Jumat, Juni 22, 2018

Trip Asyik Menarik Naik Kapal Ferry




#AsyiknyaNaikFerry saya rasakan sejak sebelas tahun terakhir, ketika berjodoh dengan pria dari seberang Selat Sunda. Seandainya sejak kecil sudah merasakan, pasti saya bakal merengek pada bapak ibu minta pergi berwisata dengan kapal ferry mengunjungi tempat-tempat indah di seluruh wilayah perairan Indonesia! 

Saya lahir dan besar di Jakarta, namun dalam lingkup budaya dan tradisi Jawa Tengah yang kental dari kedua orang tua. Metropolitan berpagar Jawi, begitulah. Taqdir mengantar saya berjodoh dengan pria kelahiran Baradatu (Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung) yang mengalir darah Suku Ogan (Sumatera Selatan) dalam dirinya. Ibu mertua terlahir di Baturaja, yang merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) di Provinsi Sumatera Selatan. 

Deretan mobil yang diparkir dalam kapal ferry
(Foto: Novi)
Setelah menikah sebelas tahun lalu, menyeberangi Selat Sunda dengan kapal ferry untuk mudik ke rumah mertua di Kotabumi, Lampung Utara menjadi rutinitas setiap Lebaran. Sebelumnya, saya tidak pernah menggunakan jasa ASDP Indonesia Ferry untuk penyeberangan Selat Sunda.  Biasanya, pastilah terbang dengan pesawat udara ketika melaksanakan perjalanan dinas kantor ke berbagai provinsi di Pulau Andalas. 

Suasana gerbang masuk Pelabuhan Bakauheni saat kami akan
melakukan penyeberangan malam hari dengan kapal ferry
(Foto: Novi) 

Berkenalan dengan Kapal Ferry


Saya harus berterima kasih pada suami yang telah memperkenalkan moda transportasi penyebarangan kapal ferry ini.  Awalnya pun hanya memandang sebelah mata! Tetapi akhirnya bisa dirasakan berada di ketinggian di langit biru saat naik pesawat udara dan berada di atas hamparan perairan selat yang juga biru saat naik kapal ferry memang seharusnya diresapi.  Jadi menyadari,  betapa kecilnya manusia. 

Sebagai warga Metropolitan, wisata perairan terdekat dengan tempat tinggal saya adalah Kepulauan Seribu. Meski sudah tersedia jasa penyeberangan wisata dengan kapal ferry ke pulau-pulau Kepulauan Seribu oleh ASDP Indonesia Ferry, saya belum berkesempatan mencobanya. Belasan tahun lalu, ketika masih kuliah di Jurusan Biologi Universitas Indonesia saya sempat melakukan trip kelautan di Pulau Pari dan sekitarnya.  Namun, hanya menggunakan perahu mesin sederhana untuk menyeberang ke pulau bersama teman-teman.

Kapal Ferry dilihat dari dermaga
(Foto: Novi)
Menyeberangi perairan dengan kapal ferry bagi saya asyik dan menarik! Sebab, saya tipe orang yang suka menikmati perjalanan melintasi alam. Maklum, hidup di kota, jarang bisa melihat alam yang indah dan laut yang luas he he he. Terlalu sering bersahabat dengan kemacetan kota. 

Bagi saya, menyeberangi lautan, sungai dan menelusuri perairan memberikan banyak pelajaran tentang hidup. Sekembalinya di darat saya akan mendapat beragam inspirasi yang mempengaruhi sikap hidup saya berikutnya.  Ini dinikmati sejak hanya berdua dengan suami, hingga kini sudah dikarunia dua anak yang mulai besar.  Anak-anak pun tertular, jadi kesenangan naik kapal ferry.  Mereka selalu menunggu momen Idul Fitri karena itu artinya mereka akan mudik naik kapal ferry! 


Menikmati Penyeberangan Selat Sunda dengan Kapal Ferry


Suatu kali dalam benak saya pernah terlintas untuk mengajak anak-anak berwisata perairan di Kepulauan Seribu dengan kapal ferry. Apalagi sekarang jasa penyeberangan dan wisata tersebut sudah disediakan oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).  Informasi pilihan wisatanya lengkap, dapat ditilik di official websitenya yaitu http://www.indonesiaferry.co.id. Sambil melihat-lihat infonya, saya mendorong anak-anak untuk rajin menabung. Tujuannya supaya mereka termotivasi dapat berlibur di perairan indah Indonesia!

