Sempatkan 15 Menit/Hari untuk Passion-mu, Jadilah Ibu Bersinar



Siapakah yang terus berusaha mewujudkan mimpi dan menghidupkan passion-nya, bahkan setelah bekerja dan berkeluarga? Dialah #IbuBersinar.

Memang boleh ya?
Boleh dong!

Memang bisa ya?
Ya bisa dong!

Memang sempat ya?
Ya sempat dong!

Boleh. Bisa. Sempat.

Boleh, karena memang setiap orang termasuk setiap perempuan, berhak untuk mewujudkan impiannya kok.  Dalam Teori Hirarki Kebutuhan yang dipopulerkan pelopor aliran psikologi humanistik Abraham Maslow (kita kenal dengan Hirarki Maslow), aktualisasi diri adalah kebutuhan tertinggi manusia.



Nah, berusaha untuk mewujudkan impian terpendam atau menghidupkan passion kita, adalah salah satu kebutuhan aktualisasi diri. Namanya juga kebutuhan, jika tidak terpenuhi akan berdampak pada diri dan sekeliling.  Dampaknya bisa saja menjurus ke negatif apabila berkombinasi dengan tidak terpenuhinya kebutuhan yang lain.

Makanya, boleh banget lho jika kita punya impian yang belum terwujud atau passion yang selalu tersingkir oleh rutinitas, lalu berusaha kita hidupkan dan aktualisasikan! Supaya, kita bisa jadi manfaat bagi diri sendiri dan sekitar. Juga makin bersinar!! Jadi #IbuBersinar dong.

Jangan biarkan impian dan passion-mu terkubur di bawah tumpukan cucian piring ya 

Tapi, kalau memang boleh, bisa ngga sih?....

Bisa. Pepatah mengatakan di mana ada kemauan di situ ada jalan. Jadi di mana ada kemauan perempuan untuk memenuhi kebutuhannya, maka akan ada jalan yang terbentang untuk dilalui. Mungkin tidak mudah, tapi worthed !

Worthed-nya gimana sih?  Iya, ketika seorang perempuan yang sudah berkeluarga dengan segudang kewajibannya sebagai ibu bisa mencapai kepuasan dari pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri, maka keluarga juga yang akan menerima dampak positifnya.  Ibu yang bahagia karena kebutuhannya terpenuhi akan menularkan semangat dan memberikan aura positif kepada keluarga dan lingkungannya.  Jadi #IbuBersinar lah pokoknya.

Kenapa? Ya karena perempuan yang meyakini bisa untuk mewujudkan mimpi dan menghidupkan passion-nya akan berusaha menjadikan setiap obstacle sebagai pemacu semangat.

Memang sempat ya, Ibu mengejar mimpi yang lain padahal sudah punya anak dan rempong dengan seabrek pekerjaan rumah tangga?

Pasti sempat!



Ya, pasti sempat kalau Ibu mau mengubah mindset. Coba deh pikir, di tengah kesibukan ibu mengurus rumah tangga, mengurus anak-anak, atau mengerjakan pekerjaan kantor, apakah ibu masih sempat main gadget? Ho ho ho, semua masih sempat tuh. Jadi, ini soal mindset dan tekad Ibu terhadap prioritas pemenuhan kebutuhan kok.  Kalau bertekad sempat, pasti sempat.

Nah, sekarang sudah yakin kan bahwa mewujudkan mimpi dan menghidupkan passion itu BOLEH, BISA, dan SEMPAT walau perempuan sudah bekerja dan berkeluarga? Baiklah sekarang kita sama-sama yuk mengelaborasi BOLEH, BISA, dan SEMPAT untuk jadi #IbuBersinar lebih dalam dan lebih teknis. Let’s go.

Semua elaborasi ini Saya rangkai dari kegiatan The Urban Mama Bloggers Meet Up bersama Sunlight pada Selasa tanggal 19 September 2017 lalu di Aston Kuningan Suites, Jakarta.  Pada meet up ini, para blogger berkesampatan mengikuti talkshow bertajuk “Less time washing dishes, more time on Life.  What’s stopping you? Pledge to #IbuBersinar for your passion”.  

