Senin, Oktober 22, 2018

Lima Cara Sehat Mental di Era Digital



Era digital menyuguhkan beragam kemudahan bagi manusia moderen.  Tidak perlu bertatap muka langsung dan bersentuhan secara fisik, semua aktivitas bisnis dan non bisnis bisa dijalankan melalui perangkat digital.  Jarak, waktu, kehadiran fisik, dan bahasa bukan lagi penghalang. Bermacam aplikasi dan platform yang tersedia pada perangkat digital mampu menghubungkan manusia-manusia tanpa jeda. 

Sepagi ini, sambil menikmati secangkir kopi, jemari Anda mungkin sembari lincah menelusuri timeline berbagai media sosial.  Instagram. Facebook. LinkedIn. Atau menjejaki cuitan di akun Twitter. Dengan mahir, jempol Anda lalu bisa berpindah dari satu WA Group ke WA Group lainnya pada smartphone.  Mata Anda mungkin sudah terbiasa awas membaca pesan-pesan yang saking banyaknya jika dibukukan akan menjelma jadi satu buku yang tidak kalah tebal dari disertasi doktoral ya?.... hehehe

Ya, begitulah era digital telah membawa manusia milenial ke kedalaman lautan maya.  Mahal sekali sekarang ini ya untuk bisa duduk ayem bercengkerama dengan sahabat sehati tanpa dijeda perangkat digital. Bertukar rasa, bertatap dan bersentuhan.  Jabat tangan yang hangat.  Bahasa tubuh yang mengesankan.  Tawa dan senyum yang nyata. Sangat mahal. Semuanya kini telah terampas oleh digitalisasi yang diciptakan manusia sendiri. 

Kemajuan teknologi tak bisa ditampik.  Manusia menciptakan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup, mempermudah, dan menyederhanakan. Iya, itu tercapai.  Semua jadi lebih mudah pada era kini, dibandingkan 20 tahun lalu.  Jika saat itu bisnis menunggu sampai sepekan untuk dilaksanakan, kini mungkin hanya dalam hitungan detik. Langsung beres. 

Media sosial yang seabrek-abrek itu pun sudah menjadi ikon milenial, panutan dalam pengambilan keputusan masyarakat dalam beragam hal. Masyarakat, yang lebih mementingkan untuk beli kuota data. Tak lain agar tetap bisa mengakses media sosial melalui gadget-nya, ketimbang memenuhi kebutuhan pokok lho! Belum makan soal belakangan, yang penting sudah ngecek timeline! Olala....

Di balik semua kemudahan yang dihadirkan oleh teknologi, selalu ada dampak minus bagi mereka yang tidak siap.  Di era digital, tidak main-main, yang terdampak adalah mental.  Oya?... Iya. Saya mengamati pembicaraan beragam kalangan tentang mental ini.  Di kereta api, bus, bioskop, tempat kursus Bahasa Inggris, dan di sekolah anak-anak.  Masyarakat dihinggapi keresahan yang sama, ketika menjadikan hal-hal yang diposting di platform media sosial sebagai panutan atau komparasi dengan kehidupan nyata mereka sendiri. Padahal, apa yang nampak di dunia maya tak sepenuhnya demikian pada dunia nyata.

Nah, di sini saya melihat dampak negatif digitalisasi menyerang kita-kita yang tidak siap. Kalau bisa dibilang melemahkan mental, sepertinya iya. Coba lihat, berapa banyak remaja yang merasa dirinya begitu malang karena kehidupannya tidak seindah momen-momen yang diposting idola mereka di media sosialnya.  Kok, mereka enak yaaa pagi check in di sini, siang di sana, pakai barang branded ina inu, posting foto-foto liburan ke luar negeri.  Lhaaaa , saya?... Hidup hanya sebatas dari kosan-kampus-kosan. Saja. Mesak’ke jarene Wong Jawi. Alamak. 

Bukan cuma remaja. Dengarkan berapa banyak ibu-ibu yang jadi julid pasca memelototi saban hari timeline media sosisal yang isinya momen indah bahagia nan sempurna paripurna.  Komparasi kepada kehidupan nyata mereka, membuat mental jadi turun ke titik minus. Drop. Bukan titik nol lagi.  Lha, bahaya kan? Sampai di titik ini, digitalisasi bukan lagi meningkatkan kualitas hidup, tapi malah menurunkan. Lhaaa... piye. Mental yang lemah dan down bisa jadi sumber segala macam penyakit fisik lho.  Sebab, mental yang lemah memberikan sinyal lemah pula pada diri untuk berpikir dan bertindak positif.