Tarif penyeberangan mobil berpenumpang termasuk dalam golongan IV
dengan biaya Rp 374.000,-
(Foto: Novi)
PT ASDP Indonesia Ferry merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bisnis utamanya sesuai dengan namanya yaitu Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan.  Layanan yang disediakan adalah jasa angkutan penyeberangan dan pengelolaan pelabuhan penyeberangan untuk penumpang, kendaraan, maupun barang.  

Sepanjang pengalaman saya dan keluarga naik kapal ferry dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni dan sebaliknya sebelas tahun terakhir, beragam kapal ferry sudah kami tumpangi.  Salah satunya adalah Kapal Motor Penumpang (KMP) Portlink 3 yang dikelola oleh PT ASDP Indonesia Ferry.  Selain itu, kami pernah menaiki KMP Panorama Nusantara yang dikelola PT Jembatan Nusantara Ferry, KMP Virgo 18 yang dikelola PT Jemala Ferry, dan KMP Mustika Kencana yang dikelola PT Dharma Lautan Utama.  

Gerbang Pelabuhan Merak 
(Foto: Novi)
Ketika masih sepasang suami istri hingga memiliki satu anak, kami naik bus Damri dari Gambir ke Pelabuhan Merak, lalu menyeberang dengan kapal ferry ke Pelabuhan Bakauheni.  Barulah kami lanjut dengan perjalanan darat ke Kotabumi. Biasanya kami berangkat malam hari.  Sebab, menyeberang malam lebih nyaman bagi bayi. Dulu, bus Damri yang kami naiki akan masuk ke dalam kapal ferry dan kami semua tetap diam di dalam bus sampai kapal sandar di Pelabuhan Bakauheni.  Tidak naik ke geladak atau anjungan. 

Selat Sunda dilihat dari kapal ferry saat penyeberangan malam hari.
(Foto: Novi)
Begitu pula sebaliknya saat pulang menyeberang malam.  Sebab, menyeberang saat malam tidak bisa melihat apa-apa kecuali gelap.  Seringnya, saya tidak tahu apa nama kapal yang ditumpangi dan sebesar apa kapalnya.  Cuma gelap saja dan tahu-tahu sampai, hehehe. Maklumlah membawa bayi, sibuk menyusui saja dan memangkunya. 

Waktu itu cuma rasanya asyik berada di dalam bus dan busnya berada di dalam kapal yang bergoyang-goyang kena ombak laut. Seperti diayun-ayun! Sebagai orang kota, saya takjub tentunya, melihat besarnya kapal yang bisa dimasuki orang dan kendaraan! Mulai dari sepeda, motor, mobil, bus hingga truk yang di dalamnya ada penumpang dan barang! Pokoknya, awalnya saya norak sekali! Beruntung tidak mabuk karena sibuk takjub!

Namun, beberapa tahun terakhir ini ada kebijakan untuk mematikan mesin kendaraan dalam kapal.  Aturan ini diberlakukan demi keselamatan penumpang. Konsekuensinya, seluruh penumpang bus/mobil harus keluar dari kendaraan.  Justru ini memberi kesempatan bagi penumpang untuk menikmati keindahan perjalanan dengan kapal ferry. 

Beberapa kapal ferry juga memiliki deck atas yang dapat ditempati oleh kendaraan kecil Golongan IV. Sehingga, orang tua atau para disable dapat tetap menikmati keindahan perjalanan penyeberangan selat.

Wefie bersama suami tercinta di geladak kapal ferry
dengan latar kapal ferry lain melintas di perairan Selat Sunda
(Foto: Novi)
Ketika sudah memiliki dua anak, kami mengendarai mobil sendiri ke Pelabuhan Merak, lalu mobil kami akan masuk ke dalam kapal ferry untuk menyeberang. Kami sengaja selalu menyeberang Selat Sunda di hari H Idul Fitri (1 Syawal) setelah sholat Ied.  Selain suasananya lebih lengang terhindar dari sibuknya arus mudik, siang hingga sore hari adalah waktu yang tepat untuk mengajak anak-anak mengeksplorasi perjalanan di kapal ferry.  Mulai dari mengamati kapal ferry yang ditumpangi hingga menikmati pemandangan selat. Birunya laut sudah menunggu dinikmati!