Talkshow #IbuBersinar bersama Sunlight

Nara sumber yang hadir adalah para #IbuBersinar yaitu Psikolog Anak dan Keluarga Ratih Ibrahim, Head of House Hold Care PT Unilever Indonesia Veronika Utami, Chef Rinrin Marinka, dan Designer Ria Miranda.  Dua terakhir ini adalah para mentor yang akan mengisi Kelas Ibu Bersinar Sunlight di Jakarta November nanti.

Selain itu, para blogger juga berkesempatan mendengarkan kisah bersinar dari para #IbuBersinar yang semangat menerapkan BOLEH, BISA, dan SEMPAT untuk jadi #IbuBersinar.  Mereka adalah pebisnis hijab fashion Zaskia Adya Mecca, pebisnis handmade Martha Puri Natasande, beauty blogger Fifi Alvianto, dan pebisnis makanan sehat Kushandari Arfanidewi.

Para narasumber talkshow usai menyampaikan pemaparan 


Perempuan Indonesia sudah lebih dari 25 tahun mengenal Sunlight – sabun cuci piring yang mengusung tagline “Bersih Bersinar”. Nah, hayuk elaborasi BOLEH, BISA, dan SEMPAT dan kunci untuk meraihnya, supaya mimpi dan passion ibu tidak  tertimbun di bawah tumpukan cucian piring ya.

BOLEH jadi #IbuBersinar
Kuncinya: Sadari dan Temukan Passion, Hindari Over Guilty Feeling

Tadi kita sudah yakin bahwa mewujudkan mimpi dan menghidupkan passion bagi perempuan setelah bekerja dan berkeluarga itu boleh dan sah sah saja.  Namun, pada kenyataannya sering sekali kita melihat bahwa para perempuan mengabaikan ini.

Survei yang dilakukan Sunlight terhadap sejumlah populasi ibu di Indonesia pada tahun 2017 menunjukkan bahwa 7 dari 10 perempuan mengakui kesibukan sehari-hari sangat menyita waktu dan menjadi hambatan untuk mengejar mimpi terpendamnya. Sejujurnya, Saya termasuk golongan 7 dari 10 itu.



Saya masih punya mimpi untuk bisa punya blog yang keren dan jadi penulis yang menginspirasi. Tetapi, sepulang dari kantor dan menemani anak-anak beraktivitas seringkali tubuh dan pikiran sudah terasa begitu lelah.

Kalaupun pulang kantor lebih cepat atau ada waktu luang, saya sering lebih memilih untuk bonding dengan anak-anak dan melupakan keinginan pribadi.  Sesekali, jika memilih mengurung diri di ruang kerja untuk menyelesaikan sebuah tulisan, dan membiarkan anak-anak bermain sendiri, saya dibayangi sedikit atau banyak perasaan bersalah.  Apakah Ibu juga demikian?.....

Coba deh Ibu renungi, apa sih mimpi yang terkubur setelah bekerja dan berkeluarga? Apa sih passion Ibu?  Untuk menemukan passion dalam hidup, lebih dulu baca artikel terdahulu saya di sini: 4 Kunci Temukan Passion Dalam Hidupmu.  


Veronika Utami dan Ratih Ibrahim menyampaikan pemaparan dalam talkshow

Menurut Psikolog Anak dan Keluarga Ratih Ibrahim, rasa bersalah ibu ketika berusaha mewujudkan kembali mimpinya adalah wujud dari besarnya dedikasi perempuan setelah menyandang gelar Ibu. “ Perempuan cenderung melupakan mimpi untuk dirinya sendiri setelah sibuk mengurus pasangan dan anak, berkecimpung di dunia kerja yang kebetulan tidak sejalan dengan passion-nya, atau rempong dengan pekerjaan rumah tangga,” demikian papar Ratih.

Begitu ingat sama mimpinya, Sang Ibu malah merasa bersalah dan kuatir jika mewujudkan mimpi akan membuatnya abai pada kewajiban utama.  Oleh karena itu, para ibu cenderung mengesampingkan passion-nya.

Apakah ini sehat?  Sebetulnya tidak.  Jika terus dibiarkan, kondisi itu akan membuat ibu tidak bahagia.  Sebab, ada satu kebutuhan dirinya yang tidak terpenuhi yaitu kebutuhan aktualisasi diri. Karena ibu adalah pusat inspirasi diri dan keluarga, maka ibu yang bahagia tentu jadi sangat penting.



