Rabu, Juli 01, 2020

Interkoneksi Kepemimpinan, Budaya Organisasi, dan Kinerja Perusahaan


Pemimpin di berbagai level bertindak sebagai pembangun visi, arsitek budaya organisasi, katalisator, sekaligus coach (pelatih) dalam berkinerja.  Ada hubungan tak terpisahkan antara kepemimpinan, budaya organisasi, dan pencapaian kinerja perusahaan.  Bagaimana mengoptimalkan interkoneksi ini?

Percayakah Anda bahwa ketika pemimpin berhasil menumbuhkan budaya baik dan sesuai di lingkungan kerja, akan memudahkan pencapaian tujuan bersama, diantaranya pencapaian kinerja perusahaan?  Saya percaya.  Melalui pengaruhnya, yang disokong kerja tim solid, pemimpin dapat mendorong terjadinya itu semua.  

Sebelum membicarakan bagaimana cara mengoptimalkan hubungan segitiga yang kuat antara kepemimpinan, budaya organisasi, dan kinerja perusahaan, terlebih dahulu kita mendalami tentang kepemimpinan seperti apa yang diharapkan dan dibutuhkan di suatu perusahaan.  Ini erat kaitannya dengan budaya organisasi yang sudah terbentuk atau yang akan ditemukan kembali (reinvented), yang mana pemimpin akan menjadi arsiteknya.  

Juga, erat hubungannya dengan tujuan apa sebenarnya yang akan dicapai perusahaan.  Pencapaian kinerja secara tidak langsung semestinya mencerminkan pencapaian tujuan bersama, bukan tujuan sekelompok orang yang enggan melepaskan kenikmatan berkuasa. 

Untuk itu, kita perlu mencermati kembali hal-hal mendasar sebagai berikut: 
1. Kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan dan diharapkan?
2. Budaya organisasi seperti apa yang telah ada dan akan ditemukan kembali (reinvented)?
3. Apakah sesungguhnya tujuan bersama organisasi, dan apakah kinerja perusahaan telah mencerminkan pencapaian tujuan itu? 

Yuk, kita cermati bersama-sama. 

Kepemimpinan: Pengaruh Bukan Paksaan


Kepemimpinan merupakan sebuah proses mempengaruhi orang lain untuk bertindak guna mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan bersama.  Kuncinya terletak pada kata “pengaruh”.  Pengaruh (influence), bukan paksaan (concoersive).  Sejauh apa pengaruh yang terjadi, menunjukkan sekuat apa kepemimpinan itu eksis.  Dalam suatu kepemimpinan, terjadi upaya memengaruhi dan lebih jauh memotivasi anggota tim untuk bergiat mencapai tujuan bersama, bukan tujuan pribadi atau sebagian kelompok.

Dalam sebuah tim, dan lebih luas dalam sebuah organisasi, seringkali terjadi jebakan concoersive.  Pemimpin yang “memaksa” anggota dengan berbagai cara agar kinerja tim nampak, adalah salah satu contoh jebakan concoersive.  Lazimnya ini terjadi karena penetapan tujuan yang ingin dicapai tidak disepakati bersama anggota tim. Target dibuat dari atas langit, melalui tangan pemimpin tertinggi yang harus dilaksanakan dan tidak boleh dibantah lagi. 

Jebakan ini melemahkan kepemimpinan di berbagai level.  Pengaruh tidak muncul.  Yang terjadi adalah penghalalan paksaan yang diperhalus.  Bisa ditebak, motivasi anggota tim mungkin tidak lagi terlecut dalam kegembiraan bekerja.  Bekerja dengan gembira jadi ilusi saja.  Apakah dengan kondisi seperti ini kinerja bisa dipacu? Bisa saja.  Tapi menjadi semu.  Pada satu titik jenuh akan terjadi permintaan kuat anggota tim untuk pergantian kepemimpinan.  Anggota tim butuh pengaruh, bukan paksaan. 

Observasi para peneliti budaya organisasi di dua dasawarsa terakhir menunjukkan bahwa seorang pemimpin membentuk budaya dan pada gilirannya juga dibentuk oleh budaya yang dihasilkan.  Budaya organisasi dan kepemimpinan saling berhubungan dan akan tergambar dalam siklus kehidupan berorganisasi. Itulah sebabnya, pemimpin disebut sebagai arsitek budaya organisasi.  Bagaimana seorang pemimpin memengaruhi dan memotivasi anggotanya akan membentuk suatu budaya kerja.    

Beragam kombinasi gaya kepemimpinan dapat kita temui dalam kehidupan nyata.  Perpaduan atau dominasi satu gaya dalam gaya lain bisa saja ditemui. Mengingat masing-masing orang memiliki karakter yang berbeda, maka pola kepemimpinan juga akan berbeda.  Kepemimpinan seseorang akan sangat dipengaruhi oleh situasi orang-orang yang dipimpinnya, iklim kerja, dan jenis pekerjaan. 

Pada dasarnya As’ad (1991) dalam Faturahman (2018), mengelompokkan 6 tipe gaya kepemimpinan sebagai berikut: 

1. Tipe Otokratik, adalah pemimpin yang sangat egois dan menunjukkan sikap “keakuannya”. Pemimpin ini selalu menggunakan cara yang dianggap pantas dari dirinya sendiri sehingga segala sesuatu yang dilakukan oleh pemimpin pasti benar dan ide atau gagasan karyawan atau bawahan tidak diakui.  

2. Tipe Karismatik, adalah tipe yang memiliki daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk memengaruhi orang lain, sehingga ia memiliki bawahan yang bisa dipercaya serta pengikut yang setia dalam jumlah besar.

3. Tipe Paternalistik atau Maternalistik, adalah kepemimpinan dengan sifat kebapakan dan keibuan.

4. Tipe Militeristik, tipe ini mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter dengan sistem satu komando atau satu perintah yang berasal dari satu pimpinan puncak dan harus dilaksanakan bawahan

5. Tipe Demokratis, tipe yang mengutamakan manusia adalah makhluk hidup yang mulia sehingga selalu melibatkan bawahan/anggota. 

6. Tipe Laissez Faire atau delegatif, tipe ini bersifat permisif dan memberikan kepercayaan berupa tanggungjawab pekerjaan secara penuh kepada bawahan/anggota.  

Sementara Davis & Storm (1999) dalam Koesmono (2003), membedakan gaya kepemimpinan menjadi tiga jenis yaitu gaya kepemimpinan autokratik, partisipatif, dan bebas kendali (free-rein).  

Pemimpin di berbagai level bertindak sebagai pembangun visi, arsitek budaya organisasi, katalisator, sekaligus coach (pelatih) dalam berkinerja. Inilah skill yang dibutuhkan oleh kepemimpinan di era kini, terlepas dari kombinasi gaya kepemimpinannya.  Walaupun, kelihatannya nyaris tak mungkin skill coach dapat dijalankan dengan baik pada gaya kepemimpinan otokratik yang dominan.  

Para pemimpin membangun visi dan melalui pengaruhnya mampu membuat para anggota bergerak menuju pencapaian visi melalui misi. Pemimpin bertindak sebagai katalisator, yang mempercepat terjadinya upaya-upaya bersama dalam berkinerja.  Sekaligus, pemimpin menjadi coach yang memfasilitasi para anggota untuk mampu menemukan solusi dari beragam permasalahan yang terjadi. Kita membutuhkan pemimpin yang seperti itu, bukan? 