Haluan kapal ferry dengan kibar Sang Merah Putih
(Foto: Novi)
Setelah mobil terparkir dengan aman dalam kapal, barulah kami sekeluarga akan turun dari mobil.  Menaiki tangga kami naik ke geladak dan anjungan kapal menikmati kurang lebih dua jam waktu penyeberangan Selat Sunda.

Naik kapal ferry jadi pilihan kami sekeluarga setiap mudik Lebaran karena biayanya yang lebih bersahabat.  Selain itu, bisa lebih banyak membawa muatan untuk oleh-oleh kerabat di kampung halaman!

Asyik dan Menariknya Naik Kapal Ferry untuk Keluarga


#AsyiknyaNaikFerry bagi saya dan keluarga adalah kami dapat menerapkan beragam pembelajaran secara real kepada anak-anak sejak dini dengan cara yang nyata dalam suasana trip yang menyenangkan.  Sejak usia mereka masih balita, perjalanan dua jam penyeberangan Selat Sunda setahun sekali di dalam kapal ferry selalu menjadi asyik dan menarik.  Ini dia hal-hal asyik dan menarik di kapal ferry yang kami terapkan pada anak-anak: 

1. Wahana eksplorasi 


2. Implementasi Go Green


3. Mengagumi dan mensyukuri ciptaan Tuhan


4. Latihan kemandirian dan keselamatan 


5. Teamwork dan kekompakan 


Yuk, saya ingin berbagi asyik dan menariknya naik ferry dan membahasnya satu persatu ya: 

1. Wahana eksplorasi 


Eksplorasi bagi anak-anak adalah cara paling jitu untuk membuat mereka terpapar pada beragam bentuk pengalaman yang melibatkan panca indera. Eksplorasi berfungsi sebagai stimulus untuk perkembangan sensorik maupun motoriknya.  Efeknya sangat nyata pada perubahan pola pikir dan sikap mereka ke depan, apabila dilakukan secara tepat dan sinambung. 

Naik kapal ferry jadi momen yang asyik dan menarik bagi anak-anak untuk mengeksplorasi banyak hal.  Mulai dari kapal ferry sebagai moda transportasi pada beragam sisi, perairan selat dan geografi, vegetasi dan biota laut, juga kesibukan pelabuhan.  Anak-anak juga dapat mengeksplorasi perilaku dan budaya para penumpang di kapal, hingga interaksi dan berbagi dengan para penumpang lainnya. 

Fasilitas kafetaria di dalam kapal ferry
(Foto: Novi) 
Fasilitas musholla dalam kapal ferry
(Foto:Novi)



Si sulung sering bertanya, bagaimana kapal sebesar ini dibuat, di mana letak mesinnya, siapa yang mengendarai, dan bagaimana caranya kapal bisa berjalan.  Saya pernah mengajaknya duduk di ruang penumpang paling depan, dengan jendela menghadap ke haluan kapal. Pada bagian kapal ini, gulungan buhul tali yang terhubung ke jangkar terletak.  

Ketika kapal akan berangkat, saya meminta si sulung memperhatikan proses pengangkatan jangkar sehingga buhul gulungan tali memutar.  Kapal akan perlahan bergerak.  Si sulung merasakan seiring dengan gulungan buhul tali semakin tebal, kapal semakin laju hingga akhirnya benar-benar bergerak stabil di atas permukaan laut.  

Si sulung eksplorasi di haluan kapal


Sekali waktu si sulung memuaskan rasa ingin tahunya, meminta ditemani berjalan ke haluan.  Diamatinya gulungan buhul tali itu.  Dipegangnya tali yang tebalnya bahkan lebih dari tangannya sendiri! Setidaknya ia bisa merasakan kekuatan tali itu. Sekaligus, membayangkan sebesar apa jangkar yang terhubung dengan tali untuk menahan kapal saat berhenti. 