Makanya, saya tergelitik untuk menuliskan ini. Sebagai seorang ibu, yang juga sangat bergantung pada perangkat digital untuk hobi ngeblog, juga melaksanakan pekerjaan kantor, saya punya cara sederhana agar digitalisasi tidak merenggut kesehatan mental. Dengan mental yang sehat, kita bisa memanfaatkan kemajuan teknologi di era digital untuk meningkatkan kualitas hidup. Bukan malah menjadi pecundang. Kelima cara ini betul-betul sederhana, tidak butuh kecerdasan tinggi atau syarat khusus.  Cuma butuh kemauan saja. Ini dia cara yang saya terapkan: 

1. Tetapkan Misi Digital 

2. Atur Waktu Berselancar dengan Perangkat Digital 

3. Fokus Pada Prestasi, Gunakan Bantuan Digital untuk Berprestasi 

4. Pasang Kacamata Kuda, Hal Terburuk adalah Menjadi Orang Lain 

5. Have Your Own Personal Branding 





Mari kita bahas satu persatu ya...

1. Tetapkan Misi Digital 




Saya memulai semua dengan menetapkan misi digital.  Apa tujuan eksis di era digital? Misi apa yang ingin disampaikan kepada dunia?  Sekedar mengabarkan bahwa "Saya Ada".  Atau lebih? 

Saya memilih untuk LEBIH dari sekedar mengabarkan kepada dunia bahwa "Saya Ada".  LEBIH,  dalam makna: semua hal yang disampaikan lewat perangkat digital kepada dunia adalah dalam kerangka menginspirasi. Itu misi saya. Tidak mudah. Sama sekali tidak mudah. Saya memulainya dengan mencari tahu apa potensi dalam diri yang dapat dikembangkan untuka menginspirasi?  Jawabannya, menulis.  Lalu saya membuat blog, menulis, belajar untuk mengembangkannya perlahan-lahan. Memproklamirkan di semua akun media sosial yang saya punya. Serta, terus belajar.




Dengan menetapkan misi digital ini, saya jadi terarah dalam menyikapi berbagai macam postingan yang lewat di timeline. Pola pikir juga terbentuk, bahwa menelusur timeline bagi saya adalah mencari inspirasi.  Bahwa, memposting sesuatu di timeline artinya menebar inspirasi.  Jadi, saya membatasi diri pada misi digital dan berusaha memagari pikiran serta tindakan dalam kerangka itu. Berhasil? So far, so good. 

Percaya atau tidak, kita bisa saja tersinggung atau sakit hati dengan postingan orang lain di layar digital. Manusiawi. Tetapi selama kita punya misi digital yang kuat, rasa tersinggung atau sakit hati itu hanya akan seperti setetes air di tengah gurun.  Langsung hilang terserap bumi tak berbekas. 

Jadi, mulai dengan menetapkan misi digital Anda.  Anda berhak punya misi dan berjuang dalam digitalisasi. Bukan terlindas dan jadi lemah mental.

2. Atur Waktu Berselancar dengan Perangkat Digital 




Awalnya, saya termasuk orang yang santai sedikit langsung buka medsos. Bengong dikit, lihat timeline. Bentar-bentar, buka WA Group. Namun, setahun belakangan ini sejak menulis di blog pribadi dan membaca buku-buku yang berhubungan dengan digitalisasi, pikiran saya mulai terbuka. (Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali). Saya pun akhirnya sadar bahwa ada kebutuhan manajemen berselancar di dunia maya. 

Lalu, perlahan saya mengubah cara saya mengatur waktu.  Pertama, dengan mengurangi komentar di semua WA Group.  Kalau tidak penting sekali, tidak usah komentar. Cukup pahami apakah pesan-pesan di WA Group itu patut ditindaklanjuti atau tidak. 

Kedua, saya berusaha tidak lagi sibuk dengan perangkat digital setelah tiba di rumah sepulang kantor. Benda itu akan dengan damai teronggok dalam tas kerja saya hingga anak-anak terlelap.  Jika sempat dan dirasa penting, saya akan memeriksa pesan dan melongok timeline sebelum tidur.  Jika dirasa tidak perlu, saya hanya akan memeriksanya untuk memasang alarm.  

