Cerdas Berinovasi Mewujudkan Generasi Kreatif dan Berdaya Saing dengan CREATONME


IT IS ALL ABOUT GAME!

Benarkah skill yang dimiliki anak dalam bermain game akan bermanfaat bagi masa depannya? 

Bagaimana mengasah skill tersebut ke arah yang tepat?

Benarkah belajar bisa lebih menarik jika dilakukan gamifikasi dalam prosesnya?

Ketiga pertanyaan di atas berkecamuk dalam pikiran saya, ibu yang tidak suka main game dan sering bersitegang dengan anak perihal game. 

Lalu, CREATONME hadir dalam ranah belajar saya akhir pekan lalu membawa misi pendidikan ekonomi kreatif melalui pembelajaran berbasis game (permainan).  Bahasa kerennya: Creative Economy Education Through Game-Based Learning

CREATONME juga lah kemudian yang menjawab ketiga pertanyaan di atas untuk saya.  Tapi boleh kan sebelumnya saya bercerita tentang kegalauan sebagai orang tua (dan mungkin kebanyakan orang tua lainnya) tentang game yang dimainkan anak-anak?

Berawal dari Kegalauan Orang Tua tentang Game 

“Duh Ibu-Ibu, hati-hati ya anak-anaknya yang main game online R****X, terutama yang Room Br**khe***n karena kontennya sudah ada adegan dewasa yang tidak pantas buat anak-anak. Sangat berbahaya kalau ditiru dan jadi kebiasaan anak-anak kita.”

Begitu bunyi pesan Bu RT di WA Group ibu-ibu kompleks perumahan tempat saya tinggal.  Tak lama berselang, group WA karyawati tempat saya bekerja juga memuat pesan peringatan yang sama dari Ketua Keputrian. Saya sempat agak lemas dan kuatir, mengingat kedua anak saya juga pernah memainkan game online dimaksud. 

Sebagai ibu bekerja ranah publik, era pandemi menjadi masa yang sangat menantang bagi saya dan suami dalam hal pengasuhan anak.  Terutama, dalam hal mengalihkan anak-anak dari game yang kurang baik untuk perkembangan mereka.  

Sebelum pandemi, saya masih bisa mengalihkan dengan cara memperbanyak aktivitas outdoor bersama anak. Misalnya berkemah, jelajah alam sambil belajar fotografi, dan lainnya. Namun pandemi yang tak berkesudahan memaksa semua kegiatan beralih ke online. Tantangan menjadi semakin berat untuk mengalihkan anak-anak dari game online. 

Sebetulnya saya tidak melarang anak-anak main game online.  Kami membuat aturan bermain game online yaitu hanya di akhir pekan dan hari libur setelah semua tugas diselesaikan.  Pada hari sekolah, tidak ada acara main game.  Namun, karena banyaknya hari libur anak selama pandemi, sementara orang tua tetap bekerja, membuat anak-anak bisa melanggar kesepakatan main game itu. 

Anak saya yang beranjak remaja punya kegemaran yang sangat tinggi pada game-game strategi.  Salah satu game yang sangat digandrunginya adalah Minecraft.  Ia juga belajar membuat game dari kursus coding yang diikutinya.  Sementara adiknya yang juga beranjak remaja, ikut main game karena terpengaruh kakaknya.  

Karena saya termasuk golongan orang yang tidak suka main game, maka sangat sulit bagi saya memahami keasyikan main game.  Itulah yang membuat saya sering bersitegang dengan anak-anak soal game.  

Peluang karir bagi anak penggemar game sangat terbuka di masa depan,
namun butuh arahan yang tepat untuk mengaktivasi skillnya

Konsistensi saya pegang erat, bahwa anak-anak boleh main game tetapi tidak boleh kelewatan.  Cukup beberapa menit saja. Dan tidak boleh sampai lupa makan, mandi, belajar atau mengganggu waktu istirahat/tidur.  Sedangkan pilihan game-nya, saya coba curi-curi tahu dan tanya-tanya ke komunitas terkait apakah cukup aman untuk dimainkan anak seusia mereka. 