Lingkungan bisnis dewasa ini tumbuh dan berkembang sangat dinamis. Perusahaan termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak dapat lagi dipandang sebagai organisasi yang tertutup (closed system) seperti dulu dimana para pemimpinnya berasal dari kalangan internal saja.  

Sistem terbuka (opened system) membuat BUMN harus bisa cepat merespon dan mengakomodasikan berbagai perubahan eksternal maupun internal.  Pemimpin yang berasal dari eksternal pernah tumbuh dalam situasi budaya organisasi yang berbeda, masuk ke dalam dan memberikan pengaruh. Sejauh pengaruh itu menemukan kembali budaya yang mendorong dan memotivasi pencapaian tujuan, tidak masalah.   

Budaya Organisasi, Temukan Kembali !

Budaya organisasi dapat diartikan sebagai sistem makna nilai-nilai dan kepercayaan yang dianut bersama dalam suatu organisasi, yang menjadi rujukan untuk bertindak dan membedakan organisasi satu dengan yang lainnya.  Budaya organisasi dibangun dari kepercayaan yang dipegang teguh secara mendalam tentang bagaimana organisasi seharusnya dijalankan atau beroperasi.  Dengan demikian, tiap organisasi pasti memiliki budaya, dan budaya itulah yang akan menentukan organisasi itu bisa sukses dalam jangka pendek atau tidak.  

Menurut Mangkunegara (2005) dalam Kusumawardani (2010), budaya organisasi adalah seperangkat asumsi atau sistem keyakinan, nilai-nilai dan norma yang dikembangkan dalam organisasi yang dijadikan pedoman tingkah laku bagi anggota-anggotanya untuk mengatasi masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal.  Budaya organisasi tsudah semestinya terus dikembangkan, ditemukan kembali (reinvented) ketika mulai tergerus, dan jangan sampai hilang.   

Proses pembentukan budaya organisasi sebagaimana dijelaskan Tika (2006) dalam Brahmasari & Suprayetno (2008) terjadi melalui empat tahapan.  Tahap pertama, yaitu terjadinya interaksi antar pimpinan atau pendiri organisasi dengan kelompok dan atau perorangan dalam organisasi.  Pada tahap kedua, dari interaksi di tahap pertama akan memunculkan ide yang ditransformasikan menjadi artifak, nilai, dan asumsi.  Tahap ketiga, maka artifak, nilai, dan asumsi tersebut diimplementasikan sehingga membentuk suatu budaya organisasi.  Tahap keempat adalah bahwa dalam rangka mempertahankan budaya organiasai dilakukan pembelajaran (learning) kepada anggota baru dalam organisasi.  

Tindakan Manajemen Puncak yang berisikan para tim leader memberi dampak besar pada budaya organisasi.  Ucapan dan perilaku mereka dalam melaksanakan norma-norma sangat berpengaruh terhadap anggota tim. Tidak jarang, dari para pemimpin ini terjadi proses reinventing (menemukan kembali) budaya baik yang nyaris luntur atau tergerus.  

Kerja, Kerja, Kerja untuk Kinerja 


Sebuah kinerja perusahaan merupakan cerminan dari kinerja individu-individu di dalamnya.  Kinerja merupakan pencapaian atas tujuan organisasi yang dapat berbentuk output kuantitatif maupun kualitatif, kreativitas, fleksibilitas, dapat diandalkan, atau hal-hal lain yang diinginkan oleh organisasi dalam jangka pendek maupun jangka panjang. 

Kinerja juga dapat merupakan tindakan atau penyelesaian tugas yang telah diselesaikan oleh seseorang/tim dalam kurun waktu tertentu dan dapat diukur. 

Dalam suasana seperti apakah kinerja dapat digenjot setinggi mungkin? Secara natural dan inheren, orang tidak suka ditekan untuk bekerja.  Tetapi target membuat orang dipaksa untuk bekerja mencapainya. Budaya organisasi berperan di sini, sepaket dengan cara para pemimpin mengajak anggotanya bersama-sama lebur dalam budaya itu.  

Begitu juga cara pemimpin memengaruhi anggotanya, sangat krusial untuk menggenjot kinerja.  Sebesar apa pengaruh pemimpin bisa membuat anggota tim termotivasi dan memercayai bahwa tujuan yang akan dicapai adalah tujuan bersama, yaitu tujuannya juga.  Bagaimana seorang pemimpin bisa membangkitkan ghirah anggotanya untuk merasa “penting” dan “diandalkan” sebagai bagian dalam perjuangan bersama? Di situ letak perannya.

Namun, selama tujuan yang akan dicapai tidak dapat diyakini oleh para anggota bahwa itu adalah tujuan bersama yang mulia, kinerja yang tercapai akan selalu semu.  Nampak baik dan tinggi, tapi menjadi bom waktu di masa depan untuk lunglai tak ada gairah lagi.

Optimalisasi Hubungan Segitiga : Kepemimpinan, Budaya Organisasi, Kinerja Perusahaan 


Mengoptimalkan interkoneksi antara kepemimpinan, budaya organisasi, dan kinerja perusahaan tidak sekonyong-konyong terjadi.  Intinya, kepemimpinan diperkuat sesuai yang dibutuhkan dan diharapkan.  Lalu budaya organisasi dileburkan dalam proses bekerja dan berkinerja melalui pengaruh para pemimpin di semua level.  

Memperkuat kepemimpinan dilakukan dengan proses kaderisasi yang tidak boleh terhenti. Mental pemimpin harus ditekankan bukan menjadi penguasa abadi atau mempertahankan jabatan semata yang hubungannya adalah uang. Jika tak mampu, mundur lebih baik. Mental pemimpin harus ditempa untuk memperkuat pengaruh, bukan paksaan.  

Penelitian Syukri (2008) menunjukkan bahwa penerapan budaya perusahaan yang diukur melalui unsur-unsur artefak yang merupakan salah satu tingkatan budaya perusahaan yang diterapkan oleh PT Telekomunikasi Tbk, berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan.  Kinerja karyawan secara langsung dan linier akan berdampak pada kinerja perusahaan.  

Apabila kepemimpinan diperkuat dan budaya organisasi diterapkan secara benar dalam pelaksanaan pekerjaan, kinerja diyakini bisa didongkrak.  

Kepemimpinan dapat kita percaya merupakan faktor utama dalam pencapaian tujuan organisasi.  Namun dalam usaha pencapaian tujuan tersebut tetap memperhatikan perilaku para anggota dimana perilaku tersebut membentuk budaya dalam organisasi.  Perilaku tersebut sebagai pertimbangan oleh pimpinan untuk pengambilan keputusan.  Secara resiprokal, sikap dan teladan pemimpin juga membentuk budaya organisasi.  

Kepemimpinan dalam organisasi juga menuntut kepekaan terhadap budaya yang terdapat dalam organisasi.  Budaya dalam organisasi ini mempunyai fungsi antara lain menetapkan batas dan wewenang, serta memberikan rasa identitas kepada anggotanya.  Karakteristik budaya dalam organisasi dapat dijadikan pedoman bagi pemimpin untuk membuat keputusan agar organisasi lebih efektif dalam mencapai tujuannya.  