Sepanjang perjalanan penyeberangan, si sulung antusias untuk menelusuri haluan, geladak, buritan, dan anjungan kapal ferry.  Saya mendampinginya sambil ikut eksplorasi.  Menikmati angin laut menampar wajah dari pinggiran kapal adalah ritual favoritnya. 

Kaka dan adik menikmati angin laut dan riak laut di tepian kapal ferry
 (Foto: Novi)


Sesekali ia mengajak adiknya untuk ikut berdiri di tepi kapal sedekat mungkin dengan air laut.  Awalnya adiknya takut, tetapi lama-lama ikut menikmati.  

Ini sekilas percakapan mereka di tepian kapal ferry: 

“Luas ya dek, lautnya. Lihat deh“, ujar si kakak
“Di dalam lautnya itu ada hiu dan paus ngga?” tanya si adik 
“Hmm, mungkin adanya di laut lepas dek.  Ini kan selat, mungkin banyak ikan-ikan,” kata si kakak
“Tuh ada kapal lewat!” seru si adik “ Padahal kapalnya besar tapi keliatannya jadi kecil kalau di laut ya mas,” kata si adik.
“Iya... laut kan luas.  Liat ke atas dek, langitnya bagus ya... luas dan biru. Ada awan-awan gerak dek!!” timpal si kakak
“Ituuu, bentuk awannya seperti Mickey Mouse!” sorak si adik.

Si kakak memperhatikan awan yang ditunjuk si adik. Wajahnya mengernyit aneh karena menurutnya tidak ada awan yang mirip Mickey Mouse di sana.  Ya, imajinasi anak-anak namanya juga. He he he. 

Sertifikasi keselmatan kapal dipampang di lorong kapal ferry
(Foto: Erwan Julianto) 

Eksplorasi tidak berhenti di situ.  Mereka akan mengajak ayah ibunya ke posisi kapal sedekat mungkin dengan air laut.  Mungkin ingin merasakan sensasinya.  Saya dan suami selalu mengizinkan tetapi tetap waspada mengawasi. 

Suasana di geladak kapal ferry
(Foto: Novi)



Kami membiarkan anak-anak mengeksplorasi bagian kapal mana saja sedapat mungkin yang masih dapat terjangkau dan diizinkan oleh aturan keselamatan kapal.  Pernah mereka diajak di ruang lesehan, bahkan pernah juga kami menyewa ruang VIP.  Tujuannya agar mereka merasakan berbagai situasi.  Dengan terpapar pada beragam kondisi mereka akan belajar untuk pandai menempatkan diri dalam beragam situasi juga. 

Wefie sekeluarga di ruang VIP kapal ferry
(Foto: Erwan Julianto)



Suatu kali kami pernah kembali ke Jakarta dengan penyeberangan malam.  Anak-anak minta naik ke geladak dan berdiri di tepian pagar kapal. Katanya, ingin menikmati bintang-bintang di langit hitam yang menaungi laut yang juga nampak hitam.  Angin yang cukup kencang menerpa wajah dan membuat anak-anak tersenyum sambil menepuk-nepuk pipi.  “Seru ya malam-malam di kapal dek,” kata si kakak yang disambut dengan senyum si adik. “Aku suka bintang di atas laut!” seru si adik.

Suasana penyeberangan malam Selat Sunda dengan kapal ferry
(Foto: Novi)



2. Implementasi Go Green


Salah satu momen trip di atas kapal ferry saya manfaatkan untuk mengimplementasikan falsafah Go Green pada anak-anak.  Awalnya si sulung yang sering protes melihat perilaku penumpang yang hobi buang sampah sembarangan di kapal dan laut. Kesadaran penumpang untuk menjaga kebersihan ruangan kapal dinilainya sangat kurang.  Momen itu saya gunakan untuk menanamkan kepadanya sikap positif.  “Tetap buang sampah di tempatnya, sekalipun orang-orang di sekelilingmu membuang sampah sembarangan,” saya memperingati.  