Alangkah lega saya setelah berdiskusi dengan anak-anak tentang game R***X yang pernah mereka mainkan bersama teman-teman sekolah dan anak-anak tetangga. Mereka kini tidak lagi memainkannya karena bosan. Mulailah saya lalu berusaha ngobrol dengan anak-anak tentang game apa saja yang dimainkan dan bagaimana cara mainnya. Apa misi dari game tersebut dan apa yang membuat anak-anak sangat menyukainya. 



Creative Economy Education Through Game-Based Learning (CREATONME): Activate Your Creative Skill

Saya melakukan pendekatan kepada anak-anak tentang GAME bukan tanpa sebab.  Inspirasi untuk melakukannya datang setelah mengikuti sebuah webinar bertajuk “Creative Economy Education Through Game-Based Learning (CREATONME): Activate Your Creative Skill”.  

Webinar ini saya ikuti secara full mulai pukul 9.00 Wib hingga tuntas di sekitar pukul 12.30 Wib pada akhir pekan lalu Sabtu 15 Januari 2022, melalui zoom meeting room. 

Para pembicara yang kompeten di bidangnya hadir membagikan wawasan tentang game, anak muda,  dan pendidikan berbasis game.  Ternyata ini sangat dekat dengan keseharian kita.   Mereka adalah: 


1. Annisa Hasanah Arsyad (Direktur Ecofun Indonesia)

Ecofun Indonesia, merupakan social enterprise yang telah meraih penghargaan internasional, bergerak di bidang sains komunikasi, pendidikan lingkungan, dan game-based learning.  

Bisnis Ecofun antara lain pengembangan produk edukasi berbasis board game dan provider program training interaktif.  Ecofun Indonesia selain mencetuskan program CREATONME juga memproduksi games ramah lingkungan yaitu Ecofunapoly.  


2. Dr. Yang Mee Eng (Executive Director of The ASEAN Foundation)

ASEAN Foundation, merupakan badan ASEAN yang memiliki program khusus pengembangan dan pemberdayaan anak-anak muda di kawasan ASEAN.  

Dr. Yang memaparkan dalam webinar tentang support ASEAN Foundation terhadap pemberdayaan anak muda ASEAN.  


3. Khairudin Abdul Rahman (Chief Exceutive Office Maybank Foundation)

Maybank Foundation adalah yayasan yang menangani Corporate Social Responsibility (CSR) Maybank Group.  Melalui kemitraan dengan berbagai pihak di webinar ini, Maybank Foundation tetap berkomitmen untuk memperbaiki kehidupan 1 juta rumah tangga di 2025.  Komitmen ini sangat berhubungan dengan misi pendidikan bagi anak muda untuk menyongsong masa depannya.  


4. Syaifullah, SE., M.Ec., PhD (Direktur Aplikasi, Games, TV, dan Radio, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

Direktorat yang dipimpin Bapak Syaifullah berperan dalam mengawal pengembangan games baik dari sisi edukasi maupun industri untuk perekonomian kreatif di Indonesia.


5. Galih Aristo (Founder Arcanum Hobbies- Konsultan kreatif)

Arcanum Hobbies merupakan komunitas para penggemar board game di Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia.  Arcanum juga telah berkembang menjadi Arcanum Academy yang memfasilitasi kelas Board Game Design, dan mendukung industri board game lokal. 



6. Septi Peni Wulandani (Co-founder Boardgameland, Founder Komunitas Ibu Profesional)

Boardgameland adalah konsep Ibu Septi untuk gamifikasi seluruh aspek kehidupan keluarga. Termasuk di dalamnya adalah gamifikasi pendidikan sehingga menjadi lebih menyenangkan bagi siapapun termasuk anak-anak. 


Moderator webinar ini Sadryna Evanalia (Jurnalis, Digital Content Producer and Author), memandu dengan hangat dan mengalir, membuat saya tidak beranjak sedikitpun dari depan laptop untuk mengikutinya sampai selesai.  