Apabila ada sinkronisasi antara penguatan kepemimpinan dalam penerapan budaya organisasi yang konsisten, yakinlah kinerja perusahaan dapat terus ditingkatkan secara nyata. Bukan semu. (Opi). 



Bacaan Rujukan :

Arifin, R., Amirullah., & Khalikussabir. 2017. Budaya dan Perilaku Organisasi. Penerbit Empat Dua  Kelompok Intrans Publishing, Malang : xiv +262 hlm.

Brahmasari, I.A. & A. Suprayetno. 2008. Pengaruh Motivasi Kerja, Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan serta Dampaknya pada Kinerja Perusahaan (Studi Kasus pada PT. Pei Hai International Wiratama Indonesia), dalam: Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan , Volume 10 Nomor 2, September 2008, halaman 124 – 134.

Faturahman, B.M. 2018. Kepemimpinana dalam Budaya Orgainisasi, dalam: Jurnal Politik dan Sosial Kemasyarakatan Volume 10 Nomor 1 ISSN 2085-143X. halaman 1-11.  

Hakim, A. & A. Hadipapo. 2015.    Peran Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Sumber Daya Manusia di Wawotobi, dalam Ekobis Volume 16 Nomor 1 Januari 2015. halaman 1 – 11.
Koesmono, T. 2006.  Peranan Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Perilaku Karyawan, dalam Ekuitas Volume 10 Nomor 3 September 2006  halaman 335-348.  ISSN 1411-0393  

Kusumawardani, L. 2010.   Budaya Organisasi dalam Meningkatkan Kinerja Karyawan, dalam Bisma Jurnal Bisnis dan Managemen Jurusan Manajemen FE Unesa Volume 2 Nomor 2 Februari 2010.  halaman 159-166.

Mei, T.S., K.K. Yahya, & L.K. Teong. 2016. Budaya Organisasi:  Konsep dan Perspektif, dalam Proceeding of ICECRS (International Seminar on Generating Knowledge Through Research UUM-UMSIDA, 25-27 October 2016) Volume 1, halaman 631-636. ISSN 2548-9-6160. 

Suryadi, E. 2010. Analisis Peranan Leadership dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Pegawai, dalam Manajerial Volume 8 Nomor 16,  Januari 2010. halaman 1-9.  

Syukri, S.H.A. 2008. Kajian Keterkaitan Budaya Perusahaan yang Diterapkan terhadap Kepuasan Kerja Karyawan dan Kinerja Karyawan, dalam Kaunia Volume IV Nomor 1, April 2008. halaman 71- 87.  



Minggu, Juni 28, 2020

Bersinar dengan Webinar


”Tersadar perlahan, di masa pandemi ini rumah menjadi wadah pembaharuan diri luar dalam, untuk membentuk daya survival baru. Sepenggal waktu #dirumahaja mendatangkan kesempatan untuk keberlimpahan hal-hal positif lewat bantuan teknologi. 
Webinar menjadi cara anyar untuk bersinar! “

#Dirumahaja mengantar berkah belajar kepada ibu dua anak seperti saya. Sekeranjang hal positif dari hikmah berkegiatan di rumah selama pandemi Covid-19, baru disadari ketika masa transisi untuk kembali beraktivitas di luar rumah dimulai. #Dirumahaja bagai jeda, seperti sebuah tanda koma yang diletakkan di tengah kalimat.  

Koma memang hanya sebuah tanda baca, namun penggunaannya secara tepat memberi makna ketika kalimat dibaca secara utuh. Begitu pula #dirumahaja, bila diisi dengan kegiatan yang tepat pasti memberikan makna mendalam.  Saya merasakannya dalam hal hikmah belajar dari satu webinar ke webinar lainnya selama #dirumahaja yang membuat diri jadi makin bersinar!


Sumber foto : www.pexels.com

Kok bersinar?  Ya, karena webinar telah menghadirkan dunia luar ke dalam rumah dengan bantuan teknologi. Ilmu, ide, wawasan, insight, dan capture yang saya tangkap dari webinar demi webinar, mewujud jadi bahan bakar untuk memperbaharui diri selama #dirumahaja.  

Dari proses webinar, saya jadi terpapar perkembangan dunia luar, langsung dari sumber yang relevan dan kompeten. Webinar menginspirasi tentang langkah dan sikap yang selayaknya saya ambil sebagai tindak lanjut dalam survival hidup di tengah pandemi. Termasuk, segudang inspirasi tentang buku-buku apa yang selanjutnya patut saya baca.  Diri jadi terasa anyar dan bersinar. Ibarat aplikasi, seperti baru diupdate ke versi terbaru.

Berkenalan dengan Webinar

Webinar adalah kependekan dari web seminar, sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan pertemuan atau seminar online (virtual), baik itu kegiatan bisnis, pembelajaran, maupun diskusi. Webinar bisa juga didefinisikan sebagai kegiatan pertemuan (seminar) yang dilakukan secara online atau memanfaatkan jaringan internet dan dapat diikuti oleh banyak orang dari berbagai lokasi yang berbeda. 

Saya mulai berkenalan dengan webinar sekitar tahun 2013, ketika seorang teman lama merekrut untuk berbisnis Multi Level Marketing (MLM) produk kecantikan asal Swedia. Namun, karena tidak terlalu serius menjalani bisnis itu, saya juga tidak terlalu tertarik dengan webinar yang diselenggarakan. Kadang-kadang saja bergabung, ketika ada topik tentang pengembangan diri.  Waktu itu platform yang digunakan adalah media sosial Facebook (FB) Group. 

Hari-hari sebelum pandemi Covid-19, saya lebih banyak berkegiatan di luar rumah.  Senin hingga Jumat, pagi sampai sore hari, sudah pasti ke kantor. Ada waktu-waktu harus ke lapangan, ke tempat-tempat pertemuan di luar kantor, atau juga ke gudang. Pagi hari berangkat sebelum matahari terbit, dan tiba di rumah seringnya selepas Maghrib, saat matahari sudah tenggelam. 

Sumber foto: www.pexels.com
Waktu yang tersisa sepulang kerja, tercurah untuk keluarga.  Bermain dan bersenda gurau dengan buah hati dan pasangan.  Kegemaran membaca buku pun cuma bisa diselipkan di sela-sela waktu yang ada.  Jarang sekali bisa betul-betul leyeh-leyeh membaca buku dengan nikmat dan santai. 

Seminar offline yang saya ikuti juga terbatas. Hanya seminar yang betul-betul menarik di weekend time akan saya hadiri jika bisa membawa anak-anak ikut serta. Sejumlah kuliah online melalui platform Google Classroom, WA Group, dan website dengan topik pengembangan skill menulis maupun parenting sempat saya coba di sela waktu kerja kantoran.  Seringkali tertinggal materi, hanya beberapa saja yang bisa saya ikuti tuntas dan mendapat sertifikat.  Beberapa lainnya bisa dibilang tidak lulus.   

Hal Positif dari Webinar #dirumahaja

Sampailah saat pandemi Covid-19 melanda di pertengahan Maret 2020 lalu.  Saya termasuk golongan pekerja yang terkena kebijakan work from home (WFH).  Bukan  main leganya. Setidaknya bisa merasa aman #dirumahaja namun tetap bisa bekerja.  