Ibu yang tidak bahagia karena tidak mengaktualisasikan diri, kata Ratih, akan merugikan orang lain. Ibu mungkin akan tampak murung, cepat marah, cepat tersinggung, merasa rendah diri, dan akhirnya dampaknya sangat buruk pada anak-anak dengan sosok ibu seperti itu.

Ngga mau kan anak-anak kita jadi memble gara gara ibunya tidak bergairah? Jadi, segera sadari dan temukan passion ibu ya, serta hindari perasaan bersalah yang terlalu berlebihan (over guilty feeling)

BISA jadi #IbuBersinar 
Kuncinya: Bentuk Supporting System dan Lakukan Micro-Learning 

Ibu pasti bisa mengaktualisasikan diri dengan terlebih dulu menyadari bahwa memang dirinya bisa.  Head of House Hold Care PT Unilever Indonesia Veronika Utami memaparkan pengalamannya saat menghadiri beberapa Forum Leadership di Asia Tenggara, bahwa perempuan Indonesia tampak lebih gigih, ulet, dan tekun.



Hal ini sejalan dengan hasil survei yang dilakukan Sunlight terhadap populasi perempuan Indonesia pada tahun 2017, yang mengungkap fakta bahwa perempuan Indonesia adalah sosok yang ingin maju (progress-seeker).  Mereka masih memiliki keinginan kuat untuk mewujudkan mimpi.  Walaupun, terkendala oleh kerempongan dan berbagai kesibukan.

Survei juga menunjukkan bahwa 60% responden terus berusaha mewujudkan mimpi bahkan ketika sudah berkeluarga dan bekerja.

Bagaimana caranya supaya ibu bisa mewujudkan mimpi dan menghidupkan passion, walau repot dan sibuk?  Bisa lho.  Kuncinya adalah supporting system keluarga.  Ibu layak mendapat dukungan untuk lebih bersinar.



Ibu bisa pintar pintar mengatur agar pekerjaan rumah tangga dapat diselesaikan dengan lebih efektif dan efisien. Caranya, gunakan produk yang tepat dan berkualitas. Misalnya penggunaan peralatan masak yang tepat dan pengaturan ruangan kerja yang pas. Untuk mencuci perabot, produk Sunlight dapat dipilih karena terbukti memiliki kekuatan mencuci lima kali lebih cepat dibandingkan sabun cuci piring biasa.  Dampaknya, ibu bisa punya waktu lebih untuk diri sendiri, melakukan hobi, dan mengejar impian terpendam atau passion-nya.

Sunlight- lewat penelitian “Pockets of potential: How micro-learning during pockets of time can lead to new skills and opportunities", juga membawa kabar baik bagi perempuan untuk BISA jadi #IbuBersinar.  Riset ini membuktikan bahwa perempuan dapat mewujudkan impian atau passion yang mereka miliki dengan teknik micro-learning.




Apa sih micro-learning itu?

Micro-learning adalah mempelajari keterampilan baru dengan waktu singkat seperti 15 menit namun dengan frekuensi yang tinggi. Misalnya, ibu memiliki passion yang tinggi di bidang fotografi, maka sempatkan untuk melakukan segala hal yang berhubungan dengan belajar fotografi selama 15 menit setiap hari secara kontinu.

Bila ibu memiliki passion yang tinggi di bidang crafting, lakukan segala hal yang berhubungan dengan crafting 15 menit setiap hari, secara terus menerus.

Buat time management dan personal development planning dari kegiatan micro-learning ini, supaya ibu terus bertumbuh. Terus belajar dan termotivasi untuk sebuah empowerment. 



Teknik micro-learning ini akan membentuk seorang amatir menjadi professional seiring dengan berjalannya waktu.  Namun, memang tidak instan. Dengan micro-learning ini dalam perjalanannya Ibu akan menemukan  passion-passion baru yang membuat hidup lebih bergairah.  Lebih teraktualisasi. Lebih interaktif dan dinamis.

Menurut Ratih, manusia memiliki batas daya untuk menjadi excellent dan expert. Micro-learning jauh lebih baik diterapkan ketimbang belajar intensif.  Belajar intensif misalnya belajar rutin beberapa jam dalam sehari selama satu bulan untuk menguasai keterampilan tertentu.

Bersama The Urban Mama Bloggers 
Terus belajar sedikit demi sedikit secara terus menerus juga adalah kebutuhan perempuan untuk survive dan menggali potensi diri, seperti yang pernah saya tulis di sini : Perempuan Merdeka, Perempuan Pembelajar. 