Peringatan untuk tidak membuang sampah ke laut di kapal ferry
(Foto: Novi)
Si sulung sudah mulai paham, bahwa perilaku positif tidak boleh tergerus oleh pengaruh negatif.  Itulah yang namanya prinsip dan pendirian.  Dia juga menyadari bahwa tidak mudah memberikan pengaruh positif di lautan manusia! 

Implementasi Go Green yang saya terapkan di kapal ferry kepada anak-anak adalah hal sederhana seperti: 
a. membuang sampah di tempatnya
b. tidak membuang sampah ke laut
c. meminimalisir penggunaan wadah/kemasan plastik sekali pakai
d. menggunakan air bersih secukupnya
e. membawa dan membeli makanan secukupnya hingga tidak terbuang
f. menghabiskan makanan bekal sehingga tidak ada yang terbuang mubazir.  

Sambil memandangi permukaan laut yang biru, dengan riak riak indah di atasnya, saya sering berpesan,” Tuh lihat bagusnya laut itu, sayang sekali kan kalau dicemari sampah-sampah plastik.  Nanti jadi tidak indah lagi deh.”  Anak-anak jadi ingat untuk tidak mengotori laut.  Mereka ingin tetap menikmati keindahan laut tanpa cemaran sampah.  Apalagi sampah plastik yang sulit terurai!

Menikmati sore di kapal ferry
(Foto: Novi )


3. Mengagumi dan mensyukuri ciptaan Tuhan


Dua jam perjalanan penyeberangan juga menjadi saat yang asyik bagi kami sekeluarga untuk dapat mengangumi dan mensyukuri alam ciptaan Tuhan.  Laut yang luas membiru dinaungi langit berpayung awan, bagai lukisan tanpa garis batas.  Kebesaran Tuhan terpampang melalui kebesaran ciptaanNya itu. 

Menghadap ke haluan, mengamati arah lajunya kapal ferry
(Foto: Novi) 


Gugusan pulau serta kapal yang lalu lalang di selat berpadu indahnya dengan ombak yang kadang besar juga kadang bersahabat. Angin laut yang menerpa wajah seperti mengusir kantuk dan gundah dengan cara ramah. Bunyi kapal yang membahana di selat, semuanya mencipakan memori tersendiri tentang sebuah  perjalanan.

Menghadap ke haluan, mengamati arah lajunya kapal ferry
yang makin mendekati daratan
(Foto: Novi) 

Karena sudah terbiasa sejak bayi, anak-anak tidak mabuk laut atau pusing saat naik kapal ferry.  Mereka sudah bisa menikmati perjalanan. Sebagai orang tua, kami sudah bisa memasukkan nilai-nilai pembelajaran. Termasuk bersyukur atas nikmat panca indera yang sehat sehingga bisa melakukan perjalanan dan menikmati keindahan pemandangan laut dari kapal ferry. Menikmati keasyikan ini membuat anak-anak termotivasi untuk menjaga kesehatan supaya bisa naik kapal ferry lagi berikutnya. 

4. Latihan kemandirian dan keselamatan 


Di kapal ferry, belajar mandiri dan memperhatikan keselamatan bisa diterapkan dengan asyik.  Sebab, suasananya menyenangkan sembari berada di atas kapal yang bergerak di tengah perairan dengan pemandangan indah. Beda sekali seandainya wejangan kemandirian dan keselamatan diberikan di dalam kelas!  

Anak-anak saya ajarkan waspada dan memperhatikan keselamatan.  Misalnya berjalan dengan hati-hati di tangga dan geladak, memperhatikan barang bawaan, dan saling menjaga antar sesama anggota keluarga.  

Berhati-hati menuruni tangga kapal
(Foto: Novi) 


Kakak adik yang biasanya suka bertengkar di rumah, di kapal ferry jadi rukun dan saling menjaga.  Sebab ibunya bilang, “ Kita ada di atas kapal nih, satu keluarga harus saling jaga, karena kita ingin selamat bersama kan sampai di seberang?”  Jadilah si kakak akan melarang adiknya jika ingin jalan sendiri ke tempat yang berbahaya.  Kakak jadi lebih mandiri, adik jadi lebih terlindungi.  Kami orang tuanya pun jadi senang.  