Kenyataannya, tidak seaman yang disangka juga.  Aman dari penularan Covid-19 tapi tidak aman dari stress kalau tidak bisa mengatur waktu dengan baik.  Seiring dengan kegiatan bekerja di rumah, anak-anak juga bersekolah di rumah. Multi job-lah saya menjadi guru dan pengawas belajar dua anak Sekolah Dasar.  

Bersyukur, suami juga work from home selama masa pendemi.  Kami bekerja sama bergantian memandu anak-anak belajar.  Dari suamilah saya mendapat masukan, untuk lebih fokus mengupgrade diri selama #dirumahaja lewat webinar yang marak di masa pandemi ini. Suami saya lalu menginformasikan webinar-webinar dengan topik yang sekiranya sesuai, kebanyakan dengan platform aplikasi zoom meeting.

Sumber foto: www.pexels.com
Berbeda dengan kuliah online, webinar menjadi pilihan yang lebih pas untuk mengembangkan diri karena bisa dipecah menjadi topik-topik tersendiri yang tidak memerlukan periode belajar lama.  Cukup satu hingga 3 jam setiap topik.  

Dari sekian webinar yang saya ikuti, yang berkesan bagi saya adalah wawasan tentang pengelolaan mental keluarga selama #dirumahaja, self love/self care, pendidikan dan pembelajaran anak di masa pandemi.  Selain itu,  update relevan tentang kesiapan diri untuk survival hidup selama belum ada vaksin anti Covid-19 juga menjadi favorit saya. 

Setidaknya ada lima hal positif yang saya sadari ternyata didapat dari mengikuti webinar melalui platform aplikasi zoom meeting selama #dirumahaja.  Ini dia kelima hal tersebut: 

1. Mendapat wawasan baru, mengembangkan ilmu dari sumber yang relevan dan kompeten.  
Webinar pastinya menghadirkan narasumber kompeten dan relevan di bidangnya.  Sayapun dapat menggali dari beliau-beliau tentang wawasan yang dibutuhkan.  Misalnya para psikolog anak/ remaja, pakar  homeschooling, Ketua Ikatan Guru Indonesia, untuk wawasan pembelajaran anak.  Para psikolog klinis, dokter spesialis anak, dan pakar meditasi untuk wawasan self love serta mental keluarga. Para peneliti, pakar epidemiologi, pakar ekonomi, para menteri terkait, serta tokoh masyarakat untuk topik terkait kebijakan menghadapi pandemi di berbagai sektor kehidupan.    

Karena narasumbernya adalah mereka yang berkecimpung intens di bidangnya, saya bisa mendapat data dan penjelasan yang relevan. Keraguan dan keterbatasan informasi jadi teratasi. Saya pun jadi terlatih untuk menyaring informasi.  

2. Mengakrabkan diri dengan teknologi
Webinar membuat saya -suka atau tidak suka- harus akrab dengan teknologi.   Tersadar diri, bahwa penguasaan teknologi harus terus ditingkatkan jika tak ingin tenggelam.  Ke depan, kemungkinan dilakukannya berbagai kegiatan berbagai sektor secara daring akan semakin meluas.  Sebab, transisi menuju tata kehidupan normal yang baru mewajibkan jaga jarak dan anti kerumunan. Untuk bidang pendidikan dan pembelajaran, teknologi menjadi syarat utama untuk eksis.

Dengan menguasai teknologi daring, memiliki sumber daya pendukung seperti jaringan internet yang stabil dan perangkat komputer yang memadai, akan memudahkan upaya menghadirkan dunia luar ke dalam rumah.  Tidak perlu pergi jauh.  Tidak perlu bermacet-macetan. Tidak perlu menambah polusi udara dari bahan bakar kendaraan yang digunakan untuk ke luar rumah.  Tidak perlu sewa tempat meeting.  Tidak perlu keluar biaya ngopi yang kadang tidak sepadan.  Menguasai teknologi daring akan memudahkan upaya produktif dan efisien dari rumah.  

3. Belajar cara berkomunikasi dari para narasumber yang berbeda
Setiap webinar, saya memperhatikan para narasumber dan moderator berbicara, berkomunikasi, menyampaikan ide, dan berbagi pengalaman secara daring. Ini jadi sumber wawasan baru yang penting sebagai masukan untuk diri sendiri.  

4. Menambah kenalan dan memperluas jaringan 
Webinar mengantar saya berkenalan dengan orang-orang baru dengan minat yang bersinggungan.  Ikut webinar bahkan dapat menghubungkan kita dengan jaringan sektor yang bersentuhan dengan ranah pekerjaan kita. Ini menjadi pintu terbukanya kolaborasi, tanpa harus bepergian keluar rumah.  Semua bisa dihadirkan ke dalam rumah dengan bantuan teknologi.  

5. Menangkap insight dan sumber ide untuk berkreasi
Setiap selesai mengikuti webinar, saat menekan icon “leave meeting” di kanan bawah layar laptop, selalu ada hal baru yang menginspirasi.  Seringkali berupa wawasan baru yang melengkapi pemahaman sebelumnya. Selebihnya adalah kesan, insight, sisi lain yang terungkap, atau ide baru untuk berkreasi.  

Misalnya, mengetahui bagaimana perjuangan peserta webinar melawan kanker dan mencari jalan positif bermeditasi.  Secara tidak langsung ini memberi masukan pada diri untuk memperbaiki, pola-pola apa saja yang sebelumnya dijalani namun ternyata tidak baik untuk tubuh.

Sumber foto:  www.pexels.com 
Begitu pula setelah menyimak pemaparan prediksi kondisi pangan pasca pandemi berbasis data dan riset yang dilakukan universitas ternama. Saya jadi berusaha menempatkan diri di mana posisi diri, dan apa yang akan dilakukan untuk survive.  

Beberapa ide untuk tulisan yang muncul setelah ikut webinar, langsung saya eksekusi. Saya merasa lebih tercerahkan dan mampu menjalani hari lebih terang. Takut dan kuatir, ya.  Namun tetap berupaya bangkit dan survive. 

Selain itu, saya juga tersadarkan bahwa ada sisi lain yang akan lebih mengemuka di masa depan, seiring dengan kegiatan daring yang terus melaju. Sebuah pergeseran nilai.   Contohnya lomba memasak ayah-anak secara online.  Di lomba tersebut, yang dinilai bukan rasa masakannya, tetapi kekompakan ayah dan anak dalam mengolah masakan. 

Padahal, selama ini proporsi penilaian lomba memasak offline selalu lebih besar pada hasil masakannya (baik rasa maupun tampilan).  Pergeseran nilai akan terjadi perlahan, mungkin juga di bidang lain.  Penampilan fisik dan sejenisnya tak lagi jadi perhatiaan utama, sebab kegiatan daring tak memedulikan penampilan fisik.

Kini masa transisi ke arah tata kehidupan baru sudah dimulai. #Dirumahaja mungkin tak bisa jadi pilihan bagi saya yang harus mulai kembali ke kantor walau secara bertahap.  Tapi, dari webinar-webinar yang sempat mengisi ruang diri selama #dirumahaja, saya jadi tersadar bahwa kelak ke depan beragam kegiatan akan lebih didominasi untuk diselenggarakan secara daring dengan dukungan teknologi. Saya bertekat menjadi salah satu yang siap untuk itu. Pribadi anyar yang bersinar karena webinar. (Opi)

Minggu, Juni 14, 2020

Let’s Read, Cara Tepat Tumbuhkan Minat Baca Anak



Dua belas tahun lalu, pada kehamilan yang kedua, saya suka membacakan cerita, puisi, dan ayat suci untuk si jabang bayi. Itu semua kegiatan yang belum sempat saya lakukan di kehamilan pertama, karena takdir sang janin gugur di bulan keempat.  