SEMPAT jadi #IbuBersinar 
Kuncinya: Ubah mindset, bulatkan tekat, fokus pada tujuan dan lakukan dengan komitmen penuh

Jika memang boleh dan bisa, sekarang kita tinggal bertanya pada diri sendiri, sempatkah melakukannya?

Ini soal mental mindset. Sempat atau tidak tergantung apakah kita akan meletakkannya pada prioritas keberapa? Soal ini tidak perlu banyak cakap, hanya perlu komitmen dalam melakukannya dengan tujuan yang jelas.

Karena saya ingin makin terampil menulis, maka saya harus berkomitmen tinggi menyempatkan micro-learning ini. Caranya?  Sunlight memfasilitasi dengan memberikan kartu  #SayaSempat.  Now it is your time to put your passion to action.  Di kartu tersebut, saya menuliskan komitmen writing micro-learning selama satu jam setiap malam sebelum tidur, setelah mengeloni anak-anak.

Kartu Komitmen #SayaSempat


Sempat sih saya membatin, Haduh bisa ngga ya?  Mba Ratih Ibrahim menyarankan untuk meletakkan kartu komitmen ini di tempat kita bercermin setiap habis mandi.  Sehingga, minimal dua kali sehari kita diingatkan oleh komitmen untuk sempat melakukan ikhtiar nyata mewujudkan mimpi dan menghidupkan passion.  Bismillah, semoga BISA dan SEMPAT!

Nah, sekarang jangan ragu-ragu lagi untuk menjadi lebih bersinar karena bahagia telah mampu mengaktualisasikan diri ya.  Jadilah #IbuBersinar dong.  Aktualisasi diri terjadi saat seseorang mampu memanfaatkan potensi dirinya secara optimal dengan tetap menyadari keterbatasannya. Kerennya sih disebut ability to self-assess in realistic and positive way.



Secara umum, mereka yang telah mencapai aktualisasi diri akan memunculkan enam sikap positif, yaitu:
1. Menerima dirinya dan orang lain
2. Mampu membangun dan menjaga relasi yang dalam dan berarti
3. Memiliki tujuan dan melakukan hal secara teratur untuk mencapainya
4. Mengalami momen-momen kebahagiaan yang dalam dan berarti
5. Mampu menunjukkan empati dan belas kasihan pada orang lain
6. Mampu mengapresiasi segala kebaikan dalam hidup

Rugi banget kan kalau mengabaikan kebutuhan aktualisasi diri?  Jadi tidak ada alasan untuk tidak sempat ya. Namun, jangan lupa untuk tetap proporsional dalam menjalankan peran.

Berdasarkan survei yang dilakukan Sunlight juga, ada beberapa passion teratas para ibu yang terungkap dari pertanyaan: “Jika Ibu punya waktu luang, Ibu mau berkegiatan apa?”

Keterampilan teratas yang mayoritas diinginkan para ibu untuk dilakukan adalah home decoration, art and craft, memasak, dan desain/fashion.  Dari sanalah, Kelas Ibu Bersinar Sunlight akan dilaksanakan pada bulan November 2017 nanti.  Kelas memasak akan dipandu mentor Chef Rinrin Marinka.



Sedangkan kelas desain/fashion akan dipandu mentor desainer Ria Miranda. Selain itu juga akan ada workshop yang mengajari bagaimana memulai bisnis dari passion kita.  Silakan lanjut di http://www.sunlight.co.id bagi yang tertarik untuk mengikuti kelas dan workshop tersebut ya.

Sambil menunggu November tiba dengan Kelas dan Workshop #IbuBersinar, yuk kita bersinar duluan dengan komit lakukan micro-learning untuk hal-hal yang menjadi passion kita mulai sekarang. Mau ya….. Yuuuk jadi #IbuBersinar selamanya!  (Opi)

Ingat selalu untuk tak redup dan terus bersinar!

2 komentar

  1. Wow, menarik temanya. Benar2 sebuah pencerahan. Ngeblog kayaknya lebih dari 15 menit ya. Tapi konsisten tiap harinya itu yang kadang susah hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, jd dicicil gitu hahaha..... Konsisten nya bener bnget sama sekali ga mudah. Motivasi dan tujuan harus kuat, jelas, terukur.

      Hapus