Waktu-waktu saya banyak mengakses media sosial untuk kepentingan blogging dan tetek bengeknya, atau sekedar cari inspirasi,  adalah dalam perjalanan saat berangkat dan pulang kerja di Kereta Rel Listrik (KRL) Commuterline. Masih sih, sesekali atau beberapa kali ketika dalam keadaan jenuh dalam rapat yang tak kunjung usai. Ha ha ha.  

Di akhir pekan, saya memuaskan diri untuk mengeksplorasi media sosial saat menunggu anak-anak les Bahasa Inggris. Saat itu juga saya sempatkan blog walking ke blog teman-teman sesama blogger.  Pada beberapa waktu, saya masih sesekali berkelana dengan perangkat digital di dini hari, saat mengerjakan project blog atau kompetisi.  Lembur Bu!

Itu jalan yang saya pilih, agar waktu yang digunakan untuk berselancar di dunia digital tidak merampas kehidupan saya bersama keluarga dan orang-orang yang saya cintai. Juga, untuk menjaga mental tetap stabil.  Terlalu cermat menelusuri timeline saban waktu akan membuang banyak waktu.  Anda bisa mengatur sesuai kebutuhan, sehingga digitalisasi tidak merenggut kebahagiaan sejati dan menukarnya dengan kenikmatan maya yang semu. Jika seluruh waktu Anda tersita untuk dunia maya, jangan salahkan mental Anda pun akan terasa asing dan lama-lama jadi sakit.

3. Fokus Pada Prestasi, Gunakan Bantuan Digital untuk Berprestasi 




Jika segala macam hal bisa dicapai dengan digitalisasi, begitu pula prestasi. Karena itu, manfaatkan teknologi untuk berprestasi. Sekali mencoba, pasti tidak mudah.  Tapi berkali-kali mencoba akan membuat kita jadi paham bahwa jalur itu ada dan dapat dilalui.  Tinggal bagaimana kita menghimpun daya dan mengasah keterampilan saja. Juga, harus persistent! 

Prestasi apa yang bisa kita capai melalui digitalisasi?  Banyak! Mulai dari lomba inovasi, menulis, video blog, kreasi resep masakan, dan beragam kreativitas lain. Saya termasuk yang getol mencari informasi di dunia digital tentang lomba seputar menulis blog, kompetisi media sosial, kreasi, dan semacamnya. Lomba itu penting untuk mengasah keterampilan dan mengukur diri di mana posisi kita dalam dunia luas. Biar ngga jago kandang aja! Sekaligus mentrigger otak supaya mikir di luar pemikiran rutin pekerjaan. 


Salah satu Lomba Inovasi yang membawa saya sebagai salah satu finalis
Kalau dipikir, ya tak banyak waktu luang yang saya miliki.  Pulang bekerja saya sering sudah merasa lelah.  Sama lah dengan yang dirasakan ibu kantoran lain. Waktu yang saya prioritaskan untuk anak-anak dan keluarga sering terasa tidak cukup. Walau begitu, saya berusaha untuk tetap menciptakan dunia lain yang membuka ruang kreativitas saya. Menulis.  Bagi saya menulis adalah berjuang. Mengapa tidak?   Digitalisasi mampu membantu perjuangan menulis saya kok!

Salah satu Lomba Menulis yang mengantarkan sepuluh tulisan, salah satunya tulisan saya,  dihimpun dan diterbitkan dalam bentuk buku. 
Setiap kali ikut lomba menulis, dan mengetahui siapa-siapa saja yang ikut serta, saya sudah bisa menduga siapa-siapa saja yang akan jadi pemenangnya. Karena sebelumnya, saya sudah membaca kiprah mereka di dunia blogging.  Saya lalu mencari jalur yang paling tepat untuk dilewati.  Memilih di bagian mana saya dapat ikut berkiprah, belajar berani.  Alhamdulillah, membawa hasil sedikit demi sedikit. Beberapa lomba yang saya ikuti membawa hasil menggembirakan.  Dari mulai juara 1, juara 2, juara favorit, finalis, hingga diterbitkan dalam bentuk buku. Eh, jangan salah ya.... karya saya yang tidak menang pun banyak banget hahahaha.  Tapi itulah kiprah.  Ada proses belajar banyak di dalamnya.  Saya menikmatinya.