Kenapa saya membaca untuk bayi dalam kandungan? Semata-mata karena ingin si bocah nantinya juga gemar membaca seperti ibunya.  Sehingga, kami bisa melakukan aktivitas membaca menyenangkan bersama-sama. Terbayang rasanya punya anak yang gemar membaca Al Quran, suka membaca buku-buku bermutu, serta berhati lembut bagai untaian puisi. Indahnya….

Di kehamilan yang ketiga, sayangnya saya jadi relatif jarang membacakan ayat suci, cerita, dan puisi untuk si jabang bayi. Malah lebih banyak membaca jurnal ilmiah dan buku teks.  Waktu itu saya sedang menempuh pendidikan pascasarjana.

Itulah, jadi ada perbedaan perlakuan pada si sulung dan si bungsu ketika dalam kandungan. Memang, sebagai orang tua kita selalu dihadapkan pada kondisi yang berbeda untuk tiap anak.

Cinta Buku Dahulu, Cinta Membaca Kemudian


Kini si sulung sudah berusia 11 tahun dan si bungsu 8 tahun. Si Sulung sudah mulai membaca novel Lord of The Rings ketika usianya 10 tahun.  Sementara adiknya, lebih suka membaca komik.  Keluarga Super Irit dan Serial Why adalah komik favoritnya.

Kami sengaja tidak menggunakan televisi di rumah sejak 6 tahun lalu, agar lebih banyak waktu bebas dari menatap layar digital.  Sebagai penggantinya, buku-buku kami tebarkan di rumah sehingga anak-anak mau tak mau terkondisikan untuk membaca.  Kebiasaan membaca sebelum tidur sudah rutin dilakukan sejak masih batita.

Membaca novel Lord of The Rings
Membaca komik kesukaannya
Untuk sampai terbiasa begitu, saya dan suami memulainya dengan Gerakan Cinta Buku yang diterapkan sejak buah hati kami masih bayi.  Kami memperkenalkan buku yang terbuat dari kain, berbentuk bantal, dan meletakkannya di antara mainan bayi.

Buku kain tentang cerita bergambar berwarna cerah sangat menarik bagi bayi. Bila kotor, bukunya bisa dicuci. Sambil merangkak, meraih dan menyentuh benda, bayi akan mulai membiasakan diri dengan benda yang bernama buku.

Berikut ini adalah contoh buku kain dan buku bantalnya:

Terlalu dini?  Menurut saya tidak. Saya teringat masa kecil ketika masih berusia lima tahun. Sebelum gemar membaca buku, saya terlebih dulu suka pada bentuk-bentuk buku bergambar dan berwarna yang menarik. Betapa ingin rasanya memiliki benda yang disebut buku itu.

Namun, saya harus menahan diri karena ayah dan ibu tak punya cukup uang untuk membelinya.  Jadi, hanya bisa membayangkan bahagianya memeluk buku cerita berwarna dengan gambar-gambar yang bagus, seperti milik teman-teman sebaya yang suka dipamerkan saat berkumpul. 

Pengalaman itu membuat saya menarik kesimpulan, supaya anak-anak jadi gemar membaca, saya terlebih dahulu harus bisa membuat mereka cinta buku.  Cinta buku dahulu, baru cinta membaca kemudian.  Ketika telah terbentuk persepsi yang baik tentang buku dan bahan bacaan di benak anak-anak sejak kecil, akan lebih mudah mengajak mereka untuk gemar membacanya.

Untuk membentuk persepsi yang menyenangkan tentang buku, maka sejak dini kami perkenalkanlah si bayi dengan buku kain berwarna-warni menyolok itu. Terbayang bukan di benak sang bayi, benda itu sungguh menarik dan bagus! Benda itu adalah buku. Si bayi pun jadi jatuh cinta pada si buku.

Di zaman ketika saya masih kecil, belum ada piranti gawai seperti yang marak saat ini.  Maka, mencintai buku jadi lebih mudah karena tak banyak pilihan lain. Sebab, pilihan lain seperti mainanpun sangat terbatas.  Saya pun jadi waspada, jangan sampai bayi kami lebih dulu jatuh cinta pada gawai dan bermacam mainan daripada cinta buku.  Bisa susah payahlah nanti kami orang tuanya menumbuhkan minat baca padanya.  

Itulah sebabnya kami terlebih dulu membuat bayi terpapar pada buku sebelum terpapar gawai dan mainan modern lainnya.  Kami terinfo tentang pembatasan screen time pada bayi, batita, dan balita sehingga sangat berhati-hati dengan gawai. Begitupun, jika saya muncul di dekat bayi sambil pegang handphone, si mungil lebih tertarik untuk meraih handphone daripada buku lho! 

Seiring bertambahnya usia bayi menuju batita dan balita, saya dan suami mulai menambahkan buku-buku dari bahan karton yang tebal, agar tak mudah sobek. Semakin bertambah usianya, semakin kami sesuaikan dengan bentuk buku yang sesungguhnya.  Kalau awalnya hanya buku-buku bergambar, lalu meningkat menjadi buku bergambar dengan sedikit tulisan yang besar-besar.  

Terbayang bukan, jika anak-anak tidak memiliki persepsi yang baik tentang buku?  Andaikan mereka terlanjur menganggap buku itu membosankan, tidak seru, dan kuno jika dibandingkan mainan atau benda-benda lain?  Olala, akan butuh upaya ekstra keras untuk mengubah persepsi itu.  Makin berat untuk menumbuhkan minat bacanya. Makanya, Gerakan Cinta Buku sejak dini untuk membentuk persepsi baik tentang buku itu mutlak penting lho.

Memanfaatkan sudut rumah untuk tempat membaca
Anak-anak saya mulai bisa membaca di usia tujuh tahun, saat masuk Sekolah Dasar. Ketika itulah terjadi percepatan membaca yang sangat dahsyat. Seingat saya, bisa sepekan sekali harus beli buku baru karena buku yang lama sudah selesai dibaca. 

Saya dan suami lalu mulai membawa anak-anak ke perpustakaan.  Saat itu, dan sampai sekarang, saya merasakan mimpi jadi kenyataan. Melakukan aktivitas membaca menyenangkan bersama-sama, adalah mimpi saya sejak mengandung anak-anak ini. Itu terwujud.  Senangnya…..

Membaca buku di perpustakaan
Semakin anak-anak bertambah usia, tantangan untuk terus menumbuhsuburkan minat baca semakin meningkat.  Terutama dengan adanya piranti gawai yang mau tidak mau telah mereka gunakan juga untuk aktivitas edutainment.  

Let’s Read, Membantu Menumbuhsuburkan Minat Baca Anak 


Seiring perkembangan zaman dan teknologi, kini saya mulai memperkenalkan e-book dan aplikasi baca Let’s Read agar minat baca mereka tetap terpupuk. Rasanya, ini saat yang tepat bagi mereka.  Kedua anak saya sudah memiliki kebiasaan membaca buku fisik setiap hari sebelum tidur, dan bisa memilih buku yang disukai.