Webinar berskala ASEAN ini juga dihadiri oleh The Volunteers of Empowering Youths Across ASEAN dan para peserta program CREATONME Batch 1.  

Empowering Youth, merupakan fokus kerja ASEAN Foundation.  Ini diwujudkan dengan melaksanakan program yang membekali anak muda dengan future-ready skills.  Future ready-skills yang dimaksud adalah empati, kerjasama dan kolaborasi, kapasitas teknis, kemampuan membangun network, ketahanan emosi, dan leadership.  

Para peserta program CRAETONME yang hadir di webinar ini diberi kesempatan untuk mempresentasikan prototype game buatan mereka setelah mengikuti program CREATONME.

Ada 4 prototype game yang berhasil dibuat, serta siap dikembangkan lebih lanjut.  Keempat prototype game itu adalah :

1. Nusantara Hunt Culture (NHC), game yang punya misi untuk melestarikan budaya Indonesia versi anak-anak muda.

2. Ijime, game yang memiliki misi untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental.  Pembuatan game ini juga sudah dikonsultasikan dengan ahli di bidang psikologi.  

3. Water Trip, game yang memiliki misi untuk menawarkan solusi masalah air dan sanitasi pada skala ASEAN 

4. Worka, game yang memiliki misi mempertemukan dunia pendidikan dengan dunia industri 


Saya mengikuti webinar ini secara penuh, dari awal sampai akhir.  Topiknya sangat menggugah saya sebagai ibu yang tengah dirundung galau akibat anak yang suka main game.  Frase Game-Based Learning sangat menarik perhatian.  Ini seperti menjawab pertanyaan saya,”Bisa jadi apa anak saya nantinya kalau suka main game?” 


Penjabaran para narasumber dalam webinar ini menjawab ketiga pertanyaan mendasar ini: 

1. Benarkah skill yang dimiliki anak saya dalam bermain game akan bermanfaat bagi masa depannya? 

2. Bagaimana mengasah skill tersebut ke arah yang tepat?

3. Benarkah belajar bisa lebih menarik jika dilakukan gamifikasi dalam prosesnya?

Kita bahas satu persatu ya dan dihubungkan dengan wawasan yang dibagikan oleh para narasumber dalam webinar ini: 

1. Benarkah skill yang dimiliki anak saya dalam bermain game akan bermanfaat bagi masa depannya? 

Jawaban singkatnya adalah YA.  

Dalam webinar ini, Annisa Hasanah Arsyad (Direktur Ecofun Indonesia) membahas tentang enam skill anak muda yang dikembangkan dari Game-based Learning. 

Keenam skill tersebut adalah kolaborasi, memecahkan masalah, kemampuan bersosialisasi, kepemimpinan, kemampuan berpikir kritis, dan mencari jalan keluar dari konflik yang terjadi.  

Keenam skill tersebut sesungguhnya bisa saja sudah tumbuh dari anak-anak ketika terpapar pada game yang memiliki misi tersebut. Sejumlah game, termasuk board game, memiliki misi permainan yang sebetulnya positif bagi yang memainkannya.  

Ketika memainkan game tersebut, secara tidak langsung para pemain dilatih untuk menggunakan keterampilan yang dimiliki untuk mencapai misi. 

Di sinilah letak poin pentingnya, para orang tua harus selektif terhadap misi dari game yang dimainkan anak. Memilih game dengan misi yang mirip dengan kebutuhan nyata di tempat bekerja nantinya, akan sangat membantu mengasah skill tersebut.  

Menurut Annisa, pendidikan masih menjadi senjata ampuh untuk membentuk generasi yang kreatif dan berdaya saing ke depannya.  Namun, dibutuhkan inovasi dalam pendidikan untuk mencapai tujuan ini.  Salah satunya dengan meletakkan game sebagai basic untuk edukasi.  