Si bungsu berpose bersama ayah di geladak
(Foto: Novi)

Mengamati air laut dari kapal yang bergerak
(Foto: Novi)

Berjalan mengelilingi kapal ferry
(Foto: Novi)


Saya sering mengingatkan kepada anak-anak, jika terjadi sesuatu maka selamatkan diri sendiri terlebih dulu, baru menyelamatkan yang lain.  Sebab, untuk membantu menyelamatkan orang lain kita butuh memastikan bahwa diri kita juga sudah aman. Tidak lupa saya mengingatkan anak-anak untuk berdoa dan mengingat nama Allah di perjalanan agar terlindungi dari bahaya. 

5. Teamwork dan kekompakan 


Trip keluarga adalah salah satu wahana untuk melatih kerja tim dan kekompakan keluarga.  Saya dan suami menanamkan kepada anak-anak bahwa satu keluarga adalah satu tim yang harus selalu bahu membahu untuk kepentingan bersama.  Di kapal ferry, ini jadi terlatih secara mengasyikkan.  

Suami saya biasanya yang akan memimpin untuk mengarahkan jalan ketika turun dari mobil menuju bagian atas kapal lalu mencari tempat duduk yang nyaman.  Saya akan menuntun si bungsu, dan si sulung membantu membawa barang bawaan atau bekal makanan. 

Wefie sekeluarga di geladak kapal ferry saat siang terik
(Foto: Erwan Julianto) 

Saat melewati tangga kapal yang curam atau samping mesin yang panas, kami harus kompak.  Begitu pula agar tidak terpisah di kapal, kami harus saling menjaga jarak tetap dekat.  Saat mereka masih balita, ini cukup sulit.   Namun tahun-tahun belakangan sejak si sulung masuk bangku Sekolah Dasar, ia semakin terlatih dan bisa diandalkan. 

Apabila kompak, trip akan jadi nyaman dan menyenangkan.  Si sulung menyadari sekali akan hal itu.  Makanya, agar keasyikannya menikmati penyeberangan tak terganggu, ia bersedia bekerjasama dengan ayah ibu dan adiknya untuk tetap kompak.  Ia mau berkoordinasi mengatur sesi eksplorasi kapal dan tidak berjalan sendiri ke bagian yang kurang aman.    

Senyum sumringah
di geladak kapal ferry pada penyeberangan Selat Sunda
(Foto: Erwan Julianto)
#AsyiknyaNaikFerry memang memberikan pengalaman tersendiri bagi keluarga kami.   Kapal ferry jadi saksi senyum sekeluarga setiap mudik Lebaran! Seusai perjalanan, kami merasa semakin kompak sebagai sebuah tim.  Pun terinspirasi dan termotivasi untuk menabung agar bisa menyambangi perairan yang lebih jauh dan indah di Indonesia dengan ASDP Indonesia Ferry! Agar kami sekeluarga bisa eksplorasi dan lebih banyak belajar tentang hidup dan kehidupan. 

Jadi, banyak untungnya lho mengajak anak-anak dan keluarga naik kapal ferry untuk eksplorasi dan pembelajaran. Asalkan memilih waktu perjalanan yang tepat, naik kapal ferry bisa jadi alternatif pembelajaran positif yang asyik dan menarik untuk anak-anak dan keluarga. Semoga saja peningkatan fasilitas penyeberangan terutama fasilitas kebersihan, kenyamanan, dan keselamatan penumpang semakin mendapat perhatian pengelola sehingga kita semua bisa lebih menikmati #AsyiknyaNaik Ferry!  Yuk naik ferry! (Opi) 

Teman-teman, yuk naik ferry ......
(Foto; Novi) 

**Foto-foto dalam tulisan ini adalah koleksi pribadi penulis selama melakukan perjalanan sekeluarga dengan kapal ferry tahun 2007 sd 2018 

** Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition #AsyiknyaNaikFerry yang diselenggarakan ASDP Indonesia Ferry

G+

2 komentar :

  1. asyik banget yah mbak naik ferry, kayaknya itu ferry nya lebih gede dari pada yang sy tumpangi

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya asyik memang mba... apalagi kalau bener-bener nikmatin ngga sambil ngawasin bocah bocah hehehehe... bebas.

      Hapus

Back to Top