Saya pikir sudah waktunya mereka diperkenalkan pada sumber-sumber bacaan baru. Dengan mengetahui beragam macam sumber bacaan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka, saya berharap keingintahuan dan motivasi membaca jadi semakin subur.

Berikut ini tampilan aplikasi Let's Read yang sudah saya unduh di gawai : 

Tampilan Aplikasi Let's Read 

Di era modern ini, banyak sekali teknologi sebagai tools yang hadir untuk mempermudah kita, termasuk untuk menumbuhkan minat baca dan membudayakan membaca menyenangkan. Salah satunya adalah aplikasi baca Let’s Read.  Aplikasi ini memuat beragam buku dalam berbagai pilihan bahasa dan bermacam tema untuk anak-anak.  Ayah dan Ibu dapat mengunduh aplikasinya DI SINI.  



Di aplikasi ini, kita bisa membaca buku secara online maupun offline.  Jika ingin membaca secara offline, terlebih dahulu buku dapat diunduh dengan menekan pilihan unduh buku.  Untuk kenyamanan membaca, tampilan buku serta jenis huruf dan ukuran huruf juga bisa dipilih yang sesuai dengan kebutuhan anak. 


Untuk anak-anak kelas rendah (kelas 1 hingga 3 SD), akan lebih nyaman memilih ukuran huruf yang lebih besar.  Sedangkan untuk anak-anak kelas tinggi (kelas 4 hingga 6 SD), mungkin bisa memilih ukuran huruf yang lebih kecil.




Berdasarkan pengalaman saya, si bungsu justru lebih tertarik dengan aplikasi ini dibandingkan si sulung. Rupanya, si bungsu yang berusia 8 tahun memang sedang masanya suka membaca beragam cerita. Karenanya, sangat senang bisa menemukan banyak buku cerita di aplikasi Let’s Read.

Membaca menyenangkan dengan Let's Read
Sementara si sulung yang berusia 11 tahun, mulai menyukai buku-buku non fiksi seperti buku motivasi dan pengembangan diri, serta buku-buku coding yang memang menjadi kegemarannya. Kabar baiknya untuk saya, mereka berdua tak perlu berebut gawai untuk baca di Let’s Read.  Sang adik membaca di aplikasi, si kakak membaca buku fisik.  Saya, ibunya, bisa fokus mendampingi adik.


Tips Agar Minat Baca Anak Tumbuh Subur


Percayalah ayah dan ibu, bahwa budaya membaca pada anak tidak muncul tiba-tiba. Minat anak untuk membaca tidak hadir begitu saja. Ada tahapan yang panjang sejak anak-anak belum dilahirkan, harus dijalani oleh orang tua untuk menumbuhsuburkannya.  

Saya teringat seorang kawan SMA yang sekarang berprofesi sebagai Psikolog, juga menjabat sebagai Direktur STIFIN Institute, Hidayati Nurokhmah, yang sejak SMA biasa saya sapa Hiday. Hiday bilang begini kepada saya: “Sampaikan yang Dilakukan dan Lakukan yang Disampaikan.” Maka, inilah sejumlah tips yang dapat saya sampaikan, yang telah dan masih saya lakukan terus untuk anak-anak hingga saat ini agar minat baca tumbuh subur: 

1. Dimulai dari orang tua, saya dan suami harus gemar membaca.  
Anak adalah peniru ulung.  Ketika orang tua gemar membaca, anak-anak akan meniru. Maka, posisikan diri ayah dan ibu sebagai teman teladan bagi anak.

Si bungsu sering ikut-ikut melihat buku-buku di meja kerja saya ketika ditinggal sebentar saja 
2. Biasakan bacakan buku sejak anak dalam kandungan.
Bacakan apapun yang menyenangkan dan berdampak baik.  Ayat suci, cerita, puisi, doa, dan apapun. Ini menjadi sugesti yang ampuh sekaligus doa seorang ibu agar anaknya gemar membaca kelak.  

3. Awali dengan Gerakan Cinta Buku.  
Sediakan buku sejak anak-anak masih bayi, berupa buku kain atau buku bantal.  Seiring bertambah usia, gunakan buku dari karton yang tebal agar tak mudah sobek.  Perkenalkan dengan buku-buku bergambar yang menarik.  

4. Batasi screen time (siaran televisi, gadget, game, dan sejenisnya).
Upayakan tidak mengenalkan gawai pada anak sebelum mengenalkan buku dan bahan bacaan. Akan lebih baik jika memperkenalkan gawai setelah anak sudah akrab dengan buku.  Sepakati waktu screen time dengan anak-anak ketika mereka sudah bisa diajak untuk berdiskusi.  Tepati, dan nikmati waktu yang cukup bersama anak.

Biarkan bocah memilih buku yang disukai, selama itu baik dan sudah discreening oleh orang tua


5. Biarkan anak memilih dan membaca buku yang disukai. 
Ketika usianya masih balita, orang tua bisa memilihkan buku-buku yang dinilai baik untuk anak disesuaikan dengan budget.  Ketika mereka duduk di Sekolah Dasar, beri kesempataan untuk memilih buku yang mereka suka, namun tetap berikan masukan untuk menyepakati buku yang akan dipilih.

Si Sulung lebih menyukai buku-buku genre teknologi 

6. Tebarkan buku di seluruh sudut rumah atau buat perpustakaan di rumah. 
Ini sebagai upaya untuk menciptakan suasana cinta buku dan gemar baca.  Ajarkan juga anak-anak untuk merawat buku-buku. Tanamkan adab terhadap buku sebagai sumber ilmu. Tak perlu menyuruh anak-anak membaca karena cara itu tak pernah berhasil jika kita sebagai orang tua tidak menciptakan lingkungan yang kondusif untuk membaca.

Tanpa disuruh, anak-anak akan membaca jika suasana dan sarananya mendukung. Jangan lupa orang tua untuk screening semua buku bacaan yang akan diberikan kepada anak, pilih bacaan yang bermutu.

7. Jadikan membaca sebagai rutinitas sehingga terbiasa. 
Biasakan menyediakan waktu membaca setiap hari.  Misalnya setengah jam sebelum tidur.  Temani anak-anak ketika membaca atau bacakan cerita untuk mereka.

Terbiasa membaca buku sebelum tidur

8. Ajak dan dampingi anak-anak ke perpustakaan offline maupun online, bazaar/pameran literasi, dan toko buku.
Biasakan meluangkan waktu khusus untuk ke perpustakaan atau ke toko buku.  Buat jadi rutinitas bulanan.   Bisa lebih sering jika bisa.  Atau, ajak anak browsing buku secara online.  Mulai perkenalkan e-book untuk anak yang lebih besar.  

9. Berikan hadiah buku untuk ulang tahun, kenaikan kelas, atau prestasi lainnya. 
Ini akan membuat anak-anak terbiasa menempatkan buku sebagai bentuk apresiasi yang tinggi.

10. Sediakan budget untuk membeli buku-buku berkualitas. 
Kurangi jajan dan membeli barang yang kurang bermanfaat.  Utamakan untuk membeli buku.  Latih anak untuk menabung apabila ingin membeli buku yang harganya cukup mahal.  