“Belajar dengan game bisa menciptakan skill yang dibutuhkan oleh anak-anak kita kelak dalam bekerja di masa depan,” begitu papar Annisa.  

Saat ini, anak muda mulai merasakan kegalauan akan masa depan.  Akankah kelak mereka bisa mendapatkan lapangan pekerjaan? Lapangan pekerjaan apa saja yang kelak akan terbuka? Skill apa saja yang harus mereka kuasai?  

Ketiga pertanyaan itu terjawab dari pemaparan Mba Annisa, bahwa skill yang dibutuhkan pada lapangan pekerjaan di masa depan sangat berbeda dengan yang sekarang.  Itulah sebabnya, CREATONME mempersiapkannya bagi anak muda, agar mampu menggunakan kreativitasnya.  Lebih jauh, mampu memiliki daya saing melalui kreativitas karya tersebut.  

Saya sempat mengajukan pertanyaan kepada Mba Annisa pada sessi webinar di kolom Q and A, dan dijawab secara live oleh beliau.  

Beliau menekankan bahwa berdasarkan studi yang telah dibacanya, semua game baik board game maupun video game memiliki dampak positif untuk pembelajaran.  Namun yang perlu diperhatikan adalah konten, misi dan narasi dalam permainan itu sendiri. 


Board game merupakan suatu jenis permainan yang salah satu komponennya adalah lembaran persegi seperti papan yang bahannya bisa bermacam-macam, tapi umumnya dari karton tebal. Monopoli, Catur, Ludo, Halma, Ular Tangga adalah beberapa contoh board game yang sudah lama dikenal.  Board game ada yang tradisional dimainkan secara offline, ada pula dalam bentuk digital.  

Sedangkan video game adalah game yang berisi teks maupun gambar yang melibatkan interaksi perangkat lunak (software) dengan pemain dan dijembatani oleh perangkat keras (hardware). 

Sejalan dengan yang disampaikan Annisa, Galih Aristo (Founder Arcanum Hobbies- Konsultan kreatif) juga memaparkan hal senada.  Berdasarkan kiprahnya di dunia game dan training, Galih menyimpulkan bahwa main board game bisa meningkatkan kemampuan analitis, berpikir strategik, kerjasama, dan koordinasi.  Selain itu, bermain game juga menyediakan tempat untuk melepaskan stress dari tugas rutin.  

Sementara itu, Bapak Syaifullah (Direktur Aplikasi, Games, TV, dan Radio, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) juga menyampaikan data serupa dengan Mba Anisa perihal skill dan jenis pekerjaan yang akan ngehits di masa depan.  Termasuk peluang bidang pekerjaan di bidang industri game.

Karenanya, pemerintah juga menaruh perhatian penuh untuk menyongsong era tersebut.  Berbagai pemetaan seperti tantangan pengembangan game di Indonesia, serta bagaimana memfasilitasinya, menjadi salah satu dari sekian banyak program yang akan dijalankan pemerintah.  

Bapak Syaifullah mengingatkan bahwa mengembangkan game itu bukan hal mudah.  Selain butuh waktu yang lama, riset pasar penerimaan game, juga kerjasama yang baik antara industri dan pendidikan.  “Tantangan bagi kita adalah, bagaimana untuk mendigitalisasi game-game lokal kita,” begitu kata Bapak Syaifullah.  

Meski demikian, tantangan itu harus dijadikan pemacu semangat.   Semua pihak sebaiknya bersinergi menggunakan Game-based Learning dalam mempersiapkan sumber daya manusia berdaya saing tinggi dalam ekonomi kreatif.  




Nah selanjutnya, jika memang skill yang dimiliki anak dalam bermain game akan bermanfaat bagi masa depannya, maka pertanyaan selanjutnya adalah:


2. Bagaimana mengasah skill tersebut ke arah yang tepat?

Jawabannya adalah dengan mengekspos anak-anak muda dengan kegiatan dan lingkungan yang tepat. Yaitu, kegiatan dan lingkungan yang mengarahkan kreativitas mereka pada olah skill untuk menghasilkan karya yang berdampak. Sekaligus, mempersiapkan diri untuk masa depan.  