Beberapa tulisan saya yang menjadi pemenang di beberapa kompetisi blog sepanjang tahun 2018 bisa dibaca di sini:

3 Sebab Utama Perempuan Dukung Rokok Harus Mahal , meraih Juara Kedua dalam Lomba Menulis Blog yang diselenggarakan oleh Kantor Berita Radio (KBR).



Cek KLIK: Cek Pangan Aman Saat Mudik , meraih Juara Favorit dalam Lomba Menulis Blog yang diselnggarakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM ) 




5 Tips Pilih Jajanan Permen Sehat untuk Anak, meraih Juara pertama dalam Lomba Menulis Blog yang diselenggarakan Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Permen Pindy 




10 Tips Sederhana agar Anak Gemar Membaca, meraih predikat Best Organik Blog Post pada bulan April 2018 yang diselenggarakan oleh Mom Bloggers Community 



Bagi saya, dunia ini begitu luas, seluas apa yang mampu kita pikirkan, dan patut dijelang.  Dunia bukan sesempit pekerjaan di kantor yang penuh intrik politik saja.  Dunia bukan sesempit rumah tipe 38 yang beberapa langkah sudah ketemu tembok dan pintu... hehehe.  Dunia itu seluas pikiran kita. 

Karena dunia itu luas, ia memberi ruang yang luas juga untuk kita berekspresi, berbuat, berkarya, dan berprestasi. Jangan pernah malu memajang hasil prestasimu di media sosial.  Walaupun itu misalnya Juara Masak Nasi Goreng di Kompleks Perumahan. Itu jauh lebih baik daripada ngomongin tas branded yang dipakai orang lain.  Beneran deh!

Pacu diri untuk berprestasi, di jalur yang kita pilih sendiri.  Penuhi timeline media sosial kita dengan prestasi-prestasi yang dicapai.  Kalau sudah begitu, kita akan punya sesuatu yang berharga untuk diperjuangkan. Digitalisasi kita jadikan alat untuk membantu perjuangan itu, menguatkan mental berjuang, bukan melemahkan!  

4. Pasang Kacamata Kuda, Hal Terburuk adalah Menjadi Orang Lain 




Kacamata kuda itu perlu, agar pandangan kita tetap fokus ke jalan yang akan dilalui di depan.  Seperti kuda yang dipasang pelana.  Jalannya lurus ke depan.  Kalau kuda dikendalikan pelananya oleh manusia yang menunggang, maka kacamata kuda yang kita pakai kita sendiri yang mengendalikan.  

Misi digital sudah punya.  Waktu sudah diatur.  Prestasi sudah ditemukan jalurnya.  Nah, kemudian masanya untuk fokus terus di jalan yang sudah kita pilih. Tetap yakin saja bahwa jalan yang kita pilih untuk berkiprah melalui digitalisasi adalah yang terbaik bagi diri kita sendiri.  

Sebaik-baiknya diri kita adalah menjadi diri sendiri. Dan seburuk-buruknya adalah menjadi orang lain! Tapi bukan berarti kita menutup diri terhadap perkembangan yang mungkin akan membuat diri kita jadi lebih baik lho.  Kacamata kudanya, sekali-kali dilepas.  Dicopot. Tengok-tengok sejenak kanan dan kiri, siapa tahu ada perkembangan bagus.  Pakai lagi kalau sudah waktunya berjalan dan fokus. 

Kapan waktunya memakai dan melepas kacamata kuda itu, nanti Anda akan ketemu sendiri alurnya. Analoginya seperti kapan mulai makan dan kapan berhenti makan.  Kapan mulai tidur dan kapan harus bangun.  Naluri secara alamiah akan ketemu deh. Yang penting, yakinkan diri bahwa diri Anda berharga dan patut berbuat lebih. 

5. Have Your Own Personal Branding 




Cara pertama hingga keempat apabila sudah dijalankan, akan kita kerucutkan menjadi yang kelima : Personal Branding.  Iya, berkiprah di media sosial dan segala perangkat digital pada intinya adalah menampilkan diri Anda ke dunia, melalui digitalisasi.  Sejatinya itu adalah personal branding.  

