bukan kita yang dikendalikan teknologi

Saat ini Mas Dio masih terus belajar dan praktik bahasa pemrograman komputer secara mandiri didampingi orang tua. Tidak ada tekanan apapun untuknya harus bisa begini atau begitu.  Kami orang tuanya hanya ingin ia dapat menikmati masa kanak-kanak dengan wajar dan memiliki kenangan indah tentang masa kecil yang terus diingat hingga dewasa.  

Mimpi kami, kelak saat dewasa ia telah menjadi seorang programmer yang juga lihai bermain musik, Mas Dio tetap teringat bahwa memanfaatkan teknologi informasi secara optimal akan jadi jalan berkreasi yang tepat untuk dipilih. Terlebih lagi, berkreasi untuk kemaslahatan orang banyak. Kita yang mengendalikan teknologi, bukan kita yang dikendalikan teknologi.  Semoga. Doa ibu selalu. (Opi) 

Bahan Bacaan: 

Adam Saputra, Buku Sakti HTM, CSS, & Javascript, Pemrograman Web itu Gampang, 2019, Penerbit START UP Yogyakarta, viii+ 260 hlm. 

Desi Anwar, Hidup Sederhana: Hadir di Sini dan Saat Ini, 2019, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 191 hlm.  

https://teknologi.id/insight/pengertian-teknologi-informasi-serta-tujuan-dan-fungsinya/ (diakses Kamis 11 Juni 2020) 

4 komentar

  1. kalau punya sarana , anak2 mah bisa banyak belajar ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, tapi anaknya musti dimotivasi juga

      Hapus
  2. anaku juga kayaknya tertarik belajar coding, tapi belum cukup umur karena dia masih 5tahun dan belum bisa membaca. Mungkin karena di les robotnya ada anak yang les coding juga, dia jadi penasaran liatnya heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kayaknya ada minat tu ya mba.... bisa dimotivasi dulu anaknya utk robotic dgn rajin gitu spy bisa ikut coding nanti hihihihi **bujukin

      Hapus