Jalan untuk mengeksposnya adalah sebagai berikut:

a. Ikut bergabung dalam komunitas yang fokus pada aktivasi skill melalui game.  Misalnya komunitas hobby Arcanum Hobbies yang dibesut oleh Galih Aristo.  

Di sini, bukan sekedar main games tetapi menggunakan games untuk solusi banyak hal yang bersentuhan langsung dengan kehidupan kita. Misalnya menggunakan games-based learning untuk konsep pemberantasan korupsi.



b. Mengikuti program CREATONME (Creative Economy Education Through Game-Based Learning ) yang digagas Ecofun Indonesia, dipimpin oleh Annisa Hasanah Arsyad.  

CREATONME merupakan program edukasi ekonomi kreatif yang terdiri dari rangkaian training of trainers, workshop simulasi game selama 8 hari, dan webinar berskala ASEAN. 

Misi program ini adalah memberikan seperangkat skill terkait gamifikasi dan game design, sekaligus berpikir kreatif dan problem solving. 

Program CREATONME menyasar anak-anak muda yang memiliki ketertarikan di dunia desain board game, mulai siswa SMA hingga mahasiswa perguruan tinggi.  Para peserta CREATONME  akan bermain board game dan belajar merancang board game.


c. Aktif mengikuti program pemerintah yang memfasilitasi pengembangan game-based learning. Misalnya, program yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Program itu antara lain, pemberdayaan talenta pembuat game lokal, dan pengembangan prototype game agar menjadi produk yang bernilai ekonomi. 


d. Melakukan gamifikasi dalam berbagai aspek kehidupan sehingga game-based learning menjadi lekat dengan keseharian.  Dampaknya, skill yang terasah semakin tumbuh dan berkembang. 

Mengasah skill ke arah yang tepat itu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.  Apalagi untuk menerapkan gamifikasi dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal belajar anak-anak yang akan tumbuh menjadi pemuda pemudi.  Pertanyaan berikutnya yang akan muncul adalah: 


3. Benarkah belajar bisa lebih menarik jika dilakukan gamifikasi dalam prosesnya?

Jawaban singkatnya adalah YA.  

Ini dipastikan dan dibuktikan oleh Ibu Septi Peni Wulandani (Co-founder Boardgameland, Founder Komunitas Ibu Profesional).  

Beliau berkesempatan menyampaikan wawasan dan pengalaman dalam menerapkan gamifikasi dalam proses belajar anak-anak dan kehidupan berkeluarga.  


Menurut Ibu Septi, pada kenyataannya anak-anak lebih tertarik untuk bermain daripada belajar.  Maka, apabila belajar itu dibuat seperti bermain, akan menjadi lebih menarik bagi anak.  Inilah alasan untuk “Mengapa tidak kita gamifiaksi saja kelas kita?” 

Ruang kelas atau ruang belajar diubah jadi ruang bermain, dan bisa berada di mana saja.  

Konsep utama gamifikasi dalam pendidikan adalah Children Centered Learning.  Artinya, menempatkan siswa/pelajar sebagai subjek pembelajaran dan bukan objek. Mereka aktif melakukan secara sadar, bukan dicekoki. 

Ibu Septi juga telah menerapkan ini dalam Komunitas Ibu Profesional.  Para Ibu diencourage untuk menggali game-game yang akhirnya bisa dihasilkan oleh anak-anaknya.  Lalu, dikembangkan dalam keluarga.  

Salah satu game yang dikembangkan dari anak-anak ini adalah game board HAYOOO!.  Game ini memiliki misi lebih mendekatkan keluarga dan menghangatkan hubungan sesama anggota keluarga.  