Personal branding adalah sebuah cara memasarkan diri atau citra diri secara individu.  Bukan jual diri dalam arti kotor ya.  Tetapi “menjual” atau mempublikasikan apa yang dimiliki oleh diri sebagai individu yang membedakannya dengan orang lain.  Sehingga, setiap menemukan ciri diri Anda, orang akan segera mengenali bahwa itu adalah Anda dan bukan orang lain.  Sederhananya, personal branding adalah konsep yang lebih menekankan bahwa keberhasilan Anda terhadap sesuatu datang dari self-packaging. 

Dari situ, saya menarik satu cara untuk menjadikan personal branding diri, yaitu menggunakan cara saya sendiri.  Sebetulnya, ini penajaman dari kekuatan untuk menjadi diri sendiri dipadu dengan kejujuran.  Selama kita belum berani untuk menunjukkna jati diri kita, masih takut jadi diri sendiri, ya susah juga. 

Pencitraan yang palsu itu lama-lama akan memuakkan. Sama saja dengan menyebar hoax ya, alias kebohongan mengenai diri Anda. Walaupun, yang ditampilkan adalah hal-hal yang indah dipandang mata.  Tetapi kejujuran dan orisinilitas akan lebih dihargai, walaupun kelihatan kotor dan tidak apik. Saya percaya itu.  Karenanya, mencitrakan diri sendiri dengan kejujuran yang wajar serta membawa manfaat bagi orang lain di era digital, itu tidak mudah.  Tapi keren.  

Dengan bangga menjadi diri sendiri yang mampu memberi manfaat bagi orang lain, artinya kita sudah punya jalan sendiri untuk menyajikan personal branding.  Hmm, terus terang yang ini memang berat tapi layak kita jalankan. Semoga saja ya Saya juga bisa, masih belajar nih.... (**beraaaattt cuuuy) 

Mau sehat mental di era digital?  Ya dicoba aja deh kelima cara itu ya. Jangan pernah mau jadi korban digitalisasi.  Jadilah subjek.  Jadilah pelaku.  Pikir yang baik-baik, niat yang baik-baik, berbuat yang baik-baik, berkata yang baik-baik.  Semoga segala kebaikan datang dari segala penjuru arah.  Selebihnya, saya cuma bisa menirukan : Berkata baik, atau diam. Selamat berselancar di era digital!!! (Opi) 

G+

8 komentar :

  1. Keren, banget,Mbak Novi. Trims sharingnya 😊

    BalasHapus
  2. Yang paling susah menurut saya mengatur waktu. Karena begitu pegang hape bakalan lupa waktu. Hehehe
    Terima kasih sharingnya, mbak.

    BalasHapus
  3. wah.. tfs ya mba, selamat juga utk semua prestasi yg telah diraih.., Barokalallah

    BalasHapus
  4. Terima kasih sharingnya mbak. Saya juga menggunakan media digital ini untuk prestasi seperti ikut kompetisi menulis dan alhamdulillah itu sangat bermanfaat untuk saya dan teman2 sekitar. Jadi, saya dikenal sebagai penulis walau kadang ada juga postingan alaynya sekali2 hehehe. Oia, selamat ya mbak udah banyak mendapatkan juara lomba blog, semoga berjaya terus ke depannya. Amin 😊

    BalasHapus
  5. Waduh, salam kenal, Mbak novi. Panjang banget deret ukur prestasinya dalam pandangan saya, soalnya itu bagus dan berkualitas. Benar-benar telah menerapkan poin di atas soal fokus utama dan eksistensi diri dengan menulis dan berprestasi.
    Saya jadi terinspirasi juga, nih. Ya, berupaya konsisten sekarang ini. Usia sudah menanjak dan energi berkurang sedang anak masih kecil dan suami butuh bantuan finansial agar bebannya berkurang.
    Maka, saya juga harus berupaya mencontoh Mbak. Salut. :)

    BalasHapus
  6. Supaya nggak gampang stress di era digital, banyakin nonton video dangdut zaman now. Keceriaan akan timbul, mental akan sehat senantiasa.

    BalasHapus
  7. saya belum netapin misi digital nih ..makasih ya sharingnya bermanfaat banget kak..

    BalasHapus
  8. Wah keren banget mba sudah banyak prestasi di dunia tulis menulis :D
    Saya setuju banget dengan lima cara di atas. Jadikan media sosial just for fun atau buat cari uang. Bukan untuk membanding-bandingkan kehidupan.

    BalasHapus

Back to Top