11. Ciptakan moment reading time yang hangat, perkenalkan dengan aplikasi membaca untuk anak yang lebih besar. 
Ayah dan Ibu bisa mulai memperkenalkan aplikasi membaca seperti Let’s Read kepada anak-anak dan mendampingi mereka saat membaca dengan tetap memperhatikan batasan screen time.  Tekankan pada anak-anak bahwa teknologi bisa kita kendalikan untuk berliterasi.

Aplikasi Let's Read

12. Ajak dan dampingi anak untuk menceritakan dan menuliskan apa yang telah dibaca. 
Apabila minat baca anak semakin baik, terbiasa membaca dan mulai terbentuk karakter literasinya, anak sudah mulai bisa dirangsang untuk bercerita dan menulis apa yang telah dibaca.  Dampingi dengan sabar.  Berikan apresiasi untuk usaha anak-anak dalam menjalani aktivitas ini.  

Saya berharap tips yang disampaikan bisa menginspirasi dan dipraktikkan.  Semoga saya jadi punya banyak teman seperjuangan untuk menyuburkan minat baca anak serta budaya membaca.  Percayalah, para penulis ternama juga adalah para pembaca ulung.  Siapa tahu, kelak anak-anak kita akan menjadi penulis buku bermutu yang dibaca oleh insan di seluruh dunia.  Bangga kan…. Aamiin.

Membaca bersama

Membaca hanyalah satu dari sekian banyak kemampuan literasi.  Mendengar, berbicara, menulis, dan berkomunikasi dengan berbagai bahasa,  adalah bentuk literasi lainnya.  Tanpa gemar membaca, literasi kita menjadi rendah. Karena itulah bangsa yang berliterasi tinggi dimulai dari kegemaran warga negaranya untuk membaca. Para orang tua punya peran untuk mewujudkannya melalui anak-anak tercinta. 

Teringat selalu kata Gunawan Mohamad tentang membaca.  Begini katanya:  “Buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak akan pernah selesai, tapi membuat kita tahu: kita hanyalah penafsir tanda-tanda, di mana kebenaran menerakan jejaknya.  Itu sebabnya kata pertama yang menakjubkan adalah :”BACALAH”

Nah, ayo membaca.  Let’s Read !  (Opi)


Sabtu, Juni 13, 2020

Fun Coding: Berkreasi dengan Teknologi Informasi di Tengah Pandemi


”Kuasailah teknologi nak, pelajari sejak dini.  
Kalau bisa menguasai teknologi, seseorang bisa berkreasi di mana saja (bahkan cuma di rumah saja) tapi karyanya mendunia. 
Caranya, maksimalkan penggunaan teknologi informasi. 
Namun ingat, kita yang mengendalikan teknologi bukan kita yang dikendalikan teknologi.”


Kalimat itu selalu diulang-ulang oleh suami saya kepada Si Sulung yang berusia sebelas tahun, setiap saat melihatnya sedang asyik di depan laptop mengerjakan tugas proyek coding dari sekolah berupa games dan aplikasi. “Jangan seperti ayah dan ibu nih, sangat terbatas kemampuan penguasaan teknologinya. Gaptek. Jalan kamu masih panjang, Cah Bagus.”

Mas Dio  - begitu Si Sulung biasa disapa- mengikuti ekstrakurikuler coding di sekolah sejak tiga tahun terakhir, hingga kini ia duduk di kelas lima Sekolah Dasar.  Entah dari mana ketertarikannya muncul terhadap bahasa pemrograman komputer ini. Yang saya ingat, kami orang tuanya paling keras melarang anak-anak main game.  No game for student! 

Nah, di ekskul coding ini, Mas Dio mendapat info bahwa yang dipelajari adalah cara membuat game dan aplikasi. Mungkin itu sebabnya dia memilih ikut coding, supaya ada kesempatan resmi berhubungan dengan game tanpa dilarang orang tua.  

Asyik beraktivitas coding

Kami orang tua memang tidak melarangnya.  Saya sempat browsing, tentang manfaat coding bagi anak-anak.  Selain mengasah logika, nalar, analisis, dan kreativitas, coding akan berdampak positif pada anak untuk lebih menyukai Matematika -pelajaran yang paling sulit menurut Mas Dio.  

Saya juga pernah membaca kisah sukses Arianna Huffington, yang awalnya ngeblog dan blognya “The Huffington Post” kini menjadi salah satu blog paling sukses di Amerika, cukup berpengaruh di dunia, bahkan mampu meraup dollar yang menakjubkan. Banyak kolumnis terkenal dan hebat menulis secara rutin di blog ini serta menjadikannya sebagai kanal pembentuk opini publik, tak hanya di Amerika.   Kata Ariana: “Learning to code is useful no matter what your career ambitions are.” 


Itulah sebabnya, saya bebaskan si sulung bercoding ria sepekan sekali di sekolah, dan berlatih di rumah pada akhir pekan dengan laptop bekas ayahnya. Saya pikir, kelak besarnya ingin berkarier di bidang apapun, skill codingnya tetap akan bermanfaat baginya untuk memaksimalkan teknologi informasi dalam setiap aktivitas yang disukainya.  
   
Mas Dio gemar berlatih, sehingga makin terampil menggunakan program Scratch dan Codu.  Ia praktik membuat beragam macam games dan aplikasi seperti kamus dan kalkulator digital sederhana.  Mas Dio bahkan menabung selama tiga tahun untuk bisa membeli laptop baru yang lebih mendukung untuk programming dibandingkan laptop bekas ayahnya. Kami memang sengaja tidak membelikan laptop baru di awal, untuk menanamkan kebiasaan menabung dan berjuang mendapatkan perangkat baru yang dibutuhkan.  

Coding Mandiri Saat Pandemi


Masa pandemi Covid-19 sejak pertengahan Maret 2020 kemudian kami manfaatkan untuk makin mengakrabkan Mas Dio memaksimalkan teknologi informasi dalam berkreasi. Kegemaran pada coding ditambah sepanjang hari harus berada di rumah saja, otomatis menggerakkannya untuk berkreasi, seusai menuntaskan tugas sekolah. Namun karena teknologi informasi melibatkan lalu lintas di internet dan ia masih kanak-kanak, semua aktivitasnya berada di bawah pendampingan orang tua.   

Kreasi yang dipilih Mas Dio adalah coding untuk pemrograman web, karena katanya mulai bosan membuat games atau aplikasi dengan Scratch dan Codu.  Juga, karena ayahnya yang dengan iseng mengompori,”Waaah Mas Dio mau bikin karya keren nih, soalnya nongkrong depan laptop terus. Itu bukan main games aja kan?” ledek ayahnya.  


Kadang kami sering pusing kepala juga karena selama pandemi semuanya di rumah.  Bekerja dari rumah, belajar di rumah, semua aktivitas di rumah.  Waktu demi waktu kami banyak dihabiskan di depan laptop. Kadang saya harus sering mengingatkan semua untuk mengalihkan mata dari layar laptop sejenak, mengistirahatkan indera yang lelah.  