Game HAYOOO! yang dikembangkan dari anak-anak Komunitas dipimpin Bu Septi

Saat sessi webinar Bu Septi, saya berkesempatan mengajukan pertanyaan yang dijawab langsung oleh beliau secara live.  Pertanyaan saya adalah seputar tips bagaimana mengalihkan anak-anak dari game online yang kurang baik ke game-game bermutu seperti yang diproduksi Bu Septi.  

Bu Septi menjawab bahwa langkah pertama adalah orang tua jangan memiliki prasangka bahwa anak-anak sedang melakukan sesuatu yang buruk dalam game. Jika orang tua sudah berprasangka demikian, maka artinya berada dalam posisi berseberangan dengan anak. Hal ini bukan awal yang baik untuk mengalihkan mereka dari game yang kurang berbobot.

“Posisikan diri kita sebagai teman anak.  Anak itu butuh teman,” demikian jawab Bu Septi.  

Beliau memberi contoh, ketika anaknya sangat suka main game yang menurut Bu Septi kurang berbobot, beliau meminta anaknya untuk mengajarinya main game tersebut.  

“Saya ikut main dan minta diajari.  Anak saya memandu langkah mana yang harus saya ambil dalam game.  Dari situ saya tahu bahwa anak saya sebetulnya mengerti mana yang baik dan yang buruk,” papar Bu Septi.  

Dari situlah pelan-pelan Bu Septi lalu mengajak berdiskusi anaknya tentang game.  Mereka membicarakan hal-hal yang menarik dari game yang dimainkan, juga hal baik dan buruk dari game tersebut.  Diskusi berlanjut dengan anak-anak lain yang suka main game.  


“Lalu kami akhirnya juga memfasilitasi anak-anak itu untuk berbicara di depan orang tua tentang kebaikan dan keburukan game yang pernah mereka mainkan.  Beri mereka peran dan tanggung jawab, maka itu akan membuat dampak yang lebih nyata,” ujar Bu Septi. 

Jika anak-anak sudah nyaman dengan orang tua sebagai teman maka mereka akan mudah untuk diarahkan ke arah yang tepat. Termasuk, dengan kesadaran sendiri akhirnya mereka akan beralih dari game yang kurang berbobot ke game yang lebih bermutu.  Mereka merasa diberi peran dan tanggung jawab, bukan dihadapkan pada posisi lawan.   


LAST BUT NOT LEAST …..

Saya merasa sangat bersyukur dapat mengikuti webinar ini, serta berbagi lewat tulisan kepada pembaca blog www.opiardiani.com.  

Webinar ini dikelola dengan sangat professional.  Dihadiri secara online oleh peserta dari berbagai negara ASEAN dengan perbedaan bahasa, webinar ini tetap dapat diikuti dengan baik karena tersedia fasilitas live transcript.  Kolaborasi apik ini menjadi kenangan weekend yang berkesan untuk saya.  

Webinar difasilitasi Live transcript yang memuat subtitle dan full transcript yang bisa disetting sesuai kebutuhan 

Langkah nyata bisa langsung diambil setelah mengikuti webinar ini. Saya mulai dengan melakukan pendekatan pada anak-anak, mengobrol tentang game yang mereka mainkan.  Seperti saran Ibu Septi Peni, saya coba ikut bermain game yang mereka sukai dan menjadi teman untuk mereka.  Ini bukan hal yang mudah bagi saya yang sangat tidak suka bermain game.  

Tetapi, ketidaksukaan itu saya coba untuk dikesampingkan demi cita-cita yang lebih pantas dikedepankan.  Cita-cita itu adalah, saya ingin skill yang dimiliki anak-anak dalam bermain game dapat pelan-pelan diarahkan untuk dikembangkan menjadi bekal masa depan. Tentunya agar mereka kreatif dan berdaya saing.  

Tidak ada cara lain memulainya kecuali dengan terlebih dulu menyelami keasyikan anak-anak main game dan menjadi teman untuk mengarahkan. Pastinya saya tidak akan bisa mengarahkan dengan baik jika tidak terjun langsung ke dalam game tersebut. 

Kehidupan anak-anak saya di masa depan mungkin adalah era metaverse. Entah saat itu saya masih hidup atau tidak.  Si kakak mungkin akan menjadi seorang web developer sekaligus mahir cyber security.  Si adik mungkin akan ahli mendisain pernak pernik fashion bagi avatar.  

Jadi, sangat bijak jika kita sebagai orang tua untuk lebih mendalami Game-based Learning serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.  Ini yang kita sebut sebagai cerdas berinovasi untuk mewujudkan generasi yang kreatif dan berdaya saing.  Mulai sekarang, jangan ditunda lagi. YUK!  (Opi) 


27 komentar

  1. Wah lengkap banget pembahasan. Yang kelewat-kelewat kemarin jadi bisa dibaca di blog Opi dengan jelas. Makasih Opi.

    BalasHapus
  2. mampir kesini seperti mendapat rangkuman dari webinar kemarin. komplit bangets....!
    jadi emang game bisa memberikan manfaat yang positif ya asal digunakan dengan benar.

    salam blogger dan salam HOKI

    BalasHapus
  3. Hai mbaa, salam kenal ya, aku juga ikut webinar creatonme kmrn, emang acaranya daging banget, pembicaranya juga ga kaleng-kaleng

    BalasHapus
  4. Sy masuk kategori yg menganggap game buang2 waktu, sampai akhirnya ikut webinar kemarin hehe...^^

    BalasHapus
  5. Acaranya seru. Mmin kreatif nih kalau gabung Creatonme

    BalasHapus
  6. Mashaa Allah mbak, ulasannya lengkap sekali ya mbak, saya sebagai orangtua dan juga guru harus jeli ini mencermati kebutuhan game bagi anak, dan ternyata ini juga baik bagi pendidikan, klo game yg sesuai dengan anak SMK untuk pembelajaran apa ya mbak opi kira2?

    BalasHapus
  7. Terimakasih kak, membaca memang jendela ilmu, saya suka ini tulisan kaka....

    BalasHapus
  8. Ya Allah.. padahal saya sudah simpan postingan IG tentang webinar ini, cuma ga buat reminder, jadi kelewat.
    Saya termasuk orangtua yang tidak setuju anak-anak dikasih game, tapi pengen ikut tetap update perkembangan anak2 seusianya.
    Makasih ulasannya Mba Opi..

    BalasHapus
  9. Artikelnya lengkap sekali, Mbak.
    Saya termasuk yang galau karena anak-anak suka bermain game. Pengennya bermanfaat aja buat kebaikan anak-anak..
    Thank you.

    BalasHapus
  10. Kalau dilihat,berarti peserta creatonme itu, anak SMA ya Mba? SMP belum boleh ya?

    BalasHapus
  11. kesimpulannya, apapun kegiatannya jika diarahkan ke arah yang positiv akan menghasilkan hal yang positiv juga, yaa. ya udah deh, mulai sekarang tarik uratnya rada dikendorin, ketika melihat sang perjakah...kebanyakan seneng di dalam kamar main game, toh sebenarnya ada manfaatnya juga yaak. thakyou mba for sharing.

    BalasHapus
  12. Anakku belajar banyak banget dari game, Mbak. Dan alhamdulillah itu menjadikanku nggak terlalu mengekang anak main game. Asal game yang mereka mainkan sesuai usia. Untungnya lagi, di zaman sekarang, game edukasi sangat banyak.

    Oiya, selamat jadi juara satu Mbak Opiiii. The best lah pokoknya!

    BalasHapus
  13. Smp belum boleh yaaa

    Waduuhhh
    Owe selalu galau sih klo anak2 main gadget

    BalasHapus
  14. Smp belum boleh yaaa

    Waduuhhh
    Owe selalu galau sih klo anak2 main gadget

    BalasHapus
  15. Paket komplit infonya,mksh MB opiπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ.semoga generasi muda kita Mampu mengimbangi kemajuan teknologi yang ada.