Selain bekerja kantoran, saya juga ngeblog untuk menyalurkan hobi menulis.  Awalnya dengan blog gratisan, yang akhirnya dengan bantuan seorang teman bisa transfer domain ke TLD (Top Level Domain) berbayar. Ini saya lakukan agar bisa ikut lomba-lomba menulis yang mensyaratkan blog TLD.  Saya tentu harus cek domain dulu di provider domain yang dituju, apakah nama domain yang diinginkan tersedia atau tidak. Sempat ditawari hosting murah juga.  Namun, mengingat blog yang saya rintis belum terlalu menghasilkan, akhirnya diputuskan untuk hosting gratisan saja dulu. 


Mas Dio sempat bertanya pada saya, “Kenapa ibu ngga bikin website sendiri?  Ngga bisa ya?” ledeknya.  Saya hanya nyengir kuda.  “Iya, susah sih. Ibu kan ngga bisa coding seperti Mas Dio.  Jadi Ibu pakai platform yang sudah ada, yang mudah. Yang penting Ibu bisa nulis-nulis kan,” jawab saya. 

Mas Dio lalu jadi tertarik untuk mempelajari pemrograman web, setelah ibunya ini bercerita bahwa ada teman yang masih kuliah dan sudah bisa menghasilkan uang dari jasa pembuatan web.  Jadi web developer. Kebanyakan kliennya ya ibu-ibu gaptek seperti saya, he he he.  


“Hmmm, kalau aku Insha Allah nanti ingin jadi programmer.  Sekarang aku mau belajar sendiri dulu deh bu.  Belikan bukunya ya, atau boleh aku cari tutorial pemrograman web di YouTube?” Saya mengijinkan.  Kami mencari buku yang dibutuhkan dan dibeli secara online.  

Mas Dio pun mulai mencari dan menonton video tutorial pemrograman web. Dilanjutkan dengan membaca buku.  Buku yang dipelajarinya adalah karya Adam Saputra berjudul Buku Sakti HTM, CSS, & Javascript, Pemrograman Web itu Gampang.  Saya mendampingi dan menyemangati.

Buku tutorial yang digunakan untuk praktik pemrograman web

Malam hari setelah usai tugas sekolah, atau di akhir pekan, Mas Dio menggunakan waktunya untuk belajar pemrograman web. Ia tampak sangat menikmati. Untuk memotivasi Mas Dio, saya menunjukkan tulisan Desi Anwar dalam bukunya Hidup Sederhana (2019).  Begini tulisnya:         
” Hidup ini jarang sekali berkenaan dengan berbagai benda yang kita kumpulkan, tetapi lebih pada bagaimana kita menggunakan waktu kita.  Dan waktu yang dinikmati bukanlah waktu yang sia-sia.”  

Jadi, kata saya kepadanya, tak penting seberapa banyak mainan Lego dan Gundam yang Mas Dio koleksi.  Yang lebih penting adalah Mas Dio menikmati waktu yang digunakan untuk belajar coding.  Mumpung sedang masanya sekolah di rumah selama pandemi, manfaatkan waktu ya. Siapa tahu kalau Mas Dio tekun, di usia muda sudah bisa jadi programmer muda.  

“Semangat ya Nak”, kata saya.    

Mas Dio pun belajar coding secara mandiri selama pandemi.  Kami mencari website yang menyediakan kursus pemrograman secara gratis, video-video tutorial di YouTube, dan buku pemrograman yang direkomendasikan.  Ia pun mulai mempelajari tentang domain, hosting serta berbagai providernya termasuk www.qwords.com atas informasi dari ibunya.  

Mempraktikkan pemrograman web 
Saya pun sangat bersyukur dengan kebijakan work from home (WfH) selama pandemi.  Dampak positifnya, jadi bisa intens mendampingi anak sulung dalam memaksimalkan teknologi informasi untuk berkreasi di rumah.  

Praktik Pemrograman Web selama Pandemi 


Setelah mempelajari tentang teori pemrograman web dari sumber-sumber online, Mas Dio lalu mulai praktik membuat website dengan bahasa pemrograman yang dipahaminya. Hasilnya diperlihatkan kepada saya, dan masih terus dikutik-kutik. 

Berikut adalah capture dari hasil praktik pemrograman web yang dibuat Mas Dio. Ia menggunakan bahasa pemrograman untuk mendisain sebuah web tentang dirinya.








“Nah, begitu Mas.  Ini baru awal, nanti Mas Dio terus berinovasi ya.  Terus belajar.  Ngga apa-apa sekarang belajar dari kursus online gratisan dulu.  Nanti kalau sudah semakin mengerucut, boleh kok kursus yang berbayar, “ kata saya.  

Learning to write programs stretches your mind, and helps you think better, creates a way of thinking about things that I think is helpful in all domains”, begitu kata  Bill Gates , Co-Founder Microsoft.  Bagi Mas Dio, belajar bahasa pemrograman komputer memang sangat menyenangkan.  Namun, mengingat usia Mas Dio masih  kanak-kanak, saya berusaha untuk membuka juga peluang baginya mengeksplorasi hal-hal lain agar wawasannya tentang bidang-bidang kreatif semakin luas. Salah satunya adalah musik, supaya ia memiliki pengalihan dan pilihan wadah penyaluran emosi.  

Mengisi waktu dengan bermusik: gitar, biola, dan organ


Ada lima hal prinsip yang saya pegang teguh selama mendampingi anak dalam penggunaan teknologi informasi untuk berkreasi, mengingat anak-anak belum saatnya dilepas begitu saja pada aktivitas manangkap, mengolah, dan mentransmisikan data dalam teknologi informasi di dunia maya.  Harus dengan pendampingan penuh orang tua.  Kelima hal tersebut adalah: 

1. Kenali minat dan keinginan serta kebutuhan anak Generasi Z
2. Ibu dan Ayah ikut belajar teknologi informasi, termasuk internet safety dan etika
3. Dampingi secara penuh dan beri dukungan semangat pada anak 
4. Latih untuk disiplin dan memosisikan diri akan tujuan-tujuan hidup 
5. Tekankan bahwa teknologi sebagai alat, kita yang mengendalikan teknologi bukan kita yang dikendalikan teknologi

Saat ini Mas Dio masih terus belajar dan praktik bahasa pemrograman komputer secara mandiri didampingi orang tua. Tidak ada tekanan apapun untuknya harus bisa begini atau begitu.  Kami orang tuanya hanya ingin ia dapat menikmati masa kanak-kanak dengan wajar dan memiliki kenangan indah tentang masa kecil yang terus diingat hingga dewasa.  

Mimpi kami, kelak saat dewasa ia telah menjadi seorang programmer yang juga lihai bermain musik, Mas Dio tetap teringat bahwa memanfaatkan teknologi informasi secara optimal akan jadi jalan berkreasi yang tepat untuk dipilih. Terlebih lagi, berkreasi untuk kemaslahatan orang banyak. Kita yang mengendalikan teknologi, bukan kita yang dikendalikan teknologi.  Semoga. Doa ibu selalu. (Opi) 

Bahan Bacaan: 

Adam Saputra, Buku Sakti HTM, CSS, & Javascript, Pemrograman Web itu Gampang, 2019, Penerbit START UP Yogyakarta, viii+ 260 hlm. 

Desi Anwar, Hidup Sederhana: Hadir di Sini dan Saat Ini, 2019, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 191 hlm.  

https://teknologi.id/insight/pengertian-teknologi-informasi-serta-tujuan-dan-fungsinya/ (diakses Kamis 11 Juni 2020) 

Back to Top