    BalasHapus
  16. menemukan titik cerah ya mbak dari apa yang selama ini dirisaukan. akupun awalnya begitu. lambat laun faham, bahwa apa yang bersinggungan dg game tak semua negatif. tinggal sisi mana kita amannya sebagai ortu anak juga faham batasan main game..... Krn anak Kote lahir teknologi udah canggih. ye kan mbak

    BalasHapus
  17. Wow,ini acara ga main-main kalau lihat skala nya yang begitu besar. Tingkat ASEAN. Memang sih semua kembali kepada orang tua yang perlu menanamkan value pada anak sehingga anak bisa punya tanggung jawab juga meskipun dalam bermain games.

    BalasHapus
  18. Kalau aku sih setuju jika anak2 bermain game, namun perlu dipantau juga untuk game yang dimainkan mereka. Karena tak semuanya juga yang memberi dampak negatif.

    Membaca tulisan ini makin membuka pikiran kita bahwa nggame juga bermanfaat untuk perkembangan anak.

    BalasHapus
  19. Kalau aku sih setuju jika anak2 bermain game, namun perlu dipantau juga untuk game yang dimainkan mereka. Karena tak semuanya juga yang memberi dampak negatif.

    Membaca tulisan ini makin membuka pikiran kita bahwa nggame juga bermanfaat untuk perkembangan anak.

    BalasHapus
  20. saya termasuk yang gak suka anak main game, tapi ternyata sekarang emang udah jamannya anak kita melek teknologi termasuk game. aku baru tahu loh ro...x itu ada scene yang gak layak untuk anak. thank ya info nya. auto uninstall nih aku. sekarang sih aku setuju anak main game, tapi tetep kendali game apa yang cocok dan layak untuk anak ada ditangan kita ya

    BalasHapus
  21. betul banget ini, butuh peran dari berbagai pihak untuk mengarahkan anak, agar keterampilan dari game nantinya bisa bermanfaat bagi masa depan mereka.
    gamifikasi belajar memang asyik dan seru. tetapi, butuh personil yang mumpuni di bidang ini, dan tidak bisa langsung jadi dalam sekejap

    BalasHapus
  22. Wah ternyata game bisa meningkatkan kepercayaan diri juga, apalah aku yang gak pernah main game karena dipikiranku gameitu hanya untuk seruseruan aja, gak nyangka kalau bisa punya manfaat kek gini dan sudah dikonsultasikan ke psikolo untuk enjaga kesehatan mental. Ini benar-benar membuka pikiran aku tentang game, ternyata gak seperti yang aku kira ya.

    BalasHapus
  23. Akhirnya terjawab kegalauan mamak-mamak yang anaknya gamer, gamer pun bisa berprestasi ya jika diarahkan dengan tepat, keahlian anak bisa berguna untuk masa depannya, pengen deh Alde belajar coding

    BalasHapus
  24. Nah kegalauan yang mba rasain itu persis kaya orang tua ku dulu saat Kaka ku di bangku SMP. Kaka sukanya main game komputer, sering main ke rumah teman, dikira main doang, taunya... Belajar tentang komputer.. dan game yang anak mba mainkan itu bagus, game strategi seperti Minecraft itu membantu untuk mengasah otak~ apalagi sekarang memang ada game khusus sekaligus yang edukatif ya

    BalasHapus
  25. MasyaAllah kok seru banget ish kayaknya mba... AKu tipikal yang suka belajar sambil bermain karena jadi lebih mudah dipahami...

    BalasHapus
  26. Selama jadi guru di SMA, aku bisa lihat banyak anak-anak yang terganggu dengan game, but at the same time, ada anak-anak yang kemampuan bahasa Inggrisnya bagus banget karena suka main game. Jadi bener banget, game itu enggak buruk asal kita bisa mendampingi anak dan mengarahkan biar game bisa dimanfaatkan sesuai fungsinya

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel ini. Silakan tinggalkan jejak di komentar dengan bahasa yang sopan. Mohon tidak meninggalkan link hidup. Terima kasih.